KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Jurnal ini berfokus tentang penelitian dalam pendidikan sejarah, bidang sejarah, sejarah lokal, sejarah nasional dan sejarah global, budaya Indonesia, kearifan lokal dan pendidikan sejarah.
Articles
200 Documents
SEJARAH KERAJAAN MALAKA DAN KEBERHASILANNYA DALAM MENYEBARKAN AGAMA ISLAM
Maryamah, Maryamah;
Yuningsi, Putri;
Mawarni, Deviona;
Romadona, Putri
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14544
Penelitian ini dilakukan untuk lebih mengetahui secara mendalam sejarah berdirinya Kerajaan Malaka dan masuknya Islam di Kerajaan Malaka hingga kejayaan dan runtuhnya Kerajaan Malaka. Adapun teknik penelitian yang dilakukan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai sumber bacaan ilmiah yang mendukung pemecahan masalah. Kerajaan Malaka didirikan oleh seorang bernama Parameswara. Kerajaan Malaka dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara. Sebutan ini diberikan mengingat peranannya sebagai jalan lalu lintas bagi pedagang-pedagang asing. Proses pendakwahanlah yang menghantarkan Raja Parameswara masuk dalam Islam dan membuat para rakyatnya pun menganut agama Islam. Hingga kejayaannya dalam proses perdagangan yang menghubungkan setiap negara hingga runtuhnya Kerajaan Malaka. Kerajaan Malaka berhasil mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah. Kerajaan Malaka memiliki pengaruh yang kuat dalam perdagangan internasional saat itu dan dengan konsep perkawinan yang dilakukan oleh Sultan Mansyur Syah membuat Kerajaan Malaka semakin luas dan berkembang. Perdagangan menjadi sumber utama bagi masyarakat Malaka. Kerajaan Malaka mengalami keruntuhan pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah yang dikalahkan oleh Portugis.
NILAI SEJARAH TRADISI PERANG KETUPAT DI DESA AIR LINTANG UNTUK MENUMBUHKAN IDENTITAS BUDAYA DI SMA NEGERI 1 TEMPILANG
Ela, Ela;
Sukardi, Sukardi;
Zamhari, Ahmad;
Suriadi, Aan
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14547
Nilai sejarah perang ketupat merupakan suatu warisan budaya di Desa Air Lintang Tempilang. Rumusan masalah peserta didik yang belum mengetahui sejarah dan nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi perang ketupat, tradisi perang ketupat untuk menumbuhkan identitas budaya peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai sejarah yang terdapat di tradisi perang ketupat. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif, dan teknik pengumpulan data menggunakan data lapangan seperti dokumentasi, observasi wawancara. Teknik analisis data dengan penyajian angket dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian untuk mendapatkan nilai sejarah yang terdapat di dalam tradisi perang ketupat untuk menumbuhkan identitas budaya peserta didik di SMA Negeri 1 Tempilang.
MAKNA SIMBOLIK SEJARAH BUDAYA TENUN SONGKET DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN SEJARAH DI SMA SISWA METHODIST 04 BANYUASIN III
Samosir, Sarah Pratiwi;
Nindianti, Dina Sri;
Zamhari, Ahmad;
Suriadi, Aan
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14548
Makna simbolik adalah keseluruhan rangkaian hal yang berkaitan dengan makna dan kajian tentang tanda-tanda yang memiliki arti tersendiri. Kain tenun songket merupakan kerajinan hasil kreasi seni budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Kain songket memiliki makna simbolis yang berbeda-beda. Rumusan masalah: bagaimana makna simbolik sejarah budaya tenun songket dapat menumbuhkan kesadaran sejarah siswa SMA Methodist 04 Banyuasin III. Dari permasalahan tersebut peneliti memiliki tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna simbolik dari sejarah budaya tenun songket, untuk mengetahui kesadaran sejarah siswa SMA Methodist 04 Banyuasin III. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, angket dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian adalah untuk mendapatkan pemahaman siswa akan nilai kesadaran sejarah, bahwa siswa kurang paham tentang kain songket maka peneliti harus mengenalkan kain songket sehingga dapat menumbuhkan kesadaran akan sejarah kain songket.
PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BAJO MOLA DALAM PENGELOLAAN LAUT DI TAMAN NASIONAL WAKATOBI
Marlina, Marlina;
Mane, Azmin;
Jaelani, Jaelani;
Malaka, Ajis Amir
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14549
Kepedulian lingkungan penting untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang baik. Karakter peduli lingkungan harus dimiliki oleh masyarakat sebagai upaya pelestarian termasuk kepedulian masyarakat Bajo dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Wakatobi. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat Bajo Mola di Taman Nasional Wakatobi meliputi kearifan lokal Duata Sangal, Parika dan Pamali yang terkandung dalam pendidikan karakter peduli lingkungan yang diintegrasikan melalui pembelajaran geografi SMA. Metode penelitian menggunakan diskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kajian pustaka yang dianalisis dengan model triangulasi. Hasil penelitian yaitu pendidikan karakter peduli lingkungan dapat dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya laut melalui kearfian lokal masyarakat Bajo Mola. Sebagai masyarakat berbudaya laut nilai-niai kearifan lokal mengandung indikator karakter peduli lingkungan yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran geografi. Pengelolaan sumber daya laut Taman Nasional Wakatoi dilakukan dengan melibatkan semua masyarakat melalui kearifan lokal dan dianggap mampu menjaga Taman Nasional yang secara langsung dan tidak langsung memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Oleh karena itu, kearifan lokal perlu dipertahankan dalam mewujudkan generasi peduli lingkungan.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPS PESERTA DIDIK KELAS IV SD NEGERI 91 PALEMBANG
Ahyanika, Oksatiarani;
Aryaningrum, Kiki;
Selegi, Susanti Faipri
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14550
Kepedulian lingkungan penting untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang baik. Karakter peduli lingkungan harus dimiliki oleh masyarakat sebagai upaya pelestarian termasuk kepedulian masyarakat Bajo dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Wakatobi. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat Bajo Mola di Taman Nasional Wakatobi meliputi kearifan lokal Duata Sangal, Parika dan Pamali yang terkandung dalam pendidikan karakter peduli lingkungan yang diintegrasikan melalui pembelajaran geografi SMA. Metode penelitian menggunakan diskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kajian pustaka yang dianalisis dengan model triangulasi. Hasil penelitian yaitu pendidikan karakter peduli lingkungan dapat dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya laut melalui kearfian lokal masyarakat Bajo Mola. Sebagai masyarakat berbudaya laut nilai-niai kearifan lokal mengandung indikator karakter peduli lingkungan yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran geografi. Pengelolaan sumber daya laut Taman Nasional Wakatoi dilakukan dengan melibatkan semua masyarakat melalui kearifan lokal dan dianggap mampu menjaga Taman Nasional yang secara langsung dan tidak langsung memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Oleh karena itu, kearifan lokal perlu dipertahankan dalam mewujudkan generasi peduli lingkungan.
PERSEPSI MASYRAKAT DESA DARMO TERHADAP PENINGGALAN BENDA SEJARAH DI DESA DARMO KECAMATAN LAWANG KIDUL
Adauwiyah, Robiatun;
Chairunisa, Eva Dina;
Suriadi, Aan
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14552
Desa Darmo adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Lawang Lidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Desa Darmo adalah salah satu desa tertua dalam wilayah Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap peninggalan benda bersejarah di Desa Darmo Kecamatan Lawang Kidul yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal di Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dimulai dari observasi, dokumentasi, kuesioner dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, serta penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang benda bersejarah yaitu menghasilkan dua persepsi positif dan negatif berdasarkan beberapa faktor yaitu agama, kebiasaan masyarakat dan perbedaan zaman.
PEMBANGUNAN BENDUNG KATULAMPA BARU DI BUITENZORG 1910-1912
Mohtar, Omar;
Zuhdi, Susanto
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14553
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang pembangunan Bendung Katulampa yang dilakukan oleh Departement van Burgerlijke Openbare Werken (BOW) di Buitenzorg pada 11 April 1911 hingga Oktober 1912. Sejak tahun 1905 hingga 1910, Departemen BOW telah tiga kali memperbaiki bangunan Bendung Katulampa. Rusaknya bendung diakibatkan karena naiknya debit Sungai Ciliwung dan bahan bendung berupa keranjang besi berisi batu atau ijzeren korf yang tidak lagi kuat menahan aliran sungai. Kondisi itu membuat Departemen BOW melakukan pembangunan bendung yang baru atas dasar masukan dari Ir. Herman van Breen, salah seorang arsitek BOW yang menyarankan penggunaan bahan berupa beton atau betonfundering. Dari permasalahan tersebut muncul dua pertanyaan penting yang diajukan, yaitu apa faktor-faktor apa yang membuat Bendung Katulampa dibangun ulang oleh Departemen BOW? dan bagaimana perkembangan rancang Bendung Katulampa? Metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah metode sejarah. Dari hasil analisis, pembangunan Bendung Katulampa yang baru dilatarbelakangi oleh kondisi Sungai Ciliwung yang kerap meluap karena naiknya debit air karena berkembangnya perkebunan dan juga pemukiman di daerah hulu yang membuat resapan air di daerah hulu Sungai Ciliwung menjadi berkurang. Kondisi itu membuat aliran air Sungai Ciliwung menjadi naik yang membuat bendung lama kerap rusak. Departemen BOW lalu membangun struktur bendung baru yang lebih kuat dengan bahan beton menggantikan bahan sebelumnya berupa keranjang besi yang diisi dengan bebatuan. Pembangunan Bendung Katulampa yang baru menghabiskan dana sebesar 66.200 gulden.
STUWDAM LENGKONG SEBAGAI SISTEM PENGAIRAN DI SIDOARJO TAHUN 1860-1895
Achmadanu, Yusuf;
Afiyanto, Hendra
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14554
Pembangunan bangunan infrastruktur untuk mengatasi permasalahan air, mendorong adanya penelitian ini. Bendungan Lengkong adalah salah satu bendungan yang dibangun oleh pihak Belanda di atas aliran Sungai Brantas. Wilayah Sidoarjo termasuk kota yang dilalui aliran Sungai Brantas. Pada masa penjajahan Belanda, Kota Sidoarjo salah satu kota penyokong perekonomian Belanda. Pabrik gula di wilayah Sidoarjo termasuk salah satu industri yang menjadi pemasok pendapatan dan perekonomian bagi Belanda. Perkembangan industri gula di Sidoarjo memberikan perubahan terkait kemampuan dalam meningkatkan penghasilan bagi Belanda. Hal itu didukung dengan adanya pembangunan fasilitas penunjang industri gula. Bendungan Lengkong menjadi salah satu fasilitas penunjang industri gula, yang sekaligus bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar. Dibangunnya Bendungan Lengkong, akhirnya mempengaruhi sistem pengairan serta berdampak pada perekonomian di wilayah Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik, interpretasi, setelah itu penulisan sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang sejarah Bendungan Lengkong serta sebagai sistem pengairan di Sidoarjo. Penelitian ini memberikan beberapa temuan tentang Bendungan Lengkong. Pertama, ialah awal dari dibangunnya Bendungan Lengkong. Kedua, Bendungan Lengkong dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem pengairan di Sidoarjo. Ketiga, pembangunan Bendungan Lengkong memberikan dampak dan perkembangan sosial maupun ekonomi masyarakat di wilayah Sidoarjo.
MENGULIK SEJARAH PENERAPAN DWIFUNGSI ABRI PADA MASA ORDE BARU
Sofuan, Tazkia Kamila
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i2.14555
Penelitian ini digunakan untuk mengetahui sejarah awal tercetusnya konsep Dwifungsi ABRI yang dipelopori oleh Jenderal A.H. Nasution, kemudian menjelaskan tentang penerapan konsep Dwifungsi ABRI pada masa Orde Baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas lima tahapan seperti pemilihan topik, heuristik, verifikasi sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini yakni tentang awal mula terciptanya pemikiran A.H. Nasution yang mendasari tercetusnya konsep Dwifungsi ABRI. Kemudian membahas tentang alasan penerapan konsep Jalan Tengah pada masa Orde Lama yang kemudian juga diterapkan pada masa Orde Baru yang dikenal dengan sebutan Dwifungsi ABRI. Manfaat dari adanya penelitian ini yaitu untuk mengetahui awal mula keterlibatan militer dalam kancah politik, untuk mengetahui bentuk penyimpangan Dwifungsi ABRI pada masa Orde Baru. Selain itu, untuk mengetahui penyebab hubungan antara sipil dan militer yang tidak harmonis sehingga perlu diperbaiki karena hubungan antara sipil dan militer merupakan sebuah kunci stabilitas pemerintahan suatu negara.
Sejarah dan Dinamika Islam di Pulau Jawa
Maryamah, Maryamah;
Sari, Rani Puspita;
Novita, Novita;
Salma, Dwi Anjeli
KALPATARU : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 1 (2023): KALPATARU: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31851/kalp.v9i1.14556
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sejarah masuknya Islam di pulau Jawa, tokoh yang berperan dalam proses Islamisasi dan akulturasi budaya yang terjadi setelah Islam masuk di pulau Jawa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kepustakaan. Teknik pengumpulan data melalui metode studi kepustakaan dengan mencari dan mengumpulkan data yang berkaitan dengan judul dari artikel ilmiah dengan teknik analisis data secara kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh dari berbagai sumber yang ada menunjukkan bahwa masuknya Islam di pulau Jawa memiliki beberapa periode yaitu tahun 1082 M dengan ditemukanya batu nisan Fatimah binti Maimun. Tahun 1368 M dengan ditemukanya makam-makam kuno di Trowulan dan Tralaya dan tahun 1416 M dengan bukti laporan berita oleh Ma Huan. Tokoh yang cukup berperan dalam penyebaran Islam di Jawa adalah para Wali Songo dengan cara dakwah dan secara damai dengan melakukan berbagai akulturasi budaya.