cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 18298966     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Gradasi Teknik Sipil diterbitkan pertama kali dengan nama Jurnal Teknik Sipil pada bulan Agustus 2004 dengan ISSN 1829 – 8966, yang diterbitkan oleh Unit Pengembangan dan Kerjasama Jurusan Politeknik Negeri Banjarmasin. Ruang lingkup makalah meliputi bidang Teknik dan Manajemen dengan konsentrasi Bidang Transportasi, Geoteknik, Struktur, Keairan dan Manajemen Konstruksi.
Arjuna Subject : -
Articles 224 Documents
PERMODELAN MODIFIKASI ALAT PEMADATAN DI LABORATORIUM SESUAI DENGAN SNI SNI 1743:2008 Ahmad Norhadi; Surat Surat; Muhammad Fauzi; Ahmad Akbar Ramadhani; Dede Rachman
Jurnal Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v4i1.813

Abstract

Pesatnya perkembangan prasarana di kota Banjarmasin terutama dalam sarana transportasi, akibat jumlah kendaraan yang semakin meningkat kian harinya. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan masyarakat yang juga bertambah, seperti kebutuhan jalan yang baru dan sesuai Spesifiikasi Umum Bina Marga. Oleh sebab itu, pembangunan jalan baru atau perbaikan jalan yang lama harus segera terealisasikan oleh pemerintah. Dalam rangka membangun suatu konstruksi seperti salah satunya pembangunan jalan baru perlu perencanaan dan penelitian yang matang sebab pembangunan jalan sangat berkaitan dengan kondisi fisik dan mekanis lapis pondasi, dimana jalan mempunyai beberapa lapis pondasi ditinjau berdasarkan gradasi agregatnya. Dalam pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi di lapangan diperlukan pemadatan yang maksimum agar mengantisipasi terjadinya penurunan akibat adanya pembebanan lalu lintas. Dalam praktek pemadatan di lapangan pada umumnya menggunakan mesin penggilas tanpa ada persyaratan material harus lolos saringan 19,00 mm (3/4″) sedangkan pada pekerjaan pemadatan Lapis Pondasi Agregat Kelas B di laboratorium menggunakan metode pemadatan berat dan untuk bahan campuran material harus yang lolos saringan 19,00 mm (3/4″). Dari hasil penelitian ini dapat diketahui nilai kepadatan maksimum dan kadar air optimum serta nilai CBR desain sesuai dengan SNI 1743:2008 yaitu Nilai Kepadatan Kering Maksimum (maks) 2,243 gr/cm3, Kadar Air Optimum 4,7%, dan Nilai CBR desain 78%. Nilai kepadatan maksimum dan kadar air optimum serta nilai CBR desain sesuai dengan permodelan alat pemadatan 2 lapisan dan 3 lapisan, hasil pengujian permodelan modifikasi alat pemadatan 2 lapisan didapatkan Nilai Kepadatan Kering Maksimum (maks) 2,183 gr/cm3, Kadar Air Optimum 4,9 %, dan Nilai CBR desain 16%, hasil pengujian permodelan modifikasi alat pemadatan 3 lapisan mendapatkan rata-rata Nilai Kepadatan Kering Maksimum (maks) 2,194 gr/cm3, Kadar Air Optimum 4,6 %, dan Nilai CBR desain 22%. Kesesuaian parameter hasil sifat mekanis antara standar SNI 1743:2008 dengan permodelan modifikasi alat pemadatan di laboratorium menunjukkan bahwa permodelan modifikasi alat pemadatan dan CBR Laboratorium tidak sesuai dengan SNI 1743:2008 karena tidak mencapai minimum desain CBR Laboratorium dalam Spesifikasi Umum 2010 Rev 3 Bina Marga Divisi 5 pada Lapis Pondasi Agregat Kelas B.
REVIEW DESAIN PERKERASAN JALAN RAYA III KABUPATEN PULANG PISAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH khamidi ilhami; Hadi Gunawan
Jurnal Teknik Sipil Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2021
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v5i1.816

Abstract

Jalan merupakan prasarana darat yang berpengaruh besar terhadap perkembangan suatu wilayah. Jalan Ray III berada di Kabupaten Pulang Pisau lokasi dalam kota, ibu kota Kabupaten. Jalan tersebut merupakan jalan alternatif dari Provinsi Kalimantan Tengah menuju Provinsi Kalimantan Selatan juga sebaliknya. Peningkatan jalan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jalan dalam rangka mengakomodasi pertumbuhan arus lalu lintas. Kondisi tanah dasar pada ruas Jalan Ray III adalah tanah lunak, sehingga dalam desain tanah dasar dengan dilakukan pengurukan timbunan. Metode perencanaan perkerasan yang digunakan adalah Analisa Komponen SKBI 2.3.26.1987. Objek studi yaitu Jalan Ray III terletak di Kabupaten Pulang Pisau pada STA 0 + 000 s/d STA 0 + 200. Hasil dari Evaluasi Desain Perkerasan Jalan dengan umur rencana 5 tahun diperoleh LER adalah 26,3 Laston (MS. 590) adalah 7,5 cm (tebal minimal 7,5 cm karena merupakan jalan kabupaten), Batu pecah kelas A (CBR 100) adalah 10 cm dan Batu pecah kelas B (CBR 80) adalah 10 cm (Syarat tebal minimum LPB). Untuk umur rencanaa 10 tahun diperoleh LER adalah 76,9 Laston (MS.590) adalah 7,5 cm (tebal minimal 7,5 cm karena merupakan jalan kabupaten). Batu pecah kelas A (CBR 100) adalah 10 cm, Batu pecah kelas B (CBR 80) adalah 14,4 cm
Karakteristik Campuran Aspal Karet pada Lataston Lapis Aus (HRS-WC) Riska Hawinuti; Rifanie Gazalie; Suwaji suwaji
Jurnal Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v4i1.845

Abstract

Pemanfaatan karet alam sebagai additif pada campuran aspal dimaksudkan untuk memperbaiki sifat-sifat fisik aspal dengan cara menambahkan kadar karet alam kedalam aspal keras untuk membentuk campuran aspal karet. Tujuan penelitian ini antara lain mengetahui pengaruh penambahan karet terhadap karakteristik campuran beraspal HRS-WC; mengetahui perbandingan nilai karakteristik Marshall antara campuran beraspal HRS-WC tanpa dan dengan adanya campuran karet dan menentukan persen kadar aspal optimum dan kadar campuran karet optimum yang digunakan dalam campuran aspal. Pengujian yang dilakukan antara lain pengujian agregat, pengujian aspal dan pengujian Marshall. Benda uji berupa benda uji tanpa tambahan karet dan dengan tambahan karet sebanyak masing-masing 15 buah dengan variasi kadar karet 3%; 4%; 5%; 6%; 7% yang dihitung berdasarkan kadar aspal optimum (KAO). Hasil pengujian dengan penambahan kadar karet sebesar 3,0% pada nilai kadar aspal optimum (KAO) sebesar 6,25%, diperoleh nilai Stabilitas dari 1.200 kg menjadi 1.150 kg (-4,17%); nilai VMA dari 17,7% menjadi 15,8% (-10,73%); nilai VIM dari 5,6% menjadi 3,2% (-42,86%); nilai VFB dari 69,25% menjadi 79,5% (+14,80%); flow dari 4,35 mm menjadi 4,5 mm (+3,45%); dan nilai Marshall Quotient dari 280kg/ mm menjadi 258 kg/ mm (-7,86%). Dari data tersebut penambahan karet memenuhi syarat spesifikasi Marshall. Kata Kunci : Karet, HRS-WC, Marshall Quotient
Komparasi Biaya Konstruksi Bangunan Atas Jembatan Slab On Pile di Atas Tanah Lunak untuk Beberapa Variasi Bentang Ruspiansyah Ruspiansyah; Muhammad Humaidi; Khairil Yanuar
Jurnal Teknik Sipil Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Desember 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v4i2.851

Abstract

Jembatan tipe slab on pile umumnya terdiri dari dua bentang atau lebih. Sampai saat ini belum ada ketentuan atau pedoman terkait dengan panjang bentang terkecil dan terbesar. Dengan demikian penentuan panjang bentang jembatan slab on pile lebih kepada engineering judgment desainer dan/atau pemilik jembatan. Penelitian ini mencoba menentukan panjang bentang optimal yang dapat menghasilkan biaya konstruksi bangunan atas yang minimal dalam satuan rupiah per satuan luas jembatan slab on pile di daerah tanah lunak. Adapun lokasi penelitian berada di Jembatan Ray 2 Kabupaten Barito Kuala. Dalam penelitian ini, jembatan dibagi kedalam tiga tipe, yaitu Tipe I dengan bentang segmental 4 m dengan banyak bentang lima bentang dan panjang bentang total 20 m, Tipe II dengan bentang segmental 5 m dengan banyak bentang empat bentang dan panjang bentang total 20 m, dan Tipe III dengan bentang segmental 7 m dengan banyak bentang tiga bentang dan panjang bentang total 21 m. Berdasarkan hasil desain, biaya konstruksi bangunan atas per satuan luas untuk untuk jembatan slab on pile tipe I sebesar Rp5,795,673.4, jembatan slab on pile tipe II sebesar Rp5,313,707.8, dan jembatan slab on pile tipe III sebesar Rp4,925,033.0. Perbedaan biaya konstruksi ini dipengaruhi oleh jumlah pier head yang dimiliki jembatan, dimana tipe III memiliki jumlah pier head terkecil Abstract Slab on pile bridges consist of two spans or more. Until now, there are not codes state cleary about shortest and largest span of slab on pile bridge. Therefore, decision about length of span tends to engineering judgement of designer and/or owner of the bridge. This research tries to propose about optimal span that obtain a minimal construction cost of superstructure of slab on pile bridge on soft soil area in rupiah per square area. This research is located at Ray 2 Bridge in Barito Kuala District. In this research, bridge classifies in three types: type I (4 m segmental length, 5 spans, and 20 m total span length), type II (5 m segmental length, 4 spans, and 20 m total span length), and type III (7 m segmental length, 3 spans, and 21 m total span length). According to design results in this research, construction cost of superstructure for type I, II, and III are Rp5,795,673.4, Rp5,313,707.8, and Rp4,925,033.0. construction cos differs among types because the numbers of pier head, wherein type III has smallest number of pier head
PERUBAHAN PENAMPANG SALURAN PADA BELOKAN AKIBAT PERUBAHAN PARAMETER ALIRAN Lutfi Hair Djunur; Farida Gaffar; Kasmawati Kasmawati
Jurnal Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v4i1.861

Abstract

Perubahan morfologi saluran dapat terjadi secara alami karena kondisi alam yang tidak dapat dihindarkan seperti adanya tikungan pada saluran. Aliran yang melengkung dan menelusuri dinding saluran bagian luar akan mempengaruhi material dinding saluran yang disebut erosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan parameter aliran terhadap gerusan dibelokan pada sisi dalam dan sisi luar belokan saluran dan menganalisa kedalaman serta volume gerusan yang terjadi di sekitar belokan sungai.Penelitian dilakukan dengan uji model eksperimental di laboratorium dengan menggunakan 4 variasi debit (Q) dan 1 variasi belokan saluran yaitu 300 dan 4 variasi waktu pengaliran yaitu 15, 30, 45 dan 60 menit dengan tinggi aliran air h = 3,5; 4,0; 4,5; dan 5,0 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume gerusan yang terjadi di belokan saluran akibat peningkatan debit aliran diakibatkan oleh meningkatnya kecepatan aliran yang berbanding lurus terhadap debit aliran. Volume terjadinya gerusan pada jarak melintang dari pusat (x1 = 20 cm) paling besar terjadi gerusan dan (x3 = 70 cm) paling besar terjadi endapan, hal ini diakibatkan oleh kecepatan aliran ditikungan akan bergerak kearah luar belokan, setelah melewati pertengahan belokan kecepatan transversal menelusuri lengkung luar belokan.
The Effect of Rise Husk Ash on Concrete Mixing Quality Formula Hurul 'Ain; Alan Putranto; Betti Ses Eka Polonia; Ahmad Ravi
Jurnal Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v4i1.878

Abstract

The effect of the addition of rice husk ash (rice husk ash) to the K-175 formula quality concrete mixture, as an aggregate mixture to the concrete compressive strength test using a Compression Testing Machine to get the compressive strength value of concrete and can be used as an alternative material as an additional material in making concrete in improving the quality of building construction. The study uses K-175 concrete quality characteristics as a test material. Test object in the shape of a cube with a size of 15cm x 15cm. With 4 variations in levels of addition of rice husk ash by 0%, 1.5%, 3.5%, and 5% by weight of cement. The husk ash used is the husk ash that escaped the 2.36 mm filter size. From each type of mixture made 9 test specimens, every 3 specimens for the age of concrete 7 days, 14 days and 28 days. Concrete mortar design using ASTM method. With material sources using fine aggregate from the Pawan Ketapang River and coarse aggregate from Merak, Banten. Stages of implementation include examining the nature of aggregate materials, sample making, and testing of concrete compressive strength.
KUALITAS LAPIS PONDASI ATAS KELAS A DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL BERASAL DARI KUARI BENTOK DAN AWANG BANGKAL SUATU STUDI KASUS fathur rozi; Fajar Sukmawan
Jurnal Teknik Sipil Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v4i1.896

Abstract

Uji Kualitas Material untuk pekerjaan Lapisan Pondasi Agregat Kelas A pada penulisan ini bermaksud untuk melakukan pengujian awal terhadap kualitas material Lapis Pondasi pada tumpukan material di stockpile pelaksanaan pekerjaan perkerasan jalan yang akan digelar di jalan Hercules Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru. Material yang diuji berasal dari kuari Bentok dan material dari kuari Awang Bangkal dengan tujuan ingin mengetahui apakah produk Lapis Pondasi Agregat yang dihasilkan dari kedua sumber material ini dapat memenuhi dan berkesesuaian dengan syarat standard spesifikasi Bina Marga. Metode yang digunakan dalam pengujian ini yakni dengan mengambil sampel material dari lapangan yang kemudian dilakukan pengujian di Laboratorium Politeknik Negeri Banjarmasin, dengan mengacu pada metode pengujian Standar Nasional Indonesia (SNI). Dari hasil pemeriksaan dengan menggunakan material asal Bentok diperoleh nilai Berat Jenis Agregat Halus 2.594, Berat Jenis Agregat Kasar 2.663, Abrasi 30.38% berat volume kering maksimum gabungan 2.178 gr/cm3 dan CBR Rendaman 4 hari 91%. Adapun hasil pemeriksaan dengan menggunakan material asal Awang Bangkal diperoleh nilai Berat Jenis Agregat Halus 2.611, Berat Jenis Agregat Kasar 2.6719, Abrasi 32.12% berat volume kering maksimum gabungan 2.178 gr/cm3 dan CBR Rendaman 65 %. Syarat spesifikasi Bina Marga, CBR rencana minimum untuk Lapis Pondasi Agregat Kelas A adalah 90% dan nilai abrasi minimum adalah 40 %.
PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PEKERJAAN DRAINASE ANTARA METODE PRECAST DAN CAST IN SITU Adi Maryanto; Ruspiansyah
Jurnal Teknik Sipil Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2021
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v5i1.980

Abstract

Metode Precast dan metode Cast in Situ merupakan metode pekerjaan drainase dengan kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pelaksanaan Metode Precast dan Cast in Situ pada pekerjaan drainase belum bisa dikatakan tepat, sehingga perlu dilakukan analisa perbandingan mengenai biaya dan waktu pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar efisiennya kedua metode tersebut. Metode penelitian yang digunakan ialah dengan perbandingan hasil antara metode Precast dan metode Cast in Situ. Data yang diolah berupa data sekunder yang didapat dari kontraktor pelaksana. Untuk penyusunan penelitian ini meliputi studi pustaka atau literatur, pengumpulan data, perhitungan volume, metode pelaksanaan dan analisa harga satuan dan biaya. Lokasi studi berada di PLTU Suralaya Banten. Berdasarkan perhitungan volume, analisa harga satuan pekerjaan, rencana anggaran biaya, analisa produktifitas pekerjaan diperoleh hasil untuk biaya metode Cast in Situ sebesar Rp 5.543.804.100,00 dan biaya metode Precast sebesar Rp 3.994.718.900,00. Waktu pekerjaan menggunakan metode Cast in Situ memerlukan waktu 116 hari sedangkan untuk waktu pekerjaan metode Precast selama 29 hari. Jumlah pekerja metode Cast in Situ sebanyak 64 pekerja dan metode Precast sebanyak 17 orang. Berdasarkan hasil analisa dapat disimpulkan metode Precast ialah metode yang paling efisien digunakan.
PERBANDINGAN ANGGARAN BIAYA (RAB) PELAT LANTAI KONVENSIONAL DENGAN PELAT LANTAI KOMPOSIT (BONDEK) Aunur Rafik; Sahlan Hadi; Rinova Firman Cahyani
Jurnal Teknik Sipil Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Juni 2021
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v5i1.981

Abstract

Penggunaan kayu/plywood untuk bekisting pada proses pengecoran pelat lantai konvensional dalam sudut pandang konstruksi dianggap memiliki beberapa kelemahan serta berdampak pada kerusakan ekosistem. Sehingga perlu dicari alternatif dan inovasi material lain yang memiliki keunggulan dan dapat mengurangi bahkan menggantikan penggunaan kayu pada pembangunan konstruksi. Produk material yang dimaksud adalah bondek yaitu jenis baja ringan berlapis galvanis dengan tekstur bergelombang yang rapi dan kokoh. Pada penelitian ini dibahas perbandingan biaya(RAB) pembangunan pelat lantai konvensional menggunakan bekisting kayu dengan biaya(RAB) pembangunan pelat lantai komposit menggunakan bekisting bondek pada pembangunan Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah(BPSDMD) Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru. Berdasarkan shop drawing, data spesifikasi bahan, harga satuan bahan dan upah, serta referensi lainnya dibuat analisa harga satuan pekerjaan dengan mengacu pada standar Analisa Harga Satuan Pekerjaan SNI Tahun 2016 dan Harga Satuan Bahan dan Upah Banjarbaru Tahun 2019 oleh Kementerian PUPR kemudian dilakukan perhitungan biaya(RAB) pembangunan pelat lantai. Menggunakan metode komparatif biaya(RAB) pembangunan biaya pelat lantai konvensional dibandingkan dengan biaya pembangunan pelat lantai komposit(bondek). Dari hasil perhitungan diperoleh biaya pembangunan pelat lantai konvensional sebesar Rp. 2.850.731.000,- dan biaya pembangunan pelat lantai komposit(bondek) sebesar Rp. 2.138. 501.000,- dengan selisih Rp. 230.230.000,- atau 24.98% lebih murah pelat lantai komposit(bondek).
TINJAUAN DEBIT KEBUTUHAN AIR SALURAN DAERAH IRIGASI TELAGA LANGSAT BERDASARKAN STANDAR PERATURAN IRIGASI (KP) TAHUN 2013 Adriani Muhlis; Fakhrurrazi Fakhrurrazi; Abdul Khaliq
Jurnal Teknik Sipil Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Gradasi Teknik Sipil - Desember 2020
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31961/gradasi.v4i2.988

Abstract

Daerah Irigasi Telaga Langsat Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan luas areal 3044,8 Ha, difungsikan untuk dapat mengairi persawahan pertanian dengan irigasi teknis, dalam beberapa tahun terakhir perlu adanya peninjauan kembali pendistribusian air yang hanya cukup berfungsi tapi kurang optimal. Apalagi dari pembangunannya sejak 1989 sampai sekarang sudah berumur lebih dari 30 tahun, dengan menggunakan Kriteria Perencanaan (KP) Tahun 1986. Tujuan penelitian adalah modifikasi dan menghitung ulang debit kebutuhan air agar dapat berfungsi optimal dengan berlandaskan Kriteria Perencanaan Irigasi dalam Peraturan Dirjen SDA KemenPU Tahun 2013, dengan metode penelitian meliputi data primer dan sekunder serta pengolahan data beracuan peraturan tersebut. Hasil didapat debit eksisting 5397 liter/detik dan debit hasil modifikasi sebesar 5652,49 liter/detik, sehingga terdapat selisih kurang debit sebesar 255,49 liter/det. Luasan petak tersier selayaknya diperkecil, idealnya 50 ha, dalam keadaan tertentu dapat ditolelir sampai 75 ha, yang disesuaikan dengan kondisi topografi agar pelaksanaan operasi dan pemeliharaan lebih mudah. Ada beberapa petak tersier dilakukan simulasi modifikasi, dengan memecah luasan petak tersier semula dan menambahkan petak tersier baru yang memungkinkan untuk pembagian secara merata dan terpenuhi sesuai kebutuhan. Abstract Telaga Langsat Irrigation Area, Kabupaten Hulu Sungai Selatan with an area of 3044.8 Ha, is functioned to be able to irrigate agricultural rice fields with technical irrigation, in recent years there needs to be a review of the distribution of water which is only functioning but not optimal, base on data of the left Telaga Langsat, it is only served 1264,45 Ha in a discharge is 2,231 m3/sec (Ikrimathus. S, 2013).. Moreover, from its development since 1989 until now it is more than 30 years old, using the 1986 Planning Criteria (KP). The aim of this research is to modify and recalculate the discharge of water needs based on the Irrigation Regulatory Standard (KP) of 2013, with research methods including primary and secondary data as well as data processing based on these regulations. The results show that the existing discharge is 5397 liters / second and the modified discharge is 5652.49 liters / second, so there is a difference of 255.49 liters / sec. The area of tertiary compartments should be reduced, ideally 50 ha, in certain circumstances can be tolerated up to 75 ha, which is adjusted to topographic conditions so that the implementation of operation and maintenance is easier. There are several tertiary plots that have been simulated with modification, by dividing the area of the original tertiary plot and adding new tertiary plots that allow for even distribution and fulfillment as needed

Page 11 of 23 | Total Record : 224