cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
ETTISAL Journal of Communication
ISSN : 25031880     EISSN : 25993240     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
ETTISAL Journal of Communication is published by University of Darussalam Gontor in coorporated with ASPIKOM, APJIKI and ISKI. It is published twice in a year every June and December. At March 2016 ETTISAL Journal of Communication registered with P-ISSN serial number 2503-1880, and at December 2017 also registered with E-ISSN serial number 2503-1880.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
STRATEGI KOMUNIKASI DOSEN DIGITAL IMMIGRANT DALAM PROSES MENGAJAR DARING PADA BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Rafiqah Yusna Siregar
ETTISAL : Journal of Communication Vol 6, No 2 (2021): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v6i2.6872

Abstract

Abstrak  Penelitian bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi dosen digital immigrant dalam proses mengajar daring pada bidang ilmu Sains dan Teknologi di Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode kualitatif interpretif serta desain penelitian studi kasus. Kebaruan dalam penelitian adalah berfokus pada kredibilitas generasi digital immigrant terhadap penggunaan media baru yang dikombinasikan ke dalam proses mengajar secara daring di bidang ilmu Sains dan Teknologi yang didominasi oleh matakuliah praktikum bersifat eksperimental yang dilakukan di laboraturium. Informan utama berasal dari bidang Sains dan Teknologi berbeda-beda dengan kelahiran sebelum tahun 1980. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang diterapkan dosen dalam proses mengajar daring pada bidang ilmu Sains dan Teknologi berdasarkan kredibilitas penguasaan teknologi yang berbeda beda. Kredibilitas penguasaan teknologi media baru oleh dosen seperti memanfaatkan aplikasi tambahan untuk mengunduh video pembelajaran dari situs internet, mampu mengedit foto dan video pembelajaran, menggunakan aplikasi untuk mendesain struktur bangunan di bidang arsitektur, membuat dan merancang website serta aplikasi berbasis android, aktif di media sosial untuk mendukung kegiatan mahasiswa dan terdapat satu orang informan yang hanya mampu menggunakan aplikasi pembelajaran daring Zoom dan Google Classroom. Adaptasi dalam mempelajari teknologi media baru dilakukan dengan cara otodidak dalam wujud mengikuti video tutorial melalui situs Youtube dan bertanya kepada pihak lain yang lebih paham akan teknologi. Terdapat dua orang dosen yang mengatakan bahwa sejak awal penerapan pembelajaran daring tidak mengalami hambatan dalam penggunaan teknologi media baru karena bidang ilmu mereka sangat erat kaitannya dengan penggunaan teknologi, yaitu ilmu komputer & teknologi informasi dan arsitektur.
Motif Penggunaan Media Informasi Politik oleh Anak Muda Tionghoa di Media Sosial Hasbullah Azis; Pawito Pawito; Agung Setyawan
ETTISAL : Journal of Communication Vol 5, No 1 (2020): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v5i1.3886

Abstract

Sejak diluncurkan ke publik Indonesia, internet terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam konteks penggunaannya mulai dari sistem komunikasi satu arah melalui Web 1.0 hingga sistem komunikasi interaktif yang dimediasi oleh Web 2.0 (media sosial). Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penunjang komunikasi, membangun relasi sosial, ataupun membentuk komunitas, namun juga sudah menjadi sumber pengetahuan dan ruang publik bagi terciptanya pertukaran dan pertarungan wacana politik yang demokratis dan partisipatif. Berfokus pada pendekatan kualitatif dengan menggunakan teori uses and gratifications, studi ini ingin meneliti dalam konteks akses informasi politik dimana sebuah studi mengungkapkan 4 (empat) motif utama untuk terkoneksi ke politik online: pengawasan, panduan, hiburan, dan manfaat sosial. Dengan melakukan survey terhadap 125 anak muda Tionghoa Kota Singkawang, penelitian ini mendapati bahwa motif manfaat sosial adalah motif yang paling berpengaruh terhadap penggunaan media sosial untuk informasi politik oleh anak muda Tionghoa Kota Singkawang dibandingkan dengan motif pengawasan, panduan, dan motif hiburan.AbstractSince it was launched to the Indonesian public, the internet has continued to experience significant developments in the context of its use ranging from one-way communication systems via Web 1.0 to interactive communication systems mediated by Web 2.0 (social media). Social media not only functions as an instrument to support communication, build social relations, or form communities, but also has become a source of knowledge and public space for the creation of exchanges and battles for democratic and participatory political discourse. Focusing on the uses and gratifications approach, this study wants to examine it in the context of access to political information where a study reveals 4 main motives for connecting to online politics: surveillance, guidance, entertainment, and social utility. By surveying 125 Singkawang City Chinese youths, this study found that the social utility motive was the most influential motives for the use of social media for political information by Singkawang City's Chinese youth compared to surveillance, guidance, and entertainment motives.
Manajemen Komunikasi Pemerintah Desa Terkait Fluktuasi Ekonomi Dalam Bantuan Covid-19 Nanda Laily Maulidin Fajrur; Nurudin Nurudin
ETTISAL : Journal of Communication Vol 6, No 2 (2021): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v6i2.6955

Abstract

Manajeman komunikasi pemerintah daerah juga warganya adalah salah satu  aspek yang menjadi perhatian terlebih dalam fase pandemi. Pandemi hadir membawa banyak perubahan yang cukup signifikan. Adanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika komunikasi yang terjadi, kendala yang dihadai, sampai pada solusi yang bisa diterapkan. Penelitian ini penting mengingat bagaimana masyarakat membutuhkan peran pemerintah utamanya dalam hal bantuan. Laporan terkait adanya ketimpangan dalam pemberian bantuan menjadi masalah yang memicu kecemburuan sosial. Penyebaran informasi terkait bantuan disampaikan kepada masing-masing perangkat disetiap dusun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal yang menjadi kendala adalah data rujukan menggunakan data statistik yang diperbarui setiap lima tahun sekali. Kondisi ekonomi masyarakat yang fluktuasi menjadi kesimpulan dari ketimpangan yang terjadi. Penggunaan data dari bagian Sub PKBD bisa dijadikan soluasi karena data diperbarui setiap bulan. Jenis penelitian kualitatif dengan teknik dokumentasi dan wawancara menggunakan metode interaktif. Subjek penelitian adalah pemerintah desa Tarik dengan informan petugas sub Pembina Keluarga Berencana Desa (PKBD) ditentukan melalui teknik purposive sampling. Reduksi data, penyajian data, pengambilan keputusan dan verifikasi adalah teknik analisis data yang digunakan
Analisis Empiris Akun Jasa Gesek Tunai pada Instagram Rifardhi Reza Saputra; Helmi Muharram; Diajeng Ciptaning Ayu; Astian Afif; Juan Jan; Nur Aini Rakhmawati
ETTISAL : Journal of Communication Vol 5, No 1 (2020): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v5i1.3692

Abstract

Abstrak Gesek tunai adalah aksi menarik sejumlah uang tunai menggunakan kartu kredit yang dimilikinya dengan cara berpura-pura membeli suatu barang. Namun, yang didapatkan adalah uang tunai. Banyak pelaku gesek tunai melakukan promosi aksinya di akun media sosial. Penelitian ini mengumpulkan akun Instagram yang melakukan promosi jasa gesek tunai. Setelah itu, dilakukan analisis akun jasa gesek tunai untuk mengetahui bagaimana kata-kata yang digunakan dalam promosi, bagaimana interaksi unggahan mereka dan pengikut akun mereka di Instagram. Setelah dilakukan analisis terhadap akun-akun media sosial, dapat disimpulkan bahwa akun jasa gesek tunai umumnya memiliki pengikut cukup banyak  dengan followers aktif dengan presentase pengikut aktif tidak terlalu tinggi (rata-rata 50%). Rata-rata jumlah post terbilang banyak, yaitu 344 namun engagement rate yang sangat rendah yaitu rata-rata 1.82%. Sebagai tambahan, kata kunci yang sering digunakan adalah ‘limit’, dan tagar yang sering digunakan adalah ‘#gesektunai’.Abstract Cash swipe is the act of retrieving some cash using a credit card that is owned by pretending to buy an item. Many cash swipe actors do their promotion on social media accounts. In this study, we collect Instagram accounts that promote cash swipe services. After that, we analyze the cash swipe service account to find out what the most frequently used words are in the promotion, how their posting interacts and the number of followers of their account on Instagram. After an analysis of social media accounts, it can be concluded that cash swipe service accounts generally have quite a large number of follower, where the number of active followers is  not too high (about 50%). The average number of posts is high (344 posts). However, the engagement rate is very low, about 1.82%. Also, the most frequently used keyword is ‘limit’, and the hashtag that is often used is  ‘#gesektunai’.
From The Tweets To Street: The Production of #GejayanMemanggil Movement Discourses and Frames Rizki Ramadhani Nasution
ETTISAL : Journal of Communication Vol 6, No 2 (2021): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v6i2.7013

Abstract

On September 23, 2019, the people of Yogyakarta gathered to respond to the call for protest echoed by People Movement Alliance (Aliansi Rakyat Bergerak) on social media through the hashtag #GejayanMemanggil (Gejayan Calling). At least 5000 people had joined in the protest and successfully circulated the demands to the public through social media, making the hashtag the largest social protest in Yogyakarta after the reformation era. Instead of explaining the importance of the role of social media on social movements, this article focuses on how movement discourse is shaped, collective identities and ideological enemies are constructed, demand is invoked, and calls to action are articulated. The qualitative method with social movement framing analysis was employed to examine the meaning of the discourse and framing of the people in the protest movement. The data in this article were retrieved from interviews with the protesters, online observation and desk research. The results indicate that the hashtag produced a set of frames, covering two main orders of discourse – the marginalization of civilians from the decision-making process and the distribution of material focusing merely on some elites. The author contends that the hashtag acts as an inclusive, flexible and leaderless movement.
Etika Pemberitaan Aksi Penolakan Penghitungan Suara Pada Pilpres 2019 Fathul Qorib; Muchammad Abdul Ghofur; Akhirul Aminulloh; Herru Prasetya Widodo
ETTISAL : Journal of Communication Vol 5, No 1 (2020): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v5i1.4291

Abstract

Kebebasan pers di Indonesia tidak menjamin pertanggungjawaban secara menyeluruh terhadap produk berita media massa. Banyak penelitian yang mengindikasikan berita media massa secara tidak proporsional membela kepentingannya sendiri. Media massa sebagai institusi yang memiliki akses terhadap informasi publik harus memiliki tanggung jawab untuk memberitakan peristiwa dengan benar dan cara-cara yang digunakannya juga benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui etika jurnalistik di Detik.com dan Republika.co.id pada pemberitaan Aksi 22 Mei 2019 yang memprotes hasil penghitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI pada Pemilihan Presiden 2019. Ditemukan 35 berita dari tanggal 21 Mei sampai 31 Mei yang kemudian dianalisis menggunakan Kode Etik Jurnalistik dengan indikator : menguji informasi, keberimbangan berita, tidak mencampuradukkan fakta dan opini yang menghakimi, dan asas parduga tidak bersalah. Hasilnya terdapat inkonsistensi pada kedua media dalam pemberitaan Aksi 22 Mei, terutama dalam keberimbangan berita. Detik melanggar hampir di semua indikator, sedangkan Republika melanggar pada poin menguji informasi dan keberimbangan berita. Pelanggaran yang dilakukan Detik dan Republika dapat memengaruhi persepsi publik terhadap peristiwa penolakan penghitungan suara pada Pilpres 2019. Jika persepsi masyarakat dibentuk oleh media massa berdasarkan kepentingan politik maka dikhawatirkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan berkurang. Penelitian ini sekaligus memberi tambahan data dan informasi bahwa media di Indonesia masih belum menerapkan kode etik jurnalistik secara menyeluruh pada pemberitaannya. Journalism freedom does not always relate to accountability for mass media products in Indonesia. Many studies indicate that mass media have tendencies to defend their benefits. The mass media that has access to public information must have the responsibility to preach the news correctly, and the methods it uses are also correct. This study aims to identify the journalism ethics in Detik.com and Republika.co.id toward their news related to ‘22 Mei 2019 Movement’. The movement itself aimed to protest the results of the election conducted by Indonesian General Election Commission (KPU) in the 2019 Presidential Election. This study found 35 news from 21st May to May 31st, which was then analyzed using Journalistic Code of Ethics by following indicators: testing information, balancing news, not mixing up facts and judgmental opinions, and the principle of presumption of innocence. The result showed the two media inconsistencies in reporting the 22 Mei 2019 Movement, especially in the sake of news balance. Detik.com violated almost all indicators, while Republika violated the points of testing information and the balance of news. Detik and Republika's violations could affect public perceptions of the rejection of vote counting events in the 2019 Presidential Election. If the mass media form public perceptions based on political interests, public trust in the government will decrease. This research also provides additional data and information that the media in Indonesia has not yet applied the journalistic code of ethics as a whole in its reporting.
Etnografi Virtual Kontroversi Perilaku Seksual Menyimpang Sebagai Nilai Jual Film Kucumbu Tubuh Indahku Tika Ramadani; Zainal Abidin Achmad; Yuli Candrasari; Sumardjijati Sumardjijati; Pardianto Pardianto
ETTISAL : Journal of Communication Vol 6, No 2 (2021): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v6i2.6818

Abstract

Kucumbu Tubuh Indahku (KTI) adalah film kontroversial karena mengandung adegan perilaku seksual menyimpang (homoseksual). Studi ini menelusuri pro dan kontra yang terjadi di Facebook dan Instagram pada komentar netizen akibat munculnya petisi online boikot film LGBT. Metode penelitian dalam studi ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi virtual. Peneliti terlibat secara partisipatif dalam dinamika perdebatan virtual dengan menggunakan akun media sosial pribadi. Pengumpulan data menggunakan penelusuran virtual dan wawancara online kepada delapan orang informan yang telah menonton film tersebut. Studi ini menemukan dua jenis petisi yang memboikot dan mendukung film KTI, dengan jumlah pendukung petisi boikot yang jauh lebih banyak dari penolak petisi boikot. Kubu pro boikot menilai bahwa tema perilaku seksual menyimpang sengaja dibuat untuk kepentingan festival, tidak memiliki nilai edukasi, sehingga tidak layak ditonton secara bebas. Kubu kontra boikot menilai bahwa film KTI harus dihargai sebagai karya seni tanpa perlu melihat konten LGBT. Kontroversi film KTI dengan konten perilaku seksual menyimpang menjadi nilai jual dengan mengabaikan dampak buruk bagi moralitas penonton.AbstractKucumbu Tubuh Indahku (KTI) is a controversial film because it contains scenes of deviant sexual behavior (homosexual). This study explores the pros and cons of Facebook and Instagram on netizen comments due to the emergence of online petitions boycotting LGBT films. The research method in this study is qualitative with a virtual ethnographic approach. Researchers are participative involved in the dynamics of virtual debates using personal social media accounts. Data collection uses virtual searches and online interviews with eight informants who have watched the film. This study found two types of petitions that boycotted and supported the KTI film, with a much higher number of supporters of the boycott petition than those who rejected the boycott petition. The pro-boycott group considered that the using theme of deviant sexual behavior in KTI was for the festival's sake, had no educational value, so it was not worthy of being watched freely. The counter-boycott group considered that audience should appreciate KTI film as a work of art without seeing LGBT content. Thus, the controversy over the KTI film with the content of deviant sexual behavior becomes a selling point by ignoring the negative impact on the audience's morality.
Jaringan Komunikasi Politik yang Dipilih Kepala Daerah dalam Proses Perumusan RAPBD Kota Banjarbaru Tahun 2019 Muhammad Ramadhani Muthahhari
ETTISAL : Journal of Communication Vol 5, No 1 (2020): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v5i1.3948

Abstract

Abstrak Kepala daerah pemenang kontestasi pilkada dari jalur independen yang sebenarnya tidak memiliki basis pendukung partai politik merupakan representasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai lembaga politik. Hal tersebut berimpliasi pada perbedaan pandangan antara pihak eksekutif yakni Kepala Daerah dengan pihak legislatif yakni anggota DPRD dalam berbagai pandangan politik dan kepentingan dalam proses perumusan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Fokus penelitian ini adalah mengenai jaringan komunikasi politik seorang Kepala Daerah ketika dihadapkan pada konstelasi “Pemerintahan Terbelah” dalam perumusan RAPBD di Kota Banjarbaru tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi politik Walikota sebagai pihak eksekutif dengan DPRD sebagai pihak legislatif dalam rangka pembahasan APBD cenderung lebih menampilkan pola komunikasi informal. Hal-hal yang berkaitan dengan negosiasi dan lobi praktis dilakukan secara informal antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah sebagai “perwakilan pemerintah daerah” dengan anggota dewan yang menangani anggaran. Walikota hanya melakukan komunikasi formal dengan anggota dewan ketika rapat paripurna pembahasan rancangan anggaran. Jaringan komunikasi informal yang digunakan oleh Walikota dapat dinyatakan berhasil karena mampu menghindari ‘konflik terbuka’ dengan anggota dewan yang memiliki berbagai kepentingan politik yang berbeda dan bisa mengganggu proses perumusan rancangan APBD. AbstractThe regional head, which is in fact an independent party who won the regional election without the supports of political parties, represents the Regional House of Representatives (DPRD) as a political institution. This leads to differences in political views and concerns between the executive, i.e. the regional head, and the legislative, i.e. the house, in designing the regional budget. This study used qualitative method with descriptive case study approach. The focus was the political communication network of the regional head, particularly when he encountered “Split Governance” in designing the 2019 RAPBD of  Banjarbaru. The results showed that the political communication of the mayor as the executive and the house as the legislative in designing the budget tended to be informal. The budgeting teams as “the representatives of regional government” practically conducted negotiations and lobies informally. The mayor only communicated formally with the house during the plenary sessions of budget design. It can be said that the informal communication network of the mayor works since it can avoid him from opening a conflict with the budgeting team of the house, who has different political interests, that can lead to the disruption of budget designing.
Strategi Komunikasi dalam Program Bekasi Smart City Aan Widodo; Diah Ayu Permatasari
ETTISAL : Journal of Communication Vol 5, No 1 (2020): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v5i1.3454

Abstract

Smart City di susun Walikota Bekasi sebagai konsep kota cerdas yang bisa membantu masyarakat setempat mengelola sumber daya yang secara efektif dan efisien meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tinggal di Wilayah Bekasi. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan strategi komunikasi pemerintah kota Bekasi dalam upaya menyukseskan Program Bekasi Smart City di Kota Bekasi. Konsep yang digunakan ialah program komunikasi dan strategi komunikasi. Metode yang digunakan yakni deskriptif kualitatif, dengan melakukan wawancara pada 5 informan, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi komunikasi pemerintah kota Bekasi menyukseskan program ialah melalui sosialisasi. Secara umum sosialisasi dilakukan (1) Pihak pemerintah kepada tim pelaksana, (2) Tim pelaksana kepada dinas terkait, (3) Dinas terkait kepada masyarakat. Meski upaya melalui strategi komunikasi sudah dilakukan, namun implementasi Program dinilai belum optimal. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman pihak terkait mengenai program Bekasi Smart City.
Digital Marketing: Metode Utama Komunikasi Pemasaran Atraksi Wisata Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Taufik R Talalu; Citra Fransisca Indah Lestari Dano Putri; Ibnuh Vanli Mokodompit
ETTISAL : Journal of Communication Vol 6, No 2 (2021): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v6i2.6619

Abstract

Abstrak Unit usaha “Kolam Renang Nagara” yang dikelola BUMDes “Go Inovasi” dibangun pada tahun 2019 dan mulai beroperasi sejak pertengahan tahun 2020 di tengah wabah Covid-19. Pembangunan atraksi wisata di Desa Nagara diharapkan mampu membangkitkan ekonomi masyarakat sekitar. Promosi dibutuhkan agar “Kolam Renang Nagara” dapat dikenal luas dan dikunjungi wisatawan, sehingga kebangkitan ekonomi masyarakat bisa terwujud. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan corak promosi dan kendala yang dihadapi BUMDes “Go Inovasi”. Data primer yang dikumpulkan melalui wawancara dan data sekunder yang bersumber dari internet, dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Digital marketing merupakan metode komunikasi pemasaran atraksi wisata. Kemudian, media sosial yang menjadi saluran promosi adalah Facebook dan Instagram, namun, promosi lebih aktif dilakukan melalui Facebook. Metode promosi dirumuskan dengan memperhatikan khalayak sasaran, tujuan, pesan, media, sumber pesan, dan biaya. Sedangkan masih terdapat keterbatasan akses jaringan internet, belum memadainya perlengkapan penunjang promosi, dan belum tersedianya sumber daya manusia yang menguasai promosi pariwisata merupakan kendala dalam penerapan digital marketing. Abstract  “Kolam Renang Nagara” as a business unit managed by BUMDes “Go Inovasi” was established in 2019 and opened for the public in the middle of 2020 or in the midst of the covid-19 pandemic. The development of tourist attraction in Nagara Village is expected to grow community’s economic. In addition, promotion is required so that “Kolam Renang Nagara” can be known widely and attract many tourists so that it eventually grows the community’s economic. This current research aims to describe promotion pattern and obstacles encountered by BUMDes Go Inovasi. The data used are primary data collected through interview and secondary data obtained from internet. The data are then analyzed by using stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The research findings indicate that: 1) digital marketing is the marketing communication method used in this tourist attraction; 2) the social media used as promotion channel are Facebook and Instagram, however, Facebook is the one that is frequently used; 3) the promotion method is formulated by paying attention to target, goal, message, media, source of message, and cost; and 4) the limited internet network access, inadequate supporting equipment for promotion, and unavailability of human resources who master tourism promotion are obstacles in the application of digital marketing.  

Page 10 of 18 | Total Record : 172