cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Impaksi gigi molar tiga rahang bawah dan sefalgiaMandibular third molar impaction and cephalgia Fitri, Amalia Meisya; Kasim, Alwin; Yuza, Abel Tasman
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.092 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18691

Abstract

Pendahuluan: Impaksi yang sering terjadi adalah pada gigi molar tiga pada rahang bawah. Penderita biasanya mengeluhkan sefalgia yang dirasakan bersamaan dengan erupsi molar tiga tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besar prevalensi impaksi molar tiga rahang bawah yang disertai sefalgia dan seberapa besar frekuensi sefalgia yang terjadi berdasarkan posisi impaksi klasifikasi Pell dan Gregory serta klasifikasi Winter. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif terhadap mahasiswa FKG Univesitas Padjadjaran angkatan 2010 yang masuk dalam kriteria inklusi akan dilakukan foto panoramik untuk melihat klasifikasi impaksi. Sampel kemudian diminta untuk mengisi kuesioner penelitian. Hasil: Hasil penelitian menunjukan dari 100 orang sampel yang mengeluhkan impaksi sebanyak 58 orang, tetapi hanya 15 orang mahasiswa saja yang memasuki kriteria inklusi yaitu murni mengalami sefalgia yang berasal dari gigi impaksi. Simpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah prevalensi impaksi molar tiga rahang bawah yang disertai sefalgia sebanyak 25,86%. Posisi A merupakan posisi pada klasifikasi Pell dan Gregory yang paling banyak mengakibatkan sefalgia. Berdasarkan klasifikasi Winter, impaksi horizontal merupakan yang paling banyak mengakibatkan sefalgia. ABSTRACTIntroduction: Frequent impaction is in the lower third molars. Patients usually complain of cephalgia which is felt along with the eruption of the third molar. The purpose of this study was to determine the prevalence of lower third molar impaction accompanied by cephalgia and how much the frequency of cephalgia occurred based on Pell and Gregory classification impaction position and Winter classification. Methods: The study used descriptive method for FKG students of Padjadjaran University 2010 class which included in the inclusion criteria, panoramic photos were taken to see the classification of impactions. The sample was then asked to fill out the research questionnaire. Results: The results showed that out of 100 samples who complained of impaction as many as 58 people, but only 15 students who entered the inclusion criteria were purely experiencing cephalgia from impacted teeth. Conclusion: The conclusion of this study is the prevalence of lower third molar impaction accompanied by cephalgia as much as 25.86%. Position A is the position in the classification of Pell and Gregory which most often results in cephalgia. Based on Winters classification, horizontal impaction is the most common cause of cephalgia.Keywords: Impaction, cephalgia.
Pengetahuan dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu yang memiliki anak usia bawah tiga tahunKnowledge and practice of oral health maintenance in mothers with under 3-years-old children Gustabella, Monica Irvania; Wardani, Riana; Suwargiani, Anne Agustina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.269 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18601

Abstract

Pendahuluan: Pola hidup sehat sudah menjadi kebutuhan pada setiap individu saat ini. Faktor orang tua merupakan faktor yang dominan dalam menerapkan pola hidup sehat khususnya pada kesehatan gigi dan mulut. Pengetahuan dan tindakan mengenai kesehatan gigi dan mulut dari orang tua sangat diperlukan. Peranan seorang ibu dalam kesehatan gigi anaknya adalah sebagai motivator, edukator, dan fasilitator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu yang memiliki anak bawah tiga tahun. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survei. Sampel sebanyak 50 ibu yang memiliki anak bawah tiga tahun dan bersekolah di PAUD kelurahan Sukajadi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Penelitian menunjukkan pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut 84,4% dalam kriteria baik, 15,6% dalam kriteria cukup dan untuk tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut 22.2% kriteria baik, 62,2% kriteria cukup dan 25,6% kriteria kurang. Simpulan: Pengetahuan ibu yang memiliki anak usia bawah tiga tahun di Paud Kelurahan Sukajadi menunjukkan kriteria pengetahuan yang baik dan tindakan yang cukup mengenai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dilihat dari penggunaan sikat gigi, penggunaan pasta gigi, membersihkan gigi, dan kunjungan ke dokter gigi. ABSTRACTIntroduction: A healthy lifestyle has become a necessity for every individual today. Parent factors are the dominant factors in implementing a healthy lifestyle especially in dental and oral health. Knowledge and actions regarding dental and oral health from parents are needed. The role of a mother in the dental health of her child is as a motivator, educator, and facilitator. This study aims to determine the level of knowledge and maintenance of dental and oral health in mothers who have children under three years. Methods: This type of research is descriptive with survey methods. A sample of 50 mothers who had children under three years old and attended PAUD Sukajadi village. Data retrieval is done using a questionnaire. Result: The study showed that the knowledge of dental and oral health maintenance was 84.4% in good criteria, 15.6% in sufficient criteria and for dental and oral health care measures 22.2% good criteria, 62.2% sufficient criteria and 25.6% criteria less. Conclusion: The knowledge of mothers who have children under three years of age in PAUD Sukajadi Village shows the criteria of good knowledge and adequate action regarding dental and oral health maintenance seen from the use of toothbrushes, use of toothpaste, cleaning teeth, and visits to dentists.Keywords: Knowledge, practice, oral health maintenance.Introduction: A healthy lifestyle has become a necessity for every individual today. Parent factors are the dominant factors in implementing a healthy lifestyle especially in dental and oral health. Knowledge and actions regarding dental and oral health from parents are needed. The role of a mother in the dental health of her child is as a motivator, educator, and facilitator. This study aims to determine the level of knowledge and maintenance of dental and oral health in mothers who have children under three years. Methods: This type of research is descriptive with survey methods. A sample of 50 mothers who had children under three years old and attended PAUD Sukajadi village. Data retrieval is done using a questionnaire. Result: The study showed that the knowledge of dental and oral health maintenance was 84.4% in good criteria, 15.6% in sufficient criteria and for dental and oral health care measures 22.2% good criteria, 62.2% sufficient criteria and 25.6% criteria less. Conclusion: The knowledge of mothers who have children under three years of age in PAUD Sukajadi Village shows the criteria of good knowledge and adequate action regarding dental and oral health maintenance seen from the use of toothbrushes, use of toothpaste, cleaning teeth, and visits to dentists. Keywords: Knowledge, practice, oral health maintenance.
Perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan dengan alat ortodonti lepasanDifferences in palatal rugae patterns before and after the removable orthodontic appliances treatment Saputra, Sintia; Mardiati, Endah; Pribadi, Indra Mustika Setia; Malinda, Yuti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.451 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18573

Abstract

Pendahuluan: Pola rugae palatina memiliki karakteristik yang unik pada setiap individu, yang dapat dijadikan sarana identifikasi individu di bidang forensik kedokteran gigi, namun berbagai kontraversi muncul mengenai karakteristik rugae palatina secara kualitatif dan kuantitatif sesudah dilakukan perawatan ortodonti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan dengan alat ortodonti lepasan. Metode: Penelitian bersifat observasional dengan sampel penelitian terdiri dari 111 model studi sebelum dan sesudah dilakukan perawatan ortodonti. Teknik sampling adalah purposive sampling, dari pasien maloklusi dento-alveolar kelas I, usia 18-30 tahun di RSGM FKG Unpad. Data penelitian dideskripsikan dan dianalisis dengan uji statistik Wilcoxon (ɑ = 0,05) untuk mengetahui perbedaan pola rugae palatina sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, ukuran rugae palatina sebelum dilakukan perawatan terbanyak adalah rugae primer (85.2%), rugae sekunder (13.4%), rugae fragmen (1.37%), sesudah perawatan rugae primer (85.5%), rugae sekunder (13.2%), rugae fragmen (1.3%). Berdasarkan arah, rugae palatina sebelum perawatan arah postero-anterior (44.5%), antero-posterior (38.6%), sesudah perawatan arah posterior-anterior (44.9%), antero-posterior (38.3%). Arah perpendikular (8.7%) dan berbagai arah (8.2%) baik sebelum maupun sesudah perawatan. Uji beda menunjukan, tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Simpulan: Pola rugae palatina yang sering muncul sebelum dan sesudah perawatan ortodonti adalah rugae primer dengan arah postero-anterior, tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. ABSTRACTIntroduction: Palatal rugae patterns have unique characteristics in each individual, which can be used as a means of identifying individuals in the field of dentistry forensics, but various contraceptives arise about the characteristics of palatal rugae qualitatively and quantitatively after orthodontic treatment. The purpose of this study was to determine the differences in palatal rugae patterns before and after treatment with removable orthodontic devices. Methods: The study was observational with a study sample consisting of 111 study models before and after orthodontic treatment. The sampling technique was purposive sampling, from class I dento-alveolar malocclusion patients, aged 18-30 years at FKG Unpad Hospital. The research data was described and analyzed by Wilcoxon statistical test (ɑ = 0.05) to determine differences in palatal rugae patterns before and after orthodontic treatment. Results: The results showed that the size of palatal rugae before treatment was the primary rugae (85.2%), secondary rugae (13.4%), fragment rugae (1.37%), after primary rugae treatment (85.5%), secondary rugae (13.2%) , rugae fragment (1.3%). Based on direction, palatal rugae prior to postero-anterior (44.5%), antero-posterior (38.6%) treatment, after posterior-anterior (44.9%), antero-posterior (38.3%) treatment. Perpendicular direction (8.7%) and various directions (8.2%) both before and after treatment. Different tests showed that there were no significant differences before and after orthodontic treatment. Conclusion: The palatal rugae pattern that often occurs before and after orthodontic treatment is the primary rugae with postero-anterior direction, there are no significant differences before and after orthodontic treatment.Keywords: Odontological forensics, orthodontic treatment, palatal rugae pattern.
Perbedaan indeks DMF-T antara siswa SMP di perkotaan dan perdesaan usia 12-13 tahunThe difference in the DMF-T index between 12-13-years-old junior high school students in urban and rural areas Faranitha, Regina; Muhibat, Sjazili; Suryanti, Netty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.131 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18697

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi karies dari pemeriksaan DMF-T yang dialami oleh penduduk berumur lebih dari 12 tahun di Indonesia sebesar 4,6. Perubahan gaya hidup dipertimbangkan sebagai salah satu faktor risiko yang menyebabkan terjadinya perbedaan kejadian karies gigi di perkotaan dan perdesaan.Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan indeks DMF-T antara siswa di SMP Negeri 1 Bandung yang berada di wilayah perkotaan dan SMP Negeri 1 Cimenyan di perdesaan usia 12-13 tahun. Metode: Penelitian yang dilakukan adalah deskriptif cross-sectional. Sampel penelitian diambil dengan teknik simple random sampling dan didapat sampel sebanyak 291 siswa, yaitu 158 siswa dari SMP Negeri 1 Bandung dan 133 siswa dari SMP Negeri 1 Cimenyan. Perbedaan indeks DMF-T antara siswa SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) dan SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) diketahui dengan menggunakan uji statistik chi kuadrat. Hasil: penelitian menunjukkan indeks DMF-T pada siswa di SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) sebesar 1,88, sedangkan indeks DMF-T pada siswa di SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) sebesar 4,10 dengan nilai p yang didapatkan adalah < 0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks DMF-T siswa di SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) dan SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) usia 12 – 13 tahun. ABSTRACTIntroduction: Caries prevalence of DMF-T examination experienced by residents over 12 years of age in Indonesia is 4.6. Changes in lifestyle were considered as one of the risk factors that led to differences in the incidence of dental caries in urban and rural areas. The purpose of the study was to determine differences in DMF-T index between students in SMP Negeri 1 Bandung in urban areas and SMP Negeri 1 Cimenyan in rural areas. 12-13 years. Methods: The research was descriptive cross-sectional study. The research sample was taken by simple random sampling technique and obtained a sample of 291 students, namely 158 students from Bandung 1 Public Middle School and 133 students from Cimenyan 1 Public Middle School. The difference in DMF-T index between students of SMP Negeri 1 Bandung (urban) and SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) is known by using chi squared statistical test. Results: The study showed the DMF-T index in students at SMP Negeri 1 Bandung (urban) was 1.88, while the DMF-T index in students at SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) was 4.10 with the p value obtained was < 0,05. Conclusion: There is a significant difference between the DMF-T index of students in SMP Negeri 1 Bandung (urban) and SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) aged 12-13 years.Keywords: DMF-T index, urban, rural.
Pola karies pada anak kembarDental caries patterns in twins Nabhila, Amilia; Hidayat, Syarief; Herdiyati, Yetty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.049 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18606

Abstract

Pendahuluan: Karies merupakan penyakit gigi yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Etiologi karies multifaktorial, antara lain faktor genetik dan lingkungan. Penelitian dengan mempertimbangkan faktor tersebut dapat dilakukan pada anak kembar. Tujuan penelitian untuk memperoleh data mengenai pola karies pada anak kembar yaitu apakah terdapat kemiripan. Metode: Penelitian deskriptif dengan sampel penelitian menggunakan metode accidental sampling sebanyak 30 pasang anak kembar yang tinggal di Kota Bandung. Indikator yang digunakan berdasarkan ICDAS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola karies pada anak kembar terdapat 13,33% memiliki pola karies memiliki kemiripan, 13,33% memiliki pola karies dengan banyak kemiripan, 33,33% memiliki pola karies dengan sedikit kemiripan,  sedangkan sisanya 40% memiliki pola karies yang tidak mirip. Simpulan: Pola karies pada anak kembar lebih banyak tidak ada kemiripan dan sedikit kemiripan dibandingkan yang memiliki kemiripan dan banyak kemiripan. ABSTRACTIntroduction: Caries is a dental disease that most people complain about. Etiology of multifactorial caries, including genetic and environmental factors. Research by considering these factors can be done in twins. The research objective was to obtain data regarding caries patterns in twins, namely whether there were similarities. Methods: A descriptive study with a sample of research using the accidental sampling method as many as 30 pairs of twins living in the city of Bandung. Indicators used based on ICDAS. Result: The results showed that caries patterns in twins had 13.33% had a similar caries pattern, 13.33% had a caries pattern with many similarities, 33.33% had a caries pattern with little resemblance, while the remaining 40% had a pattern unequal caries. Conclusion: Caries patterns in twins have no more similarities and less similarities than those who have similarities and many similarities.Keywords: Twins, dental caries patterns.
Hubungan pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa Pesantren Salafiyah Al-MajidiyahRelationship of knowledge and attitude in maintaining oral health of the Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School students Fitri, Aulia Bayu; Zubaedah, Cucu; Wardani, Riana
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.133 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18587

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu tolak ukur dalam menilai kesehatan secara umum. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut harus diiringi dengan pengetahuan yang baik dan sikap yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa pesantren Salafiyah Al- Majidiyah. Metode: Penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil: Penelitian ini diperoleh nilai koefisien korelasi Spearman sebesar 0.91591 dengan pengujian hipotesis diperoleh nilai p sebesar 0.18155 atau p>0.05, menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa Pesantren Salafiyah Al-Majidiyah. ABSTRACTIntroduction: Oral and dental health is one of the benchmarks in assessing general health. Maintenance of dental and oral health must be accompanied by good knowledge and the right attitude. The purpose of this study was to determine whether there was a relationship between knowledge and the attitude of maintaining dental and oral health of students of the Salafiyah Al-Majidiyah pesantren. Methods: The research used is descriptive correlation. Sampling using total sampling technique. Data was collected using a questionnaire. Results: This study obtained Spearman correlation coefficient value of 0.91591 with hypothesis testing obtained p value of 0.18155 or p> 0.05, indicating that there was no significant relationship between knowledge and dental and oral health maintenance attitudes. Conclusion: There is no relationship between knowledge and the attitude of maintaining dental and oral health of students of the Salafiyah Al-Majidiyah Islamic Boarding School.Keywords: Knowledge, attitude, dental and oral health maintenance, Islamic Boarding School.
Hubungan frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak pada anakThe relationship between the frequency of sugar-sweetened beverage intake and plaque accumulation in children K.P., G.A. Savitri; Primarti, Risti Saptarini; Gartika, Meirina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.269 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i2.18553

Abstract

Pendahuluan: Derajat kesehatan gigi dan mulut dapat diukur berdasarkan akumulasi plak pada permukaan gigi. Faktor yang menyebabkan terbentuknya akumulasi plak adalah karbohidrat di makanan, salah satunya dalam bentuk minuman manis. Kandungan pemanis di dalam minuman terbagi menjadi dua jenis yaitu, pemanis alami dan buatan. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak pada anak. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan studi korelatif, subjek penelitian adalah anak berusia 8-10 tahun yang bersekolah di delapan sekolah dasar negeri Kecamatan Coblong, Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling. Pengambilan data menggunakan food record quistionnaire untuk diisi pada satu hari libur dan masuk sekolah, kemudian anak dilakukan pemeriksaan dengan indeks plak O’Leary. Data yang terkumpul, ditabulasi dan diuji dengan korelasi Pearson. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa frekuensi rata-rata asupan minuman manis adalah dua dan akumulasi plak rata-rata adalah 81.17%. Hasil analisis hubungan frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak didapatkan korelasi koefisien (r) sebesar 0.364 dengan p=0.011 (p<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi asupan minuman manis dengan akumulasi plak. ABSTRACTIntroduction: The degree of dental and oral health can be measured based on the accumulation of plaque on the surface of the tooth. Factors that cause the formation of plaque accumulation are carbohydrates in food, one of which is in the form of sugar-sweetend beverages. The sweetener content in drinks is divided into two types, natural and artificial sweeteners. The aim of the study was to determine the relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation in children. Methods: This type of research is descriptive with correlative studies, research subjects are children aged 8-10 years who attended eight public elementary schools in Coblong District, Bandung. The sampling technique uses multistage random sampling. Data collection uses a food record questionnaire to fill in one day off and go to school, then the child is examined by the OLeary plaque index. Data collected, tabulated and tested with Pearson correlation. Results: Research shows that the average frequency of intake of sugar-sweetend beverages is two and the average plaque accumulation is 81.17%. The results of the analysis of the relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation obtained correlation coefficient (r) of 0.364 with p = 0.011 (p <0.05). Conclusion: There is a significant relationship between the frequency of intake of sugar-sweetend beverages and plaque accumulation.Keywords: Frequency, intake, natural sweetener, artificial sweetener, plaque accumulation
Perbedaan potensi antibakteri ekstrak metanol umbi sarang semut (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) dan NaOCl terhadap Streptococcus mutans (ATCC 25175)The antibacterial potential differences between the methanolic extract of ant-plant (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) tubers and NaOCl towards Streptococcus mutans (ATCC 25175) Apriyanti, Eria Ariningtyas; Satari, Mieke Hemiawati; Laksono, Bremmy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.406 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i2.18704

Abstract

Pendahuluan: Streptococcus mutans merupakan organisme kariogenik utama. Antibakteri sintetik yang biasa digunakan adalah NaOCl. Sarang semut mengandung senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui daya hambat ekstrak metanol sarang semut (Myrmecodia pendans Merr. & Perry) dan NaOCl terhadap Streptococcus mutans serta perbedaan potensi antibakteri keduanya. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris. Uji daya antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar. Media agar darah ditetesi 0,1 ml suspensi bakteri lalu dimasukkan ekstrak metanol sarang semut dengan konsentrasi 30%, 15%, 7,5%, 3,75%, 1,875% dan NaOCl dengan konsentrasi 5%, 2,5%, 1,25% diinkubasi pada suhu 37° C selama 24 jam dalam suasana fakultatif anaerob dan dilakukan replikasi tiga kali. Uji statistik menggunakan metode ANAVA dan Independent t-test. Hasil: Ekstrak metanol sarang semut konsentrasi 30% menghasilkan diameter zona hambat rata-rata 5,87 mm, sedangkan NaOCl 1,25% adalah 9,33 mm. Simpulan: Ekstrak metanol sarang semut dan NaOCl memiliki potensi daya hambat terhadap Streptococcus mutans, namun potensi antibakteri NaOCl lebih besar dibandingkan dengan ekstrak metanol sarang semut. ABSTRACTIntroduction: Streptococcus mutans is the main cariogenic organism. The synthetic antibacterial commonly used is NaOCl. Ant nests contain chemical compounds that can inhibit the growth of Streptococcus mutans. The purpose of this study was to determine the inhibitory power of methanol extracts of ant nests (Myrmecodia pendans Merr. & Perry) and NaOCl against Streptococcus mutans and the differences in antibacterial potential both. MethodS: This type of research is experimental laboratory. Antibacterial power test was carried out using agar diffusion method. Blood agar media was dripped with 0.1 ml of bacterial suspension and then inserted methanol extract of ant nests with a concentration of 30%, 15%, 7.5%, 3.75%, 1.875% and NaOCl with a concentration of 5%, 2.5%, 1, 25% was incubated at 37C for 24 hours in a facultative anaerobic atmosphere and replicated three times. Statistical test using ANAVA method and Independent t-test. Results: Methanol extract of ant nest 30% resulted in an average inhibition zone diameter of 5.87 mm, while 1.25% NaOCl was 9.33 mm. Conclusion: Methanol extract of ant nests and NaOCl has potential inhibitory power against Streptococcus mutans, but the antibacterial potency of NaOCl is greater than that of methanol extracts of ant-plants.Keywords: Antibacterial, methanolic extract, ant-plants, NaOCl, Streptococcus mutans.
Prevalensi suspek sinusitis maksilaris odontogenik ditinjau dari radiograf panoramik di instalasi radiologi RSGM UNPADPrevalence of odontogenic maxillary sinusitis suspects based on the panoramic radiographs at Universitas Padjadjaran Academic Dental Hospital Dentomaxillofacial Radiology Installation Romadhona, Shabrina; Sam, Belly; Oscandar, Fahmi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.811 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18692

Abstract

Pendahuluan: Sinus maksilaris, yang disebut juga Antrum Highmore merupakan sinus yang sering terinfeksi. Satu di antara penyebabnya adalah karena sinus ini merupakan sinus paranasal yang terbesar dan bentuknya bervariasi di setiap individu. Radiografi panoramik merupakan satu di antara teknik radiografi yang dapat melihat gambaran kedua sinus dan hubungannya terhadap gigi serta relatif aman karena paparan radiasinya tidak sebesar teknik radiografi lain. Penelitian mengenai prevalensi sinusitis maksilaris odontogenik telah banyak dilakukan tetapi peneliti belum menemukan adanya penelitian serupa di wilayah Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi suspek sinusitis maksilaris odontogenik ditinjau dari radiograf panoramik di RSGM FKG Unpad. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian dari 44 sampel yang diteliti, terdapat suspek radiologis sinusitis maksilaris odontogenik sebanyak 16 radiograf. Simpulan: Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa prevalensi suspek kasus sinusitis maksilaris odontogenik pada arsip radiograf panoramik pasien yang mengalami infeksi pulpo apikal yang datang ke Instalasi Radiologi RSGM Unpad pada periode Juli-September 2013 adalah sebesar 36,36 % dengan suspek kasus banyak terdapat pada populasi usia dewasa muda dan lanjut, dengan proporsi jumlah yang sama pada populasi perempuan dan laki-laki, dan lebih banyak melibatkan infeksi dari gigi molar pertama dan kedua.  ABSTRACTIntroduction: Maxillary sinus, also called Antrum Highmore, is a sinus that is often infected. One of the causes is because this sinus is the largest paranasal sinus and its shape varies in each individual. Panoramic radiography is one of the radiographic techniques that can see both sinus images and their relationship to teeth and is relatively safe because exposure to radiation is not as large as other radiographic techniques. Research on the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis has been carried out but researchers have not found similar studies in the Bandung, West Java region. This study aims to determine the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis suspicions from panoramic radiographs at RSGM FKG Unpad. Methods: This type of research is descriptive. Sample selection is done by purposive sampling technique. Results: The results of the 44 samples studied were radiological suspects of 16 radiographs of odontogenic maxillary sinusitis. Conclusion: The conclusions of this study are that the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis cases in panoramic radiographs of patients who have apical pulpo- rine infection who came to the Radiology Hospital Unpad installation in the period of July-September 2013 was 36.36% with many cases suspected in the population. young and advanced adulthood, with the same proportion of women and men, and more involving infections from first and second molars.Keywords: Panoramic, prevalence, maxillary sinus, odontogenic.
Pemanfaatan ekstrak etil asetat buah merah sebagai zat warna primer pada teknik pengecatan negatif kapsul bakteriUtilization of ethyl acetate extract of red fruit as primary negative staining substance for bacterial capsule Muthiah, Hishna; Dewi, Warta; Sudjarwo, Indrati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.744 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18602

Abstract

Pendahuluan: Bakteri memiliki salah satu struktur sel yang penting untuk diamati dan dipelajari, yaitu kapsul. Kapsul merupakan salah satu struktur bakteri yang berkaitan erat dengan virulensinya pada manusia dan sel inang. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekstrak etil asetat buah merah dapat digunakan sebagai alternatif pengganti zat warna primer pada teknik pengecatan negatif kapsul. Metode: Penelitian ini mendeskripsikan efektif atau tidaknya ekstrak etil asetat buah merah jika digunakan sebagai zat warna primer pada teknik pengecatan negatif kapsul. Hasil: Pewarnaan berhasil dilakukan. Hasil pewarnaan yang diperoleh selanjutnya disesuaikan dengan lembar degradasi warna berdasarkan RHS Colour Chart. Simpulan: Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa penggunaan ekstrak etil asetat buah merah dapat mewarnai struktur bakteri dengan warna yang beragam dan mampu mendekati zat warna karbol fuksin. ABSTRACTIntroduction: Bacteria have one of the important cell structures to be observed and studied, namely capsules. The capsule is a bacterial structure that is closely related to its virulence in humans and host cells. This study aims to prove that the red fruit ethyl acetate extract can be used as an alternative to primary dyes in the capsule negative staining technique. Methods: This study describes the effectiveness of the red fruit ethyl acetate extract if it is used as a primary dye in the capsule negative staining technique. Result: Coloring is successful. The coloring results obtained are then adjusted to the color degradation sheet based on the RHS Color Chart. Conclusion: Based on the observations it is known that the use of red fruit ethyl acetate extract can color the structure of bacteria with a variety of colors and is able to approach the fusion carbolic dye.Keywords: Ethyl acetate extract of red fruit, negative staining technique, bacterial capsule, primary staining substance.

Page 5 of 49 | Total Record : 488