Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Molucca Medica

HUBUNGAN NILAI RED CELL DISTRIBUTION WIDTH DAN MEAN PLATELET VOLUME SEBAGAI BIOMARKER SEPSIS NEONATORUM DI RSUD Dr. M. HAULUSSY AMBON DAN RSUD Dr. H. ISHAK UMARELLA TULEHU TAHUN 2018-2020 Lulu Febriyani Latarissa; Sri Wahyuni Djoko; Yosepina Mainase
Molucca Medica Vol 15 No 2 (2022): VOLUME 15, NOMOR 2, OKTOBER 2022
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/molmed.2022.v15.i2.84

Abstract

Pendahuluan. Red-cell distribution width (RDW) dan Mean platelet volume (MPV) adalah salah satu parameter hematologi yang dapat digunakan sebagai penanda sepsis neonatorum. Sepsis neonatorum merupakan sindrom klinis yang dapat timbul akibat respon inflamasi sistemik. Hal ini dapat diakibatkan adanya infeksi bakteri, virus, jamur ataupun parasit pada bulan pertama kehidupan neonatus. Tujuan. Untuk mengetahui RDW dan MPV dapat dijadikan sebagai biomarker sepsis pada neonatus di RSUD Dr. M. Haulussy Ambon dan RSUD Dr. H. Ishak Umarella Tulehu. Metode. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik korelasi yang mengambil data sekunder dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling dengan perolehan jumlah sampel sebesar 86 neonatus dari tahun 2018-2019. Hasil. Menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama rawat dengan nilai RDW (p=0,379) dan MPV (p=0,740), diikuti usia dengan nilai RDW (p=0,602 dan MPV (p=0,026), serta jenis kelamin dengan nilai RDW (p=0,378) dan MPV (p=0,760) dengan kejadian sepsis neonatorum. Pada analisis korelasi ditemukan nilai RDW dengan korelasi yang sangat lemah (r= -0,010) dan nilai p=0,925. Begitu juga dengan nilai MPV menunjukkan korelasi yang sangat lemah (r= -0,132) dan nilai p=0,225 dengan kejadian sepsis neonatorum. Kesimpulan. Terdapat korelasi yang sangat lemah tetapi tidak memiliki hubungan yang signifikan antara nilai RDW dan MPV dengan kejadian sepsis neonatorum.
HIPOGLIKEMIA PERSISTEN PADA BAYI PREMATUR: SEBUAH LAPORAN KASUS DI LAYANAN KESEHATAN DAERAH TERPENCIL Frabes, Chelsea Beauty; Djoko, Sri Wahyuni; Sung, Karina Jesslyn
Molucca Medica Vol 18 No 1 (2025): VOLUME 18, NOMOR 1, APRIL 2025
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/molmed.2025.v18.i1.9

Abstract

Pendahuluan: Hipoglikemia merupakan gangguan metabolisme yang sering terjadi pada neonatus. Tatalaksana yang tidak adekuat berdampak pada luaran neurologis yang buruk, khususnya pada kasus hipoglikemia berulang atau resisten pengobatan. Laporan kasus: bayi usia 3 hari dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) dengan keluhan nampak kebiruan, sulit bernapas dan lunglai. Bayi lahir di rumah, usia kehamilan 32 minggu dan tidak menyusu sesering biasanya. Kadar glukosa darah awal 25 mg/dL, dilakukan intervensi bolus dextrosa 10%, terapi antibiotik serta terapi suportif lainya. Setelah dilakukan tatalaksana tersebut dan glucose infusion rate (GIR) telah mencapai 11 mg/kg/menit, kadar glukosa darah tidak meningkat secara signifikan. Hipoglikemia persisten ini dicurigai disebabkan oleh hiperinsulinisme. Karena keterbatasan fasilitas dan obat-obatan, alternatif yang tersedia untuk kondisi ini yaitu nifedipin. Setelah pemberian nifedipin dengan dosis 0,5 mg/kg/hari, bayi menunjukkan perbaikan yang signifikan pada gejala dan kadar glukosa darah stabil diatas 90 mg/dL. Pasien berhasil dirujuk ke NICU dengan menggunakan transportasi kapal laut selama 9 jam. Setiba di NICU, pasien mendapatkan tatalaksana komprehensif oleh spesialis anak, berupa terapi nifedipin, kombinasi antibiotik, pemeriksaan penunjang, serta monitor ketat kadar glukosa darah. Pasien pulih dari kondisi hipoglikemia setelah 18 hari perawatan di RS. Kesimpulan: hipoglikemia persisten pada neonatus paling sering disebabkan oleh hiperinsulinisme. Walaupun untuk mendiagnosa kondisi ini membutuhkan pengukuran kadar insulin, namun dapat dicurigai bila pasien membutuhkan GIR yang lebih dari 12 mg/kg/menit untuk mempertahankan kadar glukosa darah normal. Kasus ini menunjukkan pentingnya melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Selain itu, pemenuhan fasilitas dan tenaga spesialis di RS daerah terpencil juga sangat dibutuhkan untuk menangani kondisi kritis seperti ini.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SELF REGULATED LEARNING MAHASISWA KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PATTIMURA Tuahatu, Ivana; Huwae, Laura Bianca Slyvia; Djoko, Sri Wahyuni; Titaley, Christiana Rialine; Saija, Alessandra; Silalahi, Parningotan Yosi; Bension, Johan Bruiyf
Molucca Medica Vol 18 No 1 (2025): VOLUME 18, NOMOR 1, APRIL 2025
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/molmed.2025.v18.i1.72

Abstract

Mahasiswa kedokteran dituntut untuk menguasai banyak materi dan keterampilan dalam waktu terbatas. Self-regulated learning (SRL) penting karena membantu mereka belajar secara mandiri, menetapkan tujuan, memantau kemajuan dan mengevaluasi hasil belajar. Kemampuan ini mendukung kemandirian, adaptasi dan kesiapan menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam dunia medis yang terus berkembang. Oleh karena itu, mahasiswa perlu beradaptasi dengan mengarahkan serta mengatur perilaku dan tindakannya dalam konteks belajar yang disebut dengan Self-regulated learning (SRL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Self-regulated learning. Mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Angkatan 2020-2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bersifat analitik dengan rancangan cross-sectional dan teknik total sampling sebagai pengambilan sampel dengan total responden sebanyak 134 orang. Alat ukur yang digunakan adalah Self-regulated Questionnaire (SRQ) yang telah dimodifikasi. Analisis data bivariat menggunakan Statistical Package for the Social (SPSS) dengan uji chi square. Nilai SRL dikategorikan menjadi kelompok tinggi dan rendah berdasarkan nilai median (74). Diperoleh 65% responden dengan skor SRL tinggi dan 69% skor SRL rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin (p=0,127), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) preklinik (p=0,570), waktu belajar (p=0,492) dan tempat tinggal (p=0,468) dengan SRL. Penelitian ini dapat disimpulkan SRL tidak memiliki hubungan signifikan dengan jenis kelamin, IPK preklinik, waktu belajar dan tempat tinggal mahasiswa klinik FK Unpatti. Self-regulated learning (SRL) penting dalam pendidikan kedokteran karena mendorong mahasiswa belajar mandiri, reflektif dan bertanggung jawab. SRL membantu mereka lebih siap menghadapi tantangan klinis dan mendukung pembelajaran sepanjang hayat yang esensial dalam profesi medis.
FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETIDAKPATUHAN IBU TERKAIT PELAKSANAAN IMUNISASI DASAR DI PUSKESMAS TUAL KOTA TUAL TAHUN 2024 Matdoan, Umi Salma; Kailola, Nathalie Elischeva; Djoko, Sri Wahyuni; Seimahuira, Theresia Natalia; Soumena, Rifah Zafarani; Latuconsina, Vina Zakiah
Molucca Medica Vol 18 No 2 (2025): VOLUME 18, NOMOR 2, OKTOBER 2025
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/molmed.2025.v18.i2.124

Abstract

Latar Belakang: Pemberian suntikan imunisasi pada bayi, tepat pada waktunya merupakan faktor yang sangat penting untuk kesehatan bayi. Imunisasi diberikan mulai lahir sampai awal masa kanak-kanak. Melakukan imunisasi pada bayi merupakan bagian tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.Kepatuhan imunisasi dasar penting untuk mencapai UCI dan melindungi bayi dari penyakit. Rendahnya kepatuhan imunisasi dipengaruhi oleh pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, usia, sikap ibu, kondisi anak, jumlah anak, ekonomi, akses layanan, keyakinan, serta dukungan keluarga. Tujuan: untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan ibu terkait pelaksanaan Imunisasi Dasar di Puskesmas Tual Kota Tual tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah responden penelitian berupa ibu yang memiliki bayi >9 bulan dengan total sampel 70 responden, kriteria inklusi dalam penelitian ini berupa, ibu yang mempunyai bayi > 9 bulan dan memiliki kartu nenuju sehat (KMS). Hasil: Data penelitian mengungkap 65 ibu (92,9%) tidak menuntaskan imunisasi dasar balitanya. Faktor yang berkaitan mencakup pengetahuan ibu (p=0,001), usia ibu (p=0,882), pekerjaan ibu (p=0,620), pendidikan ibu (p=0,033), sikap ibu (p=0,382), jumlah anak (p=0,596), tingkat ekonomi (p=0,294), keyakinan ibu (p=0,294), serta dukungan keluarga (p=0,520). Kesimpulan: Penelitian ini menemukan dua variabel yang berhubungan dengan ketidakpatuhan imunisasi di Puskesmas Tual, yaitu pengetahuan dan pendidikan ibu.