cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
DAKWAH BIL-HẦL PESANTREN WALISONGO NGABAR PONOROGO JAWA TIMUR DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT TAHUN 2013-2014 Shobron, Sudarno; Rosyadi, Imron; Zaki Suaidy, Mohammad
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 1, Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i1.1797

Abstract

Penelitian ini berkaitan   dakwah bil hâlsebagai sebuah model dakwah yang berorientasi kepada pemberdayaan dan pengembangan masyarakat (community empowerment) melalui ekonomi. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana implementasi dan peran dakwah bil-hâl Pondok Pesanten “Wali Songo” dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat Ngabar Tahun: 2013-2014 .Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi dan peran dakwah bil-hâl PPWS dalam pemberdayaan masyarakat Ngabar dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera dan mandiri secara ekonomi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, karena peneliti langsung menggali data di lapangan yaitu PPWS Ngabar Ponorogo. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan empat tahapan yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Dakwah bil-hâl dilaksanakan melalui program pemberdayaan ekonomi. Pemberdayaan ekonomi dilakukan spesifik melalui YPPW-PPWS diharapkan mampu menjembatani dan membantu masyarakat Ngabar keluar dari kemiskinan melalui model-model pemberdayaan yang dilakukan antara lain: (1) Pemberdayaan tenaga kerja sekitar pesantren, (2) Pemberdayaan pertanian, (3)Pemberdayaan peternakan sapi, (4) Pemberdayaan kesehatan masyarakat, (5) Pemberdayaan penyiaran dan komunikasi dan (6) Pemberdayaan kelompok usaha rumahan. Adapun peran dakwah bil-hâl Dakwah bil-hâl menghasilkan perubahan dan pencapaian dalam masyarakat Ngabar, khususnya di bidang ekonomi. Dakwah bil-hâl memiliki peransebagai motivator, dinamisator dan fasilitator program pemberdayaan ekonomi masyarakat Ngabar, dengan melibatkan peran institusi agama, kyai dan pesantren.Kata kunci: dakwah bil-hâl, pesantren, pemberdayaan ekonomi.
MODEL PENDIDIKAN JIHAD PONDOK PESANTREN TA’MIRUL ISLAM SURAKARTA DAN PONDOK PESANTREN DARUSY SYAHADAH BOYOLALI Maksum, Muhammad Nur Rochim
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7750

Abstract

The purpose of this study was to know jihad meaning of Ta'mirul Islam boarding school leader and Darusy Shahadah boarding school leader, the model and the differences and similarities of education are applied at jihad in Ta'mirul Islam Boarding School and Darusy Syahadah boarding school 2015-2016. Type of research is a field research with qualitative methods with primary and secondary data sources, that obtained from informants in  Ta'mirul Islam Boarding School and Darusy Syahadah boarding school, this data collection techniques used interviews, observation and documentation. Data analysis technique used inductive method. These results indicate that: Ta'mirul Islam boarding school leader said that meaning of jihad in accordance with the theory of Yusuf Qordowi as seriusly form of doing things. Ta'mirul Islam boarding school avoids the sense of narrowing the meaning of jihad as war. Darusy Syahadah boarding school recognizes both the meaning of jihad, either in a general sense and still looks jihad with war that must be planted in deep inside a Muslim. Jihad educational model those are applied in Ta'mirul Islam boarding school  namely: Jaulah, mujahādah, education, social Jihad, economics Jihad, education organization, said the right words to despotic leaders, the devotion of one year after graduation. Darusy Syahadah applied namely: physical Jihad, passions jihad, faith jihad, social jihad, propaganda jihad, education jihad, media jihad. Similarities of jihad education model between both boarding are namely: propaganda jihad, second: passions and devils jihad, third: amar ma‘rūf nahī munkar, fourth: education jihad. The difference between them are Ta'mirul Islam boarding school used of economic jihad jihad and said the right words to  despotic leader, while Darusy Syahadah did not. Darusy Syahadah boarding school implemented physical education model while Ta'mirul Islam boarding school did not apply that model.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna jihad menurut Pimpinan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dan Pimpinan Pondok Pesantren Darusy Syahadah, model serta perbedaan dan persamaan pendidikan jihad yang diterapkan  Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dan Pondok Pesantren Darusy Syahadah 2015-2016. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan metode kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder, yang diperoleh dari informan di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dan Darusy Syahadah, Teknik pengumpulan data ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu metode induktif. Hasil penelitian yaitu: Pimpinan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dalam memaknai jihad sesuai dengan teori Yusuf Qordowi sebagai bentuk kesungguh-sungguhan dalam melakukan sesuatu,. Pondok pesantren Ta’mirul Islam menghindari pengertian dari penyempitan makna dari jihad itu yakni jihad yang bermakna perang. Pimpinan Pondok pesantren Darusy Syahadah mengakui kedua makna jihad, baik dalam makna umum dan tetap memamdang jihad dengan perang sebagai makna yang harus tetap di tanamkan secara mendalam dalam diri seorang muslim. Model pendidikan jihad yang di terapkan pondok pesantren Ta’mirul Islam yakni: Jaulah, mujāhadah, Pendidikan, Jihad sosial, Jihad ekonomi, Pendidikan organisasi, mengatakan perkataan yang benar kepada pemimpin yang zalim, pengabdian setahun pasca kelulusan. Model pendidikan jihad Darusy Syahadah yakni: Jihad fisik, jihad hawa nafsu, jihad aqidah, jihad sosial, jihad dakwah, jihad pendidikan, jihad media. Persamaan model pendidikan jihad antara keduanya yaitu: jihad dakwah, kedua: jihad hawa nafsu dan syaitan, ketiga: jihad amar ma‘rūf nahī munkar,keempat: jihad pendidikan. Perbedaan diantara keduanya yaitu Ta’mirul Islam menggunakan model jihad ekonomi dan model jihad dengan mengatakan perkataan yang benar dihadapan penguasa yang zalim, sedangkan Darusy Syahadah tidak menggunkannya. Darusy Syahadah menerapkan model pendidikan jihad fisik sedangkan Ta’mirul Islam sendiri tidak menerapakan model tersebut.
DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSI Profetika, Redaksi
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 2 Desember 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i2.7681

Abstract

DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSI
DAFTAR ISI Profetika, Redaksi
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 1, Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i1.2167

Abstract

Daftra Isi
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM IBNU KHALDUN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN NASIONAL Hidayat, Syamsul; Wakhidah, Ana Nur
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 1, Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i1.1836

Abstract

Ibn Khaldun with all efforts to find a concept of Islamic education with some of them about the idea of learning known as malakah theory, generalization, tadarruj, and continuity, which until now is still used as a guide in the world of education. For this research trying to uncover the relationship between Islam Ibn Khaldun's Concept of Education in Relevance of National Education. This study aims to provide an overview of the reasons behind Ibn Khaldun's ideas with regard to the concept of Islamic education and describes the relevance of the concept of Islamic education Ibn Khaldun to the National Education. This research is a library research by using the method of collecting data is documentation research method, the research model by searching the data using the record of events that have passed such monumental works of Ibn Khaldun. From the analysis that has been done can be concluded that there is relevance of Ibn Khaldun's concept of Islamic education to national education is characterized among other things by the similarity of the concept that the main object of education is a human being, in which man is composed of several basic elements are interrelated and can not be separated from each other.
ترجيحات الإمام أبي عبيد القاسم بن سلاّم بن عبد الله الهروي في الزكاة من كتاب الأموال Muthoifin, Muthoifin; Humaidi, Sudarno
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7757

Abstract

The needs of low income families hasn't been fulfilled as it should be. Even poverty issues hasn't been solved yet. Therefore, the writer willing to involve in solving the issue by presenting the results of Tarjih from Ulama who's mastered in so many religious disciplines. He lives in Imam Syafi'ie and imam Ahmad's era. He is famous with his ability in Arabic language. He is Qasim bin Salaam, which commonly known as Abu Ubaid. He states on his book (Kitabul Amwal) Varieties of sources of public wealth managed by the government. Some of them are taxes, Ghanimah, Fa'i, Zakat and so many more. Meanwhile the writer only picks Zakat as his research object. This is because all Muslims have the ability and freewill to manage it at the maximum level. The writer limits his research into two points: first: what is the results of Abu Ubaid's Tarjih. Second: what is the method of Abu Ubaid in his Tarjih. The main purpose of this research is to know his tarjeh and the basis of it. While providing benefits to Amil zakat, fatwa institutions, and alike. So that the result of this research serve as a reference in regulating the wealth allocation on Zakat and in issuing fatwa. The conclusions of the research is: That in general Abu ubaid uses the method (manhaj) of the majority of ulama in interact with Dalils that looks contradictive. First, he tried to colaborate (jam'u) two Dalils that contradictive. Then if it can't be collaborated, he chooses (tarjih) one of the two Dalils without using the others. He wasn't do Naskh because he was able to Tarjih the whole problem of zakat in his book. If there is two Dalils that contradictive, he'll choose the Shohih one. He put Dalil first rather than Atsar and Qiyas. However if the Dalil is Dhoif he will choose Atsar and Qiyas. He put Atsar of the shohabat first rather than the words of ulama after them. If there is two Qiyas that contradictive, he'll choose Qiyas that supported with Dalils or in accordance with the general rules of the religions.  Kebutuhan orang-orang yang berkekurangan belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Bahkan kefakiran dan kemiskinan juga belum teratasi. penelitian ini sebagai wujud dari andil kami dalam menuntaskan masalah tersebut dengan cara mempersembahkan hasil Tarjih seorang ulama yang menguasai banyak disiplin ilmu Agama, hidup di masa imam Syafi’i dan imam Ahmad dan terkenal sebagai ahli bahasa Arab. Dia adalah Qosim bin Sallam yang biasa disebut Abu Ubaid. Dalam bukunya (Kitabul Amwal) ia menulis bermacam-macam sumber kekayaan umum yang dikelola olah Negara. Seperti pajak, Ghonimah, Fa’i’, Zakat dan lain sebagainya. Permasalahan Zakatlah yang kami pilih sebagai obyek penelitian karena umat Islam memiliki kemampuan dan kebebasan untuk mengelolanya secara maksimal. Penelitihan ini kami batasi pada dua point saja: Pertama : Apa saja hasil Tarjeh Abu Ubaid. Kedua : Sebab atau landasan beliau dalam mentarjih. Tujuan utama dari penelitihan ini adalah mengetahui hasil Tarjeh Abu Ubaid serta landasannya dan memberikannya kepada lembaga-lembaga amil Zakat, lembaga-lembaga fatwa, dan yang serupa dengan itu. Agar hasil penelitihan ini dijadikan sebagai bahan rujukan dan pertimbangan dalam mengatur harta Zakat dan mengeluarkan fatwa. Kesimpulan dari penelitihan ini bahwa secara umum Abu Ubaid menggunakan methode (Manhaj) mayoritas Ulama dalam berinteraksi dengan dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan. Yaitu pertama-tama ia berusaha mengkolaborasi (Jam’u) dalil-dalil yang bertentangan. Jika tidak dapat dikolaborasikan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu dari dalil-dalil tersebut. Ia tidak melakukan Naskh karena sanggup mentarjih seluruh permasalahan Zakat dalam bukunya. Jika ada dalil-dalil yang bertentangan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu yang ia anggap Shohih. Jika ada Hadits, Atsar dan Qiyas saling bertentangan, maka ia mendahulukan Hadits dari pada Atsar dan Qiyas, jika Hadits tersebut Shohih. Jika Haditsnya Dhoif, ia lebih memilih Atsar dan Qiyas. Jika hanya terdapat satu Hadits dalam suatu masalah, jika Hadits tersebut dikuatkan oleh Atsar atau Qiyas, maka ia tetap mengambilnya meskipun Dhoif. Ia mengutamakan Atsar Sabahat dari pada perkataan ulama setelah mereka. Jika ada dua Qiyas yang bertentangan beliau memilih Qiyas yang didukung oleh dalil atau sesuai dengan kaidah-kaidah umum Agama.  الملخص: إن مما يدفع الباحث إلى اختيار هذا الموضوع ما يجري في واقع الحياة بمحتمعنا أن حوائج المحتاجين لم تسد على الوجه المطلوب والفقر والحرمان لم يمحا من الوجود . فأراد الباحث إسهام ما استطاع لأجل المشاركة في حل هذه القضية بتقديم ترجيحات أبي عبيد القاسم بن سلاّم الهروي في مسائل الزكاة . لأنه عالم متقن في كثير من الفنون الإسلامية ومن معاصري الإمامين الشافعي وأحمد وممن يقبله الناس. اختار الباحث مسائل الزكاة من كتابه لتكون موضوعا لبحثه لأن المسلمين لايزالون في سعة وقدرة في تنفيذها بخلاف المسائل الأخرى . وحدد الباحث نقطتين لبحثه . الأولى ترجيحاته والثانية أسباب ترجيحاته وتعليلاتها . مستهدفا معرفة ترجيحات أبي عبيد وأسبابها ، لتكون مرجعا للقائمين بجمع الزكاة وصرفها في مواضعها ، وليسترشدوا بها في تطبيقاتهم لأحكام الزكاة . كما استهدف إبراز جانب الفقه في شخصية أبي عبيد . والمنهج الذي أسير عليه في كتابة هذا البحث هو ذكر أقوال الفقهاء التي ذكرها أبو عبيد وأدلة كل قول بإيجاز ، ثم أذكر ترجيحاته مع بيان أسبابها وتعليلاتها . ثم أذكر موقفي من ترجيحاته موافقة أو مخالفة مع بيان أسباب ذلك. وقد توصل الباحث إلى التنيجة التي تتلخص فيما يلي : إن أبا عبيد قد نهج منهج الجمهور في التعامل بين النصوص الشرعية التي ظاهرها التعارض . حيث إنه حاول الجمع بينها أولا ، وإذا لم يمكنه ذلك قام بترجيحها . ولم يدخل أبو عبيد في النسخ لأنه استطاع ترجيح جميع مسائل الزكاة في كتابه . وعند التعارض بين النصوص قام بترجيح النص الصحيح . وعند التعارض بين النص والآثار والقياس فإنه رجح النص عليها إن كان صحيحا ، وإذا كان ضعيفا فإنه رجح الآثار والقياس عليه . وإذا لم يوجد في المسألة إلا حديث واحد فإنه أخذه بشرط أن تكون هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده ، وإن لم تكن هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده فإنه لا يأخذه . قدم أبو عبيد آثار الصحابة على أقوال من بعدهم . وعند التعارض بين الأقيسة رجح أبو عبيد قياسا صحيحا مؤيَّدا بالنص أو بالقواعد العامة في الدين على قياس فاسد عير معتبر . وقد يرجح بين أقوال الفقهاء بناء على مهارته في تفسير ألفاظ النصوص الشرعية.الكلمات الرئيسة: ترجيح، أبو عبيد، الزكاة، كتاب الأموال.
PEMIKIRAN RADEN AJENG KARTINI TENTANG PENDIDIKAN PEREMPUAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Muthoifin, Muthoifin; Ali, Mohammad; Wachidah, Nur
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.7690

Abstract

Raden Ajeng Kartini is one of first feminist in Indonesia who is installed as national heroine and her birthday is celebrated by Indonesia nation. The hardest Kartini’s struggle was for education, because she was sure that one of the instruments of respecting woman role in improving civilization. Based on the explanation, this study aim is to (1) describe Raden Ajeng Kartini’s idea of woman education, and (2) analyze the Raden Ajeng Kartini’s idea relevance of woman education for developing Islamic education. This research is library research by using historical and biography approaches by retelling and reexpressing the important history and event in the Kartinis’s life. This research is analyzed by describing the Kartini’s consideration of education which manifested and had the relevance of the theory. Kartini’s idea of education is critics reaction based on every problem which faced by her thought education experiences which were gotten, so that it appears practical concept of woman education. Kartini’s struggle was not just and idea, because Kartini was brave to stride in opening woman school even it had contradiction with culture. The effect on next development, Kartini’s struggle became stimulation in developing education, especially Islamic education which develops very quickly by appearing woman school (Islamic boarding school) and the progress of Islamic ideas by appearing many religious organizations after Kartini’s death.Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh feminis pertama Indonesia yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional dan hari lahirnya diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia.Kartini seorang pejuang kemerdekaan perempuan.Perjuangan Kartini yang paling keras adalah pendidikan, karena Kartini yakin hanya pendidikan alat satu-satunya untuk mengangkat derajat peremuan dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya peran perempuan dalam membangun peradaban. Berdasar hal itu, maka penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pemikiran Raden Ajeng Kartini tentang pendidikan perempuan, dan (2) menganalisis relevansi pemikiran pendidikan perempuan Raden Ajeng Kartini bagi pengembangan pendidikan Islam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan yang menggunakan pendekatan historis dan biografi dengan menceritakan dan mengungkap kembali sejarah dan peristiwa penting dalam kehidupan Kartini.Penelitian ini menggunakan analisis isi dalam menganalisis data penelitian, yakni mendeskripsikan pemikiran pendidikan Kartini yang termanifestasikan dan memiliki relevansi teori yang jelas. Pemikiran Kartini tentang pendidikan merupakan reaksi kritis atas setiap permasalahan yang dihadapinya berdasar pengalaman-pengalaman edukatif yang diperoleh sehingga melahirkan konsep praktis tentang pendidikan perempuan.Perjuangan Kartini bukan sebatas ide, karena Kartini telah berani melangkah, membuka sekolah perempuan meski bertentangan dengan adat.Akibat pada perkembangan selanjutnya, perjuangan Kartini menjadi stimulan pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan Islam yang mengalami perkembangan sangat cepat dengan tumbuhnya sekolah-sekolah perempuan (pesantren) dan kemajuan pemikiran-pemikiran Islam dengan tumbuhnya berbagai organisasi keagamaan setelah wafatnya Kartini.
UCAPAN TERIMA KASIH Profetika, Redaksi
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 2, Desember 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i2.2157

Abstract

Ucapan Terima Kasih
CORAK TAFHIM AL-QUR’AN DENGAN METODE MANHAJI Anshori, Ari
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 1, Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i1.1831

Abstract

many varieties and ways for someone to understand al-Qur’an or tafhim al-Qur’an. It is because one’s ability to understand and to explain about the essence of Allah’s commandment is different, based on his/her ability and understanding himself/herself. The difference in understanding is not separable from many factors, among other are: the level of intellegence, the level of education, the level of underlying religious understanding. The focus of problem in this research was to find the proper formulation of tafhim, in order that the messages contained in al-Qur’an are easy to understand correctly based on the text and the context of the referred verse. The results of the research were: that al-Qur’an has verses in the forms of muhkamat and mutasyabihat, therefore, to understand them, aided tools are needed such as tafhim manhaji, in order that the messages contained on them can be understood correctly based on the referred text and context. Although it is proper to appreciate if every effort of tafhim and interpretation of al-Qur’an always uses a method or strategy of new study, including a new style contained in the tafhim manhaji of al-Qur’an, because the method of tafhim manhaji is considered as being able to reduce many kinds of abstruse in understanding the verses of Allah written in al-Qur’an or verses which are broadly spread on this universe.
PENERAPAN METODE UMMI DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN Hernawan, Didik
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7751

Abstract

This study aims to describe and compare the implementation of Quran learning usingthe Ummi method, the results of student achievement in the application of Ummi method, the advantages and weakness of Ummi method in the ElementarySchool Daar El-Dzikir Sukoharjo and the Islamic Elementary School Integrated Insan Kamil Karanganyar. This research is included in qualitative research by describing the data collected as the scope of research and the field as a place of research (field research). The nature of this study is more in the direction of comparative study research with data collection techniques in the form of interviews that are validated by observation, and documentation. The results of research from this study are the application ofUmmi method in learning of the Quran at SDU Daar El-Dzikir and SDIT Insan Kamil by using ten pillars that have been formulated by the Ummi Foundation. The ten Pillars are goodwill management, teacher certification, stages of good and right, clear and measurable targets, consistent mastery learning, adequate time, proportional teacher and student ratios, internal and external controls, progress reports of each student and a reliable coordinator. The application of the ten pillars of Ummi method at SDU Daar El-Dzikir and SDIT Insan Kamil is different in determining targets, adding training time (driling), teacher and student ratios, student progress reports, and internal controls. The results of student achievement in the application of Ummi method are measured from students who have passed the exam by completing the reading material. Students are able to read Quran with tartil and fasahah. SDU Daar El-Dzikirhas graduated 89 students for three examinations. While SDIT Insan Kamil has passed 87 students for two examinations. The advantages of Ummi method are qualitybased systems, systematic stages, continuous material, and strict control. The weakness ofUmmi method is needed a lot of teachers, a long time and a large cost.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan pelaksanaan pembelajaran al-Qur’an dengan menggunakan metode Ummi, hasil pencapaian siswa dalam penerapan metode Ummi, kelebihan dan kekurangan metode Ummi di Sekolah Dasar Unggulan Daar El-Dzikir Sukoharjo dan Sekolah Dasar Islam Terpadu Insan Kamil Karanganyar. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menjabarkan data-data yang terkumpul sebagai ruang lingkup penelitiannya danlapangan sebagai tempat penelitiannya (field research).Sifat dari penelitian ini lebih ke arah pada penelitian studi komparasi dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara yang divalidasi dengan observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah penerapan metode Ummi dalam pembelajaran al-Qur’an di SDU Daar El-Dzikir dan SDIT Insan kamil dengan menggunakan sepuluh pilar yang telah dirumuskan oleh Ummi Foundation yaitu goodwill manajemen, sertifikasi guru, tahapan baik dan benar, target jelas dan terukur,mastery learning yang konsisten, waktu memadai , rasio guru dan siswa yang proporsional, kontrol internal dan eksternal, progress report setiap siswa dan koordinator yang handal.Penerapan sepuluh pilar metode Ummi di SDU Daar El-Dzikir dan SDIT Insan Kamil berbeda dalam penentuan target, penambahan waktu latihan (driling), rasio guru dan siswa, progress report siswa, dan kontrol internal. Hasil pencapaian siswa dalam penerapan metode Ummi diukur dari siswa yang telah dinyatakan lulus ujian dan melaksanakan khataman dengan menyelesaikan jilid 1 sampai jilid tajwid sehingga menguasai tartil dan fasahah. SDU Daar El-Dzikir telah meluluskan 89 siswa selama tiga kali khataman. Sedangkan SDIT Insan Kamil sudah meluluskan 87 siswa selama dua kali khataman. Kelebihan metode Ummi yaitu sistem yang berbasis mutu, tahapan yang sistematis, materi yang kontinu, dan kontrol yang ketat. Kelemahan metode Ummi yaitu membutuhkan guru yang banyak, waktu yang lama dan biaya yang besar.

Page 11 of 48 | Total Record : 473