cover
Contact Name
Astrid Veranita Indah
Contact Email
astrid.veranita@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
darmawati.h@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar, Jl. Sultan Alauddin No. 63, Jl. St alauddin no.36 Gowa-Samata
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sulesana
Core Subject : Religion,
studi-studi keIslaman yang erat dengan issu sosial, teologi, hukum, Pendidikan dan filsafat. Studi ini dimulai dengan tema Kajian Kritis Akulturasi Islam dengan Budaya Local, Metode Memahami Maksud Syariah , Maulid Dan Natal (Studi Perbandingan Antara Islam Dan Kristen), Akal dalam Al-Quran, Pendidikan Agama Dan Moral Dalam Perspektif Global, Sinergitas Filsafat Dan Teologi Murthadha Muthahhari, Perspektif Perilaku Menyimpang Anak Remaja : Studi berbagai masalah social.
Articles 164 Documents
PROBLEM SAINS MODERN DI BARAT: PENTINGNYA PEMIKIR ISLAM KONSTRUKTIF – POSITIF M. Abzar D; Syahrial Syahrial
Sulesana Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A fact, the modern Western world has successfully demonstrated its progress in science and technology. Various kinds of technology have been found to have a positive impact on the world. Such as the ease of transportation, communication, industry and security. However, in it still tucked and attached negative influence that become a global crisis. Such as environmental crises, poverty, morality, economic injustice, religious awareness including the declining quality of health. Science and technology which originally wanted to solve the world’s problems, and this became a setback in world civilization. This paper examines how problematic the modern scientific paradigm is in the West and the role of the Islamic world. The contributions of earlier Islamic scientists and thinkers have become evidence of how Islam pays great attention to science. through efforts to create Islamic thinkers who think constructively and positively can help solve the problem of modern science.
REFLEKSI FILSAFAT PANCASILA TERHADAP PRAKTIK KORUPSI DI INDONESIA Muhammad Takbir
Sulesana Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v16i2.35596

Abstract

Artkel ini menelaah tentang fenomena kejahatan korupsi yang berlangsung di Indonesia dalam perspektif Filsafat Pancasila. Kendati kejahatan ini disebut sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary cryme) kerena berdampak merusak hajat hidup orang banyak, namun pada praktiknya menjadi fenomena yang lazim di lingkungan elit Indonesia. Bahkan, tidak sedikit menyasar elit negera, termasuk mereka yang berasal dari lembaga yudikatif – pilar terakhir penegak keadilan. Pada konteks inilah, Pancasila sebagai Philosofische gronslag (padangan hidup serta sumber hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia) digunakan sebagai candra dalam merefleksikan ulang praktik kejahatan yang berlangsung sistemik dan massif ini. Dari usaha ini ditemukan bahwa bahwa kejahatan korupsi secara ontologis mengalami totalisasi dan pengaburan sehingga kemudian berimpilaksi pada ‘anonimisasi’ terhadap korban kejahatan tersebut. Adapun secara aksiologis, kejahatan merupakan pengkhianatan terhadap pancasila itu sendiri. Pancasila tidak lagi menjadi sumber hukum dan etika pubik dalam kehidupan bernegara.
WABAH COVID-19 DALAM ANALISIS TEODISI GOTFRRIED WILHELM LEIBNIZ DAN TEOLOG ISLAM Akbar Tanjung; Andi Nurbaety; Astrid Veranita Indah
Sulesana Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v16i2.34425

Abstract

Tulisan ini membahas tentang fenomena wabah Covid-19 yang berkembang di seluruh Dunia, yang membawa penderitaan hingga mengalami kematiaan bagi umat manusia. Hal tersebut membawa manusia berpikir tentang bagaimana penderitaan dan kabahagiaan bisa hidup berdampingan dalam satu realitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis wabah Covid-19 dalam perspektif Gotfrried Wilhelm Leibniz (1646 M) dan para teolog Islam. Persoalan wabah Covid-19 dengan analisis kedua tokoh bertujuan untuk membandingkan pemikiran Barat dengan pemikiran Islam terkait persoalan kejahatan, keburukan, dan penderitaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Filosofis, Hermeneutika, Historis dan Teologis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejahatan yang sesungguhnya ada dalam kehidupan manusia akibat kebebasan dan ketidaksempurnaan ciptaan sehingga dapat menyebabkan berkembang varian virus baru, seperti Covid-19. Ada dua hal yang menyebabkan penderitaan akibat Covid-19 yaitu (1) kebebasan manusia yang dapat menyebabkan varian Virus baru, seperti Covid-19 muncul dan berkembang. (2) ketidaksempurnaan manusia sebagai ciptaanNya. Jika melihat lebih mendalam tentang ketidakberuntungan atau musibah yang meninpa manusia, kemudian menginterpretasi hal tersebut, maka sebagai manusia akan mengapresiasi bahwa ketika tertimpa musibah maka sebetulnya manusia mendapatkan anugerah, tidak mendapatkan bencana.
TASAWUF DAN PENDIDIKAN MORAL PROF. DR. H. HAMKA:: Upaya Menanggulangi Krisis Moral di Era Kontemporer Aliman Aliman; Muhammad Saleh Tajuddin; Andi Tenri Yeyeng
Sulesana Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v16i1.37981

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pemikiran dan gagasan Hamka dalam dunia mistisisme Islam yang dikenal dengan tasawuf modern sebagai jawaban dan kritikan terhadap perakterk para sufi yang selama ini popular dipahami dan diartikulasikan oleh sebahagian kelompok tasawuf dalam realitas kehidupan manusia modern. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menggunakan metode analisis naskah dan karya-karya Hamka untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif terhadap gagasan tasawuf modern dalam kontek kekinian. Hamka merupakan tokoh pembaharu dan reformis pemikiran modern Islam Indonesia yang telah memberikan pengaruh kuat terhadap perkembangan khazanah peradaban dan ilmu pengetahuan Islam terutama pada disiplin tasawuf Islam. Ketajaman analisis intelektual Hamka, dengan kritikan yang tajam terhadap pengamalan tasawuf ia berupaya mengembalikan tasawuf kepada kemurniannya seperti pada awal mula muncul, yaitu tauhid yang bersumber dari al-Quran dan hadis. Tujuan utama dari tasawuf modern dan Pendidikan moral Prof. Hamka adalah berlepas diri dari budi yang tercela dan berupaya memiliki budi atau akhlak mulia melalui zuhud, qana’ah dan tawakal yang menjembatani manusia modern untuk mencapai kebahagiaan, jauh dari keterpurukan, keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan.
KRITIK TERHADAP PARADIGMA FILSAFAT ATHEISME: Menelaah Kajian Filsafat Agama Iqtamar Muhammad; Andi Alfian; Basri Basri
Sulesana Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v16i2.36343

Abstract

Artikel ini menelaah paradigma filsafat atheisme berdasarkan pada analisis kritis filsafat agama. Artikel ini pada dasarnya bertujuan untuk memberi kritik terhadap paradigma kefilsafatan atheisme dengan pendekatan filsafat religious. Atheisme sendiri diartikan sebagai keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (T besar) ataupun tuhan (t kecil), namun atheisme sendiri, secara sederhana, memiliki beberapa bentuk berdasarkan pada tingkat kepercayaan mereka terhadap entitas Tuhan atau tuhan. Bentuk-bentuk pemahaman lain dari atheisme ialah antitheisme, nontheisme, apatheisme, ignostisisme, antireligion, irreligion, dan non-believer. Para pelopor atau penggerak dari atheisme di antaranya adalah August Comte, Ludwig Andreas von Feuerbach, Karl Marx, Sigmund Freud, Friedrich Nietzsche, dan Jean Paul Sartre. Kritik yang diberikan terkait paradigma dari atheisme ialah mengenai argumentasi koeksistensi antara manusia dengan Tuhan. Bagi mereka, para atheisme, kombinasi antara keduanya ialah tidak mungkin. Padahal, di titik itulah letak kelemahannya, terutama dalam konteks praktik manusia dalam menghayati eksistensi Tuhan atau tuhan.
KONSEP EPISTEMOLOGI DALAM PEMIKIRAN IBNU RUSYD Yamin Yamin; Astrid Veranita Indah
Sulesana Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v17i1.38749

Abstract

This study aims to analyze the dimensions of epistemology or philosophy of knowledge in the thought of Ibnu Rusyd, who lived in 520H/1126 AD. There are two theories used to study Ibnu Rushd's epistemological thinking. First, the epistemological classification consisting of 4 forms, namely bayânî, burhâni, irfânî and tajrîbî. Second, Abd Jabbar's theory of plurality of text meanings. Each text contains the possibility of other meanings that are not the same as those explicitly stated. These meanings are always born and differ according to the different approaches and methods used. However, this does not mean that there is an exclusivity of understanding but that the text (al-Qur'an) provides a large space for various understandings according to the level of reasoning.
LOGIKA ARISTOTELES: PERKEMBANGAN LOGIKA DAN SESAT BERPIKIR Indah, Astrid Veranita; Mutahirah, Mutahirah
Sulesana Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v17i2.45297

Abstract

The logical way of thinking in finding truth has existed since the pre-Socratic era. However, the science that studies logical thinking was written by Aristotle. Aristotle introduced the syllogism consists of premises and a conclusion. A conclusion consists of premises and these premises contain certain conditions. If one of the premises does not contain certain conditions, then a conclusion cannot be drawn.By learning logic, someone will think clearly so that they are not easily provoked by emotions due to the logical fallacy.It is in this thinking activity that it gives the impression to the public how insightful a person's thinking is, whether the person is trying to mislead the listener or simply does not know the rules of logical thinking. The implication of this research is someone will be able to think logically, that they can differentiate and criticize events that occur in life by seeing whether the event makes sense or is in accordance with the rules or not. So that logical thinking becomes a process of thinking wisely that it is not easy to conclusions without considering it carefully.
Komodifikasi Penghidupan Masyarakat Kawasan Pegunungan (Kajian atas Perubahan Sosial dan Agr Ibrahim , Ibrahim
Sulesana Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPerubahan sosial masyarakat kaum tani di kawasan pegunungan yang mengalami peningkatan secara signifikan dipengaruhi oleh kehadiran suatu komoditi pertanian pasar sehingga menjadi ledakan komoditas pasar (booming) berupa kentang, wortel, dan kol. Namun booming komoditas kentang yang sangat berpengaruh karena beberapa hal; intensifikasi pada input pertanian, harga, sistem produksi, dan distribusi hasil komoditas ke pasar. Berangkat dari hasil penelitian lapangan ini, Peneliti menyimpulkan bahwa proses dan mekanisme perubahan sosial petani di kawasan pegunungan ini sangat dimungkinkan oleh suatu introduksi komoditas pasar. Pada masa lalu di masa-masa susah, di mana sarana produksi berupa tanah atau kebun belum memiliki nilai atau belum terkomodifikasi sehingga sumber pangan dan pendapatan masyarakat masih bercorak subsisten. Pada tahun 1990an sebagai tonggal awal introduksi yang juga sebagai fase awal terjadinya dinamika sosial dan agraria di pedesaan. Di mulai dengan komodifikasi atas tanah sebagai alat produksi utama dalam corak pertanian kapitalistik. Setelah itu tenaga kerja semakin terbentuk dalam sistem bagi hasil yang dalam bahasa lokal disebut a’tesang. Implikasi sosial yang luas terjadi setelah periode booming kentang. Komoditas pasar ini mengkondisikan bagaimana petani-petani yang dulunya subsisten, semakin terintegrasi dengan mekanisme pasar melalui komoditas. Pengalaman tersebut dalam perspektif ekonomi politik agraria disebut sebagai proses komodifikasi subsisten, meminjam Bernstein. Seluruh aspek penghidupan tidak bisa dipenuhi tanpa melalui transaksi dengan sistem pasar. Konsekuensi paling kentara adalah segala urusan pemenuhan terjadi dalam tekanan samar pasar. Fakta sosial tersebut tercermin dari pernyataan salah satu petani dalam forum FGD yang diselenggarakan di kantor desa Kanreapia bulan Juli 2022, “di sini yang tidak dibeli cuma sayur dan air”.
MENAKAR PETA ALIRAN SYIAH DALAM ALIRAN KEAGAMAAN PADA DUNIA ISLAM Muhammadong, Muhammadong
Sulesana Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v17i2.46390

Abstract

The aim of this research is to determine the map of Shiite power in the religious understanding that developed in the Islamic world. Shia as a religious sect in the Islamic world plays an important role in theology and politics. Shia doctrine developed as a result of the Islamic revolution in Iran which sought change through a rationalism-based religious doctrine approach. The understanding of fanaticism developed by the Shiites became an encouragement in spreading the teachings of Islam. They idolized Ali Radiyallahu anhu as the successor to the throne because they considered him very close to the Prophet.
KOMPARASI FENOMENOLOGI EDMUND HUSSERL DAN MARTIN HEIDEGGER Fitrah, Muhammad; Indah, Astrid Veranita
Sulesana Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v18i1.47114

Abstract

Phenomenology has developed since the 15th century. Many philosophers rejected Church doctrines and carried out a reform movement known as the enlightenment period. Phenomenology was developed by Edmund Husserl in the 20th century, who became known as the father of phenomenology. Rather than being a science, phenomenology initially emerged as a research method developed by Edmund Husserl as part of the study of philosophy and sociology. As a scientific method, phenomenology is a way of formulating science through certain stages. Phenomenology as a research method is seen as the study of phenomena, the study of nature and meaning. This research focuses on the way we perceive reality that appears through experience or consciousness. Husserl's phenomenology is a speculative attempt to determine nature which is entirely based on examining and analyzing what appears or returns to the objects themselves. Meanwhile, Heidegger's phenomenology is based on the relationship between language, interpretation, and objective nature.