cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
DESKRIPSI SERANGGA ORDO HEMIPTERA PENYEBAB PURU TUMBUHAN DI BOGOR, CIANJUR DAN SUKABUMI, JAWA BARAT Mahindra Dewi Nur Aisyah; Purnama Hidayat; Aunu Rauf
ZOO INDONESIA Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i1.4317

Abstract

Puru merupakan salah satu pertumbuhan tidak normal pada bagian tanaman, salah satunya dapat disebabkan oleh serangga yang berasal dari Ordo Hemiptera. Serangga Hemiptera penyebab puru memiliki distribusi yang luas, terutama di daerah tropis. Terdapat 11 famili dalam Ordo Hemiptera yang dilaporkan menyebabkan puru pada berbagai tumbuhan, namun laporannya di Indonesia masih terbatas. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi serangga Ordo Hemiptera penyebab puru dan mendeskripsikan puru yang terbentuk di beberapa wilayah di Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2017 sampai dengan Mei 2018 di Bogor, Cianjur, dan Sukabumi dengan metode purposive. Penanganan sampel dan identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, IPB. Terdapat empat famili yang menyebabkan puru tumbuhan, yaitu Psyllidae, Tingidae, Pseudochopteridae, dan Tingidae. Keempat famili tersebut menyebabkan 14 puru di 12 spesies tumbuhan. Enam puru sudah dilaporkan, puru lainnya merupakan laporan baru. Secara umum, puru yang ditemukan terbentuk di daun tumbuhan.
AMFIBI DI CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG, JAWA BARAT, INDONESIA Fajar Kaprawi; Farits Alhadi; Fitriah Basalamah; Ona Noerwana; Tom Kirschey; Tatang Mitra Setia; Amir Hamidy
ZOO INDONESIA Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i1.4337

Abstract

Cagar Alam Leuweung Sancang merupakan cagar alam yang terletak di bagian selatan dari Kabupaten Garut, tepatnya Kecamatan Cibalong, Jawa Barat. Keanekaragaman flora dan fauna pada kawasan ini diketahui tinggi. Chirixalus pantaiselatan merupakan jenis baru yang ditemukan dan menunjukkan bahwa amfibi di kawasan ini belum sepenuhnya terungkap. Pengumpulan data dalam survei ini menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES) yang dipadukan dengan sistem transek sampling yang dilakukan secara purposive berdasarkan tipe habitat. Survei dilakukan pada dua lokasi, yaitu Cijeruk dan Cikalongberan dengan waktu survei selama lima hari. Selain data amfibi, diukur juga komponen habitatnya meliputi cuaca, suhu udara, kelembaban, dan pH air. Berdasarkan hasil survei, ditemukan sebanyak 82 individu yang terdiri dari 4 suku dan 11 jenis dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') keseluruhan sebesar 1,59. Hasil perhitungan tersebut juga tidak berbeda siginifikan pada masing-masing lokasi survei. Suhu pada lokasi survei berkisar antara 29,9ºC hingga 33,2ºC dengan kelembaban cukup tinggi antara 69,1 - 85,8%, serta pH air antara 6-7. Jenis amfibi yang paling umum ditemukan pada lokasi survei, yaitu Chirixalus pantaiselatan sebanyak 38 individu. Sementara itu, jenis amfibi dengan jumlah temuan paling sedikit, yaitu Indosylvirana nicobariensis, Fejervarya iskandari, Ingerophrynus biporcatus, Limnonectes macrodon, Kaloula baleata, dan Polypedates leucomystax dengan masing-masing sebanyak satu individu.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERDAGANGAN BURUNG HANTU DI JAWA Diyah Wara Restiyati
ZOO INDONESIA Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i1.4018

Abstract

Masyarakat Jawa secara budaya memercayai bahwa burung hantu identik dengan kematian, sihir, hal gaib, dan wahana untuk menuju dunia arwah. Namun, perdagangan burung hantu di pasar dan secara daring di daerah Jawa terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil monitoring perdagangan di pasar burung pada tahun 2018-2019, tercatat ada satu ekor burung terjual setiap minggunya, sedangkan perdagangan secara daring tercatat bahwa satu ekor burung terjual setiap harinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat Jawa terhadap perdagangan burung hantu. Kajian etnoornitologi dilakukan untuk melihat hubungan atau keterkaitan antara budaya masyarakat dengan burung, khususnya burung hantu. Kajian dilakukan dalam waktu lima bulan dengan melakukan monitoring perdagangan daring, survei daring, dan wawancara. Hasil kajian ini untuk memberi masukan pada pembuat kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan dan pelestarian satwa liar terutama burung hantu.
NEW DISTRIBUTIONAL RECORD OF ASIAN OPENBILL Anastomus oscitans IN SUMATRA, INDONESIA: AN UPDATE TO AMINUDDIN et al. (2020) Syahras Fathin Aminuddin; Chairunas Adha Putra; Prayitno Geonarto; Taufik Ardiansyah; Tedi Setiadi
ZOO INDONESIA Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i1.4183

Abstract

The occurrence of Asian Openbill Anastomus oscitans has been confirmed in Indonesia, specifically in the Sumatra region. Its first two confirmed observations were in December 2019 at Abang Island (Riau Islands) and in September 2020 at Bagan Percut (North Sumatra). We conducted more observations to record its presence in the eastern side of Sumatra Island for several months in 2020. We observed Asian Openbill at three new locations in Riau province. There are many aspects from the occurrences of these birds in the Sumatra region that need to be investigated, especially to picture its current distribution and status, ecological requirement, and potential role as rice pest control.
COMMUNITY STRUCTURE OF BUTTERFLIES (LEPIDOPTERA: PAPILIONOIDEA) IN SUMUR PANGURIPAN CULTURAL RESERVE AREA, SURABAYA CITY, EAST JAVA Siti Zulaikha; Muhamad Azmi Dwi Susanto
ZOO INDONESIA Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i2.4221

Abstract

The Sumur Panguripan Cultural Reserve is an area located in an urban area with environmental conditions that are still maintained and that also has various types of vegetation. Research data on the structure of butterfly communities in urban areas, especially the city of Surabaya, is still very minimal, so this research is very important to do. This study aims to determine the structure of the butterfly community in the Sumur Panguripan Cultural Reserve area of Surabaya city. The observation method was used in this study to collect data by directly counting the species and number of butterfly individuals or by using the visual encounter survey, and the path of observation was determined using the transect line method. In this study, results showed 108 individuals from 22 species, consisting of 5 families, with a diversity index value of H' = 2.93. The value of the butterfly species diversity index in closed habitat types H = 2.68 is lower than the butterfly diversity index value in open habitat types H = 2.72. The results of the butterfly diversity index in both habitat types indicate that this area has a medium diversity category. The diversity and number of butterfly individuals in both habitat types can be used to describe a fairly stable community structure in the Sumur Panguripan Cultural Reserve area.
APPLICATIONS OF CONVEX POLYGON AND KERNEL DENSITY ANALYSES TO MODEL THE HOME RANGES OF EQUATORIAL SPITTING COBRA Naja sputatrix (BOIE, 1827) IN GREEN AREAS OF UNIVERSITAS INDONESIA CAMPUS, WEST JAVA Andriwibowo Andriwibowo; Adi Basukriadi; Erwin Nurdin
ZOO INDONESIA Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i2.4464

Abstract

Naja sputatrix (Boie, 1827) or known as equatorial spitting cobra is one of venomous snake inhabiting wide green areas include Universitas Indonesia Campus. Currently the existence and conservation of cobra is threatened, then it is important to study cobra possible home ranges. This research is aiming to model the home range of equatorial spitting cobra in green areas of Universitas Indonesia Campus. The model was developed using the applications of Convex Polygon and Kernel Density. The Convex Polygon analysis shows that approximately 114.53 Ha or equals to 35.79% of green areas of Universitas Indonesia Campus was the home ranges of the cobra. While, based on the Kernel Density analysis, it confirms that up to 307.65 Ha or equals to 96.14% of green areas of Universitas Indonesia Campus were potentials as the home ranges of the cobra. Then it can be concluded that at least 30-90% of green areas of Universitas Indonesia Campus should be conserved to support the presences of N. sputatrix.
MORFOLOGI DAN MORFOMETRI SPERMATOZOA MUSANG LUWAK (Paradoxurus hermaphroditus) Ragil Angga Prastiya; Diana Santi; Ade Miftakhul Aziz; Hanun Putri Nuraida
ZOO INDONESIA Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i2.4307

Abstract

Analisis morfologi dan morfometri spermatozoa musang dengan metode pewarnaan khusus Eosin-Nigrosin dapat digunakan untuk mengukur kualitas kesehatan reproduksi musang jantan melalui hasil pengamatan abnormalitas morfologi spermatozoa dan nilai morfometri, serta dapat membantu dalam upaya peningkatan populasi musang. Musang (Paradoxurus hermaphroditus) adalah mamalia liar yang diklasifikasikan ke dalam keluarga Viverridae dan termasuk dalam genus Paradoxurus. Musang dikategorikan  least concern berdasar International Union for Conservation of Nature (IUCN). Salah satu cara untuk melestarikan musang adalah dengan mempelajari struktur dan fungsi dari organ reproduksi musang jantan, salah satunya melalui pengamatan morfologi dan  morfometri spermatozoa. Penelitian ini menggunakan 8 ekor musang jantan yang berusia 1-3 tahun dan dewasa kelamin. Sebanyak 100 sampel spermatozoa diamati kemudian diukur panjang kepala, lebar kepala, perimeter atau lingkar kepala, luas area, ellipticity, elongation, roughness dan regularity nya. Parameter morfologi dijelaskan secara deskriptif dengan melihat morfologi normal dan abnormal dari spermatozoa musang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa spermatozoa musang memiliki panjang kepala 9,67±0,60 μm, lebar kepala 4,73±0,37 μm, luas area 40,51± 4,60 μm2, perimeter atau lingkar spermatozoa 22,64±1,24 μm, ellipticity 2.05±0,017 μm, elongation 0.34±0.04 μm, roughness 0.99±0.07 μm, regularity 0.89±0.07 μm, panjang ekor 62.01±1.76 μm, dan panjang total spermatozoa 71,68±1,89 μm. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengamatan morfometri spermatozoa pada musang dapat digunakan sebagai salah satu parameter uji fertilitas musang jantan.  
Zoo Indonesia Volume 31, Nomor 02, Desember 2022 ZOO INDONESIA
ZOO INDONESIA Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i2.4566

Abstract

DNA BARCODING REVEALS THE IDENTITY OF BIRD REMAINS FROM THE BIRD STRIKE INCIDENT IN INDONESIA Yohanna Yohanna; Mohammad Irham; Indra Gunawan; Anton Saryono; Yusuf Tawakal; Dewi Malia Prawiradilaga; Anik Budhi Dharmayanthi
ZOO INDONESIA Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i2.4471

Abstract

A bird strike refers to a collision between birds and a plane. This incident risks the flight because it could damage the aircraft and threaten airlines' safety. The airports have been implementing safety measures to prevent and minimise the risk of bird strikes, such as monitoring wildlife, habitat management, and using various types and techniques of bird deterrents. While monitoring birds will provide baseline data to estimate the level of risk for each species, it is vital to have data on birds directly involved in bird strikes; hence, the airport can determine more precisely which species have the most significant potential to cause bird strikes. Therefore, identifying the remains of birds from the aeroplane is essential as a safety measurement in bird strike management. In this study, we applied DNA barcoding using the cytochrome oxidase I barcode gene to identify the birds' remains. Samples consisting of three feathers and tissues collected from the plane were analysed. The Cytochrome Oxidase I sequence analysis showed that all six samples were identified as Haliaeetus leucogaster (White-bellied sea eagle) with percentage identity 100% after BLAST to NCBI. We also identified the feathers by comparing them with reference specimens, which showed that they came from wing feathers of H. leucogaster. We concluded that DNA barcoding could be used to identify the species of bird involved in bird strike incidents; therefore airport could incorporated DNA barcoding technique on their wildlife hazard management.
OBSERVASI ELANG JAWA Nisaetus bartelsi (Stresemann, 1924) DI RESORT PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL (RPTN) JABUNG DAN COBAN TRISULA TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU Ari Nadya Ningtyas; Tander Scila Serata Dwi Susilo; Nirmala Ayu Aryanti
ZOO INDONESIA Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i2.4273

Abstract

Pulau Jawa masih banyak ditemukan lokasi yang berpotensi sebagai habitat penting bagi elang jawa. Elang jawa memiliki peran dalam suatu ekosistem yaitu sebagai pemangsa tingkat puncak dan menjadi pengendali ekosistem dalam rantai makanan. Berdasarkan IUCN status elang jawa tercatat sebagai spesies genting. Kawasan RPTN Jabung dan Coban Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) merupakan salah satu spot monitoring utama elang jawa. Pembaharuan data populasi elang jawa di kawasan tersebut sangat diperlukan guna mengetahui jumlah populasi Elang Jawa yang ada di Kawasan TNBTS. Pengambilan data populasi elang jawa dilakukan pada bulan Januari 2020. Pengambilan data populasi elang jawa dilakukan dengan metode cooperative point count dan wawancara dengan masyarakat sekitar dan petugas TNBTS. Jumlah populasi elang jawa yang teridentifikasi sebanyak 10 individu, 6 Individu di RPTN Jabung dan 4 individu di RPTN Coban Trisula. Keberadaan satwa liar di suatu kawasan khususnya TNBTS dipengaruhi oleh bervariasinya kondisi suatu wilayah dan tipe habitat, adanya kegiatan migrasi, dan gangguan antropogenik akibat aktivitas manusia di sekitar habitat satwa liar. Elang jawa membutuhkan kemiringan lahan yang curam untuk terbang dan bersarang serta dimungkinkan juga terkait perlindungan dari manusia maupun predator lainnya. 

Filter by Year

1983 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue