cover
Contact Name
Jurnal Sosiologi Nusantara
Contact Email
jurnalsn@unib.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsn@unib.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
SOSIOLOGI NUSANTARA
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24609099     EISSN : 26229617     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Sosiologi Nusantara (JSN) merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik, Universitas Bengkulu. Jurnal Sosiologii Nusantara teregistrasi dengan ISSN Print (2460-9099) dan ISSN Online (2622-9617). Jurnal ini menerima artikel ilmiah yang berisi hasil penelitian di bidang sosial humaniora, kajian mengenai kependudukan, gender, pemberdayaan masyarakat. Redaksi tetap menerima naskah artikel yang masih berkaitan dengan topik sosial yang relevan. Jurnal Sosiologi Nusantara terbit sebanyak 2 kali dalam 1 tahun, yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
DEGRADASI ANTUSIAS BERAGAMA MASYARAKAT DESA BAHUNG SIBATU-BATU Ikke Nurjanah Sinaga; Azis - Muslim
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.1-20

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan degradasi antusias beragama di masyarakat Desa Bahung Sibatu-Batu. Fenomena menurunnya antusias beragama masyarakat, tidak hanya terjadi dikalangan orang tua, melainkan dikalangan remaja yang sudah disibukkan dengan gadgetnya, sehingga aktifitas kegiatan keagamaan semakin memudar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan dan wawancara tidak terstruktur. Pengecekan data untuk memperoleh keyakinan terhadap kebenaran data dilakukan dengan triangulasi. Analisis data dengan teknik interaktif. Hasil penelitian menyatakan bahwasannya bentuk degradesi antusias beragama pada masyarakat Desa Bahung Sibatu-batu adalah menurunnya pelaksanaan pengajian dan kegiatan hari besar Islam, melemahnya semangat masyarakat untuk memakmurkan masjid, maraknya perzinahan di kalangan masyarakat dan minimnya etika berpakaian. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya degradasi antusias beragama pada masyarakat yaitu adiksi teknologi digital dan kebudayaan asing, berkurangnya otoritas keagamaan di desa, lemahnya ekonomi dan pendidikan yang diberikan orang tua dan aktifitas pekerjaan dan minimnya pendidikan orang tua. Semangat beragama masyarakat dapat ditentukan oleh kontrol orang tua dan pemuka-pemuka agama yang memberikan sugesti dalam bentuk tausiyah rutin, nasehat-nasehat keagamaan disampaikan dengan hikmat dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi degradasi antusias beragama masyarakat antara lain dengan pemberian pendidikan agama dalam lingkungan keluarga, optimalisasi otoritas keagamaan dan keluarga dalam mengontrol dan mengedukasi masyarakat terkait pentingnya mempelajari agama.Kata Kunci : Degradasi, Antusias Beragama, Otoritas Keagamaan.
KESIAPAN MASYARAKAT MENGHADAPI BENCANA PASCA TAMBANG TIMAH ILEGAL DI PULAU SINGKEP Marisa Elsera; Muhammad Irwies; Nanik Rahmawati
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.85-100

Abstract

Aktivitas tambang illegal yang semakin menjamur perlahan memberikan dampak berupa kerusakan lingkungan yang berpotensi memunculkan bencana yang berdampak pada masyarakat sekitar. Oleh karena itu diperlukan kesiapan masyarakat menghadapi bencana pasca tambang timah illegal di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur, partisipasi, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan masyarakat yang ada dilihat dari dua aspek secara konvensional dan secara modern. Persiapan-persiapan yang ada berupa persiapan teknis dan mendasar seperti munculnya kesadaran untuk merubah proses pengerjaan dan penggunaan alat berat untuk pertambangan, belum terlalu signifikan terhadap penanggulangan mengenai potensi yang sudah muncul bahkan berpotensi muncul bencana yang lainnya.Kata Kunci : Kesiapan Masyarakat, Sistem Kerja, Tambang
GERAKAN SOSIAL EKS HIZBUT TAHRIR INDONESIA PASCA PEMBUBARAN (Studi Kasus di Bengkulu) Sepri Yunarman; Nurul Fhadilah; Ali Akbarjono
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.59-84

Abstract

Gerakan reformasi pada tahun 1998 telah membuka kran kebebasan sosial politik bagi warga negara Indonesia. Akibatnya, animo masyarakat untuk mendirikan ormas sebagai wadah perkumpulan, baik perkumpulan sosial, ekonomi, politik dan keagamaan sangat tinggi. Salah satu ormas yang mengambil peran di era kebebasan tersebut adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun di dalam perjalanannya, kegiatan yang dilaksanakan HTI banyak berbenturan dengan banyak pihak, baik dari kelompok Islam itu sendiri maupun dengan rezim pemerintah. Pada akhirnya presiden Joko Widodo resmi mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 tahun 2017 tentang pembubaran HTI. Akan tetapi, meskipun telah dibubarkan oleh pemerintah, banyak hipotesis yang menunjukkan bahwa gerakan sosial eks HTI masih tetap berjalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana eksistensi gerakan sosial eks HTI setelah dibubarkan, bagaimana tahapan-tahapan gerakan sosial yang dibangun serta bagaimana pola-pola gerakan sosial eks HTI khususnya di Provinsi Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat penelitian lapangan. Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Selanjutnya dianalisis menggunakan model Miles dan Hubberman melalui tiga tahap, reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan eksistensi gerakan sosial eks HTI di Bengkulu masih aktif. Mereka tetap melakukan kegiatan meskipun masih masa pandemi, namun lebih banyak daring daripada tatap muka. Adapun pola gerakan sosial eks HTI bersifat ekspresif, reformatif serta perlawanan. Tahap-tahap gerakan sosial eks HTI, pendirian lembaga, framing isu, proses pengkaderan, pemberdayaan anggota dan penguasaan Negara. Dari hasil kajian, belum terlihat kegiatan eks HTI yang mengarah pada tindakan membahayakan NKRI. Namun pemerintah perlu mengedukasi dan mengawasi komunitas-komunitas yang ada agar kegiatan eks HTI tidak melenceng dari nilai Pancasila dan UUD 1945.Kata Kunci : Gerakan Sosial, Eks HTI, Provinsi Bengkulu
MOBILITAS PEKERJAAN PETANI TRANSMIGRAN DI DESA SIDOHARJO KECAMATAN TUGUMULYO KABUPATEN MUSI RAWAS Anisa Yunita; Heni Nopianti
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.147-168

Abstract

Mobilitas pekerjaan dilakukan oleh petani transmigran memiliki tujuan untuk meningkatkan kondisi ekonomi guna mencapai kesejahteraan hidup yang lebih baik. Namun, pada kenyataannya perubahan kondisi ekonomi yang terjadi tidak selalu meningkat sebab terdapat juga yang mengalami penurunan dan bahkan juga terdapat yang tidak mengalami perubahan atau tetap. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mobilitas pekerjaan dan penyebab terjadinya mobilitas pekerjaan pada petani transmigran di Desa Sidoharjo. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dan menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan pada penelitian yaitu teori Pilihan Rasional yang dikemukakan oleh James. S. Coleman. Adapun hasil penelitian ini (1). Mobilitas pekerjaan petani transmigran meliputi 2 jenis yaitu (a). Petani transmigran melakukan perpindahan jenis pekerjaan dari sektor non pertanian ke sektor pertanian seperti sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan berpindah ke petani sawah atau dari penjual kelapa ke petani sawah. (b). Mobilitas pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor pertanian seperti dari petani sawah ke petani karet dan sebaliknya petani karet ke petani sawah. Mobilitas pekerjaan yang dilakukan memberi dampak pada kondisi ekonomi petani transmigran, diantaranya yaitu: (a). Peningkatan (b). Penurunan (c). Tetap. (2). Penyebab mobilitas pekerjaan petani transmigran adalah: (a). Kondisi ekonomi, ekonomi menjadi faktor penarik untuk melakukan mobilitas pekerjaaan yang bertujuan agar mencapai kondisi ekonomi dan kesejahteraan hidup lebih baik. (b). Peluang, peluang menjadi faktor pendorong karena dengan adanya peluang petani transmigran dapat bekerja di bidang yang dilakukan saat ini di Desa Sidoharjo.Kata Kunci : Mobilitas Pekerjaan, Petani Transmigran.  
PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MEKAR SARI DALAM PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN RUMAH (STUDI DI KELURAHAN PULOKERTO KOTA PALEMBANG) Noviati Putri Sari; Yoyok Hendarso; Ridho Taqwa
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.135-146

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya masalah dalam kegiatan pemanfaatan pekarangan rumah yang dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari di Kelurahan Pulokerto yakni kurang terurusnya kebun demplot, rendahnya minat dan partisipasi KWT Mekar Sari, serta permasalahan pada tanaman yang ada di pekarangan masing-masing anggota KWT Mekar Sari. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis proses, hambatan serta upaya dalam pemberdayaan KWT Mekar Sari dalam pemanfaatan lahan pekarangan rumah. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemberdayaan (Edi Suharto, 2006) yakni penguatan dan penyokongan. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan unit analisis data yaitu kelompok wanita tani. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemberdayaan yang diterima KWT Mekar Sari yakni pendekatan awal, sosialisasi, pembuatan proposal kegiatan, memperkuat pengetahuan dan keterampilan, serta evaluasi. Dalam pelaksanaan kegiatan KWT Mekar Sari mendapat hambatan internal dan eksternal. Hambatan internal yakni rendahnya partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan, rendahnya antusiasme menanam di pekarangan masing-masing, kurang motivasi, dan kurang mendapat manfaat dari kegiatan ini. Sedangkan hambatan eksternal yakni adanya masalah pada kebun bibit, kurang komunikasi antara PPL dengan KWT, mendapat gangguan dari hewan ternak, dan yang terakhir disebabkan oleh pandemi Covid 19. Terdapat empat prinsip yang sering digunakan untuk suksesnya program pemberdayaan yakni : pertama kesetaraan, Kedua adalah partisipasi, Ketiga kemandirian dan yang keempat Berkelanjutan.Kata Kunci : KWT Mekar Sari, Pemberdayaan, Pemanfaatan Pekarangan Rumah
DINAMIKA KEHIDUPAN PEREMPUAN PENYADAP KARET DI WILAYAH KONFLIK SAWIT PADA MASA PANDEMI COVID-19 Yuliana Yuliana
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.117-134

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian terhadap perempuan penyadap karet di Desa Janah Jari, Kecamatan Awang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, yang dilakukan bersama lembaga JPIC (Justice, Peace and Integrity for Creation) Kalimantan. Penelitian ini mempertanyakan bagaimana peran yang dijalankan perempuan penyadap karet di Desa Janah Jari yang hidup di wilayah konflik sawit pada masa pandemi Covid-19. Tujuan penelitian mendeskripsikan: (1) dampak kehadiran perusahaan sawit PT Ketapang Subur Lestari terhadap ruang hidup perempuan (2) konflik laten yang terjadi di masyarakat (3) peran perempuan penyadap karet dimasa pandemi Covid-19. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Adapun hasil penelitian: (1) ruang hidup perempuan berupa hutan dan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kini menyempit. (2) Masyarakat masih merasa kecewa, serta marah dengan pihak perusahaan sawit PT Ketapang Subur Lestrari yang tak peduli dengan kondisi ruang hidup mereka. (3) Terdapat peran reproduktif dan peran produktif, dan beban kerja sebagai bentuk perjuangan kehidupan bagi keluarga mereka. Adapun kesimpulan penelitian bahwa kehadiran perkebunan kelapa sawit dan pandemi Covid-19 sama-sama membawa perubahan pada kehidupan sosial (budaya) dan ekonomi perempuan penyadap karet yang berdampak pada beban kerja perempuan penyadap karet yaitu memberikan alokasi waktu lebih untuk menjalankan peran reproduktif dan peran produktif.Kata Kunci :  Perempuan Penyadap Karet, Konflik Sawit, Pandemi Covid-19
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN PRANIKAH PADA REMAJA Linggar Nur Imani; Fransiscus Xaverius Sri Sadewo
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.49-58

Abstract

Penelitian mengenai pengambilan keputusan kehamilan tidak diinginkan pranikah pada remaja, berfokus pada pengambilan keputusan yang dilakukan oleh remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan pranikah. Lokasi penelitian dilakukan di kota Sidoarjo dan Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara secara terus terang dan ditambah dengan sumber-sumber data lainnya. Lokasi penelitian dilakukan di Sidowayah, Celep, Sidoarjo. Berfokus pada pasangan muda yang mengalami kehamilan pranikah pada rentang usia 15-18 Tahun. Analisis data yang digunakan merupakan teori rasionalitas instrumental Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengambilan keputusan meliputi pertimbangan pendidikan yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan remaja untuk melanjutkan kehamilan atau tidak. Lalu, keinginan untuk mempertahankan kandungan menjadi faktor yang membuat remaja mengambil keputusan tetap melanjutkan kehamilan mereka daripada melakukan aborsi. Remaja yang mengalami kehamilan pranikah mengambil keputusan yang paling menguntungkan bagi diri sendiri, pasangan, dan anak.Kata Kunci : Kehamilan Tidak Diinginkan, Pengambilan Keputusan, Pranikah , Remaja
RATIONALIZATION OF DIVISION OF DOMESTIC WORK AMONG YOUNG MIDDLE-CLASS FAMILIES Diah Mutiara Johar; Siti Mas'udah
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Sosiologi FISIP UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.1.21-48

Abstract

The discourse on gender equality in society is growing. Although the participation of women working in the public sector is increasing, the roles of husband and wife are still divided sexually. Domestic work and child care are still the primary responsibilities of women. This study examines gender inequality and the rationalization of the work division in young couples’ households in urban communities. This study uses a qualitative method. This study uses the theory of doing gender and symbolic interactionism. This study found that families with an unequal division of domestic work made rationalization of gender inequality within the family. Various excuses were given to disguise the unequal division of domestic work between husband and wife. This happens because of the patriarchal ideology in Javanese society. The wife was given more responsibility for domestic work and child care than the husband. In traditional families, inequality in the division of domestic work is rationalized for the following reasons, namely gender, standards, and time. In transitional families, inequality in domestic work is rationalized through gender, standards, skills, time, religion, and avoiding conflict. In an egalitarian family, family members do domestic work based on their responsibilities and initiatives. The actors who perpetuate gender inequality in young families are husbands, husbands and wives, and extended family members. This study concludes that gender roles in young couples’ households are still traditional and perpetuated through rationalizing gender inequality in domestic work and childcare allocation.Keywords : Domestic Works, Family, Gender Equality, Gender Injustice, Women
Stratifikasi Sosial dan Akses Atas Keselamatan Terhadap Bencana Nora Jasmine Abidin; Baiq Lily Handayani
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.2.293-304

Abstract

Stratifikasi sosial adalah suatu system yang pasti dalam masyarakat. Berdasarkan kategori ekonomi  masyarakat setidaknya terbagi menjadi tiga golongan yakni kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah. Stratifikasi sosial tersebut mempengaruhi akses terhadap keselamatan dari bencana. Perbedaan akses tersebut disebabkan oleh faktor ekonomi hingga Pendidikan. Tujuan dari artikel ini ialah untuk menjelaskan stratifikasi sosial mempengaruhi akses terhadap keselamatan atas bencana dan hal-hal apa saja yang menjadi faktor pendukung keselamatan terhadap bencana. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yakni dengan mengumpulkan data-data dan referensi yang mendukung baik dari buku, jurnal maupun hasil penelitian terdahulu. Hasil dari penelitian ini adalah perbedaan stratifikasi sosial yang ada membuat adanya perbedaan akses antara kaya dan miskin atas keselamatan terhadap bencana. Akses yang menunjang keselamatan terhadap bencana seperti akses terhadap pendidikan, informasi dan jaringan, tempat berlindung dan pendidikan bisa didapat dengan mudah oleh orang dengan stratifikasi sosial atas sedangkan berbeda dengan stratifikasi sosial bawah.  
PERUBAHAN SOSIAL BIDANG PERTANIAN DALAM PERSPEKTIF MATERIALISTIS DAN IDEALIS (Social Change In Agriculture In A Materialistic And Idealistic Perspective) Tri Prajawahyudo; Fandi Karuniawan Putera Asiaka; Eti Dewi Nopembereni
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.2.305-320

Abstract

Dalam konteks perubahan sosial menarik untuk membahas tentang unsur penyebab perubahan itu sendiri. Perubahan sosial dalam suatu komunitas, yang melatarbelakangi terjadinya perubahan sebab-sebabnya urgen untuk diketahui. Suatu perubahan pada masyarakat apabila ditelisik lebih mendalam penyebab terjadinya, karena adanya elemen yang dirasakan tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat. Ada dua perspektif pandangan perubahan secara general dalam suatu komunitas kelompok yang menjadi unsur penyebab perubahan, yaitu  materialistis serta idealis. Oleh karena itu artikel ini bertujuan untuk memaparkan perubahan sosial bidang pertanian dari perspektif materialistis dan perspektif idealis. Dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif bertujuan untuk menguraikan serta mendeskripsikan konsep-konsep yang berhubungan dengan pengertian secrara komprehensif mendalam mengenai suatu gejala-gejala atau fenomena, objektif dan realitas yang melatarbelakang serta tujuannya. Metode pengumpulan data adalah studi pustaka. Perubahan sosial dalam perspektif materialistis antara lain teknologi baru (moda produksi) yang terdiri dari produksi subsisten, yaitu; kekuatan produksi mencakup lahan, produksi komersial, yaitu kemampuan produksi meliputi lahan dan non lahan  merupakan sarana berproduksi, dan produksi kapitalis, yaitu; kekuatan produksi mencakup modal sebagai alat produksinya. Sedangkan perubahan sosial  dalam perspektif idealis adalah faktor non material berupa gagasan atau ide, etik dan gagasan. Gagasan diharapkan bisa menimbulkan perubahan minimal dengan melewati 3 (tiga) kaidah yaitu gagasan dapat menjustifikasi kehendak dalam melaksanakan perubahan-perubahan, gagasan dapat membuat fundamental kesetiakawanan sosial yang diperlukan untuk melaksanakan perubahan, dan gagasan dapat membawa dampak perubahan melewati problematika dan perbedaan yang eksis dalam suatu kelompok masyarakat.

Page 10 of 15 | Total Record : 149