cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
الأعمال الطبية الحديثة بين الأحكام الفقهية والقانون الإندونيسي (دراسة مقاصدية في طفل الأنابيب و منع الحمل و زراعة الأعضاء) Fajar, Ricky
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5302

Abstract

A The purpose of this study is to describe the surgery of modern medicine in in vitro fertilisation (IVF), contraception and organ transplants between Indonesian  regulation, it’s seen from the viewpoint of "maqosidsyareahIslamiyah," and I started with definition of the surgery of modern medical, legal jurisprudence, legislation and maqosidsyareah, then an explanation of the applicable regulations, and laws maqosid of the review that took place in Indonesian society.in this study I used qualitative research and literature, by reading medical books required and books of fiqh contemporary for completeness, then I used the method of comparison, between the opinions of medicine and jurisprudence, and method of conclusions by looking at events that hit with a solution from the point of view of maqosid to keep human emergency law, of keeping religion, life, property, intellect, and descent, with the words of scholars in the application maqosidsyareah. Conclusions of law IVF, including temporary because of sterility of husband and wife, and this is permitted, other than one of the two or lease womb is forbidden like adultery, although there is a need and treat infertile, thenvasectomy and tubal ligation including emergency contraception is forever, the rest, including the need is temporary, except spiral, modern gelding, and implants that could be forever, then autograft, isograft, and allograft included in the emergency laws if they can help the lives, while the rest, including the need if it’s proven to be beneficial. Tujuan tesis ini menjelaskan operasi medis modern dalambayi tabung, kontrasepsi dan transplantasi organ antara undang undang Indonesia dan hokum fiqih, dilihat dari sudut pandang “maqosid syareah islamiyah”, dan saya mulai dengan pengertian operasi medis modern, hukum fiqih, undang-undang dan maqosid syareah, kemudian penjelasan tentang ketentuan yang berlaku, serta hokum maqosid dari tinjauan yang terjadi di masyarakat Indonesia.Saya berpedoman dalam penelitian ini dengan studi kualitatif dan kepustakaan, dengan membaca buku kedokteran yang diperlukan dan buku fiqih kontemporer untuk kelengkapanya, kemudian saya gunakan metode perbandingan,antarapendapat kedokteran dan fiqih, dan metode kesimpulan dengan melihat kejadian yang melanda dengan solusi dari sudut pandang maqosid untuk menjaga hukum darurat manusia, dari menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan, dengan perkataan ulama dalam penerapan maqosid syareah. Kesimpulan dari hukum bayi tabung, termasuk kebutuhan dengan sebab mandulnya suami istri, dan ini dibolehkan, selain salah satu dari keduanya atau sewa rahim haram mirip zina,walau ada kebutuhan dan mengobati mandul, kemudian vasektomi dan tubektomi termasuk kontrasepsi darurat bersifat selamanya, sisanya termasuk kebutuhan bersifat sementara, kecuali spiral, kebiri modern, dan implant yang bisa bersifat selamanya, kemudian autograft, isograft, dan allograft termasuk dalam hukum darurat jika mampu menolong nyawa, adapun sisanya termasuk kebutuhan jika terbukti bermanfaat. الخلاصة: إستهدف هذا البحث بيان الأعمال الطبية الحديثة في أطفال الأنابيب ومنع الحمل وزراعة الأعضاء بين القانون الإندونيسي والأحكام الفقهية،من جانب حكم "مقاصد الشريعة الإسلامية"، وابتدأت في هذا الجهد بمفهوم العملية الطبية الحديثة، ثم مفهوم الأحكام الفقهية و القانون الإندونيسي و مقاصد الشريعة منها.ثم بيان الضوابط الطبية والفقهية فيها، ثم الأحكام المقاصدي بنظر إلى الواقع في مجتمع إندونيسي.وقد إعتمدت الدراسةبالبحث النوعي،وإعتمدت بدراسة المكتبية بقرآءة الكتب الطبية المحتاجة والكتب الفقهية المعاصرة لإتمام المعلومات.كما إستخدمت المنهج المقارن,وذلك بمقارنة بين موقف الطب و الفقه.والمنهج الإستنباطي بنظر إلى الواقعة المنتشرة الذي محل تحليلها من جانب المقاصد لحفظ ضرورة الناس، من حفظ الدين،والنفس،والمال،والعقل والنسل مع أقوال العلماء في تطبيق المقاصد الشريعة. ونتيجة المقاصد في طفل الأنابيب حكمه داخل في الحاجية بين الزوجين بسبب العقم وذلك جائز فعلا،أما من غير أحدهما أو مع إستئجار الأرحام فهذا حرام وشبه زنا ولو بوجود حاجة ولعلاج العقم، ثم فاسكتومي وتوبكتومي من نوع منع الحمل الضروري المؤبد،وبقية الأنواع داخل في حكم حاجية للمؤقتإلاّ اللولب،والخصاء الحديث،والهورمونات الجلدية الإمتصاص في نوع حاجية دائمة،ثم غريسة ذاتية متمالثة ومتباينة من الضرورة حكما إن حصلت إنقاذ الحياة وبقية الأنواع في الغريسة حكمه كالحاجية إذا تبينت الفائدة.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM AHMAD SYAFII MAARIF Ali, Mohamad
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5293

Abstract

The Indonesian Islamic intellectualism is increasingly dynamic and accounted in the global arena. This perception occurs because on the one hand, Indonesia is the largest concentration of Muslim population in the world, and on the other side there is an ontentic, dynamic and inclusive process of Islamic intellectualism. The 1980s Indonesian Islam gave birth to a series of "new intellectuals" whose ideas contributed significantly to embroidering the Indonesian pillars of social progress and justice: the Islamization, nationalism, humanity and modernity. One of the pioneers of new intellectualism worth taking into account is Ahmad Syafii Maarif. He is widely known as an Islamic thinker as well as a social activist involved in solving national and humanitarian issues. So far, the public recognizes Buya Syafii as a Muslim historian and intellectual who devotes his enormous intellectual energy to builds an inclusive Islamic culture. Beyond, there is one dimension of Buya Syafii's idea that is almost oblivious to the public's attention, namely the spark of his thoughts on Islamic education which is driven concern over the social reality of Islamic education which is dichotomous, backward, and poor in thought.The thought of Buya Syafii is intended to find a way out of the crisis of Islamic education from the "trap" of history, namely by redialog with the Qur'an. Hypothetically, Islamic education thought he borrowed, patterned religious-critical.Geliat intelektualisme Islam Indonesia semakin dinamis dan diperhitungkan di kancah global. Persepsi ini terjadi karena di satu sisi, Indonesia merupakan tempat konsentrasi penduduk Muslim terbesar di dunia, dan di sisi lain ada proses pertumbuhan intelektualisme Islam yang ontentik, dinamis dan inklusif. Dekade 1980-an Islam Indonesia melahirkan sederet “intelektual baru” yang ide-idenya berkontribusi signifikan dalam menyulam pilar-pilar Indonesia berkemajuan dan berkeadilan sosial, yaitu: ke-Islaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kemodernan. Salah satu pelopor intelektualisme baru yang layak diperhitungkan adalah Ahmad Syafii Maarif. Dia dikenal luas sebagai pemikir Islam sekaligus aktivis sosial yang terlibat dalam upaya pemecahan persoalan kebangsaan dan kemanusiaan. Sejauh ini, publik mengenal sosok Buya Syafii sebagai seorang sejarawan dan cendekiawan Muslim yang mencurahkan energi intelektualnya yang begitu besar untuk membangun kultur Islam inklusif. Di luar itu, ada satu dimensi pemikiran Buya Syafii yang hampir luput dari perhatian publik, yaitu percikan pemikirannya tentang pendidikan Islam yang digerakkan keprihatinan atas realitas sosial pendidikan Islam yang dikotomik, terbelakang, dan miskin pemikiran. Pemikiran Buya Syafii ditujukan untuk mencari jalan keluar atas kemelut pendidikan Islam dari “jebakan” sejarah, yakni dengan mendialogkannya kembali dengan Al-Qur’an. Secara hipotetik, pemikiran pendidikan Islam yang diusungnya bercorak kritis-religius.
MEMBEDAH TUJUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH Ali, Mohamad
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2099

Abstract

The presence of modern religious school “Muhammadiyah” (1911) be a trigger asthe establishment of modern organizations: Muhammadiyah (1912). Long time before Indonesia’sindependence, Muhammadiyah has formulated educational goals for schools which arebuilt.Since its establishment until today, the purpose of Muhammadiyah education amendedseveral times. These changes are a creative response of Muhammadiyah on current socialchange, a shift in the orientation of community life, as well as the progress of science andtechnology.from the political constellation of national education, Muhammadiyah was relativelyautonomous when formulating the educational goals.Meanwhile, from the perspectiveof modern educational theory, style of Muhammadiyah educational purposes closer to progressiveeducation theory that emphasizes the experience reconstruction continuously as a vehicleto promote social life.eKeywords: educational; Muhammadiyah education; progressive.Abstrak: Kehadiran sekolah agama modern “Muhammadiyah” (1911) menjadi trigger berdirinyaorganisasi modern: Muhammadiyah (1912). Jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyahtelah merumuskan tujuan pendidikan bagi sekolah-sekolah yang diselenggarakannya.Sejak awal berdiri hingga saat ini, tujuan pendidikan Muhammadiyah mengalamibeberapa kali perubahan. Perubahan-perubahan itu merupakan respons kreatif Muhammadiyahatas arus perubahan sosial, pergeseran orientasi kehidupan masyarakat, maupun kemajuanilmu dan teknologi. Dilihat dari konstelasi politik pendidikan nasional, Muhammadiyahternyata relatif mandiri ketika merumuskan tujuan pendidikannya. Sedangkan dari perspektifteori pendididkan modern, corak tujuan pendidikan Muhammadiyah lebih mendekati teoripendidikan progresif yang menekankan pada rekonstruksi pengalaman secara terus-menerussebagai wahana memajukan kehidupan sosial.Kata Kunci: tujuan pendidikan; pendidikan Muhammadiyah; progresif.
PEMIKIRAN RADEN AJENG KARTINI TENTANG PENDIDIKAN PEREMPUAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Muthoifin, Muthoifin; Ali, Mohamad; Wachidah, Nur
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6299

Abstract

Raden Ajeng Kartini is one of first feminist in Indonesia who is installed as national heroine and her birthday is celebrated by Indonesia nation. The hardest Kartini’s struggle was for education, because she was sure that one of the instruments of respecting woman role in improving civilization. Based on the explanation, this study aim is to (1) describe Raden Ajeng Kartini’s idea of woman education, and (2) analyze the Raden Ajeng Kartini’s idea relevance of woman education for developing Islamic education. This research is library research by using historical and biography approaches by retelling and reexpressing the important history and event in the Kartinis’s life. This research is analyzed by describing the Kartini’s consideration of education which manifested and had the relevance of the theory. Kartini’s idea of education is critics reaction based on every problem which faced by her thought education experiences which were gotten, so that it appears practical concept of woman education. Kartini’s struggle was not just and idea, because Kartini was brave to stride in opening woman school even it had contradiction with culture. The effect on next development, Kartini’s struggle became stimulation in developing education, especially Islamic education which develops very quickly by appearing woman school (Islamic boarding school) and the progress of Islamic ideas by appearing many religious organizations after Kartini’s deathRaden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh feminis pertama Indonesia yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional dan hari lahirnya diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia.Kartini seorang pejuang kemerdekaan perempuan.Perjuangan Kartini yang paling keras adalah pendidikan, karena Kartini yakin hanya pendidikan alat satu-satunya untuk mengangkat derajat peremuan dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya peran perempuan dalam membangun peradaban. Berdasar hal itu, maka penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pemikiran Raden Ajeng Kartini tentang pendidikan perempuan, dan (2) menganalisis relevansi pemikiran pendidikan perempuan Raden Ajeng Kartini bagi pengembangan pendidikan Islam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan yang menggunakan pendekatan historis dan biografi dengan menceritakan dan mengungkap kembali sejarah dan peristiwa penting dalam kehidupan Kartini.Penelitian ini menggunakan analisis isi dalam menganalisis data penelitian, yakni mendeskripsikan pemikiran pendidikan Kartini yang termanifestasikan dan memiliki relevansi teori yang jelas. Pemikiran Kartini tentang pendidikan merupakan reaksi kritis atas setiap permasalahan yang dihadapinya berdasar pengalaman-pengalaman edukatif yang diperoleh sehingga melahirkan konsep praktis tentang pendidikan perempuan.Perjuangan Kartini bukan sebatas ide, karena Kartini telah berani melangkah, membuka sekolah perempuan meski bertentangan dengan adat.Akibat pada perkembangan selanjutnya, perjuangan Kartini menjadi stimulan pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan Islam yang mengalami perkembangan sangat cepat dengan tumbuhnya sekolah-sekolah perempuan (pesantren) dan kemajuan pemikiran-pemikiran Islam dengan tumbuhnya berbagai organisasi keagamaan setelah wafatnya Kartini
DISTORSI SEJARAH ISLAM PADA MASA AL-KHULAFĀ AR-RĀSYIDŪN DAN DAULAH UMAYYAH (Tinjauan Kritis Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah) Andri Permana, Luthfi Romdhon
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5298

Abstract

Distortion in the history of Islam has been occured since the first codification of the history of Islam which supported by Shi’ites historian such as Abu Miḥnaf Luṭ bin Yahya and others. Distortion in modern era refers to hegemony of orientalism which has big influence and power in this field. Distortion was caused by religion, sect, money motive etc. This distortion spread from society to school. The distortion happened at Rashidun Caliphate’s time, which was started by rebellion toward Uṡmān. The rebelllion cause Uṡmān death. That killing has great implications; Jamal and Siffīn wars, Kharijites revolts, hatred from some groups toward Umayyad Caliphate and in other effects at ummah. This writing aims to find out a method in studying the history of Islam, distortion and its implications, different opinions between ṣaḥābat and Islamic view toward it. Author applied in writing this thesis bibliography method with historic-philoshopic approach from datas and evidences.  Based on datas and evidences, the author can conclude that methods at researching, writing and teaching history of Islam is very important to purify the history of Islam from distortion. Distortion means attempt to mislead datas or misinterpert intentionally or unintentionally. Distorsions have bad effects at Islam and ummah. If datas and histories are distorted, it will estrange people from Islam slowly which found out at some people and groups. Teaching history of Islam at schools which also distorted need to be totally reformed started from researching, writing and teaching method. The different opinions between ṣaḥābat because of the death of Uṡmān. Ṣaḥābat had different opinions about hastening or postponing qiṡās to Uṡmān murderers which cause Jamal and Siffīn wars. The implications of different opinions between ṣaḥābat have big influence in people creed toward ṣaḥābat from that day until now. It also causes hatred from some people and sects toward Umayyad Caliphate because Mu’āwiyah; founder Umayyad Caliphate has some different opinions with Ali-raḍiyallahu’anhuma- besides other hatred factors.  Distorsi sejarah Islam terjadi sejak masa awal penulisan sejarah Islam yang terutama dimotori oleh Syiah melalui periwayatan sejarawan seperti Abu Miḥnaf Luṭ bin Yahya dan lainnya. Pada masa sekarang terutama karena hegemoni orientalisme yang begitu kuat. Distorsi tersebut terjadi karena motif agama, sekte, materi dan lainnya. Hal tersebut menyebar di masyarakat hingga level sekolah. Distorsi tersebut terutama pada fase khulafaurrasyidin dengan pemberontakan terhadap Uṡmān hingga ia terbunuh yang berimplikasi panjang; perang Jamal dan Siffīn, pemberontakan Khawārij, kebencian sebagian kalangan kepada Daulah Umawiyyah dan efeknya yang lain di tubuh umat dalam banyak bidang. Penelitian ini bertujuan mengetahui cara orisinil dalam studi sejarah Islam untuk menangkal distorsi, distorsi dan dampaknya serta perselisihan diantara para ṣaḥābat dan pandangan Islam menyikapi perselisihan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian bibliografi dengan pendekatan historis-filosofis dari data yang didapatkan. Berdasar data dapat disimpulkan bahwa metode studi sejarah Islam penting dalam upaya menjaga kemurnian sejarah Islam dari distorsi. Distorsi itu sendiri bermakna upaya menghancurkan Islam terlepas sengaja atau tidak sengaja. Dampak distorsi berpengaruh pada Islam dan umat, ketika informasi dan sejarah yang diterima terdistorsi, hal itu akan menjauhkannya dari agama secara perlahan-perlahan sebagaimana yang terjadi pada sebagian kalangan. Pengajaran sejarah Islam di sekolah pun ikut terdistorsi yang menunjukkan urgensi perbaikan menyeluruh yang harus dimulai dari metode penelitian, penulisan dan pendidikan yang orisinil. Perselisihan antar ṣaḥābat dipicu kematian Uṡmān yang terzalimi. Mereka berbeda ijtihad antara menyegerakan atau menunda qiṡās yang menyebabkan terjadinya perang Jamal dan Siffīn. Dampaknya di umat terasa terutama dalam masalah akidah terhadap ṣaḥābat sejak itu hingga sekarang. Hal tersebut juga mempengaruhi pandangan sebagian kalangan terhadap Daulah Umawiyyah mengingat posisi Mu’āwiyah; pendiri Daulah Umawiyyah yang berselisih dengan Ali -raḍiyallahu’anhuma- disamping sebab-sebab kebencian yang lain.
DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSI Profetika, Redaksi
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 2, Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i2.2161

Abstract

DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSIU
استنباط الأحكام بالجمع بين النصوص المتعارضة نماذج تطبيقيّة في كتاب سبل السلام للصنعاني Amin, Arwani
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 2, Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i2.1858

Abstract

Sesungguhnya di dalam kitab Subulus-Salam karya Imam As-Shan’ani terdapat sejumlah hadits yang menjadi persoalan bagi para penuntut ilmu dalam memahaminya, karena satu sama lain tampak saling bertentangan (ta’arudh). Makalah ini mencoba menjelaskan sebab-sebab terjadinya persepsi pertentangan, metode para ulama dalam menyikapinya baik dengan cara memadukan (jama’), nasakh, tarjih maupun tawaqquf, serta bagaimana mereka mengaplikasikan masing-masing darinya. Makalah ini -dengan menggunakan metode jama’- akan memecahkan enam masalah pertentangan antar hadits dari kitab Subulus-salam sebagai sampel. Dengan begitu akan memberikan pemahaman teoritis dan praktis di bidang fiqih pemaduan nash-nash, membimbing umat untuk memiliki cara pandang holistik terhadap nash-nash dengan segenap kaitanan dan aspeknya sesuai panduan syariah, dan menutup satu celah di medan fiqih Islam karena -sepanjang yang diketahui penulis- belum ada satupun buku yang ditulis secara khusus yang menghimpun seluruh masalah fiqhiyah yang didasarkan pada pemaduan diantara dalil-dalil yang tampak saling bertentangan.Kata kunci: pertentangan; hadits; jama’; subulus-salam; fiqih.إنّ في كتاب سبل السلام للصنعاني أحاديث استشكل فهمها على طلبة العلم لظهور التعارض فيما بينها. فهذه المقالة تبيّن أسباب تصوّرِ التعارض وطرائق العلماء في التعامل معها من جمع ونسخ وترجيح وتوقّف، ومتى وكيف أعملوا كلّا منها، وتعالج - بطريقة الجمع وإعمال مسالكه - ست مسائل من كتاب سبل السلام كنماذج ، وبذلك تعطي التصوّر النظري والتطبيقي في مجال فقه الجمع بين النصوص، وترشد الأمة على النظرة الشمولية للنصوص بكل ملابساته وجوانبه وفق الضوابط الشرعية، وتسدّ ثغرة في ميدان الفقه الإسلامي، لأنه لم يُكتب – حسب معرفة الباحث - كتابٌ مستقلّ ومستوفٍ لكلّ مسائل الفقه التي بنيت على الجمع بين الأدلة المتعارضة.كلمات مفتاحية: تعارض، أحاديث، جمع، سبل السلام، فقه.
CIVIC EDUCATION AT MUHAMMADIYAH HIGHER EDUCATION: DEVELOPMENT STUDY OF HAND BOOK OF MENUJU KEHIDUPAN YANG DEMOKRATIS DAN BERKEADABAN Suidat, Suidat; Husaini, Adian; Saefuddin, Didin; Mujahidin, Endin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6295

Abstract

Civic education is one of the basic courses that must be taken by every student at the College. The regulation of the course is based on the mandate contained in the law on the National Education System. Through Civic Education courses, the students can be directed national personality, that is how they love their homeland Indonesia, being a democratic, civilized, tolerant and so on. Muhammadiyah through the Council of Higher Education, Research and Development of Muhammadiyah head quarter published a textbook on Civic Education with the title Civic Education toward a Democratic and Civilized Life. The book became a staple in reference Civic Education Course in Universities of Muhammadiyah (PTM). However when elaborate on the Indonesian ideology or, in the book does not contain the formulation history of state basic ideology which was done by the founding fathers. Also how the role and Islamic thought figures who participated in formulating the state basic ideology be part of the material that was duly presented in the book. It is important that students who study in PTM to know and understand the history and struggle of Islamic figures in formulating the basis of the state and the dynamics that occurred at that time. So that their knowledge is complete and in understanding the Pancasila as the state basic ideology of Indonesia. Ki Bagus had very important role in the Committee for Indonesian Independence (PPKI) experienced of dead lock about the change of first principle of Pancasila, and there was serious debate and dynamic. Likewise, the role and thought of Kasman Singodimedjo was also important on the basis state in both the trial PPKI, as well as in the Constituent Assembly. Perpsektif Kasman about Pancasila based on Islam became important after the implementation of 1945 Constitution and Presidential Decree July 5th 1959. The role of Abdul Kahar Mudzakkir as a witness to the history of the struggle of Muslims cannot be neglected; especially Mudzakkir included in the Committee of Nine which develops the basic state eventually became the Jakarta Charter and accepted unanimously by BPUPKI. Furthermore, in the Constituent Assembly Mudzakkir remain committed to make Islam as the basis of the state, where the Constituent Assembly is the foundation of the momentum of the second volume formulation. The core of the Civics book is how the problem of state ideology especially Pancasila can be described in a comprehensive, complete and not partial. Including the relationship between the Jakarta Charter and the Constitution 1945. Other matters concerning aspects of citizenship is derived and the meaning of ideology or basic state. Therefore, this paper presents the role and thought of Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, and Abdul Kahar Mudzakkir become material development of Civic Education in the book of Civic Education toward a Democratic and Civilized Life.Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata kuliah dasar yang mesti ditempuh oleh setiap mahasiswa dalam studinya di Perguruan Tinggi. Ketentuan adanya mata kuliah ini berdasarkan amanat yang tertuang dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan ini mahasiswa diarahkan dapat berkepribadian nasional, yaitu bagaimana mereka cinta tanah air Indonesia, bersikap demokratis, beradab, toleran dan lain sebagainya. Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) menerbitkan satu buku teks tentang Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) dengan judul Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban. Buku ini menjadi referensi pokok dalam Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Akan tetapi ketika menguraikan tentang ideologi atau dasar negara Indonesia pada bagian yang membahas tentang “Membangun  Identitas Nasional”, tidak memuat bagaimana sejarah perumusan dasar negara yang dilakukan para founding fathers. Bagaimana pemikiran tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir tidak menjadi bagian dalam materi yang sepatutnya disajikan dalam buku tersebut. Hal ini penting agar mahasiswa mengetahui dan memahami sejarah dan perjuangan tokoh-tokoh Islam dalam merumuskan dasar negara serta dinamika yang terjadi saat itu. Sehingga pengetahuan mereka menjadi utuh dan tidak parsial dalam memahami Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Peran Ki Bagus sangat penting ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengalami deadlock soal perubahan sila pertama dasar negara Indonesia. Demikian juga pemikiran Kasman Singodimedjo tentang dasar negara baik dalam sidang PPKI, maupun dalam sidang Konstituante. Perpsektif Kasman tentang Pancasila yang berbasis pada Islam menjadi penting setelah diberlakukan kembali UUD 1945 dengan lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Demikian juga pemikiran Abdul Kahar Mudzakkir sebagai saksi sejarah perjuangan umat Islam tidak bisa dilupakan begitu saja, Abdul Kahar Mudzakkir termasuk dalam Panitia Sembilan yang bertugas menyusun dasar negara yang pada akhirnya menjadi Piagam Jakarta. Dalam Sidang Konstituante Mudzakkir tetap komitmen menjadikan Islam sebagai dasar negara, di mana Sidang Konstituante adalah momentum perumusan dasar negara jilid kedua. Inti dari buku PKn adalah bagaimana masalah ideologi negara khususnya Pancasila dapat dijelaskan secara komprehensif, utuh dan tidak parsial. Termasuk hubungan antara Piagam Jakarta dan UUD 1945. Oleh karena itu disertasi ini membahas pemikiran Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir menjadi bahan pengembangan materi Pendidikan Kewarganegaraan dalam buku ajar Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban.  
KONTEKS RELIGIO-POLITIK PERKEMBANGAN SUFISME: Telaah Konsep Mahabbah dan Ma’rifah Jinan, Mutohharun
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6354

Abstract

This paper discusses the essence of the concepts of Sufism (Sufism) mahabbah and ma'rifah and how and in what context the concepts of Sufism are formulated. These two concepts are the teachings of Sufism from three Sufi figures namely Rabi'ah al-Adawiyah, Zunnun al-Mishri and al-Gahazali. Can be concluded that the three Sufis in laying the foundations of Sufism teachings did not escape from the context of his time. Rabi'a and Zunnun both live in situations where people are busy taking care of the exoteric things that do not penetrate to the esoteric dimensions of Islam. Both have shifted from the paradigm of worship held by Muslims of his day, from fear of God to love to God. While al-Ghazali lives in a state of contradiction between various Islamic groups. Mahabbah and ma'rifah taught by the three Sufis is the implementation of piety in the process of truth-seeking encompassing plurality and cosmopolitanism in a phase of civilization.Makalah ini membahas hakikat konsep-konsep tasawuf (sufisme) mahabbah dan ma’rifah dan bagaimana dan dalam konteks apa konsep-konsep tasawuf itu dirumuskan. Kedua konsep ini merupaka ajaran tasawuf dari tiga tokoh sufi yaitu Rabi’ah al-Adawiyah, Zunnun al-Mishri dan al-Gahazali. Dapat disimpulkan bahwa ketiga sufi dalam meletakkan dasar-dasar ajaran tasawuf tidak luput dari konteks zamannya. Rabi’ah dan Zunnun sama-sama hidup dalam situasi dimana umat sibuk mengurus hal-hal yang sifatnya eksoteris yang tidak menembus pada dimensi esoteris Islam. Keduanya telah menggeser dari paradigma ibadah yang dipegangi oleh umat Islam di zamannya, dari takut kepada Allah menjadi cinta kepada Allah. Sedangkan al-Ghazali hidup dalam keadaan pertentangan antar berbagai golongan Islam. Mahabbah dan ma’rifah yang diajarkan oleh ketiga sufi merupakan implementasi kesalehan dalam proses pencarian kebenaran yang dilingkupi pluralitas dan kosmopolitanisme dalam suatu fase peradaban.
مواقف ابن قدامة تجاه آراء المعتزلة الأصولية من خلال كتاب روضة الناظر وجنة المناظر Apriantoro, Muhamad Subhi; Basri, Muhammad Muinudinillah
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6355

Abstract

This publication discusses the thought of ushul fiqh Mu’tazilah in the book of Raudhot an-Nadzir wa Jannat al-Manadzir written by Ibnu Qudamah. The book is the summary of Al Mustashfa written by Imam Al Ghozali. Al Mustasfha contains diction which is not easily understood. It relates with the method used by Imam Al Ghazali namely method of Al-Mutakallimin. Therefore, book of Raudhot an-Nadzir wa Jannat al-Manadzir discusses the thought of ushul fiqh Mu’tazilah. The method of the research was qualitative method. It can be identified that Ibnu Qudamah adopts the thought of Al Ghozali without putting down his name in his book. In this book, Ibnu Qudamah sometimes has the same and different opinion with Al Ghozali. However, they also have same thought with different sampling cases. The thought of ushul fiqh Mu’tazilah influences the method of contemporary ushul fiqh. One of the influences is a human freedom to do ijtihad with the right to create their own fate. There is also a difference between old and new Mu’tazilah.  In the old perspective, the law consideration is about God (theocentric). Meanwhile, in the new perspective, the law consideration is about human (anthropocentric) يبحث في هذه النشرة عن آراء المعتزلة الأصولية التي أوردتها ابن قدامة خلال كتابه روضة الناظر وجنة المناظر لما كان هذا الكتاب مختصرا من كتاب المستصفى في علم الأصول لأبي حامد الغزالي فقد عرض كثير من عبارته بغموض وإبهام. هذا لا يخرج عن كون الغزالي نهج منهج المتكلمين في كتابة المستصفى. لهذا قد تميز روضة الناظر بآراء المعتزلة الأصولية. سلك الباحث منهج كيفي تبين من البحث أن ابن قدامة مهما كان أخذ كثير من آراء الغزالي في كتابه، وهو لم يذكر اسم الغزالي قط خلال كتابه، وافق الغزالي تارة وخالفه تارة، أو وافقه في المعنى وخالفه في الأمثلة. وآراء المعتزلة الأصولية لها تأثير كبير في مناهج الأصولية المعاصرة، منها أن باب الاجتهاد فتح بشكل واسع للحرية الأفعال الإنسانية، وجود الفروق بين مبنى الفكرة المعتزلة القدماء بمن يدعى أنه المعتزلة بثوبها الجديد. أن المعتزلة القدماء يجعلون الإله محور كل شيء، أما المعتزلة المعاصرة فإنهم جعلوا الإنسان محور كل شيء.

Page 9 of 48 | Total Record : 473