cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Uji Aktivitas Antioksidan pada Hidrosol Sereh Wangi (Cymbopogon nardus) Ester Dwi Antari; Umi Nafisah; Wanda Eka Rosita Dewi; Khoiril Muna
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15193

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang melindungi sel-sel dalam tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Antioksidan biasanya merupakan bagian dari flavonoid pada tumbuhan. Tanaman sereh wangi, menurut penelitian sebelumnya dinyatakan memiliki aktivitas antioksidan. Metode penyulingan uap biasanya digunakan untuk membuat minyak atsiri dan produk sampingan, seperti hidrosol, yang akan dihasilkan dari hasil destilasi uap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan hidrosol sereh wangi terhadap radikal bebas DPPH. Hidrosol di peroleh dari destilasi uap batang sereh wangi. Pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan menggunakan panjang gelombang maksimum 513,3 nm. Berdasarkan hasil perhitungan nilai aktivitas antioksidan, diperoleh aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dari hidrosol sereh wangi menunjukkan hasil rata-rata nilai IC50 yaitu 9,322 ± 1,63. Nilai ini menunjukkan hidrosol sereh wangi tergolong antioksidan yang sangat kuat (IC50<50 ppm). Kata Kunci: Antioksidan, Sereh Wangi, Hidrosol, DPPH, IC50  Antioxidants are compounds that protect cells in the body from damage caused by free radicals. Antioxidants are usually part of the flavonoids in plants. Citronella plants, according to previous research, have antioxidant activity. The steam distillation method is usually used to prepare essential oils and by-products, such as hydrosols, which are produced by steam distillation. This study aimed to determine the antioxidant activity of citronella hydrosol against DPPH free radicals. Hydrosol is obtained from the steam distillation of citronella stems. Measurement of antioxidant activity using the DPPH method using a maximum wavelength of 513.3 nm. Based on the results of calculating the value of antioxidant activity, the antioxidant activity of DPPH citronella hydrosol obtained showed an average IC50 value of 9.322 ± 1.63. This value indicates that citronella hydrosol is classified as a very strong antioxidant (IC50<50 ppm).
Pengaruh Masa Inkubasi Bakteri Propionibacterium acnes terhadap Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Umbi Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) Didik Rio Pambudi; Fitriyanti Fitriyanti; Siti Kholilah; Wahyudin Bin Jamalludin; M. Andi Chandra
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15531

Abstract

Masa inkubasi bakteri berbeda-beda tergantung jenis bakteri yang digunakan. Propionibacterium acnes (P.acnes) merupakan bakteri gram positif dengan masa inkubasi 24 jam dan 48 jam. Penetilian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari masa inkubasi P. acnes terhadap aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% umbi bawang dayak (E. palmifolia (L.) Merr.). Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran dengan 5 variasi konsentrasi yaitu 20%, 25%, 30%, 35%, 40% dengan kontrol positif yang digunakan adalah Doksisiklin 30 µg/disk dan Na-CMC 0,5% sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian ekstrak etanol 96% umbi bawang dayak (E. americana Merr.) terhadap bakteri P. acnes diperoleh zona hambat berturut-turut 8,21±1,092; 6,89±1,160; 5,74±1,992; 8,71±2,392 dan 10,12±1,840 untuk 24 jam dan9,5±1,586; 8,912±1,888; 8,575±3,035; 9,6±1,810 dan 11,575±1,694 untuk 48 jam. Hasil menunjukkan masa inkubasi bakteri P.acnes berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 96% umbi bawang dayak (E. americana Merr.). Kata Kunci: Bawang Dayak, 24 Jam, 48 Jam, Zona Hambat, Metode Sumuran The incubation time for bacteria varies depending on the type of bacteria used. Propionibacterium acnes (P.acnes) is a gram-positive bacterium with an incubation period of 24 hours and 48 hours. This study aims to determine the effect of the incubation period of P. acnes on the antibacterial activity of the 96% ethanol extract of Dayak onion (E. palmifolia (L.) Merr.) bulbs. Antibacterial activity testing used the well-diffusion method with 5 concentration variations, namely 20%, 25%, 30%, 35%, and 40% with the positive control used being Doxycycline 30 µg/disk and 0.5% Na-CMC as a negative control. The results of the 96% ethanol extract of Dayak onion (E. americana Merr.) bulbs against P. acnes bacteria obtained inhibition zones of 8.21 ± 1.092; 6.89±1.160; 5.74±1.992; 8.71 ± 2.392 and 10.12 ± 1.840 for 24 hours and 9.5 ± 1.586; 8,912±1,888; 8.575±3.035; 9.6±1.810 and 11.575±1.694 for 48 hours. The results showed that the length of incubation time for P.acnes bacteria affected the antibacterial activity of the 96% ethanol extract of Dayak onion (E. americana Merr.) bulbs.
Swamedikasi di Apotek MK: Studi Kepuasan Konsumen Estu Varesya Maulina; Diah Ratnasari; Norainny Yunitasari
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15107

Abstract

Pada pelayanan swamedikasi, Apotek MK sebagai tempat pelayanan kefarmasian harus benar-benar memberikan pelayanan yang maksimal atas kebutuhan dan keluhan yang dirasakan pasien demi mewujudkan kesembuhan pasien. Kualitas pelayanan akan mempengaruhi kepercayaan dan loyalitas pasien kepada apotek tersebut. Dalam rangka untuk menjaga kualitas pelayanan di Apotek MK, perlu dilakukannya penelitian terkait kepuasan konsumen, khususnya mengenai pelayanan swamedikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei, dengan analisis data yaitu deskriptif kuantitatif. Data penelitian berupa data primer dari hasil penyebaran kuesioner kepada konsumen di Apotek MK. Purposive sampling dipilih sebagai teknik dalam penentuan sampel. Berdasarkan studi yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari dimensi kehandalan dikategorikan sangat puas (85,56%), dimensi ketanggapan dikategorikan sangat puas (83,28%), dimensi jaminan dikategorikan sangat puas (77,42%), dimensi empati dikategorikan sangat puas (80,44%) dan dimensi bukti fisik dikategorikan sangat puas (82,17%). Rerata dari kepuasan konsumen terhadap kelima dimensi tersebut adalah sebesar (81,77%) atau dikategorikan sangat puas terhadap swamedikasi di Apotek MK. Hal ini didukung oleh data lain terkait loyalitas konsumen yaitu mayoritas kunjungan konsumen swamedikasi di Apotek MK adalah antara 2 sampai 3 kali dan disusul lebih dari 3 kali. Kata Kunci: Survei Kepuasan, Pelayanan Kefarmasian, Pelayanan Non-resep, Metode Servqual, Purposive SamplingIn self-medication services, MK Pharmacy as a place for pharmaceutical services must really provide maximum service for the needs and complaints felt by patients in order to realize their recovery.  The quality of service will affect the trust and loyalty of patients to the pharmacy.  To maintain the quality of service at the MK Pharmacy, it is necessary to conduct research related to consumer satisfaction, especially regarding self-medication services.  The research method used is survey, with data analysis that is descriptive quantitative.  Research data in the form of primary data from the results of distributing questionnaires to consumers at MK Pharmacy.  Purposive sampling was chosen as a technique in determining the sample.  Based on the studies that have been done, it can be concluded that the reliability dimension is categorized as very satisfied (85,56%), the responsiveness dimension is categorized as very satisfied (83,28%), the assurance dimension is categorized as very satisfied (77,42%), the empathy dimension is categorized as very satisfied (80,44%), and the dimension of physical evidence is categorized as very satisfied (82,17%).  The mean of consumer satisfaction with the five dimensions is (81,77%) or categorized as very satisfied with self-medication at the MK Pharmacy. This is supported by other data related to consumer loyalty, namely the majority of self-medication consumer visits at the MK Pharmacy are between 2 to 3 times, followed by more than 3 times.
Uji Sun Protection Factor (SPF) Ekstrak Etanol Daun Mitragyna speciosa Korth. Normaidah Normaidah; Maulidya Najahidin; Maslia Rahmah; Fadlilaturrahmah Fadlilaturrahmah; Hayatun Izma
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.17038

Abstract

Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) merupakan tanaman tropis yang memiliki kemampuan melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas tabir surya ekstrak etanol daun M. speciosa kuantitatif menggunakan spektrometri UV-Vis. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Kandungan metabolit sekunder secara kualitatif dilakukan menggunakan skrining fitokimia. Aktivitas tabir surya diuji menggunakan lambda 290-320 nm dengan interval 5 nm. Ekstrak etanol daun M. speciosa diperoleh sebesar 86,09 gram (17,218%) dan pada konsentrasi 250 ppm menunjukkan adanya aktivitas tabir surya dengan nilai SPF sebesar 8,433. Daun kratom asal Kalimantan Selatan berpotensi sebagai produk kosmetik tabir surya. Kata Kunci: Kratom, Spektrofotometri UV-Vis, Tabir Surya, Flavonoid Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) is a tropical plant that has the ability to protect the skin from sun exposure due to the presence of flavonoids. The purpose of this study was to determine the sunscreen activity of the M. speciosa leaves ethanolic extract, quantitatively by UV-Vis spectrometry. Extraction was carried out by maceration method in 96% ethanol. The content of secondary metabolites were qualitatively determined using the phytochemistry screening study. The sunscreen activity was tested using 290-320 nm (5 nm intervals). The ethanol extract of M. speciosa leaves was obtained by 86.09 grams (17.218%) and with a concentration of 250 ppm showed sunscreen activity with an SPF value of 8.433. Kratom leaves from South Kalimantan have potential as a sunscreen.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Swartz) dalam Sediaan Gel Antibakteri terhadap Aktivitas Staphylococcus aureus Muzayyidah Muzayyidah; Muhammad Yusuf; Nurfiddin Farid; Jangga Jangga; Wira Anugrah
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15341

Abstract

Daun labu siam (Sechium edule (Jacq.) Swartz) telah diidentifikasi mengandung flavonoid, tannin, dan saponin yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri formula sediaan gel ekstrak etanol daun labu siam dan pengaruh variasi konsentrasi ekstrak terhadap aktivitas tersebut pada Staphylococcus aureus. Formulasi sediaan gel ekstrak etanol daun labu siam dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak 10% (F1), 15% (F2), dan 20% (F3) dengan kontrol positif sediaan gel Klindamisin. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus menggunakan metode sumuran dan pengamatan dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat. Hasil pengujian menunjukkan F1 memiliki rata-rata diameter zona hambat sebesar 13,2 mm, F2 memiliki diameter zona hambat 15,4 mm, dan F3 memiliki diameter zona hambat 18,6 mm. Analisis data dengan uji One Way ANOVA menunjukkan adanya peningkatan diameter zona hambat yang signifikan setiap penambahan konsentrasi ekstrak daun labu siam dalam sediaan gel (p<0.05). Kata Kunci: Labu Siam, Gel Antibakteri, Metode Sumuran, Staphylococcus aureus, Zona Hambat Siamase Pumpkin Leaves (Sechium edule (Jacq.) Swartz) have been identified as containing flavonoids, tannins, and saponin potential as antibacterial agents. This study aims to determine the antibacterial activity of the etanol extract gel formulation of siamase pumpkin leaves and the effect of varying concentrations of the extract in Staphylococcus aureus activity. The formulation of siamase pumpkin leaves ethanol extract gel prepared using various extract concentration of 10% (F1), 15% (F2), and 20% (F3) with a positive control of clindamycin gel. Antibacterial activity against Staphylococcus aureus was tested using the well method and observations by measuring the inhibition zone. The results showed that F1 had an average inhibition zone of 13,2 mm, F2 had an inhibition zone of 15,4 mm, and F3 had an inhibition zone of 18,6 mm. Data analysis using the Oneway ANOVA test showed that there was an effect of the concentration of the ethanol extract of siamase pumpkin leaves in the gel preparation on antibacterial activity (p<0,05). In addition, of the three gel formulations, F3 showed the best antibacterial activity against Staphylococcus aureus with a strong category of inhibition zone.
Determination of SPF Value and Total Tannin in Ethyl Acetate Fraction of Peronema canescens Jack Amalia Khairunnisa; Fadlilaturrahmah Fadlilaturrahmah; Septiany Septiany
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.16484

Abstract

Daun Sungkai (Peronema canescens Jack) mengandung metabolit sekunder antara lain tannin, alkaloid, terpenoid, steroid, dan flavonoid. P. canescens merupakan tanaman asli Kalimantan Selatan yang berpotensi sebagai perawatan kulit alami berdasarkarkan kandungan tannin yang memiliki aktivitas antioksidan sehingga dapat dikembangkan sebagai produk tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai SPF dan tannin total fraksi etil asetat daun Sungkai (P. canescens) menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Metode ekstraksi dilakukan dengan maserasi menggunakan etanol 96% dan penggunaan fraksi n-heksana dan etil asetat. Penentuan tanin total menggunakan standar katekin dengan konsentrasi 40,60, 80, 100 dan 120 ppm. Hasil kadar tannin total sebesar 0,5586% ±0.01516 ekivalen katekin dan nilai SPF sebesar 5.703±0.021. Dengan demikian dapat disimpulkan daun Sungkai (Peronema canescens Jack) dapat dikembangkan sebagai tabir surya alami.  Kata Kunci: Daun Sungkai, Tabir Surya, Tannin Total, UV-Vis, SPF  Sungkai leaves (Peronema canescens Jack). contains secondary metabolites i.e tannins, alkaloids, terpenoids, steroids, and flavonoids. P. canescens, natural plant from South Kalimantan, has potential benefits as natural skincare based on tannin which contains antioxidant activity that can be developed as a sunscreen product. This study aimed to determine the sun protection factor (SPF) and total tannin ethyl acetate fraction of sungkai leaves (P. canescens) using UV-vis spectrophotometry. The extraction method was maceration with 96% ethanol and the fraction used n-hexane and ethyl acetate. The determination of total tannin with catechin standards concentration 40,60,80, 100 and 120 ppm. The result of total tannin was 0.5586% ±0.01516 catechin equivalents and the SPF value was 5.703±0.021. The conclusion of the research is that Peronema canescens Jack can be developed into natural sunscreen. 
Studi Tumbuhan Obat Tradisional Berkhasiat Antidiabetes di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah Syariful Anam; Ni Luh Yeni Safitri; Muhamad Rinaldhi Tandah; Khusnul Diana
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.14229

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit degeneratif dengan karakteristik khas berupa kadar gula darah melebihi angka normal. Data tahun 2019 menunjukkan angka penderita DM di Kabupaten Parigi Moutong sebesar 33.873 jiwa. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan data jenis, bagian dan cara penggunaan tumbuhan obat tradisional untuk pengobatan DM oleh masyarakat di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong. Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling dalam periode bulan Oktober 2021-Mei 2022. Hasil penelitian diperoleh 22 spesies tumbuhan obat yang terdiri dari 17 famili. Persentase bagian tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan antidiabetes, yaitu daun 73,01%, kulit batang 11,11%, buah 6,34%, rimpang 4,76%, dan tumbuhan utuh 4,76%. Persentase cara pengolahan tumbuhan obat yang digunakan yaitu direbus 71,88%, diseduh 9,38%, diparut 6,25%, ditumbuk/dilumat 6,25%, dan diremas 6,25%. Studi ini menunjukkan bahwa tumbuhan yang paling banyak digunakan untuk pengobatan antidiabetes yaitu kersen (11,4%), kelor (11,4%) dan kayu manis (11,4%) serta tumbuhan lain seperti klorofil (10%), sembung (5,7%), kunyit (5,7%), kumis kucing (5,7%), ciplukan (4,3%), insulin (4,3%), mahkota dewa (4,3%), sambiloto (4,3%), pinang (2,9%), salam (2,9%), belimbing wuluh (2,9%), sirih merah (2,9%), jarak pagar (1,4%), bengkuang (1,4%), meniran (1,4%), mengkudu (1,4%), brotowali (1,4%), beluntas (1,4%), dan dadap (1,4%). Kata Kunci: Etnofarmakologi, Diabetes Mellitus, Obat Tradisional, Jamu, Kecamatan Balinggi Diabetes mellitus (DM) is a degenerative disease with distinctive characteristics in the form of blood sugar levels that exceed expected levels. Data for 2019 show that the number of DM sufferers in the Parigi Moutong Regency is 33,873. This study aims to obtain data on the types, parts, and ways of using traditional medicinal plants to treat DM by the community in Balinggi District, Parigi Moutong Regency. This research was conducted using the purposive sampling method from October 2021-May 2022. The results obtained were 22 species of medicinal plants consisting of 17 families. The percentage of plant parts used for anti-diabetic treatment, namely leaves 73.01%, bark 11.11%, fruit 6.34%, rhizomes 4.76%, and whole plants 4.76%. The percentage of medicinal plant processing methods used was 71.88% boiled, 9.38% brewed, 6.25% grated, 6.25% crushed/crushed, and 6.25% crushed. This study shows that the plants most widely used for anti-diabetic treatment are kersen (11,4%), moringa (11,4%), and cinnamon (11,4%) other plants such as klorofil (10%), sembung (5,7%), turmeric (5,7%), kumis kucing (5,7%), ciplukan (4,3%), insulin (4,3%), mahkota dewa (4,3%), sambiloto (4,3%), areca nut (2,9%), salam (2,9%), carambola wuluh (2,9%), red betel (2,9%), jarak pagar (1,4%), bengkuang (1,4%), meniran (1,4%), noni (1,4%), brotowali (1,4%), beluntas (1,4%), dan dadap (1,4%).
Analisis Efektivitas Biaya Antihipertensi Amlodipin Tunggal dan Kombinasi pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Melitus Tipe II Rawat Jalan di Rumah Sakit di Kota Pontianak Dwi Wulan Anggraini; Nurmainah Nurmainah; Shoma Rizkifani
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.16014

Abstract

Penyakit hipertensi dengan diabetes melitus tipe II berisiko tinggi untuk berkembangnya penyakit kardiovaskular. Penyakit degeneratif ini membutuhkan pengobatan jangka panjang sehingga analisis efektivitas biaya perlu dilakukan untuk membantu dalam pemilihan obat yang efektif secara biaya maupun luaran klinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya penggunaan antihipertensi amlodipin tunggal dan kombinasi amlodipin-kandesartan melalui perhitungan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost per Unit of Effectiveness Ratio (ICER). Metode penelitian berupa penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Data dikumpulkan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medis dan klaim kuitansi pembayaran pasien hipertensi dengan diabetes melitus tipe II rawat jalan di rumah sakit di Kota Pontianak pada Januari hingga Desember 2021. Subyek penelitian ini sebanyak 34 subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik terbanyak terdapat pada usia ≥60 tahun (58,82%), jenis kelamin perempuan (55,88%), menggunakan antihipertensi amlodipin tunggal (61,76%), dan tekanan darah di hipertensi stage 1 (64,71%). Amlodipin tunggal memiliki efektivitas terapi lebih tinggi 28,57% dibandingkan kombinasi amlodipin-kandesartan (15,38%). Hasil nilai ACER amlodipin tunggal sebesar Rp90.155,93, sedangkan pada kombinasi amlodipin-kandesartan sebesar Rp358.932,05 serta nilai ICER yang sebesar (-)Rp223.246,40. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan antihipertensi yang memiliki biaya lebih efektif adalah amlodipin tunggal dibandingkan kombinasi amlodipin-kandesartan. Kata Kunci: Amlodipin, Amlodipin-Kandesartan, Diabetes Melitus Tipe II, Efektivitas Biaya, Hipertensi  Hypertension with diabetes mellitus type II is at high risk for the development of cardiovascular disease. This degenerative disease requires long-term treatment, so it is necessary to carry out a cost-effectiveness analysis in order to assist in the selection of drugs that are cost-effective and clinical outcomes. This study aimed to analyze the cost-effectiveness of using amlodipine monotherapy and the combination of amlodipine-candesartan through Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) and Incremental Cost per Unit of Effectiveness Ratio (ICER) calculations. This study method was an observational study with a cross-sectional research design. Data were collected retrospectively using medical records and claim receipts for payment of hypertensive patients with diabetes mellitus type II outpatient in a hospital in Pontianak City from January to December 2021. The subjects of this study were 34 subjects who have the inclusion and exclusion criteria. The results of the statistical study showed that the most common were aged ≥60 years (58.82%), female (55.88%), using the antihypertensive amlodipine monotherapy (61.76%), and blood pressure was in hypertension stage 1 (64.71%). Amlodipine monotherapy has a higher therapeutic effectiveness of 28.57% compared to the amlodipine-candesartan combination (15.38%). The results of the ACER of amlodipine monotherapy was Rp90,155.93, while for the amlodipine-candesartan combination it was Rp358,932.05 and the ICER value obtained was (-)Rp223,246.40. Based on the results of this study, it was concluded that amlodipine monotherapy is more cost-effective than the amlodipine-candesartan combination. 
Analisis Kadar Kafein pada Minuman Kopi Kekinian di Bekasi Timur dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Aprilia Lestari; Sari Defi Okzelia; Wahyuni Wahyuni
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.14605

Abstract

Jumlah coffee shops di Bekasi Timur terus bertambah karena meningkatnya minat masyarakat terhadap konsumsi kopi kekinian yang variasi menunya lebih beragam dan modern. Kopi mengandung senyawa kafein yang jumlah konsumsinya perlu diperhatikan. Menurut SNI 01-7152-2006 batasan maksimum kafein dalam minuman adalah 50 mg persajian. Jumlah kafein yang melebihi batas dapat menyebabkan insomnia, cemas, gelisah, panik, tremor, palpitasi, takikardia, aritmia dan hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kadar kafein pada minuman kopi kekinian di Bekasi Timur. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis kualitatif menggunakan reagen Parry dan analisis kuantitatif dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 272,7 nm. Penelitian pendahuluan dilakukan sebelum analisis kualitatif dan kuantitatif melalui kuesioner. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan SPSS. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa kopi susu gula aren merupakan varian menu kopi kekinian yang paling diminati dengan harga maksimal Rp25.000 dan intensitas konsumsi kopi sebanyak 1 gelas perhari. Hasil uji kualitatif dengan reagen Parry didapatkan bahwa 11 sampel yang diidentifikasi positif mengandung kafein. Hasil uji kuantitatif menunjukkan kadar kafein dengan kode A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, dan K secara berturut-turut adalah sebesar 42 mg, 38 mg, 39 mg, 61 mg, 32 mg, 45 mg, 53 mg, 36 mg, 44 mg, 18 mg dan 44 mg. Sebanyak 2 dari 11 sampel kopi kekinian di Bekasi Timur mengandung kafein melebihi batasan maksimum yang telah ditetapkan. Kata Kunci: Minuman Kopi Kekinian, Kopi Susu Gula Aren, Kafein, Spektrofotometri UV-Vis, Bekasi Timur The number of coffee shops in East Bekasi continues to increase in line with the increasing public interest in coffee consumption. Coffee contains caffeine, in which case the amount consumed needs attention. According to SNI 01-7152-2006, the maximum caffeine limit in drinks is 50 milligrams per serving. Excessive amounts of caffeine can cause insomnia, anxiety, panic, muscle pain, palpitation, tachycardia, arrhythmia, and hypertension. The aim of this study was to determine the caffeine levels in modern coffee beverages at East Bekasi. The qualitative and quantitative analysis were carried out using Parry reagent and UV-Vis spectrophotometry method at a wavelength of 272,7 nm, respectively. Preliminary study was conducted before qualitative and quantitative analysis using questionnaires. The data obtained were then analyzed using Microsoft Excel and SPSS. The results of preliminary study showed that palm sugar milk coffee was the most popular variant of modern coffee beverages with a maximum price of Rp. 25,000 and the intensity of coffee consumption was 1 cup per day. Qualitative analysis showed that all 11 samples contained caffeine. Quantitative analysis showed that caffeine levels of samples with codes of A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, and K were 42 mg, 38 mg, 39 mg, 61 mg, 32 mg, 45 mg, 53 mg, 36 mg, 44 mg, 18 mg, and 44 mg, respectively. 2 out of 11 modern coffee beverages samples analyzed in East Bekasi contained caffeine above maximum limit recommendation.
Formulasi dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Serum Wajah Ekstrak Daun Singkong (Manihot esculenta) dengan Variasi Konsentrasi Xanthan Gum Putri Alissa Setiawan; Dina Rahmawanty; Destria Indah Sari
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15214

Abstract

Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan kulit. Senyawa flavonoid dan vitamin C yang terkandung dalam daun singkong (Manihot esculenta) dapat berkhasiat sebagai antioksidan. Aktivitas dari radikal bebas dapat dicegah oleh senyawa antioksidan. Ekstrak daun singkong diformulasikan dalam sediaan serum wajah dengan menggunakan zat pengental xanthan gum. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisik apa saja yang dapat dipengaruhi oleh variasi konsentrasi xanthan gum dan menentukan pengaruh variasi konsentrasi xanthan gum terhadap sifat fisik sediaan serum ekstrak daun singkong. Variasi konsentrasi xanthan gum pada formula yaitu, formula 1 (0,5%), formula 2 (1%) dan formula 3 (2%). Hasil penelitian menunjukkan sediaan serum berwarna coklat kehitaman, memiliki aroma khas sakura, dan memiliki konsistensi kurang kental hingga kental, nilai pH antara 6,04-6,10, viskositas antara 650-3000 cPs, daya sebar antara 5,2-7 cm, dan daya lekat antara 1,22-3,80 detik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa variasi pada konsentrasi xanthan gum mempengaruhi hasil uji organoleptis, viskositas, daya sebar, dan daya lekat serum. Jumlah konsentrasi xanthan gum yang meningkat dapat menurunkan intensitas warna, meningkatkan konsistensi, meningkatkan nilai viskositas, menurunkan nilai daya sebar, dan meningkatkan waktu daya lekat sediaan. Kata Kunci: Antioksidan, Kosmetik Serum, Ekstrak Daun Singkong, Xanthan Gum, Sifat Fisik  Free radical can cause skin damage. Cassava leaves (Manihot esculenta) contain flavonoid and vitamin C which are efficacious as antioxidant. Antioxidant can prevent free radical activity. Cassava leaves extract was formulated into face serum dosage form using xanthan gum as thickening agent. This research aimed to determine the physical characteristics that are influenced by the xanthan gum concentration variations and to determine the effect of xanthan gum concentration variations on the physical characteristics of the cassava leaves extract serum. The use of xanthan gum concentration variations are formula 1 (0,5%), formula 2 (1%) and formula 3 (2%). The results showed that the serum had black to blackish-brown performance, characteristic smell of sakura, and less thick to thick consistency, pH value is between 6,04-6,10, viscosity between 650-3000 cPs, spreadability between 5,2-7 cm, and the adhesivity between 1,22-3,80 seconds. The conclusion of this research is that variations in the concentration of xanthan gum affected the organoleptic test, viscosity, spreadability, and adhesivity of serum. The greater xanthan gum concentration decreases color intensity, increases consistency, increases viscosity, decreases spreadability, and increases adhesivity of serum.