Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Karakteristik Nanoemulsi Isolat Brazilin dari Tanaman Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) Asli Indonesia   Lestario, Jonathan Rizky; Sari, Intan Permata; Andareza, Arie; Fadillah, Sehan; Rachmaniar, Revika
Majalah Farmasetika Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i2.50495

Abstract

Brazilin merupakan isolat yang berasal dari tanaman kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dan termasuk golongan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Kelarutan brazilin dalam air kurang baik sehingga menghambat penetrasi ke dalam membran. Oleh sebab itu, kelarutan brazilin dalam air perlu ditingkatkan dengan cara membentuk brazilin dalam ukuran nanometer. Tujuan penelitian ini adalah memformulasi dan mengkarakterisasi nanoemulsi brazilin. Metode penelitian yang dilakukan untuk membentuk nanoemulsi brazilin adalah metode self-nanoemulsifying. Nanoemulsi brazilin mengandung 0,005% isolat brazilin, 27,5% Tween 80, 24,5% PEG 400, dan isopropil miristat dengan berbagai variasi konsentrasi. Isopropil miristat pada formula 1 sebanyak 6%, formula 2 sebanyak 10%, dan formula 3 sebanyak 20%. Karakterisasi nanoemulsi brazilin meliputi uji organoleptis, pH, viskositas, tipe nanoemulsi, sentrifugasi, transmitan, ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan zeta potensial. Dari ketiga formula nanoemulsi brazilin, formula 1 memenuhi persyaratan nanoemulsi. Nanoemulsi brazilin formula 1 menunjukkan tidak ada pemisahan fase, viskositas dalam rentang 10-100 cP, nilai pH yang baik untuk kulit, transmitan yang jernih, ukuran partikel 49,1 ± 32,2 nm, indeks polidispersitas 0,324, dan zeta potensial -8,9 mV. Berdasarkan penelitian ini, kesimpulan yang diperoleh adalah brazilin berhasil diformulasi menjadi nanoemulsi menggunakan 27,5% Tween 80, 24,5% PEG 400, dan 6% isopropil miristat. Karakteristik nanoemulsi brazilin telah memenuhi persyaratan nanoemulsi dengan ukuran partikel sebesar 49,1 ± 32,2 nm.
FORMULASI SEDIAAN BIODEGRADABLE FILM DENGAN BASIS KAPPA KARAGENAN HASIL VARIASI SULFATASI UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Ferdiansyah, Rival; Ledianasari, Ledianasari; Rachmaniar, Revika; Rumbaman, Gaina Nurfauziah
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58327/jstfi.v12i2.218

Abstract

Kappa karagenan memiliki kandungan ester sulfat sekitar 25% hingga 30% dan kandungan 3,6-AG sekitar 28% hingga 35%. Kandungan sulfat  merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi karakteristik fisik kappa karagenan, seperti viskositas, gel strength dan elastisitas. Karagenan jenis ini dapat digunakan sebagai basis dalam pembuatan biodagradble  film untuk aplikasi penutup luka bakar. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pada konsentrasi berapakah kappa karagenan hasil variasi sulfatasi menggunakan  K2SO4 0.2M; 0.4M dan 0.6M menghasilkan biodagradble  film yang baik berdasarkan karakteristik fisiknya. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi formulasi dan evaluasi bentuk sediaan. Hasil pengujian organoleptis, bobot dan tebal, menunjukkan bahwa Formula 1; Formula 4 dan Formula 7 memiliki hasil yang optimal dibandingkan dengan formula lainnya. Ketiga formula tersebut dilakukan uji lanjutan yaitu tensile strength, swelling dan difusi. Formula 7 memiliki hasil paling optimal dibandingkan formula lainnya dengan nilai tensile strength 3,964 MPa, elongasi 171.3% dan kemampuan menyerap air sebesar 40.487% serta memiliki kemampuan berdifusi paling besar yaitu 45.424% pada menit ke 360. Kata Kunci: kappa karagenan, kandungan sulfat, sulfatasi, Biodegradable film
MANAJEMEN USAHA DAN PROMOSI BODY SCRUB CREAM : MANAJEMEN USAHA DAN PROMOSI BODY SCRUB CREAM Ismayadi, Pupung; Rachmaniar, Revika
Batik-MU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): Batik-MU
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/batikmu.v3i1.1386

Abstract

Kopi Manglayang yang setiap 5 bulan menghasilkan sekitar 50 sampai 60 ton masih terdapat kopi yang di-reject karena kerusakan pada biji kopi dan sering disebut biji kopi defect. Mitra kopi manglayang ingin memanfaatkan biji kopi defect ini menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual, seperti produk kosmetika, skin care. Skin care yang mudah dibuat dan laris di pasaran adalah body scrub cream. Biji kopi defect dalam hal ini dapat dimanfaatkan sebagai scrub yang membantu untuk mengangkat sel kulit mati. Oleh karena itu, pengabdian kepada masyarakat dengan metode ceramah dan pelatihan “produksi dan manajemen usaha serta promosi produk kopi arabica defect menjadi body scrub cream” dilakukan kepada ibu-ibu PKK Kelurahan Cisaranten Wetan dan Kelompok Tani Manglayang. Kegiatan ini dihadiri oleh 15 peserta. Sebanyak 87,5% warga menjadi lebih mengetahui lagi tentang kopi defect, tapi hanya 54,68% yang mengetahui seperti apa kopi defect itu. Namun demikian, seluruhnya mengetahui bahwa kopi memiliki manfaat untuk Kesehatan. Seluruh warga yang mengikuti pelatihan telah mengetahui apa itu sediaan kosmetika dan bagaimana kopi dapat dimanfaatkan dalam sediaan kosmetika. Sebanyak 87,5% warga memahami bahwa kopi dapat digunakan sebagai bahan scrub dalam body scrub cream di mana 12,5% meyakini bahwa kopi scrub cream dapat menjadi pemutih, 6,82% sebagai pengangkat kulit mati, dan 12,5% sebagai pelembut. Dari pelatihan ini dapat diperoleh kesimpulan kegiatan pelatihan formulasi body scrub cream sangat bermanfaat bagi peserta/Mitra karena telah menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan mereka. Pihak Mitra diharapkan dapat mengembangkan formulasi ini sehingga berpeluang untuk dipasarkan lebih luas.
Studi Kompatibilitas Kurkumin terhadap Eksipien Basis Effervescent Ferdiansyah, Rival; Juliati, Siti Aisyah Mega; Cahyati, Yeyet; Winingsih, Wiwin; Rachmaniar, Revika
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 16 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Faculty of Mathematic and Natural Science, Garut University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jifb.v16i2.42583

Abstract

Kurkumin merupakan senyawa aktif yang memiliki berbagai manfaat farmakologis, namun keterbatasan kelarutannya dalam air menjadi pertimbangan dalam pengembangan sediaan, salah satunya dengan menggunakan basis effervescent. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi inkompatibilitas antara kurkumin dan beberapa eksipien effervescent, yaitu asam sitrat, asam tartrat, dan natrium bikarbonat. Metode penelitian meliputi uji homogenitas, organoleptik, mikroskopik, kadar air (LOD), kristalinitas, dan sifat termal. Campuran dibuat dengan perbandingan 1:1 menggunakan mixer selama 10 menit dengan kecepatan 60 rpm. Hasil menunjukkan adanya variasi dalam homogenitas, perubahan fisik, kadar air, dan karakteristik termal pada masing-masing campuran. Secara umum, campuran kurkumin dengan asam tartrat dan natrium bikarbonat menunjukkan kestabilan yang relatif baik dibandingkan dengan campuran yang mengandung asam sitrat, yang menunjukkan beberapa perubahan selama penyimpanan. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa asam tartrat merupakan basis effervescent yang paling kompatibel untuk formulasi sediaan kurkumin, sedangkan asam sitrat menunjukkan potensi inkompatibilitas.
Integrasi Edukasi dan Skrining Talasemia: Model Pengabdian Masyarakat untuk Mahasiswa Kesehatan di Bandung Hamdani, Syarif; Simanjuntak, Nela; Rachmaniar, Revika
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 6 No 3 (2025): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v6i3.635

Abstract

Talasemia merupakan penyakit genetik yang menyebabkan gangguan produksi hemoglobin dengan Kota Bandung tercatat sebagai salah satu wilayah dengan jumlah penyandang tertinggi di Indonesia. Pencegahan penyebaran talasemia dapat dilakukan melalui skrining pada individu pranikah, terutama mahasiswa. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan edukasi dan skrining talasemia pada mahasiswa kesehatan di Bandung sebagai upaya pencegahan talasemia pada generasi mendatang. Kegiatan ini diawali dengan seminar edukasi tentang talasemia, dilanjutkan dengan skrining melalui pemeriksaan darah dan pendampingan bagi peserta yang terindikasi sebagai pembawa sifat. Hasil menunjukkan peningkatan kesediaan peserta untuk mengikuti skrining setelah edukasi dari 90,81% menjadi 96,86%. Dari 432 peserta yang menjalani skrining, 7 orang terindikasi positif sebagai pembawa sifat talasemia. Pendampingan dilakukan dengan melibatkan tim Thalassemia Research Center, POPTI, dan dokter konsultan. Program pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa edukasi berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam skrining talasemia. Kegiatan terintegrasi yang melibatkan edukasi, skrining, dan pendampingan pada generasi pranikah dapat menjadi langkah efektif dalam upaya memutus rantai penyebaran talasemia. Kolaborasi berbagai pihak dalam pelaksanaan program ini menunjukkan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam upaya pencegahan talasemia di masyarakat.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN TENTANG BUSINESS MODEL CANVAS DALAM ANALISIS BISNIS Priyo Legowo, Wahyu; Revika Rachmaniar; Pupung Ismayadi; Yola Desnera Putri; Rival Ferdiansyah
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol. 6 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v6i2.1779

Abstract

Limited knowledge of business design frameworks poses a challenge for vocational high school (SMK) graduates who plan to start their own businesses. This study aims to enhance the understanding of pharmacy vocational students regarding the Business Model Canvas (BMC) as a business analysis tool. The activity involved 62 students as respondents and employed questionnaires to measure their level of knowledge before and after the intervention. The program began with the delivery of materials on the fundamental concepts of BMC, covering key components such as value propositions, customer segments, and key activities. Subsequently, the students engaged in discussions and practical exercises to develop BMCs based on case studies relevant to the pharmaceutical field. The results indicated that, prior to the program, most students had limited understanding of the elements within the BMC. After the explanation and practice sessions, students demonstrated improved comprehension in creating structured and applicable BMC designs. This activity is expected to serve as an initial step in equipping pharmacy vocational students with essential business planning skills to support their preparedness for entrepreneurship in a competitive era.
Formulation of Ethyl p-Methoxycinnamate (EPMC) Clay Mask as an Anti-Acne Agent Using a Box–Behnken Design Andriyannto, Adit; Legowo, Wahyu Priyo; Firmansyah, Adang; Rachmaniar, Revika
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 13, No 2 (2026)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v13i2.68948

Abstract

Jerawat merupakan gangguan kulit yang umum terjadi dan memengaruhi sekitar 80–85% remaja serta dewasa muda di Indonesia. Pada penelitian sebelumnya, ethyl p-methoxycinnamate (EPMC) merupakan senyawa utama dari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang memiliki aktivitas antibakteri dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 1,2% b/v terhadap Cutibacterium acnes, bakteri utama penyebab jerawat. Dalam upaya meningkatkan kemudahan penggunaan dan potensi terapinya, dikembangkan sediaan masker clay sebagai sistem penghantaran topikal yang inovatif. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula masker clay yang teroptimasi menggunakan Desain Box–Behnken, dengan kaolin (15–30% b/b), bentonit (1–2% b/b), dan xanthan gum (0,5–1% b/b) sebagai faktor, serta respon yang dievaluasi meliputi pH, viskositas, dan waktu mengering. Optimasi menghasilkan formula optimum yang mengandung 26,925% b/b kaolin, 1,808% b/b bentonit, dan 0,854% b/b xanthan gum dengan nilai desirabilitas 1,000. Masker clay optimum memiliki pH 7,560 ± 0,0899, viskositas 20.583,33 ± 650,85 mPa·s, waktu mengering 25,58 ± 1,36 menit, daya sebar 4,038 ± 0,096 cm, daya lekat 8,80 ± 1,018 detik dan uji antibakteri menunjukkan zona hambat sedang sebesar 6,969 ± 0,896 mm, lebih besar dibandingkan EPMC murni. Secara keseluruhan, formula optimum masker clay EPMC menunjukkan sifat fisik yang baik serta aktivitas antibakteri dalam kategori sedang yang berpotensi mendukung terapi jerawat.
Tinjauan Komprehensif Jenis Dan Teknik Fabrikasi Microneedle Sebagai Sistem Penghantaran Obat Transdermal Rianingsih Dwi Astuti Mundandar; Hesti Riasari; Revika Rachmaniar
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1197

Abstract

Pendahuluan: Microneedle merupakan teknologi inovatif dalam sistem penghantaran obat transdermal yang berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Berbagai jenis dan metode fabrikasi telah dikembangkan, namun belum banyak kajian yang membandingkan keduanya secara terintegrasi. Tujuan: Artikel ini bertujuan mengulas tren penelitian, jenis, metode fabrikasi, serta aplikasi microneedle di bidang farmasi dan kosmetik dalam suatu kerangka analisis komparatif. Metode: Studi literatur sistematis dilakukan dengan penelusuran pada basis data PubMed, Scopus, dan Google Scholar menggunakan kata kunci “microneedle”, “microneedle types”, “microneedle fabrication”, dan “transdermal drug delivery”. Kriteria inklusi mencakup artikel penelitian dan tinjauan berbahasa Inggris yang dipublikasikan pada rentang 2000–2025 dan relevan dengan topik. Kriteria eksklusi meliputi artikel yang tidak tersedia secara penuh, duplikasi, dan studi yang tidak berfokus pada pengembangan microneedle. Berdasarkan proses seleksi diperoleh 65 artikel yang dianalisis secara komprehensif. Hasil: Dissolving microneedle merupakan jenis yang paling dominan dalam tren penelitian terkini, dengan perkembangan signifikan pada metode fabrikasi berbasis micromolding dan 3D printing. Kombinasi 3D printing untuk pembuatan master mold dan micromolding untuk replikasi massal teridentifikasi sebagai pendekatan paling prospektif. Teknologi microneedle menunjukkan potensi besar dalam aplikasi vaksin, terapi obat, dan kosmetik, meskipun masih menghadapi tantangan pada aspek regulasi dan skalabilitas produksi. Simpulan: Microneedle, khususnya jenis dissolving, memiliki prospek menjanjikan sebagai platform penghantaran obat yang efektif, aman, dan inovatif di masa depan.
Evaluasi Sistem Penghantaran Obat Transdermal Berbasis Microneedle: Tinjauan Karakterisasi, Farmakokinetik, Efikasi, Stabilitas, Dan Keamanan Kiki Kania; Revika Rachmaniar; Sani Nurlaela Fitriansyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1715

Abstract

Pendahuluan: Microneedle merupakan sistem penghantaran obat transdermal inovatif yang menggunakan jarum berukuran mikro (150–1500 µm) untuk menembus stratum corneum secara minimal invasif. Meskipun teknologi ini telah berkembang sejak akhir 1990-an, panduan terintegrasi mengenai parameter evaluasi yang harus dilakukan dalam pengembangan microneedle masih terbatas, sehingga menyulitkan standardisasi metode dan komparasi hasil antar studi. Tujuan: Review ini bertujuan menyusun kerangka sistematis parameter evaluasi yang perlu dilakukan dalam karakterisasi dan pengembangan sediaan microneedle, yang mencakup enam domain utama: karakterisasi struktur dan sifat fisik, evaluasi sediaan, profil farmakokinetik, efikasi, stabilitas, dan keamanan. Metode: Penelusuran literatur secara naratif-sistematis dilakukan pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar terhadap publikasi periode 2018–2025 menggunakan kata kunci microneedle yang dikombinasikan dengan operator Boolean AND/OR. Kriteria inklusi meliputi artikel penelitian asli berbahasa Inggris pada microneedle berbasis polimer yang dimuat zat aktif dan melaporkan minimal satu parameter evaluasi. Hasil: Identifikasi literatur menghasilkan enam domain evaluasi yang harus dilakukan: (1) karakterisasi struktur melalui Scanning Electron Microscopy (SEM), pengukuran kekuatan mekanik (rentang 0,22–32 N), dan ketebalan patch (38 µm–1 mm); (2) evaluasi sediaan melalui insertion test (kedalaman penetrasi 200–600 µm), drug loading (38–99%), uji disolusi (1,5–20 menit), uji difusi Franz cell, dan kadar kelembapan (2,25–3,8%); (3) studi farmakokinetik in vivo yang ditunjukkan pada patch microneedle cannabidiol dengan bioavailabilitas relatif 144,70% dibandingkan injeksi subkutan; (4) evaluasi efikasi yang disesuaikan dengan indikasi terapeutik (antikanker, antidiabetes, antiinflamasi, antihipertensi, antibakterial, dan dermatologi); (5) uji stabilitas mengacu pada pedoman ICH Q1A (R2) dengan kondisi dipercepat, intermediet, dan jangka panjang; serta (6) evaluasi keamanan melalui uji iritasi Draize dengan parameter Primary Irritation Index (PII) yang menunjukkan iritasi ringan dan reversibel. Simpulan: Pengembangan sediaan microneedle yang berkualitas mensyaratkan pelaksanaan keenam domain evaluasi secara terpadu. Kerangka sistematis ini dapat menjadi acuan standar bagi peneliti dan pengembang microneedle di Indonesia, sekaligus mendorong harmonisasi metode evaluasi dengan pedoman internasional untuk memfasilitasi translasi klinis dan registrasi produk domestik.