Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK KULIT BATANG ASAM KANDIS (Garcinia xanthochymus Hook.f. ex. Anderson) DAN UJI ANTIINFLAMASI TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN Lilik Septiana; Hanafis Sastra Winata; Fauziah Erna Witular Panggabean; Zulmai Rani; Robiatun Rambe
FORTE JOURNAL Vol 4 No 1 (2024): Edisi Januari 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i1.780

Abstract

Penggunaan ekstrak kulit buah asam kandis sebagai antiinflamasi belum maksimal karena harus disiapkan dan dioleskan langsung dalam bentuk utuh membuatnya kurang praktis. Oleh karena itu, harus dikembangkan menjadi sediaan farmasi untuk membuatnya lebih mudah digunakan dan praktis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana membuat gel ekstrak kulit batang asam kandis (Garcinia Xanthochymus Hook.F. Ex. Anderson) dan melakukan uji antiinflamasi pada tikus putih jantan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental untuk mengidentifikasi dan menggambarkan tanaman, membuat ekstrak kulit batang asam kandis secara maserasi, membuat sediaan gel, dan menguji efek antiinflamasi ekstrak kulit batang asam kandis pada tikus putih jantan. Analisis data berdasarkan hasil observasi dilanjutkan dengan analisis dan statistik menggunakan Anova. Hasil penelitian yaitu ekstrak kulit batang asam kandis dengan konsenterasi 5, 10, dan 15% dengan gelling agent carbopol 940 dapat dibuat sediaan gel antiinflamasi. Sediaan gel antiinflamasi yang terbuat dari ekstrak kulit batang asam kandis telah memenuhi persyaratan yang baik dan stabil selama proses uji coba roda gigi pada organoleptis, homogenitas, pH, dan viskositas. Konsenterasi terbaik gel ekstrak kulit batang asam kandis yang memberikan efek antiinflamasi yaitu konsenterasi 15%. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian ekstrak kulit batang asam kandis dengan jenis sediaan yang berbeda.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAUN ASAM KANDIS (Garcinia xanthochymus Hook.f. ex T. Anderson) DENGAN METODE ABTS Hanafis Sastra Winata; Hendri Faisal; Muhammad Andry; Ayu Wulan Putri Selayan; Muhammad Amin Nasution
FORTE JOURNAL Vol 4 No 2 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i2.931

Abstract

Antioksidan adalah zat yang memiliki kemampuan untuk memperlambat, mencegah, atau menghilangkan kerusakan oksidatif terhadap molekul target seperti protein, lipid, dan deoxyribonucleic acid (DNA). Antioksidan memainkan peran penting dalam menetralkan dan menghancurkan radikal bebas. Beberapa tanaman diketahui dapat berperan sebagai antioksidan, salah satunya adalah tanaman asam kandis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun asam kandis serta kandungan senyawa kimia ekstrak etanol daun asam kandis. Studi eksperimental ini bertujuan untuk mengetahui sifat antioksidan ekstrak daun asam kandis (Garcinia xanthochymus) dalam pelarut etanol, dalam penelitian ini menggunakan metode ABTS. Hasil analisis nilai IC50 menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun asam kandis memiliki nilai IC50 sebesar 31,32 μg/mL pada metode ABTS yang artinya memiliki aktivitas antioksidan dalam kategori sangat kuat (IC50. < 50 mcg/ml). Pada vitamin c sebagai pembanding dengan metode ABTS memiliki nilai IC50 sebesar 48,81 μg/mL yang artinya memiliki aktivitas antioksidan dalam kategori sangat kuat. Hal ini menunjukkan sampel ekstrak etanol daun asam kandis Garcinia xanthocymus memiliki potensi untuk menjadi alternatif sebagai penggunaan aktivitas antioksidan alami. kesimpulan dalam penelitian ini adalah Ekstrak etanol daun asam kandis menunjukkan adanya aktivitas antioksidan berdasarkan pengujian dengan metode pemerangkapan radikal bebas ABTS dengan nilai IC50 adalah 31,32 μg/ml kategori sangat kuat.
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN KRIM PELEMBAB DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL BUAH ARA (Ficus racemosa L.) Muhammad Andry; Hanafis Sastra Winata; Indra Ginting; Khairani Fitri; Tetty Noverita Khairani; Ulfa Melyza; Muhammad Amin Nasution
FORTE JOURNAL Vol 4 No 2 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i2.932

Abstract

Tumbuhan ara (Ficus racemosa L.) sangat memiliki khasiat sebagai antidiare, antiinflamasi, antioksidan dan lain sebagainya. Antioksidan dalam krim berfungsi sebagai pelembab untuk melindungi kulit dari radikal bebas dengan cara membentuk lapisan lemak tipis di permukaan kulit dan memperlambat kerusakan akibat proses oksidasi. Tujuan penelitian adalah untuk membuat formulasi dari sediaan krim pelembab dengan menggunakan  ekstrak etanol buah ara (Ficus racemosa L.) sebagai pelembab alami kulit dan menentukan konsentrasi terbaik yang memenuhi persyaratan standar Farmakope Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. pembuatan ekstrak buah ara dilakukan dengan cara maserasi, konsentrasi ekstrak buah ara ditambahkan ke dalam sediaan formulasi krim 10%, 20% dan 30%. Pengujian sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, tipe krim, viskositas, iritasi, hedonik dan stabilitas. Analisis data menggunakan uji anova. Hasil menunjukkan sediaan krim pelembab memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan yaitu memiliki tekstur semi solid, dengan aroma pewangi krim, warna pada setiap formula berbeda beda, F0 berwarna putih, formula F1 (10%) coklat muda, F2 (20%) coklat pekat, F3 (30%) Coklat hitam. Semua sediaan homogen dan tidak mengiritasi kulit. Memiliki pH berkisar 5-6,3, daya sebar 5-6,7 cm dengan viskositas 9326-13918 Cs, uji stabilitas dengan metode cycling test selama 12 hari memiliki stabilitas yang baik. Hasil rata-rata persentase peningkatan kelembaban pada F0 (17,77%), F1 (35,57%), F2 (49,87%), F3 (51,93%) dan kontrol positif (56,5%). Hasil analisis data menggunakan uji anova menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dari ketiga konsentrasi yang diuji. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sediaan krim pelembab yang diformulasikan dapat melembabkan kulit secara alami, dan disetiap minggunya terjadi peningkatan kelembaban kulit. dan konsentrasi terbaik sediaan krim pelembab yaitu F3 dengan konsentrasi ekstrak 30%.
FORMULASI DAN UJI ANTIDIARE SEDIAAN PATCH TRANSDERMAL EKSTRAK DAUN SENGGANI (Melastoma malabathricum L.) TERHADAP KELINCI Winata, Hanafis Sastra; Abadi, Hafizhatul; Leny, Leny; Andry, Muhammad; Ngete, Ani Florida; Yudianto, Tri; Nurjanah, Ayu; Pamungkas, Barolym Tri; Gumilar, Roni
AGRIBIOS Vol 22 No 2 (2024): November
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/agribios.v22i2.5494

Abstract

One plant that has been used for traditional medicine with good results is Melastoma (Melastoma malabatricum L.). The plant known as Melastoma has three active compounds: tannins, saponins, and flavonoids. Melastoma leaves work well to cure diarrhoea. Adhesive patches with medication applied topically are called transdermal patches. Melastoma leaf extract transdermal patch formulations were utilised in this study, which employed laboratory experimental techniques. The potential of Melastoma leaf extract transdermal patch preparation formula as an antidiarrheal for rabbits was the subject of the study. Concentrations of extract: 10%, 20%, and 30%. Organoleptic testing, pH tests, weight uniformity tests, moisture tests, thickness tests, and fold resistance tests were the preparatory assessment parameters that were conducted. The characteristics of the antidiarrheal test were timing of diarrhoea occurrences, consistency of the stool, frequency of diarrhoea, and length of diarrhoea, all of which were monitored for six hours. The evaluation of the Melastoma leaf extract transdermal patch formulation demonstrated a significant difference, namely <0.05, according to the results of the ANOVA data analysis. The antidiarrheal test parameters had a significant difference between each concentration, namely <0.05, according to the findings of the ANOVA data analysis. The conclusions was possible to use a transdermal patch formulation of Melastoma leaf extract (Melastoma malabathricum L.) at a 30% concentration to prevent diarrhoea by making stools softer.
Formulasi dan Uji Efektivitas Sabun Padat dari Ekstrak Etanol Daun Kopasanda (Chromolaena odorata L.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Hafizhatul Abadi; Hanafis Sastra Winata; Adek Chan; Faadhilah Yusa Simbolon
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 2 No. 4 (2024): Oktober: Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v2i4.444

Abstract

Siam Weed leaf plants contain high levels of flavonoids and tannins. These compounds provide antibacterial potential. This study aims to formulate solid soap dosage form of ethanol extract of Siam weed leaves and test the antibacterial activity of it against the growth of Staphylococcus epidermidis bacteria. This is experimental research. Making the extract phytochemical screening test. Evaluation of the dosage form was done by organoleptic tests, homogeneity, pH, foam height, moisture content, irritation, stability, and antibacterial activity tests using the well method. The results showed that solid bath soap dosage form from the ethanol extract of siam weed leaves could be formulated into soap dosage form which had a pH in the range of 9.2 – 9.8, high foam that was stable and did not cause irritation to the skin of volunteers and tested for antibacterial activity on bacteria. Staphylococcus epidermidis with a concentration of 10% 8.84 mm, 15% concentration 10.56 mm and 20% concentration 12.11 mm. The conclusion showed that solid soap dosage form of ethanol extract of Siam weed leaves (Chromolaena odorata L.) could be formulated and fulfilled the requirements after being evaluated and the antibacterial effectiveness of Staphylococcus epidermidis was the best at a concentration of 20% (strong).