Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Puitika Kesepian Dalam Kitab Puisi Perihal Gendis Karya Sapardi Djoko Damono Lailatus Sholihah
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 1 No. 2 (2019): September
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.174 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2019.1.2.68-76

Abstract

This study aims to (1) analyze the patterns of character-narrator development and (2) know the psychological of Gendis figures that are built in the anthology of poetry Perihal Gendis. This study uses qualitative research methods based on the literature on the anthology of poetry Perihal Gendis written by Damono (20018). This study uses (1) the theory of rhetorical figures by Gerard Genette which was later developed by Culler to find out the narrative structure and (2) theory of psychoanalysis by Sigmund Freud to find out the psychological condition of Gendis. The results of this study can be seen through the patterns of character and narrator development in poetry which are (1) "Why are you so mean/leave me alone?", (2) "Silent Gendis", (3) "People say" and (4) "Turning the Keys to the House. Furthermore, the psychological condition of Gendis in the text can be found in poetry (1)"No Need" and (2)" Sitting on the Back Porch of the Full Moon. Overall, it can be seen that the departure of Gendis’ father and mother evoke a moment of Gendis' image with living things, things around them, and the soul of Gendis who deeply feels loneliness.
Strategi Komunikasi Politik Indrar Parawansa dalam Membangun Citra Kepemimpinan Perempuan Mukhamad Busro Asmuni; Marina Rospitasari; Chomariyana Kartika Hesti; Nur Inayah Yushar; Lailatus Sholihah
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i6.12382

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi politik Khofifah Indar Parawansa dalam membangun citra kepemimpinan perempuan di ruang politik Indonesia yang masih dipengaruhi nilai-nilai patriarkal. Sebagai figur politik perempuan berpengaruh, Khofifah menunjukkan pola komunikasi yang menegosiasikan identitas gender melalui nilai religiusitas, empati sosial, dan representasi kepemimpinan yang inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menggali secara mendalam bentuk dan makna strategi komunikasi politik yang dijalankan. Data diperoleh melalui pengumpulan, penelaahan, dan analisis berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik penelitian, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, dokumen resmi, maupun sumber daring akademik.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi politik Khofifah dibangun melalui tiga dimensi utama: religiusitas sebagai modal simbolik, empati sosial sebagai bentuk kepemimpinan partisipatif, dan negosiasi identitas gender untuk memperkuat legitimasi politik. Strategi tersebut berperan penting dalam membentuk citra kepemimpinan perempuan yang kredibel dan diterima publik. Penelitian ini memperkaya kajian komunikasi politik dan gender dengan menunjukkan bagaimana politisi perempuan menggunakan strategi komunikasi adaptif dalam membangun citra kepemimpinan di ranah politik Indonesia.
Paradoks Soft Diplomacy Amerika Serikat: Diplomasi Budaya melalui Program AMINEF Terhadap Kebijakan Imigrasi Restrikti Pahla Ayuningtyas, Winda Eka; Novianti, Sarah; Wicaksana, Hendika Dwinanda; Pertiwi, Gema; Aprina, Fitria Hani; Dewindaru, Deanda; Rospitasari, Marina; Hesti, Chomariyana Kartika; Sholihah, Lailatus
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): October
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50066

Abstract

Paradox of the United States soft diplomacy through the American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) as a tool of cultural diplomacy amid increasingly restrictive immigration policies. While the U.S. promotes openness, multiculturalism, and international collaboration through programs such as Fulbright and the Community College Initiative, its stringent immigration policiesparticularly since the Trump era and beyond the pandemiccontradict the nations image as a defender of freedom and inclusivity. Using a qualitative, literature-based approach and critical discourse analysis, this research explores how soft diplomacy operates as a foreign policy strategy to sustain American cultural hegemony in Indonesia. The findings indicate that, despite restrictive immigration measures, AMINEF remains effective in fostering cultural diplomacy and enhancing the U.S. image in Indonesia. This paradox underscores Americas attempt to balance domestic priorities (security and nationalism) with global ambitions (cultural and political influence).
Diskriminasi terhadap interseksionalitas tokoh perempuan di tengah keberagaman masyarakat Papua dalam novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana Giriani, Nella Putri; Fitriyah, Atiqotul; Sholihah, Lailatus
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22616

Abstract

Penelitian ini membahas keberagaman masyarakat Papua dan diskriminasi yang terjadi pada tokoh Halijah dalam novel Gadis Pesisir (2019) karya Nunuk Y. Kusmiana. Diskriminasi yang diterima oleh Halijah dan tokoh perempuan lainnya merupakan akibat dari perbedaan ras, usia, kelas, dan jenis kelamin atau interseksionalitas. Selain itu, adanya negosiasi dan resistensi tokoh perempuan menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian ini ialah menampilkan masyarakat Papua yang multietnis dan multikulural dan mengungkap represi yang diterima tokoh perempuan karena keberagaman yang terjadi di Tanah Papua. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori identitas milik Stuart Hall, perspektif feminis multicultural Audre Lorde. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa novel Gadis Pesisir mencoba melawan bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami perempuan karena perbedaan usia, ras, kelas, dan jenis kelamin. Selain itu, memberikan “ruang” yang berbeda untuk “meruntuhkan” pelekatan konstruksi identitas yang buruk terhadap perempuan asli Papua dan memberikan “ruang” baru untuk meruntuhkan tradisi pernikahan dini. 
DISKURSUS HUSTLE CULTURE DAN EKSPLOITASI KELAS PEKERJA: ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP KOMUNIKASI BISNIS DAN DAMPAK KESEHATAN MENTAL PEGAWAI AGENSI DI JAKARTA SELATAN Fitria Hani Aprina; Syfa Amelia; Agnes Monica Marpaung; Deanda Dewindaru; Lailatus Sholihah
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 3 (2026): 2026 Maret
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i3.849

Abstract

This study examines the phenomenon of hustle culture and the mental health crisis among young workers (Generation Z and Millennials) in the urban creative industry sector, with a geographical focus on South Jakarta. Employing a qualitative approach through a critical literature review design and critical discourse analysis, this study dismantles the structural narratives that reproduce labor exploitation in the era of digital capitalism. The analysis reveals three main findings. First, at the macro level, the Job Creation Law (UU Cipta Kerja) regime and the absence of the Right to Disconnect create a legal protection vacuum that locks workers into permanent precarity. Second, within corporate power relations, the jargon of flexibility and the commodification of passion are utilized to manipulate extreme exhaustion as dedication, to which young workers respond through passive resistance such as quiet quitting and mass resignation intentions. Third, geographically, the South Jakarta agglomeration area operates as an incubator for social pathology, evidenced by a private worker burnout syndrome rate reaching 40.3% and a youth emotional disorder prevalence of 11.26%. This study concludes that the mental health crisis in the digital industry is a product of structural exploitation, not an individual psychological resilience weakness, thus demanding radical intervention through labor law restructuring.
TRANSFORMASI ETIKA DIGITAL: MEMBANGUN KEWARGAAN DIGITAL KRITIS (CRITICAL DIGITAL CITIZENSHIP) DI TENGAH HEGEMONI ALGORITMA Marina Rospitasari; Lailatus Sholihah; Dyah Ayu Kusuma Dewandaru; Wahidah R Bulan; Daffa Rakha Wijaya
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 5 (2026): 2026 Mei
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i5.872

Abstract

The rapid penetration of digital technology, modern society faces an interaction paradox: massive technical connectivity accompanied by increasingly sharp social polarization. This article aims to dissect the failure of conventional digital ethics approaches, which tend to be normative and technical, and offers the Critical Digital Citizenship model as an adaptive solution amidst algorithmic hegemony. Employing a conceptual literature review method, this study synthesizes Mike Ribble's concept of digital citizenship with Paulo Freire's critical pedagogy. The analysis reveals the existence of an "illusion of competence," where users' technical proficiency is not accompanied by critical maturity, thereby creating vulnerability to algorithmic manipulation, disinformation, and data objectification. This study formulates that the "banking concept" approach in digital literacy which solely emphasizes compliance with rules (dos and don'ts) has proven to fail in creating permanent behavioral change because it ignores the users' cognitive and affective dimensions. Therefore, the transformation from naive consciousness to critical consciousness (conscientização) is an absolute prerequisite for building the sovereignty of digital citizens as empowered subjects. The proposed adaptive digital citizenship model emphasizes the integration of critical reasoning to create a society that is not only massively connected but also cognitively enlightened. This article concludes that strengthening critical reasoning within the higher education curriculum is a strategic imperative for realizing a digital civilization that is democratic, cohesive, and resilient to the challenges of the post-truth era.
Literasi Digital Anak Usia Dini: Peran Pendampingan Orang Tua di PAUD Bintang Kecil Cimone Marina Rospitasari; Gema Pertiwi; Dyah Ayu Kusuma Dewandaru; Lailatus Sholihah
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.678

Abstract

Kemajuan teknologi digital yang berlangsung dengan cepat telah memberikan dampak yang substansial terhadap pola komunikasi dan proses pembelajaran anak usia dini. Anak-anak kini tumbuh di lingkungan yang akrab dengan perangkat digital, sehingga kemampuan literasi digital perlu ditanamkan sejak dini. Literasi digital tidak terbatas pada kemampuan operasional dalam menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kesadaran dan pemahaman kritis terhadap prinsip etika, keamanan, serta tanggung jawab dalam setiap bentuk aktivitas di ruang digital. Penulisan ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap 5 guru pengajar dan 15 orang tua serta pendidik di PAUD Bintang Kecil Cimone. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa pendampingan orang tua memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk kemampuan anak memahami, menyeleksi, dan memanfaatkan media digital secara bijak. Terdapat tiga bentuk utama pendampingan yang teridentifikasi, yakni pendampingan teknis (pengenalan perangkat dan aplikasi), pendampingan edukatif (pemilihan konten yang sesuai usia dan mendidik), serta pendampingan moral-sosial (penanaman nilai etika, tanggung jawab, dan empati digital). Temuan ini menegaskan bahwa orang tua berperan sebagai fasilitator, pengarah, sekaligus teladan dalam proses pembentukan literasi digital anak usia dini. Dengan pendampingan yang konsisten dan berbasis nilai, literasi digital dapat menjadi sarana pengembangan potensi anak sekaligus perlindungan dari risiko negatif dunia digital.