cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Potensi Kacang Gude, Kayu Manis, dan Kulit Jeruk Nipis sebagai Bahan Baku Minuman Fungsional Berbasis Antioksidan Yuli Kusuma Dewi
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14401

Abstract

Dewasa ini penggunaan bahan-bahan alam sebagai bahan obat-obatan kembali menjadi trend di kalangan masyarakat setelah pandemi COVID-19 merebak, terutama pada bahan-bahan alam yang memiliki kandungan senyawa bioaktif antioksidan. Beberapa contoh bahan alam yang ada di sekitar kita yang mudah didapatkan dan memiliki kandungan senyawa bioaktif adalah kacang gude, kayu manis dan kulit jeruk nipis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antioksidan dari kacang gude, kayu manis, dan kulit jeruk nipis untuk digunakan sebagai bahan baku dari minuman berbasis antioksidan. Parameter uji yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji fitokimia, uji kadar air dengan metode thermogravimetri dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Vitamin C digunakan sebagai pembanding pada uji aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kacang gude, kayu manis dan kulit jeruk nipis memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku minuman berbasis antioksidan dengan nilai aktivitas peredaman (% inhibisi) pada konsentrasi 80 ppm secara berturut-turut sebesar 63,80%; 81,25%; dan 50,23% dengan proses pengeringan sinar matahari tidak langsung selama 12 hari. Kata Kunci: Teh Antioksidan, Cajanus cajan, Cinnamomum burmannii, Citrus aurantifolia, Kacang Gude, Kayu Manis  Today, the use of natural ingredients as medicinal ingredients is again becoming a trend among the public after the COVID-19 pandemic spread, especially on natural ingredients that contain antioxidant bioactive compounds. Some examples of natural ingredients that are around us that are easily available and contain bioactive compounds are gude beans, cinnamon and lime peel. This study aims to determine the antioxidant potential of gude beans, cinnamon, and lime peel as raw materials for antioxidant-based beverages. The test parameters carried out in this study were phytochemical tests, water content tests using the thermography method and antioxidant activity tests using the DPPH method. Vitamin C was used as a comparison in the antioxidant activity test. The results showed that gude beans, cinnamon and lime peel have the potential to be developed into raw materials for antioxidant-based drinks with reducing activity values (% inhibition) at a concentration of 80 ppm, respectively, of 63.80%, 81.25%, and 50.23% using indirect sunlight drying process for 12 days.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Rasionalitas Penggunaan OAINS dalam Mengatasi Nyeri secara Swamedikasi di Masyarakat Imel Ramelia Hudaya; Indah Laily Hilmi; Salman Salman
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14596

Abstract

Setiap tahun, diperkirakan sebanyak 20% populasi dunia mengalami nyeri. Berdasarkan penelitian pada tahun 2012 di Amerika, setiap harinya terdapat sebanyak 86,6 juta jiwa orang dewasa yang mengalami nyeri akut dan sebanyak 25,5 juta jiwa mengalami nyeri kronis. Terapi menggunakan obat-obatan adalah salah satu upaya yang dapat mengurangi atau mengatasi nyeri. Obat anti inflamasi non-steroid (OAINS) merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan dalam tatalaksana nyeri. Penggunaan OAINS yang kurang tepat akan menimbulkan banyak efek samping yang dapat berpotensi berakibat fatal dan justru dapat membuat seseorang mengalami masalah medis akibat efek samping yang lebih berat dibandingkan dengan masalah medis utamanya. Penulisan artikel review ini dimaksudkan untuk melihat pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat dalam penggunaan OAINS terhadap rasionalitas penggunaannya secara swamedikasi di beberapa populasi masyarakat dengan metode studi literatur yang diambil dari berbagai jurnal nasional maupun internasional. Berdasarkan hasil studi literatur tersebut didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan masyarakat dalam penggunaan OAINS secara swamedikasi memiliki hubungan dengan rasionalitas penggunaannya. Kata Kunci: OAINS, Tatalaksana Nyeri, Pengetahuan, Efek Samping, Swamedikasi  It is estimated that 20% of the world's population experience pain every year. Based on American research in 2012, there are 86.6 million adults who experience acute pain every day and as many as 25.5 million people experience chronic pain. Drugs therapy is one of the efforts that can reduce or overcome pain. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are one of the most commonly used drugs in pain management. Inappropriate use of NSAIDs will cause many side effects that can be potentially fatal and can actually make a person experience medical problems due to side effects that are more severe than the main medical problem. This review article was written to see the effect of the level of public knowledge in the use of NSAIDs on the rationality of their use by self-medication in several population groups using the literature study method taken from various national and international journals. Based on the results of the literature study, it was found that the level of public knowledge in the use of NSAIDs independently has a relationship with the rationality of their use.
Formulasi Gel Ekstrak Daun Sosor Bebek (Kalanchoe pinnata (Lam.) Per.) dengan Kombinasi Carbophol 980 dan Cremophor RH 40 Kartiningsih Kartiningsih; Rika Damayanti; Anarisa Budiati
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.13272

Abstract

Daun sosor bebek (Kalanchoe pinnata P.) merupakan tanaman obat yang diketahui memiliki aktivitas antiseptik. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pengaruh konsentrasi Carbophol 980 dan Cremophor RH 40 terhadap mutu fisik dan pH sediaan gel ekstrak kental daun sosor bebek yang dianalisa dengan metode ANOVA satu arah. Daun sosor bebek diekstrasi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan menjadi sediaan gel dengan kombinasi Carbophol 980 sebagai gelling agent dan Cremophor RH 40 sebagai wetting agent. Sediaan gel dibuat 8 formula dengan variasi konsentrasi Carbophol 980 0,5% dan 1,0%, dan Cremophor RH 40 0,5%; 1,0%; 1,5%; dan 2.,%. Sediaan gel yang diperoleh dilakukan evaluasi meliputi pemeriksaan organoleptik, homogenitas, viskositas dan sifat alir, kemampuan menyebar, dan pH. Sediaan gel yang diperoleh berwarna coklat, berbau parfum, dan jernih, viskositas pada rpm 0,5 berkisar 430,67–1015, 33 dPa.s, sifat alir plastis, kemampuan menyebar 2491,20–2111,77 mm2, pH 5,0–5,6. Hasil uji statistic menggunakan ANOVA satu arah dengan α 5%, didapat bahwa variasi konsentrasi Carbophol 980 dan Cremophor RH 40 memberikan perbedaan yang bermakna terhadap viskositas, kemampuan menyebar, dan pH. Berdasarkan hasil evaluasi didapatkan formula 5 yang menggunakan Carbophol 980 dan Cremophor RH 40 pada konsentrasi 0,5% sebagai formula terbaik.       Kata Kunci: Variasi onsentrasi, Carbophol 980, Cremophor RH 40, Gel, Ekstrak Daun Sosor Bebek  Duck bill leaf (Kalanchoe pinnata P.) is a medicinal plant known to have antiseptic activity. The purpose of this study was to examine the effect of the concentration of Carbophol 980 and Cremophor RH 40 on the physical quality and pH of the thick extract gel preparations of duck bill of leaf extract which was analyzed by one way ANOVA method. Duck bill leaves were extracted by maceration method using 96% ethanol, then formulated into a gel preparation with a combination of Carbophol 980 as a gelling agent and Cremophor Rh 40 as a wetting agent. The gel preparations were made of 8 formulas with various concentrations of Carbophol 980 0.5% and 1.0%, and Cremophor RH 40 0.5%, 1.0%, 1.5%, and 2.0%. The obtained gel preparations were evaluated including organoleptic examination, homogeneity, viscosity and flowability, dispersibility, and pH. The gel preparation obtained was brown in color, smelled of perfume, and was clear, viscosity at rpm 0.5 ranged from 430.67–1015, 33 dPa.s, plastic flowability, dispersibility 2491.20–2111.77 mm2, pH 5.0–5.6. The results of statistical tests using one-way ANOVA with 5%, it was found that variations in the concentration of Carbophol 980 and Cremophor RH 40 gave significant differences in viscosity, dispersibility, and pH. Based on the evaluation results obtained formula 5 which uses Carbophol 980 and Cremophor RH 40 at a concentration of 0.5% as the best formula.
Profil Penggunaan Obat Off-Label pada Pasien Obstetri Ginekologi di RSUD Blambangan Banyuwangi
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.14607

Abstract

Setiap obat yang beredar harus memiliki izin edar yang dikeluarkan dan disetujui oleh FDA atau lembaga yang berwenang seperti BPOM. Obat yang diresepkan, tetapi tidak sesuai dengan informasi resmi obat seperti indikasi, usia pasien, dan rute pemberian disebut sebagai off-label drug. Alasan suatu obat digunakan secara off-label diantaranya adalah obat tersebut memiliki lebih dari satu macam indikasi dan indikasi tersebut belum terdaftar atau belum mendapat persetujuan dari FDA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien serta profil penggunaan off-label drug pada pasien obstetri ginekologi di RSUD Blambangan Banyuwangi. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif menggunakan catatan rekam medis pasien periode bulan Januari-Juni 2018. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 233 orang pasien rawat inap. Pengolahan data dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada karakteristik pasien didominasi oleh pasien dengan kelompok usia 20-35 tahun (64%), pasien dengan diagnosis dan tindakan partus section caesarean (44,2%), serta kelompok pasien BPJS (71,7%). Sedangkan pada profil penggunaan off-label drug didominasi oleh penggunaan misoprostol tablet (60,28%); asam traneksamat injeksi (20,57%); serta dexamethasone injeksi (17,38%) dengan kategori sebagai off-label indikasi. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan off-label drug pada pasien obstetri ginekologi di RSUD Blambangan Banyuwangi tetap didasarkan pada keuntungan dan manfaat dari setiap obat saat digunakan. Kata Kunci: Misoprostol, Asam Traneksamat, Deksametason, Partus Section Caesarean, Off-label Every drug must be issued a distribution permit that is approved by the FDA or an authorized agency such as BPOM. Medications prescribed for indications, patient age, and route of administration not accordance with the official information are referred to as off-label drugs. The reasons for using a drug off-label may include the drug having multiple indications or the indication has not been registered approved by the FDA. This study aimed to determine the characteristics of patients and the profile of off-label drug use in gynecological obstetrics patients at Blambangan Hospital. This retrospective study analyzed patient medical records from January-June 2018, and included 233 patients who met the inclusion criteria. Descriptive statistics were used for data analysis. The results showed that the patients age group of 20-35 years accounted for the majority (64%) of the sample, with a cesarean diagnosis (44.2%), and the BPJS patient group (71.7%). The off-label drug usage profile was primarily composed of misoprostol tablets (60.28%), tranexamic acid injection (20.57%) and dexamethasone injection (17.38%), all of which were used with the category of off-label indications. It can be concluded that the use of off-label drugs in gynecological obstetric patients at Blambangan Hospital was found to be based on the potential advantages and benefits of each drug when used.
Optimasi Tween 80 dan Setil Alkohol pada Sediaan Hand Sanitizer Cream Ekstrak Pegagan (Centella asiatica (L.)) Sisna Sisna; Sri Hartati Yuliani
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.14755

Abstract

Pegagan (Centella asiatica (L.)) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi antivirus dan aktivitas sebagai antibakteri. Ekstrak kering pegagan akan diformulasikan dalam sediaan hand sanitizer cream sebagai alternatif dari hand sanitizer berbasis alkohol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tween 80 dan setil alkohol terhadap sifat fisik dan stabilitas hand sanitizer cream serta mendapatkan komposisi optimum dari tween 80 dan setil alkohol dengan sifat fisik dan stabilitas yang baik. Optimasi komposisi tween 80 dan setil alkohol dilakukan dengan metode desain faktorial pada dua faktor dan dua level menggunakan aplikasi Design Expert Version 13 (free trial). Data sifat fisik dan stabilitas berupa viskositas, daya sebar, pergeseran viskositas, dan pergeseran daya sebar akan dianalisis secara statistik dengan uji two-way ANOVA pada tingkat kepercayaan 95%. Overlay plot digunakan untuk menentukan area optimum dari tween 80 dan setil alkohol. Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa ekstrak pegagan mengandung senyawa triterpenoid. Tween 80 dan setil alkohol dapat memengaruhi viskositas secara signifikan, sedangkan interaksi antara tween 80 dan setil alkohol secara signifikan dapat memengaruhi pergeseran daya sebar. Area berwarna kuning yang didapatkan pada overlay plot merupakan area optimum untuk menghasilkan sediaan hand sanitizer cream dengan sifat fisik dan stabilitas yang memenuhi kriteria. Kata Kunci: Krim, Desain Faktorial, Hand Sanitizer, Optimasi, Pegagan Centella asiatica (L.) is one of the plants with antiviral potential and antibacterial activity. Centella asiatica (L.) dry extract would be formulated in hand sanitizer cream as an alternative to alcohol-based hand sanitizer. This research aimed to determine the effect of tween 80 and cetyl alcohol on hand sanitizer cream's physical properties and stability and obtained the optimum composition of tween 80 and cetyl alcohol with good physical properties and stability. The composition of tween 80 and cetyl alcohol was optimized using a factorial design method on two factors and two levels using the Design Expert Version 13 application (free trial). Viscosity and spreadability physical properties, viscosity and spreadability shift stability data will be analyzed statistically by a two-way ANOVA test at a 95% confidence level. The overlay plot determined the optimum tween 80 and cetyl alcohol composition. The qualitative test results showed that Centella asiatica (L.) extract contained triterpenoid compounds. Tween 80 and cetyl alcohol can significantly affect the viscosity, while the interaction between tween 80 and cetyl alcohol can significantly affect the spreadability shift. The yellow area obtained on the overlay plot is the optimum area to produce hand sanitizer cream preparations with physical properties and stability that meet the criteria.
Potentially Inappropriate Medications (PIMs) dan Potentially Prescribing Omissions (PPOs) pada Pasien Geriatri Rawat Inap Tuti Misrina; Difa Intannia; Herningtyas Nautika Lingga; Satrio Wibowo Rahmatullah
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.17039

Abstract

Geriatri merupakan kelompok usia yang rentan terhadap efek samping penggunaan obat. Pemberian obat pada pasien geriatri komplek dan memerlukan banyak pertimbangan karena perubahan komposisi dan fungsi tubuh, komorbiditas, gangguan sensorik dan kognitif, serta polifarmasi. Identifikasi terhadap Potentially Inappropriate Medications (PIMs) dan PPOs (Potentially Prescribing Omissions) penting dilakukan untuk peningkatan kualitas pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi persentase pasien dan mendeskripsikan jenis golongan obat terbanyak pada kejadian PIMs dan PPOs berdasarkan STOPP START Criteria versi 2. Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental metode deskriptif secara retrospektif dengan jumlah 49 sampel pasien geriatrik rawat inap kelas 3 (Januari-Agustus 2022) di RS X Banjarmasin. Data yang diperoleh diidentifkasi menggunakan STOPP START Criteria versi 2 dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Microsoft excel 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pasien teridentifikasi PIMs yaitu 20 pasien (41%) dengan jumlah 1 PIMs pada 17 pasien (35%) dan ≥ 2 PIMs pada 3 pasien (6%). Jenis golongan obat paling banyak dalam kejadian PIMs adalah loop diuretik (furosemid). Persentase pasien teridentifikasi PPOs yaitu 35 pasien (71%) dengan jumlah 1 PPOs. Jenis golongan obat yang termasuk dalam kejadian PPOs pada penelitian ini adalah statin (atorvastatin). Kesimpulan penelitian ini ditemukan bahwa persentase kejadian PPOs lebih tinggi dibandingkan dengan persentase kejadian PIMs. Kata Kunci: Banjarmasin, PIMs, PPOs, STOPP START Kriteria Versi 2, Lansia    Geriatrics is an age group that is vulnerable to the side effects of drug use. Drug administration in geriatric patients is complex and requires a lot of consideration due to changes in body composition and function, comorbidities, sensory and cognitive disorders, and polypharmacy, so that assistance with Potentially Inappropriate Medications (PIMs) and PPOs (Potentially Prescription Omissions) is important to improve the quality of treatment. The purpose of this study was to identify the proportion of patients and describe the most common types of drug classes in the incidence of PIM and PPO based on the STOPP START Criteria version 2. The method used was descriptive retrospectively with a total sample of 49 geriatric patients inpatient class 3 (January-August) 2022) at RS X Banjarmasin. The data obtained were identified using STOPP START Criteria version 2 and analyzed using Microsoft Excel 2021. The results showed that the proportion of patients identified as PIMs was 20 patients (41%) with a total of 1 PIMs in 17 patients (35%) and ≥ 2 PIMs in 3 patients (6%). The most common type of drug class in the incidence of PIMs is loop diuretics (furosemide). The percentage of patients identified as PPOs was 35 patients (71%) with 1 PPOs. The most common type of drug class in the incidence of PPOs is statins (atorvastatin). The conclusion of this study was found that the proportion of incident PPOs was higher than the proportion of incident PIMs. 
Optimasi Pelarut dalam Proses Ekstraksi Daun Teh-Tehan (Acalypha Siamensis) dengan Menggunakan Metode Simplex Lattice Design (SLD) Rollando Rollando; Muhammad Hilmi Afthoni; Benedictus Karel
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan komposisi pelarut dalam proses ekstraksi daun Acalypha siamensis guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam hal rendemen total, kadar flavonoid, dan aktivitas antioksidan. Daun A. siamensis, yang mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid, dievaluasi untuk aktivitas antibakteri dan antioksidan. Dalam penelitian ini, metanol, aseton, dan akuades digunakan sebagai pelarut. Metode Simplex Lattice Design dengan aplikasi Design Expert 12 Trial Version digunakan untuk menentukan perbandingan komposisi pelarut yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan pelarut metanol:aseton:akuades (0:0,5:0,5) menghasilkan rendemen ekstrak terbesar, yaitu 24,97%. Pengukuran kadar flavonoid total menunjukkan bahwa penggunaan pelarut metanol:aseton:akuades (1:0:0) menghasilkan kadar flavonoid total tertinggi, yaitu 453,27 miligram kuersetin ekivalen per gram ekstrak. Selanjutnya, hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa pelarut metanol:aseton:akuades (0:1:0) menghasilkan aktivitas antioksidan paling tinggi, yaitu 81,22 ppm. Analisis menggunakan Simplex Lattice Design menunjukkan bahwa komposisi pelarut yang optimal dalam proses  ekstraksi daun A. siamensis adalah metanol:aseton:akuades (0:69,28:30,72). Dalam kondisi ini, diperoleh hasil total flavonoid sebesar 296,64 miligram kuersetin ekivalen per gram ekstrak, rendemen sebesar 20,00%, dan aktivitas antioksidan sebesar 91,79 ppm. Kata Kunci: Optimasi, Simplex Lattice Design, Rendemen, Flavonoid Total, Antioksidan The objective of this study was to optimize the solvent composition for the extraction of Acalypha siamensis leaves to achieve maximum yield, flavonoid content, and antioxidant activity. A. siamensis leaves, which contain flavonoids, tannins, saponins, and alkaloids, were evaluated for their antibacterial and antioxidant properties. Methanol, acetone, and water were used as solvents. The Simplex Lattice Design method with Design Expert 12 Trial Version was employed to determine the appropriate solvent ratios. The findings demonstrated that the highest extract yield (24.97%) was obtained using a solvent mixture of methanol:acetone:water (0:0.5:0.5). The measurement of total flavonoid content revealed the highest level (453.27 mg of quercetin equivalents per gram of extract) with a solvent composition of methanol:acetone:water (1:0:0). Moreover, the antioxidant activity test indicated the highest activity (81.22 ppm) when using a solvent composition of methanol:acetone:water (0:1:0). The analysis using Simplex Lattice Design determined the optimal solvent composition for A. siamensis leaf extraction as methanol:acetone:water (0:69.28:30.72), resulting in a total flavonoid content of 296.64 mg of quercetin equivalents per gram of extract, a yield of 20.00%, and an antioxidant activity of 91.79 ppm.
Potensi Antijamur Ekstrak Etanol Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Trichophyton mentagrophytes Subaryanti Subaryanti; Feby Ramdhony; Desy Muliana Wenas
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15425

Abstract

Dermatofitosis adalah suatu infeksi pada jaringan berkeratin yang disebabkan oleh adanya kolonisasi dari jamur jenis dermatofita Trichophyton mentagrophytes. Kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) merupakan limbah hasil olahan industri kakao dari sisa biji dan daging buahnya yang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, antosianidin, dan katekin. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder serbuk dan ekstrak etanol kulit buah kakao, menguji potensi antijamur terhadap pertumbuhan T. mentagrophytes, dan menentukan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM). Kulit buah kakao diperoleh dari Citayam, Kota Depok, Jawa Barat. Ekstrak etanol dibuat secara maserasi dengan etanol 96%. Pengujian aktivitas antijamur dilakukan dengan mengukur diameter daya hambat (DDH) menggunakan metode difusi cakram dan mengukur konsentrasi hambat minimum (KHM) menggunakan metode dilusi agar padat. Konsentrasi ekstrak yang digunakan pada pengujian DDH yaitiu 25, 50, 75, dan 100%. Kontrol positif digunakan ketokonazol. Kontrol negatif digunakan DMSO 10%. Pengujian KHM dilakukan pada konsentrasi 25, 20, 15, 10, dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk dan ekstrak etanol kulit buah kakao mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Diameter daerah hambat tertinggi (20,68 mm) diperoleh dari konsentrasi 100% dengan kategori sangat kuat. Konsentrasi hambat minimum (KHM) terhadap T. mentagrophytes adalah 10%. Kesimpulannya adalah senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada kulit buah kakao yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Konsentrasi ekstrak etanol kulit buah kakao yang menghambat T. mentagrophytes adalah 100% (20,68 ± 0,40 mm) dan KHM untuk T. mentagrophytes adalah 10%. Kata Kunci: Antijamur, Ekstrak Etanol, Kulit Buah Kakao, Metabolit Sekunder, KHM  Dermatophytosis is an infection of keratinized tissue caused by colonization of the dermatophyte fungus Trichophyton mentagrophytes. Cacao pod skin (Theobroma cacao L.) is a waste product processed by the cocoa industry from the remaining seeds and fruit pulp which contains alkaloids, flavonoids, tannins, anthocyanidins, and catechins. The aims of the research were to identify the content of secondary metabolites of powder and ethanol extract of cocoa pod shells, to test their antifungal potential on the growth of T. mentagrophytes, and to determine the value of minimum inhibitory concentration (MIC). Cocoa pod skin is obtained from Citayam, Depok City, West Java. The ethanol extract was prepared by maceration with 96% ethanol. Antifungal activity testing was carried out by measuring the inhibition zone diameter (DDH) using the disc diffusion method and measuring the minimum inhibitory concentration (MIC) using the dilution method to solidify. The concentration of the extract used in the DDH test was 25, 50, 75 and 100%. The positive control used Ketoconazole. The negative control used 10% DMSO. MIC testing was carried out at concentrations of 25, 20, 15, 10, and 5%. The results showed that the powder and ethanol extract of cocoa pod shells contained alkaloids, flavonoids, saponins and tannins. The diameter of the highest inhibition area (20.68 mm) was obtained from 100% concentration with very strong category. The minimum inhibitory concentration (MIC) against T. mentagrophytes is 10%. The conclusion is that secondary metabolites found in cocoa pod skin are alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. The concentration of the ethanol extract of cocoa pod husk that inhibited T. mentagrophytes was 100% (20.68 ± 0.40 mm) and the MIC for T. mentagrophytes is 10%.
TATALAKASANA TERKINI HIPERTENSI PULMONER PADA ANAK Dyahris Koentartiwi; Ardhanis Ramadhanti; Ervan Aditya Putra Chafid
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.13407

Abstract

Hipertensi pulmoner (HP) merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan vaskular paru yang berkaitan dengan berbagai etiologi. Pada anak, sekitar 50% HP seringkali ditemukan pada pasien dengan penyakit jantung bawaan dengan left-to-right shunt, penyakit pulmonal, gangguan perkembangan paru serta idiopatik. Insiden HP pada anak secara umum dilaporkan sebesar 4-10 kasus per 1 juta anak per tahun. Terapi koreksi secara operatif atau kateterisasi masih menjadi pilihan utama untuk koreksi HP. Namun tingkat morbiditas dan mortalitas paska koreksi dilaporkan cukup tinggi. Oleh karena itu, beberapa studi terus mengkaji dan mengembangkan pilihan terapi untuk HP. Beberapa diantaranya adalah terapi vasodilator dengan PDE-5, CCB, analog prostasiklin dan inhalasi NO. Karena etiologi yang sangat komplek dan belum banyak bukti klinis atau konsensus tentang tatalaksana HP pada anak, maka pemilihan terapi HP yang sesuai masih cukup sulit. Pada prinsipnya tujuan utama dari terapi HP adalah meningkatkan angka harapan hidup dan memfasilitasi pasien agar dapat melakukan aktivitas secara mandiri tanpa limitasi. Tujuan dari penulisan tinjauan kepustakaan ini adalah untuk membahas tentang tatalaksana terkini HP pada anak sehingga diharapkan dapat menambah pengetahuan dan referensi sebagai dasar praktis klnis tentang tatalaksana HP pada anak. Kata Kunci: Penyakit Jantung Bawaan, Hipertensi Pulmoner, Anak, Left-to-right Shunt, Vasodilator Pulmonary hypertension (PH) is a condition in which pulmonary vascular pressure increases and associated with diverse diseases or etiology.  In children, 50% of PAH cases are caused by CHD, especially due to large left-to-right shunts. Another causes were developmental lung diseases and idiopatic PH. The estimated incidence of sustained PH in all categories was reported at 4–10 cases per million children per year. Corrective procedures by surgery or catheterization are the therapies of choice for reversible PH. Since morbidity and mortality due to PAH after correction is high, many recent studies have been done on the evaluation in treatment option of PH. Several vasodilator therapy including sildenafil (Phosphodiesterase type 5 inhibitor), Calcium Channel Blocker, Prostacyclin Analogs and Nitric Oxide were recommendation therapy. Various etiologies and lack of consensus make it difficulty in management of PH. The ultimate goal of treatment should be improved survival and to facilitate normal activities of childhood without self-limitation. Therefore, this review was aimed to discuss about recent management of PH in children.
Komparasi Efek Analgesia yang Ditimbulkan Oleh Ibuprofen Arginin dan Natrium Diklofenak Zaid Akbar Al Muharram; Christin Rony Nayoan
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.14664

Abstract

Nyeri merupakan masalah global yang telah dirasakan oleh seluruh generasi umat manusia. Banyak cara telah dilakukan oleh umat manusia dalam mencoba menangani nyeri dan pemakaian OAINS merupakan salah satu cara yang telah terbukti efektif. Penggunaan OAINS non-spesifik seperti ibuprofen dan diklofenak merupakan suatu fenomena yang umum diamati, lebih dari 30 juta orang di dunia mengkonsumsi OAINS setiap harinya. Menurut Oxford league of analgesics table kedua obat tersebut memiliki potensi analgesia yang serupa dengan NNT ibuprofen 400 mg/600 mg (2,4) dan NNT diklofenak (2,3). Sediaan baru ibuprofen yang disalifikasi dengan asam amino l-arginin memunculkan pertanyaan tentang perbandingan potensi analgesianya terhadap diklofenak. Penelitian dilakukan secara quasi experimental dan double blind dengan perlakuan pre-test dan post-test. Sampel penelitian terdiri atas 30 probandus sehat yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan (n = 10). Kelompok perlakuan mendapatkan ibuprofen arginin 600 mg, gula 500 mg (plasebo), atau natrium diklofenak 50 mg. Efek analgesia diamati dengan pengukuran pain latency sebelum perlakuan (0’) dan sesudah perlakuan (30’, 60’, 90’, 120’, 150’, 180’). Perbandingan langsung antara ibuprofen arginin 600 mg dan natrium diklofenak 50 mg tidak memunculkan hasil yang signifikan, natrium diklofenak 50 mg hanya unggul 1,2 detik dibandingkan dengan ibuprofen arginin 600 mg (p > 0,9999). Kata Kunci: OAINS, Ibuprofen Arginin, Natrium Diklofenak, Nyeri, Nyeri Latensi Pain is a global problem that has been felt by all generations of mankind. The humankind has employed many methods in handling pain and the use of NSAIDs is a proven effective method. The use of non-specific NSAIDs such as ibuprofen and diclofenac is a commonly observed phenomenon as >30 million people around the world take NSAIDs every day. According to the Oxford league of analgesics table, both drugs have similar analgesic potency, ibuprofen 400 mg/600 mg (NNT: 2,4) and diclofenac (NNT: 2,3). A new preparation of ibuprofen salinized with the amino acid l-arginine raises questions about the comparison of its analgesic potency to diclofenac. This research was conducted in a quasi-experimental and double-blind setting with pre- and post-tests treatments. The research sample consisted of 30 healthy subjects who were divided into 3 groups (n= 10). The groups received 600 mg ibuprofen arginine, 500 mg sugar (placebo), or 50 mg diclofenac sodium. Analgesia effect was observed by measuring pain latency before treatment (0') and after treatment (30', 60', 90', 120', 150', 180'). A direct comparison of the two drugs does not produce significant results, 50 mg diclofenac sodium is only 1.2 seconds superior to 600 mg ibuprofen arginine (p >0.9999).