cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Komposisi Fitoplankton Pada Tambak Kerang Ken Suwartimah; Ika Desie Wulandari; Retno Hartati; Sri Redjeki
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.524 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1364

Abstract

This study aims to determine to determine the species composition, abundance and community structure of phytoplankton in shellfish aquaculture ponds blood (Anadara granosa) in Menco, District Wedung, District Demak.Metode used in this study is Diskriptif method, determination of the location of the study is purposive sampling Methods, namely the determination of the sampling locations should be based on consideration, the station I to III of the sampling stations representing keseluruan research area. Marine research station is Blood Shellfish Farming in Hamlet Menco. Station is divided into three stations, with making four periods. Environmental parameters taken include: salinity, temperature, pH, DO, nitrate, phosphate, dissolved oxygen, organic materials. The results of the study, found 19 genera of phytoplankton. Phytoplankton abundance 2596-18844 cells / L. Diversity index (H ') based on the total period ranged from 1.098 to 1.837. On January 18-March 3, 2014, categorized into the diversity index medium. Uniformity index (e) the entire period ranged from 0.616 to 0.999.   Fitoplankton atau mikroalga merupakan makanan utama kerang di tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, kelimpahan, dan struktur komunitas fitoplankton pada tambak budidaya kerang darah (Anadara granosa) di Menco, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. M etode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Sampel fitoplankton diambil dari Tambak Kerang Darah selama empat periode. Parameter lingkungan sebagai data penunjang adalah salinitas, suhu, pH, DO, nitrat, fosfat, oksigen terlarut, bahan organik. Hasil penelitian menjunjukkan terdapat 19 genus fitoplankton, dengan kelimpahan 2.5-18.8x103sel.L-1. Indeks keanekaragaman (H’) berdasarkan total keseluruhan periode berkisar antara 1,098-1,837. Pada tanggal 18 Januari-3 Maret 2014, dikategorikan masuk dalam indeks keanekaragaman sedang. Indeks keseragaman (e) keseluruhan periode berkisar antara 0,616–0,999.
Kontaminasi Pestisida Organoklorin pada Sedimen dan Air Laut dan Pengaruhnya Terhadap Kelimpahan Makrozoobenthos di Pesisir Jepara Chrisna Adhi Suryono; Ken Suwartimah; Baskoro Rochaddi; Sarjito Sarjito
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 3 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.684 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i3.526

Abstract

Senyawa pestisida merupaka senyawa persisten yang sangat sulit diuraikan dan akan terakumulasi dalam lemak suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan senyawa pestisida dan keterkainya dengan keanekaragaman makrozoobenthos di perairan Mlonggo Jepara. Metode survey digunakan dalam penelitian ini dengan mengambil 3 lokasi titik sampling dan ulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukan daerah muara sungai (stasiun II) menunjukan kandungan pestisida yang lebih tinggi dan keanekaragaman hewan makrozoobenthos yang rendah bila dibandingkan dengan stasiun I (perairan sungai) dan stasiun III (perairan laut).Kata kunci: Pestisida, akumulasi dan makrozoobenthosThe pesticide compound has characteristic difficult to degrade in the nature and accumulate in fat tissue of organism. The purpose o the research was conducting the existing of pesticide compound on Mlonggo waters and their correlation to macrozoobenthic diversity. Sampling survey method was applied on this research which take place on 3 station and 4 replicate. The present research show, that the location on the mouth of river (station II) has the highest concentration of pesticide compound and lowest of macrozoobenthic diversity compared with stations I and III which located on the river and sea.Keywords: Pesticide, accumulation and macrozoobenthic
Aktivitas Antibakteri Isolat Bakteri Asam Laktat Intestinal Udang Penaeid Tipe Liar Terhadap Bakteri Vibrio Subagiyo Subagiyo; Triyanto Triyanto; Sebastian Margino; Feri Setiawan; Wilis Ari Setyati; Rini Pramesti
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.386 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1348

Abstract

Lactic acid bacteria are groups of bacteria that have been commonly used as probiotics with functional targets controlling pathogens. In this study, BAL were isolated from penaeid shrimp intestinum was captured in natural waters and were tested of antibacterial activity against 3 types of pathogenic vibrio bacteria in shrimp. The shrimp samples were taken from the North Coast of Java (Situbondo and Semarang) and the South coast of Java (Cilacap). BAL isolation was done by pour plate method using MRS medium enriched with CaCO3. The antibacterial activity test was performed by using paper diffusion method using V. harveyi, V. anguilarum and V. parahaemolyticus as bacteria indicator. The isolation result obtained 224 isolates of BAL intestinal of penaeid shrimp. The active BAL isolates against V. Harveyi, V. anguilarum and V. parahaemolyticus were 59, 83 and 66 isolates, respectively. Isolates are active against 3 types, 2 types and 1 type of Vibrio were 51, 25 and 11 isolates respectively.  Bakteri asam laktat merupakan kelompok bakteri yang telah banyak digunakan sebagai probiotik dengan target fungsional mengendalikan pathogen. Pada penelitian ini telah dilakukan isolasi BAL dari intestinum udang penaeid yang ditangkap di perairan alam dan pengujian aktivitas antibakteri terhadap 3 jenis bakteri vibrio pathogenik pada udang. Sampel udang diambil dari Pantai Utara Jawa (Situbondo dan Semarang) dan pantai Selatan Jawa (Cilacap). Isolasi BAL dilakukan dengan metode taburan menggunakan medium MRS yang diperkaya dengan CaCO3. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan paper diffusion method menggunakan bakteri uji V. harveyi, V. anguilarum dan V. parahaemolyticus. Hasil isolasi diperoleh 224 isolat BAL intestinal udang penaeid. Isolat BAL yang aktif terhadap V. Harveyi, V. anguilarum dan V. parahaemolyticus berturut-turut 59, 83 dan 66 isolat. Isolat yang aktif terhadap 3 jenis, 2 jenis dan 1 jenis Vibrio uji berurut-turut 51, 25 dan 11 isolat.
Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Betahwalang Demak Hargo Seno Wahyu Edi; Ali Djunaedi; Sri Redjeki
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.562 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2409

Abstract

  The waters of Betahwalang, Demak have quite potential cruise resources. For the sustainability of crab resources, sustainable management is necessary to do. Information on biology reproduction of crabs is required. The purpose of this research was to determine aspects of biology reproduction such as sex ratio, growth pattern and gonad maturity level of the crabs in Betahwalang waters. This research was conducted on 23 September - 29 October 2016 in Betahwalang, Demak. The method used in this research is descriptive research method. Determination of location observation is divided into 3 Station that is Station 1 depth between 1-10 m, Station 2 depth 11-20 m, and Station 3 depth 21-30 m. The data were collected by determination of gender, width and length of carapace, gonad maturity level and data of the environmental parameter. Results of the analysis showed that the male genital sex ratios were higher at Station 1 (2.87:1) than Station 2 (1:1.27) and 3 (1:1.65). The growth properties of male and female crabs on all three stations exhibit negative allometric growth properties. The percentage of female crab gonad maturity level at Station 2 (94,31%) and 3 (95,48%) higher than Station 1 (30,43%). Wilayah perairan Betahwalang, Demak memiliki sumberdaya rajungan yang cukup potensial. Untuk kelestarian sumberdaya rajungan, perlu dilakukan dengan pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan. Dibutuhkan informasi tentang aspek biologi reproduksi rajungan sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi reproduksi seperti nisbah kelamin, pola pertumbuhan dan tingkat kematangan gonad rajungan di perairan Betahwalang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 September - 29 Oktober 2016 di perairan Betahwalang, Demak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Penentuan lokasi pengamatan dibagi menjadi 3 Stasiun yaitu Stasiun 1 kedalaman antara 1-10 m, Stasiun 2 kedalaman 11-20 m, dan Stasiun 3 kedalaman 21-30 m. Pengambilan data penelitian meliputi penentuan jenis kelamin, lebar dan panjang karapas, tingkat kematangan gonad serta data parameter lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin rajungan jantan lebih tinggi pada Stasiun 1 (2,87:1) daripada Stasiun 2 (1:1,27) dan 3 (1:1,65). Sifat pertumbuhan rajungan jantan dan betina pada ketiga Stasiun menunjukkan sifat pertumbuhan allometrik negatif. Persentase tingkat kematangan gonad rajungan betina pada Stasiun 2 (94,31%) dan 3 (95,48%) lebih tinggi daripada Stasiun 1 (30,43%). 
Bioakumulasi Arsen (As) dan Merkuri (Hg) pada Bivalvia dari Pesisir Sekitar Demak dan Surabaya Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.846 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.6257

Abstract

The coastal waters at Demak and Surabaya as areas for fishing ground bivalve for consumption proposes.  Unfortunately, mostly the coastal land these areas were used for industry and settlement, it will have an impact on the coastal environment.  Heavy metal is one of aspect on coastal environments will give impact, especially on bivalves. This study aims to determine the metal As and Hg in several of bivalves tissue, seawater, sediments and bioaccumulation factors in the of Demak and Surabaya coastal waters. The analysis of As and Hg content in bivalves tissue, sediments and seawater using ICPMS. The results showed bivalves, sediments and seawater samples were found As and Hg concentrations. The highest concentration of As was found in the sediments; meanwhile the highest Hg concentration was found in the bivalve tissue of P. attenuatus > A. pectinata > A.inaequivalvis > A. granosa > P. viridis > P. undulada > M. hiantina respectively.  The BAF bioaccumulation factor a significant difference p = 0.021 and the BSAF sediment bioaccumulation factor showed a very highly significant difference p = 0.009. The concentration of As, Hg and bioaccumulation factors in the two fishing ground bivalves areas shows a difference. Pesisir sekitar Demak dan Surabaya merupakan daerah fishing ground berbagai jenis bivalvia untuk dikonsumsi.  Namun sekarang pesisir daratan sebagian besar dimanfaatkan untuk industri dan pemukiman hal tersebut akan memberi dampak pada lingkungan pesisir.  Logam berat merupakan salah satu aspek yang memberi dampak pada linkungan pesisir terutama pada bivalvia.  Penelitian ini bertujuan mengetahui logam As dan Hg yang terdapat dalam jaringan beberapa jenis bivalvia, air laut, sedimen serta faktor bioakumulasi di pesisir Demak dan Surabaya.  Analisa kandungan As dan Hg dalam jaringan bivalvia, sedimen dan air laut menguunakan ICPMS.  Hasil penelitian menunjukan sampel bivalvia, sedimen dan air laut ditemukan As dan Hg.  Konsentrasi As tertinggi ditemukan dalam sedimen, sedangkan konsentrasi Hg tertinggi ditemukan dalam jaringan bivalvia secara berurutan P. attenuatus > A. pectinata > A.inaequivalvis > A. granosa > P. viridis > P. undulada > T. timorensis. Adanya perbedaan yang nyata p=0.021 terhadap faktor bioakumulasi BAF dan faktor bioakumulasi sedimen BSAF menunjukan perbedaan yang sangat nyata p = 0.009.  Konsentrasi As, Hg dan faktor bioakumulasi di kedua daerah fishing ground bivalvia menunjukan adanya perbedaan.
Re-Deskripsi Teripang Stichopus hermanii Dari Kepulauan Karimunjawa Melalui Analisa Morfologi, Anatomi Dan Spikula (Ossicles) Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Umi Fatimah
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 2 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.14 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i2.517

Abstract

Holothuroidea atau yang lebih dikenal dengan sebutan teripang laut atau timun laut merupakan salah satu kelas dari Echinodermata. Penampakan morfologi teripang yang hampir mirip satu dengan yang lain mengakibatkan sering terjadi kekeliruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih jauh tentang identifikasi Stichopus hermanii berdasarkan morfologi, anatomi serta bentuk dan komposisi spikula yang terdapat pada teripang Stichopus hermanii. Hasil pengamatan morfologi berdasarkan bentuk, corak dan warna serta tipe spikula menunjukkan bahwa Stichopus hermanii berwarna teripang berukuran besar dengan panjang mencapai 50 cm. Teripang ini berwarna kuning-kecoklatan dan pada papila kecil terdapat bercak keabu-abuan di seluruh permukaan tubuh dan bagian dorsal yang berbuku-buku. Bentuk dan komposisi spikula didominasi oleh bentuk roset dan meja dengan bentuk kaki empat.Kata kunci : teripang, Stichopus hermanii, re-deskripsi, morfologi, anatomi, spikula (ossicle)Holothuroidea well-known as sea cucumbers is one class of Echinoderm. Morphology of sea cucumbers are almost similar to each other resulting in frequent error of identification. This study aims to re-describe of Stichopus hermanii based its on morphology, anatomy and the form and composition of the spicules. Results of morphological description based on shape, pattern and color as well as the type of spicules shows that Stichopus hermanii has yelow brownish color. The shape and composition of the spicules is dominated by a rosette shape and a table with four legs form.Keywords : teripang, Stichopus hermanii, re-description, morphology, anatomy, spicule (ossicle)
Keberhasilan Penetasan Telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) Dalam Sarang Semi – Alami Dengan Kedalaman Yang Berbeda Di Pantai Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur Edi Wibowo Kushartono; CB. Ronaldi Chandra E; Retno Hartati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.312 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.839

Abstract

One of the conservation efforts undertaken to protect the green turtle (C. mydas L.) is by relocation of the nest where the eggs are removed from natural to semi-natural hatchery. The depth of proper needed to achieve the maximum level of hatching and emergence success.The purpose of this research that is to know the level of hatching catch and the emergence success of a nest at a different depth. The methods that used is an experimental research. Treatment that given is the different depth of nest with the green turtle as repetition. The depth of treatment is in 40 cm, 60 cm, and 80 cm, the amount of eggs is 30 eggs in each nest. Measurement and observation environmental conditions carried out during the incubation period. Observation the emergence of hatchlings started in day 50 of the incubation. Nest destruction was conducted on the 66th day incubation then eggs that failed to hatch were manually disected. The results showed that the levels of different depths does not effect the temperature inside the nest and hatching success, but the effect on the success rate of appearance. hatching success at all depths ranging between 93,33% - 94.44% (the same height), but increasingly in the depth of the nest success rate of appearance tends to decrease. Figures shown good appearance at a depth of 40 cm (86.67%), followed by 60 and 80 cm depth is 64.44% and 48.89% (sequential). The results of visual observations of the morphometry and performance lokomotori, hatchlings hatched at a depth of 60 and 80 cm better than hatchlings hatched at a depth of 40 cm both in the size and aggressiveness lokomotori swing flipper.  Salah satu usaha konservasi yang dilakukan untuk melindungi Penyu hijau (Chelonia mydas L.) yaitu dengan tindakan relokasi yang mana telur dipindahkan dari sarang alami ke tempat penetasan semi alami. Kedalaman yang tepat dibutuhkan untuk mendapatkan tingkat penetasan dan keberhasilan kemunculan yang maksimal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat keberhasilan penetasan dan keberhasilan kemunculan pada kedalaman sarang yang berbeda. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah experimental research dengan 3 perlakuan yaitu penanaman telur penyu hijau pada kedalaman 40, 60 dan 80 cm, dengan kepadatan 30 butir telur setiap sarang. Pengukuran dan pengamatan kondisi lingkungan juga dilakukan selama masa inkubasi. Pengamatan munculnya tukik mulai dilakukan pada hari ke 50 masa inkubasi.  Pembongkaran sarang dilakukan pada hari ke 66 masa inkubasi kemudian dilakukan pembedahan secara manual untuk mengamati telur yang gagal menetas. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa tingkat kedalaman yang berbeda tidak berpengaruh terhadap suhu dalam sarang dan keberhasilan penetasan, tetapi berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan kemunculan. Angka keberhasilan penetasan pada semua kedalaman berkisar antara 93,33% - 94,44% (sama-sama tinggi), namun semakin dalam tingkat kedalaman sarang tingkat keberhasilan kemunculan cenderung mengalami penurunan. Angka kemunculan yang baik ditunjukkan pada kedalaman 40 cm (86,67%), diikuti kedalaman 60 dan 80 cm yaitu 64,44% dan 48,89% (secara berurut). Hasil pengamatan secara visual terhadap morfometri dan performa lokomotori, tukik yang ditetaskan pada kedalaman 60 dan 80 cm lebih baik dibandingkan tukik yang ditetaskan pada kedalaman 40 cm baik dari ukuran maupun lokomotori agresifitas ayunan  flipper.   
Studi Morfometri dan Tingkat Kematangan Telur Kepiting Bakau (Scylla sp.) di Kawasan Perairan Demak Edi Wibowo; Suryono Suryono; Raden Ario; Ali Ridlo; Dodik S. Wicaksono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.038 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1743

Abstract

Maturity of Mangrove Crab (Scylla sp)is a decisive factor in the life cycle of mangrove crab (Scylla sp). Human activities such as over-fishing of mangrove crab to meet market needs regardless the size is one of the causes of the reduced number of individuals in the wild. This study aims to determine the correlation between morphometric of maturity stage of mangrove crab (Scylla sp) in Kedungmutih Waters, Demak District. The study used exploratory descriptive method which site determination using purposive sampling methods. The research consisted of female mangrove crab sampling and field water quality measurement (DO, temperature, salinity, and pH), morphometric measurements and weighing body weight of female mangrove crab samples, and observation of maturity stage in the laboratory.Thematerial used in this study were female mud crab (Scylla sp) obtained from Kedungmutih Waters, Demak District. The results of this study showed that 94 female mangrove crabs crabs were found to have a carapace width ranging from 77.50 mm - 126.45 mm, for body weight ranging from 87 grams to 359.78 grams. While the fecundity stage were obtained from the stage of I - IV and on the size of 200 grams - 300 grams has an optimal fecundity stage on the stage II and III. There is correlation between morphometry and maturity stage of mangrove crab (Scyla sp) because when the weight of crabs increases, so does the addition of the number of eggs and also improvement of egg (gonads).  Kematangan telur pada Kepiting Bakau betina (Scylla sp) adalah faktor yang menentukan pada siklus hidup Kepiting Bakau (Scylla sp). Kegiatan manusia seperti penangkapan kepiting bakau yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar tanpa melihat ukuran yang ditangkap merupakan salah satu penyebab berkurangnya jumlah individu yang berada di alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan morfometrik terhadap tingkat kematangan tekur Kepiting Bakau Betina (Scylla sp) di kawasan perairan Kedungmutih,Kabupaten Demak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptf eksploratif dengan penentuan lokasi menggunakan purposive sampling methods. Penelitian ini terdiri dari sampling kepiting bakau betina dan pengukuran kulaitas perairan di lapangan (DO, suhu , salinitas , dan pH), pengukuran morfometri dan penimbangan berat tubuh sampel kepiting bakau betina, dan pengamatan tingkat kematangan telur di laboratorium. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepiting bakau betina (Scylla sp) yang diperoleh dari perairan Kedungmutih, Kadbupaten Demak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dari 94 ekor kepiting bakau betina yang didapatkan memiliki lebar karapas berkisar 77,50 mm – 126,45 mm, untuk berat tubuhnya berkisar 87 gram – 359,78 gram. Sedangkan pada tingkat kematangan telur didapatkan dari tingkat I – IV dan pada ukuran 200 gram – 300 gram memiliki tingkat kemmatangan telur yang optimal pada tingkat kematangan telur II dan III. Morfometri dan tingkat kematangan telur pada kepiting bakau betina (Scyla sp) memiliki hubungan dikarenakan jika pada bobot kepiting mengalami pembesaran maka pada telur mengalami penambahan jumlah dan mengalami peningkatan telur(gonad).  
Morfometri Dan Pertumbuhan Scylla serrata (Filum: Arthropoda, Famili: Portunidae) Di Desa Panikel, Segara Anakan, Cilacap Widianingsih Widianingsih; Ria Azizah Tri Nuraini; Retno Hartati; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Cantika Elistyowati Andanar; Hadi Endrawati; Robertus Triaji Mahendrajaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.707 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.4207

Abstract

Mud crab is one of fishery commodities which is important in Indonesia . The high demand for mud crabs needs to be balanced with the right management strategy,  so that the population will not extinction.  Penikel Village, Cilacap is one of the fishing villages which catch mud crabs because of the high demand in the big cities such as Jakarta, Bandung and Bali.  The purpose of this study is  to determine the population and growth patterns of mud crabs in the Panikel Village, Kampung Laut District, Cilacap. The location of the study was determined by purposive sampling. Wadong and bubu are fishing tools to catch mud crabs. Sampling 67 mud crabs was carried out  on Juni 2016, after that, measurement of length, carapace width and total weight were carried out. Regression analysis between carapace width and total weight and condition factors were carried out to determine growth patterns. Based on the research, the average value of the S. serrata   length was 63.94±11.31 mm while the female one was 70.29±14.57 mm. The average value of carapace width is 92.28±15.51 mm (male) while for female sex was 98.71±18.38 mm. The average weight of S. serrata male crabs was 190.31±118.43 mm, while those of female sex were 210.77±120.93 mm. Furthermore, based on the analysis of the relationship between the length of weight found negative allomatric growth pattern with the value of the condition factor included in the low category both for male sex 0.73-1.93 and for female sex 0.59-1.66.  The low condition factor shows that the condition of Segara Anakan waters especially Penikel Village does not support the growth of mud crabs (S. serrata). Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan yang terpenting di Indonesia.  Besarnya permintaan  kepiting bakau yang tinggi perlu diimbangi dengan strategi pengelolaan yang tepat agar populasi tidak punah. Desa Penikel, Cilacap merupakan satu desa nelayan yang banyak menangkap kepiting bakau karena tingginya permintaan di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Bali. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui populasi dan pola pertumbuhan kepiting bakau di Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling. Wadong dan bubu merupakan alat tangkap untuk menangkap kepiting bakau. Pengambilan sampel kepiting sebanyak 67 individu  dilakukan pada bulan Juni 2016, setelah itu dilakukan pengukuran panjang, lebar karapas serta berat total. Analisa regresi kurva antara lebar karapas dan berat total serta  faktor kondisi dilakukan untuk mengetahui pola  pertumbuhan. Berdasarkan penelitian diperoleh nilai rata-rata panjang kepiting bakau S. serrta jantan adalah 63.94±11.31 mm sedang untuk yang betina adalah 70,29±14.57 mm. Nilai rata-rata lebar karapas adalah 92.28±15.51 mm (jantan) sedang untuk jenis kelamin betina adalah 98.71±18.38 mm. Rata-rata berat kepiting jantan S. serrata adalah 190.31±118.43 mm, sedangkan yang jenis kelamin betina adalah 210.77±120.93 mm. Selanjutnya berdasarkan analisa hubungan panjang berat ditemukan pola pertumbuhan allomatrik negatif dengan nilai factor kondisi termasuk dalam katagori rendah baik untuk jenis kelamin jantan 0,73–1,93 maupun untuk kelamin betina 0,59–1,66.  Rendahnya factor kondisi menunjukkan bahwa kondisi perairan Segara Anakan khususnya Desa Penikel tidak menunjang bagi petumbuhan kepiting bakau (S. serrata).
Studi Tentang Perbedaan Metode Budidaya Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut Caulerpa Sunaryo Sunaryo; Raden Ario; M. Fachrul AS
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 1 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.63 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i1.507

Abstract

Caulerpa sp. dikenal oleh masyarakat dengan nama Latoh merupakan salah satu rumput laut hijau dan dalam pemanfaatannya hanya mengandalkan pengambilan dari alam. Umumnya sumberdaya yang masih mengandalkan hasil dari alam banyak mengalami kendala, antara lain rendahnya produksi karena ketergantungan pada musim. Hal ini berakibat tidak adanya produksi yang berkelanjutan dan sangat membahayakan kelestarian Caulerpa sp. di alam. Caulerpa tumbuh berkelompok dan dapat dijumpai di kedalaman hingga 200 m. Tumbuhan ini hidup menempel di substrat dasar perairan seperti: pecahan karang, pasir dan lumpur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode budidaya terhadap pertumbuhan berat Caulerpa sp. pada media pemeliharaan. Perlakuan yang diujikan adalah penanaman dengan metode budidaya di permukaan perairan, kolom perairan dan dasar perairan dengan masing-masing berat awal 50 g/rumpun. Tempat uji yang digunakan kantong plastik berdiameter 50 cm dengan tinggi 100 cm sebanyak 9 buah dan bak perendaman berukuran 150x80x120 cm sebanyak 1 buah. Parameter utama dari penelitian adalah laju pertumbuhan berat rumput laut. Parameter pendukungnya adalah parameter fisika kimia, meliputi : suhu, salinitas, pencahayaan, derajat keasaman, karbon dioksida dan oksigen terlarut. Hasil penelitian ini menunjukkan pencapaian berat akhir Caulerpa sp. pada metode budidaya di permukaan sebesar 62,65 ± 0,48 g dengan laju pertumbuhan spesifik 0,54 ± 0,02 % berat/hari, metode budidaya di kolom air sebesar 53,77 ± 1,13 g dengan laju pertumbuhan spesifik 0,17 ± 0,05 % berat/hari dan metode budidaya di dasar sebesar 50,59 ± 0,46 g dengan laju pertumbuhan spesifik 0,03 ± 0,01 % berat/hari. Berdasarkan hasil yang diperoleh penanaman di permukaan media pemeliharaan menunjukkan pencapaian berat akhir dan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode budidaya yang lainnya, yaitu di kolom air media pemeliharaan dan metode budidaya di dasar media pemeliharaan. Hal ini disebabkan karena penerimaan cahaya pada metode penanaman di permukaan lebih efektif untuk proses fotosintesis yang selanjutnya dipergunakan di dalam proses metabolisme untuk memproduksi cadangan makanan di dalam rumput laut.Kata Kunci : Caulerpa sp., Metode Budidaya, Pertumbuhan Caulerpa sp. known as latoh is one of many kind of green seaweeds, and its usage only depends by taking from nature. Usually its resource from nature is having many constrains, for example low production rate because of depending on weather condition. This makes no sustainable production and really harming Caulerpa sp. preservation in nature. Caulerpa sp. grows in colony and can be found on depth until 200 m. This plant live by attaching itself on substrate in seabed like rubble, sand, and mud. The purpose of this study was to determine the effect of different cultivation methods on the growth rate Caulerpa sp. in the cultivation media. The plant that used in this study was Caulerpa sp. taken from Jepara waters. Initial weight of seaweed that used for every treatment was 50 g/clump. This study used 9 plastic bags which 50 cm diameters and 100 cm height, a soaking tub which size are 150x80x120 cm. Main parameter in this study was growth rate of Caulerpa sp.. Additional parameters are physical and chemical like temperature, salinity, lighting, pH, CO2 and dissolved oxygen. The weight gain of Caulerpa sp. in surface cultivation method was 62.65 ± 0.48 g with specific growth rate 0.54 ± 0.02 % weight/day, water column cultivation method was 53.77 ± 1.13 g with specific growth rate 0.03 ± 0.01 % weight/day, and water bottom cultivation method was 50.59 ± 0.46 g with specific growth rate 0.03 ± 0.01 % weight/day. According to the result, cultivation surface showed growth rate higher than water column and bottom methods because of surface cultivation method got more light, photosynthesis was more effective, and it can be used to produce food stock in the seaweed.Keywords : Caulerpa sp., Cultivation Methods, Growth