cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AKULTURASI (JURNAL ILMIAH AGROBISNIS PERIKANAN)
ISSN : 23374195     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
NILAI TUKAR NELAYAN ALAT TANGKAP JUBI DI DESA BUHIAS PULAU MANTEHAGE KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Sukmawati Potabuga; Florence V. Longdong; Swenekhe S. Durand; Victoria E.N. Manoppo; Olvie V. Kotambunan; Christian R. Dien
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.47273

Abstract

Abstract This study aims to determine the Fishermen's Exchange Rate (NTN) for jubi fishing gear in Buhias Village, Mantehage Island, Wori District, North Minahasa Regency. The basic method used in this research is a case study. The types of data collected in this study are primary data and secondary data. Primary data was collected through interviews using questionnaires to respondents of jubi fishing gear fishermen. The sampling technique in this study was purposive sampling in which 15 samples were taken in stages with the following criteria: 1). Business has been more than 3 years. 2) Has its own fishing gear unit 3). Residents whose place of domicile is clear 4). Willing to be interviewed. Analysis of research data results are divided into two types, namely quantitative descriptive analysis and qualitative descriptive analysis. The results of the research on the total income of traditional fishermen using chart fishing gear can cover the subsistence needs (basic needs) of fishing families, where the NTN value is 1.76, while fishermen's income can cover the costs of fishing businesses using jubi fishing gear with NTN of 4.34. Observations and calculations in December 2022 and January 2023 did not experience an increase or decrease in NTN, with an NTN index value (iNTN) of 100. Keywords: NTN; jubi fishing gear; Buhias Village   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Nilai Tukar Nelayan (NTN) alat tangkap jubi di Desa Buhias Pulau Mantehage, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada responden nelayan alat tangkap jubi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling dimana sebanyak 15 sampel diambil secara bertahap dengan kriteria: 1). Lama usaha sudah lebih dari 3 tahun. 2) Memiliki unit alat tangkap sendiri 3). Penduduk yang jelas tempat domisili 4). Bersedia diwawancarai. Analisis data hasil penelitian dibedakan dalam dua macam, yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian pendapatan total nelayan tradisional menggunakan alat tangkap bagan dapat menutupi kebutuhan subsisten (kebutuhan dasar) keluarga nelayan, dimana nilai NTN diperoleh sebesar 1,76, sedangkan pendapatan nelayan dapat menutupi biaya usaha nelayan dengan menggunakan alat tangkap jubi dengan NTN sebesar 4.34. Pengamatan dan perhitungan pada bulan Desember 2022 dan bulan Januari 2023 tidak mengalami kenaikan dan penurunan NTN, dengan nilai indeks NTN (iNTN) sebesar 100. Kata kunci: NTN; alat tangkap jubi; Desa Buhias
PERSEPSI NELAYAN TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN ANAK DI DESA TINONGKO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Gilbert Demas Lengkong; Nurdin Jusuf; Steelma V. Rantung; Srie J. Sondakh; Grace O. Tambani; Christian R. Dien
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.47585

Abstract

Abstract Fishermen are a group of people living in coastal areas who live together and meet their needs from marine resources. Tinongko Village is one of four villages on Mantehage Island, Wori District, North Minahasa Regency. The condition of the village which is still in the coastal area causes most of the people to work as fishermen. Education is an activity to develop all aspects of human personality that lasts a lifetime, in other words, education does not only take place in the classroom, but also takes place outside the classroom. Education is not only formal, but also non-formal. Substantially, education is not limited to human intellectual development, meaning that it does not only increase intelligence, but also develops all aspects of human personality. The purpose of this study was to determine fishermen's perceptions of the education level of children in Tinongko Village, Wori District, North Minahasa Regency. The research method used is the survey method, the population in this study is the fishing community in Tinongko Village who already have children. The data collection method is done by sampling, the data used are secondary data and primary data. Based on the results of the study it was found that fishermen's knowledge of the education level of children in Tinongko Village based on the Guttman scale analysis resulted in 62.78% agreeing results, while those who disagreed and had obstacles in children's education obtained 37.22% results. There are 3 dimensions to see perceptions, namely the education dimension as knowledge to become a fisherman obtained an average score of 2.62%, which means that it is quite important, while the educational dimension for children's skills gets an average score of 3.47% which states that this perception is very important , and the dimensions of fishermen's perceptions of children's education get an average score of 2.07%. This perception states that education is quite important for the success of children in the future. Keywords: perception; children's education; fisherman community; Tinongko Village   Abstrak Nelayan adalah sekelompok masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir yang hidup bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya laut. Desa Tinongko merupakan salah satu dari empat desa yang ada di pulau Mantehage Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Keadaan desa yang letaknya masih berada di daerah pesisir menyebabkan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangan seluruh aspek kerpibadian manusia yang berjalan seumur hidup, dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi berlangsung pula di luar kelas. Pendidikan bukan hanya bersifat formal, tetapi juga yang nonformal. Secara substansial, pendidikan tidak terbatas pengembangan intelektual manusia, artinya tidak hanya meningkatkan kecerdasan, melainkan mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui persepsi nelayan terhadap tingkat pendidikan anak di Desa Tinongko Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat nelayan di Desa Tinongko yang sudah memiliki anak. Metode pengambilan data dilakukan dengan pengambilan sampel, data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan nelayan terhadap tingkat pendidikan anak di Desa Tinongko berdasarkan analisis skala Guttman di dapat hasil yang setuju 62,78% sedangkan kurang setuju dan memiliki kendala dalam pendidikan anak mendapatkan hasil 37,22%. Terdapat 3 dimensi untuk melihat persepsi yaitu dimensi pendidikan sebagai pengetahuan untuk menjadi nelayan diperoleh skor rata-rata 2,62% yang artinya menyatakan cukup penting, sedangkan dimensi pendidikan untuk keterampilan anak di dapat skor rataan 3,47% yang menyatakan bahwa persepsi ini sangat penting, dan dimensi persepsi nelayan terhadap pendidikan anak di dapat skor rataan 2,07% persepsi ini menyatakan bahwa pendidikan cukup penting untuk keberhasilan anak di masa depan. Kata kunci: persepsi; pendidikan anak; masyarakat nelayan; Desa Tinongko
ANALISIS YURIDIS TENTANG PENERAPAN NOODWEER EXCES TERHADAP PEMBELAAN DIRI DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF HAM Brigita Teselonika Tombokan; Dani Pinasang; Deizen Rompas
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.49915

Abstract

Abstract The aims of this study are: 1) to examine and analyze the application of sanctions for the perpetrators of murder in cases of noodweer excesses; and 2) knowing how to apply noodweer excesses in Indonesian criminal justice decisions. This research was conducted using qualitative research methods with a normative-juridical approach as seen from legislation or a conceptual approach using secondary data which will then be analyzed qualitatively. Obtaining the materials needed in the preparation of this thesis, the authors have taken several methods of research, such as: 1) library data collection; and 2) research data processing both deductively and inductively. Based on the description in the discussion chapter, the authors draw several conclusions, as follows: 1) it can be judged that from one example of a case that has occurred in Indonesia, which the author discusses in the discussion, namely Decision Number: 26/PID.B/2014/PN.ATB the application of sanctions for the crime of murder has no value of justice in the imposition of the decision. Because this is not in accordance with Article 49 paragraph 2 of the Criminal Code which states that anyone who commits a forced defense that goes beyond the limits to protect himself, property or other people cannot be sentenced to a crime; 2) Indonesia is a constitutional state where everything in the form of private and public is regulated by law, Indonesia is also not a country that adheres to the understanding of absolute human rights. There are always limitations that can be reduced or taken from every citizen, for example the freedom of a person who has been sentenced to a criminal sentence. Therefore, forced defense that exceeds the limit (Noodweer Exces) which results in death for people who try to attack the dignity and fundamental rights of others, is not something that can be categorized as a violation of human rights as long as the specified limits and principles have been fulfilled. Keywords: murder; crime; justice; noodweer excesses Abstrak Tujuan dari pada penelitian ini, yaitu: 1) mengkaji dan menganalisa penerapan sanksi pelaku pembunuhan dalam kasus tindak pidana noodweer exces; dan 2) mengetahui bagaimana penerapan noodweer exces dalam putusan peradilan pidana Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif yuridis yang dilihat dari perundang-undangan atau pendekatan konseptual dengan menggunakan data sekunder dan selanjutnya akan dianalisis secara kualitatif. Memperoleh bahan-bahan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah menempuh beberapa cara penelitian, seperti: 1) pengumpulan data kepustakaan; dan 2) pengolahan data penelitian baik secara deduktif dan induktif. Berdasarkan uraian dalam bab pembahasan, maka penulis menarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut: 1) dapat dinilai bahwa dari salah satu contoh kasus yang pernah terjadi di Indonesia, yang penulis bahas didalam pembahasan yakni Putusan Nomor: 26/PID.B/2014/PN.ATB penerapan sanksi tindak pidana pembunuhan tidak mempunyai nilai keadilan di dalam penjatuhan putusannya. Karena hal tersebut tidak sesuai dengan pasal 49 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa barang siapa melakukan pembelaan terpaksa yang melampaui batas untuk melindungi diri, harta benda, atau orang lain tidak dapat dijatuhi pidana; 2) Indonesia adalah negara hukum yang segala sesuatu yang berbentuk privat maupun publik diatur dengan hukum, Indonesia juga bukan negara yang menganut paham Hak Asasi Manusia yang bersifat Mutlak. Selalu ada batasan-batasan yang dapat dikurangi atau diambil dari setiap warga negara contohnya kemerdekaan dari seorang yang sudah dijatuhi putusan pidana. Maka dari itu pembelaan terpaksa yang melampaui batas (Noodweer Exces) yang mengakibatkan kematian bagi orang yang mencoba menyerang martabat dan hak fundamental orang lain, bukan sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia asalkan batasan dan prinsip-prinsip ditentukan telah terpenuhi. Kata kunci: pembunuhan; pidana; peradilan; noodweer exces
ANALISIS FINANSIAL USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI DESA JAYAKARSA KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Gloria Equilly Luciana Wullur; Jardie A. Andaki; Grace O. Tambani; Siti Suhaeni; Nurdin Jusuf; Steelma V. Rantung
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.51057

Abstract

Abstract The purpose of this study was to describe the business profile and analyze the financial condition of the seaweed cultivation business in Jayakarsa Village, West Likupang District. The population in this study are seaweed cultivators who are still active in Jayakarsa Village. The data collection method used in this study was purposive sampling, namely as many as 3 active seaweed cultivators. Data collection is done by observation or direct observation in the field. Primary data in this study is data obtained from direct observation in the research area by conducting interviews, observations and filling out questionnaires. Secondary data is data obtained from Jayakarsa Village data which is the place of research. Based on the results of the analysis carried out, it can be concluded that the seaweed cultivation business in Jayakarsa Village is feasible because it gets a net profit is Rp16,406,000 per year, with a positive Profit Rate (PR) value of 57%. Profitability value > 100% is 405%, and BCR value > 1 is 1.57. The value of sales results per year is Rp45,000,000 and production results are 9,000 Kg/year, all of which are above the sales BEP (sales BEP is Rp6,260,000) and Unit BEP (1,252 Kg Unit BEP) and the Payback Period is less than one year, which is only 4 months 26 days. Keywords: financial analysis; seaweed; Jayakarsa Village   Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk Mendeskripsikan profil usaha dan Menganalisis kondisi finansial usaha budidaya rumput laut di Desa Jayakarsa Kecamatan Likupang Barat. Populasi dalam penelitian ini ialah pembudidaya rumput laut yang masih aktif usahanya di Desa Jayakarsa. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah purposive sampling, yaitu sebanyak 3 pembudidaya rumput laut yang masih aktif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi atau pengamatan secara langsung di lapangan. Data primer dalam penelitian ini ialah data yang diperoleh dari pengamatan secara langsung di daerah penelitian dengan melakukan wawancara, observasi dan mengisi kuesioner. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari data Desa Jayakarsa yang menjadi tempat penelitian. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya rumput laut di Desa Jayakarsa ini layak dijalankan karena mendapatkan keuntungan bersih per tahun sebesar Rp16.406.000, dengan nilai Profit Rate (PR) positif sebesar 57%. Nilai Rentabilitas > 100% yaitu 405%, dan nilai BCR > 1 yaitu 1,57.  Nilai hasil penjualan per tahun sebesar Rp45.000.000 dan hasil produksi 9.000 Kg/tahun, semuanya diatas BEP penjualan (BEP penjualan Rp6.260.000) maupun BEP Satuan (BEP Satuan 1.252 Kg) dan Payback Periodnya adalah kurang dari satu tahun yaitu hanya 4 bulan 26 hari. Kata Kunci: analisis finansial, rumput laut, Desa Jayakarsa
ANALISIS SOSIAL-BUDAYA TIANG RAJA ‘RERONDORAN’ SEBAGAI UNGKAPAN BAHASA BERMAKNA PADA SIKLUS KEHIDUPAN MASYARAKAT TONSEA Mariam L.M. Pandean
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.51114

Abstract

Abstract The king’s Pillar 'rerondoran' as exist in Tonsean is a culture that embedded in out setting a household life. The king's Pillar 'rerondoran' is a pole that is used in the marriage ward 'sabua'. The installation of the king's pillar went through a ritual process which was loaded of cultural meaning. This article highlights about language expressions that possess cultural meaning in the human life cycle. This way of thinking departs from people's behavior which is determined by the concept of reality and reality is determined by language. Culture is a complex idea. It encompasses all human’s observation as social beings; hence language is included. In relation with language and culture, ethno linguistics is a branch of linguistics that examines the relationship between language and culture, especially observing how language is used in social groups. This article aims to reveal the cultural meaning attached to the king’s pillar 'rerondoran' in making the ward 'sabua' used by the Tonsean ethnic community in marital process. As a qualitative descriptive research, this method is capable of revealing and collecting valid and reliable data to be analyzed in order to answer the issues raised regarding the expression of the language which has the cultural meaning of the king’s pillar 'rerondoran'. This method will attempt to describe and interpret objects by using inductive approach. The stages as the application of this method are data collection, data analysis, and data presentation as the results of analysis (Sudaryanto, 2015). The results showed that the king's pillar 'rerondoran' is an important attribute to determine the process of the ward 'sabua' installation, because it is the main pillar that support for the establishment of the marriage ward 'sabua'. The progress in modern era has resulted in culture shifting. It is the primary argument in conducting this article restore Tonsean to the king’s pillar 'rerondoran' culture as a marker of the life cycle of the Tonsean. Keywords: language, culture, ‘tiang raja’, expression, life cycle, society Abstrak Tiang raja ‘rerondoran’ dalam kehidupan masyarakat Tonsea merupakan budaya yang tertanam dalam mengawali kehidupan berumah tangga. Tiang raja ‘rerondoran’ adalah tiang yang ditanam di bangsal ‘sabua’ pernikahan. Penancapan tiang raja melewati proses ritual yang sarat makna budaya. Tulisan ini menyoroti tentang ungkapan bahasa yang memiliki makna budaya dalam siklus kehidupan manusia. Pemikiran ini berangkat dari prilaku masyarakat yang ditentukan oleh konsep mengenai kenyataan dan kenyataan ditentukan oleh bahasa. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, mencakup semua yang diamati manusia sebagai mahluk sosial, hal ini menunjukkan bahwa bahasa termasuk di dalamnya. Terkait bahasa dan budaya, etnolinguistik adalah salah satu cabang linguistik yang menelaah hubungan bahasa dan budaya terutama mengamati bagaimana bahasa digunakan dalam kelompok masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna budaya yang melekat dalam tiang raja ‘rerondoran’ dalam pembuatan bangsal ‘sabua’yang digunakan masyarakat etnis Tonsea dalam perkawinan. Sebagai penelitian deskriptif kualitatif metode ini dipandang mampu mengungkap dan menjaring data yang valid, terandal untuk dianalisis guna menjawab masalah yang diangkat terkait ungkapan bahasa bermakna budaya tiang raja ‘rerondoran’. Metode ini akan berusaha mendeskripsikan, memerikan dan menginterpretasi objek dengan pendekatan induktif. Penerapan metode ini meliputi tiga tahapan yaitu penyediaan data, analisis, dan penyajian hasil analisis (Sudaryanto, 2015). Hasil penelitian ini menunjukkan tiang raja ‘rerondoran’ merupakan atribut penentu yang harus dipakai dalam proses membangun bangsal ‘sabua’, karena merupakan penyangga utama berdirinya bangsal ‘sabua’ pernikahan. Kemajuan zaman berakibat bergesernya budaya, hal inilah yang mendasari diangkatnya penelitian ini untuk membawa kembali masyarakat Tonsea pada budaya tiang raja ‘rerondoran’ sebagai penanda siklus kehidupan masyarakat Tonsea. Kata kunci: bahasa, budaya, tiang raja, ungkapan, siklus kehidupan, masyarakat
KONTRIBUSI PEKERJAAN SAMPINGAN NELAYAN PANCING ULUR TERHADAP PEREKONOMIAN KELUARGA DI DESA TATELI WERU KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA Feicy Sentya Bagunda; Victoria E.N. Manoppo; Christian R. Dien; Steelma V. Rantung; Nurdin Jusuf; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.51172

Abstract

Abtrack The research objectives are: to analyze the extent to which fishermen's side jobs contribute to the family economy in Tateli Weru Village, Mandolang District. Benefits of Research: Adding information and knowledge about fishermen's side jobs. The basic method used in this research is survey. The population in this study were hand line fishermen in Tateli Weru Village, totaling 45 people. The data collected consists of primary data and secondary data. Data collection was carried out through observation, interviews, questionnaires and documentation, both photo documentation and retrieval of written documents from relevant agencies. The data obtained were analyzed based on quantitative descriptive analysis and qualitative descriptive analysis. The results showed that the large contribution of side jobs to the income of hand line fishermen, both farm laborers (38.57%), construction workers (59.63%), and motorcycle taxi drivers (88.17%), is not more than half of the total fishermen's income. The suggestion from this research is that the contribution of side jobs can be greater or equal to the main job and fishermen should also be more diligent or more focused on developing and increasing income from this side job. Keywords: contribution; side job; fisherman; Tateli Weru Abstrak Tujuan penelitian yaitu: untuk menganalisis sejauh mana kontribusi pekerjaan sampingan nelayan terhadap perekonomian keluarga di Desa Tateli Weru Kecamatan Mandolang. Manfaat Penelitian: Menambah informasi dan pengetahuan tentang pekerjaan sampingan nelayan. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei. Populasi dalam penelitian ini adalah nelayan pancing ulur yang berada di Desa Tateli Weru yang berjumlah 45 orang. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, kuisioner dan dokumentasi baik itu dokumentasi foto maupun pengambilan dokumen tertulis pada instansi terkait. Data yang diperoleh di analisis berdasarkan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya kontribusi pekerjaan sampingan terhadap pendapatan nelayan pancing ulur baik buruh tani (38,57%), buruh bangunan (59,63%), dan tukang ojek (88,17%), tidak lebih dari separuh total keseluruhan pendapatan nelayan. Saran dari penelitian ini adalah agar supaya kotribusi pekerjaan sampingan bisa lebih besar atau setara dengan pekerjaan utama dan sebaiknya para nelayan juga bisa lebih rajin atau lebih fokus lagi dalam pengembangan dan peningkatan pendapatan pada pekerjaan sampingan tersebut. Kata kunci : kontribusi; pekerjaan sampingan; nelayan; Tateli Weru
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN NELAYAN TERHADAP LAYANAN FASILITAS PELABUHAN SARANA PERIKANAN SAMUDERA (PPS) BITUNG DI KOTA BITUNG Meilanny Juneta Nazar; Siti Suhaeni; Steelma V. Rantung; Swenekhe S. Durand; Srie J. Sondakh; Djuwita R.R. Aling
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.51224

Abstract

Abstract Bitung Ocean Fishery Port is one of the centers of capture fisheries activity in Bitung City. The level of user satisfaction is one of the determining factors for the success and sustainability of Bitung Ocean Fishery Port in carrying out its duties and functions to provide the facilities and services needed by fishermen. Based on the background above, it can be formulated that the existing problem is how the level of user satisfaction, namely fishermen, with service facilities, which in this case is limited to the facilities provided by PPS Bitung. The purpose of this research is to: identify what facilities are in Bitung Ocean Fishery Port and analyze the level of user satisfaction, in this case fishermen, with the service facilities provided by Bitung Ocean Fishery Port. The method used in this research is a case study. The population in this study were fishing boat captains who anchored and leaned on Bitung PPS. Data collection used the Sampling method, to determine the size of the sample to be studied using the Slovin method and a sample of 25 skippers was obtained. The data collected in this study are primary data and secondary data. Data analysis used in this research is descriptive qualitative analysis which is quantified. The first objective was achieved by direct observation at Bitung Ocean Fishery Port to identify existing facilities at Bitung Ocean Fishery Port. The second objective is to analyze the level of satisfaction of fishermen using Likert analysis. Based on the results of the Likert scale analysis for the satisfaction level of fishermen with basic facilities, an average value of 4.09 was obtained, functional facilities also obtained an average value of 4.08 and supporting facilities obtained an average value of 4.06. These results are averaged to 4.07 for all existing facilities in Bitung Ocean Fishery Port. It can be concluded that all users feel very satisfied in using all the facilities available at Bitung Ocean Fishery Port.  Keywords: perception; facilities; Bitung Ocean Fishery Port   Abstark Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung merupakan salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap di Kota Bitung. Tingkat kepuasan pengguna merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dan keberlanjutan PPS Bitung dalam melakukan tugas dan fungsinya untuk menyediakan fasilitas dan layanan yang diperlukan nelayan. Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang ada adalah bagaimana tingkat kepuasan pengguna yaitu nelayan terhadap layanan fasilitas yang dalam hal ini dibatasi pada fasilitas sarana saja yang disediakan oleh PPS Bitung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: mengidentifikasi fasilitas sarana apa saja yang ada di PPS Bitung dan menganalisis tingkat kepuasan pengguna dalam hal ini adalah nelayan, terhadap layanan fasilitas sarana yang disediakan oleh PPS Bitung Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Populasi dalam penelitian ini adalah nakhoda kapal perikanan yang berlabuh dan bersandar di PPS Bitung. Pengambilan data menggunakan metode Sampling, untuk menentukan besarnya sampel yang akan diteliti menggunakan metode Slovin dan diperoleh sampel sebesar 25 orang Nakhoda. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yang dikuantitatifkan. Tujuan pertama dicapai dengan observasi langsung di PPS Bitung untuk mengidentifikasi fasilitas sarana yang ada di PPS Bitung. Tujuan kedua untuk menganalisis tingkat kepuasan nelayan digunakan analisis Likert. Berdasarkan hasil analisis skala likert untuk tingkat kepuasan nelayan terhadap fasilitas pokok memperoleh nilai Rata-rata sebesar 4,09, juga fasilitas fungsional memperoleh nilai Rata-rata sebesar 4,08 dan fasilitas penunjang memperoleh nilai Rata-rata sebesar 4,06. Hasil tersebut kalau di rata-ratakan menjadi 4,07 untuk semua fasilitas sarana yang ada di PPS Bitung. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semua pengguna merasa sangat puas dalam menggunakan semua fasilitas sarana yang ada di PPS Bitung. Kata Kunci: persepsi; sarana; PPS Bitung
ANALISIS KELAYAKAN USAHA IKAN TERI PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PERUSAHAN X DI KOTA SORONG Ledyana V. Kocu; Roger R. Tabalessy; Meilani Manurung
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.51440

Abstract

Abstract The COVID-19 pandemic has impacted various sectors, including the fisheries sector. The impact received by the fisheries sector, in general, is experiencing obstacles in running a business. Therefore, we have researched to analyze the feasibility of the anchovy business at company X in Sorong City during the COVID-19 pandemic. The method used in this research is purposive sampling method and data analysis using financial analysis. The research found that during the COVID-19 pandemic, this anchovy business was still profitable, where the operating profit value could reach Rp. 584,040,000; net profit Rp. 551,706,515; Profit rate can reach 48.9%; benefit cost ratio can reach 1.49; profitability can reach 1. 107%; Break Even point can reach Rp. 95,098,485.29, and the payback period can reach 0.0904. Thus, in the COVID-19 pandemic, the anchovy business in Sorong City is very feasible to continue and develop. Keyword: covid-19;  anchovy;  business feasibility;  Sorong City   Abstrak Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak pada berbagai sektor, termasuk sektor perikanan. Dampak yang diterima oleh sektor perikanan pada umumnya adalah mengalami hambatan dalam menjalankan usaha. Oleh karena itu, kami telah melakukan penelitian untuk menganalisis kelayakan usaha ikan teri pada perusahaan X di Kota Sorong pada masa pandemi COVID-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling dan analisis data menggunakan analisis finansial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama masa pandemi COVID-19, usaha ikan teri ini masih menguntungkan, dimana nilai operating provit dapat mencapai Rp. 584.040.000; net profit Rp. 551.706.515; Profit rate dapat mencapai 48,9%; benefit cost ratio dapat mencapai 1,49; profitabilitas dapat mencapai 1.107%; Break Even point dapat mencapai Rp. 95.098.485,29; dan payback period dapat mencapai 0,0904. Dengan demikian, dalam kondisi pandemi COVID-19, usaha ikan teri di Kota Sorong sangat layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan. Kata kunci: covid-19; ikan teri; kelayakan usaha; Kota Sorong
ANALISIS FINANSIAL USAHA PANCING ULUR DI DESA MANTEHAGE BUHIAS KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Christianzen Veron Imanuel Andaki; Jeannette F. Pangemanan; Grace O. Tambani; Swenekhe S. Durand; Victoria E.N. Manoppo; Steelma V. Rantung
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.51534

Abstract

Abstract Mantehage Buhias Village has an area of ​​631 Ha where most of it is plantation land of 127.5 Ha. The boundaries of the village area are: Mantehage Tangkasi Village to the North, Mantehage Tinongko Village to the South, Sea to the East, Mantehage Bango Village to the West. The purpose of this study was to determine the cost structure of the hand line business and to find out the financial analysis of the hand line business in Buhias Village. The method used in this study is the survey method. The survey research method is a method in which data collection can use questionnaires and interviews obtained from a census in the form of people, which of these data will be able to represent a population of fishermen in Buhias Village. The population in this study were hand line fishermen in Buhias Village. The analysis used in this research is descriptive quantitative and qualitative descriptive analysis. Quantitative analysis is to provide a discussion using calculations. Quantitative descriptive analysis was carried out to analyze hand line business in Buhias village, Wori sub-district, North Minahasa regency Data analysis was carried out quantitatively through the data processing stage in the form of tables and descriptive data interpretation. The financial analysis used is to calculate the Operating Profit, Net Profit, Profit Rate, Benefit Cost Ratio, Profitability, Break Even Point and Payback Period Based on the results of the analysis carried out, it can be concluded that the hand line business in Mantehage Buhias Village is feasible to run, because it gets a net profit of Rp18,543,333 with an Operating Profit (OP) value of Rp20,113,333 and the Profit Rate (PR) is 129%. Profitability value > 100%, namely 220%, BCR value > 1, namely 2.29, BEP Sales value from the hand line business is Rp2,572,469, as well as Unit BEP 85.75 and the Payback Period is 5.28 months or 5 months 10 days. Keywords: financial analysis; long-line fishing business; Mantehage Buhias Village   Abstrak Desa Mantehage Buhias memiliki luas wilayah sebesar 631 Ha dimana sebagian besar di antaranya berupa lahan perkebunan sebesar 127,5 Ha. Batas-batas wilayah desa yakni: Sebelah Utara dengan Desa Mantehage Tangkasi, Sebelah Selatan dengan Desa Mantehage Tinongko, Sebelah Timur dengan Laut, Sebelah Barat dengan Desa Mantehage Bango. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui struktur biaya dari usaha pancing ulur dan mengetahui analisis finansial usaha pancing ulur di Desa Buhias. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, Metode penelitian survei adalah suatu metode dimana dalam pengumpulan datanya bisa menggunakan kuesioner dan wawancara yang didapat dari sensus berupa orang, yang mana dari data tersebut akan dapat mewakili suatu populasi nelayan yang ada di Desa Buhias. Populasi dalam penelitian ini adalah nelayan pancing ulur yang ada di Desa Buhias. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif adalah untuk memberikan bahasan dengan menggunakan perhitungan. Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan untuk menganalisis usaha pancing ulur di desa Buhias kecamatan wori kabupaten minahasa utara Analisis data yang dilakukan secara kuantitatif melalui tahap pengolahan data berupa tabel dan interpretasi data secara deskriptif. Analisis finansial yang digunakan yaitu dengan menghitung Operating Profit, Net Profit, Profit Rate, Benefit Cost Ratio, Rentabilitas, Break Even Point dan Payback Period Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa usaha pancing ulur di Desa Mantehage Buhias layak untuk dijalankan, karena mendapatkan keuntungan bersih pertahun sebesar Rp18.543.333 dengan nilai Operating Profitnya (OP) adalah Rp20.113.333 dan nilai Profit Rate (PR) yaitu 129%. Nilai Rentabilitas > 100% yaitu 220%, nilai BCR > 1 yaitu 2,29, nilai BEP Penjualan dari hasil usaha pancing ulur sebesar Rp2.572.469, maupun BEP Satuan 85,75 dan Payback Periodnya 5,28 bulan atau 5 bulan 10 hari. Kata Kunci: analisis finansial; usaha pancing ulur; Desa Mantehage Buhias
KONTRIBUSI USAHA PENANGKAPAN IKAN DENGAN ALAT TANGKAP PANCING ULUR TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA NELAYAN DI PULAU MANTEHAGE DESA TINONGKO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Anjas A. Gagola; Steelma V. Rantung; Jeannette F. Pangemanan; Nurdin Jusuf; Jardie A. Andaki; Christian R. Dien
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i2.51536

Abstract

Abstract Tinongko Village is one of four villages on Mantehage Island, Wori District, North Minahasa Regency. The condition of the village which is located in a coastal area causes many people to have a livelihood as fishermen, one of which is hand line fishing. The level of fishermen's income is largely determined by the catch where the number of catches is also reflected in the amount of income received. This income, which depends on erratic catches, raises questions about how much the hand line fishermen's catch contributes to meeting their daily needs. The purpose of this study is to find out how much the contribution of capture fisheries products using hand line fishing gear to the income of fishermen households in Tinongko Village. The method used in this research is survey method. The population in this study were all hand line fishermen who had families in Tinongko Village. The data collection method used is the census method, which is a complete data collection procedure for all population units. The data collected are primary data and secondary data. Primary data is collected through observation and interviews using a list of questions asked directly. Secondary data was collected through existing data at the village administration office, or citing existing research journals. Data analysis used in this research is descriptive quantitative and qualitative. The purpose of this study was achieved by analyzing the calculation of fishermen's household income and analyzing the contribution of income from capture fisheries. Based on the results of the study it can be concluded that the net income of hand line fishermen in Tinongko Village per year is Rp40,911,600. The income of fishermen families in Tinongko Village is Rp45,378,267 per year, sourced from the main livelihood, namely as fishermen using hand line fishing gear plus fishery income outside of hand line fishing gear and income outside fisheries. The contribution of handline catches to fishermen's household income is 90.16%, this means that work as handline fishing gear fishermen is the main job, but income from outside handline fishing gear also affects fishermen's families in meeting their daily needs.   Keywords: contribution; family income; long fishing line Abstrak Desa Tinongko merupakan salah satu dari empat desa yang ada di pulau Mantehage Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Keadaan desa yang letaknya di daerah pesisir menyebabkan banyak masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan, salah satunya nelayan tangkap pancing ulur. Tingkat pendapatan nelayan sangat ditentukan oleh hasil tangkapannya dimana banyaknya tangkapan tercermin pula dari besarnya pendapatan yang diterima. Pendapatan yang begantung pada hasil tangkapan yang tidak menentu ini menimbulkan pertanyaan mengenai berapa kontribusi hasil tangkapan nelayan pancing ulur dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui berapa besar kontribusi hasil perikanan tangkap menggunakan alat tangkap pancing ulur terhadap pendapatan rumah tangga nelayan yang ada di Desa Tinongko. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nelayan pancing ulur yang sudah berkeluarga yang ada di Desa Tinongko. Metode pengambilan data yang dilakukan adalah menggunakan metode sensus, yaitu prosedur pendataan lengkap terhadap semua unit populasi. Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder, data primer dikumpulkan melalui hasil observasi dan wawancara menggunakan daftar pertanyaan yang ditanyakan langsung. Data sekunder dikumpulkan melalui data yang sudah ada di kantor pemerintahaan desa, atau mengutip dari jurnal-jurnal penelitian terkait yang sudah ada. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Tujuan penelitian ini dicapai dengan analisis perhitungan pendapatan rumah tangga nelayan dan analisis kontribusi hasil pendapatan dari perikanan tangkap. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendapatan bersih nelayan alat tangkap pancing ulur di Desa Tinongko per tahun adalah sebesar Rp40.911.600. Pendapatan keluarga nelayan di Desa Tinongko sebesar Rp45.378.267 per tahun, bersumber dari mata pencaharian utama yaitu sebagai nelayan menggunakan alat tangkap pancing ulur ditambah dengan penghasilan perikanan diluar alat tangkap pancing ulur dan penghasilan diluar perikanan. Kontribusi dari hasil tangkapan pancing ulur terhadap pendapatan rumah tangga nelayan yaitu 90,16% hal ini berarti bahwa pekerjaan sebagai nelayan alat tangkap pancing ulur merupakan pekerjaan utama, namun pendapatan dari luar alat tangkap pancing ulur juga berpengaruh bagi keluarga nelayan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kata kunci: kontribusi; pendapatan keluarga; pancing ulur