cover
Contact Name
Made Ria Defiani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jbiologi@unud.ac.id
Editorial Address
Managed by Biology Study Program, Faculty of Math and Natural Science, University of Udayana Jl. Raya Kampus Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Jimbaran, Badung, Bali 80361
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Biologi Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14105292     EISSN : 25992856     DOI : https://doi.org/10.24843/jbiounud
Jurnal Biologi Udayana (p-ISSN 1410-5292 | e-ISSN 2599-2856 | DOI 10.24843/jbiounud) managed by the Department of Biology, Udayana University, published in two formats namely print and online regularly twice a year (June and December).
Articles 262 Documents
Paparan benalu (teh dan mangga) terhadap kadar Superoksida Dismutase (SOD) serum tikus hipertensi model preventif Nur Mufida; Nour Athiroh Abdoes Sjakoer; Nurul Jadid Mubarakati
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p06

Abstract

Salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan karena terjadi peningkatan prevalensi setiap tahunnya adalah penyakit hipertensi. Tingginya ROS (Reactive Oxygen Species) dalam tubuh akan meningkatkan pembentukan radikal bebas berlebih dan membuat antioksidan endogen SOD (Superoxide dismutase) terpakai secara berlebih sehingga menjadi penyebab munculnya penyakit hipertensi. Tanaman herbal benalu teh dan benalu mangga merupakan tumbuhan yang memiliki potensi sebagai pencegahan hipertensi dengan meningkatkan aktivitas SOD dalam tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemaparan ekstrak metanol kombinasi benalu teh dan benalu mangga (EMKBTBM) terhadap peningkatan kadar SOD serum pada tikus hipertensi yang diinduksi DOCA-Garam menggunakan model preventif. Pada penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan hewan uji berjumlah 25 ekor tikus wistar jantan yang terbagi menjadi 5 kelompok dan terdapat 5 ekor tikus pada setiap kelompok, yaitu kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), dan kelompok dengan perlakuan pemaparan EMKBTBM (P1) dosis 50 mg/kgBB, (P2) dosis 100 mg/kgBB, dan (P3) dosis 200 mg/kgBB. Didapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pemaparan EMKBTBM berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas SOD serum pada tikus hipertensi dengan perbedaan yang signifikan pada nilai reratanya antar semua kelompok dengan nilai p <0,05. Efektivitas pengaruh pemaparan benalu teh dan benalu mangga dikendalikan oleh EMKBTBM dosis 100 mg/KgBB yang merupakan dosis efektif dalam meningkatkan kadar SOD serum tikus model hipertensi DOCA-Garam.
Penilaian kesehatan visual dan internal pohon besar di Kebun Raya Eka Karya Bali Komang Kartika Indi Swari; Ketut Ginantra; Siti Fatimah Hanum
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p11

Abstract

Kebun Raya Eka Karya Bali memiliki beberapa koleksi pohon besar dan tua yang telah mengalami tanda-tanda kerusakan dan beresiko membahayakan keselamatan pengunjung. Pemeriksaan kesehatan pohon sangat penting untuk mencegah resiko pohon tumbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan pohon, serta hubungan antara kerusakan internal dan visual pohon di Kebun Raya Eka Karya Bali. Kriteria pohon sampel yaitu memiliki lingkar batang lebih dari 250 cm dan tumbuh di lokasi yang ramai aktivitas pengunjung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2021-Januari 2022 di Kebun Raya Eka Karya Bali. Pemeriksaan visual pohon dengan Tree Risk Assesment Form yang dimodifikasi, sedangkan pemeriksaan internal dengan Arborsonic 3D Acoustic Tomograph. Data visual dan internal dilanjutkan dengan skoring, kemudian dilakukan uji korelasi Pearson pada hasil visual dan internal. Hasil pemeriksaan kesehatan pohon secara visual diperoleh 19% pohon beresiko tinggi, 73% pohon resiko sedang, dan 8% pohon resiko rendah. Pemeriksaan secara internal yaitu 65% pohon beresiko rendah, 27% pohon resiko sedang, dan 8% resiko tinggi. Jenis yang beresiko tinggi pada kedua hasil yaitu Prunus cerasoides pada petak XIII.B No. 17 dan petak XII.A No. 3. Kerusakan internal dan kerusakan visual pohon memiliki hubungan atau korelasi positif yang kuat dengan nilai korelasi 0,691.
Kandungan alkaloid dan flavonoid tiga spesies anggrek berpotensi obat dari Kawasan Gunung Gumitir Kabupaten Jember Dwi Setyati; Desy Lutfianasari; Tri Ratnasari
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p02

Abstract

Tumbuhan anggrek dikenal sebagai tumbuhan hias, selain itu juga berpotensi sebagai obat diantaranya adalah Dendrobium linearifolium Teijs & Binn., Bulbophyllum odoratum (Blume) Lindl., dan Vanda tricolor Lindl. Khasiat obat pada tumbuhan adalah karena adanya metabolit sekunder, antara lain alkaloid dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan alkaloid dan flavonoid pada tiga spesies anggrek berpotensi obat dari kawasan Gunung Gumitir Kabupaten Jember. Sampel ketiga spesies anggrek dipisahkan antara batang, pseudobulb dan daunnya kemudian dikeringanginkan dan dihaluskan sampai mendapat serbuk. Serbuk anggrek di ekstraksi dan diuji secara kuantitatif dengan spektrofotometri. Rata- rata kandungan alkaloid dan flavonoid tertinggi terdapat pada daun. Kandungan alkaloid tiga tertinggi berturut-turut adalah daun Dendrobium linearifolium Teijsm. & Binn. (43,84 mgBE/g), pseudobulb dan daun Bulbophyllum odoratum (Blume) Lindl. (21,91 mgBE/g) dan (18,01 mgBE/g, sedang terendah daun Vanda tricolor Lindl (9,35 mgBE/g). Kandungan flavonoid tertinggi terdapat pada daun Dendrobium linearifolium Teijsm. & Binn. (219,59 mgQE/g) diikuti daun Bulbophyllum odoratum (Blume) Lindl. (132,21 mgQE/g) dan daun Vanda tricolor Lindl. (122,69 mgQE/g) dan terendah batang Dendrobium linearifolium Teijs & Binn (56,26 mgQE/g).
Potensi bakteri indigen Indonesia dalam mendegradasi karbofuran Nida Sopiah; Wahyu Irawati; Yantra Wijaya
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p07

Abstract

Pestisida memegang peranan penting dalam membunuh hama, baik serangga, jamur maupun gulma. Penggunaan pestisida berbahan dasar aktif di lingkungan dapat menimbulkan kemungkinan terjadinya pencemaran. Penggunaan karbofuran dapat mengakibatkan pencemaran pada tanah, perairan, udara, dan juga kehidupan liar. Bioremediasi menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida. Bioremediasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan isolat bakteri indigen Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan optimal isolat bakteri resisten karbofuran, pengaruh penambahan berbagai konsentrasi karbofuran terhadap pertumbuhan isolat bakteri, serta kemampuannya dalam mendegradasi karbofuran. Bakteri indigen yang diteliti adalah isolat bakteri resisten karbofuran koleksi Pusat Teknologi Lingkungan (PTL). Pertumbuhan bakteri diukur menggunakan spektrofotometer panjang gelombang 600 nm. Konsentrasi karbofuran yang digunakan adalah 100, 500, dan 1000 ppm. Kemampuan degradasi karbofuran diukur menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan berbagai konsentrasi karbofuran mempengaruhi pertumbuhan isolat bakteri dengan cara menurunkan densitas sel. Pertumbuhan isolat R2, BN5.2 dan BN5.3 paling baik pada medium yang mengandung 500 ppm karbofuran sedangkan pertumbuhan isolat R1, R3.2, R3.3, BN2.3, BN5.1 dan C paling baik pada medium yang mengandung 1000 ppm. Isolat bakteri R2 dan R3.3 masing-masing dapat mendegradasi karbofuran sebesar 68,47% dan 66,68% selama tiga hari.
Uji antibakteri teh hitam dan teh hijau kombucha pada methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Cyrilla Angelica Andhika Pramesti; Nur Khikmah; Nunung Sulistyani
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p12

Abstract

Teh kombucha memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Gram negatif, Gram positif, dan bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan salah satu strain bakteri Staphylococcus aureus yang sudah mengalami resistensi terhadap antibiotika. MRSA merupakan penyebab utama infeksi nosokomial dan berbagai sindrom klinik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri teh kombucha dan mengetahui perbedaan daya antibakteri teh hitam kombucha dan teh hijau kombucha dalam menghambat MRSA. Kombucha teh hitam dan kombucha teh hijau dibuat dengan fermentasi cair. Uji antibakteri teh kombucha pada MRSA dilakukan dengan metode difusi sumuran. Perbedaan antibakteri teh hitam kombucha dan teh hijau kombucha dianalisis menggunakan uji-t. Teh hijau kombucha memiliki kadar asam total yang lebih tinggi dengan pH yang lebih rendah dibandingkan teh hitam kombucha. Teh hitam kombucha dan teh hijau kombucha mempunyai aktivitas antibakteri pada MRSA yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona irradikal dengan diameter 14 ± 0,85 mm dan 17,1 ± 0,93 mm. Zona irradikal menunjukkan aktivitas teh hitam kombucha dan teh hijau kombucha dikategorikan lemah. Oleh karena itu, teh kombucha belum efektif sebagai antibakteri terhadap MRSA. Hasil uji-t menunjukkan terdapat perbedaan aktivitas antibakteri antara teh hitam kombucha dan teh hijau kombucha pada Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
Gambaran histologi hati dan ginjal mencit (Mus musculus L.) yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4) setelah pemberian ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) Ni Desak Made Aprilia Dewi; Ngurah Intan Wiratmini; Sang Ketut Sudirga
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p03

Abstract

Karbon tetraklorida (CCl4) merupakan senyawa kimia yang bersifat toksik, namun masih sering digunakan dalam industri bahan pendingin, alat pemadam kebakaran, dan pestisida. Penggunaan CCl4 secara terus menerus dapat memicu terbentuknya radikal bebas sehingga berpotensi merusak organ hati dan ginjal. Tanaman sirsak (Annona muricata L.) salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat alternatif karena mengandung senyawa antioksidan yang dapat mencegah pembentukan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirsak terhadap gambaran histologi hati dan ginjal mencit (Mus musculus L.) yang diinduksi karbon tetraklorida. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 24 ekor mencit jantan yang dikelompokkan menjadi 4 perlakuan yaitu kontrol negatif (K-) diberi larutan Na-CMC 0,5%, kontrol positif (K+) diinduksi CCl4 0,007 mL/20g BB yang dilarutkan dalam minyak kelapa 0,1 mL, dan dua perlakuan yang diinduksi CCl4 0,007 mL/20g BB serta diberi ekstrak daun sirsak dosis 100 mg/kg BB (P1) dan 200 mg/kg BB (P2). Parameter yang diamati pada histologi hati yaitu degenerasi melemak, degenerasi hidropik, nekrosis, kongesti, serta infiltrasi sel radang. Parameter yang diamati pada histologi ginjal yaitu degenerasi melemak, nekrosis, infiltrasi sel radang, dan pembengkakan glomerulus. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kerusakan yang berbeda nyata (p<0,05) pada P1 dan P2 dibandingkan dengan kontrol positif (K+) pada sayatan histologi hati dan ginjal, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun sirsak mampu memperbaiki kerusakan hati dan ginjal setelah diinduksi karbon tetraklorida.
Laju dekomposisi bangkai mencit (Mus musculus) yang dikubur selama empat minggu pada media tanah humus, kapur, dan pasir pantai Cakra Diarsa; I Ketut Junitha; I Ketut Sundra
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p08

Abstract

Dekomposisi bangkai terjadi segera setelah organisme mati mulai dari dekomposisi tingkat jaringan hingga tingkat molekuler. Laju dekomposisi bangkai hewan yang dikubur dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor fisik, kimia, dan biologi dari media yang digunakan mengubur bangkai. Faktor fisik berupa struktur, porositas, dan kelembaban dari media. Faktor kimia berupa pH, konsentrasi natrium, nutrien, dan oksigen yang terkandung pada media penguburan. Faktor biologi berupa jumlah dan komposisi dari koloni bakteri, invertebrata, dan flora yang hidup pada media. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan kecepatan dekomposisi bangkai pada media penguburan yang berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bangkai mencit sebanyak 36 ekor yang dikuburkan pada tiga media berbeda yaitu tanah humus, pasir pantai, dan tanah kapur di dalam toples plastik. Masing-masing sebanyak 12 toples diisi dengan media yang sama sebagai ulangan. Bangkai mencit diamati selama 28 hari dimana tiap tujuh hari dilakukan penimbangan terhadap berat bangkai mencit dengan timbangan digital dan kondisi fisik dari bangkai mencit dicatat dan diskoring. Laju dekomposisi bangkai mencit ditunjukkan dari perbedaan rata-rata penurunan berat bangkai mencit (%) tiap minggu pada masing-masing media. Metode analisis data dilakukan dengan uji ANOVA. Hasil dari penelitian didapatkan adanya perbedaan penurunan berat dan nilai skor kondisi fisik bangkai mencit pada tiap media penguburan. Kesimpulan penelitian ini adalah waktu dan perbedaan media penguburan berpengaruh pada penurunan berat dan nilai skoring kondisi fisik bangkai mencit.
Pengaruh ekstrak metanolik kombinasi benalu teh dan benalu mangga terhadap histopatologi hepar tikus model hipertensi (DOCA-Garam) Arina Roikhana; Nour Athiroh Axzbdoes Sjakoer; Nurul Jadid Mubarakati
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p13

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian utama pada manusia serta berhubungan dengan penyakit kardiovaskular. Hipertensi dapat merusak organ hepar yang berhubungan dengan Reactive Oxygen Species (ROS). Benalu mangga dan teh bermanfaat sebagai obat herbal untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak metanol kombinasi benalu teh dan mangga terhadap histopatologi hepar tikus hipertensi (DOCA-Garam), desain eksperimen yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap sebanyak 25 ekor tikus wistar jantan yang dikelompokkan menjadi 5 perlakuan yaitu kontrol (-) = 0 mg/KgBB EMKBTBM, kontrol (+) = 15 mg/KgBB DOCA-Garam, P1, P2, P3 masing- masing 50, 100, 200 mg/KgBB EMKBTBM. Analisis data yang digunakan adalah uji ANOVA two way yaitu JAMOVI dengan versi 1.1.9.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata (p-value) <0.05 pada zona 1, 2, dan 3 jika dibandingkan dengan semua kelompok perlakuan, dan semua kelompok perlakuan yaitu antara kelompok kontrol (+) dengan kontrol (-), perlakuan 1, 2, dan 3 berbeda nyata terhadap rerata kerusakan sel (piknosis, karioreksis, kariolisis) hepatosit hepar. Dibuktikan dengan hasil analisis yang menyatakan p-value <0.05 yaitu <0.001, sehingga pemberian ekstrak metanol kombinasi benalu teh dan mangga dapat mengurangi nekrosis (piknosis, karioreksis, dan kariolisis) pada hepatosit organ hepar tikus hipertensi.
Pengaruh formulasi pupuk cair berbasis limbah organik dan penambahan konsorsium mikroba pelarut fosfat terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) Ni Putu Yuliatiningsih; Ida Bagus Gede Darmayasa; Made Ria Defiani
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p04

Abstract

Tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki nilai gizi dan nilai ekonomi tinggi. Peningkatan produksi cabai dapat dilakukan dengan upaya perbaikan kesuburan tanah melalui pemupukan yang optimal dan ramah lingkungan. Air cucian beras dapat dimanfaatkan sebagai POC yang dikombinasikan dengan molase dan mikroba pelarut fosfat (MPF). Tujuan penelitian untuk mengeksplorasi pemanfaatan formulasi POC terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit dan menentukan perbandingan yang tepat antara air cucian beras dan molase dengan penambahan konsorsium MPF dalam memformulasi POC. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 4 ulangan. Perlakuan ada 7 yaitu Y1 = Kontrol I (tanpa perlakuan); Y2 = Kontrol II (POC komersial); Y3 = 5% air cucian beras + 5% molase + 10 mL konsorsium MPF; Y4 = 10% air cucian beras + 10% molase + 10 mL konsorsium MPF; Y5 = 15% air cucian beras + 15% molase + 10 mL konsorsium MPF; Y6 = 20% air cucian beras + 20% molase + 10 mL konsorsium MPF; dan Y7 = 25% air cucian beras + 25% molase + 10 mL konsorsium MPF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan Y7 memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit dibandingkan dengan pemberian perlakuan formulasi POC lainnya.
Karakteristik histokimia daun Ridan (Nephelium maingayi Hiern – Sapindaceae) dari Provinsi Riau Nery Sofiyanti; Fitmawati Fitmawati; Mayta Novaliza Isda; Asri Ria Lestari
Jurnal Biologi Udayana Vol 26 No 1 (2022): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2022.v26.i01.p09

Abstract

Ridan (Nephelium maingayi) merupakan salah satu anggota famili Sapindaceae yang tersebar di Provinsi Riau, namun tidak banyak dibudi dayakan karena buah yang berukuran kecil dan agak masam. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik histokimia daun ridan. Senyawa metabolit yang diuji adalah tannin, flavonoid, alkaloid serta lipid. Sampel yang digunakan adalah daun ridan yang sudah dewasa. Irisan sampel dilakukan menggunakan hand microtome, dan selanjutnya diuji dengan larutan FeCl3 (tannin), NaOH (flavonoid), Wagner (alkaloid) dan Sudan III (lipid). Sampel diamati dan didokumentasikan menggunakan mikroskop digital. Uji histokimia menunjukan bahwa bagian daun ridan (N. maingayi) pada umumnya mengandung tannin, alkaloid, lipid dan flavonoid. Uji lipid menunjukan hasil negatif pada jaringan kortek dan empulur tangkai anak daun, serta pada jaringan empulur ibu tangkai daun. Hasil kajian ini memberikan informasi tambahan pada kajian histokimia anggota dari marga Nephelium.