cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Kajian Pustaka: Resistensi Escherichia coli Terhadap Berbagai Macam Antibotik pada Hewan dan Manusia Nurjanah, Gina Siti; Cahyadi, Adi Imam; Windria, Sarasati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.970

Abstract

Resistensi antibiotik merupakan salah satu permasalahan yang cukup serius dalam dunia kesehatan. Terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan pengobatan penyakit akibat infeksi tidak lagi efisien karena turun atau hilangnya efektivitas obat. Salah satu bakteri yang banyak resisten terhadap antibiotik adalah Escherichia coli. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi E. coli terhadap berbagai macam antibiotik pada hewan dan manusia serta mengetahui mekanisme resistensi E. coli terhadap antibiotik. Berdasarkan kajian ini diperoleh data bahwa E. coli banyak ditemukan telah resisten terhadap antibiotik golongan ?-lactam. Namun, beberapa antibiotik yang cukup sensitif terhadap E. coli yaitu kloramfenikol dan ciprofloksasin. Mekanisme resistensi pada E. coli terdapat empat mekanisme antara lain yaitu ?-lactamase (ESBL, Carbapenemase, dan AmpC), modifikasi target, efflux pumps, dan purin loss.
Prevalensi Sampah Plastik dalam Rumen Serta Kadar Zat Besi Darah Sapi Bali yang Dipotong di Rumah Potong Hewan Tradisional Febrianty, Ni Made Dhea; Berata, I Ketut; Winaya, Ida Bagus Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.622

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi sampah plastik dalam rumen dan kadar zat besi (Fe) dalam darah sapi bali yang dipotong di tempat pemotongan hewan tradisional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 ekor sapi bali yang berasal dari berbagai daerah di Bali dan sampel pengukuran kadar Fe dalam darah sapi yakni sebanyak 10 ekor sapi bali yang rumennya mengandung dan tidak mengandung sampah plastik yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Tradisional Desa Darmasaba. Penentuan prevalensi sampah plastik dalam rumen didasarkan pada hasil pemeriksaan ada dan tidaknya sampah plastik yang diamati pada rumen sapi sedangkan untuk pemeriksaan kadar Fe dalam darah menggunakan teknik AAS (Atomic Absorption Spectrofotometric) di Laboratorium Analitik Universitas Udayana. Hasil pemeriksaan terhadap 100 sampel ekor sapi ditemukan prevalensi sampah plastik pada rumen yakni sebesar 10%. Data hasil pengukuran kadar Fe pada 10 ekor sapi bali diperoleh rerata yaitu 2,40 mg/L sedangkan rerata kadar Fe darah pada 10 ekor sapi yang rumennya tidak mengandung sampah plastik yaitu 24,72 mg/L. Rendahnya kadar Fe dalam darah dapat mengakibatkan gangguan eritropoesis yang menyebabkan anemia. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prevalensi sampah plastik dalam rumen sapi bali yang dipotong di tempat pemotongan hewan tradisional adalah rendah dan adanya sampah plastik dalam rumen dapat mengakibatkan penurunan kadar Fe dalam darah.
Laporan Kasus: Penanganan Hernia Umbilikalis pada Kucing Persilangan Persia Betina Septhayuda, Irdha Eka; Dada, I Ketut Anom; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.146

Abstract

Hernia umbilikalis adalah cacat anatomis karena otot–otot di sekitar umbilkus tidak menyatu dan tetap terpisah sehingga bagian dari usus atau omentum masuk dari rongga perut ke kantong hernia. Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan dalam mendiagnosis, penanganan dan pengobatan kasus hernia umbilikalis pada kucing. Seekor kucing persilangan persia berumur 14 bulan, dengan bobot 2,9 kg berjenis kelamin betina memiliki keluhan adanya benjolan lunak pada bagian perut bawah. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan radiografi bagian abdominal, kucing Kimi didiagnosis menderita hernia umbilikalis dengan prognosis fausta. Metode pengobatan yang dipilih adalah tindakan pembedahan. Sebelum dilakukan pembedahan, kucing kasus diberikan atropin sulfat sebagai premedikasi dan kombinasi ketamin dan xylazin sebagai anastesi. Pembedahan dilakukan dengan laparatomi yaitu tepat di atas dari cincin hernia. Selanjutnya mereposisi isi hernia dengan cara memasukkan omentum ke dalam rongga abdomen. Kemudian dilakukan penjahitan pada peritoneum dan subkutan menggunakan benang chromic catgut 3.0 serta di lanjutkan dengan jahitan kulit menggunakan benang silk 2.0. Pasca operasi diberikan antibiotik amoxicillin injeksi dengan dosis 10,3 mg/kg BB yang dilanjutkan dengan pemberian amoxicillin oral dengan dosis 51 mg/kg BB/hari serta pemberian asam tolfenamik sebagai analgesik dengan dosis 10 mg/hari dengan pemberian selama lima hari. Pada hari ke-10 pascaoperasi kucing dinyatakan sembuh dengan luka operasi yang sudah kering dan menyatu.
Kadar Glukosa Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diberikan Ragi Tape Samsuri, Dharma Audia; Samsuri, Samsuri; Kendran, Anak Agung Sagung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.531

Abstract

Populasi hewan kesayangan semakin meningkat seiring tingginya minat manusia memelihara hewan kesayangan sebagai sumber dukungan sosial. Metode untuk mengurangi populasi hewan kesayagan telah banyak berkembang diantaranya dengan melakukan operasi dan menggunakan ragi tape. Ragi tape mengandung mikroorganisme yang dapat mengubah karbohidrat menjadi gula sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ragi tape selama 21 hari terhadap kadar glukosa darah tikus putih. Penelitian dilakukan pada 24 ekor tikus putih yang dibagi menjadi empat perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari enam ulangan yaitu P0: kontrol; P1: ragi tape 100 mg/kgBB; P2: ragi tape 200 mg/kgBB; dan P3: ragi tape 300 mg/kgBB. Pengambilan darah dilakukan dengan memotong ujung ekor tikus sehingga mengeluarkan darah. Pemeriksaan kadar glukosa darah dilakukan menggunakan alat Easy Touch GCU (Glucose, Cholesterol, and Urid Acid) dengan strip dan chip test yang berwarna hijau. Darah diteteskan pada strip test kemudian akan terlihat hasil pada alat pengukur. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar glukosa darah kelompok perlakuan P1: 66,17 mg/dL, P2: 71,67 mg/dL dan P3: 70,33 mg/dL lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol P0: 83,33 mg/dL. Berdasarkan uji statistik Analysis of Variance (ANOVA) menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap kelompok perlakuan P1 (100 mg/kgBB), P2 (200 mg/kgBB), dan P3 (300 mg/kgBB). Pemberian ragi tape dengan dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB dapat mempengaruhi kadar glukosa darah tikus putih (Rattus norvegicus).
Laporan Kasus: Penanganan Fraktur Diafisis Tulang Kering dan Tulang Betis pada Anjing Persilangan Pomeranian Mahpuz, Lalu Rian; Wirata, I Wayan; Wandia, I Nengah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.281

Abstract

Fraktur tibia fibula adalah terputusnya kontinuitas pada tulang tibia fibula akibat pukulan langsung, jatuh dalam posisi plexi atau gerakan memuntir yang keras. Hewan kasus merupakan seekor anjing peranakan pomeranian berumur enam bulan, berjenis kelamin jantan diperiksa dan bobot badan 5,2 kg di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami pincang pada kaki belakang kanan, secara tidak sengaja tertabrak motor saat melintas dijalan raya. Nafsu makan dan minum anjing kasus baik. Hasil pemeriksaan radiografi, anjing mengalami fraktur diafisis pada tibia fibula kanan jenis oblique dengan prognosis fausta. Anjing ditangani dengan fiksasi internal menggunakan wire atau kawat. Hewan diberikan premedikasi berupa atropine sulfat secara subkutan, dan kombinasi anestesi ketamin dan xylazin diberikan secara intravena. Selama operasi digunakan isofluran sebagai anestesi inhalasi untuk maintenance anestesi. Pembedahan dilakukan dengan insisi kulit dan subkutan pada bagian medial tibia fibula, kemudian menguakkan otot-otot muskulus fibularis longus dan musculus flexor digitorum medialis sehingga bagian patahan tulang terlihat. Selanjutnya, tulang direposisi pada kedudukan semula secara manual, dilakukan pemasangan wire pada patahan tulang. Pada daerah operasi dilakukan pembersihan menggunakan cairan NaCl kemudian ditetesi dengan antibiotik penisilin dan streptomisin 1%. Otot dan subkutan dijahit dengan pola sederhana menerus menggunakan chromic catgut 2/0, serta kulit dijahit dengan pola terputus menggunakan silk 2/0. Pasca operasi diberikan antibiotik amoxicillin, analgesik meloxicam, dan terapi supportif kalsium laktat. Dua minggu pasca operasi sudah terbentuk kalus pada bagian diaphisis tibia fibula yang patah dan anjing sudah bisa berjalan dengan baik.
Perubahan Histopatologi Ginjal Tikus Putih yang Diberikan Ekstrak Etanol Sarang Semut dan Gentamisin Dosis Toksik Kusuma, Putu Winatha; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.466

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian gentamisin dosis toksik mempengaruhi struktur histopatologis ginjal dan mengetahui efek sarang semut terhadap ginjal tikus putih. Sampel dalam penelitian sebanyak 24 ekor tikus putih jantan yang terdiri dari empat perlakuan yaitu: kontrol negatif (P0) yang diberikan pakan dan minum. Kontrol positif (P1) yang diberikan gentamisin 100 mg/kgBB secara injeksi. Kelompok (P2) diberikan gentamisin 100 mg/kgBB secara injeksi dan ekstrak sarang semut 250 mg/kgBB secara oral. Kelompok (P3) diberikan tujuh hari ekstrak sarang semut dilanjutkan dengan pemberian gentamisin 100 mg/kgBB secara injeksi, dan sarang semut 250 mg/kgBB. Tikus yang telah diberikan perlakuan, kemudian di ambil organ ginjalnya untuk di buat preparat histopatologi. Kemudian dilanjutkan dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE) dan diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x. variabel yang diperiksa meliputi degenerasi, kongesti, pendarahan, dan nekrosis. Hasil pemeriksaan menunjukkan hasil kerusakan ginjal berupa degenerasi, kongesti, pendarahan, dan nekrosis. Uji Kruskall-Wallis menunjukan adanya perbedaan yang nyata rerata degenerasi, kongesti, pendarahan, dan nekrosis dari kelompok yang diuji. Kesimpulan penelitian ini adalah gentamisin dosis 100 mg/kgBB dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Sarang semut dosis 250 mg/kgBB dapat mengurangi kerusakan jaringan
Deteksi Antigen Virus Avian Influenza pada Ayam Kampung di Pasar Hewan Beringkit dan Pasar Umum Galiran, Bali Musdalifa, Annisa; Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.757

Abstract

Avian Infuenza termasuk ke dalam kelompok penyakit menular strategis dan bersifat zoonosis. Penyebabnya adalah virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) subtipe H5N1. Introduksi virus Avian Infuenza subtipe H5N1 dapat melalui jalur pasar karena berpotensi dalam penyebarannya penyakit Avian Influenza pada ayam kampung secara alamiah melalui kontak langsung dengan unggas lain. Penelitian ini dilakukan di Pasar Hewan Beringkit, Kabupaten Badung dan Pasar Umum Galiran, Kabupaten Klungkung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberadaan virus Avian Influenza subtipe H5N1 pada ayam kampung di Pasar Hewan Beringkit dan Pasar Umum Galiran. Sampel yang digunakan sebanyak 120 sampel swab kloaka dan swab trakea ayam kampung, dengan jumlah masing-masing pasar sebanyak 60 sampel. Periode pengambilan sampel dilakukan selama dua bulan dengan periode pengambilan setiap dua minggu sekali sebanyak empat kali. Pengambilan sampel dilakukan pada ayam kampung berumur di atas tiga bulan yang tidak divaksinasi. Isolasi virus pada telur ayam berembrio (TAB) berumur sembilan hari dan identifikasinya dengan uji hemaglutinasi (HA), uji hambatan hemaglutinasi (HI) serta Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Analisis data hasil uji antigen Avian Influenza dengan uji statistika non-parametrik Chi-square (?2). Hasil uji sampel swab kloaka dan trakea ayam kampung asal Pasar Beringkit positif virus Avian Influenza sebesar 5%, sedangkan sampel positif virus Avian Influenza asal Pasar Galiran sebesar 6,7%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa virus Avian Influenza terdeteksi pada ayam kampung di Pasar Hewan Beringkit dan Pasar Umum Galiran, virus AI masih bersikulasi pada daerah asal peternakan dan penyakit AI masih mewabah di Bali.
Kajian Pustaka: Faktor-Faktor Virulensi Staphylococcus aureus yang Berperan Penting dalam Kejadian Mastitis pada Sapi Perah Larasati, Savira Azhari; Windria, Sarasati; Cahyadi, Adi Imam
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.984

Abstract

Staphylococcus aureus memiliki kepentingan di dunia kedokteran hewan sebagai agen penyebab mastitis pada sapi perah. Bakteri S. aureus dapat menghasilkan bermacam faktor virulensi yang dapat membantu patogen ini dalam setiap tahap proses patogenesis mastitis, dimulai dari perlekatan S. aureus ke sel ambing hingga menimbulkan kerusakan yang menyebar ke jaringan ambing. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur yang dilakukan dengan mengumpulkan dan menelaah berbagai artikel ilmiah yang terkait dengan topik penelitian ini melalui mesin pencari Google Scholar (https://scholar.google.co.id). Penelitian ini bertujuan untuk mengulas karakteristik beberapa faktor virulensi S. aureus yang sering dilaporkan berperan dalam kejadian mastitis pada sapi perah. Faktor virulensi tersebut antara lain yaitu biofilm, clumping factor, fibronectin binding protein, hemolisin, koagulase, Panton-Valentine leukocidin, kapsul, dan superantigen seperti toksin toxic shock syndrome (TSST), serta enterotoksin (SE). Kombinasi produksi faktor virulensi oleh S. aureus dianggap dapat meningkatkan derajat keparahan mastitis.
Histopatologi Paru-paru Tikus Putih Betina Akibat Pemberian Imbuhan Ragi Tape pada Pakan Tikus Waskitha, Melati Pusparini; Setiasih, Ni Luh Eka; Samsuri, Samsuri; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.662

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gambaran histopatologi paru-paru tikus putih betina akibat pemberian ragi tape dengan dosis bertingkat. Sebanyak 24 tikus putih betina dikelompokkan menjadi empat perlakuan dan enam ulangan yaitu P0: kontrol; P1: pemberian pakan dicampur ragi tape dengan dosis 100 mg/kgBB; P2: pemberian pakan dicampur ragi tape dengan dosis 200 mg/kgBB; dan P3: pemberian pakan dicampur ragi tape dengan dosis 300 mg/kgBB. Perlakuan diberikan selama 21 hari, kemudian tikus putih betina pada semua kelompok dinekropsi di hari ke-22. Jaringan paru-paru diambil untuk pembuatan preparat dengan pewarnaan Harris-Hematoxyline Eosin (HE). Parameter yang diamati meliputi adanya kongesti, inflamasi, dan nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan histopatologi paru-paru tikus putih betina akibat pemberian ragi tape. Ragi tape menyebabkan perubahan histopatologi paru-paru tikus betina secara signifikan pada inflamasi dan nekrosis, sedangkan kongesti tidak berbeda nyata. Hal ini dapat disimpulkan pemberian ragi tape sebagai kontrasepsi alami dapat mengakibatkan perubahan histopatologi paru-paru tikus betina.
Perubahan Histopatologi Ginjal Tikus Putih Setelah 21 Hari Mengkonsumsi Ragi Tape Darmayanti, Mahda Dwi; Samsuri, Samsuri; Setiasih, Ni Luh Eka; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.889

Abstract

Ragi tape digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai alternatif kontrasepsi alami untuk hewan kesayangannya. Data mengenai keamanan pemberian ragi tape sebagai alternatif kontrasepsi alami untuk hewan masih sangat sedikit dipublikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ragi tape terhadap gambaran perubahan histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus). Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih dibagi secara acak menjadi empat perlakuan; P1, P2, P3 dan kontrol P0. Perlakuan 1, 2, dan 3 diberikan pakan yang dicampur ragi tape dengan dosis bertingkat 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB, sedangkan kontrol (P0) diberikan pakan dan minum. Perlakuan diberikan dua kali sehari selama 21 hari. Tikus putih dikorbankan nyawanya dengan cara dieutanasia dan dinekropsi pada hari ke-22 untuk pengambilan sampel organ ginjal. Jaringan ginjal diproses untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Preparat diamati di bawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 kali pada lima lapang pandang dan dilakukan skoring jika terdapat degenerasi melemak, kongesti, nekrosis, dan infiltrasi sel radang. Data perubahan histopatologi dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan degenerasi melemak, kongesti, nekrosis, dan infiltrasi sel radang pada semua ginjal tikus-tikus perlakuan yang diberikan ragi tape dan dan perubahan tersebut berbeda nyata dibandingkan kontrol. Perlakuan dengan perubahan histopatologi tertinggi adalah P3 dengan nilai rerata infiltrasi sel radang, degenerasi melemak, dan kongesti yang sama yaitu 2,00 ± 0,000 dan rerata nekrosis 2,50 ± 0,548. Simpulan yang didapatkan adalah pemberian tambahan ragi tape pada pakan tikus dapat merusak ginjal dan menyebabkan perubahan gambaran histopatologi ginjal tikus putih.