cover
Contact Name
Misbah
Contact Email
misbah_pfis@ulm.ac.id
Phone
+628975586104
Journal Mail Official
vidyakarya@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl cemara raya no 28 banjarmasin Utara
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Vidya Karya
ISSN : 02159619     EISSN : 26147149     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Education,
Vidya Karya terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober, berisi artikel hasil penelitian dan kajian analitis krtitis setara dengan hasil penelitian di bidang teori dan atau praktik kependidikan
Articles 276 Documents
KOMBINASI PROJECT BASED LEARNING DAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MELATIHKAN KEMAMPUAN 5M Miriam, Sarah; Zainuddin, Zainuddin
Vidya Karya Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The education curriculum addressed the science learning which involves learner in the scientific process in order to find a product by promoting the scientific attitude. This idea has encouraged the researcher team to design an instructional which combines the project based learning model and the experiment method to train the 5M skills for students. The research subjects are the 6th semester students of physics education study program of the teacher training and educational sciences faculty of Lambung Mangkurat University (FKIP ULM) in the academic year of 2016/2017. The research used posttest only control group design. Learning effectiveness was gained from students’ project evaluation and posttest. The research result showed that students’ project was in good category with the mean score of 4.09. The students’ achievement has reached the individual mastery as big as 100%. It can be concluded that the combination of project based learning model and experiment method is effective to train the students’ 5M skills for the physics experiment course. Keywords: Project based learning, experiment method, 5M skills. Abstrak. Kurikulum pendidikan menghendaki pembelajaran sains yang melibatkan peserta didik dalam proses ilmiah untuk menemukan sebuah produk dengan mengedepankan sikap ilmiah. Hal ini mendorong tim peneliti untuk merancang pembelajaran yang mengkombinasikan project based learning dan metode eksperimen yang diharapkan mampu melatihkan  kemampuan 5M bagi mahasiswa. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester 6 Pendidikan Fisika FKIP ULM pada tahun akademik 2016/2017. Desain penelitian menggunakan postest only control group design. Data efektivitas pembelajaran didapatkan dari evaluasi proyek mahasiswa dan postest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  proyek mahasiswa berkategori baik dengan skor rata-rata perolehan sebesar 4,09. Selanjutnya hasil belajar mahasiswa berhasil mencapai ketuntasan individu sebesar 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengkombinasikan project based learning dan metode eksperimen efektif untuk melatihkan kemampuan 5M mahasiswa pada perkuliahan Eksperimen Fisika. Kata Kunci: Project based learning, metode eksperimen, kemampuan 5M.
PENGGUNAAN KITIN SEBAGAI ALTERNATIF FASE DIAM KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DALAM PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK Syahmani, Syahmani; Leny, Leny; Iriani, Rilia; Elfa, Noor
Vidya Karya Vol 32, No 1 (2017)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Utilization of chitin as a stationary phase of TLC to separate the compound components from plants had been carried out. The objective of this study was to investigate (1) the effectiveness of chitin as a stationary phase in TLC to separate the compound components of plants, and (2) composition of compounds in plant extracts that can be separated by chitin. Research method is experiment in laboratory. Sampling technique of plant extract (mahogany seed, turmeric rhizome, and pandanus leaf) using random sampling technique, while shrimp shrimp skin is shrimp waste from Indu Manis Banjarmasin factory. Data were analyzed descriptively qualitative. The results showed that chitin rendemen successfully isolated from shrimp skin was 36,44%. Chitin is effectively used as an alternative to stationary phase in TLC to separate the compound components from plant sample extracts (mahogany seeds, pandanus leaves, and turmeric rhizomes). Keywords: chitin, stationary phase of TLC, and separation of plant compound components. Abstrak. Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan kitin sebagai fasa diam KLT untuk memisahkan komponen senyawa dari tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) efektivitas kitin sebagai fasa diam pada KLT untuk memisahkan komponen senyawa dari tumbuhan, dan (2) komposisi senyawa dalam ekstrak tumbuhan yang mampu dipisahkan oleh kitin. Metode penelitian adalah eksperimen di laboratorium. Teknik pengambilan sampel ekstrak tumbuhan (biji mahoni, rimpang kunyit, dan daun pandan) menggunakan teknik random sampling, sedangkan kulit udang merupakan limbah kulit udang dari pabrik Indu Manis Banjarmasin. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendaman kitin yang berhasil diisolasi dari kulit udang sebesar 36,44%. Kitin cukup efektif digunakan sebagai alternatif fasa diam  pada KLT untuk memisahkan komponen senyawa dari ekstrak sampel tumbuhan (biji Mahoni, daun Pandan, dan rimpang Kunyit).  Kata Kunci: kitin, fase diam KLT, dan pemisahan komponen senyawa tumbuhan.
PEMBELAJARAN IPA (FISIKA) HARATI BERORIENTASI PADA PENDEKATAN ILMIAH DAN NILAI MORAL Hartanto, Theo Jhoni
Vidya Karya Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: There are two findings found by the author from the observation related to science (physics) learning activities in several Junior High Schools (SMP) at Palangka Raya city. The first one, science learning tends to be more focused to the teachers, so that most students thought that science (physics) as the subject which is hard to understand. The second one, science (physics) teachers have not completely done their duty yet to plant  some moral values inside the students’ mind. Generally, the learning activities only focused to the cognitive aspect. Based on those two findings, science instruction which is interested from product, process, and attitude, need to be applied. Therefore, this article was presented to describe the harati instruction which try to balance between the “thingking” and the “feeling” aspect in science (physics) learning practice in Junior High School (SMP)Key Words: moral value, harati instruction Abstrak: Ada dua hasil observasi yang ditemukan penulis berkaitan dengan kegiatan pembelajaran IPA (fisika) di sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Palangka Raya. Pertama pembelajaran IPA cenderung lebih berpusat pada guru sehingga sebagian besar siswa menganggap mata pelajaran IPA (fisika) sebagai mata pelajaran yang sulit dipahami. Hal ini berefek pada hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan. Kedua, guru IPA (fisika) belum sepenuhnya melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yang bertanggung jawab untuk menanamkan nilai moral dalam diri siswa. Umumnya pembelajaran hanya fokus kepada aspek kognitif. Berdasarkan dua hal tersebut, pembelajaran IPA yang sesuai dengan hakikatnya sebagai produk, proses, dan sikap yang terintegrasi perlu untuk dilakukan. Oleh sebab itu, artikel ini hadir untuk memaparkan pembelajaran harati, yaitu pembelajaran yang mengupayakan keseimbangan  antara  aspek  “pikir”  dengan “hati” dalam praktik pembelajaran IPA (fisika) di SMP.Kata Kunci: nilai moral, pembelajaran harati
STUDI PENDAHULUAN PENGEMBANGAN APLIKASI SMARTPHONE SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH Azmi, Muhammad; Joebagio, Hermanu; Suryani, Nunuk
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:  This study aimed at describing the usage of smartphone and internet in the community of college students which can be the basic on the development of an application. This qualitative-descriptive study was conducted through interviews with teacher staff and surveys with 54 students of History Education Study Program in the Teacher Training and Educational Sciences Faculty. The study result shows that: (1) 47 students (87%) owned Smartphone of their own, while the rest of the students as much as 7 persons (13%) do not have Smartphone, (2) 42 students (87%) stated that they  have Smartphone which connected to internet all the timet, while the rest of the students as much as 6 persons (13%) stated the vice versa, (3) Smartphone application which can be developed is the multi-platform semi-online application with  HTML5 base.   Key words: smartphone, history learning media, and multi-platform Abstrak:  Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan tentang penggunaan smartphone dan internet di kalangan mahasiswa yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan sebuah aplikasi. Penelitian kualitatif-deskriptif ini dilakukan melalui wawancara dengan staf pengajar dan survei terhadap 54 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat 47 orang (87%) telah memiliki smartphone pribadi, sedangkan sisanya sebanyak 7 orang (13%) tidak memiliki smartphone, (2) terdapat 42 orang (87%) menyatakan bahwa mereka memiliki smartphone yang selalu terhubung dengan internet setiap saat, sedangkan sisanya sebanyak 6 orang (13%) menyatakan tidak, (3) Aplikasi smartphone yang dapat dikembangkan adalah aplikasi multi-platform semi-online berbasis HTML5.   Kata kunci: smartphone, media pembelajaran sejarah, dan multi-platform
PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) Warman, Cahaya
Vidya Karya Vol 32, No 1 (2017)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract :  This paper explain: (1) Background of civic education in Indonesia (2) Problems in implementing civic education in Indonesia (3) How the character of civic education in Economic Asean Society (MEA) is. Civic education in Indonesia as the background by along history of Indonesian since colonialism era until filling independence era that can make different ruled based on each era. Many problems in implementing civic educatioan in Indonesia is : (a) study more give high knowledge but less application, (b) some teacher not able to manage classroom efectivety, (c) between material of civic educatioan and time allocation is not balance, (d) civic education in Indonesia can make negative effect for students perceptions, (e) some teacher teach still use the conventional model, (f) activities teachers more dominant than students. The role of civic education in the face of Economic Asean Society (EAS) : (a) increasing awareness and sense of nationalism to local products, (b) propose an appropriate legal products to create a fovorable regulatory Indonesia for example, every citizen of a foregin working in Indonesia should be able to speak Indonesian, invested capital should be in rupiah. (c) mainting an attitude independent and active foreign policy and not fixated on intra-Asean trade, (d) promote and introduce the Pancasila economic system is Indonesian economic condition in order to stay awake. Keywords: Civic education, Economic Asean Society Abstrak. Makalah ini menjelaskan: (1) Latar belakang pendidikan kewarganegaraan di Indonesia, (2) Permasalahan dalam menerapkan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia (3) Bagaimana karakter pendidikan kewarganegaraan dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pendidikan kewarganegaraan di Indonesia berlatar belakang sejarah Indonesia yang panjang sejak era penjajahan hingga era kemerdekaan yang mana tiap-tiap era memliki peraturan yang berbeda. Berbagai masalah dalam menerapkan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia diantaranya adalah: (a) pelajaran lebih banyak memberi pengetahuan namun kurang aplikasinya, (b) beberapa guru tidak dapat mengelola kelas secara efektif, (c) tidak seimbang antara banyaknya materi ajar pendidikan kewarganegaraan dan alokasi waktu, d) Pendidikan kewarganegaraan di Indonesia dapat menimbulkan dampak negatif bagi persepsi siswa, (e) beberapa guru masih mengajar menggunakan model konvensional, (f) kegiatan guru lebih dominan daripada siswa. Peran pendidikan kewarganegaraan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA): (a) meningkatkan kesadaran dan rasa nasionalisme terhadap produk lokal, (b) mengajukan produk hukum yang sesuai untuk menciptakan peraturan yang mengatur Indonesia misalnya, sebagai contoh, setiap warga negara asing yang bekerja di Indonesia harus bisa berbahasa Indonesia, modal yang diinvestasikan harus dalam rupiah. (c) mempertahankan kebijakan politik luar negeri yang independen dan aktif dan tidak terpaku pada perdagangan intra-ASEAN, (d) mempromosikan dan mengenalkan bahwa sistem ekonomi Pancasila adalah kondisi ekonomi Indonesia agar tetap mawas diri. Kata kunci: Pendidikan kewarganegaraan, Masyarakat Ekonomi Asean.
PERAMPASAN HAK PENDIDIKAN PEREMPUAN DALAM IKATAN PERKAWINAN USIA ANAK DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (Analisis Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2012) Kartika, Norma Yuni; Darwin, Muhajir; Sukamdi, Sukamdi
Vidya Karya Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. This study aimed to find out the deprivation of womens education right in the bond of child age marriage in the province of South Kalimantan. The design of the study was cross-sectional study using data Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012. The right of women education in this study is the educational attainment and achievement of nine-year compulsory education of 15-49 years old women. The age of first marriage is divided into three categories, namely under 18 years, 18-20 years and above 20 years. The population of this study in accordance with the population on the IDHS 2012 in South Kalimantan. Analysis of the data using the percentage distribution and Chi Square test. The highest percentage of women at first marriage age under 18 years, 18-20 years and over 20 years in a row namely ungraduated of primary school (38.81%), ungraduated of junior high school (30.32%) and graduate of junior high school (33.86 %). The highest percentage of first marriage age under 18 years old and 18-20 years old at is similar, namely not achieving the nine years compulsory (93.84% and 71.48%), while the highest percentage age of first marriage of women over 20-year is achieving the nine year cumpolsary (56.65%). Keywords: deprivation, womens education right, marriage age Abstrak. Tulisan ini bertujuan mengetahui perampasan hak pendidikan perempuan dalam ikatan perkawinan usia anak di Provinsi Kalimantan Selatan. Rancangan penelitian cross sectional dengan menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2012. Hak pendidikan perempuan dalam penelitian ini yaitu pencapaian pendidikan dan pencapaian wajib belajar sembilan tahun perempuan 15-49 tahun. Usia perkawinan pertama dibagi tiga kategori, yaitu di bawah 18 tahun, 18-20 tahun dan di atas 20 tahun. Populasi tulisan ini sesuai dengan populasi pada SDKI 2012 di Provinsi Kalimantan Selatan.  Analisis data menggunakan distribusi prosentase dan  uji Chi Square. Prosentase tertinggi usia perkawinan pertama perempuan di bawah 18 tahun, 18-20 tahun dan di atas 20 tahun berturut-turut yaitu tidak tamat SD (38,81 %), tidak tamat SMP (30,32 %) dan Tamat SMP (33,86 %). Usia perkawinan pertama di bawah 18 tahun dan 18-20 tahun prosentase tertingginya sama, yaitu tidak tercapainya wajib belajar sembilan tahun (93,84 % dan 71,48 %), sedangkan usia perkawinan pertama perempuan di atas 20 tahun tertinggi pada tercapainya wajib belajar sembilan tahun (56,65 %). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perkawinan usia anak perempuan mayoritas tidak mencapai wajib belajar sembilan tahun. Artinya ikatan perkawinan usia anak telah merampas hak pendidikan perempuan di Kalimantan Selatan.  Kata kunci: perampasan, hak pendidikan perempuan, perkawinan usia anak 
IMPLEMENTASI MODEL STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SUHU DAN PEMUAIAN Rahmadi, Rahmadi
Vidya Karya Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

preparation to learn natural science concepts. In fact, many students have difficulties in understanding the concepts, so that the average value of student achievement does not reach the standard. The purpose of this study was to improve students learning and understanding, as well as evaluate the response of the 7th grade students of SMPN 1 Rantau towards temperature and expansion concepts using STAD method. The method used in this study was action research. Data collection applied in this study was tests and questionnaires techniques. The data was analyzed by using percentage. This research was conducted at SMPN 1 Rantau. There are 33 of seventh grade students involved as the subject in this study. The results showed that student learning outcomes in concepts of temperature and expansion improved by the use of STAD model, students and teachers activities in learning were running well. Students were also have positive response to the implementation of STAD model. Keywords: Temperature, Expansion, STAD model  Abstrak. Konsep suhu dan pemuaian merupakan konsep yang sangat penting untuk dikuasai siswa sebagai bekal mempelajari konsep-konsep IPA selanjutnya. Padahal, justru banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep suhu dan pemuaian, sehingga nilai rata-rata prestasi siswa tidak mencapai standar yang telah ditetapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan proses pembelajaran dan pemahaman siswa, serta mengetahui respon siswa kelas VII SMPN 1 Rantau terhadap pembelajaran konsep suhu dan pemuaian menggunakan metode STAD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah action research. Pengumpulan data menggunakan teknik tes dan angket. Analisis data menggunakan teknik persentase. Penelitian ini dilaksanakan di  SMPN 1 Rantau  dengan subjek 33 orang siswa kelas VII A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi suhu dan pemuaian, aktivitas belajar siswa dan mengajar guru berlangsung baik, serta respon siswa terhadap pembelajaran konsep suhu dan pemuaian menggunakan model kooperatif tipe STAD positif.  Kata Kunci: Suhu, Pemuaian, model STAD.
BLUE-PRINT PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS KONTROVERSI Wijaya, Daya Negri
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: History teachers often avoid the controversial material in history learning. This phenomenon did not happen by accident but constructed by some perspectives in writing the past. One of the topics which are full of controversy is that of the era of England colonization in Nusantara. This controversy was raised due to the degradation of the sense of history among educators. Educators actually should be able to dig the historical resources independently and explain the various perspectives clearly. The author, by the help of re-enactment theory, offerred a way in understanding a controversial material through the topic of England colonization. The author hopes that the students will be able to imagine and understand the various controversy in history learning especially in the era of England colonization. Keywords:  England colonization, re-enactment, and controversy Abstrak: Materi sejarah yang sarat akan kontroversi seringkali dihindari oleh guru. Kecenderungan ini bukan suatu kebetulan akan tetapi dikonstruksi oleh berbagai perspektif dalam menuliskan masa lalu. Salah satu materi sejarah yang sarat akan kontroversi adalah masa penjajahan Inggris di Nusantara. Kontroversi tersebut muncul karena degradasi sense of history pendidik. Mereka seyogyanya menggali sumber-sumber sejarah secara mandiri dan mampu menjelaskan perbedaan perspektif tersebut dengan baik. Dengan bantuan teori re-enactment, penulis menawarkan cara dalam memahami materi kontroversial dengan contoh kasus materi kolonialisme Inggris. Penulis berharap siswa akan dapat membayangkan dan memahami beragam kontroversi pada materi sejarah terutama masa penjajahan Inggris. Kata-kata kunci:  kolonialisme Inggris, re-enactment, dan kontroversi
STUDI TENTANG MISKONSEPSI SISWA DAN MAHASISWA TERHADAP KONSEP RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH (DIRECT CURRENT) Hartanto, Theo Jhoni; Nawir, Muhammad
Vidya Karya Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The purpose of this study is to describe the understanding of the direct current electric circuit basic concept that posses by senior high school students and natural science (physics) student teacher. The research instrument used in this study was the concept understanding test in the form of objective test that accompanied by certainty of response index (CRI). This test was developed from some relevant studies. The concept understanding test was given to 30 senior high school students and also 32 graduate students of physics education study program in Palangka Raya City. From the study result, it was found that the same of the kind of missconception problem tends to be found among the senior high school students and also the graduate students, for example is the concept of the consumption model of electric current and battery are the fixed current supply. The missconceptions on the direct current circuit that found in this study were also have been founded in some studies from other countries for various group of age and level of study.  Keywords: missconception, electric circuit, direct current, CRI. Abstrak. Tujuan dari studi ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai pemahaman siswa di sekolah menengah (SMA) dan mahasiswa calon guru IPA (fisika) terhadap konsep dasar rangkaian listrik arus searah. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes pemahaman konsep dengan pilihan ganda beralasan terbuka disertai dengan certainty of response index (CRI). Tes ini dikembangkan dari beberapa studi yang relevan. Tes pemahaman konsep diberikan kepada 30 siswa SMA dan 32 mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Fisika yang berada di Kota Palangka Raya. Berdasarkan hasil studi ditemukan kesalahan konsep (miskonsepsi) yang cenderung sama pada siswa dan mahasiswa, antara lain model konsumsi arus listrik dan baterai merupakan sumber arus listrik yang tetap. Kesalahan konsep (miskonsepsi) mengenai rangkaian listrik arus searah yang ditemukan dalam studi ini juga ditemukan di beberapa studi di luar negeri pada berbagai kelompok umur dan jenjang pendidikan. Kata kunci: miskonsepsi, rangkaian listrik, arus searah, CRI
STUDENTS’ RESPONSE TOWARD THE DEVELOPMENT OF STUDENT WORKSHEET WITH PROBLEM BASED LEARNING IN COMPARISON MATERIAL AT CLASS VII-1 OF SMP NEGERI 1 KUANTAN MUDIK Siregar, Syarifah Nur; Syofni, Syofni; Sukri, Metti; Solfitri, Titi
Vidya Karya Vol 32, No 1 (2017)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract— This study aimed to determine students responses toward the development of student worksheet with problem based learning model in the comparison material. This study used 4-D model of development that consisted of four stages, namely the definition, design, development, and disseminate. Data collection instruments were sheets of validation and questionnaire of students’ responses. The questionnaire of students’ responses used Guttman scale consisting of 20 items of positive and negative statements. Grain statement was based on the aspects of accuracy, conformity with learning models, as well as the fulfillment of the terms of didactic, construction, and technical. Before tested to students, the student worksheet has been validated by three experts on mathematics education with very valid results (3.73). The student worksheet trial conducted to 32 students of class VII-1 SMPN 1 Kuantan Mudik, Kuantan Singingi, Riau Province during the second semester of the academic year 2016/2017. After carrying out learning by using worksheets, students were given the response questionnaire. Overall, students gave a positive response to the student worksheet which amounted to 94.37% categorized as very practical. Although the student worksheet already using Indonesian referring to Spelling Enhanced, there are some students who think that they find the unknown word or term on student worksheet. However, this is not a significant obstacle in learning because the student worksheet was developed for group learning so students can discuss things they did not understand with their group members.  Keywords: problem based learning, students’ response, students’ worksheet Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon siswa terhadap Lembar Kerja Siswa berbasis Problem Based Learning yang dikembangkan. Pengembangan menggunakan model 4-D  yang terdiri dari 4 tahap yaitu Definition, Design, Development, dan Disseminate. Pengumpulan data menggunakan lembar validasi dan angket respon siswa.  Angket respon siswa menggunakan skala Guttman yang terdiri atas 20 item berisi pernyataan positif dan negative. Item pernyataan didasarkan pada aspek akurasi, kesesuaian dengan model pembelajaran, serta pemenuhan syarat didaktik, konstruksi, dan teknis. Sebelum diuji kepada siswa, lembar kerja siswa divalidasi oleh tiga ahli pendidikan matematika dengan hasil yang sangat valid (3,73). Uji coba lembar kerja siswa dilakukan kepada 32 siswa kelas VII-1 SMPN 1 Kuantan Mudik, Kuantan Singingi, Provinsi Riau pada semester II tahun akademik 2016/2017. Setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja, siswa diberi angket respon. Secara keseluruhan, siswa memberikan respon positif terhadap lembar kerja siswa yang berjumlah 94,37% tergolong sangat praktis. Meskipun lembar kerja siswa sudah menggunakan bahasa Indonesia yang mengacu pada Ejaan yang Disempurnakan, ada beberapa siswa yang menemukan kata atau istilah yang tidak diketahui pada lembar kerja siswa. Namun, ini bukan masalah karena lembar kerja siswa dikembangkan untuk pembelajaran kelompok sehingga siswa dapat mendiskusikan hal-hal yang tidak mereka mengerti dengan anggota kelompok mereka. Keywords: problem based learning, students’ response, students’ worksheet

Page 8 of 28 | Total Record : 276