cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Pengaruh Penyakit Penyerta terhadap Toksisitas Obat Metamizole Athira Syafika; Syarifah NYRS Asseggaf; Mistika Zakiah
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.13920

Abstract

Metamizole merupakan obat yang memiliki efek analgesik, antipiretik, dan spasmolitik. Metamizole diketahui memiliki toksisitas yang dipengaruhi oleh penyakit penyerta, dosis dan interaksi obat. Hal ini yang menjadi salah satu latar belakang bagi peneliti untuk membahas lebih lanjut terkait pengaruh penyakit penyerta terhadap toksisitas metamizole. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penyakit penyerta terhadap toksisitas obat metamizole. Desain penelitian yang digunakan adalah literature review dan data yang digunakan berasal dari Google Schoolar, PubMed, dan Science Direct. Hasil dari review sepuluh jurnal menunjukkan bahwa adanya pengaruh penyakit penyerta seperti kardiovaskular, autoimun, infeksi virus, acute liver injury, kanker dan asma terhadap toksisitas obat metamizole. Pengaruh ini sering kali diperberat oleh interaksi obat seperti obat aspirin, antibiotik, antikonvulsan, dan cDMARD (methotrexate). Kesimpulan review ini adalah adanya pengaruh penyakit penyerta terhadap toksisitas obat metamizole. Penyakit penyerta tersebut antara lain adalah kardiovaskular yang dapat menyebabkan MACCE (P<0,001), autoimun yang dapat meningkatkan resiko agranulositosis dengan OR 2,28 (CI 95%: 1,294,04), infeksi virus, acute liver injury, kanker dan asma. Kata Kunci: Penyakit Penyerta, Toksisitas, Metamizole, Interaksi Obat, Efek Samping Obat Metamizole is a drug that has analgesic, antipyretic, and spasmolytic effects. Metamizole is known to have a toxicity that is influenced by comorbidities, dosage, and drug interactions. This is one of the backgrounds for researchers to discuss further regarding the effect of co-morbidities on metamizole toxicity. This study aims to examine the effect of comorbidities on the toxicity of the metamizole. The research design used was a literature review and the data used came from Google Schoolar, PubMed, and Science Direct. The results of a review of ten journals showed that there was an influence of comorbidities such as cardiovascular, autoimmune, viral infections, acute liver injury, cancer, and asthma on the toxicity of the metamizole. This effect is often exacerbated by drug interactions such as aspirin, antibiotics, anticonvulsants, and cDMARD (methotrexate). The conclusion of this study is that there is an effect of comorbidities on the toxicity of the metamizole. These comorbidities include cardiovascular disease that can cause MACCE (P < 0.001), autoimmune which can increase the risk of agranulocytosis with an OR of 2.28 (95% CI: 1.29 4.04), viral infections, acute liver injury, cancer and asthma.
Penurunan Produksi Reactive Oxygen Species (ROS) Fibroblas dengan Nano Kitosan Kumbang Tanduk (Xylotrupes gideon) Komariah Komariah; Cynthia Priscilla; Rahman Wahyudi; Pretty Trisfilha; Didi Nugroho
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.15006

Abstract

Fibroblas berperan dalam proses penyembuhan luka dengan pembentukan pembuluh darah, penggerakan serta proliferasi, deposit matriks ekstraseluler dan remodeling jaringan. Pada penyembuhan luka, netrofil dan makrofag akan mengalami peningkatan penggunaan oksigen sehingga memproduksi ROS, peningkatan produk ini akan menyebabkan stres oksidatif pada fibroblas yang akan mempengaruhi proses migrasi dan proliferasi selama proses penyembuhan luka. Kandungan gugus amino (-NH2) dan gugus hidroksil (-OH) pada nano kitosan mampu mengurangi stres oksidatif  fibroblas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan nano kitosan X. gideon dalam menurunkan produksi ROS fibroblas. Penelitian terbagi menjadi enam kelompok terdiri dari kontrol negatif (H2O2), kontrol pembanding, kontrol asam askorbat, nano kitosan konsentrasi 200, 400, dan 600 µg/mL. Produksi ROS dilihat menggunakan probe 2′,7′-Dichlorodihydrofluorescein diacetate (H2DCF-DA). Produksi fibroblas diperlihatkan dengan intensitas fibroblas terflouresen hijau dihitung menggunakan software image J. Rerata produksi ROS pada kelompok nano kitosan 200, 400, dan 600 µg/mL berbeda signifikan dengan kontrol negatif (p<0,05), sedangkan yang diberikan asam askorbat tidak  signifikan (p>0,05) dengan perlakuan 200 dan 600 µg/mL, namun signifikan dengan nano kitosan 400 µg/mL. Nano kitosan X. gideon mampu menurunkan produksi ROS fibroblas pada konsentrasi 400 µg/mL. Kata Kunci: Nano Kitosan, X. gideon, ROS, Fibroblas, Fluoresen  Fibroblasts play a role in wound healing by forming blood vessels, mobilizing and proliferation, depositing extracellular matrix and tissue remodelling. In wound healing, neutrophils and macrophages will experience an increase in oxygen use, resulting in ROS production. An increase in these products will cause oxidative stress in fibroblasts, affecting the migration and proliferation processes during the wound healing process. The content of amino groups (-NH2) and hydroxyl groups (-OH) in nano chitosan can reduce fibroblast oxidative stress. This study aimed to determine the ability of X. gideon nano chitosan to reduce fibroblast ROS production. The study was divided into six groups: negative control (H2O2), control control, ascorbic acid control, and nano chitosan concentrations of 200, 400 and 600 µg/mL. ROS production observes using the 2′,7′-Dichlorodihydrofluorescein diacetate (H2DCF-DA) probe. The intensity of greenfluorescent fibroblasts calculated using Image J software showed the production of fibroblasts. The mean ROS production in the 200, 400, and 600 µg/mL nano-chitosan groups was significantly different from the negative control (p<0.05), whereas those given ascorbic acid were insignificant. (p>0.05) with 200 and 600 µg/mL treatments, but significant with 400 µg/mL nano chitosan. X. gideon nano chitosan reduced fibroblast ROS production at 400 µg/mL concentration.
Isolasi Fungi Tanah Muara Sungai Desa Kalinaun Sulawesi Utara serta Skrining Antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa Muhammad Habiburrohman; Nafa Rosyida Zanuba; Muhammad Zainul Arifin; Saeful Akhmad Tauladani; Gani Asri Muharam; Asia Asia; Dwi Koko Pratoko; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.13825

Abstract

Penyakit infeksi merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan mortalitas dan morbiditas di dunia yang dapat diterapi menggunakan antibotik. Adanya resistensi dapat mengancam efektivitas antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kandidat antibiotik yang bersumber dari fungi tanah muara yang diuji aktivitasnya terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Ekosistem tanah muara  mangrove memiliki kondisi ekstrem sehingga menuntut mikroorganisme untuk bertahan hidup dengan memproduksi senyawa antibiotik untuk bersaing dengan mikroorganisme lain. Sampel tanah diambil dari Muara Sungai Desa Kalinaun, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Sampel tanah yang didapat sebanyak empat isolat fungi berpotensi dalam menghambat bakteri uji, yaitu IS2-BTG11-1-1, IS2-BTG11-2-1, IS2-BTG11-2-2, IS2-BTG11-2-3. Keempat isolat tersebut dilakukan fermentasi selama 14 hari lalu diekstraksi dengan pelarut etil asetat. Setelah didapatkan ekstrak etil asetat, dilakukan skrining fitokimia dan didapatkan hasil bahwa keempat ekstrak mengandung senyawa golongan terpenoid. Setelah dilakukan skrining fitokimia, dilakukan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode mikrodilusi. Uji mikrodilusi dilakukan dengan konsentrasi tunggal 50 µg/mL. Berdasarkan uji mikrodilusi, keempat ekstrak fungi tanah muara memberikan aktivitas penghambatan berturut-turut dari terbesar ke terkecil : IS2-BTG11-2-3 (50,9% ± 7,6); IS2-BTG11-2-1 (49,8% ± 13,5); IS2-BTG11-1-1 (34,4% ± 2,4); IS2-BTG11-2-2 (37,2% ± 7,7). Pada penelitian ini senyawa yang berperan sebagai antibakteri belum bisa dipastikan, sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut. Kata Kunci: Antibakteri, Pseudomonas aeruginosa, Fungi Tanah Muara, Mikrodilusi, Desa Kalinaun  Infectious diseases are one of the leading causes of mortality and morbidity in the world that  can be treated with antibiotics. The existence of resistance can threaten the effectiveness of antibiotics. This study aims to find new antibiotic candidates from fungi in estuary soils and tested the activity against Pseudomonas aeruginosa bacteria. Estuary soil ecosystems have extreme conditions that require microorganisms to be able to survive Soil samples were taken from the Estuary of the Kalinaun Village, East Likupang District, North Minahasa Regency, North Sulawesi Province. Soil samples obtained were 4 isolates of fungi that had the potential bacteria inhibition, namely IS2-BTG11-1-1, IS2-BTG11-2-1, IS2-BTG11-2-2, IS2-BTG11-2-3. Four isolates were fermented for 14 days and extracted with ethyl acetate solvent. Phytochemical screening of the extract was carried out and the results showed that the four extracts contained terpenoid compounds. Antibacterial activity was tested using the microdilution methods with a single concentration of 50 µg/mL. Based on the microdilution test, four estuary soil fungal extracts gave inhibitory activity from the largest to the smallest: IS2-BTG11-2-3 (50.9% ± 7.6); IS2-BTG11-2-1 (49.8% ± 13.5); IS2-BTG11-1-1 (34.4% ± 2.4); IS2-BTG11-2-2 (37.2% ± 7.7). In this study, the compound that acts as an antibacterial has not been determined, so it requires further research.
Evaluasi Tingkat Kepatuhan Konsumsi Obat pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan di Rumah Sakit Dewi Sri Karawang Menggunakan Metode MMAS-8 Tsani Arsy Mura; Indah Laily Hilmi; Salman Salman
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14075

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu problematika di bidang kesehatan di seluruh dunia dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Tingkat kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di Jawa Barat sebanyak 55,12% rutin minum obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan pasien hipertensi dalam mengkonsumsi obat antihipertensi di rumah sakit Dewi Sri Karawang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik sampling purposive sampling dengan pendekatan prospektif. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dewi Sri Karawang dalam jangka waktu Februari – April 2022. Pada penelitian ini diperoleh hasil 137 sampel pasien hipertensi dengan  tiga kategori kepatuhan konsumsi obat anti hipertensi. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 90 pasien. Karakteristik pasien yang terlibat dalam penelitian ini cenderung wanita sebanyak 54%, usia 41-50 tahun sebanyak 46,0%, dan pekerjaannya sebagai karyawan sebanyak 35%. Tingkat kepatuhan penggunaan obatnya beragam, di mana 90 pasien (65,7%) berada pada tingkat kepatuhan sedang, 40 pasien (29,2%) pada tingkat kepatuhan rendah, dan 7 pasien (5,1%) pada tingkat kepatuhan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Dewi Sri Karawang berada di kategori kepatuhan sedang. Kata Kunci: Konsumsi Obat, Hipertensi, MMAS-8, Tingkat Kepatuhan, Kardiovaskular Hypertension is a health problem worldwide and is a major risk factor for cardiovascular disease. The prevalence of hypertension continues to increase, it is estimated that people with hypertension in 2025 will reach 29% of the number of adults worldwide. In West Java, hypertension sufferers reached 39.60%, which is the province with the second largest percentage of hypertension cases, with a compliance rate of 55.12% of patients taking the medication regularly. While in Karawang itself, based on data obtained from the West Java Health Office, the number of people with hypertension for ages over 15 years in 2019 reached 606,946 people. The purpose of this study was to evaluate the compliance level of hypertensive patients in consuming antihypertensive drugs at Dewi Sri Hospital, Karawang. This study uses a descriptive-analytic method with a prospective purposive sampling technique. This research was conducted at Dewi Sri Karawang Hospital in the period from February to April 2022. In this study, the results of 137 samples of hypertensive patients were found in three categories of adherence to antihypertensive drug consumption. A total of 90 patients (65.7%) had moderate adherence, 40 (29.2%) had low adherence, and 7 patients (5.1%) had high adherence. Based on the results of the study, it can be concluded that patients at Dewi Sri Karawang Hospital are in the category of moderate compliance.
Gambaran Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak Tahun 2020 Muhammad Akib Yuswar; Nera Umilia Purwanti; Umi Khairiyah
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14041

Abstract

Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah di atas ambang batas normal yaitu 120/80 mmHg. Penggunaan obat yang rasional merupakan langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan rasionalitas dan distribusi pola penggunaan obat pada pasien hipertensi tanpa dan dengan penyakit penyerta di instalasi rawat jalan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak berdasarkan kriteria tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat pasien. Metode yang digunakan adalah metode observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui penelusuran data rekam medis dan data resep pasien periode Januari- Desember 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi paling banyak berusia 56-65 tahun (41,24%), jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan (51,55%), tekanan darah paling banyak yang diderita adalah hipertensi stage 2 (63,23%) dan pasien hipertensi paling banyak menderita hipertensi dengan penyakit penyerta (75,74%). Hasil analisis rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi tanpa penyakit penyerta berdasarkan tepat indikasi sebanyak 93,94%, tepat obat sebanyak 72,73%, tepat dosis sebanyak 100%, serta tepat pasien sebanyak 100% dan dengan penyakit penyerta berdasarkan tepat indikasi sebanyak 100%, tepat obat sebanyak 80,58%, tepat dosis sebanyak 100%, dan tepat pasien sebanyak 42,72%. Distribusi pola penggunaan obat antihipertensi yang paling sering digunakan dalam pengobatan hipertensi adalah amlodipin. Kata Kunci: Hipertensi, Amlodipin, Evaluasi, Penyakit Penyerta, Pola Penggunaan Hypertension is a condition where there is an increase in blood pressure above the normal threshold of 120/80 mmHg. Rational use of drugs is a step to get good health services. The purpose of this study was to describe the rationality and distribution of drug use patterns in hypertensive patients without and with comorbidities in the outpatient installation of RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie in Pontianak based on the criteria for the right indication, the right drug, the right dose, and the right patient. The method used is descriptive observational method with a cross sectional design. Data collection was carried out retrospectively through searching medical record data and patient prescription data for the period January-December 2020. The results showed that the majority of hypertensive patients were aged 56-65 years (41.24%), the most gender was female (51.55%), the highest blood pressure suffered was stage 2 hypertension (63.23%) and hypertension patients suffered the most from hypertension with comorbidities (75.74%). The results show the rationality of the use of antihypertensive drugs in hypertensive patients without comorbidities based on the right indication by 93.94%, the right drug by 72.73%, the right dose by 100%, and the right patient by 100% and with comorbidities based on the right indication by 100%, the right drug by 80.58%, the right dose by 100%, and the right patient by 42.72%. The distribution of the pattern of use of the most commonly used antihypertensive drug  is amlodipine.
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pengobatan Antiretroviral pada Pasien HIV/AIDS Ririen Hardani; Amelia Rumi; Afriani Kusumawati; Adelisa Putri; Nurul Ambianti
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14610

Abstract

Terwujudnya terapi pengobatan yang efektif tergantung dari kepatuhan seseorang meminum obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan pengaruh faktor pengetahuan, pemberian konseling dan ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian analitik yang dikerjakan secara cross-sectional dengan menggunakan kuisioner faktor yang mempengaruhi kepatuhan dan kuisioner kepatuhan MARS (Medication Adherence Rating Scale) pada pasien HIV/AIDS yang mengonsumsi obat antiretroviral dengan analisis data menggunakan uji Chi-square dengan nilai signifikan p<0,05. Dari hasil penelitian jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 92 pasien, 20 pasien memiliki kepatuhan rendah, 15 pasien memiliki kepatuhan sedang dan 57 pasien memiliki kepatuhan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada faktor yang mempengaruhi kepatuhan yaitu pengetahuan dengan nilai signifikan (p=0,001), pemberian konseling dengan nilai signifikan (p=0,000) dan ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan dengan nilai signifikan (p=0,002) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor pengetahuan, pemberian konseling dan ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan memiliki pengaruh terhadap kepatuhan pengobatan pasien HIV/AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS, Antiretroviral, Kepatuhan, MARS, Pengobatan  The realization of effective treatment theraphy depends on a person’s adherence to taking medication. The purpose of this study was to determine the effect of knowledge, counseling and availability of health facilities and facilities on antiretroviral treatment adherence in HIV/AIDS patients. The method in this study used an analytic study that was carried out in a cross-sectional manner using a questionnaire on factors that affect adherence and the MARS (Medication Adherence Rating Scale) adherence questionnaire in HIV/AIDS patients taking antiretroviral drugs with data analysis using the Chi-squere test with a significant value. p<0.05. From the results of the study with a total sample of 92 patients, 20 patients had low adherence, 15 patients had moderate adherence and 57 patients had high adherence. The results showed that the factors that influenced adherence, namely knowledge with a significant value (p=0.001), counseling with a significant value (p=0.000) and the availability of health facilities and facilities with a significant value (p=0.002) had a significant relationship. to compliance. So it can be concluded that the factors of knowledge, counseling and availability of health facilities and facilities have an influence on adherence to treatment of HIV/AIDS patients.
Studi Fitokimia Jamur Endofit Tumbuhan Seluang Belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz) Asal Kabupaten Tabalong Kalsel Nashrul Wathan; Pratika Viogenta; Jehan Azizah; Fery Ramadhan; Sindwi Rinanda Sari
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14317

Abstract

Seluang belum adalah tumbuhan asal Kalimantan yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai afrodisiaka karena memiliki metabolit sekunder yang bervariasi. Endofit adalah mikroba yang hidup di dalam jaringan tumbuhan dan mampu menghasilkan metabolit sekunder yang serupa dengan inangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan isolat jamur endofit dari akar Seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz.) dan melakukan skrining fitokimia senyawa yang dikandungnya. Proses penumbuhan isolat jamur endofit dari akar seluang belum (L. sarmentosa) dilakukan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) hingga didapatkan isolat terpisah. Jamur endofit murni yang dihasilkan kemudian diamati identitasnya secara makroskopik dan mikroskopik. Jamur endofit hasil isolasi lalu dibiakkan dalam media Potato Dextrose Broth (PDB), senyawa bioaktif yang terkandung lalu diekstraksi menggunakan etil asetat dan dilanjutkan identifikasi senyawa fitokimianya. Penelitian ini mendapatkan 6 isolat endofit yang diidentifikasi sebagai Rhizoctonia solani, Corynespora citricola Ellis, Arthrobotrys oligospora Fresenius, Alternaria Nees:Fr., Phytophthora capsici dan Tripospermum Speg. Kandungan senyawa fitokimia yang diskrining dari ekstrak etil asetat keenam jamur endofit hasilnya beberapa isolat positif mengandung golongan senyawa fenolik, flavonoid, steroid, dan terpenoid. Kata Kunci: Saluang Bilung, lavanga sarmentosa, Fungi Endofit, Herba Kalimantan, Suku Dayak   Seluang belum. is a plant from Kalimantan which commonly believes by local people as an aphrodisiac because it has various secondary metabolites. Endophytes are microbes that live in plant tissues and are able to produce secondary metabolites similar to their host. The purpose of this study is to isolating the endophytic fungus from Seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz) root and to perform phytochemical screening of its metabolites. Endophytic fungi isolated from seluang belum roots then grown in PDA (Potato Dextrose Agar) media until obtained separate isolates. The obtained fungal isolates then identified macroscopically and microscopically to determine their identity. The isolated fungi then fermented in PDB (Potato Dextrose Broth) media, the secondary metabolites then extracted with ethyl acetate and identified its phytochemicals. The results showed that 6 endophytic isolates were identified as Rhizoctonia solani, Corynespora citricola Ellis, Arthrobotrys oligospora Fresenius, Alternaria Nees:Fr., Phytophthora capsici and Tripospermum Speg. The phytochemical content that screened from the ethyl acetate extract of 6 endophytic fungi was resulting some positive containing groups of phenolic compounds, flavonoids, steroids, and terpenoids.
Aktivitas Minyak Atsiri Bunga Lili (Lilium auratum) terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa Saftia Aryzki; Dwi Rizki Febrianti
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.13837

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa menjadi salah satu penyebab penyakit nosokomial. Potensi bahan alam seperti bunga lili belum banyak digali, komponen minyak atsiri bunga lili memiliki kandungan benzaldehid, linalol, simen, borneol dan osimen yang dapat bereaksi dengan komponen dinding sel bakteri yang menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui potensi minyak atsiri bunga lili (Lilium auratum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan seri konsentrasi 12 μL, 25 μL, 50 μL menggunakan metode sumuran. Hasil uji didapatkan minyak atsiri bunga lili mampu menghambat bakteri dengan rata-rata zona hambat pada masing-masing minyak atsiri pada 12 µl sebesar 3,025 mm dengan kategori aktivitas rendah pada volume 25 µl sebesar 8,675 mm dengan kategori aktivitas sedang, dan pada volume 50 µl sebesar 13,018 mm dengan kategori kuat. Kata Kunci: Minyak Atsiri, Lilium auratum, Pseudomonas aeruginosa, Zona Hambat, Metode Sumuran Infections caused by the bacterium Pseudomonas aeruginosa are one of the causes of nosocomial diseases. The potential of natural materials such as lilies has not been explored much, the components of lili essential oil contain benzaldehyde, linalol, cement, borneol and osimen which can react with bacterial cell wall components causing damage to bacterial cell walls. The purpose of this study was to determine the potential of lili (Lilium auratum) essential oil in inhibiting the growth of Pseudomonas aeruginosa bacteria with a concentration series of 12 L, 25 L, 50 L using the disc method. The test results showed that lili essential oil was able to inhibit bacteria with an average inhibition zone of each essential oil at 12 l of 3.025 mm with a low activity category at a volume of 25 l of 8.675 mm with a moderate activity category, and a volume of 50 l of 13,018 mm with strong category. 
Formulasi Sediaan Lotion Ekstrak Etanol Buah Buncis (Phaseolus vulgaris L.) sebagai Pelembab Kulit Sudewi Sudewi; Salmah Handayani Lubis; Emuliana Kristina Br. Perangin-angin
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14441

Abstract

Pelembab merupakan kosmetika yang berperan untuk menghidrasi kulit. Buah buncis (Phaseolus vulgaris L.) mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, saponin, flavonoid, tanin dan vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula lotion ektrak etanol buah buncis (Phaseolus vulgaris L.) dan efeknya untuk melembabkan kulit serta melakukan uji iritasi sediaan tersebut pada kulit. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan  bahan uji buah buncis (Phaseolus vulgaris L.) yang diproses dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, diformulasikan kedalam sediaan lotion (1,5%; 2%; dan 2,5%) kemudian dilakukan uji mutu sediaan dan dibandingkan dengan sediaan yang ada dipasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah buncis (Phaseolus vulgaris L.) dalam bentuk ekstrak etanol dapat diformulasikan kedalam bentuk sediaan lotion, merupakan sediaan homogen dan stabil dengan tipe emulsi minyak dalam air (M/A), mempunyai rentang pH setelah dalam 12 hari (Cycling test) yaitu 5,8-6,1. Uji efektivitas kelembaban pada konsentrasi 2,5% (F3) merupakan sediaan terbaik yang memiliki kelembaban 44,72% termasuk kategori “lembab”. Uji kesukaan (Hedonic test) terhadap sukarelawan F2 (2%) dengan kategori “Suka” merupakan sediaan yang paling disukai. Seluruh sediaan lotion ekstrak etanol dari buah buncis (Phaseolus vulgaris L.) tidak  menimbulkan iritasi pada kulit. Kata Kunci: Buncis, Buah, Ekstrak Etanol, Pelembab Kulit, Lotion Abstract Moisturizer is a cosmetic that plays a role in hydrating the skin. Bean fruit (Phaseolus vulgaris L.) contains secondary metabolites in the form of alkaloids, saponins, flavonoids, tannins and vitamin C. This study aims to determine the bean fruit (Phaseolus vulgaris L.) in the form of ethanol extract can be formulated into lotion preparations at a certain concentration Moisturizing and non-irritating to the skin. The research was conducted by experimental method using the test material of chickpeas (Phaseolus vulgaris L.) which was processed by maceration using 96% ethanol solvent, formulated into lotion preparations (1.5%; 2%; and 2.5%) and then tested the quality. preparations and compared with preparations on the market. The results showed that the green beans (Phaseolus vulgaris L.) in the form of ethanol extract could be formulated into a lotion dosage form, was a homogeneous and stable preparation with an oil-in-water (W/A) emulsion type, had a pH range after 12 days (Cycling test). ) ie 5.8-6.1. The moisture effectiveness test at a concentration of 2.5% (F3) is the best preparation that has a humidity of 44.72% including the "moist" category. Hedonic test on F2 volunteers (2%) with the "Like" category is the most preferred preparation . All lotion preparations with ethanol extract from green beans (Phaseolus vulgaris L.) did not cause skin irritation.
Kesesuaian Penggunaan Obat di Puskesmas Rawat Inap Cempaka Banjarbaru Tahun 2019 Ditinjau dari Indikator Peresepan Menurut WHO Herningtyas Nautika Lingga; Oktaviani Nadia Aulia; Prima Happy Ratnapuri; Jingga Septiandy
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.15491

Abstract

Penggunaan obat rasional sangat penting dalam mendukung ketercapaian kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Ketidakrasionalan penggunaan obat berdampak buruk dan dapat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan obat di Puskesmas Rawat Inap Cempaka Banjarbaru dilihat dari indikator peresepan World Health Organization. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Sampel yang digunakan adalah resep pasien rawat jalan tahun 2019 sebanyak 195 sampel. Hasil dari penelitian ini secara berturut-turut yaitu rata-rata item obat perlembar resep 2,3; persentase peresepan antibiotik 21.02%; persentase penggunaan obat sesuai formularium 82,81%; persentase peresepan obat generik 89,50%; persentase peresepan sediaan injeksi 0%. Kesimpulannya terdapat 3 indikator yang sesuai dengan indikator WHO yaitu persentase peresepan obat generik, persentase persepan antibiotik dan persentase peresepan sediaan injeksi. Kata Kunci: Indikator Peresepan, Indikator WHO 1993, Penggunaan Obat, Puskesmas, Rasionalitas   Rational drug use is very important to achieve quality of life and better public welfare and provide benefits to society from an economic perspective. Irrational drugs use can raise a danger such as unwanted reaction. This study aimed to describe drugs use at Cempaka primary healthcare Banjarbaru based on  prescribing indicators by WHO. This study was observational with descriptive design. Data collection was conducted retrospectively. Sample of this study was outpatient prescription in 2019 as much as 195. Results of this study showed that average number of drugs per encounter was 2,3; percentage of antibiotics was 21,02%; percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 82,81%; percentage of using generic drugs was 89,50%, percentage of injection was 0%. In conclusion, 3 indicators were obtained in accordance with the WHO indicator, namely the percentage of using generic drugs, percentage of antibiotic and percentage of injection.