cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pemberian Imunisasi Hepatitis B pada Bayi Prematur Ismalita Ismalita
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.163-7

Abstract

Hepatitis B (HB) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatanmasyarakat di dunia. Tidak kurang dari 2000 juta orang telah terinfeksi virus HB inidan lebih dari 350 juta merupakan pengidap kronik, yang dalam kurun waktu 10-20tahun dapat berkembang menjadi sirosis atau hepatoma. Infeksi pada anak kebanyakanbersifat asimtomatik atau sering dengan gejala sub-klinik. Hepatitis B dapat berkembangmenjadi bentuk fulminan, dengan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini membunuh1 juta manusia setiap tahun. Pada saat ini sudah dikembangkan vaksin HB yang amandan efektif untuk mencegah penyakit tersebut. Pada tulisan ini akan dibahas jadwal,dosis dan hal yang perlu diperhatikan pada pemberian imunisasi HB pada bayi prematur,termasuk bayi berat lahir rendah.
Rasio IgM/IgG Fase Akut Untuk Menentukan Infeksi Dengue Sekunder Bagus Ngurah Putu Arhana
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.2-8

Abstract

Latar belakang. Uji hemaglutinasi inhibisi (HI) memerlukan waktu relatif lama untukmenentukan infeksi dengue primer dan sekunder, karena memerlukan pemeriksaan serumpada fase akut dan konvalesen. Beberapa penelitian dengan menggunakan rasio IgM/IgG untuk menentukan infeksi primer dan sekunder menghasilkan rasio yang berbedabeda.Tujuan. Untuk mengetahui gambaran IgM dan IgG pada infeksi Dengue dan akurasirasio IgM/IgG secara Elisa pada fase akut untuk menentukan infeksi sekunder.Metoda. Dilakukan uji diagnostik pada sampel yang diambil secara berkesinambungan(consecutive sampling) pada 62 anak yang dicurigai menderita demam berdarah dengueantara Juli 2003 sampai dengan Juni 2004, dengan menggunakan rasio IgM/IgG secaraElisa pada fase akut. Uji Hambatan Hemaglutinasi sesuai dengan kriteria WHO sebagaibaku emas.Hasil. Dari 62 anak yang ikut dalam penelitian ini, ditemukan 48 anak dengan infeksisekunder dan 14 anak dengan infeksi primer. Kadar rerata IgG pada anak denganDBD baik syok maupun tidak lebih tinggi secara bermakna daripada demam dengue.Prevalensi infeksi sekunder adalah 77,4%. Cut off point paling baik dari rasio IgM/IgG sebagai prediktor infeksi sekunder adalah < 0,9 (sensitivitas 87,5%, spesifisitas92,9%, rasio kemungkinan 12,3). Prevalensi dari syok pada infeksi sekunder adalah16,7%. Cut off point paling baik dari rasio kadar IgG sebagai prediktor SSD padainfeksi sekunder adalah > 165,0 U/mL (sensitivitas 87,5%, spesifisitas 97,5%, rasiokemungkinan 35,0).Kesimpulan. Kadar rerata IgG pada DBD nonsyok dan DBD syok secara bermaknalebih tinggi daripada demam dengue. Rasio IgM/IgG < 0,9 dapat dipakai sebagaiprediktor infeksi sekunder dan kadar IgG > 165,0 U/mL dapat dipakai sebagai prediktorterjadinya syok pada infeksi sekunder.
Efektivitas Penambahan Seng dan Vitamin A pada Pengobatan Anemia Defisiensi Besi Franciska Louise Kaihatu; Max Mantik
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.347 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.24-28

Abstract

Latar Belakang. Prevalensi anemia defisiensi besi (ADB) masih tinggi di Indonesia. Prinsip tata laksanaanemia adalah mencari penyebab, mengatasinya, memberikan terapi besi dan pencegahan. Beberapa zatberinteraksi baik dengan besi. Interaksi antara besi dan seng dan besi dengan vitamin A telah terbuktipengaruhnya terhadap anemia.Tujuan. Untuk mengetahui apakah pemberian besi + seng + vitamin A pada ADB lebih efektif meningkatkankadar Hb dan retikulosit dibandingkan besi saja.Metode. Menggunakan pretest and posttest control group design secara tersamar tunggal pada anak usia 5-11tahun dengan ADB di beberapa panti asuhan di Manado dari Desember 2006-Maret 2007. Dibagi atas duakelompok Kelompok I mendapat besi + vitamin A + seng dan kelompok II mendapat besi dan plasebo.Hasil. Perbandingan kadar Hb setelah terapi antar ke-2 kelompok didapatkan perbedaan bermakna (p<0,01),namun tidak pada kadar retikulosit (p>0,05).Kesimpulan. Pemberian besi + vitamin A + seng efektif meningkatkan kadar Hb dibandingkan besi saja.
Hubungan antara Riwayat Kejang pada Keluarga dengan Tipe Kejang Demam dan Usia Saat Kejang Demam Pertama Atut Vebriasa; Elisabeth S. Herini; Rina Triasih
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.753 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.137-40

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor risiko kejang demam adalah riwayat kejang pada keluarga, dihubungkan dengan tipe kejang demam pertama dan usia saat terjadi kejang demam pertama. Beberapa penelitian menunjukkan riwayat kejang meningkatkan risiko kejang demam kompleks sebagai tipe kejang demam pertama dan berhubungan dengan usia kejang demam pertama yang lebih dini.Tujuan. Mengetahui hubungan riwayat kejang pada keluarga dengan tipe kejang demam pertama dan usia saat kejang demam pertama.Metode. Penelitian dilaksanakan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito,Yogyakarta sejak Januari 2009-Juli 2010. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif dan dikelompokkan berdasarkan ada tidaknya riwayat kejang pada keluarga, tipe kejang demam pertama, dan usia saat terjadi kejang demam pertama.Hasil. Seratus lima puluh anak usia 6 bulan–5 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian. Terdapat 91 (60,6%) anak yang mempunyai riwayat kejang pada keluarga dan kejang demam pertama terjadi pada usia yang lebih dini pada kelompok ini (median usia 13,0 vs 17,0 bulan; IK95%: 0,00-0,03; p=0,01). Anak dengan riwayat kejang lebih banyak mengalami kejang demam sederhana dibandingkan kejang demam kompleks (61,4% vs 59,2%), meskipun perbedaannya tidak bermakna (IK95%: 0,78-1,37; p=0,80)Kesimpulan. Anak dengan riwayat kejang pada keluarga cenderung mengalami kejang demam pertama pada usia yang lebih dini. Riwayat kejang pada keluarga tidak meningkatkan risiko terjadi kejang demam kompleks sebagai tipe kejang demam pertama.
Hubungan antara Anemia dengan Perkembangan Neurologi Anak Usia 12-24 bulan Nurhayati Masloman; Stefanus Gunawan
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.401 KB) | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.178-82

Abstract

Latar belakang. Kejadian anemia selama periode kritis perkembangan otak anak dapatmengakibatkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak secara umum.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara anemia dengan perkembangan neurologipada anak usia 12-24 bulan.Metoda. Penelitian analitik dengan desain potong lintang dilakukan di PosyanduPuskesmas Kecamatan Wawonasa mulai bulan September-Oktober 2004. Subjekpenelitian adalah anak berusia 12-24 bulan yang memenuhi kriteria inklusi. Penentuananemia sesuai kriteria WHO (kadar hemoglobin usia 6 bulan – 5 tahun < 11 g/dl).Perkembangan anak dinilai menggunakan Bayley Infant Neurodevelopmental Screener(BINS). Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam 3 kategori yaitu risiko rendah, risiko sedangdan risiko tinggi. Data dianalisis dengan korelasi Spearman rank.Hasil. Subjek penelitian 49 anak terdiri dari 31 (63,3%) laki-laki dan 18 (36,7%)perempuan; didapat proporsi anak anemia 16 (32,7%). Pada kelompok anemiadidapatkan 7 (43,8%) anak kategori risiko tinggi dan 7 (43,8%) risiko sedang. Terdapathubungan yang lemah antara kadar hemoglobin dengan perkembangan neurologi anakusia 12-24 bulan (rs = 0,429;p = 0,001).Kesimpulan. Anak usia 12-24 bulan dengan anemia mempunyai risiko tinggi terhambatdalam perkembangan neurologi.
Gambaran Kadar Natrium dan Kalium Plasma Berdasarkan Status Nutrisi Sebelum dan Sesudah Rehidrasi pada Kasus Diare yang Dirawat Di Departemen IKA RSCM Hasri Salwan; Agus Firmansyah; Aswitha Boediarso; Badriul Hegar; Muzal Kadim; Fatima Safira Alatas
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.406-11

Abstract

Latar belakang. Pemberian cairan rehidrasi parenteral dapat mengatasi gangguan natrium (Na) dan kalium(K) plasma pada anak dengan diare. Status nutrisi dapat mempengaruhi perbaikan gangguan Na dan Kplasma saat rehidrasi. Respon perbaikan kadar Na dan K plasma pada anak diare dengan status nutrisikurang dan buruk (NKB) berbeda dengan anak status nutrisi baik (NB)Tujuan Menilai pengaruh status nutrisi terhadap kadar Na, K plasma, dan perubahannya pada saat dehidrasidan rehidrasi.Metode. Penelitian potong lintang retrospektif terhadap data sekunder pasien diare yang dirawat diDepartemen IKA RSCM dengan rehidrasi mengunakan cairan KAEN 3B. Kelompok penelitian dibagi menjadikelompok nutrisi baik (NB) dan kelompok nutrisi kurang dan buruk (NKB). Jumlah subjek penelitian 32pada setiap kelompok. Faktor perancu yaitu muntah, demam, terapi oralit, dan gambaran klinis diare.Hasil. Status nutrisi BB/TB kelompok NB 105,1±10,7 dan kelompok NKB 78,2±12,0, dengan nutrisi buruknya28,1%. Pada kelompok NB, kadar Na dehidrasi 135,4±8,17 meq/l, rehidrasi 138,6±6,73 meq/l, meningkat3,2±8,70 meq/l. Pada kelompok NKB, kadar Na dehidrasi 134,3±7,12 meq/l, rehidrasi 132,2±5,23 meq/l,menurun 1,8±6,14 meq/l. Pada kelompok NB, kadar K dehidrasi 3,6±0,86 meq/l, rehidrasi 3,9±0,81 meq/l,meningkat 0,36±0,90 meq/l. Pada kelompok NKB, kadar K dehidrasi 3,7± 0,82 meq/l, rehidrasi 3,9±0,70meq/l, meningkat 0,26±0,70 meq/l. Kesemuanya tidak berbeda bermakna (p>0,05) antara gizi baik atau kurang/buruk. Dari semua variabel perancu muntah (p=0,009) dan komplikasi (p=0,026) yang tersebar tidak merata.Kesimpulan. Tidak didapatkan perbedaan kadar Na dan K saat dehidrasi, rehidrasi, dan perubahannyapada kelompok NB dan NKB 
Perbandingan Jumlah Limfosit Total pada Anak Gizi Buruk dengan Infeksi dan Tanpa Infeksi HIV Nur Aisiyah Widjaja; Dina Angelika; Siti Nurul Hidayati; Roedi Irawan
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.99-104

Abstract

Latar belakang. Anak gizi buruk dengan dan tanpa infeksi HIV mempunyai tampilan klinis yang hampir sama. Jumlah limfosit total (TLC) dapat digunakan sebagai parameter respon imun selular pada anak gizi buruk dan sebagai penilaian penurunan respon imun selular pada HIV yang dapat dipakai sebagai skrining awal.Tujuan. Membandingkan jumlah limfosit total pada anak gizi buruk dengan dan tanpa infeksi HIV.Metode. Penelitian analitik deskriptif retrospektif dari data sekunder status pasien gizi buruk umur 0-60 bulan yang dirawat di bangsal anak RSUD Dr Soetomo, Surabaya sejak tahun 2004-2009. Data yang diambil adalah data umur, jenis kelamin, dan status infeksi HIV. Diagnosis HIV berdasarkan pemeriksaan serologi tiga metode dan PCR. Semua pasien gizi buruk dengan dan tanpa HIV dihitung jumlah limfosit totalnya. Analisis data menggunakan chi-square dan t-test.Hasil. Didapatkan 58 anak dengan gizi buruk dan 14 anak disertai dengan infeksi HIV. Nilai rerata TLC pada anak gizi buruk dengan infeksi HIV 2743 (1008-4479), sedangkan tanpa infeksi HIV 6260 (4755-7766). Kelompok anak gizi buruk dengan infeksi HIV mempunyai TLC lebih rendah dibandingkan tanpa HIV (2743 vs 6260) yang bermakna secara statistik dengan mean difference -3517(-5740 sampai -1295 ),p=0,003. Perbedaan bermakna terutama pada kelompok umur 12-23 bulan (2279 vs 7403) dengan mean difference-5124 (-9074 sampai -1168), p=0.015. Kesimpulan. Anak gizi buruk dengan infeksi HIV mempunyai jumlah limfosit total yang lebih rendah dibandingkan gizi buruk tanpa infeksi HIV terutama pada kelompok umur 12-23 bulan.
Gangguan Metabolik pada Leukemia Limfositik Akut dengan Hiperleukositosis Endang Windiastuti; Caroline Mulawi
Sari Pediatri Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.1.2002.31-5

Abstract

Salah satu kegawatan onkologi adalah hiperleukositosis, yang ditandai denganmeningkatnya jumlah leukosit darah perifer lebih dari 100000 per ul. Hiperleukositosisdapat ditemukan pada 6-15% kasus leukemia limfositik akut, 13-22% kasus leukemianon-limfositik akut dan pada hampir semua kasus mielogenus kronis. Komplikasi akantimbul apabila keadaan ini tidak ditangani segera, seperti perdarahan intrakranial,perdarahan pulmonal, serta gangguan metabolik akibat lisis dari sel leukemia. Gangguanmetabolik yang mengikuti keadaan tumor lysis syndrom ini berupa hiperurisemia,hiperkalemia, hiperfosfatemia dan hipokalsemia sekunder, serta kadang-kadangditemukan asidosis laktat. Di Bagian IKA FKUI/RSCM Jakarta terdapat 57 (22%) pasienLLA dengan hiperleukositosis dan gangguan metabolik yang paling menonjol ialahhiperurikemia (38,5%) dan asidosis laktat (46%). Untuk mengatasi gangguan metabolikpada hiperleukositosis dilakukan hidrasi dan alkalinisasi, serta pemberian allopurinol.Tentunya keadaan ini memerlukan pemantauan yang ketat, sehingga kita tahu kapanhidrasi dihentikan dan kapan sitostatika dapat dimulai. Prognosis pasien leukemialimfositik akut dengan hiperleukositosis pada umumnya buruk.
Peran Eritropoetin pada Anemia Bayi Prematur Lily Rahmawati; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.143-8

Abstract

Anemia sering terjadi pada bayi prematur, ditandai oleh penurunan nilai hematokrit,retikulosit dan kadar eritropoetin endogen rendah. Di Amerika Serikat, 60-80% bayiberat lahir sangat rendah (BBLSR) mengalami anemia dan membutuhkan transfusi seldarah merah berulang sehingga mempunyai risiko terjadi komplikasi penularan penyakit.Salah satu upaya menurunkan kebutuhan transfusi tersebut dengan pemberianeritropoetin eksogen yaitu recombinant human eritropoietin (r-HU EPO) yang berfungsimerangsang proliferasi, diferensiasi dan maturasi sel darah merah dalam sumsum tulang.Walaupun pada bayi prematur dijumpai kadar eritropoetin yang sangat rendah, namunprogenitor eritroid tetap sensitif terhadap eritropoetin eksogen. Pemberian r-HU EPOdapat meningkatkan eritropoesis sehingga bermanfaat mengurangi kebutuhan transfusipada anemia bayi prematur. Pemberian dalam dosis cukup pada usia dini, suplementasipreparat besi dan protein mempunyai efektifitas yang baik. Berbagai penelitian terhadappenggunaan r-HU EPO pada anemia bayi prematur telah dilakukan tetapi belum adakesepakatan mengenai protokol pemberian, termasuk waktu, dosis, cara, dan durasipemberian. [
Penggunaan Steroid dalam Tata Laksana Sepsis Analisis Kasus Berbasis Bukti Ariani Dewi Widodo; Alan Roland Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.44 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.387-94

Abstract

Sepsis merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di rumah sakit dengan mortalitas 50%-60%,meskipun dengan terapi antibiotik dan tata laksana suportif yang adekuat. Steroid merupakan pilihanterapi pada sepsis yang masih kontroversial sejak empatpuluh tahun yang lalu. Muncul pertanyaan klinis,apakah pemberian steroid memberikan respon terapi lebih baik dan meningkatkan kesintasan pada sepsisdibandingkan terapi konvensional? Ilustrasi kasus dan penelusuran kepustakaan menggunakan instrumenpencari Pubmed, Highwire, dan Cochrane Library sesuai kata kunci.Pada penelusuran didapatkan 16 artikel yang relevan 4 telaah sistematik, 9 uji klinis acak terkontrol, 1 kohort,dan 2 review. Levels of evidence ditentukan berdasarkan klasifikasi Oxford atau Methodologic QualityForm dari Cronin. Kortikosteroid dosis rendah jangka panjang sebaiknya diberikan pada semua syok septikdependen vasopresor. Kortikosteroid tidak dianjurkan pada sepsis tanpa syok. Kortikosteroid dosis tinggidapat membahayakan pada sepsis berat dan syok septik. Steroid diberikan berdasarkan keputusan klinis,bukan hasil laboratorium maupun protokol. Kortikosteroid memperbaiki keadaan syok septik persistendan lebih cepat memulihkan gangguan hemodinamik, sehingga menurunkan mortalitas

Page 59 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue