cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
IDENTIFIKASI MORFOMETRI EXUVIA TONGGERET DI KEBUN RAYA BOGOR Anang Setyo Budi; Encilia Encilia; Agmal Qodri
ZOO INDONESIA Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i1.3996

Abstract

Tonggeret (Hemiptera: Cicadidae) sebagian besar daur hidupnya berada di dalam tanah, dengan nimfa yang akan muncul ke permukaan saat memasuki fase dewasa. Dalam proses metamorfosis menjadi dewasa, tonggeret akan melepaskan kulit terluarnya yang disebut dengan eksuvia. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan identifikasi spesies tonggeret yang ada di Kebun Raya Bogor berdasarkan eksuvianya. Tercatat ada tiga spesies tonggeret berdasarkan identifikasi eksuvia yang ditemukan di Kebun Raya Bogor yaitu Chremistica pontianaka, Dundubia vaginata, dan Cryptotympana acuta. Dari hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan morfometri yang signifikan dari ketiga spesies tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai pembeda antar spesies. Kunci identifikasi berdasarkan morfometri eksuvia tonggeret juga dibuat untuk memudahkan identifikasi tonggeret di Kebun Raya Bogor.
KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN POLA PERTUMBUHAN IKAN KETING [Mystus nigriceps (Valenciennes 1840)] DI HILIR SUNGAI CIMANUK PROVINSI JAWA BARAT Titin Herawati; Muthia Nada Safitri; Junianto Junianto; Herman Hamdani; Ayi Yustiati; Atikah Nurhayati
ZOO INDONESIA Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i1.4057

Abstract

Ikan keting [Mystus nigriceps (Valenciennes 1840)] merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis di beberapa daerah. Secara morfologi, termasuk dalam kelompok ikan bersungut (catfish) dari Ordo Siluriformes dan Famili Bagridae. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ciri morfometrik, pola pertumbuhan, dan faktor kondisi ikan keting yang berada di hilir Sungai Cimanuk. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling di tiga stasiun riset, yaitu Desa Ujungjaya Kabupaten Sumedang (St.1), Desa Palasari Kabupaten Majalengka (St.2), dan Desa Jatibarang Kabupaten Indramayu (St.3). Penelitian dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2020. Hasil penelitian menunjukkan ikan keting yang tertangkap pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 memiliki karakteristik morfometrik yang sama, pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif (b<3) dengan nilai b di Stasiun 1 adalah 2,958 dan di Stasiun 2 adalah 1,966 yang artinya pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan bobot. Faktor kondisi (K) di Stasiun 1 relatif lebih tinggi daripada di Stasiun 2, yaitu antara 0,99 – 1,16 dengan rata-rata sebesar 1,08; sedangkan di Stasiun 2 antara 0,98 – 1,06 dengan nilai rata-rata K sebesar 1,03. Ikan dari Stasiun 3 tidak dilakukan analisis lanjutan karena tidak memenuhi persyaratan statistik.
PENGARUH PENANGKARAN TERHADAP PERILAKU BURUNG RHEA (Rhea americana) DI TAMAN SAFARI GURUN PUTIH LESTARI, JANTHO ACEH BESAR Syifa Salsabila; Gholib Gholib; Mulyadi Adam; Muhammad Jalaluddin; Fadli A. Gani; Muhammad Hambal
ZOO INDONESIA Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i1.4089

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku harian burung rhea (Rhea americana) di penangkaran Taman Safari Gurun Putih Lestari Jantho, Aceh Besar. Pengamatan perilaku harian dilakukan terhadap 12 individu burung rhea (6 jantan dewasa dan 6 betina dewasa) menggunakan metode scan animal sampling dengan interval pengamatan setiap 10 menit. Data perilaku harian dikelompokkan berdasarkan enam rentang waktu pengamatan, kemudian dianalisis menggunakan Friedman test dan dilanjutkan dengan Mann-Whitney U test untuk mengetahui perilaku harian signifikan per jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase penggunaan waktu (time budget) melakukan aktivitas harian burung rhea berdasarkan waktu pengamatan menunjukkan perbedaan yang signifikan (p <0,05) pada perilaku minum dan istirahat, sedangkan perilaku lainnya tidak berbeda nyata (p >0,05). Berdasarkan jenis kelamin, perilaku makan dan minum betina secara signifikan (p <0,05) lebih tinggi dibandingkan jantan, sedangkan perilaku termoregulasi, agresi, dan courtship jantan secara signifikan (p <0,05) lebih tinggi dibandingkan betina. Kesimpulan,penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan variasi perilaku harian burung rhea pada penangkaran berdasarkan waktu pengamatan (perilaku makan dan istirahat), serta perbedaan variasi perilaku harian berdasarkan jenis kelamin (makan, minum, termoregulasi, agresi, dan courtship). Dalam penelitian ini juga teramati perilaku memakan feses (coprophagy) yang belum pernah dilaporkan sebelumnya untuk jenis ini.
KEANEKARAGAMAN JENIS REPTIL DAN AMFIBI DI KAWASAN LINDUNG SUNGAI LESAN, KALIMANTAN TIMUR Arief Tajalli; Mirza Dikari Kusrini; Rahmat Abdiansyah; Agus Priyono Kartono
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4134

Abstract

Kalimantan merupakan salah satu pulau yang memiliki kekayaan hayati tinggi di Indonesia, namun kebanyakan laporan mengenai kekayaaan jenis reptil dan amfibi berada di dalam kawasan konservasi seperti Taman Nasional. Penelitian mengenai keanekaragaman reptil dan amfibi dilakukan di habitat akuatik dan terestrial dalam kawasan lindung Sungai Lesan di Berau, Kalimantan Timur pada bulan Juli-Agustus 2010. Pengumpulan data reptil dan amfibi dilakukan dengan metode Visual Ecounter Survey (VES) dimodifikasi dengan Time Search dan Line Transect (400 meter). Jumlah keseluruhan reptil dan amfibi yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu 31 reptil dan 31 jenis amfibi. Dari 31 jenis reptil yang diperoleh, terdiri dari dua ordo yaitu squamata dan testudines serta 9 famili dengan 2 jenis yang termasuk dalam kategori rentan (VU: Vulnerable) daftar merah IUCN dan appendix II CITES yaitu kura-kura punggung datar (Notochelys platynota) dan bulus (Amyda cartilaginea). Pada amfibi, diperoleh lima famili dua jenis masuk kategori hampir terancam (NT: Near Threatened) dalam daftar merah IUCN. Keberadaan herpetofauna ini didukung oleh adanya berbagai mikrohabitat karena berkaitan dengan pola aktivitas dan sebaran ekologis. Perlindungan kawasan ini sangat penting mengingat makin meningkatnya desakan perubahan kawasan hutan untuk peruntukan lain.Kata kunci: Herpetofauna, Kalimantan, kekayaan jenis, hutan lindung.
DIVERSITY OF BUTTERFLIES (LEPIDOPTERA) IN MOUNT BROMO FOREST AREA WITH SPECIAL PURPOSE (FASP), KARANGANYAR, CENTRAL JAWA Rizqi Adanti Putri Pertiwi; Sugiyarto Sugiyarto; Agung Budiharjo; Ike Nurjuita Nayasilana
ZOO INDONESIA Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v29i2.3993

Abstract

 Butterflies are insects that must be preserved because of their role in balancing ecosystems. The purpose of this study is to know the diversity of butterflies in Mount Bromo FSAP. This research was conducted in May-August 2019. The observation site consisted of four stations, i.e. heterogeneous forest, cultivation field, sonokeling forest, and pine forest. Observation in each station was replicated three times. Time research was applied by making a 200m x 100m plot area in each station. Abiotic factors including humidity, temperature, light intensity, and wind speed were also measured in each station. Several ecological indices of butterflies were determined, including Shannon-Wiener Diversity Index (H'), Evenness Index (E), and Dominance Index (C). They were analyzed descriptively and associated with the nectar plants and abiotic factors. The result showed there are 42 species butterflies belong to five families in Mount Bromo FSAP. The butterfly diversity index is 2.78 or medium category with details 2.38, 2.50, 2.52, and 2.23 for the heterogeneous forest, cultivation field, pine forest, and sonokeling forest respectively. The diversity of butterflies is determined by the number of nectar plant, and abiotic factors suitable for butterfly activity.
PAHATAN CANGKANG MOLUSKA PADA RELIEF CANDI BOROBUDUR Nova Mujiono
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4105

Abstract

Panel relief di Candi Borobudur dapat ditemukan pada lantai dasar (Kamadhatu) yang sekarang tertutup undagi dan juga di lantai tengah (Rupadhatu). Dua dari enam macam motif ornamen relief ialah flora fauna. Kajian identifikasi keduanya telah banyak dilakukan, namun informasi fauna invertebrata masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan mengkaji keberadaan relief fauna invertebrata (khususnya moluska), mengidentifikasi, dan menginterpretasikannya dalam aspek visualisasi, biologi, dan religi. Hasilnya ditemukan 11 pahatan relief cangkang gastropoda yang dikenal sebagai shankha. Shankha dipahat dalam posisi vertikal/horizontal, tunggal/berpasangan, serta dengan/tanpa sayap. Shankha atau gastropoda yang diwujudkan adalah jenis Turbinella pyrum maupun T. fusus. Shankha digunakan sebagai jambangan air atau juga terompet. Shankha merupakan perlambang unsur air dan dipahatkan dengan harapan lokasi sekitar candi akan menjadi subur. Penemuan relief shankha di Candi Borobudur menjadi informasi baru karena belum pernah disebutkan dalam studi terdahulu.Kata kunci: Borobudur, relief, shankha, Hindu-Buddha, gastropoda.
TRIPS (THYSANOPTERA) PADA TUMBUHAN CENTRO (Centrosema pubescens Benth.) DAN PUTRI MALU (Mimosa pudica Linn.) Vani Nur Oktaviany Subagyo; Niken Eka Agustina; Wara Asfiya; Fatimah Fatimah; Rina Rachmatiyah
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4218

Abstract

Trips memiliki beragam peranan dalam ekosistem pertanian dan dapat berasosiasi dengan tanaman budidaya maupun tumbuhan liar (gulma). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan peranan jenis trips yang berasosiasi dengan tumbuhan centro (Centrosema pubescens Benth.) dan gulma putri malu (Mimosa pudica Linn.) di Kawasan Pusat Sains Cibinong. Kedua jenis tumbuhan yang diamati disimpulkan dapat menjadi inang alternatif bagi trips yang berperan sebagai hama. Megalurothrips usitatus (Bagnall) berasosiasi dengan kedua tumbuhan inang, sedangkan Ceratothripoides brunneus (Bagnall) hanya berasosiasi dengan tumbuhan centro. Catatan inang baru bagi C. brunneus dan M. usitatus di Indonesia juga dilaporkan dalam penelitian ini, yaitu pada tumbuhan centro suku Fabaceae.
IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI AVIFAUNA BERDASARKAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DI GUNUNG PINANG KABUPATEN SERANG, BANTEN Gema Ikrar Muhammad; Ani Mardiastuti; Tutut Sunarminto
ZOO INDONESIA Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v29i2.3965

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keanekaragaman hayati avifauna dan pengetahuan masyarakat tentang spesies avifauna di Gunung Pinang, Kabupaten Serang, Banten. Penelitian dilakukan di Gunung Pinang, dan Desa Pejaten pada Juli 2017-Maret 2018. Dalam taksonomi ilmiah ada 43 spesies avifauna dari 24 famili. Berdasarkan taksonomi rakyat ada 37 generik dan 12 spesies. Pengetahuan masyarakat tentang avifauna tidak dapat dipisahkan dari aspek ekonomi, ekologi, dan sosial budaya yang berkembang di masyarakat. Ini terlihat dari pemanfaatan spesies avifauna dan kemampuan komunitas untuk mengklasifikasikan dan menamai spesies avifauna berdasarkan morfologi, habitat, perilaku, dan atribut suara. Nama setiap spesies burung oleh masyarakat didasarkan pada pengamatan mereka terhadap alam dan lingkungan mereka dalam kehidupan sehari-hari yang dituangkan dalam bahasa mereka yaitu Jawa Sérang.
KARAKTERISTIK SPERMATOZOA PADA KUSKUS WAIGEO (Spilocuscus papuensis) DAN KUSKUS ABU-ABU (Phalanger orientalis) Yulianto Yulianto; Syaiful Rizal; Edy Sophian; Nanang Supriatna
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4116

Abstract

Kuskus merupakan hewan yang mempunyai status konservasi rentan (vulnerable) dan informasi ilmiahnya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil reproduksi jantan Phalanger orientalis dan Spilocuscus papuensis. Testis dan epididimis dikoleksi dan dilakukan pengukuran, kemudian dimaserasi pada bagian cauda epididimis. Pengamatan makroskopis meliputi pengukuran panjang, lebar, berat testis dan epididimis, sedangkan pengamatan mikroskopis meliputi pengukuran panjang kepala, lebar kepala, panjang ekor, panjang total, konsentrasi, dan abnormalitas spermatozoa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa morfometri spermatozoa P. orientalis meliputi panjang kepala 3,37 ± 0,32 μm; lebar kepala 1,42 ± 0,20 μm; panjang ekor 56,37 ± 5,24 μm; dengan panjang total spermatozoa 59,75 ± 5,20 μm. Sementara itu, morfometri spermatozoa S. papuensis meliputi panjang kepala 3,92 ± 0,91 μm; lebar kepala 3,02 ± 0,65 μm; panjang ekor 54,37 ± 12,12 μm; dan panjang total spermatozoa 58,29 ± 12,14 μm. Tingkat konsentrasi spermatozoa S. papuensis mencapai 51 x 105/mL lebih tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi spermatozoa P. orientalis yang hanya 8,5 x 105/mL. Abnormalitas spermatozoa kedua sampel hampir sama, yaitu pada S. papuensis sebesar 35,82% dan pada S. papuensis 37,36%. Di samping itu, S. papuensis memiliki ukuran testis yang lebih besar jika dibandingkan dengan P. orientalis.Kata kunci: Kuskus, Phalanger orientalis, reproduksi, spermatozoa, Spilocuscus papuensis.
CHECKLIST ON FAUNA DIVERSITY GUNUNG HALIMUN SALAK NATIONAL PARK: Cikaniki-Citalahab Agmal Qodri; Ilham Vemandra Utama; Pamungkas Rizki Ferdian; Endah Dwijayanti; Rusdianto Rusdianto; Yohanna Yohanna; Mulyadi Mulyadi; Nanang Supriatna; Rena Tri Hernawati; Fajrin Shidiq; Encilia Encilia; Gloria Animalesto; Pangda Sopha Sushadi; Anang Setyo Budi; Syaiful Rizal; Ujang Nurhaman; Alamsyah Elang Nusa Herlambang; Ayu Savitri Nurinsiyah
ZOO INDONESIA Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v29i2.4019

Abstract

The Cikaniki resort is one of the most accessible research stations located in the Gunung Halimun Salak National Park (GHSNP). It is in adjacent with Citalahab village. The Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences and other institutions have conducted intensive research on the fauna diversity of GHSNP from this station. Here we formulate a checklist on fauna diversity surrounding the Cikaniki Research Station and Citalahab, GHNSP from various sources, i.e. field work, museum collections (Museum Zoologicum Bogoriense), scientific publications, and technical report. The study was conducted from October 2019 until October 2020. The latest field work was conducted from 8-10 October 2019 under the framework of the Jungle Survival and Biological Collection Management 2019 program. In total, 821 fauna species were recorded in Cikaniki-Citalahab areas which comprises of 48 species of Mollusca, five species of Malacostraca, 523 species of Insects, 22 species of Actinopterygii, 63 species of Amphibia and Reptiles, 115 species of Aves and 45 species of Mammals. The diversity contributes 62.1% of the total 1,323 known fauna species in GHSNP. Five number of species were assigned as endangered and three species critical endangered by IUCN. In addition, 123 species were endemic to Java and 34 species protected by Regulation of the Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia Number P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. The areas of Cikaniki and Citalahab are rich in biodiversity. Although both areas are in close intact with human activity, research and ecotourism, the need of continuously spreading awareness and enforce species and area conservation is inevitable.

Filter by Year

1983 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue