cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2025)" : 10 Documents clear
The implementation of the Islamic communication science–based MBKM curriculum at State Islamic Religious Higher Education Institutions Prilani; Hakim, Lukman
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.21217

Abstract

The rapid advancement of information and technology has prompted higher education institutions, particularly State Islamic Religious Universities (PTKINs), to make precise calculations and analyze potential risks when implementing curricula. The Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) policy, introduced by the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology, aims to prepare students for the challenges of the workforce through quality education. This study, therefore, aims to analyze the implementation of the MBKM curriculum in Islamic Communication Studies programs at State Islamic Religious Higher Education Institutions (PTKIN), which generally focus on three schemes: Pertukaran Mahasiswa Merdeka (Independent Student Exchange), internships, and research. This study employs a descriptive qualitative approach, collecting data through interviews, observations, and documentation. The study subjects include PTKIN leaders, program coordinators, and students from four selected PTKINs. Despite facing challenges such as differing understandings of the MBKM concept, mismatches between Graduate Learning Outcomes (CPL) and industry needs, and limitations in infrastructure, funding, and human resources, the findings indicate that the MBKM curriculum has been implemented effectively. These findings are expected to provide valuable insights for the future improvement and optimization of the MBKM program. ***** Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat mendorong perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKIN), untuk melakukan perhitungan yang akurat sekaligus menganalisis risiko terburuk yang akan dihadapi dalam implementasi kurikulum. Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menjadi solusi untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia kerja melalui pembelajaran yang berkualitas. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kurikulum MBKM pada Program Studi Komunikasi Islam di PTKIN yang rata-rata fokus pada tiga skema, yaitu; Pertukaran  Mahasiswa Merdeka, Magang, dan Riset. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi. Subjek penelitian melibatkan pimpinan PTKIN, pengelola program studi, dan mahasiswa dari empat PTKIN terpilih. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi kurikulum MBKM berjalan dengan baik, meskipun menghadapi kendala seperti perbedaan pemahaman konsep MBKM, ketidaksesuaian Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dengan kebutuhan industri, serta keterbatasan sarana prasarana, anggaran, dan sumber daya manusia. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam memperbaiki dan mengoptimalkan program MBKM di masa depan.
Building digital engagement through archipelagic horror narratives: The “wawak” community’s responses to Nadia Omara’s storytelling content Nurlimah, Nila; Akmali, Resty Maulani; Herlina, Rita; Bin Idris, Awang
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.23297

Abstract

Horror narrative content on YouTube has developed into a space that fosters audience engagement and community identity. The Kisah Horror Wawak (KHW) program hosted by Nadia Omara demonstrates active involvement from the “Wawak” community in both enjoying and sharing horror stories. This can be seen in Nadia Omara’s achievement of 9.76 million subscribers and more than 2 million viewers. This study examines how the “Wawak” community responds in building engagement with Nadia Omara’s horror storytelling content. This research uses a case study approach. The findings show that Nadia Omara’s success in building viewer engagement is supported by several strategies: (1) a unique and interactive storytelling style, the use of an Acehnese dialect in narrating Indonesian horror stories, and the habit of addressing viewers as “Wawak”; (2) active feedback through likes, comments, expressions of gratitude during video openings, and cross-platform promotion; and (3) the diversity of Indonesian horror stories that effectively entertain viewers. In conclusion, the KHW program hosted by Nadia Omara has successfully built audience community engagement through a form of horror storytelling that is unique, interactive, and rooted in local cultural contexts. This study contributes by clarifying how digital engagement can be constructed through the integration of personal narratives, audience participation, and local cultural identity within new media environments. ***** Konten narasi horor di YouTube telah berkembang menjadi ruang interaksi yang menunjukkan engagement dan identitas komunitas audiens. Program Kisah Horror Wawak (KHW) yang dibawakan oleh Nadia Omara menampilkan keterlibatan aktif komunitas “Wawak” dalam menikmati sekaligus berbagi cerita horor. Hal ini terlihat dari keberhasilan Nadia Omara dalam meraih 9,76 juta subscriber dan lebih dari 2 juta penonton. Penelitian ini mengkaji bagaimana respon komunitas “Wawak” dalam membangun engagement terhadap konten storytelling horror Nadia Omara. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menunjukkan, bahwa keberhasilan Nadia Omara dalam meraih viewers engagement didasarkan pada beberapa strategi yaitu; (1) cara ber-storytelling yang unik dan interaktif, penggunaan logat Aceh dalam bercerita kisah horor nusantara dan kebiasaan menyapa  “wawak” pada para viewers-nya, (2) aktif memberi feedback dalam bentuk pemberian simbol like, komentar dan ucapan terima kasih saat opening video, serta cross platform promotion, dan (3) keberagaman cerita horor Nusantara serta mampu menghibur viewers. Kesimpulannya, program KHW yang dibawakan oleh Nadia Omara berhasil membangun engagement komunitas audiens melalui storytelling horor yang unik dan interaktif dan berakar pada lokalitas. Studi ini berkontribusi dengan memperjelas bagaimana keterlibatan digital dapat dibangun melalui perpaduan narasi personal, partisipasi audiens, dan identitas budaya lokal di ruang media baru.
News coverage of the Palestinian conflict with Israel: A framing analysis of the October 7, 2023, Hamas attack Ibrahim, Malik; Riyadi, Agus; Andriani, Kiki; Elma Fitriani, Nanda; Alif, Aslikhatul Ummah Sofi
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.25118

Abstract

One of the prolonged conflicts between Palestine and Israel has yet to find a solution. This study aims to explore Indonesian online media in framing news about the Palestinian-Israeli conflict during the Hamas attack on October 7, 2023. It analyzes the factors that influence framing, public opinion, and foreign policy. This study uses qualitative research with a framing analysis approach. As for data collection techniques through observation, digital searches, news selection, and documentation. Data analysis uses Robert N. Entman's framing model, and data validity uses audit trails. The results show that Indonesian media frames the conflict with different emphases within a strong pro-Palestinian consensus. Kompas.com and CNBC Indonesia emphasize the cycle of structural violence, Liputan6.com focuses on the humanitarian tragedy, SINDOnews.com sees it as a geopolitical maneuver, and Metrotvnews.com sees it as a struggle for independence. Although varied, all media outlets show sympathy for Palestine with ambiguous diction for Hamas and encourage diplomatic solutions. This framing is shaped by a national consensus based on religious solidarity, anti-colonial identity, and alignment between public opinion, government policy, and media coverage. This study contributes to Islamic communication scholarship by showing how religious solidarity, justice, and anti-colonialism shape media framing and mediate the relationship between Muslim public opinion, state policy, and media discourse. ***** Salah satu konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel belum menemukan solusi. Penelitian ini bertujuan  mengeksplorasi media online Indonesia dalam membingkai berita konflik Palestina-Israil pada serangan Hamas tanggal 7 Oktober 2023. Menganalisis faktor yang mempengaruhi framing, opini publik dan kebijakan luar negeri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis framing. Teknik pengumpulan data dengan observasi, pencarian digital, seleksi berita dan dokumentasi. Analisis data dengan model framing Robert N. Entman, dan validitas data dengan audit trail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, media Indonesia membingkai konflik dengan penekanan berbeda dalam konsensus pro-Palestina yang kuat. Kompas.com dan CNBC Indonesia menekankan siklus kekerasan struktural, Liputan6.com fokus pada tragedi kemanusiaan, SINDOnews.com melihatnya sebagai manuver geopolitik, dan Metrotvnews.com sebagai perjuangan kemerdekaan. Meski variatif, semua media menunjukkan simpati pada Palestina dengan diksi ambigu untuk Hamas serta mendorong solusi diplomatik. Framing ini dibentuk oleh konsensus nasional berbasis solidaritas agama, identitas anti-kolonial, dan keselarasan antara opini publik, kebijakan pemerintah, serta pemberitaan media. Penelitian ini berkontribusi pada kajian komunikasi Islam dengan menunjukkan bagaimana solidaritas keagamaan, keadilan, dan anti-kolonialisme membentuk framing media serta memediasi hubungan antara opini publik Muslim, kebijakan negara, dan wacana media.  
Communications skill and virtual micro-guiding: Competency development strategies for Hajj guides in Islamic universities Hasanah, Hasyim; Anas, Ahmad; Silvi, Firda Aricha; Nurbini
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.26284

Abstract

This study is motivated by the importance of developing the competency of candidate Hajj ritual guides, amidst the high interest in going to the Hajj, but not supported by the availability of competent resources to guide the congregation. On the other hand, the format for competency development in Islamic colleges is still not uniform, so an ideal competency development strategy based on communication skills and virtual micro-guiding is needed. This study aims to describe and analyze communication skills and virtual micro-guiding as a strategy for developing the competency of candidate professional Hajj ritual guides. This study is operationalized through qualitative analysis of critical interaction models. Data was collected from 87 candidate Hajj guides in the Department of Hajj and Umrah Management. The data results are in the form of persuasive communication practices, virtual micro-guiding from the results of in-depth interviews, and documentation studies. This study found a form of skill consisting of persuasive communication and therapeutic communication. The virtual micro-guiding form is operationalized with virtual group guiding, support group, group counseling, and teaching group devices. The implications of persuasive and therapeutic communication skills are directed at efforts to understand the Hajj ritual. Meanwhile, the implications of virtual micro-guiding are one of the national policies in developing competencies by implementing a conducive communication environment. This is the first study to examine communication skills and virtual micro-guiding as competency development strategies for hajj guides. ***** Studi ini dilatarbelakangi pentingnya pengembangan kompetensi calon pembimbing manasik haji, ditengah animo pergi haji yang masih tinggi, namun tidak didukung ketersediaan sumber daya kompeten untuk membimbing jemaah. Di sisi lain, format pengembangan kompetensi di Perguruan Tinggi Islam masih tidak seragam, sehingga dibutuhkan strategi ideal pengembangan kompetensi berbasis keterampilan komunikasi dan virtual micro-guiding. Studi ini bertujuan mendeskripsikan serta menganalisis keterampilan komunikasi dan virtual micro-guiding sebagai strategi pengembangan kompetensi calon pembimbing manasik haji profesional. Studi ini dioperasionalkan melalui analisis kualitatif model interaksi kritis. Data dihimpun dari calon pembimbing haji di Prodi Manajemen Haji Umrah sebanyak 87 orang. Hasil data berupa praktek komunikasi persuasif, virtual micro-guiding dari hasil wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Studi ini menemukan bentuk keterampilan yang terdiri dari komunikasi persuasif dan komunikasi terapiutik. Bentuk virtual micro-guiding dioperasionalkan dengan perangkat kelompok bimbingan virtual, kelompok dukungan, kolompok konseling, dan kelompok pengajaran. Implikasi keterampilan komunikasi persuasive dan terapiutik diarahkan pada usaha pemahaman ritualistic haji. Sedangkan implikasi virtual micro-guiding menjadi salah satu kebijakan nasional dalam pengembangan kompetensi dengan penerapan lingkungan komunikasi yang kondusif. Ini adalah studi pertama yang mengkaji keterampilan komunikasi dan bimbingan mikro virtual sebagai strategi pengembangan kompetensi pembimbing haji.
Actualizing Malay communication ethics in social media: Study of the Kitab Kumpulan Ringkas Berbetulan Lekas Mawazi, Abd Rahman; Yonantha, Ferri
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.26396

Abstract

This research stems from the rampant negative impact of social media as a medium of communication in the cyber era, such as crime, cyber violence, sexual harassment, pornographic content, gossipy infotainment, and so on. This study uses the content analysis method that is extracted from the parts of values of communication ethics in Kitab Kumpulan Ringkas Berbetulan Lekas (KRBL) written by Raja Ali Kelana. The urgency of this research is part of the effort to answer the needs of today based on past experiences and as part of maintaining the value of wisdom that lives in the treasury of knowledge in Malay. The results of the study of the content of communication ethics in KRBL show that the principles of communication ethics contained therein are speaking the truth, being knowledgeable, not indulging in disgrace, speaking softly, not arguing, and maintaining confidentiality. These values seem to be very normative and in line with the values in Islamic teachings and universal values in communication. The content of communication ethics values in KRBL is also still quite relevant to be actualized in social media. From this study, it is also revealed that the intellectual legacy of Nusantara figures enriches the study of Islamic communication, necessitating further research on different figures, approaches, and subjects. ***** Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya dampak negatif media sosial sebagai media komunikasi di era siber, seperti kriminalitas, kekerasan siber, pelecehan seksual, konten pornografi, infotainment yang bersifat gosip dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi yang digali dari nilai-nilai etika komunikasi dalam Kitab Kumpulan Ringkas Berbetulan Lekas (KRBL) yang ditulis oleh Raja Ali Kelana. Urgensi penelitian ini adalah sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan masa kini berdasarkan pengalaman masa lalu dan sebagai bagian dari mempertahankan nilai kearifan yang hidup dalam khazanah ilmu pengetahuan dalam bahasa Melayu. Hasil kajian terhadap muatan etika komunikasi dalam KRBL menunjukkan bahwa prinsip-prinsip etika komunikasi yang terkandung di dalamnya adalah seperti berkata benar, berilmu, tidak mengumbar aib, bertutur kata lemah lembut, tidak berbantah-bantahan, dan menjaga kerahasiaan. Nilai-nilai tersebut terlihat sangat normatif dan sejalan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam dan nilai-nilai universal dalam berkomunikasi. Muatan nilai-nilai etika komunikasi dalam KRBL juga masih cukup relevan untuk diaktualisasikan dalam media sosial. Dari penelitian ini, diketahui juga bahwa khazanah pemikiran tokoh Nusantara memperkaya kajian komunikasi Islam sehingga perlu diteliti lebih lanjutan, baik terhadap tokoh, pendekatan, maupun obyek yang berbeda.
Online media and narrative hegemony: Discourse network analysis of the 2025 Pertamina case Astuti, Yanti Dwi; Adeni, Adeni
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.26918

Abstract

This article examines how narrative dominance is constructed and contested in Indonesian online media coverage of the 2025 Pertamina mega corruption scandal. The study applies Discourse Network Analysis (DNA) to map relational configurations between actors and claims. The dataset consists of 110 attributed statements extracted from ten high-traffic Indonesian online news outlets published between February and March 2025. The study converts quoted statements into actor–claim networks and analyzes them using centrality and modularity measures. The results reveal a polarized discourse structure with four major communities (modularity Q = 0.47). A technocratic bloc dominates the network, accounting for 38% of statements and securing a disproportionate share of eigenvector centrality, while accountability-oriented actors remain structurally peripheral. The top ten central actors, including the Ministry of Energy, Pertamina, KPK, CNNIndonesia, Tempo.co, and ICW, function as anchors, brokers, or amplifiers that shape discursive visibility and legitimacy. The findings demonstrate how technocratic framing functions as a hegemonic anchor that reframes corruption as a managerial issue rather than a systemic crime. Practically, the study highlights the need for media policy reforms that strengthen watchdog amplification, diversify authoritative sources, and prevent excessive reliance on technocratic legitimation in corruption reporting. DNA thus offers a powerful methodological framework for diagnosing discursive power imbalances in digital democracies. ***** Artikel ini mengkaji bagaimana dominasi narasi dibangun dan diperebutkan dalam pemberitaan media daring Indonesia mengenai skandal mega korupsi Pertamina tahun 2025. Penelitian ini menerapkan Discourse Network Analysis (DNA) untuk memetakan konfigurasi relasional antara aktor dan klaim wacana. Dataset penelitian terdiri atas 110 pernyataan teratribusi yang diekstraksi dari sepuluh media daring Indonesia dengan tingkat trafik tinggi yang diterbitkan antara Februari hingga Maret 2025. Pernyataan-pernyataan yang dikutip dikonversi menjadi jaringan aktor–klaim dan dianalisis menggunakan ukuran sentralitas dan modularitas. Hasil analisis menunjukkan struktur wacana yang terpolarisasi dengan empat komunitas utama (modularitas Q = 0,47). Blok teknokratis mendominasi jaringan dengan menyumbang 38% dari seluruh pernyataan serta menguasai proporsi sentralitas eigenvektor yang tidak seimbang, sementara aktor-aktor yang berorientasi pada akuntabilitas tetap berada di posisi perifer secara struktural. Sepuluh aktor paling sentral termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Pertamina, KPK, CNNIndonesia, Tempo.co, dan ICW,  berfungsi sebagai jangkar, perantara, atau penguat yang membentuk visibilitas dan legitimasi wacana. Temuan ini menunjukkan bagaimana pembingkaian teknokratis berfungsi sebagai jangkar hegemonik yang membingkai ulang korupsi sebagai persoalan manajerial alih-alih sebagai kejahatan sistemik. Secara praktis, penelitian ini menegaskan perlunya reformasi kebijakan media yang memperkuat peran pengawasan, memperluas keberagaman sumber otoritatif, serta mencegah ketergantungan berlebihan pada legitimasi teknokratis dalam pemberitaan korupsi. Dengan demikian, DNA menawarkan kerangka metodologis untuk mendiagnosis ketimpangan kekuasaan wacana dalam demokrasi digital.
Unveiling spiritual violence: A critical discourse analysis of the Bidaah series Sabiila, Diyanah Hanin; Arrahmah, Fathiyah Khasanah
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.28345

Abstract

This study examines the construction of spiritual violence in the Malaysian psychological religious drama series Bidaah through Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA) approach. Within the context of religious societies vulnerable to ideological domination based on religion, the series illustrates how religious discourse is employed as an instrument for legitimizing power and social control. This qualitative study uses purposive sampling to analyze eight selected scenes from five episodes containing dialogues and symbolic representations of religious authority within the fictional group Jihad Ummah. The textual analysis focuses on diction, sentence structure, modality, metaphor, and ideological presupposition to reveal the mechanisms of reproducing symbolic and epistemic violence that silence criticism and affirm the absolute authority of religious figures. The findings show that Bidaah not only represents religious violence narratively but also depicts social practices involving symbolic and structural violence that reflect the realities of religious conflict and polarization in Indonesia and Malaysia. This study contributes to a critical understanding of the relationship between language, power, and ideology in media, while opening space for reflection on repressive and exclusive religious practices in modern society. ***** Penelitian ini mengkaji konstruksi kekerasan spiritual dalam serial drama religi psikologis Malaysia, Bidaah, melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough. Dalam konteks masyarakat religius yang rentan terhadap dominasi ideologis berbasis agama, serial ini menampilkan bagaimana wacana keagamaan digunakan sebagai instrumen legitimasi kekuasaan dan kontrol sosial. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan purposive sampling, menganalisis delapan adegan terpilih dari lima episode yang memuat dialog dan simbolisasi kekuasaan religius dalam kelompok fiktif Jihad Ummah. Analisis teks difokuskan pada aspek diksi, struktur kalimat, modalitas, metafora, dan presuposisi ideologis untuk mengungkap mekanisme reproduksi kekerasan simbolik dan epistemik yang membungkam kritik dan meneguhkan otoritas absolut figur religius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serial Bidaah tidak hanya merepresentasikan kekerasan agama dalam bentuk naratif, tetapi juga memaparkan praktik sosial yang melibatkan kekerasan simbolik dan struktural, yang mencerminkan realitas konflik dan polarisasi keagamaan di Indonesia dan Malaysia. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman kritis tentang hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan ideologi dalam media, sekaligus membuka ruang refleksi terhadap praktik keberagamaan yang represif dan eksklusif dalam masyarakat modern.
Communication styles and organizational da’wah practices of the Jama’ah Tabligh in mitigating hate speech Furqan; Abdullah; Sahrul
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.28376

Abstract

This study examines the communication style of the Jama’ah Tabligh organization in mitigating hate speech within Aceh Besar, Indonesia. The research focuses on their strategies for delivering religious messages, the challenges encountered in implementing their communication approaches, and the broader implications of these practices in reducing hate-motivated expressions in the community. Employing a qualitative method, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis conducted from January to April 2025, involving Jama’ah Tabligh members, community leaders, and local residents who regularly interact with their activities. The findings reveal that Jama’ah Tabligh adopts a da’wah bil hikmah communication style characterized by persuasive, non-confrontational, and example-driven approaches. Messages are conveyed through interpersonal communication rooted in cultural sensitivity, the use of local language, and adherence to Acehnese customs. Core activities such as khuruj (missionary travel), jaulah (house visits), and ta’lim (study gatherings) function not only as religious practices but also as mechanisms for shaping positive community perceptions and raising awareness about the dangers of hate speech. Key challenges include persistent stigma toward Jama’ah Tabligh, limited technological engagement, the prevalence of online hate narratives, and differing religious traditions among local dayah communities. The study recommends strengthened collaboration among religious organizations, local authorities, and customary leaders to formulate more effective communication strategies for countering hate speech in culturally grounded ways. ***** Penelitian ini mengkaji gaya komunikasi organisasi Jama’ah Tabligh dalam merespons dan mereduksi perilaku hate speech di Aceh Besar, Indonesia. Fokus kajian diarahkan pada strategi penyampaian pesan dakwah, dinamika penerapan gaya komunikasi dalam interaksi sosial, serta efektivitas pendekatan yang digunakan dalam menurunkan potensi ujaran kebencian di tingkat masyarakat. Menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, penelitian dilakukan sepanjang Januari–April 2025 terhadap anggota Jama’ah Tabligh, tokoh masyarakat, dan warga yang berinteraksi langsung dengan aktivitas dakwah mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jama’ah Tabligh menerapkan gaya komunikasi dakwah bil hikmah yang bersifat persuasif, non-konfrontatif, dan berorientasi pada keteladanan. Pesan disampaikan melalui komunikasi interpersonal yang mengutamakan pendekatan kultural, penggunaan bahasa lokal, serta penghormatan terhadap nilai dan adat Aceh. Aktivitas dakwah seperti khuruj, jaulah, dan ta’lim berperan sebagai medium pembentukan persepsi positif sekaligus sarana penyadaran sosial terhadap bahaya hate speech. Hambatan yang ditemukan meliputi stereotip negatif terhadap Jama’ah Tabligh, keterbatasan teknologi informasi, intensitas ujaran kebencian di media sosial, serta perbedaan tradisi keagamaan dengan sebagian masyarakat dayah. Penelitian merekomendasikan kolaborasi antara organisasi keagamaan, pemerintah daerah, dan tokoh adat dalam membangun strategi komunikasi yang lebih efektif untuk meredam hate speech secara berkelanjutan.
Islamic communication strategies of mediators at the Mahkamah Syar’iyah in mediating divorce cases Saidaturrahmah; Lubis, Lahmuddin; Nasution, Syawaluddin
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.28381

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Islamic communication strategies by mediators at the Mahkamah Syar’iyah (Sharia Court) of Bireuen Regency, Indonesia, in mediating divorce petition cases. The background of this research lies in the high number of divorce cases filed annually, while the mediation success rate remains relatively low. The study employs a qualitative approach through field research. Data were collected via in-depth interviews with the Chief Judge of the Mahkamah Syar’iyah and mediator judges, supported by the examination of official court documents. The findings reveal that although Islamic communication principles, such as hikmah (wisdom), mau’izhah hasanah (good counsel), and mujadalah billati hiya ahsan (best form of debate), have been incorporated into the mediation process, their implementation still faces significant challenges, including limited human resources, the absence of specific Standard Operating Procedures (SOPs), and the diverse socio-cultural backgrounds of the parties involved. Nevertheless, Islamic communication strategies have proven effective in fostering constructive dialogue, promoting mutual respect, and offering fair solutions aligned with Islamic law. The study recommends enhancing mediator capacity, strengthening technical regulations, and developing standardized procedures to improve mediation success rates in the future. ***** Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi Islami yang diterapkan oleh mediator di Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Bireuen, Indonesia, dalam memediasi pasangan yang mengajukan gugat cerai. Latar belakang penelitian ini adalah tingginya jumlah perkara perceraian yang masuk setiap tahun, sementara tingkat keberhasilan mediasi relatif rendah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Ketua Mahkamah Syar’iyah dan para hakim mediator, serta didukung oleh telaah dokumen resmi pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun prinsip-prinsip komunikasi Islami seperti hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan telah diupayakan untuk diimplementasikan, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai hambatan, termasuk keterbatasan sumber daya manusia, belum adanya SOP khusus, serta perbedaan latar belakang sosial-budaya para pihak. Namun demikian, strategi komunikasi Islami terbukti berkontribusi dalam membangun dialog yang konstruktif, menumbuhkan rasa saling menghormati, serta memberikan alternatif solusi yang lebih berkeadilan dan sesuai syariat. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas mediator, penguatan regulasi teknis, dan pengembangan prosedur baku guna mengoptimalkan keberhasilan mediasi di masa mendatang.  
Tradition meets technology: The role of Artificial Intelligence in Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah’s digital adaptation Nada-Qisthina, Dwi Sufa; Musyafak, Najahan
Islamic Communication Journal Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2025.10.2.30339

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) in the digital media landscape has generated a duality of concerns and hopes among religious organizations such as Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah. On one hand, AI is perceived as potentially eroding humanistic values; on the other, it offers the promise of accelerating the dissemination of Islamic teachings through digital platforms. This study aims to examine the adaptation process of AI technology within the digital media ecosystems of both organizations and to identify the key enabling and inhibiting factors. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with selected informants and institutional document analysis. The study adopts Everett Rogers’ diffusion of innovation model, encompassing five stages: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. Findings reveal that NU has adopted AI through platforms such as Siskader, Kitab AI, Pandai AI, and sentiment analysis, while Muhammadiyah has developed Chat HPT, Goal Align Assessment, and AI-based customer service tools. These adaptations are driven by pressures to modernize, the need for a progressive organizational image, cadre openness to innovation, and user enthusiasm. Conversely, limited financial resources, insufficient computational capacity, and prolonged training durations are significant barriers. The study underscores the importance of a collaborative approach that integrates Islamic values with digital innovation strategies to enhance the da’wah capacity and organizational transformation in the age of artificial intelligence. ***** Perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) dalam lanskap media digital telah menimbulkan dualitas kekhawatiran dan harapan di antara organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Di satu sisi, AI dipandang berpotensi mengikis nilai-nilai humanistik; di sisi lain, AI menawarkan janji untuk mempercepat penyebaran ajaran Islam melalui platform digital. Studi ini bertujuan untuk meneliti proses adaptasi teknologi AI dalam ekosistem media digital kedua organisasi tersebut dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat utamanya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan terpilih dan analisis dokumen institusional. Studi ini mengadopsi model difusi inovasi Everett Rogers, yang mencakup lima tahap: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Temuan menunjukkan bahwa NU telah mengadopsi AI melalui platform seperti Siskader, Kitab AI, Pandai AI, dan analisis sentimen, sementara Muhammadiyah telah mengembangkan Chat HPT, Goal Align Assessment, dan alat layanan pelanggan berbasis AI. Adaptasi ini didorong oleh tekanan untuk modernisasi, kebutuhan akan citra organisasi yang progresif, keterbukaan kader terhadap inovasi, dan antusiasme pengguna. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya keuangan, kapasitas komputasi yang tidak memadai, dan durasi pelatihan yang panjang merupakan hambatan yang signifikan. Studi ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan kolaboratif yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan strategi inovasi digital untuk meningkatkan kapasitas da’wah dan transformasi organisasi di era kecerdasan buatan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10