cover
Contact Name
Rifky Ananda
Contact Email
fkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentino.ulm@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentino: Jurnal Kedokteran Gigi
ISSN : 23375310     EISSN : 25274937     DOI : 10.20527
Core Subject : Health,
Dentino [P-ISSN 2337-5310 | E-ISSN 2527-4937] is the journal contains research articles and review of the literature on dentistry which is managed by the Faculty of Dentistry, Lambung Mangkurat University. Dentino published twice a year, every March and September.
Arjuna Subject : -
Articles 530 Documents
HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN KARIES DENGAN STATUS GIZI KURANG DAN GIZI BAIK Tinjauan pada Anak Balita di TK Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar Hidayatullah, Hidayatullah; Adhani, Rosihan; Triawanti, Triawanti
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Caries is tooth hard tissue disease marked with email and dentint progressive destruction caused by plaque and microbial metabolism activity. This is caused by email and dentint demineralisation that involve cariogenic food consumption. Good or optimal nutritional status achieved when body get sufficient nutrition, this can be used efficient. Low nutritional status occurred when body doesn’t get one or more essential nutrient. Purpose: The purpose of this reaseach was to understand the relationship between caries with good nutritional status and low nutritional status of children under 5 years old at TK Kertak Hanyar, Banjar District. Methods: This was an analytic study with cross sectional survey method using 60 sample consist of 30 sample of children with nutritional status under the average def-t score index 8,1 dan 30 children with good nutritional status with def-t score index 3,6. Result: Based on this research, there was a relationship between low nutritional status with caries degree on children at TK Kertak Hanyar, Banjar District, with the value of p = 0,000 in Chi-Square test. Conclusion: In conclusion, there was a correlation between low nutritional status dan rate of caries. ABSTRAKLatar Belakang: Karies adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai rusaknya email dan dentin yang progresif disebabkan oleh keaktifan metabolisme plak dan bakteri. Hal ini  disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin yang hubungannya dengan konsumsi makanan kariogenik. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat keparahan karies pada balita dengan status gizi kurang dan gizi baik di TK Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian analitik dengan pendekatan metode survei cross sectional dengan menggunakan 60 sampel  yang terdiri dari 30 sampel merupakan  anak dengan status gizi kurang dengan indeks skor rata-rata def-t 8,1 dan 30 anak dengan status gizi baik dengan indeks skor def-t 3,6. Hasil: Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan terdapat hubungan antara status gizi kurang dengan tingkat keparahan karies pada anak balita di TK Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar.dengan nilai p = 0,000 menggunakan uji Chi-Square. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan antara status gizi kurang dengan tingkat karies.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, KETERSEDIAAN FASILITAS, DAN DORONGAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP TINDAKAN MASYARAKAT UNTUK MENAMBAL GIGI Nanda Heta, Fransisca Viesta; Adhani, Rosihan; Yuniarrahmah, Emma
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Caries which receives no immediate treatment by filling will lead to more severe damage on teeth; the cavity will expand and eventually reach pulp. As prevention, filling is used as standard attempt to restore oral cavity normal function. Individual behavior to seek for dental treatment (filling) is affected by three factors: knowledge, facilities availability, and health services staffs’ motivation. Purpose: The purpose of this study is to assess the association of knowledge level, facilities availability and health services staffs’ motivation with public’s behavior to have their teeth filled in Puskesmas Pemurus Dalam, Puskesmas Karang Mekar, Puskesmas Banjar Indah, Puskesmas Sungai Jingah, and Puskesmas S. Parman. Methods: This study was analytic survey using cross-sectional approach. Samples were chosen by consecutive sampling amounting to 100 patients. Data was obtained by handing out questionnaires to patients. Result: Data was analyzed using chi square test which presented the value of X2=5,351; p=0,023 for knowledge level, X2=2,693; p=0,101 for facilities availability, and X2=0,676; p=0,174 for health services staff’s motivation of teeth filling. Conclusion: In conclusion, there was a significant association between knowledge level with teeth filling behavior and there was none between facilities availability and health services staff’s motivation with teeth filling behavior. ABSTRAK Latar Belakang: Karies gigi yang tidak segera dilakukan perawatan dengan tambalan akan berlanjut menghancurkan gigi, lubang gigi akan membesar dan karies akan sampai pulpa. Sebagai upaya penanggulangan karies agar tidak meluas adalah melakukan penambalan pada gigi untuk mengembalikan fungsi rongga mulut. Terbentuknya perilaku individu untuk mencari pengobatan gigi (tambal gigi) dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu pengetahuan, ketersediaan fasilitas, dan dorongan petugas kesehatan. Tujuan: Tujuanpenelitian ini adalah mengetahui hubungan dari tingkat pengetahuan, ketersediaan fasilitas, dan dorongan petugas kesehatan terhadap tindakan masyarakat untuk menambal gigi di Puskesmas Pemurus Dalam, Puskesmas Karang Mekar, Puskesmas Banjar Indah, Puskesmas Sungai Jingah, dan Puskesmas S. Parman. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling sebanyak 100 orang pasien. Pengambilan data diperoleh dengan memberikan kuesioner kepada pasien. Hasil: Data dianalisis menggunakan uji chi square dan di peroleh nilai X2=5,351; p=0,023 untuk hubungan tingkat pengetahuan, nilai X2=2,693; p=0,101 untuk hubungan ketersediaan fasilitas, dan nilai X2=0,676; p=0,174 untuk hubungan dorongan petugas kesehatan terhadap tindakan menambal gigi. Kesimpulan: Kesimpulannya terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap tindakan menambal gigi dan tidak ada hubungan bermakna antara ketersediaan fasilitas dan dorongan petugas kesehatan terhadap tindakan menambal gigi.
ANALISIS SITOGENIK MIKRONUKLEUS MUKOSA BUKAL PADA PEROKOK AKTIF DAN PASIF Rahmah, Noryunita; Dewi, Nurdiana; Raharja, Suka Dwi
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Smoking is well known as a habit that negatively impact both smokers and non-smokers but inhaling cigarette smoke or passive smokers. Nicotin compounds of cigarette and cigarette smoke are one of genotoxic compounds that will be nitrosated and form nitrosamines compound that may cause the damage of DNA. DNA damage which is caused by genotoxic compound will be manifested as micronucleus, a second nucleus smaller than the original nucleus. Purpose: This study aims to identify whether the number of micronucleus in active smokers was higher than passive smokers. Method: This study was observational research with cross-sectional approach with primary data, which was oral buccal mucosa swab of active and passive smokers. The total sample is 30 for each group. Results: The results of this study showed average 1,61. Mann Whitney± 1,81 and 14,47±number of active and passive smokers’ buccal micronucleus were 19,60  test results showed there was significant difference of number micronucleus between active and passive smokers (p=0,000).Conclusion: Based on this study it can be concluded the number of buccal micronucleus on active smokers was higher than passive smokers ABSTRAK Latar belakang: Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang dapat memberikan dampak negatif baik bagi penghisapnya maupun orang yang tidak merokok, tetapi menghirup asap rokok, atau biasa dikenal dengan perokok pasif. Kandungan nikotin pada rokok dan asap rokok merupakan salah satu senyawa genotoksik yang akan mengalami nitrosasi menjadi senyawa nitrosamin yang dapat menyebabkan kerusakan DNA. Kerusakan DNA akibat paparan genotoksik dapat bermanifestasi sebagai mikronukleus, yaitu inti sel kedua yang berukuran lebih kecil dari inti sel sejati. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah rata-rata jumlah mikronukleus pada perokok aktif lebih tinggi dibanding perokok pasif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional yang menggunakan data primer yaitu preparat swab mukosa bukal dari kelompok perokok aktif dan pasif. Jumlah sampel masing-masing kelompok adalah 30 orang. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata jumlah mikronukleus mukosa bukal pada perokok aktif 1,61. Uji statistik Mann Whitney menunjukkan perbedaan yang± 1,81 dan 14,47 ±dan pasif adalah 19,60 signifikan antara perokok aktif dan pasif (p=0,000) .Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa rata-rata jumlah mikronukleus mukosa bukal pada perokok aktif lebih tinggi dibanding perokok pasif
ANGKA KEJADIAN DIATEMA SENTRAL PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DISERTAI KEBIASAAN MENGHISAP IBU JARI Hadi, Rizki; Adhani, Rosihan; Widodo, Widodo
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Finger sucking habit is oral habbit most common, the incidence of finger sucking habit is reported at between 13% to 100%. According Muthu and Sivakumar prevalence of this practice decreases with age, especially at the age of 3.5-4 years. The central diastema is a malocclusion that often appear with the characteristic form of a gap that exists between the maxillary central incisor. This study aims to calculate the incidence of children with special needs as thumb-sucking, calculate the incidence of central diastema on boys and girls with special needs children and large knowing the incidence of central diastema at the age of children with special needs. This study was a descriptive study by total sampling metode. The population in this study were students SDLB C Dharma Wanita Banjarmasin. The results showed 34 (53.96%) children who had a central diastema with 14 men, 20 women and 29 people who did not have a central diastema of a total of 63 students were examined. The habit of thumb sucking 28 people (44.44%).The central diastema thumb sucking habit with no male 11 people (17.46%) and 9 women (14.29%). The incidence of central diastema by age 6-8 years who had a central diastema as many as 15 (44.12%), 9-10 years who had diastema as many as 8 (23.53%), 11-14 years old who have a diastema as many as 11 (32 , 35%) of the total of 34 (53,96%). Thumb sucking by age found that children aged 6-8 years who had a habit of thumb sucking has 9 children (32.15%), 9-10 years amounted to 8 children (28.57%), 11-14 years amounted to 11 children (39.28%) of the total of 28 children.  Keyword:Central Diastema, With Special Needs, Thumb Sucking ABSTRAK  Kebiasaan menghisap jari merupakan oral habbit yang paling sering terjadi, insidensi kebiasaan menghisap jari dilaporkan mencapai antara 13% sampai 100%. Menurut Muthu dan Sivakumar prevalensi kebiasaan ini menurun seiring pertambahan usia, terutama pada usia 3,5-4 tahun. Diastema sentral merupakan suatu maloklusi yang sering muncul dengan ciri khas berupa celah yang terdapat diantara insisif sentral rahang atas.Penelitian ini bertujuan untuk menghitung angka kejadian anak berkebutuhan khusus menghisap ibu jari, menghitung angka kejadian diastema sentral pada siswa laki-laki dan perempuan pada anak berkebutuhan khusus dan mengetahui besar angka kejadian diastema sentral pada usia anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode total sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa siswi SDLB C Dharma Wanita Banjarmasin. Hasil penelitian didapatkan 34 orang anak (53,96%) yang memiliki diastema sentral dengan 14 laki-laki, 20 perempuan dan 29 orang yang tidak memiliki diastema sentral dari total 63 siswa yang diperiksa. Kebiasaan menghisap ibu jari sebanyak 28 orang (44,44%). Diastema sentral disertai kebiasaan menghisap ibu jari laki-laki sebanyak 11 orang (17,46%) dan perempuan sebanyak 9 orang (14,29%). Angka kejadian diastema sentral berdasarkan umur 6-8 tahun yang memiliki diastema sentral sebanyak 15 (44,12%), 9-10 tahun yang memilki diastema sebanyak 8 (23,53%) , 11-14 tahun yang memiliki diastema sebanyak 11 (32,35%) dari total 34  orang (100%). Menghisap ibu jari berdasarkan umur didapatkan anak yang berumur 6-8 tahun yang memiliki kebiasaan menghisap ibu jari berjumlah 9 anak (32,15%) , 9-10 tahun berjumlah 8 anak (28,57%), 11-14 tahun berjumlah 11 anak (39,28%) dari total 28 anak.  Kata-kata kunci: Diastema Sentral, Anak Berkebutuhan Khusus, Menghisap Ibu Jari
PENGARUH PAPARAN BATUBARA TERHADAP JUMLAH MIKRONUKLEUS MUKOSA BUKAL PADA PEKERJA TAMBANG BATUBARA DI KECAMATAN MURUNG PUDAK KABUPATEN TABALONG Renita Rahmad, Renita; Dewi, Nurdiana; Rosida, Lena
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Continuous exposure of genotoxic substance such as coal dust can cause DNA damage. Micronucleus is DNA damage caused by genotoxic substance that manifest on buccal mucosa cell. Micronucleus is cytoplasmic chromatic mass with round shaped located close to nucleus and microscopically visible. Purpose: The purpose of this study was to identify effect of coal exposure on the number of micronucleus buccal mucosa on coal miner. Methods: The method of this study was analytic observational with cross-sectional approach. The total sample of this study was 60 respondents divided into 2 groups, each group contained 30 respondents. The data was primary data which was the result of swabbed of buccal mucosa epithelial cells. Results: The result showed the average number of buccal mucosa micronucleus on coal miners was 25,83  13,28 and non-coal miner is 11,10  3,45. Data analyzed with T test Independent and obtained significant different on the number of micronucleus between coal miners and non-coal miner (p=0,000). Conclusion: Based on this study can be concluded that coal dust exposure affected on the number of micronucleus buccal  mucosa on coal miners in Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong. ABSTRAKLatar belakang: Paparan terus menerus dari suatu substansi genotoksik, seperti debu batubara akan menyebabkan suatu kerusakan DNA. Kerusakan  DNA akibat zat genotoksik yang dapat dilihat pada sel mukosa bukal adalah mikronukleus. Mikronukleus merupakan massa kromatik sitoplasmik berbentuk bulat/oval terletak dekat dengan nukleus dan tampak secara mikroskopik. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh paparan batubara terhadap jumlah mikronukleus mukosa bukal pada pekerja tambang batubara di Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 60 orang dengan tiap-tiap kelompok masing-masing 30 orang. Data yang diperoleh adalah data primer, yaitu hasil apusan sel epitel mukosa bukal.  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah mikronukleus mukosa bukal pada pekerja tambang batubara adalah 25,83  13,28 dan pada bukan pekerja tambang batubara adalah 11,10 3,45. Data dianalisis menggunakan T test Independent dan didapatkan perbedaan bermakna pada rata-rata jumlah mikronukleus antara kelompok pekerja tambang batubara dan bukan pekerja tambang batubara (p=0,000). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa paparan batubara berpengaruh terhadap jumlah mikronukleus mukosa bukal pada pekerja tambang batubara di Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong.
PENINGKATAN LEBAR LENGKUNG GIGI RAHANG ATAS MELALUI PERAWATAN ORTODONTI MENGGUNAKAN SEKRUP EKSPANSI Studi RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin Sakinah, Nor; Wibowo, Diana; Helmi, Zairin Noor
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: A screw expansion can be used to expand the arch of fangs toward the transverse and sagital suture, the anterior and posterior dependent type and the deployment of a screw. One advantage the use of screw is used to drive the teeth but the teeth are also used as the retention of equipment. Purpose: This research aimsed to identify the improvement of maxillary dental arch width through orthodontic treatment using expansion screw in RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin. Methods: This type of research was experimental with pre and post test group design. The subject of this research consist one group who conducted orthodontic treatment using a screw expansion of a rounded tooth on the upper jaw. The sample was a study model of teeth derived from the clinic patients orthodontic as much as 9 people. Result: The result showed that on sample there was an increase on the width of maxillary dental arch with the average of enhancement after interpremolar activation 5x activation 0,92 mm, 10x activation 1,86 mm and intermolar 5x activation 0,99 mm, 10x activation 1,96 mm. Conclusion: Based on this research can be concluded that there was improvement of maxillary dental arch width through orthodontic treatment using expansion screw. ABSTRAK Latar Belakang: Sekrup ekspansi dapat digunakan untuk mengekspansi lengkung geligi ke arah transversal maupun sagital, anterior maupun posterior tergantung jenis dan penempatan sekrup. Salah satu keuntungan pemakaian sekrup adalah dapat digunakan untuk menggerakkan gigi tetapi gigi tersebut juga digunakan sebagai retensi peranti. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas melalui perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi di RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin. Metode: Jenis penelitian ini adalah pre eksperimental dengan pre and post test group design. Subjek penelitian ini terdiri dari satu kelompok yang sedang melakukan perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi pada lengkung gigi rahang atas. Sampel penelitian ini adalah model studi gigi yang berasal dari pasien bagian klinik ortodonti berjumlah 9 orang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sampel terdapat peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas dengan rata-rata peningkatan setelah aktivasi interpremolar 5x aktivasi 0,92 mm, 10x aktivasi 1,86 mm dan intermolar 5x aktivasi 0,99 mm, 10x aktivasi 1,96 mm. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas melalui perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi.
PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN DRY SOCKET PADA PENGGUNA KONTRASEPSI HORMONAL DAN YANG TIDAK MENGGUNAKAN KONTRASEPSI HORMONAL Ananda, Retno Septiana; Khatimah, Husnul; Indra Sukmana, Bayu
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Dry socket (alveolar osteitis) is a postoperative pain around tooth’s socket that can increase from day 1 until day 3 after tooth extraction. One of the factors that can cause dry socket is hormonal contraception utilization. Hormonal contraception is contraception that use estrogen hormone. Estrogen hormone has a role on increasing the lysis of blood clots. Purpose: The purpose of this research is to describe the difference of dry socket incidents on hormonal contraception users and non-users. Methods: The method of this research was study observation of prospective longitudinal study with total sample of 76 samples. Observation conducted on women patients after permanent tooth extraction that use and did not use hormonal contraception. Results: The results hormonal contraception users as many as 38 samples that consist of 3 samples were positive 3,7 % (developed dry socket) and 35 samples were negative 46% (didn’t develop dry socket), whereas the ones that did not use contraception hormonal as many as 38 samples consist of 1 sample was positive 1,3% (developed dry socket) and 37 samples were negative 49% (did not developed dry socket).Conclusion: From alternative test of fisher obtained p value = 0,615 which means there was no difference of dry socket incidence contraception hormonal users and non-users. ABSTRAK Latar Belakang Dry socket (alveolar osteitis) adalah sakit pasca operasi pada sekitar soket gigi yang dapat meningkat tiap waktu antara hari ke 1 sampai hari ke 3 setelah pencabutan gigi. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya dry socket adalah pengguna kontrasepsi hormonal. Kontrasepsi hormonal adalah kontrasepsi yang menggunakan hormon, progesteron sampai kombinasi estrogen dan progesteron. Estrogen memiliki peran dalam proses fibrinolisis dengan mengaktifkan sistem fibrinolitik dan kemudian meningkatkan lisis bekuan darah. Tujuan:. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan angka kejadian dry socket pada pengguna kontrasepsi hormonal dan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasi studi longitudinal prospektif dengan jumlah sampel yang diperoleh secara seluruhnya sebanyak 76 sampel. Pengamatan dilakukan terhadap pasien wanita dewasa pasca pencabutan gigi permanen yang menggunakan kontraspesi hormonal dan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pengguna kontrasepsi hormonal berjumlah 38 sampel yang terdiri dari 3 sampel positif sebesar 3,7% (mengalami dry socket) dan 35 sampel negatif sebesar 46% (tidak mengalami dry socket), sedangkan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal berjumlah 38 sampel yang terdiri dari 1 sampel positif sebesar 1,3% (mengalami dry socket) dan 37 sampel negatif sebesar 49% (tidak mengalami dry socket).Kesimpulan: Dapat disimpulkan dari hasil uji alternatif fisher diperoleh nilai p = 0,615 artinya tidak terdapat perbedaan angka kejadian dry socket pada pengguna kontrasepsi hormonal dan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal.
PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L.) TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL PADA INFLAMASI PULPA Studi In Vivo pada Tikus Wistar Jantan Lutfiyah, Lutfiyah; Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar; Raharja, Suka Dwi
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK  Background:Indonesia has various numbers of plants with medicinal contents; one of them is mangosteen (Garcinia mangostana L.). Mangosteen pericarp which is regarded as waste turns out to have benefits to health. Mangosteen pericarp extract contains chemical substances such as saponin, tannin, flavonoid, steroid, quinon, and xanthone. These substances have many benefits, one of them is antiinflammatory properties.Purpose: The aim of this study was to assess the effect of mangosteen pericarp extract on neutrophils count in wistar rats’ pulp inflammation. Methods:This study was true experimental with post-test only with control design. Samples used were 39 male wistar rats divided into 3 treatment groups: no treatment group (negative control), mangosteen pericarp extract treatment group, and calcium hydroxide treatment group (positive control). Samples were analyzed histopathologically on day 1, 3, 5, and 7.Result: The result presented mean scoring of neutrophils in mangosteen pericarp extract treatment group as 13,33 on day 1, 10,00 on day 3, 4,33 on day 5 and 2,33 on day 7. Two way ANOVA and Post Hoc LSD tests indicated that there was a significant difference between mangosteen pericarp extract treatment group and no treatment group and calcium hydroxide treatment group with p value of < 0,05. Conclusion:There was a significant effect of mangosteen pericarp extract on neutrophils count in wistar rats’ pulp inflammation compared to calcium hydroxide in decreasing neutrophils count.  Keywords: mangosteen pericarp extract, Garciniamangostana L., anti-inflammatory, neutrophils, pulp inflammation,pulp capping.  ABSTRAK  Latar Belakang: Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai jenis tanaman yang berguna sebagai tanaman obat, salah satunya adalah buah manggis (Garcinia mangostana L.). Kulit buah manggis yang selama ini dibuang ternyata memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Kulit buah manggis mempunyai kandungan kimia berupa saponin, tanin, flavonoid, steroid, kuinon, dan xanthone. Kandungan tersebut memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antiinflamasi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap jumlah neutrofil pada inflamasi pulpa gigi tikus wistar.Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan post-test only with control design. Sampel terdiri atas 39 tikus Wistar dengan jenis kelamin jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok tanpa obat (kontrol negatif), kelompok ekstrak kulit manggis (perlakuan) dan kelompok kalsium hidroksida (kontrol positif). Sampel dianalisis secara histologis pada hari ke-1, 3, 5 dan 7. Hasil penelitian menunjukan nilai rata-rata jumlah neutrofil ekstrak kulit manggis adalah 13,33 pada hari ke- 1, 10,00  pada hari ke-3, 4,33 pada hari ke-5 dan 2,33 pada hari ke 7.Hasil: Hasil two way ANOVA dan Post Hoc LSD menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok ekstrak kulit manggis dengan kelompok tanpa obat dan kelompok kalsium hidroksida dengan nilai p<0,05.Kesimpulan: Terdapat pengaruh ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap jumlah neutrofil pada inflamasi pulpa gigi tikus wistardibandingkan kalsium hidroksida yaitu terjadi penurunan jumlah neutrofil pada kelompok ekstrak kulit manggis dibanding kelompok kalsium hidroksida.Kata-kata kunci:  ekstrak kulit manggis, Garcinia mangostana L. antiinflamasi, neutrofil, inflamasi pulpa,pulp capping
HUBUNGAN KADAR pH DAN VOLUME SALIVA TERHADAP INDEKS KARIES MASYARAKAT MENGINANG KECAMATAN LOKPAIKAT KABUPATEN TAPIN (Studi Observasional dengan Pengumpulan Saliva Metode Spitting) Pradanta, Yazid Eriansyah; Adhani, Rosihan; Husnul Khatimah, Ika
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background:Betel chewing is the process of concocting ingredients such as betel, lime and other traditional additions, wrapping them in a betel leaf and then chewing it. This habit can affect caries formation. pH and volume of saliva are some of the factors affecting caries formation. Purpose:The aim of this study was to assess the relation of pH and volume of saliva on caries index in betel chewing community. Methods:This study used analytic observational method with case control approach and total sampling. Samples chosen were 15 female subjects with betel chewing habit and controls in the same amount with no betel chewing habit. Data were analyzed using Chi-Square test and Kolmogorov-Smirnov alternative test to assess the difference of pH and volume of saliva between betel chewing subjects and controls; Somersd correlation test was performed to assess the relation of pH and volume of saliva on caries index in betel chewing subjects. Results: Chi-Square test result presented p value of pH as 0.143 and Kolmogorov-Smirnov test presented p value of volume of saliva as 0.028. Result of Somersd correlation test showed p value of pH as 0.000, and p value of volume of saliva as 0.014. Conclusion:In conclusion, there was no significant difference of pH between betel chewing subjects and controls, but there was a significant difference of volume of saliva. Subsequently, there was a positive correlation of pH and volume of saliva on caries index in betel chewing subjects.  Key Words :betel chewing, saliva pH, volume of saliva  ABSTRAK   Latar Belakang: Menginang merupakan proses meramu seperti pinang, kapur dan tambahan lain yang dibungkus dalam daun sirih kemudian dikunyah. Kebiasaan ini dapat mempengaruhi karies.pH dan volume saliva adalah beberapa komponen yang mempengaruhi karies.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kadar pH dan volume saliva terhadap indeks karies masyarakat menginang. Metode:Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control dan pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Sampel berjumlah 15 wanita dengan kebiasaan menginang dan kontrol tidak menginang dengan jumlah yang sama. Data hasil penelitian di analisis menggunakan uji Chi-Square dan uji alternatif Kolmogorov-Smirnov untuk melihat perbedaan pH dan volume saliva masyarakat menginang dan tanpa menginang serta uji korelasi Somers’d untuk melihat hubungan pH dan volume saliva terhadap indeks karies masyarakat menginang. Hasil:Berdasarkan hasil uji Chi-Square pada pH didapatkan hasil p = 0,143, dan uji Kolmogorov-Smirnov pada volume saliva didapatkan hasil p = 0,028. Sedangkan berdasarkan hasil uji korelasi Somers’d didapatkan hasil p = 0,000, dan volume saliva dengan hasil p = 0,014.Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna pada pH masyarakat menginang dan tanpa menginang dan terdapat perbedaan bermakna pada volume saliva. Kemudian terdapat korelasi pada pH dan volume saliva terhadap indeks karies masyarakat menginang.  Kata-kata kunci :Menginang, pH saliva, volume saliva
KEBOCORAN MIKRO AKIBAT EFEK SUHU TERHADAP PENGERUTAN KOMPOSIT NANOHYBRID Permata Sari, Gusti Gina; Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar; Widodo, Widodo
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Composite is broadly used by dental practitioners as restoration material to treat caries. Nanohybrid composite is a type of composite composed of nano-sized filler combined with larger filler. Polymerization shrinkage commonly occurs in every restoration using composite, resulting in a gap between cavity margin and teeth structure, which eventually leads to microleakage. Purpose: The purpose of this study was to assess and measure the rate of nanohybrid composite microleakage as a result of temperature change from 5ºC to 60ºC. Methods: This study was true experimental with post test-only with control design. Specimens used were 20 maxillary premolars, divided into 2 groups: 5ºC to 60ºC temperature change treatment group and control group (without temperature change, sitting idly at 37ºC).  Results: Mean scoring of treatment group was 3 and control group was 1,9. Conclusion: It can be concluded that independent samples T-test presented significant difference between treatment group and control group.  ABSTRAKLatar Belakang: Komposit merupakan suatu bahan restorasi yang biasa digunakan oleh dokter gigi untuk menumpat gigi yang karies. Komposit nanohybrid merupakan salah satu jenis komposit yang memiliki komposisi filler berukuran nano dan digabung dengan filler yang berukuran besar. Pengerutan polimerisasi merupakan hal yang selalu terjadi pada setiap penumpatan dengan bahan komposit. Akibat dari pengerutan adalah terbentuknya celah antara tepi kavitas dan struktur gigi, hal tersebut akan menyebabkan kebocoran mikro. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya kebocoran mikro pada komposit nanohybrid akibat perubahan suhu 5ºC ke 60ºC serta mengukur besar kebocoran mikro yang terjadi. Metode: Jenis penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan rancangan post test-only with control design. Penelitian ini menggunakan gigi premolar rahang atas sebanyak 20 buah yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan perubahan suhu 5ºC ke 60ºC, dan kontrol yang tidak dilakukan perubahan suhu atau didiamkan pada suhu 37ºC. Hasil: Rata-rata skor untuk kelompok perlakuan adalah 3 dan kelompok kontrol adalah 1,9. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa hasil uji T-test tidak berpasangan  menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Page 4 of 53 | Total Record : 530