cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
ADA YANG MANIS DI TIMUR NUSANTARA? KOSMOPOLITANISME TANAMAN TEBU DALAM HISTORIOGRAFI INDONESIA Ridhoi, Ronal
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p164-182

Abstract

This paper tries to remind readers about the history of sugarcane in the archipelago and its transnationalization. This crop, which is actually endemic on Eastern Indonesia, was famous in the market world since Europeans "introduced" it to the archipelago, especially in Java. So, a simple questions, is the sugarcane originated from Indonesia? Where did it come from? To what extent this crop become cosmopolitan and what are the socio-ecological impacts in Indonesia? By using historical methods and a cosmopolitanism point of view, the author finds the fact that the mainland of Papua (Indonesia and New Guinea) had been domesticated sugarcane for thousand years Before Christ. Sugarcane was transnationalized to various parts of the world until it was brought back to the archipelago by European traders. Later, this crop became the largest funds contributor to the Dutch East Indies during the colonial period due to the massive development of the sugar industry in Java Tulisan ini mencoba untuk mengingatkan kembali para pembaca tentang sejarah tanaman tebu di Nusantara dan proses transnasionalisasinya. Tanaman yang sebenarnya endemik di Indonesia bagian Timur ini kemudian menjadi primadona di pasaran dunia sejak orang-orang Eropa “memperkenalkan” di Nusantara, khususnya di Jawa. Pertanyaan yang muncul, apakah tebu bukan tanaman asli Indonesia? Dari mana asal tanaman tersebut? Sejauh mana tanaman ini menjadi kosmopolit dan apa implikasinya terhadap kondisi sosio-ekologi di Indonesia? Dengan menggunakan metode sejarah dan sudut pandang kosmopolitanisme, penulis menemukan fakta bahwasanya daratan Papua (Indonesia dan New Guinea) sudah melakukan domestifikasi tebu sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Tebu mengalami transnasionalisasi ke berbagai belahan dunia sampai kemudian dibawa kembali ke Nusantara oleh para pedagang Eropa. Tanaman ini kemudian menjadi penyumbang devisa terbesar untuk negara Hindia Belanda masa kolonial karena perkembangan industri gula yang masif di Jawa.
INTERPRETASI SEJARAH LOKAL DAN PENGEMBANGAN JALUR WISATA DIGITAL BERBASIS QR CODE DI KAMPUNG KAUMAN YOGYAKARTA UNTUK SOLO TRAVELER Makhasi, Ghifari Yuristiadhi Masyhari; Fakhrurrifqi, Muhammad
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p14-31

Abstract

Kauman kampong is a religious servant residence of Yogyakarta Sultanate which was formed along with the establishment of the Yogyakarta Sultanate Great Mosque in 1773. Muhammadiyah was founded in this kampong in 1912 which provided its own historical dynamics for this kampong. Since 2010 in Kauman kampong, Yogyakarta, the historical tour package "Tour de Muhammadiyah" has been re-branding to "Muhammadiyah Heritage Trip" in 2016. After ten years of developing guided tours in Kauman kampong, as technology develops, it is necessary to develop a digital basis, among others using a QR code that guides tourists to explore Kauman kampong as a solo-traveler without having to depend on the existence of a tour guide. This article offers the novelty of digitizing the historical travel route in Kauman kampong in four themes of interpretations, namely the history of the religious servants' village, the history of the Islamic women's movement, the history of the four national heroes from Kauman, and the history of Muhammadiyah's journey as an organization. It is hoped that this novelty can inspire the development of other historical regions in Indonesia to digitize local history in each place. This descriptive qualitative research collects data with participatory observation, interview, and documentation.
KEARIFAN PANGERAN ASIR DI KAWEDANAN RUPIT RAWAS TAHUN 1922 – 1942 Susilo, Agus; Irwansyah, Yadri
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p141-153

Abstract

Due to the Dutch campaign, there were many of territories of the Sultanate Palembang which fell into colonial power. Subsequently, there was a change in the status of Palembang from an indigenous polity of sultanate into a residency under the Dutch colonial empire, which also had an impact to kawedanan region. One of these regions was Kawedanan Rupit Rawas. This region was led by a local elite, Prince Asir. This study aims to elaborate the wisdom of Prince Asir led the Kawedanan Rupit Rawas in 1922-1942. For the purpose of this study, the data were gathered from literature and oral history. Then, all the data were verified and criticized both internally and externally. Next, the data and facts were interpreted to seek conclusions. Lastly, the writing of historical narrative. There are some interesting findings in this research. First, Prince Asir was a local elite who was granted the title of prince by the Dutch colonial power. He was appointed by the Dutch to govern Kawedanan Rupit Rawas due to his charisma and willingness to work with the Dutch. Second, during his administration, Prince Asir used his position and power to improve people’s welfare. Dengan takluknya Kesultanan Palembang ke Belanda, banyak wilahnya yang jatuh ke tangan pemerintah colonial. Hal ini berdampak pada status Palembang dari kesultanan menjadi sebuah karesidenan di bawah pemerintah colonial. Konseskuensinya, terjadi perubahan pula di tingkat yang lebih rendah yaitu kawedanan. Salah satu kawedanan yang terdampak adalah Rupit Rawas yang dipimpin oleh seirang elit lokal bernama Pangeran Asir. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kearifan Pangeran Asir dalam memimpin Kawedanan Rupit Rawas pada 1922-1942. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui studi literatur dan sejarah lisan. Selanjutnya, data yang dikumpulkan melalui tahap verifikasi dan kritik eksternal dan internal untuk kemudian diinterpretasi. Tahap terakhir yaitu penulisan sejarah atau historiografi secara naratif.  Ada beberapa temuan yang menarik dalam penelitian ini. Pertama, Pangeran Asir adalah elit lokal yang diberi gelar pangeran oleh pemerintah colonial Belanda. Ia ditunjuk oleh pemerintah kolonial untuk memimpin Kawedanan Rupit Rawas karena memiliki kharisma dan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Kedua, selama masa pemerintahannya, Pangeran Asir menggunakan posisi dan kekuasaannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kata Kunci: Pangeran Asir, Rupit Rawas, elit lokal, pemerintah kolonial 
NILAI-NILAI ENTREPRENEUR PADA BUKU TEKS MATA PELAJARAN SEJARAH DAN IMPLEMENTASINYA DI SMA NEGERI 1 INDRALAYA Dhita, Aulia Novemy; Asmi, Adhitya Rol; Yunani, Yunani
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p62-73

Abstract

Historical events have a lot of treasure that contains learning values, one of which is entrepreneurial values. This value is very important in educating students, with historical material in textbooks such as Arrived Hindu-Buddha in Indonesia, Hindu-Buddha Kingdom in Indonesia, Islam Kingdom in Indonesia, and History of Colonial in Indonesia, which so far have only been memorized as events only. The great potential contained in the history textbook, becomes the background for analyzing the values of entrepreneurs in the use of history textbooks in Senior High School Number 1 in Indralaya. This study aims to get clear any material that contains the values of entrepreneurs in history textbooks at Senior High School Number 1 in Indralaya. The method used in this research is naturalistic qualitative research. Data collection is done by observation, documentation, and triangulation, while data analysis is done by reducing, describing data and drawing conclusions. The results showed that history textbooks contain entrepreneurial values that are independent, creative, risk-taking, action-oriented, leadership, hard work, concepts and skills Masa lalu menyimpan banyak harta karun yang mengandung nilai-nilai pembelajaran, salah satunya nilai-nilai entrepreneur. Penerapan nilai-nilai entrepreneur tidak hanya melalui kegiatan praktek wirausaha, tetapi dapat diterapkan melalui buku teks pelajaran, sehingga mengandung niai-nilai entrepreneur. Salah satunya buku teks mata pelajaran sejarah SMA. Sangat penting untuk mengetahui kandungan entrepreneur dalam buku teks mata pelajaran sejarah SMA dan penerapannya di sekolah. Potensi besar yang terdapat dalam buku teks sejarah tersebut, menjadi latar belakang untuk melakukan analisis nilai-nilai entrepreuner dalam penggunaan buku teks mata pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Indralaya.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan secara jelas materi apa saja yang mengandung nilai-nilai entrepreneur dalam buku teks mata pelajaran Sejarah  dan implementasinya di SMA Negeri 1 Indralaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif naturalistik. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Sedangkan analisis data dilakukan dengan mereduksi, menguraikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks sejarah mengandung nilai-nilai entrepreneur yaitu mandiri, kreatif, berani mengambil resiko, berorientasi pada tindakan, kepemimpinan, kerja keras, konsep dan skill/keterampilan. Implementasi nilai-nilai entrepreneur yang terkandung dalam buku teks mata pelajaran sejarah, dilakukan secara tidak langsung oleh guru sejarah, dalam berbagai kegiatan di sekolah. KATA KUNCINilai, Entrepreneur, Buku Teks, Sejarah
KAJIAN PEMIKIRAN SOEKARNO: PANCASILA DI ENDE 1934-1938 Samingan, Samingan
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p98-107

Abstract

Permasalahan pokok yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep pemikiran perjuangan Soekarno yang melahirkan butir-butir Pancasila sebelum pengasingannya di kota Ende? Bagaimana konsep pemikiran perjuangan Soekarno yang melahirkan butir-butir Pancasila di kota Ende? Dalam konsep tataran kehidupan Soekarno telah dicapai berbagai pengalaman yang serba kompleks, dari mulai jeruji besi hingga pada pembuangan. Dari berbagai pengalaman yang diperoleh Soekarno akhirnya membuat Indonesia Merdeka. Konsep Indonesia merdeka sebagaimana tertuang dalam Pancasila. Kota Ende juga merupakan bagian dari pada investasi Indonesia merdeka. Banyak pengetahuan dan pengalaman Soekarno selama mengalami internir di Ende membawakan hikmah yang besar terhadap konsep Pancasila. Heterogenitas penduduk dari berbagai etnis, suku, agama, bahasa, adat istiadat diperkenalkan semua pada diri Soekarno selama di Ende. Konsep seperti inilah akhir pada menuju perenungan yang mendalam lewat batas spiritualitas. Pohon sukun merupakan bagian dari pada saksi dimana Soekarno duduk merenung akan di Indonesia Merderka dimasa yang akan datang. The main problem examined in this study is how was the concept of Sukarno's struggle that gave birth to the points of Pancasila before his exile in the city of Ende? What was the concept of Sukarno's struggle that gave birth to the points of Pancasila in the city of Ende? In the concept of Sukarno's life level various complex experiences have been achieved, from the iron bars to the disposal. From the various experiences gained by Sukarno finally made Indonesia Independent. The concept of an independent Indonesia as stated in the Pancasila. The City of Ende is also part of Indonesia's independent investment. Much of Sukarno's knowledge and experience during his internment experience at Ende brought great wisdom to the Pancasila concept. The heterogeneity of the population from various ethnicities, ethnicities, religions, languages, and customs was all introduced to Sukarno himself while in Ende. Concepts like this end in the direction of deep reflection through the limits of spirituality. Breadfruit tree is part of the witness where Sukarno sat pondering about Indonesia in the future in the future.
REPRESENTASI SIMBOLIK: MAKNA RADIKALISME DALAM MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Fernando, Henky
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p106-124

Abstract

The Instagram social media platform is not only used as a forum for friendship, it turns out to be an arena that is so free for the public to carry out various expressions, as has been done by Instagram social media users in depicting and interpreting radicalism symbolically. The symbols chosen by Instagram social media users to represent radicalism in Indonesia certainly have very strong reasons. Therefore, this paper aims to describe the symbols of radicalism as well as to explain how Instagram social media users interpret radicalism. This paper uses a virtual ethnographic approach that is descriptive, qualitative, and uses observational methods in the data collection process. The findings in this paper indicate the use of state symbols, organizational attributes, and ideological symbols in representing radicalism in Indonesia. The use of these symbols refers to the three meanings of Instagram social media users, namely, the impact caused by the practice of dehumanizing radicalism, the emergence of radicalism is inseparable from the demoralization that occurs in society, radicalism has also caused anxiety and fear amidst the fear of crime. Based on the findings of this paper, this paper sees the importance of a comprehensive understanding of the symbolic representation of radicalism memes in the ideas of social media users on Instagram as a new effort to find solutions to the rampant practice of radicalism that uses social media to spread its movement in Indonesia. Platfrom media sosial Instagram tidak hanya dimanfaatkan sebagai wadah pertemanan semata, ternyata juga menjadi arena yang begitu bebas untuk khalayak dalam melakukan berbagai ekspresi, sebagaimana yang dilakukan oleh pengguna media sosial Instagram dalam menggambarkan dan memaknai radikalisme secara simbolik. Simbol-simbol yang dipilih oleh pengguna media sosial Instagram dalam mewakili radikalisme di Indonesia tentunya memiliki alasan yang sangat kuat. Oleh karena itu, tulisan ini selain bertujuan untuk mendeskripsikan simbol-simbol dari radikalisme, juga untuk menjelaskan bagaimana pengguna media sosial Instagram dalam memaknai radikalisme. Tulisan ini menggunakan pendekatan etnografi virtual bersifat deskriptif, kualitatif, dan menggunakan metode observasi dalam proses pengumpulan data. Adapun temuan dalam tulisan ini menunjukan adanya penggunnaan simbol-simbol negara, atribut organisasi, dan simbol-simbol ideologis dalam mewakili radikalisme di Indonesia. Penggunaan simbol-simbol tersebut merujuk pada tiga pemaknaan pengguna media sosial Instagram yaitu, dampak yang ditimbulkan oleh praktik radikalisme dehumanisasi, munculnya radikalisme tidak terlepas dari demoralisasi yang terjadi di masyarakat, radikalisme telah pula menyebabkan keresahan dan ketakutan ditengah-tengah masyarakat fear of crime. Berdasarkan hasil temuan dari tulisan ini, maka tulisan ini melihat pentingnya pemahaman yang komprehensif mengenai representasi simbolik meme radikalisme dalam gagasan pengguna media sosial Instagram sebagai upaya baru dalam menemukan solusi atas maraknya praktik radikalisme yang menfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan gerakannya di Indonesia.
DAZIBAO: SARANA PENGGALANGAN PENGAWAL MERAH PADA ERA REVOLUSI KEBUDAYAAN TIONGKOK (1966-1969) Muas, Tuty Nur Mutia Enoch; Noviyanti, Ervina
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p1-25

Abstract

Dazibao literally translated as big character poster. Since China dynasty era dazibao has functioned as a medium to deliver messages to the public, therefore it is usually posted on an open wall. The use of dazibao as a propaganda medium for Mao Zedong and the Chinese Communist Party has been widely discussed, but in the research process, specific data were found which show that revolutionary action and the number of Red Guards increased sharply in the short period of time after the dazibao of Nie Yuanzi from Beijing University and Mao Zedong were published. These findings aroused interest to dig deeper into dazibao’s strong elements as a Red Guards mobilizing medium during the Cultural Revolution which become the main analysis of this article. Historical approach which consist of heuristic, verification, interpretation, and historiography is used to reconstruct the strength of dazibao. The analysis focuses on the two dazibao mentioned above, along with Mao Zedong's influence and socio-political development at that time as inseparable factors. The result shows that writers background, main issue, form, and diction used are elements of the strength of Nie’s dazibao and supported by Mao’s dazibao caused dazibao to have a very significant function in raising the number of Red Guards during the Chinese Cultural Revolution 1966-1969.Dazibao secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti  poster dengan tulisan besar. Sejak era kedinastian Tiongkok telah dikenal dan digunakan sebagai sarana penyampai pesan kepada masyarakat, karena itu biasanya ditempel di dinding terbuka. Pemanfaatan dazibao sebagai sarana propaganda Mao Zedong dan Partai Komunis Tiongkok telah banyak dibahas, tapi dalam proses penelitian ditemukan data spesifik yang menunjukkan bahwa aksi revolusioner dan jumlah Pengawal Merah meningkat tajam dalam jangka waktu singkat setelah publikasi dazibao Nie Yuanzi dari Universitas Beijing dan dazibao Mao Zedong. Temuan tersebut membangkitkan ketertarikan untuk menggali lebih dalam tentang factor-faktor yang menjadi kekuatan dazibao sebagai sarana penggalangan Pengawal Merah pada Revolusi Kebudayaan tersebut. Hal itulah yang menjadi pokok bahasan artikel ini. Metode sejarah yang mencakup tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi digunakan untuk merekonstruksi kekuatan dazibao terutama yang tercermin dalam dazibao Nie dan Mao. Dalam pembahasan pengaruh Mao Zedong serta perkembangan sosial-politik saat itu menjadi bagian tak terpisahkan didalamnya.  Hasil analisis menunjukkan bahwa latar penulis, pokok bahasan, tampilan, dan pilihan kata/diksi merupakan faktor-faktor yang menjadi kekuatan dazibao Nie. Ditambah dengan dukungan dari dazibao yang dibuat Mao serta publikasi yang masif menyebabkan dazibao berfungsi sangat signifikan dalam penggalangan Pengawal Merah pada Revolusi Kebudayaan Tiongkok tahun 1966-1969.
PEMBERONTAKAN PRRI SUMATERA SELATAN TANPA DEWAN GARUDA Apriansyah, Diki Tri; Wargadalem, Farida Ratu
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p32-44

Abstract

Abstract: PRRI South Sumatra is part of the central PRRI. Initially, Barlian (Garuda Council) along with other leaders in Sumatra played a crucial role in demanding the central government to pay more attention to the regions. However, Barlian withdrew in the midst of its development, when it changed to insistence on the central government, until it become a PRRI rebellion. Under the leadership of Nawawi, PRRI South Sumatra rebellion extended until Bengkulu and MUBA. The purpose of this paper is to define how Barlian's attitude shifted to "neutral", and explain the PRRI rebellion process in South Sumatra. The methodology used was history, which consists of heuristic, data verification, interpretation, and writing. The results showed that Barlian's stance of choosing a peaceful path has resulted in his rejection of the form of violence taken by PRRI. PRRI in the South Sumatra region was part of the central PRRI rebellion under the leadership of Nawawi, with areas of struggle extending as far as Bengkulu and MUBA. The PRRI South Sumatra rebellion was difficult to be ceased by APRI, because it was based on guerrilla warfare. The rebellion ended along with the weakening and disappearance of PRRI, and other factors.  PRRI Sumsel adalah bagian dari PRRI pusat. Pada awalnya Barlian (Dewan Garuda) mempunyai peran penting bersama pemimpin lainnya di Sumatera, dalam menuntut pemerintah pusat agar lebih memperhatikan daerah. Namun, pada perkembangannya Barlian menarik diri, ketika berubah menjadi menuntut keras kepada pusat, hingga menjadi pemberontakan PRRI. PRRI Sumsel di bawah pimpinan Nawawi memberontak hingga Bengkulu dan MUBA. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana perubahan sikap Barlian menjadi “netral”, dan bagaimana proses pemberontakan PRRI di Sumsel. Metodenya adalah sejarah, yang terdiri heuristik, verifikasi data, interpretasi, dan penulisan. Hasilnya menunjukkan penolakan Barlian atas bentuk kekerasan yang diambil oleh PRRI, karena memilih jalan damai. PRRI di wilayah Sumsel merupakan bagian dari pemberontakan PRRI pusat di bawah pimpinan Nawawi, dengan wilayah perjuangan hingga Bengkulu dan MUBA. Pemberontakan PRRI Sumsel sulit diakhiri oleh APRI, karena berbasis perang gerilya. Pemberontakan berakhir seiring dengan lemah dan lenyapnya PRRI, dan faktor lainnya.
AMC MALANG - SETENGAH ABAD DALAM PERAN DAN AKTIVITAS BERKEGIATAN DI ALAM TERBUKA Samudro, Odok
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p74-90

Abstract

AMC Malang, founded on December 26, 1969, is an old community group of mountain climbers, still existing and having a reputation. In the age of half a century AMC continues to play a role and its outdoor activities. In 1971, AMC together with TMS-7 in BK-PG Malang held the second national exercise for nature lovers. In 1973, AMC together with 11 other groups formed the association of MAHAMERU Malang and a member became the vice chairman of the board. In 1975-1980, AMC joint to improve the expertise of its members in the parachuting training for the Para-Rescue SAR Malang coordinated by MAPAC. An AMC member was enrolled in the Parachuting Training Course of Brimob-Police in Depok, then became a MAPAC trainer and a skilled parachutiest of BPC. In 1976-1984, AMC played a role in pioneering soft-ball in Malang, winning the second Division of Perbasasi East Java. In 1985-2005 AMC activity inactive, in 2005-2019 AMC revived, consolidated and revitalized the organization. Develop pioneering activities in the core competences of nature lovers, cooperation and social-community service based on science and technology in the fields of geoscience, disaster mitigation, Navcom and education and training are very beneficial for the social community. AMC Malang didirikan 26 Desember 1969 adalah komunitas tua pendaki gunung, masih eksis dan mempunyai reputasi. Di  usia setengah abad AMC tetap berperan dan bergiat di alam terbuka. 1971, AMC bersama TMS-7 dalam BK-PG Malang menyelenggarakan Gladian Nasional 2 Pecinta Alam. 1973, AMC bersama 11 kelompok lain membentuk PPPA-MAHAMERU Malang dan seorang anggotanya menjadi wakil ketua pengurus. 1975-1980, AMC ikut meningkatkan keahlian anggotanya latihan terjun Para-Rescue SAR Malang-MAPAC. Seorang anggota AMC diikutkan pendidikan terjun di Brimob-Kepolisian Depok, menjadi pelatih MAPAC dan peterjun handal BPC. 1976-1984, AMC berperan mempelopori soft-ball di Malang, berprestasi juara Divisi 2 Perbasasi Jatim. 1985-2005 AMC non-aktif, 2005-2019 AMC bangkit, berkonsolidasi dan merevitalisasi organisasi. Mengembangkan kepeloporan core-kompetensi pecinta alam dan  pengabdian masyarakat berbasis IPTEK di geosain, mitigasi bencana dan diklat yang bermanfaat bagi masyarakat.
PERSPEKTIF ANTROPOLOGI DAN RELIGI PERKAWINAN SUKU NIAS Zaluchu, Sonny Eli
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p108-119

Abstract

Marriage in Nias included in a traditional marriage model heavily influenced by the Nias people's pre-Christian culture and the customary law called Fondrako. That is why the color of local wisdom in its implementation is evident, but it also becomes a syncretism whenever it intersects with religious teachings. The Nias marriage scheme is, and what kind of Fondrako customary law influences its implementation, and the theological reposition of religion in the traditional marriage system is the discussion and objectives of this paper.  The method used is a literature study with qualitative analysis, which utilizes primary sources about Nias from books and research results. Conclusion: the practice of marriage in Nias took place in three stages, namely the search for the bride and groom (famaigi ono alawe), engagement (fanunu manu), and the implementation of the marriage itself (falöwa). Cultural values in Nias weddings are still solid and practiced today. The church in Nias has succeeded in carrying out the spiritual inclusion of tribal religions into Christianity in marriage procedures. One of this research's contributions is the need for awareness for the new generation of Nias to realize the Nias marriage scheme in its philosophical values rather than rejecting it for complicated and burdensome procedural reasons. The Nias generation itself must defend this cultural wealth.Pernikahan di Nias termasuk dalam sebuah model perikahan adat yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan pra Kristen dan hukum adat yang disebut Fondrako. Itu sebabnya warna kearifan lokal di dalam penyelenggaraannya sangat kentara, tetapi juga menjadi sebuah sinkretisme manakala beririsan dengan ajaran agama. Bagaimana skema pernikahan Nias, dan seperti apa hukum adat Fondrako membawa pengaruh di dalam pelaksanaannya, serta reposisi teologis agama di dalam sistem adat pernikahan adalah pembahasan dan tujuan yang ingin dikemukakan di dalam paper ini. Metode yang dipergunakan adalah studi pustaka dengan analisis kualitatif, yang memanfaatkan sumber-sumber primer tentang Nias dari buku-buku dan hasil penelitian. Disimpulkan bahwa praktik pernikahan di Nias berlangsung di dalam tiga tahap yakni pencarian calon mempelai (famaigi ono alawe), pertunangan (fanunu manu) dan pelaksanaan pernikahan itu sendiri (falöwa). Nilai-nilai budaya di dalam pernikahan Nias masih sangat kental dan dipraktekkan hingga dewasa ini. Gereja di Nias berhasil pada batas-batas tertentu melakukan inklusi rohani dari agama suku kepada agama Kristen di dalam tata cara pernikahan. Salah satu kontribusi penelitian ini adalah, perlu kesadaran bagi generasi baru Nias untuk menyadari skema perkawinan Nias di dalam nilai filosofisnya daripada menolaknya karena alasan prosedural yang ribet dan membebani. Kekayaan budaya ini harus dipertahkan oleh generasi Nias sendiri.