cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BIOMA
ISSN : 20865481     EISSN : 25499890     DOI : 10.26877
Arjuna Subject : -
Articles 246 Documents
PENGEMBANGAN MODUL PRAKTIKUM BIOKIMIA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI Henny Sulistiany; Handi Darmawan
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 9 No. 2: Oktober 2020
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v9i2.7057

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan proses sains (KPS) mahasiswa adalah kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum dapat mempertajam pemahaman mahasiswa terhadap konsep yang diperoleh pada mata kuliah teoritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan modul praktikum Biokimia dan profil KPS mahasiswa setelah mengunakan modul tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development/ R&D). Tahap penelitian meliputi needs assess (penilaian kebutuhan), design (desain) dan tahap develop/implement (pengembangan dan implementasi). Alat pengumpul data yang digunakan adalah angket validasi ahli dan laporan hasil praktikum mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul praktikum Biokimia memiliki kualitas sangat layak untuk digunakan dalam kegiatan praktikum Biokimia. Capaian aspek KPS mahasiswa setelah menggunakan modul praktikum Biokimia secara keseluruhan tergolong tinggi dengan nilai rata-rata 79.47%. Capaian aspek KPS tertinggi adalah aspek merumuskan masalah dengan nilai 99.96% sedangkan terendah adalah aspek mengkomunikasikan data percobaan dengan nilai 54%. Kata kunci: biokimia, modul praktikum, keterampilan proses sains
Aktivitas antibakteri isolat bakteri endofit daun pegagan (Centella asiatica) terhadap Staphylococcus aureus Sembodho Edi Kurniawan; Mahyarudin Mahyarudin; Ambar Rialita
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 10 No. 1: April 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v10i1.7140

Abstract

ABSTRAKAncaman global pada kasus Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) membutuhkan alternatif penanganan dengan tanaman obat tradisional. Bakteri endofit pada tanaman pegagan (Centella asiatica) memiliki kemampuan menghasilkan senyawa metabolit sekunder bersifat antibakteri yang serupa dengan tanaman inangnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri isolat bakteri endofit daun pegagan (C. asiatica) terhadap S. aureus. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu isolat bakteri endofit daun pegagan (C. asiatica) diujikan dengan metode difusi cakram terhadap S. aureus. Isolat yang paling berpotensi memiliki aktivitas antibakteri dilakukan uji metabolit untuk mengetahui senyawa antibakteri yang dihasilkan. Identifikasi bakteri endofit berdasarkan morfologi koloni, morfologi sel, dan uji biokimia. Hasil penelitian menunjukkan 2 dari 37 isolat memiliki aktivitas terhadap S. aureus  dengan zona hambat sebesar 9,02 mm dan 15,9 mm. Isolat yang paling berpotensi memiliki aktivitas tertinggi yaitu isolat I2 dengan zona hambat sebesar 15,9 mm. Isolat I2 memiliki kemiripan dengan genus Bacillus dan kemampuan mengasilkan senyawa antibakteri seperti alkaloid, saponin dan terpenoid.  Kata kunci: antibakteri; bakteri endofit; Centella asiatica; Staphylococcus aureus   ABSTRACTAntibacterial activity of endophytic bacteria isolate from pegagan leaves (Centella asiatica) against Staphylococcus aureusThe global threat in the case of Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) requires alternative treatment using traditional medicinal plants. Endophytic bacteria found in Pegagan plants (Centella asiatica) have ability to produce secondary metabolites with antibacterial capabilities similar to their host plants. The purpose of this study is to determine the antibacterial activity of endophytic bacterial isolates of Pegagan (C. asiatica) against S. aureus. This study is a descriptive research where endophytic bacterial isolates of Pegagan leaves (C. asiatica) were tested with disk diffusion method against S. aureus. The most potential isolates with antibacterial activity were performed metabolites test to determine the antibacterial compounds produced. Endophytic bacteria identification based on colony morphology, cell morphology and biochemical tests. The results showed that 2 out of 37 isolates had activity against S. aureus with inhibition zone of 9,02 mm and 15.9 mm. The most potential isolate that has highest activity was I2 isolate with inhibition zone of 15.9 mm. Isolate I2 has similarities with the genus Bacillus and the ability to produce antibacterial compounds such as alkaloids, saponins and terpenoids. Key words: antibacterial; Centella asiatica; endophytic bacteria; Staphylococcus aureus
ANALISIS SCIENCE MOTIVATION KONSEP KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP PADA SISWA SMP N 2 TAMAN Ratnawati Ratnawati; Fenny Roshayanti; Joko Siswanto
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 9 No. 2: Oktober 2020
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v9i2.7062

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis Science Motivation siswa pada konsep Klasifikasi Makhluk Hidup, Penelitian dilakukan pada siswa kelas VII SMPN 2 Taman tahun pelajaran 2019/2020. Sampel diambil dari anak kelas VII A dan VII B sejumlah 32 anak laki-laki dan perempuan. Metode pengambilan data yang dilakukan berupa penggunaan angket Science Motivation dan lembar hasil wawancara peneliti. Berdasarkan analisis terhadap hasil angket science Motivation siswa menunjukkan bahwa Science motivation atau motivasi sains siswa SMPN 2 Taman adalah sebesar 61%. Sedangkan ditinjau dari masing-masing indikatornya sebagai berikut : indikator motivasi intrinsik dan relevansi pribadi adalah 60,5% (kriteria Sedang), indikator penilaian kemasan 61,25% (kriteria sedang), indikator penentuan karir sendiri 65,15% (kriteria sedang), indikator motivasi karir 67,03% (kriteria sedang) dan indikator motivasi kelas 53,9% (kriteria sedang). Data tersebut didukung dengan hasil wawancara peneliti terhadap siswa sampel yang memiliki hasil rendah dan hasil  tinggi.   Kata kunci: Science Motivation, klasifikasi Makhluk Hidup.
Strategi belajar overlearning menggunakan media edmodo dapat meningkatkan motivasi belajar biologi peserta didik Reski Rahayu Ramadan; Safei Safei; Eka Damayanti; Jamilah Jamilah
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 10 No. 1: April 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v10i1.7176

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan motivasi belajar biologi peserta didik yang diajar dengan penerapan strategi belajar overlearning yang menggunakan media edmodo dengan tanpa menggunakan media edmodo di kelas XI MIA SMA Negeri 9 Sinjai. Penelitian kuantitatif eksperimen semu (quasi eksperimental design), ini menggunakan the static comparasion group design. Sampel berjumlah 29 peserta didik kelas XI MIA 3 di kelas eksperimen dan sebanyak 29 peserta didik kelas XI MIA 4 di kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket motivasi belajar. Data dianalisis menggunakan independent sampel t test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan motivasi belajar biologi yang diajar dengan menerapkan strategi belajar overlearning menggunakan media edmodo dengan peserta didik yang diajar dengan menerapkan strategi belajar overlearning tanpa menggunakan media edmodo. Rata-rata motivasi belajar yang diajar dengan menerapkan strategi belajar overlearning dengan menggunakan media edmodo lebih tinggi daripada peserta didik yang diajar dengan menerapkan strategi belajar overlearning tanpa menggunakan media edmodo sehingga motivasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan dengan penerapan strategi belajar overlearning melalui media edmodo. Kata kunci: media edmodo; motivasi belajar; strategi belajar overlearning ABSTRACTOverlearning strategies using edmodo media can increase the motivation of students in learning biologyThis study aims to examine the differences in biology learning motivation of students who were taught by applying the overlearning learning strategy using Edmodo media and students who were taught without using Edmodo media in class XI MIA SMA Negeri 9 Sinjai. This quasi-experimental quasi-experimental research used the comparison group design. The sample consisted of 29 students of class XI MIA 3 in the experimental class and 29 students of class XI MIA 4 in the control class. The instrument of the research was a learning motivation questionnaire. Data were analyzed using an independent sample t-test. The results showed there is a difference in the motivation of the students who were taught by applying the overlearning learning strategy using Edmodo media and the students who were taught without using Edmodo media. Learning motivation taught by applying overlearning learning strategies using Edmodo media higher than without using Edmodo media. It concluded that the students learning motivation can be improved by implementing overlearning learning strategies with Edmodo media.Keywords: edmodo media; learning motivation; overlearning learning strategy
PREFERENSI INANG LALAT BUAH Bactrocera cucurbitae (Coquillet) DAN Bactrocera dorsalis (Hendel) PADA BERBAGAI JENIS BUAH Dwi Harya Yudistira; Ilyafad Syahputera Tanjung; Lilian Rizkie
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 9 No. 2: Oktober 2020
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v9i2.7058

Abstract

Lalat buah (Diptera: Tephritidae), Bactrocera cucurbitae (Coquillet) dan Bactrocera dorsalis (Hendel), merupakan hama bersifat polifag dan menjadi penyebab kerugian ekonomi berbagai buah dan sayuran di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kisaran inang OPT di Indonesia dan pengaruh berbagai jenis buah-buahan terhadap kemampuan oviposisi dan kelangsungan hidup keturunannya. Metode penelitian menggunakan Choice test dengan menggunakan buah-buahan yang berbeda seperti apel hijau (apel malang), belimbing, pisang, jambu biji dan jeruk. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan dua spesies lalat buah koleksi hasil pemeliharaan Laboratorium Hama Tanaman generasi ke-2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. cucurbitae dapat berkembang baik pada buah pisang dan belimbing dengan jumlah dewasa 4,25 ± 1,70 / buah dan 7,50 ± 1,90 / buah, sedangkan B. dorsalis pada buah jambu biji dengan jumlah dewasa 14,25 ± 1,55 / buah. Dapat disimpulkan secara keseluruhan B. dorsalis memiliki kisaran inang yang lebih luas dibandingkan B. cucurbitae. Kata kunci: B. cucurbitae, B. dorsalis, preferensi, tanaman inang.
Efektivitas ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) terhadap jamur Pityrosporum ovale Sri Lestari Ramadhani Nasution; Sri Wahyuni Nasution; Ali Napiah Nasution
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 10 No. 1: April 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v10i1.6746

Abstract

ABSTRAKDaun salam (Syzygium polyanthum) banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit, salah satunya sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimikroba dan konsentrasi efektif dari ekstrak daun salam (S. polyanthum) terhadap Pityrosporum ovale. Pengujian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dan metode pengujian antijamur dengan metode disc diffusion. Data diolah dengan SPPS versi 23. Konsentrasi ekstrak daun salam (S. polyanthum) yang digunakan yakni 25%, 50%, 75%, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi antimikroba pada semua konsentrasi ekstrak daun salam (S. polyanthum) yang ditunjukkan dengan zona bening di sekitar paper disk. Zona bening terbesar adalah 18,2 mm dan 15,03 mm diperoleh dari ekstrak daun salam (S. polyanthum) dengan konsentrasi 100%. Kata kunci: antifungi; disc diffusion; Pityrosporum ovale; Syzygium polyanthum ABSTRACTEffectiveness of salam leaves (Syzygium polyanthum) extract against Pityrosporum ovaleBayleaf (Syzygium polyanthum) is a plant that is used as a traditional medicine to treat various diseases. One of them is as an antimicrobial. This study aims to determine the antimicrobial activity and effective concentration of bayleaf extract against P. ovale. This research use a factorial completely randomized design and the antifungal disc diffusion method. The data were processed using SPPS version 23. The bayleaf (S. polyanthum) extract concentrations are 25%, 50%, 75%, and 100%. The results showed the presence of antimicrobial potential in all concentration of bayleaf (S. polyanthum) extracts indicated by the clear zone around the paper disk. The largest clear zones were 18.2 mm and 15.03 mm obtained 100% bayleaf (S. polyanthum) extracts. Keywords: antifungus; disc diffusion; Pityrosporum ovale; Syzygium polyanthum
Pemanfaatan tumbuhan obat untuk perawatan rambut oleh Suku Dayak Kantuk di Desa Seluan Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat Marsiana Liliyanti; Yeni Mariani; Fathul Yusro
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 10 No. 2: Oktober 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v10i2.9019

Abstract

Tumbuhan obat saat ini masih dipergunakan untuk perawatan tubuh, diantaranya untuk rambut. Penelitian bertujuan menganalisis penggunaan beragam jenis tumbuhan obat untuk perawatan rambut oleh suku Dayak Kantuk di Desa Seluan Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian menggunakan metode survey melalui wawancara terhadap masyarakat suku Dayak Kantuk di Desa Seluan. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dengan jumlah responden 146 orang. Sebanyak 15 jenis tumbuhan obat dimanfaatkan oleh suku Dayak Kantuk. Penggunaan bagian tumbuhan tertinggi adalah buah (46,67%) dengan cara pengolahan ditumbuk (50%), cara penggunaan dioles (93,33%), dan bentuk ramuan tunggal (73,33%). Jenis tanaman dengan nilai penggunaan (use value, UV) tertinggi yaitu lidah buaya (Aloe vera) (0,28), sedangkan family importance value (FIV) tertinggi yaitu Arecaceae (28,37). Nilai informants concensus factor (ICF) tertinggi terdapat pada kategori mengatasi rambut bercabang (1,00). Nilai fidelity level (FL) tertinggi (100%) pada kategori penggunaan menghitamkan rambut dengan jenis tanaman yaitu pepaya (Carica papaya), menyuburkan rambut yaitu seledri (Apium graveolens), melembutkan rambut yaitu sawit (Elaeis guineensis) dan bunga kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis), menghilangkan ketombe yaitu daun pare (Momordica charantia), jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan mengkudu (M. citrifolia), mengatasi rambut berkutu yaitu akar tuba (Paraderris elliptica), dan mengatasi rambut bercabang yaitu daun bambu (Bambusa vulgaris). Penggunaan beragam jenis tumbuhan obat oleh suku Dayak Kantuk untuk perawatan rambut menambah pengetahuan tumbuhan obat masyarakat di Kalimantan Barat.    Kata kunci: Dayak Kantuk; perawatan rambut; tumbuhan obat  ABSTRACTThe utilization of medicinal plants for hair care by Dayak Kantuk Tribe in Seluan Village Kapuas Hulu District. Haircare is one of the body treatments that still use the medicinal plants. The purpose of the study was to analyze the use of various medicinal plants for haircare by the Dayak Kantuk tribe in Seluan Village, Kapuas Hulu Regency. This present study uses a survey method through interviews with the Dayak Kantuk people in Seluan Village (146 respondents and selected using the purposive sampling technique). The Dayak Kantuk people in Seluan village use 15 medicinal plants for their haircare. The highest use of plant parts was fruit (46.67%) with crushed in the processing method (50%), the administration method was topically (93.33%), and the potions are mainly a single ingredient (73.33%). The plant with the highest use value (UV) was Aloe vera (0.28), while the highest family importance value (FIV) was Arecaceae (28.37). The highest informant consensus factor (ICF) was in the haircare treatment category of ameliorating split ends (1,00). There are six haircare treatment categories with the highest fidelity level (FL) (100%) and plant used, namely: maintaining black hair (Carica papaya), hair nourishing (Apium graveolens), hair softener (Elaeis guineensis and Hibiscus rosa-sinensis), dandruff elimination (Momordica charantia, Citrus aurantifolia, and Morinda citrifolia), hair lice elimination (Paraderris elliptica), and ameliorating split end (Bambusa vulgaris). The use of various species of medicinal plants by the Dayak Kantuk tribe for haircare adds to the knowledge of medicinal plants in West Kalimantan. Keywords: Dayak Kantuk; haircare; medicinal plants
Studi keanekaragaman jenis dalam Suku Oxalidaceae di Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Ganesha Reza Raihandhany; Muhammad Aditio Ramadian
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 10 No. 2: Oktober 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v10i2.6274

Abstract

Oxalidaceae atau suku belimbing-belimbingan merupakan suku yang berasal dari bangsa Oxalidales dan terdiri dari enam marga serta 775 jenis. Nama Oxalidaceae berasal dari Bahasa Yunani, oxic, artinya asam. Bagian tumbuhan pada suku ini terasa asam karena terdapat kandungan asam oksalat. Suku ini tersebar di seluruh dunia. Nilai ekonomi yang dihasilkan dari suku ini tergolong kecil, namun beberapa jenis berpotensi dan dapat dimanfaatkan sebagai tumbuhan pangan, obat, dan ornamental. Suku Oxalidaceae juga terdapat di Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Ganesha. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi keanekaragaman jenis dalam suku Oxalidaceae di ITB Kampus Ganesha dengan menggunakan metode jelajah. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan ditemukan enam jenis dari dua marga (Averrhoa dan Oxalis) dengan masing-masing bentuk hidup pohon dan herba secara berturut-turut. Keenam jenis dari suku Oxalidaceae yang ditemukan di ITB Kampus Ganesha antara lain Averrhoa bilimbi, Averrhoa carambola, Oxalis barrelieri, Oxalis corniculata, Oxalis debilis var. corymbosa, dan Oxalis intermedia. Kata kunci: Averrhoa;  ITB Ganesha; keanekaragaman; Oxalidaceae; Oxalis ABSTRACTStudy of diversity types in the Oxalidaceae tribe in Bandung Institute of Technology (ITB), Ganesha CampusOxalidaceae, or wood sorrel family is a family that classified under Oxalidales order and consist of six genera and 775 species. Oxalidaceae name comes from Old Greek language, oxic, meaning acid. The species contain oxalic acid that gives sour taste to the plant. It is widely distributed across the world. The economic value of the species in this family is rather low, but some has potential to become food, medicinal, and ornamental plants. This family also found in Institut Teknologi Bandung (ITB) Ganesha campus. This research aimed to do inventory of the family’s species in ITB Ganesha campus. The method used in this research was roaming/exploration method. The result showed that there were six species from two genera (Averrhoa and Oxalis) found in the campus. The two Averrhoa species were found to be tree species meanwhile four Oxalis species were herb species. All six species found were Averrhoa bilimbi, Averrhoa carambola, Oxalis barrelieri, Oxalis corniculata, Oxalis debilis var. corymbosa, and Oxalis intermedia. Keywords: Averrhoa; biodiversity; ITB Ganesha; Oxalidaceae; Oxalis  
Siklus hidup Spodoptera frugiperda J.E. Smith dengan pakan daun bayam cabut hijau dan daun bayam duri hijau di laboratorium Ichsan Luqmana Indra Putra; Aulia Wulanda
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 10 No. 2: Oktober 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v10i2.7928

Abstract

Spodoptera frugiperda merupakan hama baru di Indonesia yang menyerang tanaman jagung dan memiliki berbagai macam tanaman inang lain. Salah satu tanaman yang dimungkinkan menjadi inang dari hama ini di Indonesia adalah bayam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lama siklus hidup S. frugiperda yang diberikan pakan daun bayam cabut hijau dan daun bayam duri hijau. Metode penelitian ini yaitu permeliharaan S. furgiperda dengan sumber pakan yang berbeda dan mengamati beberapa parameter. Analisis statistik berupa inferensial, data yang dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk. Apabila data normal dilakukan uji homogenitas dengan dilanjutkan analisis ANNOVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa S. frugiperda pada pakan kontrol (daun jagung) memiliki lama siklus hidup 38 hari, daun bayam cabut hijau 40 hari, dan daun bayam duri hijau 42 hari. Panjang larva S. frugiperda paling panjang didapatan pada pakan daun bayam duri hijau, sedangkan diameter kepala tidak terdapat perbedaan antara ketiga pakan. Bobot larva paling berat didapatkan pada pakan daun bayam cabut hijau. Panjang dan berat pupa S. frugiperda paling tinggi didapatkan pada pakan daun bayam duri hijau. Jumlah jantan paling banyak dihasilkan pada pakan daun bayam cabut hijau dan daun bayam duri hijau, sedangkan jumlah betina paling banyak dihasilkan pakan kontrol. Jumlah telur paling banyak dihasilkan pada pakan kontrol dan paling sedikit pada bayam duri hijau. Pakan bayam cabut dan bayam duri daun bayam cabut hijau dan bayam duri hijau dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi S. frugiperda di laboratorium. Kata kunci: pakan alternatif; perkembangan; pertumbuhan; Spodoptera frugiperda ABSTRACTLife cycle of Spodoptera frugiperda J.E. Smith with green spinach and green thorn  spinach leaves in the laboratory. Spodoptera frugiperda is a new pest in Indonesia that attacks maize and has a wide variety of other host plants. One of the plants that is possible to host this pest in Indonesia is spinach. The purpose of this study was to determine the length of the life cycle of S. frugiperda which was fed with green spinach leaves and green thorn spinach leaves. This research method is the maintenance of S. furgiperda with different feed sources and observing several parameters. Statistical analysis in the form of inferential, the data was done by using the Shapiro-Wilk normality test. If the data is normal, the homogeneity test is carried out followed by ANNOVA analysis. The results showed that S. frugiperda in control diets (corn leaves) had a life cycle length of 38 days, green spinach leaves 40 days, and green thorn spinach leaves 42 days. Thelarvae of longestS. frugiperda were found in green thorn spinach leaf feed, while there was no difference in head diameter between the three diets. The heaviest larval weight was found in green pulled spinach feed. Thelength and weight ofpupa were S. frugiperda highestfound in green thorn spinach leaf feed. The highest number of males was produced in green spinach leaf and green spinach leaf feed, while the highest number of females was produced in control feed. The highest number of eggs was produced in the control feed and the least was the green thorn spinach. Spinach feed and spinach spines, green pulled spinach and green spiny spinach can be used as an alternative feed for S. frugiperda in the laboratory.  Keywords: alternative food; development; growth; Spodoptera frugiperda
Uji aktivitas antijamur ekstrak black garlic terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans Eva Agustina; Funsu Andiarna; Irul Hidayati; Vindi Fristy Kartika
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 10 No. 2: Oktober 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v10i2.6371

Abstract

Salah satu tanaman yang berfungsi sebagai  antijamur  adalah bawang  putih yang diinovasikan menjadi produk bawang yang berwarna hitam atau black garlic. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak black barlic terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Metoda dalam penelitian ini adalah bawang putih dipanaskan selama 35 hari pada suhu 65°C untuk mendapatkan black garlic. Black garlic diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut methanol. Uji aktivitas antibakteri berdasarkan uji zona hambat, konsentrasi hambat minimal (KHM) dan konsentrasi bunuh minimal (KBM). Uji zona hambat dengan variasi konsentrasi ekstrak 100%, 90% dan 80%. Konsentrasi dengan nilai zona hambat yang baik akan dilanjutkan ke uji KHM dan KBM dengan pengenceran ke 1 sampai 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona hambat ekstrak Black Garlic dengan konsentrasi 100% memiliki zona hambat paling bagus yaitu 3,15 mm. Uji KHM optimum diperoleh pada pengenceran ke-5 dengan nilai OD terendah 0,460. Uji KBM dari ekstrak black garlic pada pengenceran ke-5 menunjukkan koloni jamur C. albicans masih tumbuh, sehingga dapat dikatakan bahwa ekstrak black garlic hanya mampu menghambat pertumbuhan jamur namun tidak bisa membunuh jamur C. albicans. Kata kunci: antijamur; black garlic; maserasi  ABSTRACTActivity test of black garlic extract against the growth of the fungi Candida albicans. One plant that functions as an antifungal is garlic which is innovated into black garlic. The aim of this study is to indentify black garlic extract antifungal activity against of the Candida albicans. The method in this research was heated garlic for 35 days at temperature of 65°C. Black garlic was extracted by maceration method using methanol solvent. Antibacterial activity test based on inhibition zone test, minimal inhibitory concentration (MIC) and minimal kill concentration (MBC). Inhibition zone test with various extract concentrations of 100%, 90% and 80%. Concentrations with good inhibition zone values will be continued to the MIC and MBC tests with dilutions 1 to 5. The results showed that the inhibition zone of black garlic extract with a concentration of 100%, 3.15 mm. The optimum MIC test was obtained at the 5 dilution with the lowest OD value of absorbance 0.460. The MBC test of the black garlic extract at the 5 dilution showed C. albicans fungal colonies were still growing, so it can be said that the black garlic extract was only able to inhibit fungal growth but could not kill C. albicans fungi. Keywords: antifungal; black garlic; maceration