cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2021)" : 8 Documents clear
KESADARAN TEOLOGI IRSHAD MANJI : STUDY ANALISA EKSISTENSIALIS JEAN PAUL SARTRE Faridahh, Umi
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.12796

Abstract

This research examines the thoughts of Ershad Manji using the analysis knife of a philosophical figure, namely Jean Paul Sartre. The objectives of this study are the issues that are the subject of discussion: 1) Knowing the theological awareness of Ershad Manji; and 2) Knowing Jean Paul Sartre's analysis of the theological awareness of Irshad Manji. This research is a library search research and quantitative research. The findings in this research show that: First ,. Irshad Manji is a staunch muslim, provides constructive criticism, and is very supportive of the progress of Islam. The awareness possessed by Irshad Manji brings the concept of Ijtihad back to Islamic thought and avoids thinking in Islam by implementing wall street and moral change. Second, the theological awareness of Irshad Manji is an existentialist concept, the analysis knife of jean paul satre is used to dissect the thought of Irshad Manji. Examining the whole discussion of Irshad Manji brings existentialist values to life through theological awareness... 
Spiritualitas Agama bagi Bencana Kemanusiaan dalam Filsafat Perenial: Tinjauan Pemikiran Filsafat Seyyed Hossein Nasr Budiman, Arip; Anditasari, Putri
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.12890

Abstract

This study aims to discuss the review of Seyyed Hossein Nasr's philosophical thoughts, regarding the spirituality of religion for humanitarian disasters. This research method applies a qualitative method through literature study and content analysis. The results and discussion found that the modern scientific paradigm that puts too much emphasis on the aspect ratio and ignores the spiritual aspect has an impact on human greed in managing natural resources which has an impact on the ecological crisis. The conclusion of this study is Nasr assume the religious spirituality for humanitarian disasters is a spiritual source of Islam. Al-Quran and Hadith become the spiritual basis to love and care to the universe, as a manifestation to get God’s love. Nasr assume that nature is a holy place that can be the manifestation of God’s light. Awareness of knowledge is not separate from Allah, becomes an important point for wise human spirituality.
PROBLEM GENDER DALAM FEMINISME EKSISTENSIALIS SIMONE DE BEAUVOIR Rohmah, Siti; Ilahi, Restu Prana
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.13394

Abstract

Problematika gender di masyarakat masih menjadi pembicaraan yang hangat mengingat banyak factor yang mempengaruhi diantaranya adalah masih terjadinya tumpang tindih gender dan ketimpangan sosial. Problem gender semakin ramai dibicarakan terlebih oleh para aktifis feminisme yang menuntut kesetaraan dan keadilan gender. Gender merupakan jenis kelamin sosial yang direkontruksi oleh masyarakat baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan. Akan tetapi akibat stereotype perbedaan gender ini melahirkan ketidakadilan gender yang banyak merugikan kaum perempuan. Kehadiran Simone De Beauvoir menjadi cahaya dalam dunia filsafat eksistensialisme dan feminisme.Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka dengan menggunakan data yang bersumber dari buku, jurnal dan data pendukung lainnya. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa dalam pandangan Simone De Beauvoir perempuan yang dianggap lemah, dijadikan objek dan dianggap tidak berdaya tidak bisa disingkirkan atau diabaikan. Dalam bukunya Second Sex( Fakta dan Mitos), Fakta sejarah filsafat dapat mengikuti pemahaman atau mitos klasik yang menganggap laki-laki adalah manusia yang berpikir secara rasional dan perempuan adalah manusia yang mengutamakan perasaan. Mitos tersebut menjadi kutukan kuat yang membuat perempuan kurang mendapat tempat dalam filsafat. Padahal dalam sejarah awal filsafat terdapat tokoh perempuan yang bernama Hypatia yang mana ia telah berkontibusi dalam pemikiran filsafat Neoplatonis. 
TRANSFORMASI MAHABBAH MENJADI CINTA ABADI DALAM KONSEP TASAWUF BADIUZZAMAN SAID NURSI Ihsan, Nur Hadi; Permana, Ridani Faulika; Rizaka, Muhamad Fawwaz
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.13962

Abstract

Abstract Mahabbah or mahabbah Allah (the love of Allah) is the highest spiritual attaintment that Sufis aim for in their spiritual journey. This mahabbah is a form of human love for The Creator which then manifests into love for every beauty and whatever they love. This study will expose Nursi's view of love and how to make human love for everything become eternal. This paper is a library research applying a Sufism approach. The documentary techniques is used to collect the data of this study and the collected data will be analyzed utilizing descriptive-analysis method. This study identifies that according to Nursi, true love is human love for the Creator. This kind of love can only be obtained with ma'rifatullah. If this love for Allah underlies human love for all other than Allah, then he will make all his love eternal. Love for friends, love for wife and children, love for delicious food, love for beauty, and all human love for other than Allah will be eternal if all of them are based and for the sake of Allah.AbstrakMaḥabbah atau lebih tepatnya mahabbah Allah (cinta Allah), merupakan puncak pencapaian spiritual yang hendak dituju  oleh para sufi dalam perjalanan spiritual mereka. Mahabbah ini adalah suatu bentuk kecintaan manusia kepada Sang Pencipta yang kemudian manifestasinya menjadi cinta kepada setiap keindahan dan apa saja yang mereka cintai. Kajian ini akan mengungkap pandangan Nursi terhadap cinta dan bagaimana menjadikan cinta manusia kepada segala sesuatu itu menjadi cinta yang abadi. Tulisan ini kajian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan tasawuf. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik dokumenter dan data yuang terkumpul akan dianalisis menggunakan metode analisis-deskriptif. Kajian ini mendapati bahwa menurut Nursi, cinta sejati itu adalah cinta manusia kepada Sang Pencipta. Cinta semacam ini hanya dapat dicapai dengan ma'rifatullah. Jika cinta kepada Allah ini mendasari cinta manusia kepada semua selain Allah, maka ia akan menjadikan semua cinta itu abadi. Cinta kepada sahabat, cinta kepada istri dan anak, cinta kepada makanan lezat, cinta kepada keindahan, dan semua cinta manusia kepada selain Allah itu akan menjadi abadi jika semua itu didasari oleh karena cinta kepada, untuk, dan demi Allah.
MENGURAI DISRUPSI PAHAM KEISLAMAN INDONESIA DALAM PERSPEKTIF TIPOLOGI EPISTIMOLOGI ABID AL-JABIRI Muslih, Mohammad; Kusuma, Amir Reza; Rahman, Ryan Arief; Rohman, Abdul; Suntoro, Adib Fattah
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.14028

Abstract

Diskursus pemahaman keagamaan masyarakat Indonesia masa kini menjadi perhatian sebagian tokoh dan cendekiawan belahan dunia. Pemahaman dan perbuatan yang dilakukan oleh sebagian umat Muslim tidak mencerminkan universalitas dan “rahmatan” ajaran Islam. Ada sebagian kaum muslimin yang sangat tekstualis dalam memahami dan mengamalkan Islam, ada pula yang liberal sekuler dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Oleh karena itu dalam menghadapi problem tersebut. Peneliti ingin mengurainya berdasarkan tipologi epistimologi Abid al-Jabiri yaitu epistimologi bayani, burhani dan irfani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis. Ketiga tipologi epistimologi tersebut dapat dijadikan sebagai metode dan dasar dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan menjaga nilai Rahmatan dan Univeralitasnya. Penggunaan tipologi epistimologi Abid al-Jabiri dalam memahami dan mengamalkan Islam juga dapat menjadikan umat Islam sebagai umat yang berpegang teguh terhadap nushus (teks), antusias mencari kemaslahatan segala realitas, dan responsif terhadap segala tantangan/perubahan zaman. AbstractDiscourse of religious understanding in Indonesia today is a concern of some Indonesian figures and scholars and a wide part of the world. The understanding and deeds of some Muslims do not reflect the universality and "rahmatan" of Islamic teachings. There are some Muslims who are very textual and radical in understanding and practicing Islam, some are secular liberals in understanding and practicing the teachings of Islam. Therefore, in the face of this problem. Researchers wanted to parse it based on abid al-Jabiri's epistimology, namely epistimology bayani, burhani and irfani. This study uses the descriptive-analysis method. The three Epistimological Typologies can be used as a method and basis in maintaining the purity of Islamic teachings and maintaining the value of Rahmatan and its Univerality.The use of Abid al-Jabiri epistimology typology in understanding and practicing Islam can also make Muslims as a ummah who hold on to nusush (text), enthusiastically seek the benefit of all reality and responsive to all challenges/changes of the times. 
Politik Kemanusiaan dalam Ensiklik Fratelli Tutti Satrio, Anthonius Panji; Viktorahadi, R.F. Bhanu
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.14072

Abstract

Menindaklanjuti perjumpaannya dengan Sultan Malik al-Kamil di Abu Dhabi awal 2019 sekaligus mengajak semua saudara membangun tata kelola dunia yang lebih baik pasca Pandemi Covid-19, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik ‘Fratelli Tutti’ on Fraternity and Social Friendship pada Oktober 2020. Secara khusus, dengan ensiklik ini Paus Fransiskus juga mengajukan proposal tentang ‘Politik Kemanusiaan’. Menurutnya, ‘Politik Kemanusiaan’ adalah politik berbasiskan amal kasih. Politik ini merangkul semua pihak untuk mempromosikan kemanusiaan. Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, mendeskripsikan politik kemanusiaan dalam Ensiklik Fratelli Tutti. Kedua, mendeskripsikan relevansi politik kemanusiaan tersebut. Untuk sampai pada tujuan itu, penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan analisis teks. Penelitian menyimpulan bahwa politik kemanusiaan ini relevan untuk diterapkan pada zaman ini. Akan tetapi, Gereja Katolik Indonesia masih harus berjuang untuk benar-benar mewujudkan politik kemanusiaan ini.
TINJAUAN TEOLOGI ISLAM ATAS KOMUNIKASI PEMIMPIN LEMBAGA PENDIDIKAN (Signifikansi sifat Nabi Muhammad saw., atas kepemimpinan dan komunikasi) Sudarma, Unang; Mulyana, Asep; Sauri, Sofyan; Fatkhullah, Faiz Karim; Rusliana, Iu
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.15077

Abstract

AbstrakDalam suatu struktur lembaga pendidikan, fungsi komunikasi sangat vital. Fungsi komunikasi harus berjalan dengan baik karena di dalam lembaga yang diisi oleh pelbagai pos dengan posisi berbeda, harus terjadi kesepahaman. Selama ini, dalam sistem komunikasi, banyak terjadi disrupsi kesepahaman antara pelbagai posisi yang ada di dalam struktur pendidikan, terutama disebabkan oleh komunikasi dari pemimpin sebagai ketua kepada anggota yang bersifat asimetris. Sejumlah penelitian menunjukkan pentingnya peran komunikasi pemimpin kepada anggota. Penelitian ini akan meninjau sejauh mana pengaruh teologi Islam dalam menentukan karakter dan pada gilirannya penyampaian komunikasi dari ketua ke anggota, sebagai bagian yang bersifat a priori secara filosofis dan teologis. Melalui pendekatan literatur—teologi Islam, komunikasi, dan pendidikan—dengan deskripsi analitik, penelitian ini akan melihat keterkaitan langsung antara teologi Islam dengan sifat komunikasi dari ketua ke anggota. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pengaruh sejumlah poin ajaran teologi Islam sangat mempengaruhi komunikasi; terutama bagi pemimpin pada anggota dalam lembaga pendidikan. Penekanan paling mencolok muncul dari pemahaman sifat Amanah (jujur) dan tabligh (menyampaikan) melalui imitasi sifat Nabi agung Muhammad saw. Kata Kunci: kepemimpinan, komunikasi, pendidikan, teologi Islam,  AbstractIn an educational institution structure, the function of communication is very vital. The communication function must work well because within the institution, which is filled by various posts with different positions, there must be an understanding. So far, in the communication system, there has been a lot of disruption of understanding between various positions in the educational structure, mainly due to asymmetrical communication from the leader as chairman to members. A number of studies show the important role of leader-to-member communication. This study will review the extent of the influence of Islamic theology in determining the character and in turn the delivery of communication from the chairman to members, as part of a philosophical and theological a priori. Through a literature approach—Islamic theology, communication, and education—with analytic descriptions, this study will look at the direct relationship between Islamic theology and the nature of communication from chairman to members. In this study it was found that the influence of a number of points of Islamic theological teachings greatly affects communication; especially for leaders in members in educational institutions. The most striking emphasis comes from understanding the nature of Amanah (honest) and tabligh (delivering) through imitation of the nature of the great Prophet Muhammad. Keywords: leadership, communication, education, Islamic theology,
HEIDEGGER DAN BAHAYA TEKNOLOGI Wibowo, A. Setyo
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.15841

Abstract

AbstrakTeknologi adalah keniscayaan. Kita membutuhkan teknologi untuk hidup, namun teknologi juga menunjukkan wajahnya yang seram: krisis ekologi, perang nuklir dan disrupsi. Bagi Heidegger, teknologi bukan sekedar pengetahuan teknis dan kumpulan perangkat (instrumentum) untuk mempermudah kerja. Inti teknologi adalah Gestell yang membingkai segala sesuatu, termasuk manusia, sebagai sumber daya untuk dieksploitasi. Heidegger menengarai bahwa inti teknologi berasal dari Metafisika Barat yang berciri ontoteologis. Manusia mesti berpikir secara lain, bukan lagi kalkulatif melainkan meditatif supaya ia memiliki relasi lebih baik dengan physis (alam). Kata Kunci: teknologi, ontoteologi, Gestell (Enframing), pikiran kalkulatif dan meditatif AbstractIn this age, technology is an imperative. Though we need it, technology has its own dangers: ecological crisis, nuclear war and technological disruption. Heidegger thought that technology was not merely a technical knowledge, nor a set of instruments to make work easier. The essence of technology is Gestell, Enframing, a stand point to consider everything, including man, as a standing reserve ready to be exploited. For Heidegger, the essence of technology comes from Western Metaphysics, characterized by its ontotheological structure. Man should look for another kind of thinking, meditative one, to have a better relationship with nature. Key words: technology, ontotheology, Gestell (Enframing), calculative and meditative thinking.

Page 1 of 1 | Total Record : 8