cover
Contact Name
Made Ria Defiani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jbiologi@unud.ac.id
Editorial Address
Managed by Biology Study Program, Faculty of Math and Natural Science, University of Udayana Jl. Raya Kampus Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Jimbaran, Badung, Bali 80361
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Biologi Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14105292     EISSN : 25992856     DOI : https://doi.org/10.24843/jbiounud
Jurnal Biologi Udayana (p-ISSN 1410-5292 | e-ISSN 2599-2856 | DOI 10.24843/jbiounud) managed by the Department of Biology, Udayana University, published in two formats namely print and online regularly twice a year (June and December).
Articles 262 Documents
Optimasi digesti enzim restriksi untuk deteksi mutasi daerah D-loop DNA mitokondria dengan metode PCR-RFLP Ni Putu Senshi Septiasari; I Ketut Junitha; Ni Nyoman Wirasiti
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 1 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i01.p07

Abstract

Metode PCR-RFLP merupakan salah satu metode untuk deteksi mutasi pada daerah D-loop DNA mitokondria. Metode ini menggunakan enzim restriksi untuk dapat memotong DNA mitokondria dan menghasilkan ukuran fragmen DNA yang berbeda-beda. Enzim restriksi memerlukan kondisi yang optimal untuk melakukan pemotongan DNA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimal enzim restriksi agar dapat melakukan digesti pada daerah D-loop DNA mitokondria. Optimasi dilakukan dengan membuat dua kombinasi formula digesti (formula 1 dan 2) dan empat macam waktu digesti (2 jam, 4 jam, 6 jam dan overnight). Hasil penelitian menunjukkan optimasi dari lima macam enzim restriksi (HaeIII (BsuRI), HindIII, HinfI, MboI dan HpyP31 (DdeI)) didapatkan bahwa ada perbedaan formula dan waktu digesti tergantung dari jenis enzim. Enzim HaeIII(BsuRI), HinfI dan MboI menunjukkan formula 2 merupakan formula optimal, sedangkan enzim HpyP31 (DdeI) formula 1 merupakan formula yang optimal. Waktu digesti 2 jam menunjukkan hasil optimal pada Enzim HaeIII(BsuRI), MboI dan HpyP31 (DdeI), sedangkan enzim HinfI waktu digesti optimal adalah 4 jam. Enzim HindIII tidak mendapatkan hasil potongan fragmen DNA setelah digesti, maka enzim HindIII tidak memiliki situs pemotongan pada daerah D-loop DNA mitokondria.
Konsentrasi logam berat kadmium, kromium, tembaga, timbal dan seng pada ikan, kerang dan siput laut di Teluk Benoa, Bali Gede Surya Indrawan; I Nyoman Giri Putra; I Putu Sugiana
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 1 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i01.p08

Abstract

Biota laut seperti ikan, kerang, dan gastropoda lainnya merupakan sumber makanan bagi manusia. Pada Kawasan Teluk Benoa, nelayan umumnya menangkap biota tersebut dan menjualnya di pasar atau untuk dikonsumsi. Logam berat telah mencemari biota laut di sekitar Teluk Benoa. Logam berat memiliki efek fatal bagi tubuh manusia jika dikonsumsi secara berlebihan. Beberapa logam berat yang berbahaya seperti kadmium (Cd), kromium (Cr), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam berat Cd, Cr, Cu, Pb, dan Zn pada biota laut di sekitar Teluk Benoa. Sampel ikan, kerang, dan gastropoda diambil secara acak dari nelayan Teluk Benoa. Metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) digunakan untuk menentukan konsentrasi logam berat pada setiap objek. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi logam berat yang tinggi pada Scarus Psittacus (ikan kakatua), Acanthurus xanthophores (ikan madah), Marcia hiantina (kerang merah), Anadara antiquata (kerang darah), and Cerithidea sp. (siso/batu-batu). Perbandingan dengan baku mutu FAO (1983), WHO (1989), IAEA-407 (2003), dan SNI-7387 (2009) menunjukkan bahwa biota-biota tersebut telah melebihi baku mutu. Pencemaran logam berat dari sedimen laut di daerah yang sama dan cara makan biota menjadi indikator dari konsentrasi logam berat yang variasi pada biota tersebut.
Botanical, ecology, phytochemical, bioactivity, and utilization of kelat oil (Syzygium myrtifolium Walp.) in Indonesia: A Review Dimas Ario Setiawan; Anisatu Z. Wakhidah
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 1 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i01.p09

Abstract

Kelat oil (Syzygium myrtifolium Walp.) is one of the most popular ornamental plants in Indonesia. However, apart from having potential in the economic aspect, this plant also has the potential to be used holistically to support the manufacture of herbal medicines. The purpose of this research is to increase the scope of studies on the use of kelat oil by the community. This research was conducted using the study method and literature analysis which included ecology, botany, phytochemistry, bioactivity and utilization of kelat oil. The research method is to examine published scientific articles online search results through google scholar and researchgate with keyword that connected to Syzygium myrtifolium such as botanical and ecological, utilization, local use, ethnobotany, phytochemical content, and bioactivity of Syzygium myrtifolium. The results of this study explain that the leaves of the kelat oil plant have several phytochemicals such as flavonoids and alkaloids which has bioactivity and potentially as an ingredient for making medicines, antiseptics, antibacterial, antidiabetics, antihypertension, and rehabilitative efforts for burns. In general, the use of red shoots by people in Indonesia is as an ornamental plant, supporting reforestation activities, mitigating floods and landslides, as a support for outdoor learning, and also as a complement to religious ceremonies.
Ethnobotany of natural dyes of futus woven fabrics used by Dawan Tribe in North Central Timor Regency Emilia Juliyanti Bria; Polikarpia Wilhelmina Bani; Dicky Frengky Hanas; Elinora Naikteas Bano; Yofrida Tefa
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 1 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i01.p10

Abstract

Futus merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Suku Dawan merujuk pada kain tenun yang dihasilkan dengan teknik ikat yang diaplikasikan dalam proses pewarnaan benang. Kain tenun ini merupakan salah satu kearifan lokal turun temurun di Suku Dawan Kabupaten Timor Tengah Utara. Proses pewarnaan adalah tahap penting dalam proses pengolahan kain tenun tersebut yang menggunakan tumbuhan sebagai zat pewarna. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan jenis tumbuhan pewarna alami kain tenun ikat, organ tumbuhan yang digunakan dan bagaimana proses pengolahannya. Metode wawancara semi-terstruktur digunakan dalam diskusi kelompok terarah pada 38 responden yang merupakan pengrajin tenun. Penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat 17 spesies dari 12 famili tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna kain tenun ikat masyarakat suku Dawan di Kabupaten Timor Tengah Utara. Kunyit (Curcuma longa L.) adalah tumbuhan yang paling banyak digunakan. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai bahan pewarna yaitu daun, diikuti rimpang, akar, kulit batang, buah dan biji. Pengolahan tumbuhan menjadi pewarna kain tenun ikat terdiri atas dua cara yakni direbus dan tanpa perebusan yang masing-masing menghasilkan warna berbeda dengan campuran fiksatif yang berbeda pula.
Bioefikasi bakteri dari kulit katak sebagai agensia biokontrol terhadap penyakit antraknosa pada cabai Lela Susilawati; P. Afrizka Sari; Maulana Septiani; E.S. Purnomo
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 1 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i01.p11

Abstract

Amphibian skin e.g., frog carry bacterial symbionts on their skin that protect the frog from invasion of pathogen infection. This study aimed to evaluate antifungal activity of five bacterial skin frog (namely KSMD3; KSMD9; KSMD10; KSMV12; KSMV15) of Indonesian origin, Fejervarya limnocharis, against phytopathogen (Colletotrichum capsici) TCKr2. Primary screening for their antifungal activity was performed using dual culture method on nutrient agar contained 2% (w/v) of dextrose. The alteration of hyphal morphology on media and the detached chili fruit bioassay were observed. Isolate of KSMD3 was selected based on its significant performance in inhibiting the growth of the chili anthracnose pathogen, C. capsici. In addition, the KSMD3 showed low severity of disease incidence on detached chili fruit. Based on the analysis of 16S rDNA, the isolate of KSMD3 was identified as member of genera of Pseudomonas.
Diversity of fruit flies (Bactrocera spp.) in West Sumbawa Ika Rusmawati; Galuh Tresnani; I Wayan Suana
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 1 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i01.p12

Abstract

Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa Barat merupakan salah satu pintu masuk perdagangan komoditas hortikultura antarpulau yang berpotensi menjadi media penyebaran lalat buah dari suatu wilayah ke wilayah lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman lalat buah di Sumbawa Barat dan buah-buahan yang menjadi inangnya, serta membahas kemungkinan masuknya lalat buah ke Sumbawa Barat melalui perdagangan komoditas hortikultura antarpulau. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive random sampling. Lalat buah dikoleksi dengan perangkap (trapping) dan pemeliharaan inang (host rearing). Hasil penelitian menemukan 14 spesies lalat buah Bactrocera spp. dengan indeks keanekaragaman (H’) 1,44 (kategori sedang), indeks dominansi (D) 3,19 (kategori tinggi), indeks kemerataan (E) 0,54 (kategori sedang). B. dorsalis dan B. carambolae merupakan spesies yang mendominasi serta memiliki kisaran inang yang luas. Tanaman yang menjadi inang lalat buah sebagian besar merupakan buah komersial yang terdiri dari 12 spesies buah-buahan. Tidak ditemukan bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa selama 10 tahun terakhir terjadi penambahan spesies lalat buah di Sumbawa Barat akibat adanya lalu lintas perdagangan buah antarpulau.
Keanekaragaman polen sebagai sumber pakan lebah Trigona sp. di Desa Sukawening Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor Ryan Triyadi; Triastinurmiatiningsih Triastinurmiatiningsih; Moerfiah Moerfiah
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 1 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i01.p13

Abstract

Lebah tanpa sengat pada umumnya menghasilkan produk madu, selain itu juga terdapat serbuk sari yang dapat dikaji pada ilmu melissopalinologi untuk mengidentifikasi morfologi polen, jenis serta geografis dari tumbuhan. Polen atau serbuk sari juga dapat mengungkap aspek pakan dari lebah tanpa sengat yang berguna untuk keberlangsungan hidupnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi keanekaragaman polen yang digunakan sebagai sumber pakan lebah tanpa sengat Trigona sp. di Desa Sukawening Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah ekstraksi polen dari madu, asetolisis, identifikasi serta perhitungan persentase polen. Hasil penelitian diperoleh 24 jenis polen (4 spesies belum teridentifikasi) yang termasuk ke dalam 19 famili dan sumber polennya dominan berasal dari tumbuhan herba. Persentase jumlah polen yang dikoleksi dari Trigona sp. di Desa Sukawening Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor didominasi oleh Cocos nucifera yaitu sebesar 11.03% dikategorikan sebagai Important Minor Pollen Type (IMPT) (3-15%).
Pola pertumbuhan rumput laut (Eucheuma cottonii) yang menggunakan kantong dan tanpa kantong di perairan pantai Geger, Nusa Dua, Bali Made Tri Loka; Ayu Putu Wiweka Krisna Dewi; Ni Putu Putri Wijayanti
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 2 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i02.p01

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola pertumbuhan rumput laut (Eucheuma cottonii) yang menggunakan kantong dan tanpa kantong di perairan pantai Geger pada bulan Oktober-November 2022. Pengambilan data dilakukan seminggu sekali selama 6 minggu penelitian. Metode budidaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode lepas dasar dengan perlakuan menggunakan kantong dan tanpa kantong (konvensional). Penelitian ini di rancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Untuk mengetahui data SGR (laju pertumbuhan berat per hari) dapat dianalisis menggunakan uji One Way Anova, dengan tingkat signifikan 5% dari hasil analisisnya yaitu 95%. Uji statistik dibantu dengan menggunakan software SPSS PC. var 25.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan rumput laut pada penggunaan kantong lebih tinggi dari tanpa kantong. Berat rumput laut pada penggunaan kantong di minggu ke-6 sebesar 666 g dan tanpa kantong di minggu ke-6 hanya sebesar 375 g. Specific Growth Rate (SGR) pada penggunaan kantong sebesar 5,53%/hari sedangkan perlakuan tanpa kantong sebesar 2,12%/hari. Hal ini terjadi karena banyak rumput laut yang patah akibat arus dan dimakan oleh predator pada perlakuan tanpa kantong. Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian mendapatkan kisaran hasil yang sesuai untuk pertumbuhan rumput laut yaitu, suhu 26,7-30ºC, salinitas 31-35 ppt, pH 7,1-8,0, DO 5,9-6,7 mg/L, nitrat 0,034-0,057 mg/L, fosfat 0,011-0,066 mg/L, kecepatan arus 0,31-0,50 m/s dan kecerahan 60-107 cm. Nilai pengukuran nitrat dan fosfat di perairan Pantai Geger tergolong rendah namun masih dapat mendukung dalam kegiatan budidaya rumput laut. Pertumbuhan rumput laut pada penggunaan kantong lebih baik dari pada tanpa kantong dengan selisih berat sebesar 291 g pada akhir penelitian. Hasil ini masuk kategori baik dalam budidaya rumput laut.
Analisis daya dukung ekowisata birdwatching di Taman Wisata Alam Gunung Tunak, Lombok, Nusa Tenggara Barat Sastia Sulastri; Baiq Farista; I Wayan Suana
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 2 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i02.p02

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak merupakan kawasan konservasi di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang digunakan untuk kegiatan wisata alam dan rekreasi. TWA Gunung Tunak memiliki keanekaragaman spesies burung yang tinggi, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi ekowisata birdwatching. Kegiatan ekowisata dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan jika jumlah wisatawan melampaui daya dukung wisata. Perencanaan wisata yang tidak memperhatikan daya dukung cepat atau lambat akan menurunkan kualitas lingkungan dan kerusakan secara ekologis, sehingga mempengaruhi keberadaan burung dan kehidupan liar lainnya di lokasi tersebut. Perhitungan daya dukung perlu dilakukan untuk melindungi fungsi konservasi TWA Gunung Tunak dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung ekowisata birdwatching berdasarkan aspek biofisik dan manajemen pengelolaan di TWA Gunung Tunak. Metode penilaian daya dukung wisata dilakukan melalui tiga tahap yaitu Physical Carrying Capacity (PCC), Real Carrying Capacity (RCC) dan Effective Carrying Capacity (ECC). Aspek biofisik yang dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah breeding session (musim berbiak) burung, curah hujan, kelerengan, dan sensitivitas tanah terhadap longsor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PCC jalur pengamatan Menuju Pintu Masuk (MPM) sebesar 2.527 pengunjung/hari, dan jalur pengamatan Menuju Pantai Teluk Ujung (MPTU) sebesar 1.408 pengunjung/per hari. RCC jalur pengamatan MPM sebesar 245 pengunjung/hari dan jalur MPTU sebesar 315 pengunjung/hari. ECC dengan memperhatikan aspek fisik, ekologi dan manajemen pada jalur pengamatan MPM sebesar 178 pengunjung/hari dan jalur MPTU sebesar 229 pengunjung/hari. Berdasar pada nilai ECC, maka pengembangan ekowisata birdwatching di TWA Gunung Tunak pada masa mendatang dapat dioptimalkan sebesar 84,38% (162 pengunjung/hari atau 4.860 pengunjung/bulan) untuk jalur MPM dan 93,01% untuk jalur MPTU (213 pengunjung/hari atau 6.390 pengunjung/bulan).
Laju pertumbuhan benih ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii Blkr.) dengan pemberian pakan berbasis tepung maggot Husnul Khotimah; Ari Hepi Yanti; Tri Rima Setyawati; Kustiati Kustiati
Jurnal Biologi Udayana Vol 27 No 2 (2023): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2023.v27.i02.p03

Abstract

Ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii Blkr.) merupakan salah satu jenis ikan lokal dengan pertumbuhan yang lambat. Maggot adalah fase dari siklus hidup insekta yang dapat dikembangkan sebagai pakan. Maggot dalam bentuk tepung diketahui memiliki kandungan protein tinggi yang mampu memacu pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS), laju pertumbuhan bobot spesifik (LPBS), dan tingkat kelangsungan hidup dari benih ikan jelawat yang diberi perlakuan pemberian pakan kontrol (A), pakan berbasis tepung maggot tanpa fermentasi (B) dan pakan berbasis tepung maggot fermentasi (C). Berdasarkan hasil penelitian, benih ikan jelawat mengalami LPPS tertinggi yaitu 0,88±0,04% dan LPBS tertinggi yaitu 0,71±0,01% serta tingkat kelangsungan hidup benih sebesar 100% pada perlakuan C, diikuti perlakuan B dengan LPPS 0,49±0,04% dan LPBS 0,39±0,01% serta tingkat kelangsungan hidup benih sebesar 95%. Pertumbuhan terendah dialami benih dengan perlakuan pakan kontrol (A) yaitu LPPS sebesar 0,38±0,01%, LPBS sebesar 0,28±0,01%, serta tingkat kelangsungan hidup benih sebesar 75%. Berdasarkan hal tersebut, penggunaan tepung maggot yang difermentasi dalam pakan berpengaruh secara signifikan terhadap laju pertumbuhan benih ikan jelawat.