cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Sindrom Wiskott Aldrich: Laporan Kasus Nita Ratna Dewanti; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.027 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.120-4

Abstract

Sindrom Wiskott Aldrich (SWA) merupakan kelainan genetik imunodefisiensi yangditurunkan secara X-linked recessive, termasuk dalam sindrom hiper IgE. Kasus ini sangatjarang, insidens di Amerika Serikat 4:1000000 kelahiran bayi hidup laki-laki. Manifestasiklinis SWA berupa eksima, trombositopenia, dan infeksi berulang. Biasanya meninggalusia dini. Dilaporkan kasus pertama di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta yaitu bayilaki-laki, 4 bulan, BB 3,8 kg (< P5NCHS), PB 55 cm (< P5NCHS) dengan riwayatbuang air besar berdarah, purpura dan petekie, demam berkepanjangan, eksim,trombositopenia dan infeksi berulang berupa sepsis, pneumonia, dan bula di paru kanan.Pada pemeriksaan fisis didapatkan anak sadar, aktif, suhu 38oC, konjungtiva pucat, padatelinga terlihat vesikel, eritem, dan keropeng. Didapatkan mengi pada pemeriksaan parudan hepatosplenomegali. Pemeriksaan penunjang didapatkan anemia, leukositosis, dantrombositopenia, tidak ditemukan sel blast pada gambaran darah tepi dengan ukurantrombosit kecil. LED meningkat. Analisis tinja didapatkan malabsorbsi lemak. BMPmenunjukkan hipoplasia eritropoesis dan trombopoesis. Pemeriksaan radiologis toraksditemukan bula paru kanan. Kadar IgA 43 mg/dl, IgG 1428 mg/dl, IgM 102 mg/dl, C3dan C4 normal, IgE total 5350 mg/dl. Uji Coombs direk positif, indirek negatif,isohemagglutinin tidak dapat diperiksa. Pasien didiagnosis sebagai Sindrom WiskottAldrich, bula paru kanan, gagal tumbuh dan diare kronik. Pasien diberi transfusi packedred cell (PRC) dan suspensi trombosit, antibiotik, diet elemental dan methisoprinol.Pasien meninggal pada usia 5 bulan karena gagal nafas akibat infeksi paru yang berat.
Pengaruh Metabolit Tumor Akibat Sindrom Tumor Lisis pada Terjadinya Gagal Ginjal Akut Serta pada Anak Trie Hariweni
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.234 KB) | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.93-6

Abstract

Sindrom tumor lisis merupakan triad kelainan metabolik (hiperurisemia, hiperfosfatemia,hiperkalemia) yang sering terjadi pada pasien keganasan akibat sel-sel tumor lisis secaracepat baik secara spontan ataupun karena pengobatan anti kanker. Metabolit tumor(asam urat, fosfor, kalium) semuanya diekskresi oleh ginjal sehingga sering menimbulkankomplikasi pada ginjal. Komplikasi tersering adalah gagal ginjal akut, hal ini memerlukanperhatian yang serius karena lebih mudah dicegah daripada diobati.
Uji Tuberkulin pada Bayi BBLR yang Mendapat BCG Segera Setelah Lahir dan yang Menunggu Berat Badan > 2500 Gram Darfioes Basir; Finny Fitry Yani; Triyanto Triyanto
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.293-8

Abstract

Latar belakang. Vaksinasi BCG pada bayi BBLR (berat badan lahir rendah) belum menjadi kesepakatandalam program imunisasi nasional di Indonesia. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan efektifitasBCG pada bayi BBLR/preterm dengan menggunakan uji tuberkulin 27% sampai 83%.Tujuan. Menilai efektifitas BCG pada bayi BBLR dengan uji tuberkulin di RS.Dr. M. Djamil PadangMetode. Penelitian bersifat randomized clinical trial pada bayi BBLR 2000gram-<2500gram yang lahirdan/atau dirawat di Sub Bagian Perinatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak, dari bulan Juni sampaiNovember 2006. Setiap subjek yang masuk penelitian, diberikan informed concent, dikelompokkan dalam2 kelompok dengan simple random sampling. Kelompok 1 diberikan BCG segera setelah lahir, maksimal3 hari. Sedangkan kelompok 2 ditunda pemberian BCG sampai berat badan >2500 gram. Kedua kelompokdi dilakukan uji tuberkulin dan pemeriksaan parut 12 minggu setelah vaksinasi BCG serta mengisi kuisioner.Data penelitian diolah dengan SPSS 13.0 for Windows dan di analisis dengan t-test, X2 test (kai-kuadrat)dan uji mutlak Fischer dengan α= 0,05.Hasil. Selama 6 bulan, telah lahir dan/atau dirawat 107 bayi BBLR berat 2000gram - <2500gram. 60 bayimemenuhi kriteria inklusi dan 44 bayi menyelesaikan penelitian. Rerata diameter indurasi tuberkulinpada kelompok 1 4,91 ± 2884 mm dan kelompok 2 5,41 ± 2,085 mm yang secara statistik tidak berbedabermakna dengan p=0,510. Nilai konversi uji tuberkulin pada kelompok 1 sebesar 63,6% dan kelompok 281,8% tidak menunjukan perbedaan p=0,310.Kesimpulan. Vaksinasi BCG bayi BBLR berat 2000gram-<2500gram segera setelah lahir memberikanefektifitas sama dengan yang ditunda.
Efektifitas Dukungan Sosial Dokter kepada Orangtua dalam Tata Laksana Anak Asma Fx. Wikan Indrarto; Sutaryo Sutaryo; Djauhar Ismail
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.305-10

Abstract

Latar belakang. Salah satu keberhasilan tata laksana anak asma ditentukan oleh kebersamaan (partnership) yang terbentuk antara dokter dengan orangtua. Dalam kebersamaan tersebut, orangtua harus diberi dukungan sosial (social support) oleh dokter mencakup dukungan informasi, emosi, penghargaan (appraisal), dan alat bantu (instrumental) tentang asma.Tujuan. Menilai efektifitas pemberian dukungan sosial dokter kepada orangtua dalam tata laksana anak asma.Metode. Studi intervensi dengan desain kuasi eksperimental, dan interupted time-series design. Tempat penelitian di Klinik Anak RS Bethesda Yogyakarta selama bulan Juli-Desember 2008. Intervensi yang diteliti adalah pemberian dukungan sosial dokter di ruang praktek, kepada 82 orangtua dalam tata laksana anak asma. Pengaruh yang terjadi diukur, berdasarkan penilaian orangtua maupun dokter.Hasil. Pemberian dukungan sosial dokter di ruang praktek, tidak berhubungan dengan perbaikan gejala klinis anak asma, berdasarkan penilaian orangtua (OR=1,01; IK 95% 0,57-2,10) maupun penilaian dokter (OR=1,02; IK 95% 0,79-2,21) dan perbaikan kualitas hidup menurut orangtua (OR=1,03; IK 95% 0,46-3,12). Dukungan penghargaan kepada orangtua oleh dokter merupakan dukungan sosial yang paling memberikan kepuasan kepada orangtua (p<0,05).Kesimpulan. Pemberian dukungan sosial dokter tidak berhubungan dengan keberhasilan tata laksana anak asma. Kepuasan orangtua akan pemberian dukungan sosial dokter, terutama diperoleh dari jenis dukungan penghargaan.
Perawatan Singkat Demam Tifoid pada Anak Suryantini Suryantini; Dasril Daud
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.77-82

Abstract

Demam tifoid (DT) merupakan penyakit endemis yang hingga kini masih merupakanmasalah kesehatan di Indonesia. Angka kejadian cukup tinggi dan tidak sedikit anakyang memerlukan perawatan di rumah sakit. Saat ini perawatan konvensional penderitademam tifoid anak mengacu pada penderita dewasa. Perawatan seperti ini pada anakdirasakan terlalu lama sehingga perlu pengeluaran biaya besar yang dapat merupakanbeban bagi orang tua penderita. Oleh karena itu perlu dicari terobosan baru untukperawatan yang lebih singkat tetapi efektif. Untuk maksud tertentu di atas telah dilakukanuji klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNHAS Ujung Pandang pada bulan Juni1999 sampai dengan April 2000. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi secaraklinis dampak perawatan singkat dibandingkan dengan perawatan konvensional padapenderita DT anak. Tujuh puluh penderita DT anak telah diikut sertakan dalampenelitian ini terdiri dari 34 anak perempuan dan 36 anak laki-laki dengan umur antara4,2–13,2 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dibantu denganpemeriksaan laboratorium. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompokperawatan singkat dan perawatan konvensional yang ditentukan secara acak (randomsampling). Pada perawatan konvensional penderita istirahat mutlak sampai dengan 10hari bebas demam sedangkan pada perawatan singkat 5 hari bebas demam.Karakteristik sampel dalam hal distribusi jenis kelamin, status gizi, lamanya demam dirumah, suhu pada waktu masuk rumah sakit, konstipasi, kadar Hb, hitung lekosit, hasiltiter Widal dan biakan darah adalah sama (pada kedua kelompok). Untuk distribusiumur secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok masingmasingdengan umur rerata 8,43 tahun untuk perawatan singkat dan 10,69 tahun untukperawatan konvensional. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa selama perawatansemua penderita DT sembuh secara klinis tanpa ada penyulit saluran cerna (perdarahandan perforasi usus) atau relaps pada kedua kelompok. Dari hasil penelitian ini dapatdisimpulkan bahwa tidak ada penyulit saluran cerna (perdarahan dan perforasi usus)ataupun relaps pada penderita yang dirawat singkat maupun yang dirawat secarakonvensional.
Infeksi Saluran Kemih Sebagai Penyebab Kolestasis Intrahepatik Hanifah Oswari; Harijadi Harijadi; Julfina Bisanto; Purnamawati SP
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.166-71

Abstract

Diagnosis banding etiologi kolestasis intrahepatik (KIH) pada bayi sangat beragam,salah satu di antaranya adalah infeksi dan yang tersering adalah infeksi saluran kemih(ISK). Infeksi saluran kemih pada KIH akan mempunyai prognosis baik bila dapatdidiagnosis dan diobati. Pengamatan sehari-hari di Departemen Ilmu Kesehatan AnakFKUI/RS Dr. Cipto Mangunkusumo didapatkan kesan bahwa ISK pada KIH cukupsering ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi ISK pada bayidengan KIH dan mengetahui karakteristik pasien tersebut. Subyek adalah bayi dengankolestasis intrahepatik yang berusia kurang dari 1 tahun yang datang berobat di DivisiGastrohepatologi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM pada periodeJanuari sampai dengan Desember 2003. Diagnosis ISK ditegakkan bila ditemukanbakteriuria lebih dari 100.000 cfu/mL. Hasil penelitian ini mendapatkan prevalens ISKpada bayi dengan KIH sebesar 24 dari 34 subyek, dengan dominasi lelaki (3:1). Bakteripenyebab tersering adalah bakteri Gram negatif ditemukan sebanyak 21 dari 24 subyek.Pada lima belas dari 24 orang di antaranya ditemukan E. coli. Tidak ada gejala klinisyang spesifik pada kolestasis dengan ISK. Gejala demam ditemukan pada 3 dari 24subyek . Leukosituria ditemukan pada 1 dari 24 subyek dengan ISK. Oleh sebab itudianjurkan untuk melakukan pemeriksaan biakan urin untuk mendeteksi ISK.
Penilaian Early Language Milestone Scale 2 (Elm Scale 2) Pada Anak dengan Keterlambatan Bicara Martira Maddeppungeng; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.509 KB) | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.93-100

Abstract

Latar belakang. Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangTujuan Penelitian. Mendapatkan gambaran umum pada anak dengan keterlambatan bicara/bahasa denganmenggunakan ELM scale 2.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan pada 49 anak berusia 1-36 bulan denganketerlambatan bicara di Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RSIAHermina Bekasi, pada bulan September sampai Desember 2006.Hasil. Persentase anak dengan gangguan bicara ekspresif 22 (44,9%). Berdasarkan nilai persentil skor,terbanyak 30 (61,2%) mempunyai nilai basal pada auditori ekspresif < 2, dan 19 (38,8%) yang mempunyainilai persentil skor 2-98. Walaupun nilai ini berada pada rentang skor 2-98, anak yang mempunyai persentilskor 2,5,10 tetap didapatkan fail menurut umur pada rentang 75-90%( non critical item) penilaian ELMscale 2. Hal ini masih lebih baik dibanding jika anak mempunyai nilai skor standar <2 dengan keterlambatanjauh di bawah normal untuk umur yang sama.Kesimpulan. Dengan penilaian ELM scale 2 pada anak keterlambatan bicara, dapat jelas terlihatketerlambatan terjadi pada sektor Auditori Ekspresi (AE), Auditori Reseptif (AR) atau Visual. Point skoryang rendah pada Auditori Reseptif merupakan petunjuk perlunya pemeriksaan pendengaran pada anakketerlambatan bicara
Terapi Asiklovir pada Anak dengan Varisela Tanpa Penyulit Theresia Theresia; Sri Rezeki S. Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.440-47

Abstract

Varisela atau chickenpox atau yang dikenal dengan cacar air adalah infeksi primer virus zoster varicella (VZV)yang umumnya menyerang anak dan merupakan penyakit yang sangat menular. Varisela pada anak tanpapenyulit adalah ringan dan dapat sembuh sendiri. Pengobatan varisela bersifat simtomatik, namun dalampraktek sehari-hari, masih banyak dokter yang memberikan asiklovir oral. Asiklovir sebagai terapi variselasudah lama digunakan termasuk pada anak sehat tanpa penyulit walaupun sampai saat ini masih kontroversial.Berdasarkan hasil penelusuran didapatkan 8 artikel yang relevan yang dapat disimpulkan bahwa bila asiklovirdiberikan dalam 24 jam pertama timbulnya ruam, secara signifikan dapat mengurangi hari lamanya demam,memperpendek lama sakit, mengurangi jumlah lesi, tapi tidak mengurangi komplikasi varisela (level ofevidence 1a). Namun asiklovir tidak dianjurkan diberikan secara rutin pada anak varisela tanpa penyulit,karena ada pendapat bahwa kemungkinan terjadinya resistensi terhadap asiklovir dan menganggu imunitasserta masalah biaya yang mahal.
Faktor Atopi dan Asma Bronkial pada Anak Sjawitri P Siregar
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.715 KB) | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.23-8

Abstract

Prevalensi penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, dermatitis atopi, alergi obat danalergi makanan meningkat di banyak negara. Dermatitis atopi dan alergi makanantimbul pada usia < 2 tahun sedangkan asma dan rinitis alergi sekitar 6-12 tahun.Dermatitis atopi timbul paling dini sekitar 6 bulan dan 50%-80% akan berkembangmenjadi asma di kemudian hari, bila mereka mempunyai orang tua atopi (allergicmarch). Pada Makalah ini akan dibahas faktor atopi dan mengenal, petanda biologis,dan faktor risiko alergi saat usia dini sehingga awitan penyakit asma dapat ditunda
Konstipasi Fungsional Bernie Endyarni; Badriul Hegar Syarif
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.914 KB) | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.75-80

Abstract

Konstipasi merupakan keadaan yang sering ditemukan pada anak dan dapat menimbulkanmasalah sosial maupun psikologis. Berdasarkan patofisiologis, konstipasi dapatdiklasifikasikan menjadi konstipasi akibat kelainan struktural dan konstipasi fungsional.Konstipasi yang dikeluhkan oleh sebagian besar pasien umumnya konstipasi fungsionalyang dihubungkan dengan adanya gangguan motilitas kolon atau anorektal. Konstipasikronis yaitu kostipasi yang telah berlangsung lebih dari 4 minggu. Dalam mentukanadanya konstipasi terdapat 3 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu frekuensi buang airbesar (b.a.b), konsistensi tinja, dan temuan pada pemeriksaan fisis. Para ahligastroenterologi di Eropa dan Amerika telah membuat satu kriteria untuk yangmenentukan adanya konstipasi fungsional, yang dikenal dengan kriteria Roma. Meskipunmasih terus dalam pengkajian, beberapa negara telah menggunakan kriteria tersebutsebagai upaya menentukan adanya konstipasi fungsional. Dalam menangani anak dengankonstipasi perlu ditekankan tentang pentingnya hubungan yang erat antara dokter,orangtua, dan pasien. Pada dasarnya, terapi konstipasi terdiri dari dua fase, yaitu fasepengeluaran masa tinja dan fase pemeliharaan. Catatan harian tentang b.a.b, latihanb.a.b (toilet training), makan makanan berserat, terapi laksatif, serta pendekatan secarapsikiatri/psikologi merupakan upaya yang perlu dilaksanakan untuk memperoleh hasilyang optimal.

Page 60 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue