cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6 (5) 2017" : 10 Documents clear
Profil Kadar Aspartate Aminotransferase dan Alanine Aminotransferase Anjing Kintamani Amrulloh, Muhammad Faqih; Suartini, I Gusti Ayu Agung; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.086 KB)

Abstract

Anjing kintamani adalah anjing lokal yang hidup di pegunungan Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Anjing kintamani merupakan salah satu plasma nutfah Indonesia yang sangat berpotensi dikembangkan untuk tujuan komersial, karena mempunyai penampilan menarik, sebagai anjing ras pertama milik Indonesia yang perlu di jaga kelestariannya. Penelitian ini penting untuk dilakukan, karena data fisiologis kadarAspartate Aminotransferase (AST) dan Alanine Aminotransferase (ALT)pada anjing kintamani berguna untuk menentukan diagnosa status kesehatan anjing kintamani secara akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profilkadarAspartate Aminotransferase (AST) dan Alanine Aminotransferase (ALT) anjing kintamani berdasarkan jenis kelamin dan umur (<6 bulan dan >12 bulan). Analisis serum menggunakan mesin semi automatic biochemistry analyzer by photometer 501 Germany. Rata-rata kadar Aspartate Aminotransferase (AST) anjing kintamani jantan <6 bulan dan >12 bulan yaitu 208,2(±58,4) U/L dan 128,0(±58,4) U/L sedangkan anjing rata-rata kadar Aspartate Aminotransferase (AST) kintamani betina umur <6 bulan dan >12 bulan berturut-turut yaitu 82,8(±58,4) U/L dan 93,8(±58,4) U/L.Rata-rata kadar Alanine Aminotransferase(ALT) anjing kintamani jantan umur <6 bulan yaitu 66,2(±28,5) U/L dan umur >12 bulan yaitu 111,0(±28,5) U/L. Sedangkan rata-rata kadar Alanine Aminotransferase(ALT) anjing kintamani betina umur <6 dan >12 bulan berturut-turut 97,4(±28,5) U/L dan 62,4(±28,5) U/L. Rata-rata kadar Aspartate Aminotransferase (AST) anjing kintamani jantan umur <6 bulan, lebih tinggi dibanding dengan anjing kintamani betina dan diatas 12 bulan lebih tinggi dibandingkan anjing kintamani betina. Rata-rata kadarAlanine Aminotransferase (ALT) anjing kintamani jantan umur <6 bulan lebih rendah dibandingan anjing kintamani betina. Sedangkan anjing kintamani jantan umur >12 bulan lebih tinggi dibandingkan anjing kintamani betina.
Evaluasi Sitologis Darah Ikan Bandeng (Chanos chanos) Di Kecamatan Alas-Nusa Tenggara Barat Utama, Iwan Harjono; Siswanto, Siswanto; Karami, Citra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.489 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengamati gambaran sitologis darah ikan bandeng di Kecamatan Alas Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan darah ikan bandeng yang secara klinis sehat diambil dari beberapa peternak serta memiliki ukuran dan berat yang relatif sama sebanyak 50 ikan. Pembuatan sediaan apusan darah dilakukan dengan metode standar yang sudah banyak dipublikasi, pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 1000 kali. Variabel yang diamati yaitu abnormalitas dari eritrosit, leukosit, dan trombosit. Hasil pengamatan dari 50 ikan tersebut memperlihatkan adanya kelainan pada eritrosit yaitu binucleus 2,5 %, notched nucleus 4,7 %, lobed nucleus 11,4 %, dannuclear extrusion 10,6 %. Sedangkan pada leukosit dan trombosit tidak tampak adanya kelainan.
Prevalensi dan Distribusi Plak Gigi pada Gigi Anjing (Canis familiaris) di Daerah Denpasar – Bali Utama, Iwan Harjono; Widyastuti, Sri Kayati; Kartikasari, Citra Dewi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.965 KB)

Abstract

Penyakit periodontal muncul akibat adanya plak pada gigi yang mengandung bakteri dan dapat menumpuk bila tidak dibersihkan. Penumpukan plak gigi terus menerus dapat menyebabkan timbulnya karang gigi, radang pada gusi (ginggivitis), bau mulut, karies pada gigi, hingga menyebabkan tanggalnya gigi. Hal ini mengindikasikan pentingnya data mengenai prevalensi dan distribusi plak gigi pada anjing yang dapat menjadi pedoman untuk menunjang peningkatan kesadaran kesehatan gigi hewan. Penelitian ini menggunakan 50 ekor anjing yang dipelihara di daerah Denpasar, Bali yang dianalisa menjadi 3 kelompok yaitu, kelompok umur, jenis anjing (ras dan non ras), serta jenis kelamin. Gigi anjing diamati pada tempat yang gelap dengan menggunakan Wood’s lamp untuk mengidentifikasi keberadaan plak gigi. Keberadaan plak gigi ditandai dengan adanya fluorecent merah yang mucul setelah gigi disinari dengan Wood’s lamp. Hasil memperlihatkan 42 anjing yang positif memiliki plak gigi, hasil menunjukan anjing yang berumur diatas 3 tahun memiliki prevalensi yang tinggi yakni sebesar 100% terhadap munculnya plak gigi dan pada anjing non ras didapat prevalensi yang juga tinggi sebesar 100% , namun jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap timbulnya plak gigi dengan hasil prevalensi yang hampir sama. Distribusi plak gigi terbesar terdapat pada gigi molar sebesar 84% dan berikutnya pada gigi premolar sebesar 82%. Sehubungan dengan prevalensi dan distribusi tersebut, perlu dilakukan sosialisasi bagi para pemilik hewan agar tidak mengabaikan kesehatan gigi dan mulut anjing.
Studi Histopatologi Limpa dan Otak Ayam Terinfeksi Penyakit Tetelo Nofantri, Lidia; Berata, I Ketut; Adi, Anak Agung Ayu Mirah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.898 KB)

Abstract

Lesi histopatologi organ limpa dan otak ayamterinfeksi virus penyakit Tetelo dipengaruhi oleh strain virus yang menginfeksi, jenis dan umur ayam serta status vaksinasi. Hasil gambaran lesi histopatologi sangat bermanfaat dalam mengarahkan diagnosis penyakit hewan yang bersangkutan.Penelitian dilakukan untuk mempelajari variasi lesi histopatologi limpa dan otak ayam terinfeksi virus penyakit Tetelo. Penelitian menggunakan 20 sampel limpa dan 20 data otak ayam yang terinfeksi penyakit Tetelo yang telah dikonfirmasi di Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.. Sampel limpa dan otak ayam dibuat preparat histopatologi dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Variabel yang diperiksa pada limpa meliputi deplesi status sel-sel limfoid, nekrosis dan kongesti. Sedangkan variabel yang diperiksa pada otak meliputi adanya peradangan, degenerasi dan nekrosis.Hasil pemeriksaan lesi histopatologi pada limpa dan otak ayam terinfeksi virus penyakit Teteloditemukan lesi yang bervariasi.Dari 20 sampel, lesi yang paling banyak ditemukan pada limpa adalah deplesi sel-sel limfoid, selanjutnya proliferasi sel-sel limfoid, nekrosis, kongesti dan peningkatan jumlah sel makrofag. Pada otak ayam terinfeksi penyakit Tetelo ditemukan lesi histopatologi yang dominan berupa vaskulitis dan gliosis. Yang diikuti oleh perivascular cuffing, edema perivascular dan nekrosis sel purkinje.Dapat disimpulkan bahwa terdapat kemungkinan hubungan antara deplesi sel-sel limfoid di limpa dengan vaskulitis dan gliosis di otak.
Respons Imun Primer Itik Bali Terhadap Avian Influenza Pascavaksinasi Polivalen ND-AI Inaktif Pawestri, Mega Mijil; Suardana, Ida Bagus Kade; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.664 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon imun itik bali terhadap penyakit Avian Influenza (AI) yang terbentuk pascavaksinasi menggunakan vaksin polivalen ND-AI inaktif. Pemeriksaan titer antibodi Avian Influenza (AI) dilakukan dengan uji serologi Haemaglutination Inhibition (HI). Titer antibodi AI diperiksa sebanyak lima kali yaitu sekali pravaksinasi untuk mengonfirmasi keberadaan antibodi maternal dan setiap minggu selama empat minggu pascavaksinasi untuk melihat respon imun yang terbentuk. Titer antibodi yang diperoleh dinyatakan dalam Geometric Mean Titer (GMT). Nilai titer antibodi selanjutnya dianalisis menggunakan uji sidik ragam univariat, dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT), serta analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan rataan titer antibodi pravaksinasi adalah HI unit, rataan titer antibodi terhadap AI minggu ke-1, 2, 3, dan 4 pasca vaksinasi adalah HI unit, HI unit, HI unit, dan HI unit. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa rataan titer antibodi terhadap Avian Influenza pascavaksinasi setiap minggunya berpengaruh sangat nyata dibandingkan rataan titer antibodi pravaksinasi.
Perilaku dan Pemahaman Masyarakat Pemelihara Anjing terhadap Risiko Rabies di Kabupaten Karangasem, Bali Nurrohman, Fahmi Galuh; Batan, I Wayan; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.197 KB)

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit pada hewan yang bersifat zoonosis dan ditularkan melalui luka gigitan hewan terutama anjing yang terinfeksi rabies. Penyakit strategis nasional ini telah menular ke Kabupaten Karangasem, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku dan pemahaman masyarakat pemelihara anjing terhadap risiko rabies di Kabupaten Karangasem, Bali. Penelitian ini menggunakan 200 responden masyarakat pemelihara anjing di delapan desa Kabupaten Karangasem yang terbagi menjadi empat desa yang pernah dan empat desa yang belum dilaporkan terjadi kasus rabies. Kepada setiap responden ditanyakan sejumlah pertanyaan yang telah disiapkan berupa kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pemeliharaan anjing masyarakat desa yang belum dilaporkan terjadi kasus rabies 48% dilepas dengan persentase pengetahuan bahaya rabies dan ciri-ciri anjing rabies sebesar 78% , sementara masyarakat di desa yang pernah dilaporkan terjadi kasus rabies 71 % anjingnya dilepas dan 70% masyarakat pemelihara anjing mengetahui tentang bahaya rabies dan ciri-ciri anjing rabies. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan anjing masyarakat desa di Kabupaten Karangasem sebagian besar dilepas dan pengetahuan masyarakat tentang rabies baik, namun kesadaran terhadap risiko rabies masih kurang.
Prevalensi Kasus Rabies dan Jumlah Gigitan Anjing pada Manusia di Kabupaten Badung, Bali Tahun 2015 Prabandari, Anak Agung Istri Vera; Kardena, I Made; Gunata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.701 KB)

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat berakibat fatal. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus dari famili Rhabdovirus. Rabies menyerang semua spesies mamalia termasuk manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kasus rabies, jumlah gigitan anjing pada manusia serta pemetaan sebaran kasus rabies di Kabupaten Badung tahun 2015. Tingkat prevalensi rabies dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007. Pemetaan kasus dilakukan berbasis desa menggunakan program Quantum-GIS. Dalam penelitian ini data jumlah kasus anjing positif rabies diperoleh di Balai Besar Veteriner Denpasar (BBVet), jumlah gigitan anjing pada manusia diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, estimasi populasi anjing dan jumlah anjing yang tervaksinasi anti rabies di Kabupaten Badung diperoleh dari Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung serta Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali. Prevalensi kasus rabies di Kabupaten Badung pada tahun 2015 sebesar 0,02%, dan jumlah gigitan anjing pada manusia sebanyak 5.948 kasus gigitan, dengan rata-rata jumlah proporsi gigitan anjing pada manusia yang memperoleh VAR sebanyak 70% dan yang tidak sebanyak 30%. Pemetaan sebaran kasus rabies terjadi di 11 desa, yaitu di Desa Abianbase, Desa Kapal, Desa Mengwi, Desa Mengwitani, Desa Munggu, Desa Pererenan, Desa Werdi Bhuwana, Desa Benoa, Desa Kuta, Desa Tuban, dan Desa Blahkiuh.
Efektivitas Ekstrak Daun Wudani (Quisqualis Indica Linn) Terhadap Telur Cacing Paramphistomum Spp. Pada Sapi Bali Secara In Vitro Astuti, Komang Tri; Ardana, Ida Bagus Komang; Anthara, Made Suma; Yustika, I Made Aris; Kusamadarma, Ida Bagus Agung Dimas
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.016 KB)

Abstract

Paramphistomiasis pada sapi di Indonesia disebabkan oleh cacing Paramphistomum spp. stadium dewasanya berpredileksi pada rumen dan retikulum sedangkan stadium belum dewasa/ muda pada duodenum. Infeksi berat cacing mengakibatkan enteritis, hemoragi, dan ulser. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ovisidal ekstrak daun wudani (Quisqualis Indica Linn) terhadap telur cacing Paramphistomum spp. Penelitian ini dilakukan secara in vitro menggunakan telur cacing Paramphistomum spp. yang kemudian direndam ekstrak daun wudani pada masing-masing cawan petri dengan dosis P1= 0,12 ml/40 ml, P2= 0,24 ml/40 ml dan P3= 0,48 ml/40 ml selama 24 jam. Ekstrak daun wudani dicuci, tambahkan NaCl Fisiologis dan diinkubasi selama 30 hari. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan dengan menggunakan uji analisis One Way Anova atau sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan pada hari ke 10 konsentrasi ekstrak daun wudani pada masing-masing kelompok perlakuan memiliki efek ovisidal tetapi tidak berbeda nyata (P>0.05) satu dengan yang lainnya pada hari ke-10. Ovisidal ekstrak daun wudani hari ke-30 menunjukkan adanya perbedaan sangat nyata (P<0.01) terhadap daya hambat tetas telur cacing Paramphistomum spp. Efek ovisidal ekstrak daun wudani dosis 0,24 ml/40 ml NaCl Fisiologis dan 0,48 ml/40 ml NaCl Fisiologis memiliki daya hambat tetas telur cacing Paramphistomum spp. paling tinggi.
Efek Ovicidal Albendazole 10% terhadap Telur Cacing Fasciola gigantica secara In Vitro Astuti, Komang Regi Kusuma; Ardana, , Ida Bagus Komang; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.966 KB)

Abstract

Fasciola gigantica merupakan cacing golongan trematoda yang dapat menyebabkan fascioliosis pada ternak ruminansia termasuk sapi bali. Pengobatan menggunakan albendazole memiliki kemampuan vermisidal, larvasidal, dan ovicidal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian albendazole 10% terhadap daya berembrio telur cacing Fasciola gigantica secara in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan, setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan sehingga jumlah sampel 4 x 5 x 1 = 20 pengamatan. Data yang diperoleh diuji dengan Uji Sidik Ragam yang kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Pengamatan daya berembrio telur dilakukan, pada hari ke-10 mendapatkan hasil pengaruh kontrol sangat berbeda nyata (P<0,01) dengan dosis P1, P2 dan P3. Dosis P1 berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan kontrol dan dosis P3, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan dosis P2. Pengaruh dosis P2 berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan kontrol namun tidak berbeda nyata dengan dosis P1 dan P3. Sedangkan hasil hari ke-30 menunjukkan daya ovicidal telur cacing dengan dosis P1, P2 dan P3 menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05).
Efek Trias Anestesi Ekstrak Daun Kecubung (Dhatura metel L.) Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Sholichah, Sholichah; Sudisma, I Gusti Ngurah; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.259 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek Trias anestesi ekstrak daun kecubung (Dhatura metel) pada tikus putih (Rattus norvegicus). Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan dengan menggunakan penelitian eksperimental. Sampel penelitian dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dosis ekstrak daun kecubung yakni 0 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 150 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, 250 mg/kgBB. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang dilanjutkan dengan metode Anova. Hasil penelitian memperlihatkan dari semua perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Dosis 0 mg/kg BB tidak menunjukkan respon 100 mg/kg BB menunjukkan respon analgesia rata-rata durasi 22 menit, sedasi rata-rata 22 menit, 150 mg/kg BB respon analgesia rata-rata 57 menit, sedasi rata-rata 56 menit, 200 mg/kg BB respon analgesia rata-rata 56 menit, sedasi rata-rata 53 menit, dan 250 mg/kg BB respon analgesia rata-rata 72 menit, sedasi rata-rata 73 menit. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kecubung dapat memberikan efek analgesia dan sedasi pada tikus putih (Rattus norvegicus).

Page 1 of 1 | Total Record : 10