cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Gambaran Hormon Progesteron Sapi Bali selama Satu Siklus Estrus ARIMBAWA, I WAYAN PUTRA; TRILAKSANA, I GUSTI NGURAH BAGUS; OKA PEMAYUN, TJOK GDE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.061 KB)

Abstract

Banyaknya masalah yang dilaporkan mengenai kurang optimalnya fungsi reproduksi sapi bali sehingga dipandang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai status reproduksi dari sapi bali tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hormon progesteron sapi bali selama satu siklus estrus. Sampel berupa serum darah diambil dari sentra peternakan sapi bali Sobangan dengan menggunakan 5 ekor sapi bali yang telah pernah beranak, menunjukkan siklus estrus secara normal dan secara reproduksi dinyatakan sehat. Sampel darah diambil setiap hari dimulai dari saat munculnya estrus sampai dengan munculnya estrus kembali. Pengukuran kadar progesteron dilakukan dengan metode ELISA dan data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dalam bentuk grafik. Hasil penelitian menunjukkan kadar progesteron pada sapi bali mulai hari ke- 0 (estrus) : 0,52 ± 0,03, mulai meningkat pada hari ke-4 pada kadar 2.03 ± 0,06, mencapai puncak pada hari ke-14 dengan kadar 9,52 ± 0,06 dan mulai menurun pada hari ke-15 dengan kadar 7,96 ± 0,07.
Isolasi dan Identifikasi Escherichia Coli O157:H7 dada Sapi Bali Di Abiansemal, Badung, Bali Baehaqi, Khamid Yusuf; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.982 KB)

Abstract

Escherichia coli O157:H7 merupakan salah satu agen zoonosis yang menyebabkan haemorrhagic colitis dan haemolytic uraemic syndrome pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk isolasi dan identifikasi E. coli O157 dan E. coli O157:H7 serta kaitan antara tingkat infeksi E. coli O157 dengan E. coli O157:H7 pada feses sapi bali di Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, Bali. Penelitian menggunakan 60 sampel feses sapi bali yang diawali dengan isolasi bakteri pada media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA), kemudian pewarnaan Gram dan dilanjutkan dengan uji Indol, Methyl Red, Voges Proskauer dan Citrat. Identifikasi E. coli O157 dilakukan dengan penumbuhan isolat pada media Sorbitol MacConkey Agar (SMAC) yang dikonfirmasi dengan uji latek aglutinasi O157, dan diakhiri dengan uji antiserum H7 untuk identifikasi E. coli O157:H7. Isolasi dan identifikasi E. coli O157 ditemukan 11,67%, E. coli O157:H7 ditemukan 10% pada feses sapi bali. Uji Mc Nemar terlihat bahwa infeksi E. coli O157 menunjukkan perbandingan yang tidak nyata dengan infeksi E. coli O157:H7. Uji korelasi Spearman's rho menunjukkan bahwa adanya infeksi E. coli O157 dapat secara kuat dijadikan petunjuk keberadaan E. coli O157:H7.
AKTIVITAS ASPARTAT AMINOTRANSFERASE (AST) DAN ALANIN TRANSAMINASE (ALT) PADA MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) OBESITAS DI PURA LUHUR ULUWATU, BALI Lestari, Ayu Paramita; Rompis, Aida Louise Tenden; Suatha, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (4) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.668 KB)

Abstract

Penelitian obsevasional-deskriptif dengan pendekatan cross-sectional telah dilakukan untuk mengetahui aktivitas aspartat aminotransferase (AST) dan alanin transaminase (ALT) pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) obesitas yang hidup liar di kawasan Pura Luhur Uluwatu, Bali. Sebanyak 16 ekor monyet ekor panjang berhasil dibius menggunakan ketamine dosis 10 mg/kg berat badan dicampur dengan premedikasi xylasin dosis 1-2 mg/kg berat badan. Sampel yang digunakan adalah serum darah monyet obesitas yang diambil dari monyet dalam keadaan terbius. Dari 16 ekor monyet, 12 ekor tergolong obesitas berdasarkan Indeks Massa Tubuh dan Berat Badan. Aktivitas aspartat aminotransferase (AST) dan alanin transaminase (ALT) ditentukan menggunakan mesin automatic chemistry analyzer (Indiko-Thermo Scientific). Hasil penelitian menunjukkan nilai AST bervariasi dari 43-88 U/L dan ALT 26-77 U/L dengan rataan 69,4 ± 14,9 U/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai AST dan ALT monyet obesitas cenderung lebih tinggi dari nilai AST dan ALT normal.
Evaluasi Sitologis Darah Ikan Bandeng (Chanos chanos) Di Kecamatan Alas-Nusa Tenggara Barat Utama, Iwan Harjono; Siswanto, Siswanto; Karami, Citra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.489 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengamati gambaran sitologis darah ikan bandeng di Kecamatan Alas Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan darah ikan bandeng yang secara klinis sehat diambil dari beberapa peternak serta memiliki ukuran dan berat yang relatif sama sebanyak 50 ikan. Pembuatan sediaan apusan darah dilakukan dengan metode standar yang sudah banyak dipublikasi, pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 1000 kali. Variabel yang diamati yaitu abnormalitas dari eritrosit, leukosit, dan trombosit. Hasil pengamatan dari 50 ikan tersebut memperlihatkan adanya kelainan pada eritrosit yaitu binucleus 2,5 %, notched nucleus 4,7 %, lobed nucleus 11,4 %, dannuclear extrusion 10,6 %. Sedangkan pada leukosit dan trombosit tidak tampak adanya kelainan.
Laporan Kasus: Hemangioma pada Anjing Golden Retriever Marliani, Ni Kadek; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Sudisma, I Gusti Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.318 KB)

Abstract

Hemangioma adalah tumor jinak sel-sel endotel pembuluh darah. Hemangioma sering terjadi pada kulit, yaitu pada bagian dermis atau lapisan subkutan sebagai akibat dari sel endotel pembuluh darah yang bermutasi. Hemangioma dapat terjadi karena paparan sinar matahari dan sering terjadi pada anjing dengan usia di atas lima tahun. Seekor anjing ras Golden Retriever berumur delapan tahun, bobot badan 35,4 kg dan berjenis kelamin betina diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan adanya benjolan pada pangkal ekor. Secara klinis, anjing sehat dengan nafsu makan, minum, defekasi dan urinasi normal. Menurut hasil pemeriksaan histopatologi yang dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar, dimana terlihat adanya banyak peluasan dan hemoragi pembuluh darah, anjing didiagnosis menderita hemangioma dengan prognosis fausta. Tumor ditangani dengan melakukan pembedahan (eksisi). Sebelum dilakukan tindakan operasi, hewan diberikan premedikasi berupa atropine sulfate melalui injeksi subkutan, lima belas menit kemudian dilanjutkan dengan pemberian xylazine dan ketamine secara injeksi intramuskular. Insisi dilakukan pada bagian tengah tumor kemudian dilakukan preparasi untuk membuka bagian kulit dan eksisi jaringan tumor secara menyeluruh. Bekas insisi pada subkutan dijahit dengan pola jahitan continous suture dan pada kulit dengan pola jahitan interrupted suture. Anjing diberi antibiotik amoxicillin trihydrate 500 mg (Amoxan®) peroral dengan dosis pemberian tiga kali sehari satu tablet selama lima hari dan mefenamic acid 500 mg (Bernofarm®) peroral dosis pemberian dua kali sehari satu tablet selama tiga hari. Hari kedelapan pascaoperasi anjing dinyatakan sembuh dengan luka yang sudah mengering dan menyatu dengan baik.
Uji Kepekaan Bakteri Esherichia coli Asal Ayam Pedaging terhadap Antibiotik Doksisiklin, Gentamisin, dan Tiamfenikol Barus, Daniel Opristanta; Gelgel, Ketut Tono Pasek; Suarjana, I Gusti Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (5) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.943 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pola kepekaan bakteri Escherichia coli penyebab kolibasilosis pada ayam pedaging terhadap pemberian antibiotik gentamisin, doksisiklin, dan tiamfenikol. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah E.coli yang diisolasi dari hati ayam pedaging dari delapan peternakan ayam pedaging di tujuh daerah di Bali yaitu daerah Dalung, Kapal, Penarungan, Singapadu, Ketewel, Payangan, dan Baturiti. Isolat diambil dari hati ayam. Uji kepekaan bakteri E.coli terhadap antibiotik gentamisin, doksisiklin dan tiamfenikol menggunakan metode Kirby-Bauer. Pada uji ini dipergunakan kertas cakram yang mengandung antibiotik Gentamisin, Doksisiklin dan Tiamfenikol. Hasil uji kepekaan bakteri E.coli patogen dengan metode Kirby Bauer ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening dari antibiotik doksisiklin, gentamisin, dan tiamfenikol. Bakteri E.coli yang diisolasi dari ayam pedaging resisten terhadap antibiotik doksisiklin, kurang peka (intermediate) terhadap antibiotik gentamisin, dan sensitif terhadap antibiotik tiamfenikol.
Kualitas Daging Se’i Babi Di Kota Madya Kupang Ditinjau Dari Total Coliform Dan pH SIMAMORA, ANITA KAROLINA; SUADA, I KETUT; SUARJANA, I GUSTI KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.62 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui total kontaminasi bakteri Coliform dan pH pada daging se’i babi yang dibuat di Kota Madya Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diambil dari enam tempat pembuatan daging se’i babi secara tradisional yang terbesar di kelurahan Oebufu, Oebobo dan Baun. Se’i merupakan daging asap khas Kota Kupang. Pengasapan daging se’i babi menggunakan kayu kosambi dimana kayu kosambi mengandung fenol, formaldehid sebagai preservatif dan asam organik sebagai antioksidan yang akan menghasilkan warna dan citarasa yang khas pada daging se’i babi. Untuk menentukan kualitas bakteri Coliform pada daging se’i babi digunakan metode Most Probable Number (MPN). Terlebih dahulu dibuat suspensi 1:10 yaitu sampel ditimbang 10 gram dan selanjutnya digerus dan ditambahkan 90 ml NaCl fisiologis kemudian dilakukan pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 yang dimasukkan ke dalam 9 ml Nacl fisiologis. Langkah selanjutnya dilakukan uji pembiakan coliform dengan menggunakan seri sembilan tabung. Setiap tabung reaksi dimasukkan 10 ml BGLB cair dan setiap tabung dimasukkan tabung Durham dengan posisi terbalik. Selanjutnya masukkan 1 ml sampel ke dalam 9 tabung dari pengenceran 10-1, 10-2, 10-3, diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C dan diamati tertangkap atau tidaknya gas dalam tabung Durham. Jika terdapat gas atau keruh, maka diduga terdapat Coliform pada tabung. Masing - masing tabung yang menunjukkan hasil positif dapat dicocokkan dengan tabel MPN seri 9 tabung. Sedangkan untuk pengukuran pH daging se’i babi menggunakan kertas pH. Sebelumnya kertas pH dipersiapkan, kemudian daging se’i babi seberat 5 gram digerus atau dihancurkan menggunakan alat penggerus, dilarutkan dengan 5 ml aquades dan diaduk sampai homogen. pengukuran pH daging se’i babi dengan cara mencelupkan kertas pH ke dalam larutan sampel. Pembacaan nilai pH pada kertas pH dilakukan sebanyak dua kali pengulangan dan hasilnya dirata-ratakan. Hasil penelitian untuk setiap lokasi diperoleh sebagai berikut (1) Bambu Kuning-Oebobo nilai >2400 MPN mikroba /gram dan nilai pH 6 (2) Green Garden- Oebufu nilai 1100 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (3) Baun nilai >2400 MPN mikroba/gram dan pH 6 (4) Petra-Oebufu nilai 7,2 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (5) Pondok Sawah-Oebufu nilai 15 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (6 )Aroma-Oebobo nilai >2400 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6. Dengan melihat adanya kontaminasi bakteri Coliform pada produk se’i babi yang dibuat, maka diperlukan pengolahan daging se’i babi yang lebih baik berupa peningkatan sanitasi dan higiene tempat produksi dan pekerjanya. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keenam sampel daging se’i babi yang dipasarkan di enam tempat pembuatan daging se’i babi di Kota Madya Kupang tercemar bakteri Coliform dan memiliki pH 6.
Kualitas Telur dan Pengetahuan Masyarakat Tentang Penanganan Telur di Tingkat Rumah Tangga Indrawan, I Gede; Sukada, I Made; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.478 KB)

Abstract

Telur merupakan bahan pangan sempurna, karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk makhluk hidup seperti protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah cukup. Di masyarakat telur dapat disiapkan dalam berbagai bentuk olahan, harganya relatif murah, sangat mudah diperoleh dan selalu tersedia setiap saat. Ketersediaan telur yang selalu ada dan mudah diperoleh ini, harus diimbangi dengan pengetahuan masyarakat tentang penanganan telur, yang bertujuan untuk memperlambat penurunan kualitas atau kerusakan telur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas telur ayam konsumsi, di Banjar Gambang Desa Mengwi, Badung. Mengetahuai tingkat pengetahuan dan kepedulian masyarakat dalam penangangan telur konsumsi, di Banjar Gambang, Desa Mengwi, Badung, serta hubungannya terhadap kualitas telur. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengujian terhadap Indeks Kuning Telur (IKT), Indeks Putih Telur (IPT), dan Haugh Unit serta memberikan kuisioner kepada setiap kepala keluarga, sebagai perwakilan diambil 30% dari jumlah kepala keluarga di Banjar Gambang secara acak, kemudian di analisis secara deskriptif, kemudian dicari persentase kualitas telur yang baik dan pengetahuan pengetahuan penanganan telur dengan uji Chi Square, selanjutnya ditampilkan dalam tabel 2x2. Dari Penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : rata-rata Ideks Putih Telur 0,0250, rata-rata Indeks Kuning Telur 0,338, dan rata-rata nilai Haugh Unit 49,81. Serta hasil dari kuisioner diperoleh masyarakat yang berpengetahuan positif 49 Kepala Keluarga, berpengetahuan negatif 4 kepala keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas telur di Banjar Gambang, Desa Mengwi, Badung digolongkan kualitas B, sehingga telur masih layak untuk dikonsumsi, pengetahuan penanganan telur tidak berhubungan dengan kualitas telur. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian-penelitian terkait dengan hubungan pengetahuan terhadap kualitas telur pada jangkauan wilayah yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih banyak, sehingga dapat diperoleh data yang lebih representative.
Sistem Pemeliharaan Anjing dan Tingkat Pemahaman Masyarakat terhadap Penyakit Rabies di Kabupaten Badung, Bali Utami, IGA Monica Rizki; Batan, I Wayan; Gunata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.493 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.551

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat dan merupakan salah satu penyakit yang menjadi prioritas secara nasional. Penyakit ini disebarkan oleh hewan tertular rabies dan anjing merupakan pembawa utama yang dapat melangsungkan siklus infeksi penyakit rabies. Adanya kontak antara air liur dengan membrana mukosa atau melalui luka pada tubuh dapat menularkan rabies. Hal tersebut sama halnya dengan akibat gigitan atau cakaran yang juga dapat menularkan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase dan hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pemeliharaan dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap penyakit rabies di Kabupaten Badung. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 300 kuisioner yang tersebar di 6 kecamatan. Data hasil wawancara dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan dendrogram. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan anjing di Kabupaten Badung berhubungan dengan sistem pemeliharaan anjing (52,3%), memelihara HPR lain (77,0%), status pemeriksaan kesehatan anjing (61,3%), status vaksinasi rabies (83,7%), kondisi fisik anjing peliharaan (83,7%), status pemberian pakan (100%), jumlah pemberian pakan/hari (88,7%), dan sistem pemeliharaan yang buruk dari masyarakat yang memelihara anjing lebih dari 1 ekor (50,3%), kontak anjing (82,7%). Tingkat pemahaman masyarakat di Kabupaten badung berhubungan dengan asal anjing (64,0%), mobilitas anjing (53,3%), pengetahuan mengenai bahaya rabies (93,3%), ciri-ciri rabies (77,3%), dan pemahaman masyarakat yang buruk dari cara memperoleh anjing dari orang lain (65,0%), kurangnya penyuluhan kepada masyarakat (49,0%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan dan tingkat pemahaman masyarakat di Kabupaten Badung tergolong baik.
Pemetaan dan Analisis Kejadian Rabies di Kabupaten Buleleng Tahun 2010-2016 Novianti, Syinthia Arya; Batan, I Wayan; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (2) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.342 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.2.150

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan di Indonesia terutama di Pulau Bali. Kejadian rabies di Pulau Bali khususnya di Kabupaten Buleleng masih tinggi. Tercatat pada tahun 2010 terdata sebanyak 6 kasus akibat gigitan dari anjing yang positif terinfeksi virus rabies pada manusia dan tahun 2015 masih ditemukan kejadian rabies pada anjing sebanyak 77 kasus. Korelasi antara kejadian rabies pada anjing dan manusia selanjutnya di analisis dengan Uji Spearman, yang bertujuan untuk mengetahui signifikasi hubungan kejadian rabies pada manusia dan anjing di Kabupaten Buleleng. Selain itu untuk mengatahui pola persebaran kejadian rabies di Kabupaten Buleleng juga dibuatkan peta persebaran rabies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian rabies pada anjing di Kabupaten Buleleng tahun 2010 sampai 2016 sebanyak 182 ekor dan 12 orang pada manusia serta hubungan korelasi kejadian rabies pada anjing dan manusia tidak menunjukan adanya hubungan sebab akibat (P > 0,05) yang artinya bahwa kejadian rabies anjing tinggi tidak selalu diikuti dengan kejadian rabies pada manusia.

Page 8 of 85 | Total Record : 843