cover
Contact Name
Misbah
Contact Email
misbah_pfis@ulm.ac.id
Phone
+628975586104
Journal Mail Official
vidyakarya@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl cemara raya no 28 banjarmasin Utara
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Vidya Karya
ISSN : 02159619     EISSN : 26147149     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Education,
Vidya Karya terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober, berisi artikel hasil penelitian dan kajian analitis krtitis setara dengan hasil penelitian di bidang teori dan atau praktik kependidikan
Articles 276 Documents
EXPLORATION STUDY COMPARING THE EFFECTIVENESS OF METHOD OF TALKS WITH TEAM-BASED LEARNING METHOD Sumiati, Sumiati
Vidya Karya Vol 32, No 1 (2017)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract- The review was affected by fundamental issues about how to best convey the learning material of Sociology. Team-Based Learning is accepted as a method of learning that can develop critical thinking skills. Team-Based Learning emphasizes opportunities for students to develop the ability to cooperate because it gives greater weight to the discussion (peer discussion) compared to learning by lecture method. This study aimed to determine whether a lecture or Team Based Learning teaches the content material better, develops skills, such as critical thinking; and creates a learning environment that is fun in learning Sociology. Data collection techniques in this study were conducted thorugh the study of literature from books and the results of previous research. The results of this study concluded that Team Based Learning method can improve oral communication and critical thinking skills, and create a more pleasant learning environment than lecture method. Keywords: Effectiveness, Team-based learning, Sociology Abstrak. Kajian ini dipengaruhi oleh isu mendasar tentang bagaimana cara terbaik dalam menyampaikan materi pembelajaran Sosiologi. Team-Based Learning diterima sebagai metode pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Team-Based Learning menekankan pada kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama karena memberi bobot lebih besar pada kegiatan diskusi (peer discussion) dibandingkan pembelajaran dengan metode ceramah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dari dua metode yaitu ceramah atau Team Based Learning, metode mana yang lebih baik dalam mengajarkan materi, mengembangkan keterampilan, seperti berpikir kritis; dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dalam belajar Sosiologi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi literatur hasil-hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa metode Team Based Learning dapat meningkatkan komunikasi lisan dan kemampuan berpikir kritis, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan daripada metode ceramah.  Kata Kunci: keefektifan, pembelajaran berbasis kelompok, sosiologi
TANGGUNG JAWAB MAHASISWA JURUSAN PMIPA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT DALAM PEMBELAJARAN FISIKA Suyidno, Suyidno; Nur, Mohamad; Yuanita, Leny; Sunarti, Titin; Prahani, Binar
Vidya Karya Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Responsibility as life skills and career 21st century. There is still limited knowledge and have not been integrated in a comprehensive manner. The goal of this study is to identify student’s responsibility Department PMIPA of Lambung Mangkurat University in learning Physics. This study used a qualitative approach with survey method. Subjects were 156 students of biology education; chemistry education, physical education, and science education are a program fundamental physics course. Data collected from questionnaires, observations, and interviews. Data were analized by descriptive qualitative and quantitative. The results of questionnaire showed that most students feel responsible for participating, respect for others, teamwork, leadership, and expression with the criteria of good/excellent, but the observations and interviews show that  a lot of student are difficulties in leading and expression, as well as some students still deficient/sufficient in participating, respect for others, and team work. Keywords: Responsibility, Fundamental Physics Abstrak.  Tanggung jawab sebagai keterampilan hidup dan berkarir abad 21 ternyata masih diajarkan sebatas pengetahuan dan belum diintegrasikan secara komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi tanggung jawab mahasiswa Jurusan PMIPA Universitas Lambung Mangkurat dalam pembelajaran fisika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode survey. Subyek penelitian adalah 156 mahasiswa pendidikan biologi, pendidikan kimia, pendidikan fisika, dan pendidikan sains yang memprogram mata kuliah fisika dasar. Pengumpulan data menggunakan angket, pengamatan, dan wawancara. Teknik analisis data secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil angket menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa merasa bertanggung jawab dalam berpartisipasi, menghormati orang lain, kerja sama, memimpin, dan menyampaikan pendapat dengan kriteria baik/sangat baik, tetapi hasil pengamatan maupun wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa kesulitan dalam memimpin dan menyampaikan pendapat, serta beberapa mahasiswa masih kurang/cukup dalam berpartisipasi, menghormati orang lain, dan kerja sama. Kata kunci: Tanggung Jawab, Fisika Dasar
ANALISIS WACANA IKLAN RADIO GEMA FM BANJARMASIN Nisa, Fithratun
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aimed to describe the discourse structure of Gema FM radio ad in Banjarmasin, including: (1) The headline, (2) body and (3) close. This research is a qualitative descriptive method. The result showed that the Gema FM radio ad Banjarmasin has three discourse structures, namely: the main item, advertising agencies, and cover advertising. (1) The main point of the ad is divided into five types, namely: (a) the proposition that emphasizes profit potential consumers, such IM3 murahnya menemani tiap hari, (b) the proposition that arouse the curiosity of potential consumers, such as Kalau mau mengecat ulang pagar halaman rumah, tembok, dan dinding pakai cat Dana Paint aja!, (c) proposition in the form of questions that require more attention, such as Mau gratis nelpon ke sesama Telkomsel plus 100 sms ke semua operator?, (d) proposition who gave the command or commands to prospective customers such as Antangin !, and (e) proposition that makes consumers particularly interested, like Mom, there is an info for you !. (2) The advertising agency is divided into three types, namely: (a) the body part that proposition it contains subjective reasons, such as Ultra-Flu Extra !, Bujur-bujur harat (b) the body part that the proposition contains objective reasons, as we could get 5000 SMS to all operators every day for free !, and (c) the body part that the proposition contains a mix of objective and subjective reasons, such as Buat loe yang pengen gaya and tambah gaul kudu pakai Quick Silver, Roxy, and DG! Ray Surf big sale, diskon sampai 80%, loh!. (3) closing ad is divided into four types, namely: (a) the development of the hard and soft techniques, such as Ayo, nikmati murahnya IM3 seharian! Murah itu IM3!, (b) software development techniques, such as Kualitas terbaik hanya satu, beras JDR!, (c) development with a mix of software engineering and passive items, like Untuk informasi, hubungi Mila di 0511-7505044. Pesona Cipta Balon untuk acara yang meriah dan berkesan! and (d) development with a mix of hard engineering and passive items, such as Ayo, buruan belanja fashion ke Ray Surf  Duta Mall lantai 3 blok b12 d15!. Keywords: discourse structure ads, and radio ads Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur wacana iklan di radio Gema FM Banjarmasin, meliputi: (1) butir utama (headline), (2) badan (body), dan (3) penutup (close). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif  dengan metode deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa iklan radio Gema FM Banjarmasin memiliki tiga struktur wacana, yaitu: butir utama, badan iklan, dan penutup iklan. (1) Butir utama iklan terbagi menjadi 5 jenis, yaitu: (a) proposisi yang menekankan keuntungan calon konsumen, seperti IM3 murahnya menemani tiap hari,        (b) proposisi yang membangkitkan rasa ingin tahu calon konsumen, seperti Kalau mau mengecat ulang pagar halaman rumah, tembok, dan dinding pakai cat Dana Paint aja!,      (c) proposisi berupa pertanyaan yang menuntut perhatian lebih, seperti Mau gratis nelpon ke sesama Telkomsel plus 100 sms ke semua operator?, (d) Proposisi yang memberi komando atau perintah kepada calon konsumen, seperti Dapatkan obat batuk herbal Antangin!, dan   (e) Proposisi yang membuat konsumen khusus tertarik, seperti Bu, ada info untuk Anda!.    (2) Badan iklan terbagi menjadi 3 jenis, yaitu: (a) bagian badan yang proposisinya berisi alasan subjektif, seperti Ultra Flu Ekstra bujur-bujur harat!, (b) bagian badan yang proposisinya berisi alasan objektif, seperti kita bisa dapat gratis 5000 sms setiap hari ke semua operator!, dan (c) bagian badan yang proposisinya berisi campuran alasan objektif dan subjektif, seperti Buat loe yang pengen gaya and tambah gaul kudu pakai Quick Silver, Roxy, and DG! Ray Surf big sale, diskon sampai 80%, loh!. (3) Penutup iklan terbagi menjadi 4 jenis, yaitu: (a) pengembangan dengan teknik keras dan lunak, seperti Ayo, nikmati murahnya IM3 seharian! Murah itu IM3!, (b) pengembangan dengan teknik lunak, seperti Kualitas terbaik hanya satu, beras JDR!, (c) pengembangan dengan campuran teknik lunak dan butir-butir pasif, seperti Untuk informasi, hubungi Mila di 0511-7505044. Pesona Cipta Balon untuk acara yang meriah dan berkesan!, dan (d) Pengembangan dengan campuran teknik keras dan butir-butir pasif, seperti Ayo, buruan belanja fashion ke Ray Surf  Duta Mall lantai 3 blok b12 d15!. Kata kunci: struktur wacana iklan, dan iklan radio
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA BERBASIS MULTI INTELEGENSI PADA MATERI KELARUTAN DAN KESETIMBANGAN LARUTAN (Ksp) MELALUI MODEL INQUIRY TERBIMBING Syailani, Syailani
Vidya Karya Vol 32, No 1 (2017)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. There has been a research in regards to the application of ‘guided inquiry model’ on the multi-intelligence based learning of the solution solubility and equilibrium in the 11th grade students of science in SMA Negeri 1 Banjarmasin. The study aimed to identify student’s achievement and response toward guided inquiry model on the topic of solution solubility and equilibrium. The research was a class-action research conducted in 2 cycles. Each cycle consisted of planning; action,  observation and evaluation, analysis and reflection steps. The subject of the study are the 11th  grade students of Science in SMA Negeri 1 Banjarmasin consisting of 22 students. The data was collected  using test and observation. The result found that students’ achievement of chemistry especially on the solubility and equilibrium showed a significant improvement. The use of Guided Inquiry model improves students’ acvievement from 25% on the 1st cycle to 90% on the 2nd cycle.  Student’s activities score improves from  47 on the 1st cycle to 52 on the 2nd cycle which both score stand for ’very active’. Teacher’s activities score on the learning improves from 49 on the 1st cycle to 52 on the 2nd cycle and both also stand for ’very active’. Students give very good response to the model. The use of the model gave a better students’ understanding to the topic and fully involved on learning. Students’ responsibility of doing assignment grow better.  Students feel that the class was very pleasing, teacher was functioned as the facilitator or the advisor on learning. Keywords: guided inquiry, multi-intelligence, solubility and equilibrium  Abstrak. Telah dilakukan penelitian tentang penerapan model inkuiri terbimbing pada pembelajaran materi kelarutan dan kesetimbangan larutan berbasis multi intelegensi di kelas XI IPA 7  SMA Negeri 1 Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada materi kelarutan   dan Ksp, serta respon siswa pada pembelajaran menggunakan model inquiry  terbimbing. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi,  serta analisis dan refleksi. Subjek penelitian adalah 22 siswa kelas XI IPA 7 SMA Negeri 1 Banjarmasin. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar kimia siswa pada materi kelarutan dan kesetimbangan larutan  menggunakan model inkuiri terbimbing meningkat secara signifikan. Penggunaan model inkuiri terbimbing meningkatkan ketuntasan hasil belajar kimia pada materi kelarutan dan kesetimbangan larutan dari siklus 1 sebesar  25 %,  menjadi lebih 90 % pada siklus II.  Skor aktivitas siswa meningkat dari 47 pada siklus I menjadi 52 pada siklus II dengan  kriteria sangat aktif. Aktivitas guru meningkat dari skor 49 pada siklus I menjadi 52 pada siklus II dengan kriteria sangat aktif. Penggunaan model membuat siswa merasa lebih mudah memahami materi, terlibat sepenuhnya dalam pembelajaran, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Pembelajaran sangat menyenangkan dimana guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran.  Kata kunci: model Inquiri terbimbing, multi-intelegensi, Kelarutan dan Ksp
NILAI-NILAI GOTONG ROYONG PADA TRADISI BAHAUL DALAM MASYARAKAT BANJAR DI DESA ANDHIKA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS Subiyakto, Bambang; Syaharuddin, Syaharuddin; Rahman, Gazali
Vidya Karya Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:  The purpose of this research is to describe the values of gotong royong in Banjarese society in Andhika village that has “a bahaul” tradition. Thus, the values of gotong royong have significance to social studies education as the learning source. This research used the qualitative approach, which the data collection were through interview, observation, and document study. The data was analized by using data reduction, display the data and verification or conclusions. The data verification is through these following steps, namely, extended observation, triangulation, and discussion with the colleagues. The results of the study show the values of Gotong royong in bahaul tradition are seen in these activities; taturukan, pangayuan, pangawahan, and lalawatan. The activities have a significant impact in Social Studies Education. The significant impact could be seen on the values in “bahaul” such as solidarity, tolerance and caring to a society. Thus, this study is able to enrich the source of Social Studies Education in the school. Keywords:      Gotong royong, bahaul tradition, banjarese society, social studies education. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai gotong royong dalam masyarakat Banjar di desa Andhika pada acara bahaul dan signifikansinya dalam pembelajaran IPS di sekolah sebagai sumber belajar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumen. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data dan  verifikasi/kesimpulan. Keabsahan data melalui perpanjangan waktu pengamatan,  triangulasi, dan cek-cek anggota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gotong royong dalam bahaul tampak pada aktivitas taturukan, pangayuan, pangawahan dan lalawatan. Aktivitas tersebut memiliki signifikansi dalam pendidikan IPS karena aktivitas bahaul memiliki nilai solidaritas, toleransi, dan peduli sosial sehingga memperkaya sumber belajar IPS di sekolah. Kata-kata Kunci: gotong royong, bahaul, masyarakat Banjar dan Pendidikan IPS
STRATEGIES IN TRANSLATING PRONOUN, NUMBER, AND VOICE IN A WALK TO REMEMBER: KAN KUKENANG SELALU (A case study on grammatical equivalence) Ninuk Krismanti; Agustina Lestary
Vidya Karya Vol 31, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : FKIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.755 KB) | DOI: 10.20527/jvk.v31i2.3987

Abstract

Abstract: A Walk to Remember is one of the best-selling novels written by Nicholas Spark. The novel has been translated into Indonesian language by Kathleen S.W. This paper is intended to investigate one of the equivalences of the translation: grammatical equivalence. The study used descriptive qualitative method to analyze translation in the novel. The investigation is aimed to identify strategies used to translate three grammatical features: (1) pronoun, (2) number, and (3) voice. The writers take 100 data for each feature as samples of the study. To compare voicing systems in each version of the novel, all sentences in chapter 1 are taken as samples. Based on the findings, the writers conclude that there are five strategies used in translating pronoun: (1) omitting pronoun, (2) translating pronoun as it is, (3) changing pronoun into its reference, (4) making pronoun shift, and (5) adding pronoun. Furthermore, there are two strategies used to translate singular noun with articles: (1) translating articles with lexical addition, (2) translating articles by omission, and (3) changing singular nouns in the English version of the novel into plural nouns in its Indonesian version. In terms of voice, the translator tends to keep the original voice form of the English version of the novel in its Indonesian translation. Keywords: equivalence, pronoun, number, voice Abstrak: A Walk to Remember adalah salah satu novel laris karangan Nicholas Spark. Novel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Kathleen S.W. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa salah satu kesetaraan penerjemahan, yakni kesetaraan tata bahasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis penerjemahan dalam novel tersebut. Analisis ini bertujuan untuk menemukan strategi yang digunakan oleh Kathleen dalam menerjemahkan tiga fitur tata bahasa: (1) kata ganti, (2) nomina, dan (3) aktif/pasif. Penulis mengambil 100 data per fitur bahasa yang diteliti sebagai sampel dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisa, peneliti menemukan bahwa terdapat lima strategi yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan kata ganti: (1) menghilangkan kata ganti, (2) menerjemahkan kata ganti sesuai dengan aslinya, (3) mengubah kata ganti ke dalam kata benda yang digantikan, (4) mengubah kata ganti, dan (5) menambah kata ganti. Lebih lanjut, untuk menerjemahkan kata benda tunggal yang memiliki kata sandang, penerjemah menerapkan tiga strategi: (1) menerjemahkan kata sandang dengan penambahan leksikon, (2) menghilangkan kata sandang, dan (3) mengubah kata benda tunggal dalam novel versi Bahasa Inggris menjadi kata benda jamak pada versi terjemahannya. Terkait sistem aktif/pasif, penerjemah cenderung mempertahankan kalimat asli dari bahasa sumber dalam menerjemahkan novel A Walk to Remember ke dalam Bahasa Indonesia.
IDENTIFIKASI ANALISIS KEBUTUHAN PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS (NON PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS) PADA MATA KULIAH BAHASA INGGRIS ESP DI LINGKUNGAN FKIP UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN Emma Rosana Febriyanti
Vidya Karya Vol 32, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : FKIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.396 KB) | DOI: 10.20527/jvk.v32i2.5230

Abstract

Abstract: English is a compulsory subject that must be taken by every students of FKIP Lambung Mangkurat University (ULM). Clear reference on what material should be given to the students must be clear enough so that they can get benefit from this subject. To find out the correct reference, needs analysis is urged to be done in order to obtain information about what the students really need to support their learning process at the present time or in the future. This study is aimed at identifying and analyzing the needs of these English learners. This study was conducted by using qualitative approach and descriptive method. The population of this study were students from 5 deparments who are currently taking English subject and the sampling technique used was purposive random sampling. Meanwhile, a questionnaire as the instrument for this study was arranged in closed-ended form. Technical data analysis applied in this study was descriptive analysis in the form of number and percentage. The study revealed that the needs of non-English Department students on English subject are very diverse and it can be concluded that they need English not only for their current needs as they can read various English literature that support their education in their field of study, but also for their professional future occupation. It is therefore recommended that ESP English teachers or other related parties should accommodate the needs of these students. In addition, it is suggested to always perform needs analysis since the needs of ESP learners are constantly changing. Keywords: ESP, Englsih subject, needs analysis, learners’ needs Abstrak: Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib yang harus diambil oleh setiap mahasiswa di lingkungan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Acuan mengenai materi yang diberikan kepada mahasiswa harus jelas agar mereka dapat merasakan manfaat dari mata kuliah ini. Untuk mengetahui acuan tersebut, perlu dilakukan needs analysis agar mahasiswa mendapatkan materi yang benar-benar mereka perlukan untuk mendukung proses belajar mereka pada saat ini atau dimasa yang akan datang. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kebutuhan para pembelajar Bahasa Inggris. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Bahasa Inggris pada 5 jurusan yang ada di FKIP ULM Banjarmasin. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan teknik deskriptif dalam bentuk jumlah dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan mahasiswa non prodi Bahasa Inggris terhadap mata kuliah Bahasa Inggris ESP sangat beragam sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka memerlukan Bahasa Inggris bukan saja untuk kebutuhan mereka saat ini seperti membaca literatur berbahasa Inggris, tetapi juga untuk kepentingan pekerjaan nantinya. Oleh karena itu disarankan agar pengajar Bahasa Inggris ESP atau pihak yang berkepentingan dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa, serta selalu melakukan need analysis karena kebutuhan pembelajar ESP juga selalu berubah. Kata Kunci: Bahasa Inggris ESP, analisis kebutuhan, kebutuhan pembelajar
IMPLEMENTASI TEACHING FACTORY DI SMKN 2 GEDANGSARI GUNUNGKIDUL Dwi Yunanto
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016): April 2016
Publisher : FKIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.023 KB) | DOI: 10.20527/jvk.v31i1.3971

Abstract

Abstract. Evaluation of ‘teaching factory’ implementation in SMKN2 Gedangsari Gunung Kidul Yogyakarta aimed to determine the implementation of ‘teaching factory’ in Boutiqe Fashion skill program of SMKN 2 Gedangsari Gunung Kidul. ‘Teaching factory’ method is given by the vocational school to graduated students in order to prepare them to become more independent. This research was a descriptive study using seven parameters approach based on SED-TVET instruments. The population consisted of students, productive teachers, vice principal of curriculum affairs, and principals who run school's teaching factory. The data analyzed by using percentages. The results showed that overall SMKN 2 Gedangsari haven’t implemented teaching factory in productive subject with the percentation of 41.93%, teaching factory implementation management as much as 26.67%, workshop or laboratory management as much as 64%, training learning pattern as much as 42.86%, teaching factory marketing as much as 24.00%, products and services as much as 68%, human resources in the management of teaching factory as much as 48% and industrial relations as much as 20%. Keywords: Teaching factory, seven parameters, vocational school Abstrak . Evaluasi  pelaksanaan pembelajaran teaching factory  di SMKN 2 Gedangsari Gunung Kidul Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan teaching factory di program keahlian Tata Busana Butik di SMKN 2 Gedangsari Gunung Kidul. Pembelajaran teaching factory diberikan oleh sekolah kejuruan pada siswa yang telah lulus agar mereka siap untuk mandiri. Penelitian ini merupakan penelitian  deskriptif  dengan mengunakan pendekatan tujuh parameter yang bersumber pada instrumen SED-TVET. Populasi penelitian adalah peserta didik, guru produktif, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kepala sekolah yang menjalankan teaching factory di sekolah tersebut. Data dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  secara keseluruhan SMKN 2 Gedangsari belum menerapkan proses pembelajaran teaching factory dalam mata pelajaran produktif, dengan persentasi sebesar 41,93%., kegiatan managemen pelaksanaan  teaching  factory  sebesar 26.67%, pengelolaan bengkel atau laboratorium sebesar 64%,  pola pembelajaran training  sebesar 42,86%, pemasaran teaching factory sebesar 24%, produk dan jasa sebesar 68%, sumber daya manusia dalam pengelolaan teaching factory  sebesae 48% serta hubungan industri sebesar 20%. Kata kunci: Teaching factory, tujuh parameter, sekolah kejuruan
PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA TOPIK LISTRIK ARUS SEARAH Herman Herman; Andi Momang Yusuf
Vidya Karya Vol 31, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : FKIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.057 KB) | DOI: 10.20527/jvk.v31i2.3989

Abstract

 Abstract: This article is a result of an R&D (Research & Development) study which used a 4-D model to develope a teaching material in the form of student’s work sheet that based on science process skill. A valid teaching material has been developed in 2015. The framework of the work sheets was composed of identify (core competence, basic competence, topic, objective), inquiry question, analytical question, and conclusive question. The framework could minimalized the guiding expalanation as often found in experiment manual books. The result showed that the students’ performance in practicing the experiment given was in sufficient category, all of the student were responded positively and all of the activities expected in the learning process were impelemented.  Key words: work sheet, science process skill. Abstrak: Tulisan ini merupakan hasil penelitian R & D (Research and Development) dengan mengngunakan model pengembangan perangkat 4-D yang bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran berupa lembar kerja berbasis keterampilan proses sains. Pada tahun 2015 telah dihasilkan perangkat pembelajaran yang valid. Kerangka lembar kerja terdiri dari identitas (Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, judul, tujuan), pertanyaan penyelidikan, pertanyaan analisis, dan pertanyaan penyimpulan. Kerangka ini meminimalkan pernyataan tuntunan seperti dalam penuntun praktikum (yang  mirip ”resep kue”). Hasil ujicoba menunjukkan kinerja praktikum siswa berada pada kategori cukup, semua siswa merespon positif dan semua aktivitas yang diharapkan muncul dalam pembelajaran terlaksana seluruhnya.  Kata kunci: lembar kerja (LK), keterampilan proses sains.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) IPA DENGAN METODE PEMODELAN (School Action Research Di SMPN 1 Bakarangan Kabupaten Tapin) Rahmadi Rahmadi
Vidya Karya Vol 32, No 1 (2017): April 2017
Publisher : FKIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.374 KB) | DOI: 10.20527/jvk.v32i1.4151

Abstract

Abstract. This school action research aims to motivate teachers and be active in making the lesson plan, so the students' motivation and achievement in science improve. The study was conducted for 3 (three) months in 3 cycles of action centered on evaluation sessions. Teacher activities data were generally obtained through observation and field notes, while teacher achievement was obtained through questionnaires and tests. The data were analyzed and interpretated qualitatively. The result showed that by using the modeling method, there was a change of teacher activeness in the effort of making the lesson plan, with activity level before the action below 65% increased to 85% on achievement aspect of teacher effort. There was also an increase in teacher effort with a grade point average before action below 6.5, increasing to 8.25 at the end of the action. From the research results can be concluded that the modeling method improves the teachers’’ ability in making the lesson plan. Keywords: lesson plan, modeling method. Abstrak. Penelitian tindakan sekolah ini bertujuan agar guru termotivasi dan aktif dalam membuat RPP IPA sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada pelajaran IPA. Penelitian dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan dalam 3 siklus tindakan yang dipusatkan pada sesi evaluasi.  Data kegiatan guru  secara umum diperoleh melalui observasi dan  catatan lapangan, sedangkan prestasi guru diperoleh melalui hasil angket dan tes. Analisis dan interpretasi data dilakukan secara kualitatif. Hasil penilaian menunjukan bahwa dengan menggunakan metode pemodelan terjadi perubahan keaktifan guru dalam upaya pembuatan RPP IPA, dengan tingkat keaktifan sebelum tindakan di bawah 65 % meningkat menjadi 85% pada aspek prestasi upaya guru. Terdapat pula peningkatan upaya guru dengan nilai rata-rata kelas sebelum tindakan di bawah 6,5 ,meningkat menjadi 8,25 pada akhir tindakan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode Pemodelan mampu meningkatkan kemampuan guru dalam membuat RPP IPA. Kata Kunci: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Metode Pemodelan.

Page 10 of 28 | Total Record : 276