cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Prediktor Klinis Perdarahan Intrakranial Traumatik pada Anak Msy Rita Dewi MS; Irawan Mangunatmadja; Yeti Ramli
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.723 KB) | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.132-7

Abstract

Latar belakang. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab anak sering di rumah sakit. Berdasarkanprosedur American Academy of Pediatric (AAP), CT-scan direkomendasikan pada anak trauma kepaladengan riwayat kehilangan kesadaran minimal < 1 menit. Namun sulit saat anamnesis tentang kehilangankesadaran. Sampai saat ini CT-scan belum tersedia pada semua fasilitas kesehatan di Indonesia sehinggaperlu parameter klinik yang dapat membantu memprediksi adanya perdarahan intrakranial traumatik.Tujuan penelitian. Mengetahui prediktor klinik adanya perdarahan intrakranial traumatik pada anak.Metode. Studi retrospektif, dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam kurun waktu 18 bulan(Januari 2004-Juli 2005) pada semua pasien berusia < 15 tahun yang datang berobat dan mempunyai hasilCT-scan. Data dianalisis dan diuji kemaknaan dengan uji Chi square dan dihitung rasio odd, analisismultivariat dengan logistik regresi. Nilai p < 0,005 dianggap bermakna.Hasil. Terdapat 503 kasus cedera kepala berusia < 15 tahun yang datang berobat namun hanya 196 kasusyang mempunyai hasil CT-scan. Dari hasil analisis terdapat 37 (18,9%) kasus penderita dengan perdarahanintrakranial, 159 (81,1%) tanpa perdarahan. Faktor yang dapat dijadikan prediktor perdarahan intrakranialadalah fraktur tengkorak dengan nilai p = 0,005, OR = 2,980. Konfiden interval 95% (CI =1,399-6,351)dengan statistik Wald 8,003 serta skala koma Glasgow dengan p = 0,01, OR = 0,350; 95% CI = 0,157 –0,781 dengan statistik Wald 6,581.Kesimpulan. Fraktur tengkorak dan SKG merupakan prediktor perdarahan intrakranial traumatik. Halini berhubungan dengan sifat plastis tengkorak anak yang tidak mudah fraktur oleh benturan ringan. Bilabenturan kuat, tengkorak yang elastis dapat mengabsorbsi energi dan tengkorak yang lunak menyebabkanlebih mudah terjadi kompresi dan distorsi otak
Pengaruh Pemberian ASI Terhadap Kenakalan pada Anak Sekolah Dasar di Yogyakarta Ferry Andian Sumirat; Mei Neni Sitaresmi; Djauhar Ismail
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.362-6

Abstract

Latar belakang. Penelitian menunjukkan keuntungan pemberian ASI pada perkembangan psiko-sosial anak. Selain itu ditemukan korelasi erat antara menyusui dengan pembentukan bonding dan attachment. Kegagalan pembentukan bonding dan attachment akan berpengaruh besar pada perilaku anak pada fase berikutnya. Salah satu bentuk gangguan perilaku anak yang perlu dicermati adalah kenakalan. Kenakalan pada anak berkecenderungan persisten dan berisiko membentuk perilaku kriminal. Untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui adakah hubungan antara kenakalan dengan menyusui.Tujuan. Mengetahui pengaruh lama pemberian ASI sebagai faktor risiko kenakalan.Metode. Penelitian ini merupakan studi kasus kontrol dengan stratifikasi sampel satu banding satu. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar penilaian perilaku nakal yang diisi oleh orang tua murid sekolah dasar di Yogyakarta. Lembar penilaian ini diadaptasi dari item perilaku delinquent dan agresif CBCL (child behavior checklist). Kasus adalah anak yang dideteksi delinquent dan atau agresif.Hasil. Validasi alat ukur menghasilkan validitas konstrak item-item antara 0,5649 - 0,8547, koefisien reliabilitas perilaku agresif 0,8549 dan delinquent 0,6281. Dari 768 responden didapatkan 69 (8,9%) kasus. Anak yang mendapatkan ASI <6 bulan memiliki risiko nakal dengan OR (odds ratio) 4,40 (IK=interval kepercayaan 95%: 1,28-15,90 dan p=0,006) dibandingkan mendapatkan ASI >2 tahun.Kesimpulan. Pemberian ASI <6 bulan merupakan faktor risiko kenakalan pada anak sekolah dasar di Yogyakarta.
Ensefalitis Herpes Simplex pada Anak Hardiono D Pusponegoro
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.184 KB) | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.77-81

Abstract

Ensefalitis herpes simplex (EHS) seringkali berakibat fatal. Virus herpes simpleks (VHS)dapat menyerang semua umur tanpa perbedaan jenis kelamin. Angka kejadian EHSadalah 1:(250.000–500.000) populasi/tahun. Pada fase prodromal dapat ditemukanmalaise dan disertai demam selama 1-7 hari. Pasien mengalami penurunan kesadarandan kejang, dapat berupa kejang umum. Gejala neurologi umumnya ditemukanhemiparesis, sedangkan pemeriksaan darah tepi rutin pada EHS tidak efektif. EEG sangatmembantu bila ditemukan perlambatan fokal di daerah temporal atau fronto temporal.Titer antibodi terhadap VHS dapat diperiksa dari serum dan cairan serebrospinalis.Pengobatan VHS berupa terapi simtomatis dan suportif ditambah antivirus spesifik(acyclovir). Prognosis pasien EHS yang tidak diobati sangat buruk, sedangkan padapengobatan dini dengan acyclovir akan menurunkan mortalitas menjadi 28%.
Hubungan vaksin Measles, Mumps, Rubella (MMR) dengan Kejadian Autisme Elsye Souvriyanti; Sri Rezeki S Harun Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.044 KB) | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.2-9

Abstract

Kejadian autisme yang dihubungkan dengan pemberian vaksin MMR mulai menjadipembicaraan dan mendapat perhatian besar dari kalangan medis dan orang tua sejakpenelitian oleh Dr. Andrew Wakefield dkk. dipublikasi di Inggris tahun 1998. Dampakdari pemberitaan ini orang tua menjadi cemas untuk memberikan vaksinasi MMR padaanaknya, dan orang tua yang mempunyai anak autisme menghubungkan kejadianpenyakit anaknya dengan riwayat pemberian vaksin MMR. Dokter juga menjadi raguraguuntuk memberikan vaksin MMR pada anak. Beberapa penelitian telah dilakukanuntuk mencermati adanya hubungan antara pemberian vaksin MMR dengan kejadianautisme. Penelitian dilakukan baik berupa laporan kasus, kasus serial, dan penelitianepidemiologis dengan atau tanpa kontrol. Di antara penelitian-penelitian tersebutselanjutnya dipublikasikan untuk melihat adanya korelasi tersebut. Hasil penelitianmenunjukkan adanya pro dan kontra mengenai pendapat Dr. Andrew Wakefield dkk.Sebagian besar menunjukkan bahwa tidak ada hubungan kausal antara kejadian autismedengan pemberian vaksin MMR. Bahkan para ahli di WHO menyimpulkan bahwapenelitian Dr. Andrew Wakefield dkk. telah gagal dalam membuktikan hubungan kausalantara vaksin MMR dengan autisme. Meskipun demikian, tetap masih menjadipertanyaan yang perlu jawaban untuk menyingkirkan kemungkinan vaksin MMR dapatmenyebabkan autisme pada sejumlah anak tertentu.
Penggunaan Analgesia Nonfarmakologis Saat Tindakan Invasif Minor pada Neonatus Effa Triani; Munar Lubis
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.107-11

Abstract

Pada perawatan rutin neonatus sering dilakukan tindakan invasif minor yangmenimbulkan rasa nyeri. Nyeri yang tidak ditanggulangi dapat menimbulkan efek jangkapanjang yaitu mempengaruhi respon afektif dan tingkah laku saat tindakan yangmenimbulkan nyeri berikutnya. Glukosa, sukrosa, pacifier, menyusui, skin to skin contactdan stimulasi multisensori merupakan analgesia nonfarmakologis yang dapat mengurangirasa nyeri saat tindakan invasif minor pada neonatus, sehingga dapat dihindarkanpemakaian analgesia farmakologis yang sering menimbulkan efek samping.
Peran Komunikasi, Informasi, dan Edukasi pada Asma Anak M. Arif Matondang; Helmi M Lubis; Ridwan M Daulay; G Panggabean; Wisman Dalimunthe
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.63 KB) | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.314-9

Abstract

Asma merupakan penyakit inflamasi kronik, kadangkala memerlukan tata laksana jangka panjang. Program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) merupakan bagian tata laksana asma. Dengan penerapan program KIE diharap dapat mengurangi kekambuhan asma, meningkatkan pengetahuan, mengurangi biaya pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup. Dibutuhkan kerjasama unsur terkait pada tata laksana asma.
Evaluasi Bayi yang Lahir dari Ibu Preeklampsia dan Eklampsia Immanuel Mustadjab
Sari Pediatri Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.1.2001.2-7

Abstract

Telah dilakukan penelitian retrospektif pada bayi-bayi yang lahir dari ibu penderita pre-eklampsia dan eklampsia (PEE) di Subbagian Perinatologi IKA/RSUP Manado antara bulan Januari sampai Desember 1998. Selama tahun 1998 telah lahir 2717 bayi di kamar bersalin Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUP Manado dan 84 (3,1%) di antaranya lahir dari 79 ibu penderita PEE, 5 orang dari ibu penderita PEE tersebut melahirkan kembar dua. Usia ibu penderita PEE berkisar antara 15-45 tahun, sebagian besar yakni 22 ibu (27,85%) berusia antara 30-34 tahun. Jumlah kehamilan berkisar antara 1-8 kali dan sebagian besar merupakan primigravida yaitu 42 atau 53,16%. Dibandingkan dengan ibu yang tidak menderita PEE, ibu penderita PEE  4,4 kali lebih sering melahirkan bayi KMK, dengan asfiksia berat sebanyak 26,19% dan berat lahir rendah sebanyak 33,33% (p<0,05). Persalinan terbanyak melalui bedah kaisar (53,57%). Bayi-bayi yang lahir dari ibu penderita PEE tersebut sebagian besar mengalami IUFD (40%). Kematian tertinggi bayi yang lahir dari ibu penderita PEE disebabkan oleh pneumonia (20%).
Gigitan Ular Berbisa Nia Niasari; Abdul Latief
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.92-8

Abstract

Seorang anak laki-laki, usia 5 tahun 8 bulan dengan diagnosis gigitan ular dengancompartement syndrome dan koagulasi intravaskular diseminata (KID) berdasarkanidentifikasi ular yang menggigit dan manifestasi klinis. Presentasi klinis terdiri dari tandabekas gigitan pada tungkai bawah kanan, rasa nyeri yang makin bertambah , bengkak,ekimosis, bula, compartement syndrome, trombositopenia, anemia, PT, APTT yangmemanjang, dan d-dimer yang meningkat. Bila dilihat dari bentuk ular yang menggigitdan manifestasi klinis yang timbul, yaitu bisa ular yang bersifat sitotoksik, ular yangmengigit adalah famili Viperidae. Derajat berat kasus yang terjadi adalah derajat 4 (major),karena terdapat tanda bekas gigitan, edem yang luas, serta KID.Antibiotik diberikan juga kortikosteroid, bertujuan untuk mencegah efek sampingpemberian anti bisa ular. Fasciotomy dilakukan karena terdapat compartement syndromesetelah itu pasien dirawat di ICU Anak untuk pemantauan lebih lanjut danmempersiapkan apabila diperlukan heparinisasi. Pasien dipulangkan dalam keadaan baiksetelah 3 minggu perawatan.
Hubungan Antara Resistensi Insulin dan Tekanan Darah pada Anak Obese Adrian Umboh; Jully Kasie; Johannes Edwin
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.466 KB) | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.289-93

Abstract

Latar belakang. Obesitas merupakan masalah yang penting dengan prevalensi yangcenderung meningkat serta berhubungan dengan penyakit metabolik antara lainhipertensi dan resistensi insulin. Mekanisme terjadinya hipertensi pada obesitas sangatkompleks, salah faktor yang berperan adalah adanya resistensi insulin.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara resistensi insulin dan tekanan darah padaanak obese.Metoda. Penelitian bersifat analitik observasional dengan desain cross sectional yangdilakukan pada anak SMP kelas 1 hingga kelas 3 berusia antara 11 hingga 15 tahunyang memiliki IMT > persentil ke-95 di Wenang Kota, Kotamadya Manado pada bulanJuli hingga Agustus 2004. Pemeriksaan basal insulin darah puasa dengan menggunakanmetode radioimmuno assay (RIA). Tekanan darah diukur 2 kali selama 2 hari berturutdan hasil merupakan rerata ke-2 nilai tersebut. Definisi pre-hipertensi bila tekanan darahsistolik =120 mmHg dan tekanan darah diastolik =80 mmHg serta resistensi insulinbila insulin darah puasa = 18 μU/mL.Hasil. Diantara 72 anak diteliti, didapatkan hasil 24 anak (33,33%) menderita resistensiinsulin terdiri dari 13 anak laki-laki (54,17%) dan 11 anak perempuan (45,83%). Anakobese yang disertai resistensi insulin memiliki nilai median tekanan darah sistolik lebihtinggi secara bermakna dibandingkan tanpa resistensi insulin (p=0,006). Dijumpai86,11% anak obese memiliki tekanan darah sistolik =120 mmHg dan 93,06% tekanandarah diastolik =80 mmHg. Terdapat hubungan antara insulin darah dan tekanan darahsistolik (rs=0,297, p=0,018) dan ada hubungan antara insulin darah dan tekanan darahdiastolik (rs=0,298, p=0,011).Kesimpulan. Sebagian besar anak obese menderita pre-hipertensi, namun hanyaditemukan korelasi linier yang sangat lemah antara resistensi insulin dan tekanan darah.
Hubungan Kadar Laktat Plasma dengan Derajat Disfungsi Organ Berdasarkan Skor PELOD pada Anak Sakit Kritis Aedi Budi Dharma; Ina Rosalina; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.280-4

Abstract

Latar belakang. Peningkatan kadar laktat menunjukkan hipoksia jaringan dan bila berlangsung lama akan menyebabkan kematian sel dan disfungsi organ. Skor PELOD (pediatric logistic organ dysfunction) merupakan skor komposisi yang dapat digunakan untuk menilai derajat disfungsi organ dan prediksi kematian.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar laktat plasma dengan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD pada anak sakit kritis.Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Hasan Sadikin Bandung pada April-Mei 2008. Pasien anak sakit kritis usia 1 bulan sampai 14 tahun dipilih secara konsekutif. Untuk menentukan korelasi antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ dilakukan dengan Spearman rank correlation. Kadar laktat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kadar laktat <2 mmol/L dan kadar laktat ≥2 mmol/L. Perbandingan antara kelompok kadar laktat dan distribusi umur, skor PELOD, dan jumlah disfungsi organ dilakukan uji Mann-Whitney. Variabel hipoperfusi dilakukan dengan uji chi-square. Hubungan antar variabel dengan regresi logistik.Hasil. Didapatkan 45 subjek dengan umur rata-rata 48,7 bulan. Jenis kasus kegawatan terbanyak adalah kegawatan kardiovaskular. Kadar laktat rata-rata 3,45 mmol/L dan rata-rata mengalami 3 disfungsi organ. Terdapat hubungan positif yang bermakna antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD (rs=0,54 p=0,001), juga dengan jumlah organ yang mengalami disfungsi. Kadar laktat plasma ≥3,3 mmol/L berhubungan dengan keadaan hipoperfusi.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD

Page 58 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue