cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
ANALISIS STRATEGI ISLAMIC COLLECTIVE ENTREPRENEURSHIP (ICE): SOLUSI MENGATASI DESA TERTINGGAL Dzaky Adam Thamrin; Boby Habibi; Dewi Permata Sari; Fauzul Hanif Noor Athief
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 1, Juni 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i1.11059

Abstract

Sektor ekonomi desa memiliki peran substansial bagi kesejahteraan masyarakat dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Data Kementerian Desa (2018) menunjukkan masih ada 13.232 desa tertinggal karena faktor ekonomi. Adapun kendala besar dalam ketertinggalan desa adalah rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga dibutuhkan upaya untuk meningkatkan SDM pada desa salah satunya dengan berwirausaha. Hal ini telah dilakukan oleh Desa Gerdu yang berhasil menjadi Desa Wisata Islami. Strategi wirausaha dilakukan secara kolektif yang berlandaskan nilai-nilai Islam atau dikenal Islamic Collective Entrepreneurship (ICE). Peneliti mencoba mengangkat sejauh mana strategi ICE dapat menjadi solusi dalam membangun perekonomian desa, sehingga strategi ini dapat menjadi solusi bagi desa tertinggal lainnya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dan observasi dalam pengumpulan data. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara yang akan dilaksanakan dengan informan dari pemuka masyarakat, perwakilan masyarakat, dan instansi kabupaten. Dari hasil analisa, strategi ICE yang dilakukan Desa Gerdu memiliki 3 (tiga) tahap yaitu: 1. Pendidikan dan Kerjasama, 2. Pelaksanaan dan Pengelolaan, 3. Evaluasi dan Perencanaan. Selain itu, faktor pendorong internal dalam kesuksesan ICE terletak pada keaktifan pemuka dan pemuda desa dalam mempraktikkan ekonomi Islam. Adapun kerjasama dengan pihak eksternal seperti BAZNAS, DISPARPORA, serta lembaga lainnya sekitar desa yang aktif membantu dalam pembangunan desa.The rural economic sector has a substansial role for the welfare of society and the economic support of nation. Data from Indonesian Ministry of Villages (2018) showed 13.232 underdeveloped villages in Indonesia due to economic reasons. The lack of human resources was the major reason. Therfore, the improvement of human resources throught entrepreneurship is needed. One of the successful village throught entrepreneurship is Gerdu Village in Karanganyar, which also has succeeded in becoming an islamic tourism village. The entrepreneurship strategy is carried out collectively based on islamic values or known as islamic Collective Entrepreneurship (ICE). Researchers try to find how far the effecticeness of ICE strategy as a solution for othe underdeveloped villages. This is a descriptive qualitative research with using observation for collecting data. The data is obtained through interviews with some informants: community  leader, community representative, and district institution in Karanganyar. The result is the ICE strategy was carried out by Gerdu Village has three stages: 1. Education and Cooperation, 2. Implementation and Management, 3. Evaluation and Planning. In addition, the internal driving factor in ICE’s success lies in the activeness of village leader and youth in practicing islamic economics. The collaborationwith external parties such as BAZNAS, DISPARPORA, as well as other intitution around the village are actively helping in village development
PEMIKIRAN ABU NASR MUHAMMAD AL-FARABI TENTANG NILAI-NILAI PENDIDIKAN KEPEMIMPINAN NEGARA UTAMA Ahmad Rijal Khoiruddin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 2 Desember 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i2.7432

Abstract

There are two essential components in state management those are the absolute existence of leaders and its society. The quality of leaders in a state is based on the quality of its society education. Due the process of education that takes place on the scope of society becomes a decisive factor both the poor and good leaders who lead a state. This leadership discourse became the main point to be a subject in theme of Indonesian educational society in this era. Acts of corruption, collusion, nepotism of leadership oligarchy and public apathy can be referred to the condition and quality of leadership education in that society. One of the most prominent Islamic figures in state politics studies is Abū Naṣr Muḥammad bin Muḥammad al-Fārābī. Al-Fārābī is a political philosopher and Islamic scholar who has formulated the concept of the perfect state and its leadership concept known as al-Madīnah al-Fāḍilah. According to al-Fārābī a leader is required to provide the education service to his community and lead them to achieve mutual happiness. The problem formulation of this research is how al-Fārāb's idea about the concept of leadership of the perfect state and its application in Islamic education. The goal of al-Fārābi's leadership education is divided into two kinds, those are to form a leader's character and equip the society with theoretical discourse of leadership. The purpose of this study is to examine al-Fārāb's idea about the concept of leadership of the perfect state, then apply the values of leadership education in Islamic religious education, in this case on Islamic education subject in MTs (Islamic Junior High School) and MA (Islamic Senior High School). The values of al-Fārābi's educational leadership are summarized into three, faith to Allah only (tauhīd), cooperation (ta'āwun) and noble character (al-akhlāk al-karīmah). This research based on literature that gain qualitative method. It used a philosophical and political approach, to examine al-Fārābī’s thought in philosophical and political state. Documentation method was used to collect the information by analyzing the content of obtained information.  The results proved that in general the material of Islamic religion in the level of Mts and MA only contains the values or principles of monotheism, noble character or morality and alias. From the analysis it can be understood that the Islamic religious lesson printed is not perfect or comprehensive, because the discussion does not includes on various aspects, especially in terms of leadership, which is a big problem in Indonesia today. The solution of the problem is to add the values of al-Farabi's leadership education to lesson in the books of Islamic religious education. The concept of al-Farabi's leadership is a form of integration between the principles of faith to Allah only and philosophy. This means philosophically, the concept of leadership can be applied to the subject matter of Islamic religion. So that learners will get additional scientific treasures about leadership, which later expected to be able to become leaders of quality and can contribute in solving leadership problems and society in Indonesia.Dalam kepengurusan suatu negara terdapat dua komponen penting yang mutlak keberadaannya yaitu pemimpin dan masyarakat yang dipimpin. Kualitas pemimpin negara dipengaruhi oleh kualitas pendidikan masyarakat tersebut. Sehingga proses pendidikan yang berlangsung pada lingkup masyarakat menjadi faktor penentu baik buruknya pemimpin yang memimpin suatu negara. Wacana kepemimpinan ini menjadi poin utama untuk dijadikan subjek dalam tema pendidikan masyarakat Indonesia era ini. Tindak korupsi, kolusi, nepotisme oligarki kepemimpinan dan sikap apatis masyarakat dapat dirujuk atau berawal dari kondisi dan kualitas pendidikan kepemimpinan dalam masyarakat itu. Salah satu tokoh Islam yang konsen dalam hal politik kenegaraan adalah Abū Naṣr Muḥammad bin Muḥammad al-Fārābī. Al-Fārābī merupakan seorang filosof politik dan ulama Islam yang telah merumuskan konsep negara yang ideal beserta kepemimpinannya yang dikenal dengan al-Madīnah al-Fāḍilah. Menurut al-Fārābī seorang pemimpin dituntut bisa memberikan pendidikan kepada masyarakatnya dan membawa mereka meraih kebahagiaan bersama. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana konsep kepemimpinan negara utama al-Fārābī dan aplikasinya dalam pendidikan agama Islam. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pemikiran al-Fārābī tentang konsep kepemimpinan negara utama, kemudian mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan kepemimpinannya dalam materi pelajaran pendidikan agama Islam jenjang MTs dan MA. Nilai-nilai pendidikan kepemimpinan al-Fārābī terangkum menjadi tiga, yaitu keimanan (tauhīd), kerjasama (ta’āwun) dan akhlak mulia (al-akhlāk al-karīmah). Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis dan politik, untuk mengkaji pemikiran filsafat dan politik kenegaraan al-Fārābī. Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dengan menganalisis isi (content analysis) dari data-data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum materi-materi pelajaran agama Islam pada jenjang Mts dan MA hanya memuat nilai-nilai atau prinsip-prinsip tauhid, sifat-sifat atau akhlak mulia dan ketaladanan. Dari analisis tersebut dapat dipahami bahwa materi pelajaran agama Islam yang tercetak dalam buku pelajaran kurang sempurna atau komperhensif, karena pembahasannya tidak menyinggung berbagai macam aspek, khususnya dalam hal kepemimpinan, yang menjadi masalah besar di Indonesia saat ini. Solusi dari masalah tersebut adalah dengan menambahkan pada setiap materi pelajaran dengan nilai-nilai pendidikan kepemimpinan al-Farabi. Konsep kepemimpinan al-Farabi ini merupakan bentuk integrasi antara prinsip-prinsip tauhid dan filsafat. Artinya secara filosofis konsep kepemimpinannya dapat diaplikasikan ke dalam materi pelajaran agama Islam. Sehingga peserta didik akan mendapatkan khazanah keilmuan tambahan mengenai kepemimpinan, yang nantinya diharapkan mampu untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang berkualitas serta dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah kepemimpinan dan tatanan masyarakat di Indonesia.
الشذوذ الجنسية عند المذاهب الأربعة والقانون العقوبات الإندونيسي M Muinudinillah Basri; Syafruddin Maulana
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8124

Abstract

The development of social interactions variety and the flow of information that brings positive and negative value, impact on social life and human behavior. Among them there is a wise attitude by always making religion as a guide and lifestyle, but some people lost his life orientation. Even penetrated the lifestyle associated with sexual behavior. Sexual behavior is one of the serious issues detil discussed in Islam. This is because the impact is very wide in various aspects of life. Islam considers that the biological need is the sunnah of life that every Muslim must live, in order to achieve the balance between the human side as a servant of Allah Ta'ala and as a keeper of the stability of social life of society. Sex disorientation is a threatening balance. That will affect the survival of human life in general or personal perpetrators. Among the disorientation is lesbi, gay, have sex with animals or known as zoofilia, also the trangender which is one of the identity of lesbian and gay. This study aims to examine whether the laws and sanctions of these sexual disorientations, presented comparatively between Islamic law and Indonesian criminal law. The results of this study concluded about the prohibition of lesbian, gay, zoophilia and trangender in Islamic law. While about the punishment, there are some differences between the 4 Imams. Some give death penalty. Some others conclude about the enactment of ta'zir where the judge is given a policy in determining the type of punishment. While in Indonesian, this is contained in the chapter asusila. Which concludes that lesbian, gay, zoofilia is something that gets a criminal penalty and is binding only on an adult perpetrator with as a victim is an immature child. As for if the perpetrator and the victim is mature, then not touched with criminal trap. And the trangender has not regulated it specifically. Berkembangnya bentuk interaksi antar manusia dan pesatnya arus informasi dengan seluruh muatan positif dan negatifnya telah memberikan dampak pada tatanan hidup setiap individu dan masyarakat. Di antara mereka ada yang menyikapi hal ini dengan penuh kehati-hatian dan menjadikan agama sebagai pembimbing dan pedoman. Namun tidak sedikit juga yang tersesat dan melampaui batas khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan moralitas seksual. Dalam hal ini agama sebagai pedoman hidup telah menempatkan seksualitas sebagai salah satu pilar yang menentukan baik buruknya kehidupan sosial dan telah mengaturnya dalam rumusan pernikahan. Pada sisi lain agama juga memberikan perhatian khusus pada seluruh bentuk disorientasi seksual yang menyelisihi garis besar pernikahan yang telah diatur di dalamnya. Dari sekian hubungan yang mendapatkan perhatian khsusus tersebut adalah homoseks, lesbi, zoophilia, dan transgender. Kaitannya dengan hal ini, hukum positif di Indonesia telah menempatkan perhatian yang khusus, karena adanya visi dan misi dalam membentuk masyarakat yang berkemanusiaan, adil dan beradab. Hanya ada beberapa perbedaan yang mendasar antara apa yang telah dimuat oleh hukum Islam dengan apa yang menjadi ketentuan dalam KUHP. Seluruh Imam empat madzhab yang dikenal luas dikalangan ummat Islam bersepakat tentang keharaman homoseks, lesbi, zoophilia dan transgender. Walaupun mereka berbeda dalam mengklasifikasi bentuk hukuman apa yang tepat untuk setiap perbuatan pidana tersebut. Ada yang menentukan hukuman mati, ada yang menyamakannya dengan hukuman zina dan ada pula yang menjatuhkan hukuman ta'zir yang dikembalikan kebijakan penentuannya pada hakim. Sementara KUHP memasukkan homoseks dan lesbi sebagai pidana aduan, pada pasal-pasal pencabulan dalam bab asusila yang memfokuskan hanya pada sisi korban di bawah usia dewasa. Sehingga terdapat kekosongan hukum ketika pelaku dan korban adalah orang dewasa. Adapun tentang zoophile maka termuat pada pasal penganiayaan hewan. Sementara pada masalah transgender, KUHP belum mengklasifikasikannya sebagaimana pidana delik perzinaan, pemerkosaan atapun pecabulan.
نحو مقومات شخصية المعلم المفضلة (فى ضوء دراسة الآية: ١٥١ من سورة) البقرة M. Abdul Khaliq Hasan
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 1, Juni 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i1.1962

Abstract

It is known that God revealed the Koran to the nation Muhammad’s to be evidenceand approach to their lives and their affairs and their cases daily . One of the issues that mustbe guided by the Quran is the issue of education . Because education is essential in theformation of the nation and its renaissance. The higher education repaired the nation , and sovice versa. Another element in the success of the process of education is having the teacherhas a distinct personality . Because the teacher is the one who printed his students as hewishes according to inclinations . The aim of this study and knowledge of the elements of apersonal teacher through the study of verse 151 of Sura al-Baqarah. This study pursuesresearch methodology analytical descriptive analysis of the views of the commentators towardverse 151 of Sura al-Baqarah. The analysis of the information was an interactive way togather information , analyze , and display and deduced. The results showed, that the elementsof a personal favorite teacher as indicated by the verse 151 of Sura al-Baqarah, show throughthe following things: (1) the teacher has to be extended recitation conscious; whether it is theKoran or another, including of scientific specialties (2) Accordingly, teaching book;understanding a sheen on the Koran true understanding salafus shaleh approach. Andeducation within the meaning of the book is to teach the pen with all its meanings. Thus, theteacher that his skill upgrades scientific writing because they are professional requirements.(3) wisdom education; Queen which comes with putting things in place right, and the weightof things with correct, and realize the goals of orders and directives. (4) uponrecommendation of souls in all its aspects, and whenever the teacher orthodoxy, orthodoxyhearts of the hearts of the students, (5) and it always supply the information emerging .Keywords : ingredients, personalized, teacher Allah merunkan Al-Qur`an untuk umat Islam agar dijadikan sebagai petunjukdan pedoman hidup dalam seluruh kehidupannya. Tidak terkecuali dalam pendidikan. Karenapendidikan merupakan pokok dasar dalam mencerdaskan dan membangun sebuah bangsa.Jika sebuah pendidikan itu baik, maka sebuah bangsa juga akan baik. Dan diantara unsurutama keberhasilan pendidikan adalah tersedianya pengajar yang memiliki kepribadian idial.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur utama yang harus menjadikepribadian seorang pengajar dengan mengkaji ayat 151 surat al-Baqarah. Jenis penelitin inimerupakan penelitian perpustakaan, deskriptif analisis. Analisa dilakukan terhadap pendapatdan penafsiran ahli tafsir berkaitan ayat 151 surat al-Baqarah. Teknik analisa datamenggunakan model interaktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi, penyajian dankesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara kepribadian pengajar yang harusdimiliki sebagaimana diisyaratkan dalam ayat 151 surat al-Baqarah adalah sebagai berikut:(1) seorang pengajar harus memiliki becaan yang luas, baik berupa bacaan Al-Qur`an ataukeilmuan yang berkaitan dengan disiplin keilmuannya; (2) seorang pengajar harusmengajarkan Al-Qur`an sesuai dengan pemahaman para salafus-shaleh. Termasuk dalammengajarkan Al-Qur`an adalah mengajarkan tulis-menulis dengan makna yang seluasluasnya,karena itu seorang pengajar harus mampu meningkan kemampuan dalam menulisilmiah sesuai kopetensinya; (3) mengajarkan hikmah, yaitu kemampuaan untuk melakukantindakaan secara tepat sesuai dengan kondisi dan tujuan; (4) melakukan penyucian diri/jiwasecara menyeluruh, karena selama jiwa seorang pengajar itu baik, maka seluruh kejiwaanpara peserta didik juga baik; (5) pengajar harus selalu menambah dengan berbagai keilmuanyang terkini.Kata Kunci: Unsur, Karakter, Pengajar.
SCIENTIFIC INTERPRETATION STUDY: AL JAWAHIR'S REVIEW OF THE INTERPRETATION OF THE QUR'AN ON THE COMPOSITION OF THE EARTH ELEMENTS IN ADAM'S BODY Sufian Suri; Irwanto Irwanto; Sayed Akhyar; Andri Nirwana AN
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 23, No. 1, Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v23i1.16790

Abstract

Humans are formed from the process of evolution according to Charles Darwin. The process of the creation of humans from the point of view of the theory of evolution put forward by a famous scientist named Charles Robert Darwin, who stated that humans were the evolution of ape species or a kind of short-tailed monkey. there is a book entitled 'On The Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favored Racesin The Strungle for Life' which states that humans came from a revolutionary ape species from a very long time ago. Darwin's theoretical paradigm in biological knowledge today is the basic reference in every theory carrying the origin of the development of life (organisms). Even though there are many verses of the Qur'an that mention the elements that make up Humans in several verses. This study aims to criticize the theory. The research method used in this research is a systematic literature review. The results of this study The creation of soil according to Tanthawi, went through the following stages, turab (Ali-Imran: 59), clay mixed with water (al-An'am: 2), then became thin lazib (As-Shaffat: 11), then processed into black mud (hammain) (Al-Hijr: 26), then became dry clay like pottery (ar-Rahman: 14), after that it turned into pottery (fakhkhar) ar-Rahman: 14, then became Adam as the first human , in the interpretation of the Ministry of Religion, through stages starting from soil, starch essence comes from soil (al-Mu'minun: 12), dry clay from shaped mud (al-Hijr: 26 ), and dry soil such as pottery. (Ar-Rahman:14).Manusia terbentuk dari Proses Evolusi menurut Charles Darwin. Proses terciptanya manusia dari sudut pandang teori evolusi yang dikemukakan oleh seorang ilmuwan yang terkenal bernama Charles Robert Darwin, yang menyatakan manusia adalah evolusi dari spesies kera atau sejenis monyet berekor pendek. ada sebuah buku yang memiliki judul ‘on The Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Racesiin The Strunggle for Life Yang menyatakan bahwa manusia berasal dari spesies kera yang revolusi dari waktu yang sangat lama.  Paradigma teori Darwin dalam pengetahuan biologi dewasa ini menjadi rujukan dasar dalam setiap teori-teori mengusung asal-usul dari perkembangan kehidupan(organisme). Padahal banyak ayat al qur’an yang menyebutkan tentang elemen elemen pembentuk Manusia di beberapa ayat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkritik Teori tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam riset ini adalah systematic literature review. Hasil dari penelitian ini Penciptaan tanah menurut Tanthawi, melewati tahapan sebagai berikut, turab (Ali-Imran: 59), tanah liat bercampur air (al-An'am: 2), kemudian menjadi lazib tipis (As-Shaffat: 11), kemudian berproses menjadi lumpur hitam (hammain) (Al-Hijr: 26), kemudian menjadi tanah liat kering seperti gerabah (ar-Rahman: 14), setelah itu berubah menjadi gerabah (fakhkhar) ar-Rahman: 14, kemudian menjadi Adam sebagai manusia pertama, dalam tafsir Kemenag, melalui tahapan mulai dari tanah, saripati pati berasal dari tanah (al-Mu'minun: 12), tanah liat kering dari lumpur berbentuk (al-Hijr: 26 ), dan tanah kering seperti gerabah. (Ar-Rahman:14)
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 1 WONOGIRI DAN SMP NEGERI 1 SURAKARTA TAHUN 2019 Rojif Mualim; Ari Anshori; Mohamad Ali
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 2, Desember 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v20i2.9956

Abstract

Abstract: A curriculum is a container to determine the direction of education. Success and failure of education, are highly depended on the curriculum. The curriculum is the spearhead for the implementation of education. The curriculum is a container to determine the direction of education. Success and failure of education, are highly depended on the curriculum. The curriculum is the spearhead for the implementation of educational activities. The  curriculum 2013 divides attitude competencies into two, namely spiritual attitudes and social attitudes. The purpose of this study is to describe the natural findings regarding the implementation of the curriculum 2013 toward PAI subjects at SMP Negeri 1 Wonogiri and SMP Negeri 1 Surakarta, as well as the constraints and their carrying capacity. This study used qualitative research methods or field type research (field research), which is a research procedure that produces descriptive data sourced from written or oral words from people and observable behavior directed at the background and individuals as a whole. The subjects of this study were students and teachers of Islamic Religious Education, data collection techniques used observation, interviews and documentation. The results of this study indicated that the process of implementing the Curriculum 2013 in SMP Negeri 1 Wonogiri and SMP Negeri 1 Surakarta has been implemented by applying patterns or types determined by the government. However, from the implementation process there are obstacles, including: the distribution of the teacher and student handbooks, both textbooks from subject teacher deliberations (MGMP) and directly from the government, the assessment system were very complicated so that some teachers did not understand the assessment of the Curriculum 2013, some students did not have complete facilities such as laptops. In carrying capacity, students were always given direction on the tasks they have to complete, teachers were enthusiastic in implementing the Curriculum 2013, school programs namely school missions, determining the value of students was not only obtained from test scores but also from values of politeness, religion, practices, attitudes and others, the other teachers’s support excepting PAI subject, complete school facilities such as a comfortable class, LCD, white board, etc. Abstrak: Kurikulum merupakan sebuah wadah yang akan menentukan arah pendidikan. Berhasil dan tidaknya pendidikan, sangat bergantung dengan kurikulum. Kurikulum adalah ujung tombak bagi terlaksanya kegiatan pendidikan. Kurikulum 2013 membagi kompetensi sikap menjadi dua, yaitu sikap spiritual dan sikap sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan temuan-temuan alamiah perihal implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PAI di SMP Negeri 1 Wonogiri dan di SMP Negeri 1 Surakarta, serta kendala dan daya dukungnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif atau berjenis field reseach (penelitian lapangan) yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang bersumber dari kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati yang diarahkan pada latar dan individu secara utuh. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa dan guru Pendidikan Agama Islam, teknik pengumpulan data menggunakan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses implementasi Kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Wonogiri dan SMP Negeri 1 Surakarta sudah dilaksanakan dengan menerapkan pola atau tipe yang ditentukan oleh pemerintah, Akan tetapi dari proses implementasi itu ada kendalanya, antara lain: belum terdistribusinya buku pegangan guru dan siswa dengan baik, baik buku paket dari musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) maupun langsung dari pemerintah, sistem penilaian sangat rumit sehingga tidak semua guru mengerti dan faham penilaian pada kurikulum 2013, tidak semua siswa memiliki fasilitas yang lengkap seperti laptop. Daya dukung, peserta didik selalu diberi pengarahan terhadap tugas-tugas yang harus mereka selesaikan, guru semangat dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, program sekolah yaitu misi sekolah, penentuan nilai bagi siswa bukan hanya didapat dari nilai ujian saja tetapi juga didapat dari nilai kesopanan, religi, praktik, sikap dan lain-lain, Dukungan dari semua guru selain guru mapel PAI. Fasilitas Sekolah yang lengkap seperti misalnya kelas yang nyaman, LCD, White Board, dll.
KONSEP KEBEBASAN BERAGAMA DALAM ISLAM DAN KRISTEN Tri Yuliana Wijayanti
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2097

Abstract

This research aims to identify and explain matters related to academic problems,namely: first, understand the formulation of religious freedom in the Islamic religion and religiousfreedom in the formulation of the Christian religion. Second, understand the differenceand points alignment of religious freedom contained in Islam and Christianity. This study wasa qualitative research with religious knowledge as the scope of its research and literature as aplace of research (library research). The collected data is then presented descriptively by usingthe approach of sociology of religion. Sources of data in this study were classified into twogroups, namely primary data and secondary data. The data collected by using documentationand tested the validity of test data by applying confirmability (objectivity of research). Thecollected data were then analyzed with a comparative analysis and deductive models. Basedon the analysis, researchers concluded that Islam and Christianity have their own meaning ofreligious freedom. Freedom of religion in Islam and Christians when studied by the method ofcomparative religion, it will show the differences—on the basis of the law of religious freedom,the freedom of religion, and the norms of religious freedom—and side alignment in the sense—the freedom of each individual to embrace religion according to his individual—and embodiedthe goals of religious freedom is to realize the inter religious harmony.Keywords: freedom of religion; Islam; ChristianAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan hal-hal yang terkaitdengan problem akademik, yaitu: pertama, memahami rumusan kebebasan beragama dalamagama Islam dan rumusan kebebasan beragama dalam agama Kristen. Kedua, memahami letakperbedaan dan poin kesejajaran kebebasan beragama yang terdapat dalam dalam Islam danKristen. Penelitian kualitatif ini dengan ilmu agama sebagai ruang lingkup penelitiannya dankepustakaan sebagai tempat penelitiannya (library research). Data yang didapat kemudiandisajikan secara diskriptif dengan menggunakan pendekatan ilmu sosiologi agama. Sumberdata dalam penelitian ini diklasifikasikan ke dalam dua golongan, yaitu data primer dan datasekunder. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi dan diuji validitasdatanya dengan menerapkan uji confirmability (obyektivitas penelitian). Data dianalisisdengan komparatif dan deduktif. Kesimpulan, bahwa agama Islam dan Kristen memilikipemaknaan tersendiri tentang kebebasan beragama. Kebebasan beragama dalam Islam danKristen ketika dikaji dengan metode perbandingan agama, maka akan terlihat sisi perbedaan—yakni pada sisi dasar hukum kebebasan beragama, batas kebebasan beragama, dan norma kebebasanberagama—dan sisi-sisi kesejajaran yakni pada pengertian—kebebasan tiap individuuntuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing—dan tujuan dari terwujudkankebebasan beragama yaitu mewujudkan kerukunan antar umat beragama.Kata Kunci: kebebasan beragama; agama Islam; agama Kristen
REVOLUSI YAYASAN SOSIAL DAN KEMANUSIAAN TERINTEGRASI BAGI ANAK JALANAN DAN YATIM PIATU DALAM NILAI-NILAI ISLAM Imamul Arifin; Andika Adinul Yahya; Muhammad Thoriq Azzam
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 1, Special Issue 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i1.11649

Abstract

The Revolution of Human Resources (SDA) and Mental Nation is indeed important today to sustain the progress of the nation. But before that, it must be realized about the lack of attention to education for people who are not addressed, for example street children and orphans in need. All elements of the nation should be realize of the deficiency or something that needs to be improved from this. The government, educational institutions and humanitarian social bodies that form the nation's generation are very important for this.  But here, it is emphasized for the Social Foundation and humanity to be more able to pay attention to their future needs for the better, because this institution is a suitable place for them to get quality education, character, and morals that are in accordance with Islamic values, where the aim is to provide equitable justice for the people's and make a better national life.Revolusi Sumber Daya Manusia (SDA) dan Mental bangsa memanglah penting di era sekarang untuk menopang kemajuan bangsa. Namun sebelumnya, haruslah disadari tentang kurangnya perhatian terhadap pendidikan bagi masyarakat yang tidak diperhatikan, contohnya anak jalanan dan anak yatim piatu yang membutuhkan. Harusnya semua elemen bangsa  menyadari tentang kekurangan atau sesuatu hal yang perlu diperbaiki dari ini. Pemerintah, instansi/lembaga pendidikan dan badan sosial kemanusiaan pembentuk generasi bangsa  sangatlah berperan penting. Namun disini, ditekankan bagi Yayasan Sosial dan kemanusiaanlah untuk lebih bisa memperhatikan kebutuhan masa depan mereka menjadi lebih baik, karena instansi inilah sebagai tempat yang cocok bagi mereka untuk mendapat pendidikan, karakter, dan moral yang berkualitas dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman, yang mana tujuannya adalah memberikan keadilan merata bagi masyarakat dan memajukan kehidupan bangsa yang lebih baik.
PENGARUH HAFALAN AL-QUR’AN DAN INTENSITAS SHOLAT TAHAJUD TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN QUR’AN-HADIS Sayidatun Wihardina Awaliah; Moh. Abdul Kholiq Hasan; Ari Anshori
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6339

Abstract

The aim of the compiling of the study was to find out and explain the academic matters, was to find out how big the effect of memorizing al-Qur’an and the intentity of tahajud prayer toward academic achievement of Qur’an Hadis either collectively or partially. The study was quantitative with education as its scope. Rather it used the combination of library and field research as its research place. The collecting data used questionnaire and documentation. The validation of the research instrument by analizing items was counted with correlation formula ‘Product Moment’, and the reliability was counted by formula Alpha Cronbach. The technique of analizing data to examine hypothesis was correlation analysis technique of Product Moment and technique double regression two predictors. The result of the study showed that significance level 5% was acquired by the value of t count of either memorizing al-Qur’an or intentity of tahajud prayer was 0,182 and 0,579, whereas the value of t table was 2,026. Since t count t table, it can be inferred that neither memorizing al-Qur’an nor intentity of tahajud prayer has significant effect toward academic achievement of Qur’an Hadis. In addition, based on the result of the study, the test value of F count was 0,389 and based on the table, the value of F table was 3,245. Since F count F table, the conclusion was that there was no significant effect of memorizing al-Qur’an and intentity of tahajud prayer on academic achievement of Qur’an Hadis collectively. Based on the analizing, the researcher found the other factor that could influence students academic achievement was motivation, either motivation of memorizing al-Qur’an or tahajud prayer.Disusunnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan problem akademik, yaitu:mengetahui seberapa besar pengaruh hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud baik secara bersama-sama atau parsial terhadap prestasi belajar Qur’an Hadis. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan pendidikan sebagai ruang lingkup penelitiannya dan menggabungkan kepustakaan (library research) dan lapangan (field research)sebagai tempat penelitiannya.Metode pengambilan data menggunakan angket dan dokumentasi. Validitas instrument penelitian dilakukan dengan analisis butir hitung dengan rumus korelasi product moment. Reliabilitas instrument dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Teknik analisis data yang dipakai untuk menguji hipotesis adalah teknik analisis korelasi Product moment dan teknik regresi ganda 2 prediktor.Hasil penelitian menunjukkan dengan taraf signifikan 5% diperoleh nilai t hitung hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud secara berurutan sebesar 0,182 dan 0,579, sedangkan  t tabel 2,026.  Karena  t hitung t tabel  maka dapat disimpulkan bahwa  baik hafalan al-Qur’an maupun intensitas salat tahajud tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar Qur’an Hadis. Kemudian berdasar hasil penelitian diperoleh nilai uji F hitung sebesar  0,389 dan berdasar tabel diperoleh nilai F Tabel sebesar 3,245. Karena F hitung F tabel  maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama sama antara hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud terhadap nilai mata pelajaran Qur’an Hadis. Berdasarkan analisis yang dilakukan, peneliti menemukan faktor lain yang bisa mempengaruhi prestasi belajar santriwati, yaitu motivasi. Baik motivasi menghafal al-Qur’an ataupun motivasi salat tahajud.
MODERASI BERAGAMA SEBAGAI RESPON BIJAK DI TENGAH WABAH COVID-19 Khabib Musthofa
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16671

Abstract

The article tries to describe the response of the Indonesian people in addressing the Covid-19 outbreak. Starting from the response that considers that this epidemic has prevented them from worshiping Allah, to the excessive response of health initiatives to buying up the attributes of health protocols (masks, handsanitizers) which result in scarcity to expensive items for their own personal and group interests. This phenomenon is actually not in line with the message of religious moderation which contains fair values, tawazzun; balanced, tolerant and moderate. In a pandemic situation like today, religious moderation is something that must be maximized in dealing with this abnormal situation. This is because Covid 19 is a virus that does not choose its target based on considerations of self-righteousness, religion, ethnicity and culture and sect. Each individual has the potential to be infected if the body's resistance and condition are not strong, do not adopt a healthy lifestyle or do not maintain a distance (physical distancing). Abstrak: Artikel ini mencoba menggambarkan respon masyarakat Indonesia dalam menyikapi wabah covid-19. Mulai dari response yang menganggap wabah ini telah menghalangi mereka dari beribadah kepada Allah, hingga respon ikhtiar kesehatan dengan berlebihan hingga memborong atribut protokol kesehatan (masker, handsanitizer) yang mengakibatkan kelangkaan hingga mahal barang tersebut demi kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri. Fenomena tersebut sejatinya tidak sejalan dengan pesan moderasi beragama yang mengandung nilai-nilai adil, tawazzun;  seimbang, tolerir dan moderat. situasi pandemi seperti saat ini moderasi beragama menjadi sesuatu yang mutlak dimaksimalkan dalam menghadapi situasi yang tidak normal tersebut. Dikarenakan Covid 19 merupakan virus yang tidak memilih targetnya berdasarkan pertimbangan kesalihan diri, agama, suku dan budaya serta aliran. Setiap individu berpotensi terjangkit apabila ketahanan dan kondisi tubuh tidak kuat, tidak menerapkan pola hidup sehat atau tidak menjaga jarak (phsysical distancing).