cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
GAMBARAN KARAKTERISTIK FRAKTUR KLAVIKULA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR TAHUN 2013-2017 Ni Nyoman Shinta Prasista Sari; A. A. Gde Yuda Asmara; Agus Roy H Hamid
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.996 KB) | DOI: 10.24843/eum.2020.v09.i01.p02

Abstract

Kejadian fraktur klavikula umum terjadi di masyarakat, bahkan angka kejadiannya mencapai 30-60 pada setiap 100.000 populasi. Mengingat prevalensi tinggi, penatalaksanaan yang cepat berkembang, dan tingginya tingkat komplikasi, maka penelitian ini bertujuan untuk meneliti gambaran karakteristik penderita fraktur klavikula di RSUP Sanglah, Bali dengan metode deskriptif-retrospektif dari data sekunder penderita fraktur klavikula yang dirawat di RSUP Sanglah Denpasar periode 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2017. Variabel yang dicari yaitu usia, jenis kelamin, penyebab, jenis fraktur, penatalaksaan dan keluhan penyerta. Dari total 718 pasien fraktur klavikula paling banyak berada pada kelompok umur 25-64 tahun dengan umur rerata 33,66 + 15,664 tahun. Perbandingan kejadian fraktur klavikula antara laki-laki dan perempuan yaitu 2,6 : 1. Penyebab terbanyak dari fraktur klavikula adalah kecelakaan lalu lintas (71%). Jenis fraktur yang paling banyak adalah fraktur tertutup (98,3%). Metode penatalaksaan yang paling sering digunakan adalah metode non-operatif dengan persentase 88,3%. Jenis metode non-operatif yang sering dipilih yaitu dengan sling (67,1%). Keluhan penyerta yang paling sering dialami pasien fraktur klavikula adalah cedera kepala yaitu sebesar 24,1%. Kata Kunci: Fraktur, Klavikula, Karakteristik, RSUP Sanglah, Bali
SUNSCEEN FOR TRAVELLERS Novita Lavi N
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.629 KB)

Abstract

The sun exposure brings negative effects on the skin such like early aging, spots and skin cancer as the most terrible effect. To reduce the adverse effects of the sun, it is not enough just to behavioral therapy, but also had no protection from the outside. Especially for travellers that exposed by the sun excessively. There is sunscreen, product specially formulated to absorb or deflect ultraviolet rays. A sunscreen preparation contains chemical compounds that can absorb, scatter or reflect sunlight on the skin. This writing contains about effect of ultraviolet, skin protection from ultraviolet from behavioral aspect, variaty and contents of sunscreen and sunscreen application for travellers.
PEMPHIGUS VULGARIS IN WOMAN Kadek Ayu Rima Mahadewi; IGK Darmada; Luh Made Mas Rusyati
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.122 KB)

Abstract

Pemfigus vulgaris merupakan penyakit autoimun yang memberikan manifestasi bulayang bersifat kronik. Lokalisasi dari bula tersebut yaitu pada mukokutaneus. Dilaporkankasus seorang wanita berumur 28 tahun dengan keluhan utama gelembung berair padakulit seluruh tubuh dan mengeluarkan cairan serta menyebabkan gatal tanpa rasa nyeri.Efloresensi berupa makula hiperpigmentasi yang multipel berbentuk geografika denganukuran 3x4 cm sampai 10x15 cm dan erosi soliter berbentuk bulat dengan ukurandiameter 2 cm yang ditutupi krusta coklat kehitaman. Hasil biopsi kulit menggambarkanmorfologi pemfigus. Terapi farmakologis yang diberikan yaitu dexamethasone 1,5 mg-1mg- 0 mg, hydrocortisone 2,5%, chloramphenicol 2%, dan loratadine 1x10mg. Hasilpengobatan belum dapat dievalusi dan prognosis dari pasien dubious. pemfigus vulgaris, autoimun, bula
EROTYPE IDENTIFICATION OF VIBRIO CHOLERAE BACTERIAWHICH ISOLATED FROM ICE AMONGTUBE AND CUBE ICE TYPE IN FOOD AND BEVERAGES SELLER AT DENPASAR CITY, BALI IGP Dhinarananta; IGM Wijaya P; P Ananta WS; P Yuniadi A; M Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.354 KB)

Abstract

Cholera is a type of watery diarrhea with specific sign stool containing mucus which resembles rice water. Cholera caused by gram negative bacteria Vibrio cholerae (V.Cholerae). The transmissions of bacteria were through a contaminated food or water.Bali is an international tourism destination with tropical weather where ice is widelyused in food and beverage which bring a risk of cholera through a contaminated ice.Iceshave a risk of bacterial contamination whether from the making and the usage process.Type of ice that widely used were cube and tube ice which each of them have a differentin making and usage process. The purpose of this study is to obtain the contamination ofV.cholera in cube and tube ice. The method of this study is descriptive observationalstudy with quota sampling technique. Sample were obtained from a restaurants andstreet vendor which use a block and tube ice with total 10 sample and 5 for each type ofice.Sample then cultured in Alkaline Peptone Water(APW) and Thiosulfate Citrate Bilesalt Sucrose(TCBS) agar. Bacteriacolony then identified using a gram staining andLatex Serotyping. The result are 3 over 5 (60%) sample of cube ice contaminated byV.cholera O1 Inaba serotype and 3 over 5 (60%) sample of tube ice contaminated byV.cholera O1 Inaba serotype.
GAMBARAN PERILAKU MENGGOSOK GIGI TERHADAP KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDEMEN, KECAMATAN SIDEMEN, KABUPATEN KARANGASEM, PADA JUNI-JULI 2013 Desak Made Dwi Ambari Ningsih; Louise Cinthia Hutomo; Luh Wayan Ayu Rahaswanti
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.809 KB)

Abstract

Kesehatan gigi masih menjadi masalah di Indonesia dilihat dari prevalensi karies gigi yang mencapai 73% dari jumlah penduduk. Di Puskesmas Sidemen, penyakit gigi, gusi dan pulpa merupakan urutan keempat dari 10 besar penyakit yang paling sering terjadi. Adanya fakta bahwa ketersediaan air bersih, sikat gigi dan pasta gigi di daerah Sidemen tidak sulit diperoleh, menunjukkan adanya faktor lain yang mempengaruhi tingginya kejadian karies gigi, misalnya perilaku menggosok gigi dan juga pengetahuan  orang tua dan anak terhadap karies gigi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi, perilaku menggosok gigi, dan gambaran perilaku menggosok gigi terhadap kejadian karies gigi pada siswa usia sekolah dasar di wilayah Puskesmas Sidemen, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif potong-lintang yang dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2013. Penelitian ini menggunakan 68 orang sampel yang ditentukan secara purposive random sampling pada siswa usia 7 hingga 12 tahun di SD Negeri 1 Telagatawang. Pada penelitian ini, didapatkan prevalensi karies gigi pada anak usia sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Sidemen  masih tinggi (58,8%). Sebanyak 58 orang (85,3%) belum menerapkan perilaku menggosok gigi yang memenuhi standar dan hanya 10 orang (14,7%) yang perilaku menggosok gigi sudah memenuhi standar. Karies gigi lebih banyak dialami oleh anak-anak yang tidak memenuhi standar dalam perilaku menggosok gigi, yaitu sebanyak 63,8% (37 orang) dari total 58 orang yang perilaku menggosok gigi tidak memenuhi standar. Sedangkan dari 10 orang yang memenuhi standar perilaku menggosok ternyata didapatkan sebagian besar, yaitu 7 orang (70%) tidak karies. Sehingga secara umum dari penelitian ini dapat ditarik simpulan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan presentase kejadian karies gigi pada anak dengan perilaku menggosok gigi yang salah dibandingkan yang benar.    
POLA LUKA KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS PADA PEJALAN KAKI DAN PENGENDARA SEPEDA MOTOR Dini Indriani; Kunthi Yulianti
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.651 KB)

Abstract

PATTERNS OF INJURY TRAFFIC ACCIDENT VICTIMS IN PEDESTRIAN AND MOTORCYCLISTTraffic accident has become one of the health problems in the world. In Indonesia the highest cause of death in traffic accident was motorcycle (35.7%), the second was others/unspecified road users (35.4%) and the third was pedestrians (21.1%). Analysis patterns of injuries play a role in determining the manner of death. The study aimed to describe the sociodemographic and pattern of injury traffic accident victim in pedestrians and motorcyclists as well as whether was there any differences or similarities of pattern of injury in both groups. The study design used a descriptive and comparative analysis with Chi Square test. The result, we obtained 65 cases of death in motorcyclists (n=42) and pedestrians (n=23). The number of victims was higher in men than women in both group. In pedestrian the victims were 40-64 years old followed by 17-39 years old and > 64 years old.In motorcyclists the victims were 17-39 years old, followed by 40-64 years old and 11-16 years old. The most frequent types of injuries wasabrasion, but the types of injuries that has significant difference was fracture where motorcyclists often suffer fractures (66.7%) than pedestrians (43.5%). The most common site of injury in both group were head, upper extremities and lower extremities. There were no significant difference of both groups. However, the site of injury which had significant difference was chest injury, where motorcyclists often suffer chest trauma (54.8%) than pedestrians (30.4%).
HUBUNGAN ANTARA OBESITAS DENGAN PREVALENSI DISMENOREA PRIMER PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Avissia Zivanna; Desak Made Wihandani
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.41 KB)

Abstract

Dismenorea primer adalah rasa nyeri kram pada perut bagian bawah saat menstruasi tanpa adanya penyakit pada pelvis, yang dapat disebabkan oleh karena aktivitas prostaglandin, PGF2?. Prevalensi dismenorea di seluruh dunia adalah 90% remaja dan lebih dari 50% wanita menstruasi, sedangkan di Indonesia 54,89%. Dismenorea terbukti berhubungan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih besar karena adanya jaringan adiposa berlebih yang menyebabkan hiperplasia pembuluh darah pada organ reproduksi wanita sehingga menimbulkan gangguan pada aliran darah menstruasi dan muncullah dismenorea primer. Hasil-hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan IMT dan dismenorea tidak konsisten. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan angka kejadian dismenorea berdasarkan IMT dan mendapatkan informasi tentang hubungan antara obesitas dan dismenorea. Penelitian ini menggunakan studi analytical case control dan dilakukan di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia, mulai bulan Agustus hingga Desember 2014. Penelitian ini menggunakan teknik consecutive sampling sehingga terpilih 42 mahasiswi dengan IMT normal dan 42 mahasiswi obesitas dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2013 yang bersedia menjadi sampel dan mengisi kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan dismenorea primer lebih banyak terjadi pada mahasiswi obesitas (78,6%) dibandingkan pada IMT normal (71,4%). Penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara IMT dengan dismenorea primer (p>0,05) dan hanya riwayat dismenorea dalam keluarga yang memiliki hubungan secara signifikan dengan dismenorea primer (p<0,05). Kesimpulan yang didapatkan adalah IMT tidak mempengaruhi angka kejadian dismenorea primer (p>0,05).
UJI KLINIS SINDROMA KLINIS LIMFADENITIS TUBERKULOSIS DENGAN FINE NEEDLE ASPIRATION BIOPSY (FNAB) SEBAGAI BAKU EMAS I Gst Ngr Pt Mandela Agatha Sunantara
E-Jurnal Medika Udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.15 KB)

Abstract

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah global. Sindroma klinis dari limfadenitis tuberkulosis (TB) dapat memberikan manfaat untuk menunjang dalam diagnosis limfadenitis TB. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui akurasi diagnosis limfadenitis tuberkulosis berdasarkan sindroma klinis dibandingkan dengan diagnosis fine needle aspiration biopsy (FNAB) sebagai baku emas. Penelitian ini merupakan jenis penelitian uji diagnostik. Sampel diambil menggunakan wawancara menggunakan kuisioner terstruktur dan melihat rekam medis. Penelitian ini dimulai dengan prosedur pengambilan dan pengumpulan data yang dilakukan dari bulan Januari 2015 – Agustus 2015. Selanjutnya data yang terkumpul akan dilakukan analisis univariat untuk memperoleh karakteristik demografi dan analisis kuantitatif untuk memperoleh nilai sensitivitas, spesifisitas, ramal positif, dan ramal negatif. Dari 86 sampel yang diperiksa didapatkan sensitivitas, spesifisitas, nilai ramal positif, dan nilai ramal negatif berdasarkan 2 gejala klinis positif masing-masing sebesar 34,1%, 83,33%, 68,2%, dan 54,7% serta berdasarkan 3 gejala klinis positif sebesar 6,8%, 95,2%, 60,0%, dan 49,4%. Selanjutnya, dengan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan sindroma klinis limfadenitis TB didapatkan sensitivitas yang kurang, namun memiliki spesifisitas yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa uji diagnostik dengan menggunakan sindroma klinis kurang baik sebagai alat pendeteksi penyakit atau skrining penyakit limfadenitis TB. Namun, alat ini dapat dipakai sebagai alat untuk memperkuat dugaan suatu penyakit atau sebagai alat konfirmasi dari suatu penyakit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai acuan dalam penggunaan diagnosis klinis suspek limfadenitis TB, sehingga selanjutnya pasien dapat diarahkan untuk melakukan metode diagnostik TB lanjutan sehingga pasien akan mendapatkan manajemen terapi yang tepat. Kata kunci: limfadenitis tuberkulosis, sindroma klinis, FNAB
PEMBERIAN ASI PADA IBU DENGAN ANAK USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUSUT I, KABUPATEN BANGLI PADA TAHUN 2017 Pande Agung Mahariski
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.432 KB)

Abstract

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan alami terbaik dengan kandungan yang dapat dicerna dengan baik untuk keperluan tumbuh kembang, kekebalan dan pencegahan terhadap penyakit menular dan tidak menular. Untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan pada anak, WHO merekomendasikan air susu ibu diberikan secara eksklusif minimal selama 6 bulan. Pola menyusui eksklusif yang diberikan pada bayi berusia 5 bulan di Indonesia hanya 15,3% dengan pola menyusi parsial mencapai 83,2%. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan menurut provinsi Bali tahun 2014 adalah 72,2% namun belum mencapai target nasional yaitu 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian ASI pada ibu dengan anak umur 0–6 bulan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif cross sectional dengan melibatkan 67 ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Susut I tahun 2017. Data dikumpulkan dengan wawancara. Hasil penelitian didapatkan bahwa proporsi ibu yang memiliki anak usia 0–6 bulan yang memberikan ASI adalah 67,2%. Ibu menyusui eksklusif cenderung ditemukan pada ibu dengan usia >35 tahun (83,2%), pendidikan rendah (69,8%), tidak bekerja (68,8%), multipara (70,8%), pengetahuan ASI eksklusif cukup (68,8%), mendapat dukungan keluarga (69,2%), persalinan normal (68,1%), tempat kelahiran di bidan (83,3%), pemberi informasi ASI eksklusif oleh bidan (77,1%), mengerti informasi ASI eksklusif (83,8%), puas terhadap pelayanan tenaga kesehatan (70,7%) dan melakukan inisiasi menyusui dini (79,5%). Kesimpulan penelitian ini adalah ibu yang memberikan ASI saja sebesar 67,2%. Kata kunci: pola menyusui, ASI eksklusif, balita, ibu menyusui
KARAKTERISTIK PASIEN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS/ACQUIRED IMMUNODEFICIENCY SYNDROME (HIV/AIDS) DENGAN KANDIDIASIS OROFARING DI VCT RSUP SANGLAH BALI PERIODE SEPTEMBER 2015 – SEPTEMBER 2016 Firly Clarissa Suyanto; Luh Made Mas Rusyati; IGAA Elis Indira
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.891 KB)

Abstract

Kandidiasis orofaring merupakan salah satu infeksi oportunistik yang sering terjadi pada penderita HIV/AIDS yang secara klinis ditandai dengan adanya lesi berbentuk pseudomembran atau atropik pada mukosa oral dan faring. Kejadian HIV/AIDS mengalami peningkatan yang signifikan selama dekade terakhir, baik secara global maupun di Indonesia. Hal ini diikuti dengan meningkatnya jumlah kandidiasis orofaring. Namun, data di Indonesia yang membahas mengenai jumlah kasus kandidiasis orofaring pada pasien HIV/AIDS masih sedikit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui prevalensi dan karakteristik pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaring di VCT RSUP Sanglah Bali periode September 2015 – September 2016. Penelitian ini adalah penelitian deskritif potong lintang (cross sectional) yang dilakukan di Voluntary Counseling and Testing (VCT) RSUP Sanglah Denpasar. Data yang diperoleh berupa data sekunder register pasien periode September 2015 – September 2016. Data dianalisis menggunakan program Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 289 pasien HIV/AIDS, sejumlah 103 pasien menderita kandidiasis orofaring (35,6%) dengan persentase tertinggi terdapat pada pasien jenis kelamin laki-laki (68%), kelompok usia 30-39 tahun (35,92%), tingkat pendidikan SMA (40,78%), jenis pekerjaan tidak diketahui (39,81%), domisili Denpasar (52,43%), faktor risiko heteroseksual (52,43%), dan memiliki sindroma wasting sebagai infeksi oportunistik penyerta selain kandidiasis orofaring (36,89%). Berdasarkan hasil penelitian, pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaring terbanyak pada pasien laki-laki, kelompok usia 30-39 tahun, tingkat pendidikan SMA, jenis pekerjaan tidak diketahui, domisili Denpasar, faktor risiko heteroseksual, dan memiliki sindroma wasting. Kata kunci: Karakteristik, HIV/AIDS, Kandidiasis Orofaring

Page 65 of 196 | Total Record : 1956


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue