cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Prevalensi dan Identifikasi Protozoa Gastrointestinal pada Sapi Bali di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali Saputri, Megawati; Apsari, Ida Ayu Pasti; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.392 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.384

Abstract

Pemeliharaan sapi bali secara Sistem PertanianTerintegrasi dapat mengontrol kesehatan ternak serta diharapkan mampu mencegah/menekan serangan penyakit pada ternak sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan mengidentifikasi jenis protozoa gastrointestinal di Simantri Kecamatan Mengwi. Sampel yang digunakan adalah feses sapi bali yang masih segar berjumlah 105 sampel, yang berasal dari 21 Simantri di Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Pemeriksaan feses dilakukan dengan menggunakan metode pengapungan gula sheater serta identifikasi protozoa berdasarkan morfologi dan morfometri. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi protozoa gastrointestinal pada sapi bali Simantri Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung yaitu sebesar 39,04%. Hasil identifikasi jenis protozoa yang menginfeksi sapi bali antara lain Coccidia sebesar 35,23%, Balantidium sp 7,61%, dan Entamoeba sp sebesar 2,85%. Tidak terdapat hubungan yang nyata (P>0,05) antara frekuensi kebersihan kandang dengan infeksi protozoa gastrointestinal.
Kemanjuran Fluralaner untuk Pengobatan Demodekosis pada Anjing Persilangan Erawan, I Gusti Made Krisna; Puspaeni, Ni Ketut Juni; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.473 KB)

Abstract

Demodekosis adalah penyakit dermatologis yang diakibatkan oleh infeksi Demodex sp. Tungau Demodex canis dalam jumlah kecil pada kulit tidak menimbulkan gejala klinis pada anjing yang sehat dan jumlahnya tetap rendah karena sistem imun anjing. Namun, bila kondisi imun anjing menurun maka Demodex sp. akan berkembang menjadi lebih banyak dan menimbulkan penyakit kulit. Telah dilakukan pemeriksaan anjing betina ras persilangan bernama Putih berumur dua tahun, bobot badan 7 kg dengan keluhan rambut rontok, kegatalan, dan kemerahan pada kulit. Pemeriksaan klinis ditemukan adanya kebotakan, kemerahan, hiperkeratosis, dan kegatalan pada kulit di leher, dada, abdomen, kaki depan dan kaki belakang, dan pada daerah punggung ditemukan scale. Pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopik ditemukan adanya tungau D. canis dan hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik normokromik. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, anjing kasus didiagnosis menderita demodekosis. Pengobatan kausatif dilakukan dengan pemberian fluralaner tablet kunyah 250 mg secara oral sekali pemberian. Anjing kasus juga diterapi dengan chlorfeniramin maleat (0,5 mg/kg BB; q12h; selama lima hari), fish oil, dan vitamin B-kompleks sebagai pengobatan suportif sekali sehari selama 10 hari. Anjing juga dimandikan dengan sampo antiparasit dua kali seminggu. Setelah ditangani selama 10 hari, frekuensi menggaruk dan kemerahan pada kulit berkurang, dan rambut mulai tumbuh. Pada minggu kelima sudah tidak ditemukan lesi pada kulit dan rambut tumbuh dengan baik sehingga rambut tampak sehat dan bertambah lebat. Dapat disimpulkan bahwa pengobatan demodekosis pada anjing dengan menggunakan fluralaner memberikan hasil yang baik.
Penambahan Bovine Serum Albumin Mempertahankan Motilitas Progresif Spermatozoa Kalkun pada Penyimpanan Suhu 4°C Wahana, Artha Guntur; Budiasa, Made Kota; Bebas, Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (4) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.251 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui akibat penambahan bovine serum albumin (BSA) terhadap motilitas progresif spermatozoa kalkun yang disimpan pada suhu 4°C. Penelitian ini menggunakan satu ekor kalkun jantan berumur 1,5 tahun. Penampungan semen dilakukan dengan metode pemijatan kemudian diencerkan dengan pengenceran kuning telur fosfat yang ditambahkan BSA dengan berbagai konsentrasi, masing-masing BSA 1 %, 2 % dan 3 %, serta kontrol (tanpa penambahan BSA). Pemeriksaan motilitas dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran 400X dengan menaksir pergerakan progresif dalam satu lapang pandang. Pengamatan dimulai saat awal penyimpanan sampai 84 jam (0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, 60 jam, 72 jam,dan 84 jam). Hasil penelitian menunjukan BSA secara nyata (p<0,05) dapat mempertahankan motilitas progresif spermatozoa kalkun pada pengencer kuning telur fosfat yang disimpan pada suhu 4°C bila dibandingkan dengan kontrol. Setelah dilanjutkan dengan uji Duncan diperoleh hasil bahwa penambahan BSA dengan konsentrasi 2 % memberikan hasil yang terbaik terhadap motilitas progresif spermatozoa kalkun mencapai 51% selama 60 jam pada pengencer kuning telur fosfat yang disimpan pada suhu 4°C. Kesimpulan dari penelitian ini adalah BSA dengan konsentrasi 2 % dapat mempertahankan motilitas progresif semen kalkun yang terbaik selama penyimpanan suhu 4°C.
Fluktuasi Bedah Sterilisasi pada Anjing Di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Tahun 2008-2012 Arya, Putu Oka; Pemayun, I Gusti Agung Gede Putra; Gede Jaya, Anak Agung Gede Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (1) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.819 KB)

Abstract

Penelitian tentang fluktuasi bedah sterilisasi pada anjing di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana tahun 2008-2012 telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi dalam setiap tahunnya jumlah anjing jantan dan betina yang dilakukan sterilisasi dari tahun 2008 s/d tahun 2012. Di samping itu juga dilakukan pengambilan data untuk mengetahui bedah sterilisasi pada anjing di RSH Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana setiap bulannya dalam satu tahun mulai dari tahun 2008-2012 disajikan dalam bentuk grafik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, data diambil dari buku catatan harian pasien di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Berdasarkan catatan buku harian pasien sterilisasi dapat diketahui jenis sterilisasi yaitu kastrasi dan ovariohysterectomy dalam setiap tahunnya selama 5 tahun disajikan dalam bentuk persentase dan dinyatakan dalam tabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya fluktuasi bedah sterilisasi pada anjing di RSH Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana selama 5 tahun terakhir dari 2008-2012, juga jumlah kastrasi pada anjing selama 2008-2012 lebih banyak dibanding dengan ovariohysterectomy di samping itu terlihat adanya kecenderungan terjadi penurunan jumlah sterilisasi pada anjing dari tahun 2009 sampai tahun 2012.  
Efektivitas Perasan Akar Kelor (Moringa Oleifera) Sebagai Pengganti Antibiotik pada Ayam Broiler Yang Terkena Kolibasilosis DARMA, BOI; MAHATMI, HAPSARI; SUDIRA, I WAYAN
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.22 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang “Efektifitas Air Perasan Akar Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Alternatif Pengganti Antibiotika Pada Ayam Broiler Yang Terkena Kolibasilosis” yang bertujuan untuk mengetahui daya hambat perasan akar kelor (Moringa oleifera) terhadap pertumbuhan bakteri E.coli yang diisolasi dari ayam broiler yang menderita kolibasilosis. Penelitian ini menggunakan metode Kirby Bauer yang dimodifikasi (Lay, 1994) dengan menggunakan air perasan akar kelor (Moringa oleifera) konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% sebagai perlakuan dan kertas cakram yang mengandung antibiotik Kloramfenikol sebagai kontrol positif serta akuades steril sebagai kontrol negative. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan statistik dengan Uji Sidik Ragam, bila terdapat pengaruh yang sangat nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah zona hambat perasan akar kelor (Moringa oleifera) konsentrasi 100% berbeda nyata (P<0,05) dengan konsentrasi 20%, 40%, dan 60%, hal ini disebabkan karena konsentrasi 100% mengandung zat aktif yang paling banyak dibandingkan dengan konsentrasi yang lainnya. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin tinggi juga kandungan zat aktif yang terkandung didalamnya sehingga zona hambat yang terbentuk juga semakin luas, begitu juga sebaliknya
Bioassay Toxoplasma Gondii pada Kucing manik, Agus manahan; made oka, Ida bagus; Dwinata, I made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.747 KB)

Abstract

Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler dari golongan protozoa dan bersifat parasit obligat dengan hospes definitif adalah kucing dan family felidae lainnya, sedangkan hospes intermediernya adalah semua hewan berdarah panas seperti ayam, sapi, kambing, babi, domba dan belakangan ini diketahui dapat menginfeksi burung, rodensia, ikan paus dan juga bisa menginfeksi manusia. Kebanyakan kasus Toxoplasmosis disebabkan karena mengkonsumsi daging yang mengandung kista (berisi bradizoit), takizoit (bentuk proliferatif) yang proses pemasakannya kurang sempurna atau daging mentah. Selain itu kontak langsung dengan tanah, air atau makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh feses kucing yang mengandung ookista infektif. Penelitian ini dilakukan untuk menegakkan diagnosa Toxoplasma gondii pada ayam dengan cara bioassay, pada kucing melalui pemeriksaan ookista pada fesesnya. Diperiksa 5 ekor kucing yang bebas dari infeksi Toxoplasmosis masing – masing kucing selanjutnya diberikan organ ( hati, jantung, paru – paru, otak ) 25 ekor ayam kampung yang diperoleh dari Kabupaten Badung, Tabanan, Buleleng, Gianyar dan Karangasem. Penelitian dilakukan di Laboratorium Central For Studies on Animal Disease Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan menggunakan metode pengapungan. Dalam penelitian ini, hasil pemeriksaan feses 5 ekor kucing yang diberikan makan 25 organ ayam berupa hati, jantung, paru – paru, otak yang berasal dari Kabupaten Badung, Tabanan, Buleleng, Gianyar, dan Karangasem, hanya yang berasal dari Kabupaten Badung dan Gianyar didalamnya ditemukan ookista. Ookista dikeluarkan oleh kucing mulai hari ke 6 sampai hari ke 11 dengan kisaran 200 butir/gram sampai 4350 butir/gram.
Perbandingan Telur Asin yang Dibuat dengan Media Kulit Buah Manggis dan Media Batu Bata Hutasoit, Supriaty; Swacita, Ida Bagus Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.247 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas telur asin yang dibuat dengan media kulit buah manggis ditinjau dari bobot telur, diameter kantung udara dan warna kuning telur. Sampel yang digunakan adalah telur itik sebanyak 24 butir. 12 butir dibuat telur asin dengan menggunakan media kulit buah manggis dan 12 butir dengan media batu bata. Perbandingan media dengan garam yaitu 3:1. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, ke-7, ke-14 dan ke-21. Bobot telur media kulit buah manggis 0.017, 2.286, 4.084 dan 5.035. Bobot telur media batu bata 0.015, 2.583, 4.115 dan 5.472. Diameter kantung udara media kulit buah manggis 1.847, 2.733, 3.540 dan 4.293. Diameter kantung udara batu bata 1.833, 2.940, 3.543 dan 4.497. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan berat telur asin dan diameter kantung udara yang nyata (P>0,05) antara telur asin yang dibuat dengan menggunakan media batu bata dan kulit buah manggis. Warna kuning telur media kulit buah manggis 13.333, 13.667, 14.000 dan 13.667. Warna kuning telur media batu bata 13.667, 11.667, 13.333 dan 13.667. Nilai uji warna kuning telur dari telur asin yang dibuat dengan menggunakan media kulit buah manggis nyata (P<0.05) lebih tinggi dari telur asin batu bata. Dapat disimpulkan bahwa media kulit buah manggis dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pembuatan telur asin.
Laporan Kasus: Hernia Abdominalis pada Anjing Ras Mix Pug Andini, Ni Made Ria; Wandia, I Nengah; Wirata, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.815 KB)

Abstract

Hernia abdominalis adalah suatu kondisi keluarnya organ viscera dari ruang abdomen melalui celah atau cincin pada dinding abdomen, sehingga terlihat adanya penonjolan. Hernia abdominalis dapat dibedakan berdasarkan lokasi, diantaranya adalah subcostal, prepubis (ligamen cranial pubis), dan paracostal. Seekor anjing mix pug berumur 3 tahun, berat 4,1 kg dan berjenis kelamin betina diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan keluhan adanya penonjolan pada abdomen atau lebih tepatnya pada cranial pubis. Pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa penonjolan tersebut berbentuk kantong dan ada isinya. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan isi dari kantong tersebut adalah usus. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut anjing didiagnosa mengalami hernia abdominalis dengan prognosa fausta. Anjing ditangani dengan melakukan pembedahan (insisi) pada kantong hernia untuk mengeksplorasi cincin hernia dan mereposisi usus yang keluar. Pascaoperasi anjing diberikan antibiotik cefotaxime, hari pertama sampai hari kelima diberikan antibiotik ciprofloxacin dengan analgesik asam mefenamat. Pengobatan yang dilakukan mendapatkan hasil yang baik dan anjing dapat sembuh.
Sistem Pemeliharaan Anjing dan Tingkat Pemahaman Rabies Masyarakat Desa yang belum Tertular Rabies di Kabupaten Gianyar, Bali Suwartama, Beny; Batan, I Wayan; Agustina, I Kadek Karang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (3) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.334 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.3.219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase dan hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pemeliharaan dan tingkat pemahaman masyarakat mengenai rabies di Kabupaten Gianyar. Terdapat 14 desa yang belum dilaporkan kejadian rabies di Kabupaten Gianyar, nanti di setiap desa akan disebar 10 kuisioner kepada masyarakat pemilik anjing. Data hasil wawancara dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuanttitatif dan dilakukan pemetaan faktor resiko rabies di masing-masing desa yang belum dilaporkan kejadian rabies di Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan anjing yang baik di Kabupaten Gianyar berhubungan dengan kondisi pemeliharaan anjng (98,6%); tidak memelihara HPR (95%); pemberian pakan lebih dari sekali (95%); status vaksinasi rabies (91,4%); dan jumlah anjing yang dipelihara tidak lebih dari satu ekor (58,6%). Sistem pemeliharaan anjing yang kurang baik berhubungan dengan pemberian pakan sisa/racikan (96,4%); anjing yang tidak di sterilisasi (91,4%); tidak pernah melakukan pemeriksaan kesehatan pada anjing (80%); kontak dengan anjing lain (79,3%); dan pemeliharaan anjing dengan dilepas (76,4%). Tingkat pemahaman masyarakat Kabupaten Gianyar yang baik berhubungan dengan tidak ditemukannya gejala rabies di desa yang belum dilaporkan kejadian rabies (98,6%); mobilitas anjing (97,1%); pemahaman mengenai bahaya rabies (89,3%); mengetahui ciri-ciri rabies pada anjing (77,1%); dan asal anjing (56,4%). Tingkat pemahaman masyarakat yang kurang baik berhubungan dengan belum adanya aturan desa mengenai pencegahan rabies (100%); belum pernah mengikuti penyuluhan rabies (89,3%); cara memperoleh anjing (87,1%); dan aturan desa atau awig-awig (85,7%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan anjing dan tingkat pemahaman masyarakat mengenai penyakit rabies di Kabupaten Gianyar tergolong baik.
Pemberian Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) dalam Pakan Terhadap Pertumbuhan, Morbiditas, dan Mortalitas Anak Babi Landrace Jantan Lepas Sapih Apsari, Ni Wayan Diah; Ardana, Ida Bagus Komang; Kartini, Ni Luh
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.392 KB)

Abstract

Faktor penting yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan ternak babi adalah masalah pakan. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh anak babi lepas sapih, sehingga dapat digunakan sebagai campuran ransum dengan diolah menjadi tepung terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung cacing tanah dalam pakan terhadap pertumbuhan, morbiditas, dan mortalitas anak babi setelah sapih. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 24 ekor anak babi landrace jantan lepas sapih dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, yaitu P0 (tanpa pemberian tepung cacing tanah pada pakan), P1, P2, dan P3 dengan pemberian tepung cacing tanah sebanyak 4 g, 8 g, dan 16 g/kg pakan, masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor. Pengamatan dan pencatatan terhadap berat badan dilakukan pada sebelum dan setelah perlakuan, sedangkan pengamatan morbiditas dan mortalitas dilakukan selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung cacing tanah dalam pakan dosis 4 g, 8 g, dan 16 g/kg pakan, pada anak babi landrace jantan lepas sapih tampak berpengaruh nyata (P<0,05) dengan kontrol dan mampu meningkatkan persentase laju pertumbuhan relatif, menekan morbiditas dan mortalitas.

Page 7 of 85 | Total Record : 843