cover
Contact Name
Astrid Veranita Indah
Contact Email
astrid.veranita@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
darmawati.h@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar, Jl. Sultan Alauddin No. 63, Jl. St alauddin no.36 Gowa-Samata
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sulesana
Core Subject : Religion,
studi-studi keIslaman yang erat dengan issu sosial, teologi, hukum, Pendidikan dan filsafat. Studi ini dimulai dengan tema Kajian Kritis Akulturasi Islam dengan Budaya Local, Metode Memahami Maksud Syariah , Maulid Dan Natal (Studi Perbandingan Antara Islam Dan Kristen), Akal dalam Al-Quran, Pendidikan Agama Dan Moral Dalam Perspektif Global, Sinergitas Filsafat Dan Teologi Murthadha Muthahhari, Perspektif Perilaku Menyimpang Anak Remaja : Studi berbagai masalah social.
Articles 164 Documents
KECERDASAN INTELEKTUAL NABI MUHAMMAD SAW. DALAM PERSPEKTIF HADIS Fadhlina Arief Wangsa
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.15587

Abstract

Daniel Goleman (pakar psikolog ternama) yang menyatakan bahwa Intelligence Quotient / IQ (kecerdasan intelektual), adalah salah satu yang ikut menentukan kesuksesan seseorang, walaupun bukan yang dominan, karena di luar sana, masih ada kecerdasan-kecerdasan lainnya. Di sisi lain, penulis Michael H Hart dalam bukunya ‘The 100, A Ranking of the Most Influential Persons In History, menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai rangking pertama orang yang paling berpengaruh di dunia. Kesuksesan ini menjadi tanda tanya besar, mengingat Nabi Muhammad SAW. lahir kondisi sosial, politik, ekonomi di negara Arab yang buruk, kacau dan memprihatinkan. Bahkan, Nabi Muhammad dikenal sebagai seorang yang ummi, sebagaimana masyarakat Arab Quraish pada masa itu. Kata “ummi”, ditafsirkan oleh mayoritas mufassir, yaitu tidak bisa membaca dan menulis. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan membuktikan Intelligence Quotient (kecerdasan intelektual) Nabi Muhammad berdasarkan Hadis-hadis.Intelligence Quotient menurut Kecerdasan intelektual menurut Robbins adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental, berpikir, menalar dan memecahkan masalah.Sementara menurut Ree, Earles, & Teachout mengacu pada kemampuan individu untuk bertindak secara mental, seperti berpikir dan merenungkan. Kecerdasan intelektual diklasifikasikan ke dalam dua kategori: kemampuan kognitif umum dan kemampuan khusus. Umumnya, G-faktor yang dikenal sebagai kemampuan kognitif berarti, misalnya, kemampuan individu untuk berpikir dan ingat, sedangkan S-faktor adalah kemampuan khusus dari seorang individu.Jenis penelitian ini adalah librarly research, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis, menggunakan pendekatan ilmu Hadis, psikologi, dan sejarah. Peneliti dalam hal ini, telah membuktikan beberapa Hadisyang menjelaskan kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh Nabi SAW., seperti bagaimana Nabi SAW. menghafal ayat-ayat Allah dengan cara menghafalnya di dada, tidak dengan tulisan, yang membuktikan kekuatan hafalan dan ingatannya; bagaimana Nabi mempersaudarakan suku Aus dan Khazraj yang telah lama bermusuhan dan berperang satu sama lain, juga mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum Anshar di Medinah. Menunjukkan kecerdasan berfikir Nabi dalam menyelesaikan masalah-masalah besar; bagaimana Nabi berbicara kepada orang dengan menyesuaikan kemampuan akalnya, bagaimana Nabi berkomunikasi dengan jelas dan analogi-analogi yang logis dan sangat mudah  difahami, bagaimana Nabi menalar, dan berhitung dengan cepat dan tepat, kesemuanya menunjukkan indikator-indikator kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh Nabi.
GENEOLOGI DAN EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN IBNU KHALDUN Abdullah Thalib
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.16818

Abstract

Kawasan Maghrib yang menjadi tempat transit yang menghubungkan Eropa (Andalusia) dan Afrika Utara (kawasan Islam) telah berkembang menjadi transformasi keilmuan. Kondisi dan dinamika politik yang turut mempengaruhi peran kawasan Maghrib menjadi tempat tujuan ulama dan intelektual Islam dari Andalusia mencari tempat perlindungan. Ibnu Khaldun sosok intektual yang terlahir dari kawasan Maghrib memberikan pijakan secara teoritis terhadap keilmuan sosial kemasyarakatan dengan menganalisis data-data sejarah. Analisis Ibnu Khaldun telah melahirkan kerangka secara fundamental yang mampu menjelaskan dibalik data-data sejarah yang terlihat. Kesadaran bersama menjadi hasil pengkajian yang dilakukan Ibnu Khaldun terhadap tumbuh, berkembang dan kejatuhan kekuasaan. Kehidupan Ibnu Khaldun yang terlibat dalam dunia politik praktis telah membuka ruang kekhasan dalam pemikirannya. Konteks pemikiran Ibnu Khaldun yang melibatkan pengalaman pribadi, analisis data-data sejarah dan teori yang dihasilkan memiliki pijakan empirik. Analisis Ibnu Khaldun terhadap kesadaran bersama bertumpuh pada badawah (nomaden) dan hadarah (menetap). Kesadaran bersama akan menguat bila kelompok masyarakat masih mementingkan kepentingan publik dibandingkan kepentingan privat. Kesadaran bermasa akan luntur apabila kepentingan individualistik yang berorientasi materi yang lebih dominan dalam lapisan masyarakat. Dialog pemikiran Ibnu Khaldun dengan fakta-fakta kekinian masih sangat memungkinkan dalam menghadirkan pemikiran Ibnu Khaldun yang berkelanjutan.
POTRET BERNEGARA: MENAKAR KEMAJUAN DUNIA ISLAM DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN POLITIK ISLAM DAN TEOLOGI Muhammadong Muhammadong
Sulesana Vol 15 No 1 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v15i1.23595

Abstract

Pemikiran politik Islam dan teologi merupakan bentuk wajah lama dalam dunia Islam dalam mengakselerasikan kemajuan Islam dengan formatnya sendiri. Sistem kenabian yang dicetuskan Muhammad saw dalam bernegara merupakan potret masa depan terbentuknya pemerintahan sampai pada masa khalifah. Namun, potret itu menjadi suram dan berubah drastis setelah sistem khilafah diangkat dipermukaan, pro dan kontra mulai bermunculan dalam sistem pemerintahan dan berujung pada pengambil alihan kekuasaan yang dilakukan oleh oleh kelompok Muawiyah melalui arbitrasi sehinga menjadi cikal bakal munculnya para teoloq aliran beragama. Namun kesuksesan dapat diraih dengan adanya gagasan cemerlan yang dimotori oleh pemerintahan Abbasiyah. Melalui ekspansi wilayah dan pengembangan ilmu pengetahuan, Islam mendapatkan kejayaannya sehingga mampu menyaigi dunia Barat.
AKHLAK DAN EGO (Dalam Individu, Masyarakat dan Kebangsaan) Akilah Mahmud
Sulesana Vol 15 No 1 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v15i1.23597

Abstract

Akhlak merupakan sebuah sistem yang mengatur tindakan dan pola sikap manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran agama Islam, sistem nilai tersebut merupakan sumber ijtihad sebagai salah satu metode berpikir secara Islami. Akhlak  sebagai jembatan terjadinya tindakan dan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan alam sekitarnyaDalam Islam, keberadaan Ego tetap diakui, namun dijaga dan di atur sehingga tidak berkembang menjadi Illa bagi manusia. Seorang Muslim harus sadar dengan keberadaan dirinya, Namun keberadaannya hanya ada karena Allah yang menciptakan dirinya. Di hadapan Allah, manusia adalah makhluk hina yang senantiasa menyungkurkan wajahnya ketanah sebagai bukti kerendahan dan pengabdian  manusia kepada Allah swt, bukan apa-apa, tidak ada yang dimilikinya selain kelemahan dan ketidakmampuan mereka.
KONSEP IJTIHAD (Studi Atas Pandangan Muhammad Arkoun) Muh. Taufiq; Darmawati H.; Abdullah Abdullah
Sulesana Vol 15 No 1 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v15i1.23599

Abstract

Persoalan umat Islam di zaman modern memang semakin sulit dipulihkan kembali kepada misi Islam yang Rahmatan lil Alamin, ketika terlalu mensakralkan hal-hal yang selama ini menjadi pedoman umat. Seperti halnya ketika wahyu Tuhan yang telah ditafsirkan oleh para penafsir-penafsir terdahulu  dilegitimasi oleh suatu kelompok yang kemudian tidak bisa dikritisi dan tidak memberikan ruang untuk mengembangkan penafsiran baru. Karena kebutuhan sosial dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat cenderung berbeda, maka harus ada ketetapan bagi pemikiran kreatif dan reinterprestasi ketetapan Ilahi. Maka dari itu Muhammad Arkoun dalam salah satu langkahnya dalam mengembangkan ijtihad menekankan pentingnya hermeneutika dan analisis historis khususnya dalam menginterprestasikan hal yang berhubungan dengan teologis. Ijtihad atas pandangan Muhammad Arkoun ialah segala upaya untuk menyadarkan umat Islam untuk memiliki kesadaran sejarah serta memahami sejarah atau kultur itu dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Demikian itulah yang kemudian dijadikan sebagai kritik sejarah untuk merekonstruksi pemikiran Islam yang mandek dan tidak inovatif. Maka dari itu konsep ijtihad Muhammad Arkoun adalah segala upaya intelektual yang dilakukan untuk menginterpretasikan hal-hal yang sifatnya masih diselimuti kesamaran yang membingungkan sebagai upaya memajukan umat Islam. Sehingga cita-cita agama sebagai agama kemanusiaan, spiritual dan Rahmatallil alamin bagi setiap ciptaan Tuhan bisa terwujud.
PERJANJIAN WESTPHALIA DAN MOMENTUM PENDIRIAN NEGARA MODERN Ahmad Abdi Amsir
Sulesana Vol 15 No 1 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v15i1.23600

Abstract

The Treaty of Westphalia in 1648 opened a new history for the political constellations of Europe and the world. Based on the results of the Westphalia agreement, the legal concept of sovereignty of the nation-state (state-nation) and the institutionalization of military power and diplomacy were mutually agreed upon by the rulers in Europe through consensus. After the emergence of the Westphalia Treaty, the new structure of the international community was based on national states and was no longer based on kingdoms, empires, and churches. In addition, the composition of the international community is also based on the nature of the state together with its government, which is to separate state power and government from the influence of the church. Various changes in the post-Westphalia international relations system include the growth of representative government, the occurrence of the industrial revolution, the development of international law, the development of diplomacy methods in addition to military strategy, the growth of interdependence among nation states in the economic field, and the birth of procedures - procedures for resolving conflicts peacefully. In short, the Westphalia Treaty has laid the foundation for this form and nature in the composition of the new international community.
PROGRAM SUMUR WAKAF SEBAGAI SOLUSI KRISIS AIR BERSIH DI NEGARA-NEGARA AFRIKA Kaslam Kaslam; Mubarak Mubarak
Sulesana Vol 15 No 1 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v15i1.18805

Abstract

Ketersediaan air yang tidak mencukupi akan mengancam keberlangsungan hidup manusia di suatu wilayah. Negara – Negara yang ada di Afrika dikenal sebagai wilayah yang tandus dan memiliki iklim panas yang ekstrim. Krisis air bersih yang terus menerus terjadi telah menelan korban yang sangat besar. Islam sebagai rahmatan lil alamiin sudah seharusnya memiliki peran yang besar untuk mengurai permasalahan ini. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pembuatan sumur wakaf. Penelitian ini bermaksud mengkaji tentang manajemen pengelolaan sumur wakaf, kondisi kelangkaan air negara – negara di Afrika dan bagaimana peran lembaga wakaf di Indonesia untuk mengatasi kelangkaan air bersih di Afrika. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melakukan kajian literatur dan menelusuri informasi di media online yang berkaitan dengan topik penelitian. Hasilnya, kami mendapati salah satu lembaga kemanusiaan (Aksi Cepat Tanggap), yang cukup aktif menerapkan program sumur wakaf di beberapa negara di Afrika. Secara umum, program yang dijalankan mendapatkan respon positif dari penerima manfaat sumur wakaf tersebut. 
KOMPARASI PEMIKIRAN AHLU SUNNAH DAN AHMADIYAH TENTANG KONSEP KHATAM AL-NABIYYIN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM MODERN Amrin Amrin; Muhammad Amri; Andi Aderus
Sulesana Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep kenabian merupakan hal yang sangat urgen dalam dunia Islam. Salah satu bahasannya adalah khatam al-nabiyyin . Kalimat khatam al-nabiyyin ternyata memiliki beragam makna di kalangan umat Islam. Dua kelompok yang cukup concern dengan masalah ini adalah Ahlu Sunnah dan Ahmadiyah. Keduanya memiliki pemaknaan yang berbeda tentang khatam al-nabiyyin bahkan dianggap saling bertentangan dan mengakibatkan konflik sosial antar umat seagama. Setelah melakukan penelitian tentang perbedaan konsep kenabian antara Ahlu Sunnah dan Ahmadiyah, ditemukan bahwa dalam memahami konsep kenabian, baik Ahlu Sunnah maupun ahmadiyah sama-sama merujuk pada ayat yang sama yaitu pada QS al-Ahzab/33:40. Perbedaannya terletak pada pemaknaan istilah khatam al-nabiyyin pada ayat tersebut. Ahlu Sunnah memaknainya sebagai penutup sementara Ahmadiyah memaknainya sebagai stempel, cincin, perhiasan, dan paling mulia. Tampaknya Ahlu Sunnah memaknai istilah khatam al-nabiyyin tersebut secara literal (haqiqi), sementara Ahmadiyah memaknainya secara metafor (majazi). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsip (ushuli) terhadap kedua pemahaman tersebut melainkan sekedar perbedaan penafsiran objek dalil (nash). Kalau pun terdapat perbedaan yang prinsip (ushul) adalah perbedaan prinsip yang dalilnya masuk kategori dugaan (zhanni). Hal ini cukup beralasan disebabkan masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama dalam mengkategorikan ayat qat’i (pasti) dan zhanni (dugaan), begitu pula masih umumnya pendefinisian dan pengkategorian persoalan ushuli dan furu’i dalam agama. Implikasi dari penelitian ini adalah a) Pemikiran modern hendaknya menjadi basis bagi pemahaman teologi saat ini. b) Pemikiran modern hendaknya dijadikan dasar bagi pemahaman yang toleran dan terbuka terhadap perbedaan pendapat c) Prinsip pemikiran Muhammad Abduh yang bersifat rasional hendaknya menjadi dasar bagi pemahaman teologi modern.
POLA DAN STRATEGI PEMBINAAN MUALLAF DI KAMPUNG MUALLAF KABUPATEN PINRANG SULAWESI SELATAN (STUDI KASUS POLA PEMBINAAN MUALLAF DI DESA MAKULA DAN SALUKATA KELURAHAN BETTENG KECAMATAN LEMBANG PINRANG) Saftani Ridwan Ar; Syandri Sya’ban
Sulesana Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic da'wah in South Sulawesi cannot be separated from common obstacles as is the case in Indonesia, such as financial constraints, lack of educated personnel and militancy to preach to remote areas as well as conflicts of interest with other da'wah institutions. This phenomenon does not become the main obstacle for several da'wah institutions in South Sulawesi in carrying out da'wah tasks, especially da'wah to non-muslims and fostering converts to Islam. There is a trend of increasing the number of non-muslims converting to Islam due to several factors, especially due to the da'wah touch from the preachers of Islamic institutions who are specifically targeting non-muslims in the interior of Pinrang Regency. This research is a field research with a case study in the Makula and Salukata Villages, Betteng Village, Lembang Mesakada District, Pinrang Regency, South Sulawesi. This research uses qualitative methods in analyzing this data, in addition to describing, it also conducts a SWOT analysis, namely an analysis of the advantages, disadvantages, opportunities and obstacles to the problem of Islamic da'wah to non-Muslims, especially in the Pinrang Regency area. The purpose of this study is contribute to Islamic institutions in developing their da’wah to non-muslims and reverts. In this study, it was found that the dominant factors causing non-muslims to embrace Islam were due to the process of deep reflection on the search for truth through religious lectures and persuasion from families who had previously embraced Islam and the factor of marriage. The post-Islamic development process was carried out by bringing in preachers from several Islamic organizations to the village to live together in the converts' village and become Islamic builder in the area, which was coordinated by the Pinrang Religious Affairs Office.
PERSEPSI KOMUNITAS PESANTREN TERHADAP PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM Darmawati H
Sulesana Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Persepsi Komunitas Pesantren terhadap Program studi Aqidah dan Filsafat Islam” Permasalahan yang kami angkat dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengetahuan santri terhadap pelajaran aqidah dan filsafat dan bagaimana minat santri untuk masuk ke Prodi Aqidah dan Filsafat Islam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi santri terhadap pelajaran aqidah dan filsafat dan untuk mengetahui minat santri untuk masuk ke Prodi Aqidah Filsafat Islam. Metodologi penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yaitu sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan dari informan atau pelaku yang dapat diamati. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teologis normatif yakni kajian yang melihat tentang konsep pemahaman ajaran Islam yang dipraktekkan oleh pesantren dari aspek Aqidah dengan rujukan pada teks-teks yang bersumber dari Alquran dan hadis serta dari berbagai kitab kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengetahuan santri terhadap pelajaran Aqidah dan filsafat, pada dasarnya santri telah mengetahui tentang aqidah filsafat. Mereka mengetahui lewat pelajaran yang telah diajarkan oleh para guru yang ada di pesantren. Pengetahuan tersebut diperoleh dari hasil bacaan buku-buku dari kurikulum buku pelajaran Aqidah akhlak, atau dari hasil bacaan kitab kuning (as-Sullam) dan dari guru yang mengajar tauhid atau akidah akhlak, dari teman mereka serta dari media sosial. Pentingkah filsafat itu disajikan di pesantren ? mayoritas menganggap bahwa filsafat tidak terlalu penting disajikan di pesantren. Minat santri untuk masuk ke prodi Aqidah dan filsafat Islam, pada umumnya para santri kurang berminat untuk masuk ke prodi Aqidah dan Filsafat. Bagi santri yang berminat karena mereka ingin mengetahui asal-usul segala sesuatu. Kurangnya minat santri masuk ke prodi Aqidah dan filsafat, karena materi filsafat sangat berat, dan banyak menggunakan logika serta membutuhkan analisa yang mendalam.