cover
Contact Name
Fuad Mustafid
Contact Email
fuad.mustafid@uin-suka.ac.id
Phone
+6281328769779
Journal Mail Official
asy.syirah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 08548722     EISSN : 24430757     DOI : 10.14421/ajish
Core Subject : Religion, Social,
2nd Floor Room 205 Faculty of Sharia and Law, State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Marsda Adisucipto St., Yogyakarta 55281
Arjuna Subject : -
Articles 609 Documents
Konsep Penerapan Syariat Islam dalam Pencegahan Perilaku Menyimpang pada Remaja SMA Kota Banda Aceh Abubakar, Abubakar
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 43 No 2 (2009)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v43i2.105

Abstract

This article is purposed to know how concept, system and  obstacles  in  implementing  Syariah  (Islam  Law)  in preventing  misbehaviours  on  senior  high  school  effectively. The respondences of this research come from related agencies, either  Islam  Law  Department,  School,  Student  Organization. Data  collection  was  done  by  questionnaires,  interview, workshop. The  results  of  concept  prevention  deviate  behaviour  on teenages of Senior High School of Banda Aceh are: a)  Direct Prevention  Concept,  Direct  Prevention  Concept  is  concept  which assumed  immediately  can  prevent  misbehaviour  of  either teenages or the other age; (b)  Indirect Prevention Concept, this kind of prevention is planning and sustainable attempts which can be used to prevent also can reduce one or group’s intention to do disgraceful actions against values of Syariah (IslamLaw); (c)  Guiding  Concept,  guiding  is  an  effort  of  Syariah Department in giving and enhancing understanding to teachers and  students  regarding  with  True  Syariah  Implementation, along with sanctions faced as consequences of violationvalues; (d)  Violation  Prevention  through  Identification  of  Place  and Violation  Forms,  and  (e)  Problems  found  by  Department  of Syariah  in  Preventing  Deviate  Behaviours  Teenages  in  Senior High School Particularly.
Problema Miskin dan Kaya dalam Pandangan Islam Hadi, Sofyan
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 43 No 2 (2009)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v43i2.106

Abstract

Kemiskinan terlahir tak jauh dari masa ketika manusia ada,  ia  selalu  menjadi  problem  manusia  yang  membayang-bayangi  kehidupannya  dari  segala  zaman,  manusia  sebagai makhluk  yang  lemah  sepertinya  tidak  akan  pernah  bisa menghapuskan secara tuntas 100 persen di muka bumi ini. Ketika al-Quran diturunkan (611-632 M.), masyarakat Makkah dan  Madinah  serta  kawasan  sekitarnya  juga  menghadapi problem  kemiskinan.  Tidak  mengherankan  jika kemudian  al-Quran  menaruh  perhatian  sangat  besar  terhadap  problem tersebut.  Demikian  ini  karena  al-Quran  diturunkan  selain sebagai mukjizat, juga berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, khususnya  bagi  mereka  yang  bertakwa  dalam  memecahkan persoalan  hidup  dan  kehidupan  dengan  tujuan  tercapainya kesejahteraan di dunia dan akhirat. Dengan  demikian  dapat  dinyatakan  bahwa baik  dalam  bidang teologi,  tasawwuf,  fikih,  maupun  tafsir  konsep  kemiskinan merupakan  konsep  yang  parsial.  Keparsialan  konsep  tersebut dalam  bidang  teologi,  tasawwuf,  dan  fiqih  disebabkan  oleh spesialisasi  sudut  pandang  masing-masing,  bukan  karena  soal metodologis.  Sedang  dalam  bidang  tafsir  keparsialan  konsep tersebut disebabkan oleh penggunaan metode tajziz’iy.
Problema UU Zakat Indonesia (Refleksi Misi al-Siyasah al-Syar'iyyah) Said, Muh.
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 43 No 2 (2009)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v43i2.107

Abstract

Berbagai  peraturan  sudah  menyertai  pengelolaan zakat di Indonesia, mulai zaman kolonial Belanda-pun sampai lahirnya beberapa tahun yang lalu secara yurudis yang namanya UU  No.  38/1999.  Memang  panjang  rentang  sejarahnya, problematikanya  banyak  menyita  waktu,  tenaga  dan  fikiran serta  perdebatan,tidak  seperti  eksis  dan  urgensinya sebagaimana lahirnya UU lainnya dan  perealisasiannya, seperti UU  pajak  misalnya.  Tetapi  bagaimana-pun,  tetap  harus  diakui bahwa  upaya-upaya  mengeksiskan  sekaligus  mengefektifkan pengelolaan zakat di negeri ini, merupakan kewajiban syari’ah, maka adalah suatu tanggung jawab moral dan sosial bagi setiap muslim  dan  pemerintah  untuk  merealisasikannya.  Bukankah secara keyakinan bahwa dengan pengelolaan dan  pemanfaatan social  hasil  zakat  dengan  baik  lagi  benar,  jauh  akan  lebih menjanjikan  bagi  ummat  ketimbang  dengan  hasil  pajak  itu sendiri.  Oleh  karena  itu  idealnya  persoalan-persoalan kepentingan  agama  tetap  dalam  kerangka  masalah  politik sekaligus,  dan  itu  adalah  misi  terpenting  dalam  substansi  al-Siyasah al-Syar’iyyah.
Peradilan Satu Atap ( The One Roof System) Di Indonesia Dan Pengaruhnya Terhadap Peradilan Agama Ibrahim, Malik
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 47 No 2 (2013)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v47i2.108

Abstract

The process to one-roof the Religious Court system is not as smooth as the one-roof process of other court institutions. It is full of obstacles and faces pros and cons. Nevertheless, in the early 2004, Religious Court had been made beneath Supreme Court as the executor of the highest judicial power. Therefore, Religious Court as the executor has been authentically experiencing escalating reformation, moreover when the of Law No. 3 of 2006 concerning the Amendment of Law No. 7 of 1989 concerning Religious Court was isseud. This paper is tryingto explain some factors that influence the one-roof process of Indonesian Courts especially Religious Court as well as the effects of one-roof court implementation towards the existence of ReligiousCourt in Indonesia.
Epistemologi Hukum Islam dalam Pandangan Hermeneutika Fazlurrahman Supena, Ilyas
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.110

Abstract

Konsep  hermeneutika  Rahman  lahir  untuk mengkritisi formulasi epistemologi hukum Islam klasik-skolastik yang dirumuskan al-Syafi’i. Dalam teori analogi (qiy?s)  al-Syafi’i, ashl  adalah sesuatu yang harus selalu dirujuk dalam memeriksa keabsahan  setiap  fenomena  yang  baru  dan  ashl  telah mengungkung  ijtih?d  dalam  batasan  teks  wahyu.  Akibatnya, dialektika  antara  dunia  teks  (world  of the  text),  dunia  pengarang (world of the author) dan dunia pembaca (world of the reader) menjadi terputus.  Dengan  hermeneutika,  Rahman  bermaksud menangkap  hukum  ideal  (ideal  law) yang  mengandung  prinsipprinsip  etika  al-Quran  dan harus  dibedakan  dari  aturan-aturan khusus (legal spesific). Secara epistemologis,  ada  beberapa  poin  yang  bisa  ditangkap dari  pemikiran hermeneutika  Rahman.  Pertama,  dalam memahami  al-Quran,  hermeneutika Rahman  lebih mendahulukan  prinsip  moral  al-Quran  ketimbang  dimensi lahiriah teks, meskipun ia tidak meninggalkan teks sama sekali. Memahami  totalitas  al-Qur’an  dapat  dilakukan  dengan memahami latar belakang historis penurunan al-Qur’an tersebut dan  kemudian  menyusun  prinsip-prinsip  moral  al-Qur’an tersebut  secara  sistematis.  Kedua,  sumber  informasi pengetahuan  dalam  konsep  hereneutika  Rahman  bukan  hanya teks,  melainkan  mencakup  tiga  horizon  sekaligus;  dunia  teks (world of the text),  dunia pengarang  (world of the author)  dan dunia pembaca (world of the reader). Ketiga, hermeneutika Rahman lebih mengembangkan  konsep  validitas  pengetahuan  yang  bersifat intersubjektif. Hermeneutika  tidak  mengenal  model  penafsiran yang  bersifat  tunggal  dan menjadi  hak  monopoli  kelompok tertentu.  Keempat,  intersubjektivitas  yang diusung hermeneutika  ini  tidak  akan  sampai  melahirkan  relativisme, sebab fleksibilitas  rumusan  hukum  Islam  Islam  tersebut  akan selalu  dapat dikembalikan  kepada  prinsip-prinsip  moral  (ideal moral).
Sejarah Pelembagaan dan Pembukuan As-Sunnah Abak, Abu Bakar
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.111

Abstract

Sejarah  pembukuan  as-Sunnah  memiliki  nilai  sangat penting  dalam  kajian  sumber-sumber  Syari’at  Islam.  Peristiwa ini  ada  keterkaitan  antara  tidak  hanya  sebagai  bukti  warisan peninggalan  dalam  sejarah  Islam,  lebih  dari  itu  pelembagaan (pembukan)  as-Sunnah  merupakan  landasan  dalam  sumber penetapan  kualifikasi  as-Sunnah.  Melalui  kualifikasi  as-Sunnah menjadi Sahih, Hasan, dan Dlaif, sangat ditentukan oleh modelmodel periwayatan hadits yang sudah terbukukan dalam kitabkitab  induk  al-Hadits.  Model-model  periwayatan  dan pengajaran  Hadis  dari  masa  ke  masa  juga  menjadi  instrumen indikator “mardud” atau “maqbul” nya suatu periwayatan hadis, karena  alasan  bahwa  prinsip-prinsip  periwayatan  hadis  oleh para  perawi  setidaknya  diketahui  melalui  peristiwa  aktivitas Pembukuan atau Pelembagaan as-Sunnah. Momentum gerakan Pembukuan  as-Sunnah  memunculkan  petunjuk  model pengajaran  Syari’at  Islam  seacara  kultural,  dan  memberi penentu  tentang  periodisasi  perjalanan  format  sumber  Syari’at Islam.  Sehingga  dari  aspek  Syari’ah  bahwa  Pelembagaan  dan Pembukuan as-Sunnah ada keterkaitan dengan  penentuannilainilai  otentifikasi  sumber-sumber Syari’at Islam, setidaknya ada tujuh  fase  periode  dan  masing-masing  memiliki  format  unsur karakter sekaligus nilai penting dalam penetapan kedudukanasSunnah,  baik  berupa  Sunah  Qauliah,  Fi’liah,  dan  Taqririah bahkanQaul danAtsar Shahabat. Juga melalui Pelembagaan dan Pembukuan  menjadikan  tumbuhnya  aktivitas  keilmuan terutama  dibidang  Hadits  (Ulum  al-Hadits)  disamping mendorong timbulnya lembaga Ijtihad dari generasi ke genarasi berikut.
Fenomena "Mahram Haji" di Indonesia Najwah, Nurun
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.112

Abstract

The  pilgrimage  to  Mecca  is  5th of  Islamic foundation  for  all  the  capable  Moslem  (istitha`ah) without  consideration  of  the  sex  differences  (male  or female).  It`s  a  duty  of  the  women  moslem  are accompanied by mahram. In the one hand, this concept apparently  protect  safety  of  women.  In  the  reality,  in different contect, it represses opportunity of women to act  of  maximal  devotion,  included  the pilgrimage  to Mecca.  So,  this  paper  will  describe  reinterpretation  of term  of  mahram  from  the  text  tradition  of  prophet Mohammed in Indonesian contect.
Penggantian Ahli Waris Menurut Tinjauan Hukum Islam Zubair, Asni; Lebba, Lebba
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.113

Abstract

Penggantian  ahli  waris  dalam  Kompilasi Hukum Islam dimaksudkan untuk memberi jalan keluar bagi  cucu  yang  terhalang  menerima  harta  warisan. Masalahnya  adalah  tidak  ada  penjelasan  yang  memadai tentang  penggantian  ahli  waris  yang  dimaksudkan, sehingga dapat menimbulkan interpretasi yang beragam. Tulisan  ini  berupaya  hendak  menelusuri  penggantian ahli  waris  dalam  hukum  Islam.  Dalam kitab-kitab fikih juga  terdapat  istilah  penggantian  tempat  atau penggantian  ahli  waris  yang  diperuntukkan  untuk  ahli waris zaw  al-arham.  Adapun  yang  menyerupai penggantian  ahli  waris  dalam  Kompilasi  Hukum  Islam adalah lembaga  wasiat wajibahyang berlaku di Mesir dan beberapa negara muslim lainnya.
Ideologi Syi’ah: Penelusuran Sejarah Anshori, Ahmad Yani
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.114

Abstract

Cita-cita  perjuangan  kalangan  Syi’ah  adalah ingin  mengambil  alih  Khilafah  dan  mengembalikannya kepada  garis  keturunan  keluarga  yang  dikenal  dengan ahl  al-bait.  Dalam  hal  ini,  persoalan  yang  paling menonjol  terletak  pada  persolan  Imamah  atau  kepemimpinan  umat  Islam  pasca  wafatnya  Nabi Muhammad. Syi’ah dalam gerakannya terpecah menjadi banyak  sekte,  tetapi  hampir  semua sekte  Syi’ah  menekankan  arti  penting  kepemimpinan  Ali  bin  Abi  Thalib sebagai  pewaris  kepemimpinan  Nabi  Muhammad  dan setelah  itu  kepemimpinan  diwariskan  kepada  Hasan  b. Ali  dan  kemudian  kepada  Husein  bin  Ali.  Selanjutnya, kalangan Syi’ah berbeda sikap dan pilihan politik ketika berbicara tentang siapa pewaris Imamah Husein. Sebagian  mengambil  pilihan  kepada  Ali  Zainal  Abidin,  putra Husein.  Sedangkan  yang  lainnya  memilih  Muhammad Hanafiah,  puta  Ali  dari  istri  selain  Fatimah.  Dalam merespon  hal  ini,  kalangan  Syiah  terpecah  menjadi banyak sekte diantaranya Zaidiyyah, Sab’iyyah dan Itsna ‘Asyariyyah.
Teori-teori Hukum Aliran Positivisme dan Perkembangan Kritik-kritiknya Halim, Abdul
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.115

Abstract

Positivisme  adalah  aliran  yang  sejak  awal  abad  19 amat mempengaruhi banyak pemikiran di berbagai bidang ilmu tentang  kehidupan  manusia,  terutama  dalam  kajian  bidang hukum.  Dalam  perkembangannya  ilmu  hukum  mengklaim dirinya sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan dan prilaku warga  masyarakat  (yang  semestinya  tertib  mengikuti  normanorma  kausalitas).  Maka  kaum  positivisme  ini  mencoba menuliskan  kausalitas-kausalitas  dalam  bentuk perundangundangan. Legal-positivism memandang  perlu  untuk  memisahkan  secara tegas antara hukum dan moral. Hukum. bercirikan rasionalistik, eknosentrik, dan universal. Dalam kaca mata positivisme tidak ada  hukum  kecuali  perintah  penguasa,  bahkan  aliran  positivis legalisme  menganggap  bahwa  hukum  identik dengan  undangundang.  Hukum  dipahami  dalam  perpektif  yang  rasional  dan logik. Keadilan hukum bersifat formal dan prosedural. Dalam  positivisme,  dimensi  spiritual  dengan  segala perspektifnya  seperti  agama,  etika  dan  moralistas  diletakkan sebagai  bagian  yang  terpisah  dari  satu  kesatuan  pembangunan peradaban  modern.  Hukum  modern  dalam  perkembangannya telah kehilangan unsur yang esensial, yakni nilai-nilai spiritual. Paham hukum seperti tersebut masih  membelenggu pola pikir kebanyakan  pakar  dan  praktisi  hukum  di  Indonesia.  Sebagai contoh terlihat dengan jelas pada: (1) Vonis bebas samasekali terhadap  Adlin  Lis  (pembalak  hutan)  oleh  Pengadilan  Negeri Medan  dan  (2)  Vonis  Majelis  Hakim  pada  tingkat  kasasi terhadap  Pollycarpus  yang  menyatakan  Pollycarpus  tidak terbukti  melakukan  pembunuhan  terhadap  Munir  sehingga hanya dipersalahkan memalsukan surat. Paham  hukum  seperti  tersebut  di  atas  sangat  berbeda  dengan paradigma hukum sosiologis yang berangkat dari asumsi bahwa hukum  adalah  sebuah  gejala  sosial  yang  terletak  dalam  ruang sosial dan dengan itu tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial. Hukum  bukanlah  entitas  yang  sama  sekali  terpisah  dan  bukan merupakan  bagian  dari  elemen  sosial  yang  lain.  Hukum  tidak akan  mungkin  bekerja  dengan  mengandalkan  kemampuannya sendiri  sekalipun  ia  dilengkapi  dengan  perangkat  asas,  norma dan institusi. Berdasarkan  paradigma  hukum  seperti  itulah  Majelis  Hakim Mahkamah  Agung  dalam  kasus  Peninjauan  Kembali  (PK) terhadap  kasus  terbunuhnya  Munir,  berkeyakinan  bahwa Pollycarpuslah yang membunuh aktivis HAM Munir.