cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
PEMIKIRAN ASY-SYÂTIBÎ TENTANG MASLAHAH MURSALAH Rosyadi, Imron
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 1, Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i1.2009

Abstract

This paper discusses the application of maslahahmursalahmethod inestablishing an Islamic law. The writerstudies AsySyatibi?s thought that defines maslahahmursalah.He writes thatmaslahahmursalahis a new case that has not beenstated in a certain argumentation (nash) but it has benefits which are in line with (almunâsib)Islamic law. The conformity in deed to the Islamic law (tasharrufât) doesnot have to be always supported by certain argumentation (nash) that underlies andrefers to the conformity but it can be a collection of argumentations that give certainbenefits (qat?i). The new cases that contain benefits and have not had their confirmationare decided by maslahahmursalah, whether accepted or refused. The cases are relatedto muamalat not to rituals. The use of maslahahmursalahas the argumentation todecide a law is just for the need that is dharûrî and hâjî. Deciding the benefits from anaction that will be used as argumentation on maslahahmursalah can use commonsensemaximallyKey words: Asy-Syatibi, maslahahmursalah, argumentationMakalah ini membahas penerapan metode maslahah mursalah dalampenetapan suatu hukum Islam. Penulis mengkaji pemikirana sy-Syâtibî, yang mendefinisikanmaslahah mursalah adalah maslahah yang ditemukan pada kasus baruyang tidak ditunjuk oleh nash tertentu tetapi ia mengandung kemaslahatan yang sejalan(al-munâsib) dengan tindakan syara.» Kesejalanan dengan tindakan (tasharrufât)syara» dalam hal ini tidak harus didukung dengan dalil tertentu yang berdiri sendiridan menunjuk pada maslahahtersebut tetapi dapat merupakan kumpulan dalil yangmemberikan faedah yang pasti (qat»î). Masalah-masalah baru yang belum adakonfirmasinya, baik dibenarkan maupun ditolak, dan mengandung kemaslahatan yangdiputuskan dengan maslahah mursalah adalah berkaitan dengan masalah-masalahmuamalat, bukan berkaitan dengan ibadah. Penggunaan maslahah mursalah sebagaidalil penetapan hukum hanya untuk kebutuhan yang sifatnya dharûrî dan hâjî.Menentukan kemaslahatan dari suatu tindakan yang nantinya akan dijadikan dasarpertimbangan dalam dalil maslahah mursalah dapat menggunakan akal secaramaksimal.Kata Kunci: Asy-Syatibi, masalahah mursalah, dalil hukum
وليمة الزواج في العرف البوغيسي في منظور الفقه الإسلامي (دراسة حول الهدية في الوليمة) Rosyadi, Imron; Indriani, Dewi
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v0i0.8953

Abstract

The perfection of Islam as a guideline of human being appears in the instructions that cover all aspects of human life both personal and social; one of them is wedding ceremony and its procedure. However, the implementation of wedding ceremony is influenced by custom and culture of the local community which has been done from generation to generation. Bugis people have a habit of giving wedding gift to the bride or the bride's family which is called passolo. That habit is intended to share happiness and help to the bride's family in carrying out the wedding ceremony, which as time passed, that habit is develop like debt with recording and replying passolo to each other. Therefore, this paper aims to find out the essence of this habit according to the Bugis community, and then examine this habit from the side of the Sharia, so that the law can be concluded. To obtain the legal conclusions of this problem, the author uses a qualitative method with an inductive analysis approach. The results of the study show that the habit of Bugis people in giving passolo to the bride is not a debt agreement but more like unexpected gift, the law is permissible and not prohibited. Abstrak: Kesempurnaan Islam sebagai pedoman hidup manusia nampak dalam petunjuknya yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia baik yang sifatnya pribadi maupun yang bersifat sosial,salah satu diantaranya adalah pernikahan dan tata caranya.Namun hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan pernikahan tidak lepas dari kebiasaan dan adat masyarakat setempat yang telah dilakukan secara turun temurun.Masyarakt suku Bugis memiliki kebiasaan memberikan hadiah pernikahan kepada mempelai atau keluarga mempelai yang mereka sebut dengan istilah passolo.Kebiasaan yang dimaksudkan untuk berbagi kebahagian dan membantu keluarga mempelai dalam pelaksanaan pesta pernikahan seiring waktu kemudian berkembang menjadi seperti layaknya hutang piutang dengan adanya pencatatan dan kebiasaan saling membalas passolo.Karena itu,makalah ini bertujuan untuk mengetahui hakikat kebiasaan ini menurut masyarakat Bugis untuk kemudian mengkaji kebiasaan ini dari sisi syariat sehingga dapat disimpulkan hukummya. Untuk memperoleh kesimpulan hukum masalah ini,penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis induktif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat bugis memberikan passolo kepada mempelai bukan sebuah aqad hutang piutang melainkan hadiah yang tidak diharapkan balasannya,maka secara syariat hukumnya boleh dan tidak terlarang.??????: ?? ?? ????? ???? ??? ??????? ?? ??????? ????? ????? ???? ??????? ??? ????? ????? ?????? ?? ????? ????? ????? ???? ???????? ??? ??? ??????? ?? ?????? ??? ????? ?? ?? ???????.??????? ???? ?? ?????? ?? ???? ??? ??????? ????????? ??? ?????? ?????? ?????? ?????? ??? ??????? ???? ??? ???.??? ????? ??? ??????? ???????? ?? ?????? ?????? ?????? ??????? ?? ???? ??????? ?? ???????? ????? ??????? ?????(passolo). ???? ??? ????? ???? ??? ????? ??? ???????? ?? ???? ????? ??????? ?????? ????????? ??? ???????? ??? ????? ??????? ?????.??? ????? ????? ?? ????? ?????? ??? ??? ????? ??????? ??? ???? ??? ?? ?? ??? ???? ??????? ????? (passolo) ?? ???? ??? ??? ?????? ???? ??? ???? ??? ?????? ??????? ?????? ??? ?? ??????.????? ??? ???????????? ??????? ???? ??? ????? ????? ??? ????? ??? ??????? ???????? ?????? ??? ???? ?? ?????. ??? ????? ???? ?????? ??????? ??????? ??????????? ?? ??? ????????? ????? ???????? ????: ?? ??????? ???????? ??????? ???? ??????? ?????(passolo) ?? ???? ????? ????? ???? ??? ????? ?????????? ????? ?? ??? ????? ???? ??????? ????? ??? ????? ???? ????? ?? ????? ????? ???? ???? ???? ??? ?????? ????? ???????? ???? ??????? ????.
MOHAMMAD NATSIR DALAM DINAMIKA HUBUNGAN ANTARAGAMA DI INDONESIA Jinan, Mutohharun
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i02.1999

Abstract

This article discusses about the position of Mohammad Natsir in the dynamicof inter-religions relationship in Indonesia. Natsiris well-known as the public figure havinga great attention to the efforts for developing the life of peaceful religions in Indonesia.The efforts can be seen from his works and ideas. Natsir asks all people and leaders to usethe different religions as the potency to develop the peaceful life by having different religions.The religion Missionaries that break down the rules or government?s regulation becomesthe cause of the stress and inter-religions conflict. To create the peaceful life among thepeople with different religions, Natsir proposes the vivendimodus that consists of: thedifferent religious-people in Indonesia should live together harmonically, tolerance andappreciative each other, having priority on national development, avoiding the religionwar, and stressing on justice and religion diversity.Key Words: Mohammad Natsir; inter-religions relationship; religion diversity.Makalah ini membahas tentang posisi Mohammad Natsir dalam dinamikahubungan antaragama di Indonesia. Natsir dikenal sebagai tokoh yang memilikiperhatian besar dalam upaya membangun kehidupan keagamaan yang damai diIndonesia. Berbagai usahanya dapat dilihat dari pemikiran dan karya-karyanya. Natsirmengajak segenap pemimpin dan umat beragama memanfaatkan keragaman agamasebagai potensi untuk membangun kehidupan keagamaan yang damai. Misionarisagama-agama yang melanggar ketentuan atau peraturan pemerintah menjadi penyebabketegangan dan konflik antaragama. Untuk menciptakan kehidupan umat antaragamayang damai Natsir mengusulkan adanya modus vivendi yang meliputi: antara pemelukberagama di Indonesia supaya hidup berdampingan secara baik, saling menghargaidan toleransi, mengutamakan kepentingan pembangunan nasional, menghindariterjadinya perang agama, dan menekankan keadilan dalam keragaman beragama.Kata Kunci: Mohammad Natsir; hubungan agama-agama; Indonesia.
MODEL PENGEMBANGAN PARADIGMA INTEGRASI ILMU DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA DAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Arbi, Arbi; Hanafi, Imam; Hitami, Munzir; Helmiati, Helmiati
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v20i1.8943

Abstract

Mencuatnya perbincangan persoalan integrasi ilmu ke permukaan, sebenarnya merupakan suatu upaya untuk mencermati dinamika kehidupan dan keilmuan yang dikotomik di dunia Islam. Upaya untuk mengintegrasikan dan menginterkoneksikan berbagai keilmuan Islam dengan sains adalah daya upaya dan sekaligus sebagai jawaban mendesak atas kelemahan dan kekurangan di kalangan umat Islam dibandingkan paradigma ilmu Barat. Telah berabad-abad kaum muslimin terpenjara dalam pemahaman keagamaan yang sempit dan tidak rasional. Seakan-akan mengkaji alam semesta bukan merupakan perbuatan agama. Terjadi pemisahan secara tegas antara urusan dunia dengan akhirat, antara sains dengan agama, antara ilmuwan dengan ulama. Konsekuensinya, dunia Islam tertinggal jauh dari kemajuan sains Barat. Sadar akan keterbatasan dari terpaan dan tamparan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, PTAI Se-Indonesia berbenah diri, melakukan perombakan dan perubahan serius. Perubahan STAIN menjadi IAIN dan konversi IAIN menjadi UIN masih menyisakan problema besar, rumit dan pelik, terutama terletak pada persoalan pengembangan paradigma integrasi ilmu, pilar spritualitas dan model implementasinya. Model pengembangan paradigma integrasi ilmu yang dikembangkan di UIN Suka Yogyakarta terkonsentrasi pada simbol jaring laba-laba dan UIN Maliki Malang bersimbolkan pohon ilmu.
METODE I‘RĀB AL-QUR’AN DAN KONVENSIONAL SEBAGAI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB BAGI NON ARAB DI PONPES AL MADINAH BOYOLALI Hidayat, Syamsul; Ashiddiqi, Amien
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8119

Abstract

This study aims to obtain related information about (1) Exploring and knowing Arabic learning models for non-Arabs, (2) Knowing the differences between the i'r?b al-Qur'an (IQ) method and the conventional method (MK) for non-Arab speakers, (3) Knowing and describing the level of effectiveness of Arabic learning for non-Arabs using the i'r?b al-Qur'an (IQ) method and the conventional method (MK) in Islamic boarding schools. This research includes qualitative research at Al Madinah Islamic Boarding School Class XI MA Nogosari Boyolali Year 2017. The research subjects are the principal, teachers and students. Data collection is done through observation, interviews, and documentation. The data analysis technique carried out in this study is to analyze interactive model data by interacting between data collection, data reduction, data presentation and data verification. Research results: (1) Arabic Language Learning Model of Madrasah Aliyah Al Madinah Boyolali 2017/2018. The basic method used by the cleric is the bandongan method, which is a collective method (halaqoh) which is conveyed by the translation model in which the cleric reads the Arabic-language book, then translates and explains the rules and wisdom contained in it, while the students listen to the study delivered by the cleric. Learning uses the method of translation rules, delivery with lecturer, question-answer and talaqqi (sorogan). (2) The difference between the IQ method and the conventional method that the IQ method is applied in the boarding school environment in na?wu-?araf, bal?gah learning, and some in mu??la?ah lessons. The IQ method is more inviting students to interact directly with the al-Qur'an and Hadith. The IQ method is broader in discussion, while conventional methods are limited to the curriculum. (3) The level of effectiveness of learning Arabic for non-Arabs with the IQ method and conventional methods in Islamic boarding schools that conventional methods are less satisfying for bal?gah and mu??la?ah lessons, if there is no combination of strategies.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait tentang (1) Mengeksplorasi dan mengetahui model pembelajaran bahasa Arab bagi non-Arab, (2) Mengetahui perbedaan antara metode i?r?b al-Qur?an (IQ) dengan metode konvensional (MK) bagi penutur non-Arab, (3) Mengetahui dan mendeskripsikan tingkat efektifitas pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dengan metode IQ dan MK di lingkungan pondok pesantren. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif di Pondok Pesantren Al Madinah Kelas XI MA Nogosari Boyolali Tahun 2017. Subjek penelitian dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik analisis data model interaktif dengan menginteraksikan antara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian: (1) Model Pembelajaran Bahasa Arab Madrasah Aliyah Al Madinah Boyolali Tahun 2017/2018. Metode yang digunakan para ustadz adalah metode talaqqi (sorogan-bandongan) yaitu metode kolektif (halaqoh) penyampaiannya dengan model kaidah-terjemah yang mana ustadz membaca kitab berbahasa Arab, lalu menerjemahkan dan menjelaskan kaidah-kaidah dan hikmah yang terkandung di dalamnya, sementara para santri menyimak kajian yang disampaikan ustadz. Pembelajaran menggunakan metode kaidah-terjemah, penyampaian dengan lecturer (ceramah), dan tanya-jawab. (2) Perbedaan antara metode i?r?b al-Qur?an dengan metode konvensional bahwa metode IQ diterapkan di lingkungan pondok pesantren dalam pembelajaran na?wu-?araf, bal?gah, dan beberapa di pelajaran mu??la?ah. Metode IQ lebih mengajak siswa berinteraksi secara langsung kepada al-Qur?an maupun Hadits. Metode IQ lebih mudah diingat siswa dan lebih luas pembahasannya, adapun MK terbatas dengan kitab kurikulum pegangan. (3) Tingkat efektifitas pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dengan metode IQ dan MK di lingkungan pondok pesantren bahwa metode konvensional kurang memuaskan untuk pelajaran bal?gah dan mu??la?ah, jika tidak ada kombinasi strategi.
PERAN PENDIDIKAN DASAR ISLAM DI SURAKARTA DALAM MEMBANGUN PERADABAN UMAT: PERSPEKTIF MASYARAKAT MADANI Santoso, M. Abdul Fattah
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 1, Juni 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i1.1967

Abstract

In the last decade, grew many Islamic integrated elementary schools inSurakarta, supported by civil society organizations. Through an ethnographic research,it is found that transformations have been applied in five sample schools in their system,institution and values. The transformation in their system and institution begins withvision and mission being oriented toward producing excellence of alumni and benefit ofIslamic preaching those influence integrated curriculum development, interesting modelof learning, comprehensive evaluation, and professional management. Moreover, thetransformation in their values appears in promoting Islamic identity through theiricons: ?internalization of Islam?, ?spiritualization of education?, ?Islamization ofscience?, ?shariah curriculum?, and ?salafi method?.Key words: transformation; vision and mission; integrated curriculum; Islamic identity icon.Dalam dekade terakhir, tumbuh banyak sekolah dasar Islam terpadu diSurakarta, yang didukung oleh organisasi masyarakat sipil. Melalui penelitian etnografi,ditemukan bahwa telah terjadi transformasi institusi dan nilai-nilai dalam lima sekolahyang dijadikan sampel. Transformasi dalam sistem dan institusi dimulai dengan visidan misi yang berorientasi untuk menghasilkan alumni unggul dan sekaligusmengembangkan dakwah Islam yang terintegrasi pengembangan kurikulum, modelpembelajaran yang menarik, evaluasi yang komprehensif, dan manajemen profesional.Selain itu, transformasi nilai mereka muncul dalam mempromosikan identitas Islammelalui ikon mereka: ?internalisasi Islam?, ?spiritualisasi pendidikan?, ?Islamisasiilmu?, ?kurikulum syariah?, dan ?metode salafi?.Kata kunci: transformasi; visi dan misi; kurikulum terpadu; identitas Islam
PEREMPUAN DALAM KELUARGA MENURUT KONSEP ISLAM DAN BARAT Warsito, Warsito
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 2, Desember 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i2.2014

Abstract

Islam as ideology is agent of change. When it came to the Arabic people, theconditions of women were so pity. They never got their rights of human being but sometribes killed the daughter baby. After it came to the world, women got their duties, theywere allowed to make transaction and their right life is saved. Islam is a religion whichrules all field of human being life side. It rules the roles of man and woman and theirduties. Not only ruling the roles and duties but also the way how to practice the religion.Nowadays, feminists make confrontation ideas. They said that Islam is injustice religion.They said that women are better to pray at home and men pray at the mosques. Theydisagree that leader is only for men but they see that it is also women?s right. Theyargued that women today are so different from the past. The feminists? idea that supportsme to conduct the study. The aims of this study is to compare the Islamic teaching andfeminists? teaching by using Maqasid Syari?ah. The result of the study is, Islamicteachings are appropriate rules for human being but feminists? teaching damage thesocial norms and women?s right.Key words: women, family, Islam, westSebagai sebuah ideologi, Islam merupakan agen perubahan. Ketika Islamdatang kepada orang-orang Arab, kondisi perempuan sungguh mengenaskan.Kaumperempuan tidak pernah mendapat hak-hak mereka sebagai manusia, bahkan beberapasuku membunuh bayi perempuan yang baru lahir. Dalam perkembangannya, wanitapunya tugas-tugas dan diizinkan untuk berperan dalam masyarakat serta memperolehhak-haknya. Islam adalah agama yang mengatur semua bidang kehidupan manusia.Termasuk dalam mengatur peran dan tugas-tugas kaum laki-laki dan perempuan. Tidakhanya mengatur peran dan tugas tetapi juga bagaimana cara mempraktekkan ajaranagama dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, feminis mengusung ide-ide yangbertentangan dengan Islam, antara lainmereka mengatakan bahwa Islam adalah agamayang mengajarkan ketidakadilan, Islam membedakankesempatan wanita lebih baik untukberibadah di rumah dan laki-laki beribadah di masjid-masjid. Makalah ini berusahamembandingkan ajaran Islam dan ajaran feminis dalam masalah peran perempuandalam keluarga dengan menggunakan Maqasid Syari?ah. Hasil dari penelitian ini adalah,ajaran Islam adalah aturan yang sesuai untuk manusia tetapi ajaran feminiscenderungmengabaikan norma-norma sosial dan hak perempuan.Kata kunci: perempuan, keluarga, Islam, barat
KONSEP JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA (Studi Kasus Aceh Pasca Perjuangan Kemerdekaan) ZA, M. Syabli; Azhari, Aidul Fitriciada; Hidayat, Syamsul
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 1, Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i1.2005

Abstract

The paper addressed to describe and to explain jihad in nation state context.Jihad is one of the pure concept comes from Islam and not related to territorial boundaries.Jihad can be found wherever Muslims live. While the nation state is a phenomenon,which emerged since the 17th century, caused by decolonization, as well as Indonesia.Contrast to the jihad, the nation state is strongly associated with territorial boundaries.In Indonesia, jihad resonated as a power struggle for independence and also to maintainindependence. However, after Indonesia became an independent nation state, there isalso jihad struggles to break away from it, Aceh with DI/TII and GAM for example.This study aims to uncover and construct the concept of jihad in the context of a nationstate based on Aceh?s case. By using the historical method of critical analysis, thispaper used method of literature research.The results showed that: 1) Jihad is an original intent concept in the defense andestablishment of Indonesia as a nation state, establish by founding fathers. 2) Strugglingin Aceh divided into three: when fighting together with Indonesia, fight for an Islamicstate with the DI/TII, and when tried to establish the State of Aceh by GAM. 3) Theconcept of jihad in the nation states could be identified from the opponent, the mainissue, the imagined community, as well as models of state formation. Aceh when joinedIndonesia together in the early days of independence, was fight to jihad, as well as theDI / TII can still called said jihad, in contrast to GAM that regardless of the jihad forthe sake of upholding the state for the people of Aceh. And for Indonesia itself shouldrefers back to the original intent in jihad conception nowadays.Key words: The concept of Jihad, Nation State, Aceh. Jihad merupakan konsep yang murni datang dari Islam dan tidak terkaitdengan batas-batas wilayah. Jihad ada dimana umat muslim hidup. Sementara negarabangsa merupakan fenomena, yang muncul sejak abad ke-17 dan salah satunyadisebabkan oleh dekolonialisasi, seperti halnya Indonesia.Berbeda dengan jihad, negarabangsa sangat terkait dengan batas teritorial. Di Indonesia, jihad menggema sebagaikekuatan perjuangan kemerdekaan dan juga mempertahankan kemerdekaan. Namunsetelah Indonesia merdeka, muncul juga perjuangan-perjuangan jihad untuk melepaskandiri dari negara bangsa, Aceh dengan DI/TII dan GAM contohnya.Penelitian inibertujuan untuk mengungkap dan mengkontruksi konsep jihad dalam konteks negarabangsa berdasarkan kasus Aceh.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan termasuk riset kepustakaan (libraryresearch).Yang menjadi bahan kajian adalah buku-buku sejarah tentang perjalananIndonesia dan Aceh yang sekaligus menjadi sumber data primer.Selain itu data jugadiperoleh dari sumber-sumber sekunder sebagai konfirmasi dan penunjangn sumberdata primer.Setelah dilakukan seleksi, data dianalisis dengan menggunakan metodehistoris analisis kritis, berupa deskripsi, pembahasan serta kritik-kritik terhadappermasalahan, sehingga bisa didapatkan penafsiran yang konfrehensip terhadap masalahyang diteliti.Hasil penelitian: 1) Konsep Jihad sudah ada sejak pembentukan dan menjelma usahapertahanan negara Indonesia. 2) Jihad di Aceh berdinamika dari berjuang bersamaIndonesia, mendirikan negara Islam dengan DI/TII, dan mendirikan negara Aceh denganGAM. 3) Konsep jihad dalam negara bangsa bisa diidentifikasi dari lawan, isu utama,komunitas terbayang yang dicita-citakan, serta model pembentukan negaranya. Acehketika bergabung berjuang bersama Indonesia di awal kemerdekaan melakukan jihad,begitu juga dengan DI/TII masih bisa dikatakan jihad, berbeda dengan GAM yangterlepas dari jihad demi menegakkan negara bagi bangsa Aceh.Kata kunci: konsep jihad, negara bangsa, Aceh.
PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU MUHAMMADIYAH JUMAPOLO KARANGANYAR Waston, Waston; Taryanto, Taryanto
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v0i0.8949

Abstract

: The way in improving the quality of education institution or a school is determined by the headmaster leadership in an effective management. The progress of school retreat is inseparable from the role of the principal, because the principal acts as a central force which is the driving force of school life. In order for schools to be able to compete, the principal must be committed to change by carrying out his role as the principal. The totality of the role of the principal must have a vision of the future and be able to actualize all existing potential into a synergistic force in order to achieve educational goals. The research objective is to describe the role of the principal in improving the quality of education in SDIT Muhammadiyah Jumapolo Karanganyar 2018/2019 academic year. This type of research is in the form of field research with qualitative descriptive analysis, and uses a sociological approach. Methods of collecting data through interviews, observation, and documentation. The results of this study indicate that, First, the role of principals in improving the quality of education in SDIT Muhmamadiyah Jumapolo is realized by: 1) Increasing teacher professionalism, 2) Improving the quality of learning, 3) Improving facilities and infrastructure, 4) Increasing student learning motivation. Second, the principal's strategy in improving the quality of education at SDIT Muhmamadiyah Jumapolo is done by: 1) Increasing teacher professionalism carried out with the OJT period (On Job Training) for new teachers and self-development for old teachers and intensive motivational development, 2) Improving the quality of learning done by integrating four curricula (DIKNAS, KEMENAG, PONPES GONTOR and ISMUBA) with a variety of learning methods approach 3) Improvement of facilities and infrastructure carried out by optimizing the utilization of existing SARPRAS and procurement of SARPRAS needed, 4) Increasing motivation for student learning by giving reward and punishman, giving praise and competition.The key word: visionary leadership, headmaster, quality of education. Third, the obstacles and solutions to the role of principals in improving the quality of education at SDIT Muhmamadiyah Jumapolo include: 1) Increasing teacher professionalism such as teacher recruitment that is not suitable for qualifications. The solution is to participate in self-development activities and re-study or further study, 2) Improving the quality of learning such as school status that is not ful day school. The solution is by organizing material and reducing material in the gontor curriculum, 3) Improving facilities and infrastructure such as funding problems. The solution is cooperation with student guardians and donors, 4) Increased learning motivation of students such as children lacking assistance at home. The solution is intense collaboration and communication between the teacher and parents of children through via cell phones, contact books and home visits.Abstrak: Upaya memperbaiki kualitas dalam suatu lembaga pendidikan atau sekolah sangat ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah dalam manajemen yang efektif. Maju mundurnya sekolah tidak terlepas dari peran kepala sekolah, karena kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah. Agar sekolah mampu bersaing, kepala sekolah harus memiliki komitmen dalam perubahan dengan menjalankan perannya sebagai kepala sekolah. Totalitas peran kepala sekolah harus mempunyai visi masa depan serta mampu mengaktualisasikan seluruh potensi yang ada menjadi sesuatu kekuatan yang bersinergi guna mencapai tujuan pendidikan. Tujuan penelitian adalah mendiskripsikan peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhammadiyah Jumapolo Karanganyar tahun pelajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini berupa penelitian lapangan dengan analisis deskriptif kualitatif, dan memakai pendekatan sosiologis. Metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, Pertama, peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhmamadiyah Jumapolo diwujudkan dengan: 1)Peningkatan profesionalisme guru, 2)Peningkatan kualitas pembelajaran, 3)Peningkatan sarana dan prasarana, 4)Peningkatan motifasi belajar siswa. Kedua, strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhmamadiyah Jumapolo dilakukan dengan: 1)Peningkatan profesionalisme guru dilakukan dengan masa OJT (On Job Training) bagi guru baru dan pengembangan diri bagi guru lama serta pembinaan motivasi secara intensif, 2)Peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan dengan mengintegrasikan empat kurikulum (DIKNAS, KEMENAG, PONPES GONTOR dan ISMUBA) dengan pendekatan berbagai metode pembelajaran 3)Peningkatan sarana dan prasarana dilakukan dengan cara optimalisasi pemanfaatan SARPRAS yang ada dan pengadaan SARPRAS yang dibutuhkan, 4)Peningkatan motifasi belajar siswa dilakukan dengan cara pemberian reward dan punishman, pemberian pujian dan kompetisi. Ketiga, kendala dan solusi peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhmamadiyah Jumapolo diantaranya: 1)Peningkatan profesionalisme guru seperti rekruetmen guru yang tidak sesuai kualifikasi. Solusinya adalah dengan menguikutsertakan dalam kegiatan pengembangan diri dan studi ulang atau study lanjut, 2)Peningkatan kualitas pembelajaran seperti status sekolah yang bukan ful day school. Solusinya dengan pengorganisasian materi dan pengurangan materi di kurikulum gontor, 3)Peningkatan sarana dan prasarana seperti masalah pendanaan. Solusinya adalah kerja sama dengan wali murid dan pendonatur, 4)Peningkatan motifasi belajar siswa seperti anak kurang pendampingan di rumah. Solusinya adalah kerja sama dan komunikasi intens antara guru dan orang tua anak melalui via HP, buku penghubung dan home visit.
KISAH DZULQARNAIN DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-KAHFI: 83-101 (Pendekatan Hermeneutik) Rukimin, Rukimin
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i02.1995

Abstract

This article traces and tells the story of Dzulqarnain found in the HollyQur?an, it is due to the fact that this story is still covered by a mystery and unfinishedcontroversial understanding for Moslem Scholars since from the classic to contemporary era, even in the orientalism one. This study applies a library research with the Holly Qur?an and valid hadiths are as primary sources of data while the interpretation ofMoslem Scholars toward the verses telling the story of Dzulqarnain are as the secondarydata source. This study uses empiric-normative approach and the collected data are analyzed by using hermeneutic, namely: Schleiermacher grammatical hermeneutic andtheory of Muhammad Talbi humanistic-history. The result of the research shows thatthe grammatical sequences of the verses telling Dzulqarnain story has a very beautifullanguage style, completed with language style of Majaz in which the Dzulqarnain hasgone through two long journeys; they are Western and Eastern journeys. He got thefollowers from his journeys above. Moreover, based on the humanistic-historicallyreadability; first, the sequence of verses above shows that Islam is ?RahmatanLil?Alamin?. It can be proved from the wise attitude containing full goodness without anybullying, done by Dzulqarnain. Second, the denied followers are invited to have moreawareness and to go back to the right faith by warning them dealing with the statementthat says ?Allah will give a finalization to the denying followers?.Key Words: Dzhulqarnain; the Holly Qur?an; hermeneutic.Artikel ini mentelusuri dan menguak kisah Dzulqarnain di dalam al-Qur?an,karena kisah ini masih diselimuti misteri serta kontroversial berkepanjangan di tubuhulama muslim sejak zaman klasik hingga kontemporer maupun di kalangan orientalis.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), dengan sumber data primer adalah al-Qur?an dan hadits-hadits shahih, sedangkan sumber data sekunder adalah tafsir para ulama terhadap ayat-ayat yang menceritakan kisah Dzulqarnain.Pendekatan yang digunakan adalah normatif-empiris, analisisnya dengan hermeneutik, yakni hermeneutik gramatikal Schleiermacher dan teori historis-humanistik Muhammad Talbi. Hasil penelitian adalah rangkaian gramatikal dari ayat-ayat kisah tentang Dzulqarnain sangatlah indah gaya bahasanya disertai dengan gaya bahasa majaz, di mana Dzulqarnain telah menempuh dua perjalanan panjang yaitu perjalanan ke Barat dan ke Timur serta mendapatkan pada dua perjalanan tersebut segolongan kaum/umat.Pada perjalanan ke Barat (maghrib asy-syams). Lebih lanjut jika ditilik dari pembacaan secara historis-humanistik bahwasanya rangkaian ayat-ayat di atas menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil ?alamin. Hal ini dapat dibuktikan dari sikap bijak yang penuh kebaikan dan tanpa kekerasan yang ditonjolkan oleh Dzulqarnain, bahwasanya kepada umat yangingkar hendaknya diajak bertobat dan kembali kepada keimanan dengan diperingatkan akan kekufurannya bahwa Allah akan mengazab orang-orang yang ingkar.Kata Kunci: Dzhulqarnai; al-Qu?an; hermeneutika