cover
Contact Name
Made Ria Defiani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jbiologi@unud.ac.id
Editorial Address
Managed by Biology Study Program, Faculty of Math and Natural Science, University of Udayana Jl. Raya Kampus Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Jimbaran, Badung, Bali 80361
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Biologi Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14105292     EISSN : 25992856     DOI : https://doi.org/10.24843/jbiounud
Jurnal Biologi Udayana (p-ISSN 1410-5292 | e-ISSN 2599-2856 | DOI 10.24843/jbiounud) managed by the Department of Biology, Udayana University, published in two formats namely print and online regularly twice a year (June and December).
Articles 262 Documents
Keanekaragaman spesies anggrek di jalur pendakian Cemara Kandang, Gunung Lawu, Jawa Tengah Muhammad Daffa Irvani; Ratna Susandarini
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p03

Abstract

Gunung Lawu merupakan gunung api tidak aktif yang terletak di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kondisi geografis yang berada diantara dua wilayah ini menjadikan Gunung Lawu memiliki keunikan biodiversitas di dalamnya. Anggrek atau famili Orchidaceae merupakan kelompok tumbuhan berbunga dengan keanekaragaman spesies tertinggi kedua dengan jumlah spesies mencapai 25.000 di seluruh dunia. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anggrek di kawasan Gunung Lawu memiliki keunikan dan keanekaragaman tinggi. Pendokumentasian terhadap keanekaragaman anggrek di kawasan Gunung Lawu perlu dilakukan sebagai langkah awal pendataan potensi flora dan dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan konservasi anggrek. Penelitian ini dilaksanakan di Jalur Pendakian Gunung Lawu Cemara Kandang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang bertujuan untuk menginventarisir keanekaragaman anggrek beserta kemelimpahan dan distribusinya di sepanjang Jalur Pendakian Cemara Kandang. Penelitian yang dilakukan dengan metode jelajah ini menunjukkan bahwa di sepanjang Jalur Pendakian Cemara Kandang terdapat 14 spesies anggrek. Keempat belas spesies tersebut terdiri dari Bulbophyllum schefferi, Bulbophyllum sect. Aphanobulbon, Bulbophyllum sp.1, Bulbophyllum sp.2, Coelogyne miniata, Crepidium koordersii, Liparis montana, Microtis unifolia, Pholidota carnea, Pholidota globosa, Pinalia multiflora, Schoenorchis juncifolia, Taeniophyllum glandulosum, dan Thelymitra javanica. Total kemelimpahan anggrek yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sebanyak 642 spesies, dan memiliki persebaran mengelompok yang terbagi dalam dua zona utama di sepanjang jalur pendakian.
Kelimpahan spesies asing invasif teklan (Ageratina riparia (Regel) R. M. King & H. Rob.: Asteraceae) pada vegetasi lantai di Kebun Raya “Eka Karya” Bali Dewa Ayu Intan Tirta Sari; I Made Saka Wijaya; Sutomo Sutomo
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p04

Abstract

Spesies asing invasif mendapat perhatian khusus di Kebun Raya “Eka Karya” Bali, salah satunya adalah Ageratina riparia. Keunggulan tumbuhan ini dalam bereproduksi dan beradaptasi dengan lingkungan menyebabkan tumbuhan ini sangat mudah untuk tumbuh dan berkembang di suatu habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemelimpahan spesies asing invasif A. riparia pada vegetasi lantai di Kebun Raya “Eka Karya” Bali, serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan dengan metode plot yang diletakkan secara sistematis pada lima stasiun penelitian dengan jumlah 10 plot (2 x 2 m) pada setiap stasiun. Data vegetasi dianalisis untuk mengetahui densitas, densitas relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dan indeks nilai penting (INP), serta dilengkapi dengan indeks keragaman Shannon-Weiner (H'), indeks dominansi (C), indeks kemerataan (E) dan visualisasi kemelimpahan A. riparia dengan Non-metric Multi Dimensional Scaling (NMDS). Data lingkungan dianalisis menggunakan Detrended Correspondence Analysis (DCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. riparia pada stasiun 1 (Kawasan Kepala Burung) memiliki INP yaitu 62,50%, stasiun 2 (Taman Usada) dengan INP 52,40%, stasiun 3 (Taman Cyathea) dengan INP 89,09%, stasiun 4 (Kawasan Terbuka Tengah) dengan INP 110,25%, dan tertinggi pada stasiun 5 (Taman Upacara Panca Yadnya) dengan nilai INP 118,92%. Kehadiran A. riparia dapat dipengaruhi oleh semua faktor lingkungan yang diukur seperti kelembaban udara, kelembaban tanah, pH tanah, suhu udara dan suhu tanah, ketinggian tempat, kemiringan lahan, dan intensitas cahaya.
Struktur komunitas gastropoda pada sistem irigasi tradisional (Subak) Sembung, Denpasar Utara Ni Luh Wayan Hanny Prabandari; Ni Luh Watiniasih; Alfi Hermawati Waskita Sari
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p05

Abstract

Sawah merupakan salah ekosistem lahan basah buatan. Kawasan Subak Sembung merupakan salah satu areal persawahan sekaligus areal ekowisata di Kota Denpasar. Keberadaan gastropoda cukup banyak ditemui pada kawasan persawahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas gastropoda di kawasan Subak Sembung serta mengetahui faktor abiotik habitat gastropoda di kawasan Subak Sembung. Pengambilan data dilakukan di tiga stasiun pada bulan Desember 2021 hingga Januari 2022 dengan metode transek. Garis transek dibentangkan secara horizontal paralel dengan aliran irigasi. Lima kuadran berukuran 1x1 m2 diletakkan berselang-seling sepanjang garis transek dan data jumlah individu dan spesies diambil dari masing-masing kuadran. Secara keseluruhan, sebanyak 7 spesies ditemukan, dengan indeks keanekaragaman sedang dengan rentang nilai 1,34-1,40. Indeks keseragaman ketiga stasiun didapatkan > 0,6, dengan indeks dominansi mendekati 0 atau spesies tersebar merata dan tidak ada dominansi. Parameter abiotik berupa suhu dengan nilai 26,7oC-27,4oC, pH dengan nilai 7,5-8, C organik 2,52%-3,03%, substrat berlumpur pada seluruh stasiun, nitrat 0,35mg/L-0,45mg/L, fosfat 0,35mg/L-0,39mg/L.
Potensi madu dan propolis lebah Tetragonula laeviceps dalam menghambat pertumbuhan in vitro bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Fernando Putra; Yan Ramona; I Made Saka Wijaya
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p01

Abstract

Madu, yang sangat baik untuk kesehatan manusia karena kandungan gizinya yang tinggi, merupakan produk dari lebah Tetragonula laeviceps. Selain madu, lebah ini juga menghasilkan beberapa produk turunan, seperti propolis yang sering digunakan sebagai suplemen kesehatan. Madu dan propolis telah banyak dilaporkan memiliki aktivitas antimikroba. Oleh karena itu, tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitasnya dalam menghambat Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada berbagai uji in vitro (termasuk penentuan nilai MIC dan LC50). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 taraf konsentrasi (15%, 20%, 30%, 40%, 50%, 100%) untuk menentukan kedua produk lebah tersebut dalam menghambat pertumbuhan in vitro S. aureus dan E. coli. Etanol (etanol 95%) yang digunakan sebagai pelarut dalam percobaan 5 ulangan ini, berfungsi sebagai kontrol negatif. Zona hambat dan nilai MIC ditentukan dengan menggunakan metode sumur difusi, sedangkan metode pour plate pada media nutrien agar diterapkan dalam penentuan nilai LC50 madu dan propolis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu konsentrasi 100% menghambat pertumbuhan S. aureus dan E. coli dengan zona hambat masing-masing 12,50 ± 1,09 mm dan 6,60 ± 0,60 mm. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh propolis dengan diameter penghambatan 15,50 ± 1,08 mm dan 8,10 ± 1,00 mm terhadap S. aureus dan E. coli. Baik madu maupun propolis ternyata memiliki nilai MIC 15% (v/v), sedangkan nilai LC50 pada S. aureus masing-masing adalah 35,15% dan 18,25%, dan pada E. coli masing-masing adalah 35,89% dan 28,2%. Propolis memiliki daya hambat yang lebih kuat terhadap S.aureus dan E. coli dibandingkan madu.
Kepadatan dan keanekaragaman makrozoobentos pada ekosistem mangrove di perairan pantai Desa Sehati, Kabupaten Maluku Tengah Karel Markus Melsasail
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p06

Abstract

Sehati merupakan desa di Kabupaten Maluku Tengah yang memiliki salah satu ekosistem pendukung pantai berupa hutan mangrove dengan luasan 66,5 ha. Mangrove tersebut menghasilkan sejumlah besar detritus yang utamanya berasal dari serasah. Detritus tersebut dimanfaatkan oleh makrozoobentos sebagai bahan makanan sehingga meningkatkan jumlah jenisnya. Akan tetapi adanya penebangan oleh masyarakat setempat dikhawatirkan dapat memberikan tekanan yang cukup berarti bukan hanya kepada mangrove tetapi juga bagi makrozoobentos karena sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan tempat hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan dan keanekaragaman makrozoobentos pada ekosistem mangrove di Desa Sehati, Kabupaten Maluku Tengah. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode transek linier kuadrat menggunakan lima buah transek dengan kuadran berukuran1x1 meter sebanyak 10 buah, didukung dengan pengukuran berbagai parameter fisika kimia perairan. Ditemukan sebanyak 19 jenis makrozoobentos pada ekosistem hutan mangrove di perairan pantai Desa Sehati dengan nilai kepadatan yang beragam. Nassarius luridus memiliki nilai kepadatan tertinggi yaitu 0,595 ind/m2, sedangkan Neries virens memiliki nilai kepadatan terendah yaitu 0,025 ind/m2. Nilai indeks keanekaragaman jenis makrozoobentos pada ekosistem mangrove tergolong tinggi (2,631). Kondisi fisika kimia perairan pada ekosistem mangrove masih berada dalam keadaan yang baik bagi pertumbuhan makrozoobentos.
Karakteristik habitat Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di Taman Nasional Alas Purwo Putu Ayu Irvana Swasti; Syartinilia Syartinilia
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p02

Abstract

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan raptor endemik Pulau Jawa yang terancam punah dan dilindungi hukum. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan habitat elang jawa di kawasan dataran rendah. Terbatasnya informasi tentang preferensi habitat elang jawa di TNAP menyebabkan sulitnya menyusun rencana pengelolaan habitat elang jawa yang sesuai dengan preferensi habitatnya di alam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis karakteristik lanskap dan karakteristik vegetasi yang mempengaruhi aktivitas elang jawa sehingga dapat digunakan untuk rekomendasi pengelolaan habitat elang jawa di TNAP. Data yang dikumpulkan terdiri dari karakteristik lanskap dan karakteristik vegetasi yang didapatkan dari wawancara pengelola dan observasi. Karakteristik lanskap habitat bersarang dibedakan oleh kondisi kemiringan dan elevasi. Habitat bersarang memiliki kemiringan < 8 % dan elevasi 36 - 74 mdpl serta ditemukan aliran sungai. Sementara itu, habitat berburu berada di kemiringan < 8 % - 40 % dan elevasi 0 - 167 mdpl. Jenis tutupan lahan berupa hutan alami lebih disukai elang jawa untuk bersarang ataupun berburu, serta habitat yang digunakan tidak berjauhan dengan aktivitas manusia. Karakteristik vegetasi pada habitat bersarang dan berburu dibedakan oleh keberadaan pohon tinggi yang menjadi preferensi pohon sarang elang jawa. Arsitektur pohon model rauh dan strata A lebih disukai sebagai pohon sarang, sedangkan pohon berburu banyak menggunakan pohon berstrata A dan B dengan arsitektur pohon didominasi model rauh. Habitat yang digunakan juga didominasi oleh pohon buah yang disukai oleh mangsa elang jawa. Rekomendasi pengelolaan habitat elang jawa di TNAP dapat dilakukan kegiatan restorasi dengan menanam jenis pohon yang memiliki karakter berstrata A dan B, emergent tree, arsitektur pohon model rauh, dan vegetasi yang merupakan pakan dari mangsa elang jawa.
Kajian bakteri proteolitik yang diisolasi dari tubuh lalat hijau (Chrysomya megacephala) Ernin Hidayati; Ika Nurhimaya; Nisful Mahdi; Sarkono Sarkono
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p11

Abstract

Lalat hijau (Chrysomya megacephala) merupakan serangga yang memiliki peranan ekologis penting, salah satu diantaranya adalah sebagai dekomposer. Lalat hijau sering ditemukan berkerumun di sekitar makanan dan sampah yang mengandung protein tinggi. Hinggapnya lalat ini pada makanan perlu diwaspadai karena dapat mengakibatkan makanan lebih cepat rusak atau basi. Diduga bahwa bakteri yang ada pada tubuh lalat berperan dalam proses dekomposisi bahan makanan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bakteri proteolitik yang diisolasi dari tubuh lalat hijau. Sampel lalat hijau diambil dari tempat pembuangan sampah di Kebon Kongok, Lombok Barat, Indonesia. Sampel dimasukkan ke dalam Brain Heart Infusion Broth, selanjutnya bakteri yang terdapat pada tubuh lalat hijau diisolasi menggunakan Nutrient Agar. Aktivitas proteolitik isolat bakteri dideteksi dari terbentuknya zona bening pada medium Skim Milk Agar dengan metode totol dan difusi sumuran. Isolat bakteri kemudian dikarakterisasi melalui pengecatan Gram dan uji biokimia. Ditemukan sebanyak empat isolat bakteri proteolitik pada tubuh lalat hijau yaitu isolat LH1, LH2, LH3 dan LH4. Isolat LH2 menunjukkan aktivitas katalitik paling baik dengan rerata diameter zona bening sebesar 25,5 mm setelah inkubasi 48 jam pada suhu 37oC. LH2 merupakan Gram negatif berbentuk batang rantai pendek, bersifat motil dan aerob. Bakteri ini mampu memanfaatkan beberapa jenis gula seperti arabinosa, sukrosa, maltosa, dan manitol, mampu mengoksidasi asam amino triptofan serta mampu mengubah urea menjadi amonia. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa, LH2 berkontribusi dalam proses dekomposisi. Selain itu, LH2 juga berpotensi sebagai patogen.
Effectiveness of n-hexane and ethanol extract of papaya (Carica papaya L.) leaves as shallot pest (Spodoptera exigua Hübner) natural insecticide Mery Puspita Sari; L Hartanto Nugroho; Sukirno Sukirno
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p07

Abstract

One of the agricultural commodities that has a high selling value and consumption level is shallot (Alium ascalonicum). However, the productivity of shallots is known to be susceptible to plant-destroying organisms, such as the shallot caterpillar (Spodoptera exigua). Currently, most shallot farmers control S. exigua using synthetic insecticides. Synthetic insecticides are poisonous and use for a long time period will cause resistance to pests and environmental pollution. One of the natural ingredients that has the potential as a botanical insecticide is papaya (Carica papaya). This study aimed to determine the effectiveness and concentration of n-hexane and ethanolic extracts of papaya leaves which are the most effective against toxicity and inhibition of the feeding power of S. exigua second instar larvae. The extract was obtained by gradual maceration of n-hexane (non polar) and ethanol (polar) solvents. Test the secondary metabolite content of papaya leaves using Thin Layer Chromatography (TLC). The results showed that the ethanol extract was the most effective extract in causing toxicity to larvae with the highest percentage of 96.67%. Meanwhile, n-hexane extract was more effective in inhibiting larval feeding than ethanol extract with the lowest feeding area of 2,27 mm. The most effective concentration of against toxicity and feeding inhibition of larvae is concentration 3%. The LC50 value of the ethanol extract was 0.0207% and the n-hexane extract was 0.0459%. Both extracts are known to contain compound groups, namely tannins, terpenoids, flavonoids, and alkaloids.
Daya proteksi minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata ) dalam sediaan lotion antinyamuk terhadap Aedes aegypti Putu Ayudina Asti Puspita; Ni Luh Arpiwi; Ni Wayan Sudatri
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p12

Abstract

Berbagai alternatif telah dilakukan untuk menghambat populasi nyamuk Aedes aegypti penyebab penyakit demam berdarah, diantaranya penggunaan lotion antinyamuk yang mengandung DEET. Untuk mengurangi resiko dan dampak negatif dari lotion antinyamuk yang mengandung DEET, maka salah satu upaya dilakukan pemanfaatan minyak atsiri kenanga (Cananga odorata) sebagai repellent atau antinyamuk alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen minyak atsiri bunga kenanga, untuk menganalisis konsentrasi minyak atsiri pada sediaan lotion yang memberikan daya proteksi tertinggi terhadap gigitan nyamuk Ae. aegypti, menganalisis tingkat kesukaan probandus terhadap formulasi lotion, dan untuk mengetahui ada tidaknya sensitivitas setelah memakai lotion yang mengandung minyak atsiri bunga kenanga. Minyak atsiri kenanga pada penelitian ini diperoleh dengan cara destilasi uap yang selanjutnya digunakan sebagai agen antinyamuk dalam sediaan lotion. Rata-rata rendemen minyak atsiri bunga kenanga dengan tiga kali ulangan diikuti dengan standar deviasi (SD) adalah 0,63% ± 1,38 b/b. Daya proteksi lotion antinyamuk tertinggi adalah lotion F3 dengan konsentrasi minyak atsiri 5%. Lotion F3 pada jam pertama memberikan daya proteksi sebesar 96,3%, jam kedua 92,3%, jam ketiga 87% dan menurun sampai jam keenam menjadi 75%. Formulasi yang paling disukai oleh probandus adalah lotion dengan kandungan minyak atsiri sebanyak 5% b/b. Setelah pemakaian lotion antinyamuk tidak ada kesan lengket dikulit dan tidak adanya gejala sensitivitas.
Keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu (Lepidoptera) di Lapangan Watu Gajah Tuban Shela Sonia; Yaquta Maziyatin Jamilah; Athiyya Nur Agistiana Azzahra; Ratih Khairul Anissa; Dwi Anggorowati Rahayu
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 2 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i02.p08

Abstract

Kupu-kupu merupakan serangga yang termasuk dalam Ordo Lepidoptera atau “serangga bersayap sisik”. Kupu-kupu umumnya dijumpai di daerah terbuka hijau, seperti pada Lapangan Watu Gajah Tuban. Kupu-kupu sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan yang dapat dilihat dari perubahan komposisi komunitasnya. Keanekaragaman kupu-kupu di suatu lingkungan merupakan bioindikator kualitas ekologi pada lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis keanekaragaman dan kelimpahan jenis kupu-kupu yang terdapat di Lapangan Watu Gajah, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kawasan Lapangan Watu Gajah dapat dikategorikan sebagai lingkungan yang mendukung kehidupan insekta, terutama kupu-kupu dengan rata-rata ketinggian 40 mdpl, suhu 29oC, kecepatan angin 13 km/h, curah hujan 1,9 mm, kelembaban 70,33% dan intensitas cahaya 4259,33 lux. Penelitian telah dilakukan dengan metode survei eksploratif (jelajah) atau penangkapan langsung menggunakan jala insekta dan teknik hand sampling pada 3 stasiun pengamatan, dengan masing-masing stasiun dilakukan 5 kali sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan rumus kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman Shannon-Winner dan indeks dominansi Shimpson. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 13 spesies kupu-kupu dengan indeks keanekaragaman dan indeks dominansi kupu-kupu di Lapangan Watu Gajah yaitu indeks keanekaragaman tergolong sedang, yaitu 2,32 dengan nilai H’ 2,0<H’<3,0; dan indeks dominansi 0,083 termasuk dalam kategori rendah dengan nilai 0<D<0,5. Lapangan Watu Gajah merupakan habitat ideal yang lebih sesuai untuk perkembangan kupu-kupu.