cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) TERHADAP KADAR MDA (MALONDIALDEHYDE) LIVER PADA TIKUS MODEL MENOPAUSE savitri, ananda savitri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i9.P01

Abstract

Menopause characterized by stopped of ovaries producing estrogen, so the female reproductive system will gradually stop. There will be decrease the body's metabolic function and of various organs, on of that is liver. This is because, besides as hormone, estrogen also works as an endogenous antioxidant for body. MDA is an organic compound as marker of oxidative stress in the body. In menopausal conditions, there will be increase oxidative stress, this because of an inparity in production of free radicals with antioxidants endogen. So that menopause tends to increase MDA levels. Increased levels of MDA in liver will cause problems, such as: non-alcoholic liver disease, liver fibrosis, and liver malignancy. The sample subjects divided into three groups, there are control sample (P0), the test group with ethanol extract of the peels from red dragon fruit dose 60 mg / 200grBB / day (P2), and the test group with ethanol extract of the peels from dragon fruit dose 90 mg / 200grBB / day (P3). The average liver MDA value of P0 was 7,61-11,2, the highest average MDA level. The mean liver MDA value of P1 was 2,34-3,79 the lowest mean of serum MDA levels. The mean liver MDA levels in subjects of P2 was 2,64-3,97. Antioxidants have similar structures with phytoestrogens chosen as endogenous estrogen substitutes. One of the anthocyanin-rich is peels of red dragon fruit, it hoped the extract can become an exogenous antioxidant in menopausal therapy. Keywords : MDA, Red Dragon Fruit Peels, Antioxidant
KARAKTERISTIK NYERI PASCA-OPERASI ORTOPEDI DI RSUP SANGLAH PERIODE OKTOBER-DESEMBER 2020 Eugenia, Michelle; Dewi, Dewa Ayu Mas Shintya; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Wiryana, I Made
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i10.P07

Abstract

Nyeri merupakan salah satu aspek penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang. Salah satu nyeri yang sering terjadi adalah nyeri akibat tindakan intervensi bedah atau operasi yang biasa sering disebut nyeri pasca-operasi. Apabila nyeri ini tidak ditangani dengan baik maka akan memengaruhi kualitas hidup pasien dan sangat berhubungan dengan penatalaksanaan nyeri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nyeri pasien pasca-operasi ortopedi melalui pendataan Acute Pain Service (APS) di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah pada periode Oktober-Desember 2020. Penelitian ini menggunakan metode descriptive cross-sectional. Data yang digunakan diambil dari rekapan data sekunder Acute Pain Service (APS) di RSUP Sanglah. Total sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 195 pasien pasca-operasi ortopedi. Berdasarkan penelitian, diperoleh bahwa yang paling banyak menjalani operasi ortopedi adalah pasien laki-laki usia dewasa pada daerah ekstremitas inferior. Tatalaksana nyeri yang paling banyak digunakan adalah kombinasi obat intravena opioid dan oral parasetamol. Dari keseluruhan sampel, diperoleh paling banyak pasien mengalami intensitas nyeri ringan, yaitu 176 pasien (90,3%). Berdasarkan pembagian kelompok jenis kelamin, umur, jenis operasi, dan tatalaksana juga diperoleh bahwa sebagian besar pasien mengalami nyeri ringan. Kata kunci : Nyeri pasca-operasi, Operasi ortopedi, RSUP Sanglah
Gambaran Klinikopatologik Penyakit Prostat di RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2018-2020 Astuti, Ida Ayu Jelantik; Winarti, Ni Wayan; Sriwidyani, Ni Putu; Dewi, I Gusti Ayu Sri Mahendra
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i11.P16

Abstract

Prostate disease is one of the diseases with a high incidence among elderly men. . In establishing the diagnosis of prostate disease, histopathological and laboratory examinations are vital. These histopathological results can be grouped into 3, namely benign lesions, PIN, and carcinoma. This study aims to determine the clinicopathological description of prostate diseases at Sanglah Hospital Denpasar from 2018-2020. The cross-sectional research was conducted using the descriptive and analytic method. Samples were selected based on several inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using SPSS version 26 to obtain a general clinicopathological picture based on age, histopathological diagnosis, the relationship between age and histopathological, diagnosis, PSA level, and the relationship between PSA level with histopathological diagnosis, and grade group carcinoma. The results showed that the prostate disease with the most patients at Sanglah Hospital Denpasar from 2018-2020 occurred between the age of 70-79 years by 39,0% with the dominant histopathological diagnosis being benign prostate 240 (74,3%), followed by PIN 27 (8,4%), and carcinoma 56 (17,3%). There was no relationship found between age, mean age and histopathological diagnosis with p=0,881 and p=0,119. The highest PSA level was > 20ng/mL. It was found that the PSA level was significantly associated with histopathological diagnoses with a value of p=0,000. The most prevalent grade group characteristic was grade group 5 with 36 (64,3%). Keywords: Prostate Disease, Clinicopathologic, PSA Level
Karakteristik Pasien Dengan Gigitan Ular Di RSUP Sanglah Bali Periode 2019-2020 pradnya wibawa, komang budhi; Mulyantari, Ni Kadek; Yasa, I Wayan Putu Sutirta
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i8.P12

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki risiko gigitan ular yang cukup tinggi. Bisa ular yang mengandung berbagai macam enzim polipeptida serta protein yang bersifat hematotoksik dapat menyebabkan berbagai gejala mulai dari bengkak, kelumpuhan hingga kematian. Pemberian Anti Bisa Ular (ABU) memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas dari gigittan ular. Penting untuk mengetahui karakteristik dari kasus gigitan ular agar penanganan sesuai dapat segera diberikan. Tujuan : Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien yang menjadi korban gigitan ular di RSUP Sanglah. Metode Studi ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dimana data hanya diambil pada satu waktu tertentu. Sampel yang dimasukkan dalam studi ini berupa pasien gigitan ular yang terdaftar di RSUP Sanglah selama periode penelitian. Pasien dengan data rekam medis yang tidak lengkap diekslusi dari studi ini. Hasil : Didaapatkan sebanyak total 50 pasien yang memenuhi kriteria inklusi penelitian.Usia beragam dari 5 tahun hingga 77 tahun dengan rerata 38.06 + 17.0 tahun. Sebagian besar pasien merupakan mahasiswa (32%) disusul oleh petani (26%) dan IRT (14%). Jenis kelamin yang mendominasi adalah lelaki dengan persentase 64%. Seluruh pasien mendapatkan tatalaksana berupa anti bisa ular, dan tidak ada yang memiliki komorbiditas. Sebanyak 74% kasus mendapatkan lokasi gigitan pada kaki. Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa karakteristik pasien gigitan ular di RSUP Sanglah merupakan pasien dewasa, laki-laki, berprofesi sebagai mahasiswa, dan digigit pada bagian kaki. Seluruh pasien mendapatkan terapi ABU. Kata Kunci : Venom, Gigitan , Ular
HUBUNGAN STATUS NUTRISI DAN PENYAKIT KOMORBID DENGAN ACTIVITY DAILY LIVING PADA ORANG LANJUT USIA DI KOTA DENPASAR Yoga Yatindra, Ida Bagus Gde Tirta; Pradnyaparamita D, Dyah; Kartika Sari, Komang Ayu
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i9.P15

Abstract

Meningkatnya angka harapan hidup seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut. Orang lanjut usia akan mengalami perubahan komposisi tubuh dan lebih rentan terhadap penyakit sehingga berdampak pada berkurangnya kemampuan dalam melakukan kegiatan secara mandiri. Tingkat kemandirian dari lansia dapat dilihat melalui penghitungan skor Activity Daily Living (ADL). ADL dapat dipengaruhi oleh keadaan tubuh seperti disabilitas karena kehilangan organ tubuh, penyakit kronis, kondisi tubuh, atau kelemahan yang dapat terjadi karena penuaan. Penyakit yang dapat mempengaruhi ADL ini contohnya gagal jantung kongestif, pasca stroke, arthritis, diabetes melitus. Selain penyakit yang telah disebutkan, komposisi tubuh juga memberikan peranan penting dalam perubahan ADL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status nutrisi dan penyakit komorbid dengan ADL pada orang lanjut usia di Kota Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional yang dilakukan di empat banjar di Kota Denpasar. Data Responden adalah hasil instrument ADL Barthel dan tinggi badan serta berat badan terhadap 70 responden lansia. Variabel bebas adalah status nutrisi dan penyakit komorbid sedangkan variabel tergantung adalah status ADL. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian tertinggi berjenis kelamin perempuan (78,5%), IMT lebih (37,5%), ADL ringan (77,15%), dan tidak memiliki penyakit komorbid (37,1%). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status nutrisi dengan ADL (P=0,016) sedangkan tidak ada hubungan signifikan antara penyakit komorbid dengan ADL (P=0,353) pada orang lanjut usia di Kota Denpasar. Sehingga dapat disimpulkan perubahan status nutrisi pada lansia dapat mempengaruhi kemampuan lansia tersebut untuk melakukan kegiatannya sehari – hari. Kata Kunci: status nutrisi, penyakit komorbid, activity daily living, lansia
The EFEK ANTI-BAKTERI EKSTRAK BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 25923 SECARA IN VITRO Sista Satyarsa, Agung Bagus
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i11.P04

Abstract

Staphylococcus aureus ATCC 25923 is a bacteria that has been resistant to some antibiotics and cause a serious problem in infectious disease. Therefore, an antibacterial agent is necessary to solve this problem. Papaya seeds (Carica papaya L.) contains Flavonoid-Saponin which is very potent as an antibacterial that can be used in world health. The aim of this study is to determine the antibacterial effect of ethanol extract of papaya seed against Staphylococcus aureus ATCC 25923. Papaya fruit is collected from one plantation in the Tabanan area, Bali. Papaya seeds were extracted by maceration method. Antibacterial test using Kirby-Bauer diffusion method. Kirby-Bauer method is created using a blank disk or disk disc. Six treatments were carried out, namely papaya seed ethanol extract with a concentration of 25%, 50%, 75% and 100%, and also with the positive control of vancomycin 30µg and the negative control of dimethyl sulfoxide (DMSO). Each treatment is repeated fourth times. Evaluation of antimicrobial activity using the agar disk diffusion method is by measuring inhibition zone diameter (mm) and this data was analyzed by SPSS. The result showed that ethanol extract of papaya seeds has an inhibition zone in agar disk. The mean score of the inhibition zone such as 25% is 6.67±0.577 mm, 50% is 9.00±1.000 mm, 75% is 10.00±1.000 mm, and 100% is 11.67±0.577 mm. Compare mean statistical test has results showed that the significant differences in all treatments (p<0.05). Based on the result, the conclusion is the extract of papaya seeds has antibacterial activity against Staphylococcus aureus ATCC 25923 bacteria.
Prevalendsi dan Karakteristik Sindroma Mata Kering pada Mahasiswa Semester Enam PSSKPD FK Unud Widnyana, Nyoman Satria; Juliari, I Gusti Ayu Made; Triningrat, Anak Agung Mas Putrawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i8.P03

Abstract

Dry Eye Syndrome (DES) is a multifactorial disease of the tears and ocular surface that results in symptoms of discomfort, visual disturbance, and tear film instability with potential damage to the ocular surface. This research purposes are to identify the prevalence and the characteristics of DES in medical student, Program Studi Sarjana Kedokteran dan Profesi Dokter (PSSKPD), Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana (FK Unud). This research is a descriptive cross-sectional. Ocular Surface Disease Index (OSDI) questionnaire is used to identify the prevalence and risk factors questionnaire such as gender, BMI, history of allergy, frequent use of over the counter (OTC) eye drops, frequent use of contact lens, and sleep quality, is used to identify the characteristics. This research conducted from March until September 2020. This research use total sampling method managed to collect 199 sample. The results of the study show the prevalence of DES in Preclinical Student of PSSKPD FK Unud is 106 students (52.7%) with 21% on mild severity, 15% on moderate severity, and 18% on severe severity. The characteristics of DES based on gender is 54% for male and 52% for female; on BMI are 40% for <18 kg/m2, 55% for 18-25 kg/m2, 47% for >25 kg/m2; on history of allergy is 47%; on history of OTC drug is 70%; on history of contact lens utilization is 64%; based abnormal quality of sleep is 64%.
SEL RETIKULOSIT PADA PAPARAN TIMBAL PEKERJA BENGKEL CAT MOBIL DI KAMPUNG LIGU SEMARANG Santosa, Budi
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i9.P06

Abstract

Paparan timbal pada pekerja bengkel pengecatan mobil di kampung Ligu Semarang dapat menimbulkan anemia. Sel retikulosit akan meningkat pada penderita anemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sel retikulosit akibat paparan timbal pada pekerja bengkel pengecatan mobil di kampung Ligu Semarang. Cross sectional study digunakan untuk penelitian ini. Seluruh pekerja pengecatan mobil di kampung Ligu Semarang digunakan sebagai populasi, sampel sebanyak 46 diambil secara acak dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Spesimen darah diambil pada seluruah sampel untuk diperiksa jumlah retikulosit dan kadar timbal. Jumlah retikulosit diperiksa dengan metoda langsung dan tak langsung menggunakan pengecatan BCB. Kadar timbal diperiksan menggunakan AAS. Jumlah retikulosit dan timbal dilihat rerata, di uji r person, dan regresi linier. Hasil Penelitian menunjukkan rerata retikulosit 1,60±0,47, rerata timbal 43,25±4,99. Hasil uji statistik diperoleh r 0,75, p 0,00 yang artinya ada korelasi kuat dan siknifikan kadar timbal dengan paparan jumlah sel reikulosit. Uji regresi linier diperoleh p=0,00 dengan rumus regresi: timbal=7,98 retikulosit+30,64. Bila timbal naik 1 µg/dl maka diikuti kenaikan jumlah retikulosit sebesar 7,98%. Simpulan terdapat korelasi kuat dan siknifikan antara peningkatan kadar timbal dengan penambahan jumlah retikulosit dengan nilai prediksi timbal=7,98 retikulosit+30,64. Kata kunci : retikulosit. Timbal, pekerja bengkel cat mobil.
HUBUNGAN ANTARA HIPERURISEMIA DENGAN HIPERTENSI DI RSUD SANJIWANI GIANYAR TAHUN 2019 Cahyawati, Putu Nita
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i10.P15

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi masih menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular dan kematian di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan pada penelitian sebelumnya ditemukan adanya kontroversi terkait hubungan antara hiperurisemia dan hipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hiperurisemia dengan kejadian hipertensi tersebut. Metode: Penelitian ini dilakukan di RSUD Sanjiwani Gianyar dengan desain penelitian observasional analitik cross-sectional. Data diambil dari rekam medis pasien pada periode Januari–Desember 2019. Teknik pengambilan sampel menggunakan purpossive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 104. Hasil: Karakteristik sampel pada penelitian ini yaitu mayoritas berusia lebih dari 60 tahun (51%) dan didominasi oleh jenis kelamin laki-laki (57.7%). Kejadian hiperurisemi pada pasien hipertensi adalah 68.3%. Kejadian hiperurisemia lebih banyak terjadi pada pasien hipertensi grade 1 (68.8%) dibandingkan dengan hipertensi grade 2 (67.2%). Hasil analisis menggunakan uji korelasi Spearman. menemukan bahwa nilai p>0.05, r -0.010. Kesimpulan: Hasil yang menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara hiperurisemia dan hipertensi di RSUD Sanjiwani Gianyar tahun 2019. Kata kunci : Hipertensi, Hiperurisemia, RSUD Sanjiwani Gianyar
HUBUNGAN KONTROL GLIKEMIK DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016 Kevin Ezekia; I Made Pande Dwipayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penyakit Arteri Perifer (PAP) merupakan salah satu komplikasi makrovaskuler dari DM Tipe II. Dalam studi Framingham Heart, 20% dari penderita PAP simptomatik menderita penyakit DM Tipe II, serta menurut studi dari Prevention Of Progression Of Arterial Disease And Diabetes (POPADAD), sebanyak 20,1% pasien berusia ?40 tahun dengan DM Tipe II terkena gejala terkait PAP. Kejadian PAP dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, yaitu kontrol glikemik, usia, jenis kelamin, merokok, obesitas, dan hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kontrol glikemik dengan kejadian PAP pada penderita DM Tipe II di Poliklinik Diabetes RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik cross sectional dimana pengukuran variabel akan dilakukan pada waktu yang bersamaan. Metode yang digunakan untuk memperoleh data pada penelitian ini adalah dengan pengukuran ABI pasien DM Tipe II secara langsung dan menggunakan hasil pencatatan rekam medis pada Poliklinik Diabetes RSUP Sanglah Denpasar, dimana diagnosis PAP ditegakkan apabila nilai ABI <0,90. Dari 96 pasien DM Tipe II, didapatkan 44 (45,8%) pasien DM Tipe II yang menderita PAP. Berdasarkan hasil analisis bivariat chi-square, beberapa variabel yang memiliki hubungan signifikan adalah HbA1c (p=0,001), gula darah puasa (p=0,006), gula darah 2 jam pasca prandial (p=0,004), dan hipertensi (p=0,047). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol glikemik, yang dinilai berdasarkan HbA1c, gula darah puasa, gula darah 2 jam pasca prandial, serta hipertensi dengan PAP pada pasien DM Tipe II. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan praktisi kesehatan akan komplikasi PAP pada pasien DM Tipe II. Kata Kunci: diabetes melitus, peripheral arterial disease, PAP, kontrol glikemik.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue