Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Tradisi Bapukung Suku Banjar Dalam Asuhan Keperawatan Anak: Kajian Etnografi Interpretatif dan Analisis Efektivitas Siklus Tidur Rapid Eye Movement (Rem) Pada Bayi Erliana Puteri; Abdus Salam; Uswatun Hasanah; Khalidah Khalidah; Herman Ariadi; M. Irfan Naufal; Dian Yuliazahra
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.24928

Abstract

ABSTRACT Sleep is a basic need for infants and plays a crucial role in the development of the nervous, cognitive, and emotional systems, particularly during the Rapid Eye Movement (REM) phase. Among the Banjar people in South Kalimantan, the Bapukung tradition is still practiced as a method of lulling infants to sleep, passed down through generations and believed to provide a sense of security and calm. This study aims to examine the Bapukung tradition in the context of childcare through an interpretive ethnographic approach and its effectiveness on infant sleep quality, particularly during the REM phase. The study employed a qualitative design using in-depth interviews and participant observation with ten informants: mothers who practice Bapukung, health workers, traditional leaders, and village officials in Kuin Village, Banjarmasin. Data analysis was conducted thematically using NVivo 12 software. The results indicate that the Bapukung tradition still exists and is interpreted as a form of affection, protection, and spiritual practice in infant care. Physiologically, Bapukung positively contributes to infant sleep quality by helping infants fall asleep faster, maintaining a stable sleep duration, and increasing the proportion of REM sleep, which plays a crucial role in brain development and emotional regulation. This study concludes that the Bapukung tradition has the potential to be developed as a safe, effective, and contextual non-pharmacological intervention based on local wisdom to support infant health and development. Keywords: Bapukung, Banjar Tribe, Infant Sleep, Rapid Eye Movement (REM) Sleep, Pediatric Nursing, Local Wisdom.  ABSTRAK Tidur merupakan kebutuhan dasar bayi yang berperan penting dalam perkembangan sistem saraf, kognitif, dan emosional, terutama pada fase Rapid Eye Movement (REM). Pada masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan, tradisi Bapukung masih dipraktekkan sebagai metode menidurkan bayi yang diwariskan secara turun-temurun dan diyakini memberikan rasa aman serta ketenangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Bapukung dalam konteks asuhan keperawatan anak melalui pendekatan etnografi interpretatif serta menganalisis efektivitasnya terhadap kualitas tidur bayi, khususnya fase REM. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap sepuluh informan yang terdiri dari ibu pelaku Bapukung, tenaga kesehatan, tokoh adat, dan aparat desa di Desa Kuin, Banjarmasin. Analisis data dilakukan secara tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bapukung masih eksis dan dimaknai sebagai bentuk kasih sayang, perlindungan, serta praktik spiritual dalam pengasuhan bayi. Secara fisiologis, Bapukung berkontribusi positif terhadap kualitas tidur bayi dengan membantu bayi lebih cepat tertidur, mempertahankan durasi tidur yang stabil, serta meningkatkan proporsi fase REM yang berperan penting dalam perkembangan otak dan regulasi emosi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Bapukung berpotensi dikembangkan sebagai intervensi keperawatan non farmakologis berbasis kearifan lokal yang aman, efektif, dan kontekstual dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Kata Kunci: Bapukung, Suku Banjar, Tidur Bayi, Rapid Eye Movement (Rem), Keperawatan Anak, Kearifan Lokal.
Makna dan Efektivitas Bapukung terhadap Kualitas Tidur Anak: Suatu Studi Kualitatif Berdasarkan Aktivitas Rapid Eye Movement (REM) Khalidah Khalidah; Uswatun Hasanah; Erliana Puteri; Dian Yuliazahra; M. Irfan Naufal; Herman Ariadi; Noor Khalilati; Izma Daud; Diah Retno
Jurnal Diversita Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v12i1.16361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dan efektivitas tradisi Bapukung terhadap kualitas tidur Anak, khususnya ditinjau dari aktivitas Rapid Eye Movement (REM). Bapukung merupakan praktik tradisional masyarakat Banjar dalam menidurkan bayi dengan cara membedong dan mengayun menggunakan kain khusus. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap lima informan ibu yang rutin melakukan Bapukung. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik berbasis teori tidur fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bapukung tidak hanya dimaknai sebagai bentuk kasih sayang dan warisan budaya, tetapi juga berperan dalam menciptakan rasa aman dan nyaman bagi bayi, sehingga mempermudah transisi menuju fase tidur REM. Aktivitas REM pada bayi yang dipukung rata-rata berlangsung lebih stabil dengan durasi antara 16 hingga 59 menit per hari, menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur dan kedalaman istirahat. Kesimpulannya, praktik Bapukung memiliki nilai fisiologis dan psikososial yang mendukung kualitas tidur anak, sekaligus mencerminkan kearifan lokal yang relevan dengan konsep neurofisiologi modern tentang tidur anak.
Association Between Nursing Management Functions and Nurses' Compliance with Fall Risk Prevention at Islamic Hospital Banjarmasin Okta Nisa; Herman Ariadi; Diah Retno Wulan; Rohni Taufika Sari
Papua Medicine and Health Science Vol. 3 No. 1 (2026): Vol. 3 No. 1 (Juni 2026) : Papua Medicine and Health Science
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64141/pmhs.v3i1.49

Abstract

Falls are among the most common patient safety incidents in hospitals and may result in physical injuries, psychological trauma, and increased healthcare costs. Effective fall risk prevention requires a high level of nurses' compliance, which is influenced by nursing management functions, particularly the directing and controlling functions. This study aimed to examine the association between nursing management functions and nurses' compliance with fall risk prevention at Islamic Hospital Banjarmasin. This quantitative study employed a cross-sectional design. A total of 148 nurses were recruited using the total sampling technique. Data were collected using a Google Forms–based questionnaire and analyzed using Spearman's rank correlation test. The results showed that most respondents reported a high level of nursing management functions (60.1%) and high compliance with fall risk prevention (77.7%). Bivariate analysis revealed a significant association between nursing management functions and nurses' compliance with fall risk prevention (r = −0.730; p < 0.001). In conclusion, nursing management functions were significantly associated with nurses' compliance with fall risk prevention at Islamic Hospital Banjarmasin. Strengthening the directing and controlling functions is expected to improve nurses' compliance and support patient safety initiatives in hospitals.
Praktik Bapukung dalam Mendukung Regulasi Emosi dan Ketenangan Bayi: Studi Etnografi pada Masyarakat Banjar Uswatun Hasanah; Erliana Puteri; Khalidah Khalidah; Herman Ariadi; Dian Yuliazahra; M. Irfan Naufal
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24751

Abstract

ABSTRACT Sleep is a fundamental need for infants and plays a crucial role in growth and neurological development, particularly through the Rapid Eye Movement (REM) phase. This study aimed to explore the meaning, practice, and implications of the Bapukung tradition on infant sleep quality within the cultural context of the Banjar community. A qualitative study with an ethnographic-interpretative approach was conducted through in-depth interviews and participatory observation, with thematic analysis supported by NVivo 12 software. The findings indicate that Bapukung remains an enduring cultural practice, interpreted as a form of intergenerational care reflecting affection, emotional bonding, and spiritual values between mothers and infants. The practice of Bapukung creates a relatively stable and calm sleep condition, as infants consistently reached the REM phase during sleep sessions, with an average REM duration of approximately 41 minutes per session and a total sleep duration of about 84 minutes. This condition was supported by a quiet environment, gentle rhythmic swinging, and a stable body position, empirically observed through reduced motor activity, more regular breathing patterns, and relaxed facial expressions. In addition to physiological aspects, emotional and spiritual elements such as prayers and soft chanting were found to contribute to infants’ sense of security. However, the application of Bapukung requires careful consideration of infant safety and physical readiness, particularly neck muscle strength. In conclusion, Bapukung represents a form of local wisdom with potential as a non-pharmacological method to support infant sleep quality when practiced appropriately and safely. Keywords: Bapukung, Infant, Sleep Quality, Rapid Eye Movement (REM), Banjar Culture, Ethnography.  ABSTRAK Tidur merupakan kebutuhan dasar bayi yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf, khususnya melalui fase Rapid Eye Movement (REM). Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, praktik, dan implikasi tradisi Bapukung terhadap kualitas tidur bayi dalam konteks budaya masyarakat Banjar. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi-interpretatif melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, yang dianalisis secara tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bapukung masih eksis dan dimaknai sebagai praktik turun-temurun yang mencerminkan kasih sayang, kedekatan emosional, serta nilai spiritual antara ibu dan anak. Praktik Bapukung menciptakan kondisi tidur bayi yang relatif stabil dan tenang, ditandai dengan tercapainya fase REM secara konsisten selama sesi peniduran, dengan rata-rata durasi sekitar 41 menit per sesi dan total durasi tidur sekitar 84 menit per sesi. Kondisi ini didukung oleh lingkungan yang tenang, ritme ayunan yang lembut, serta posisi tubuh bayi yang stabil, yang secara empiris terlihat dari berkurangnya aktivitas motorik, pola napas yang lebih teratur, dan ekspresi wajah bayi yang relaks. Selain aspek fisiologis, praktik Bapukung juga mengandung dimensi emosional dan spiritual melalui doa dan lantunan lembut yang diyakini meningkatkan rasa aman bayi. Namun demikian, penerapan Bapukung perlu memperhatikan aspek keamanan dan kesiapan fisik bayi, khususnya kekuatan otot leher. Disimpulkan bahwa Bapukung merupakan kearifan lokal yang berpotensi menjadi metode peniduran nonfarmakologis yang mendukung kualitas tidur bayi apabila diterapkan secara tepat dan aman. Kata Kunci: Bapukung, Bayi, Kualitas Tidur, Rapid Eye Movement (REM), Budaya Banjar, Etnografi.
Pendekatan Holistik Pada Fenomena Racun Sangga Menekankan Keseimbangan Mind Body Soul Dalam Pelayanan Keperawatan Modern Abdus Salam; Hamidatul Jannah; Ananda Yasyfa Nurhaliza Sugita; Amalia Amalia; Herman Ariadi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24074

Abstract

ABSTRACT The holistic nursing approach emphasises a comprehensive understanding of human beings, encompassing physical, psychological, social, and spiritual aspects. In the context of Kalimantan society, the phenomenon of Racun Sangga presents a unique challenge because it involves interactions between cultural beliefs and modern medical interpretations. This study aims to (1) identify the Racun Sangga phenomenon from medical (body), psychological (mind), and spiritual (soul) perspectives in holistic nursing care, and (2) analyse the influence of Kalimantan society's culture on practice. The research method used a phenomenological and ethnographic approach, through in-depth interviews and live-in. In-depth interviews were conducted with nine informants consisting of doctors, psychologists, spiritual experts, traditional healers, victims, and live-in in one of the villages in Kalimantan. The results of the study show that medically, Racun Sangga is understood as a symptom with biological aetiology; psychologically, it appears as a perceptual or psychosomatic disorder caused by fear and emotional pressure; while spiritually, it is considered a real metaphysical attack by the community. Local culture has been proven to greatly influence the perception of illness and patterns of seeking treatment, where the community first conducts magic-based self-diagnosis before seeking medical help. In conclusion, the Racun Sangga phenomenon is a multidimensional experience that encompasses body–mind–soul interactions and demonstrates that Kalimantan culture plays a dominant role in shaping the beliefs, responses, and health behaviours of the community. The implication is that modern nursing services must integrate cultural competence, medical interventions, psychological support, and ethical spiritual approaches to provide effective and culturally sensitive care. Keywords: Holistic Nursing, Kalimantan Culture, Racun Sangga, Black Magic.  ABSTRAK Pendekatan keperawatan holistik menekankan pemahaman manusia secara menyeluruh mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam konteks masyarakat Kalimantan, fenomena Racun Sangga menjadi tantangan unik karena melibatkan interaksi antara keyakinan budaya dan interpretasi medis modern. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi fenomena Racun Sangga dari sudut pandang medis (body), psikologis (mind), dan spiritual (soul) dalam pelayanan keperawatan holistik, serta (2) menganalisis pengaruh budaya masyarakat Kalimantan terhadap praktik. Metode penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi dan etnografi, melalui wawancara mendalam dan live-in. Wawancara mendalam dengan sembilan informan yang terdiri dari dokter, psikolog, ahli spiritual, dukun, korban serta live-in di di salah satu desa yang ada di kalimantan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara medis Racun Sangga dipahami sebagai gejala yang memiliki etiologi biologis, secara psikologis muncul sebagai gangguan persepsi atau psikosomatis akibat ketakutan dan tekanan emosional, sedangkan secara spiritual dianggap sebagai serangan metafisik yang nyata oleh masyarakat. Budaya lokal terbukti sangat memengaruhi persepsi sakit dan pola pencarian pengobatan, di mana masyarakat lebih dahulu melakukan self-diagnosis berbasis magis sebelum mencari bantuan medis. Kesimpulannya, bahwa fenomena Racun Sangga merupakan pengalaman multidimensi yang mencakup interaksi body–mind–soul dan melalui bukti bahwa budaya Kalimantan memiliki peran dominan dalam membentuk keyakinan, respons, dan perilaku kesehatan masyarakat. Implikasinya, pelayanan keperawatan modern harus mengintegrasikan kompetensi budaya, intervensi medis, dukungan psikologis, serta pendekatan spiritual yang etis untuk memberikan asuhan yang efektif dan sensitif budaya. Kata Kunci: Keperawatan Holistik, Budaya Kalimantan, Racun Sangga, Santet.
Hubungan Shift Kerja dan Stres Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Perawat di Rumah Sakit Islam Banjarmasin Normalia Amali, Siti; Ariadi, Herman; Azhari, M. Fahrin; Amaliah, Noor
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nurses are essential healthcare providers who work in shift systems that may lead to work stress and affect job satisfaction. Poorly managed shift work can have negative impacts on nurses’ physical and psychological well-being as well as their performance. This study aimed to analyze the relationship between shift work and work stress with nurses’ job satisfaction at Islamic Hospital Banjarmasin. This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 60 inpatient nurses selected using stratifed random sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed with the Spearman Rank correlation test. The results showed a significant relationship between shift work and nurses’ job satisfaction (p = 0.000; r = 0.661), and a significant relationship between work stress and job satisfaction (p = 0.000; r = 0.760). Nurses working evening and night shifts, as well as those with higher levels of work-related stress, tend to have lower job satisfaction. The study concludes that shift work and work stress are strongly related to nurses’ job satisfaction. It is recommended that hospital management implement fair shift scheduling, effective work stress management, and organizational support to improve nurses’ job satisfaction and enhance the quality of nursing care
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Perawat Terhadap Risiko Jatuh di Ruang Nilam RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Sari, Yunita; Ariadi, Herman; Sukarlan, Sukarlan; Amaliah, Noor
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patient falls are a patient safety issue that can cause serious injury or death; therefore, nurses’ adherence to the Standard Operating Procedure (SOP) for fall-risk prevention must be maintained consistently. To analyze the association of age, workload, and nurses’ attitudes with nurses’ compliance with fall-risk prevention in Nilam Wards 1 2 at Dr. H. Moch. Ansari Saleh General Hospital, Banjarmasin. A quantitative analytic cross-sectional study involving 41 nurses (total sampling) conducted on 13–16 January 2026. Data were collected using a biodata sheet and modified questionnaires on compliance (Putrina, 2019), workload (Subagya, 2016), and attitude (Fajrin, 2024) with validity reliability testing. Univariate (frequency percentage) and bivariate (Spearman) analyses were performed. Most respondents were adults (82.9%), reported light workload (92.7%), had positive attitudes (90.2%), and were compliant with the fall-prevention SOP (87.8%). Spearman test showed no significant association between age and compliance (p=0.291; r=0.169), while workload was significantly associated with compliance but with a weak correlation (p=0.040; r=0.317), and attitude was significantly associated with compliance but with a weak correlation (p=0.027; r=0.225). Nurses’ compliance is associated with work conditions (workload) and individual factors (attitude); thus, sustaining compliance should focus on proactive SOP integration into daily workflow, audit–feedback, and strengthening a patient-safety culture not only after fall incidents.
Effectiveness of Educational Media on Children's Knowledge of Sexual Violence afiatun rahmah; Mirawati Mirawati; Khairunnisa Khairunnisa; Muhammad Ferdy Baihaqi; Rahma Alifia Ariana; Herman Ariadi
Placentum: Jurnal Ilmiah Kesehatan dan Aplikasinya Vol 13, No 2 (2025): August
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/placentum.v13i2.105421

Abstract

Background: Reproductive health and sexuality education in elementary schools play an important role in shaping children's knowledge and protective behavior. However, the material provided is still limited to the introduction of reproductive organs and general dangers, leading many students to seek information from unreliable sources.Objectives: This study aimed to analyze the effect of booklet media on increasing knowledge about sexual violence among elementary school students in grades III–VI. A preexperimental design with a one group pre-test and post-test was used.Methods: The instrument was a questionnaire containing 20 questions covering basic knowledge about the body, recognition of sexual violence, self-protection, appropriate actions after an incident, and educational understanding.Results: The results of the Wilcoxon Signed Rank test showed a significant increase in knowledge before and after the intervention (p = 0.000). The average pre-test score of 11,26 increased to 16,54 in the post-test. The majority of students who were initially in the moderate and low knowledge categories changed to the good category after being given the booklet.Conclusion: The booklet media has proven to be effective as an educational tool that can be used in promotive and preventive efforts in elementary schools. This intervention can be used as a community midwifery strategy to improve child protection against sexual violence
Dimensi Psikologis Fenomena Racun Sangga: Identifikasi Pengalaman Korban dan Peran Budaya Kalimantan Amalia Amalia; Ananda Yasfa Nurhaliza Sugita; Hamidatul Jannah; Abdus Salam; Herman Ariadi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24111

Abstract

ABSTRACT The Racun Sangga phenomenon is a traditional belief of the Kalimantan people that reflects the interconnection between psychological, cultural, and spiritual aspects in understanding suffering. This study aims to: (1) identify the psychological experiences of Racun Sangga victims (2) analyze the role of Kalimantan culture in shaping the meaning of illness and the healing process. The study uses a qualitative approach with a phenomenological and ethnographic design, through in-depth interviews and live-in at a village in Kalimantan. In-depth interviews with seven informants consisting of victims, psychologists, traditional healers, and spiritual experts. Data were collected through in-depth interviews and field observations and analyzed using data triangulation. The results of the study reveal four main themes: (1) victims experience mental disorders, changes in perception, and physical complaints that are felt physically even though no clear medical cause has been found; (2) treatment is carried out through psychological and spiritual approaches, including cognitive therapy, transpersonal therapy, ruqyah practices, and family support; (3) Racun Sangga is understood as part of the social and cultural reality of Kalimantan society, passed down from generation to generation; and (4) treatment practices are based on moral values and spirituality that reject revenge. These findings indicate that Racun Sangga can be understood as a cultural concept of distress, meaning that its understanding and treatment require an interdisciplinary approach that is sensitive to the local cultural and spiritual context. Keywords: Racun Sangga, Cultural Concepts of Distress (CCD), Psychological Experience, Phenomenology, Interdisciplinary Approach.  ABSTRAK Fenomena Racun Sangga merupakan kepercayaan tradisional masyarakat Kalimantan yang merefleksikan keterkaitan antara aspek psikologis, budaya, dan spiritual dalam memahami penderitaan. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi pengalaman psikologis korban Racun Sangga (2) menganalisis peran budaya Kalimantan dalam membentuk pemaknaan terhadap penyakit dan proses penyembuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan etnografi, melalui wawancara mendalam dan live-in di salah satu desa di Kalimantan. Wawancara mendalam dengan 7 informan yang terdiri atas korban, psikolog, dukun dan ahli spiritual. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan serta dianalisis dengan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama: (1) korban mengalami gangguan pikiran, perubahan persepsi, dan keluhan fisik yang dirasakan secara nyata meskipun tidak ditemukan penyebab medis yang jelas; (2) penanganan dilakukan melalui pendekatan psikologis dan spiritual, termasuk terapi kognitif, transpersonal, praktik ruqyah, serta dukungan keluarga; (3) Racun Sangga dipahami sebagai bagian dari realitas sosial dan budaya masyarakat Kalimantan yang diwariskan secara turun-temurun; dan (4) praktik penanganan dilandasi oleh nilai moral dan spiritualitas yang menolak balas dendam. Temuan ini menunjukkan bahwa Racun Sangga dapat dipahami sebagai Cultural Concepts of Distress, sehingga pemahaman dan penanganannya memerlukan pendekatan interdisipliner yang sensitif terhadap konteks budaya dan spiritual lokal. Kata Kunci: Racun Sangga, Cultural Concepts of Distress (CCD), Pengalaman Psikologis, Fenomenologi, Pendekatan Interdisipliner.
Pemberdayaan Ekonomi Petani Jeruk melalui Produksi Eco-Enzyme Berbasis Limbah Organik di Desa Mandastana Aris Purwanto; M Awaluddin Padjrin; Hasbi As-shiddiq; Herman Ariadi; Nor Latifah; Najwi Hasani
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 10 No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v10i1.28545

Abstract

Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik, terutama kulit jeruk, gula, dan air, yang diproses selama kurang lebih tiga bulan. Fermentasi ini menghasilkan cairan berwarna cokelat dengan aroma khas yang mengandung enzim serta senyawa bioaktif bermanfaat. Produk eco-enzyme memiliki beragam fungsi, antara lain sebagai pembersih alami, pupuk organik cair, desinfektan, pengusir serangga, dan pengharum ruangan. Pemanfaatan limbah kulit jeruk menjadi eco-enzyme memiliki nilai strategis karena mampu mengurangi timbulan sampah organik rumah tangga, menekan pencemaran lingkungan, serta menghasilkan produk ramah lingkungan dengan nilai ekonomis. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, pelatihan pembuatan eco-enzyme tidak hanya meningkatkan kesadaran dan keterampilan warga, tetapi juga membuka peluang usaha kecil berbasis lingkungan. Dengan demikian, eco-enzyme berbasis kulit jeruk dapat menjadi solusi sederhana, murah, dan berkelanjutan dalam mendukung pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga maupun komunitas.
Co-Authors Abdul Royzak Abdus Salam Abdus Salam Ahmad Juliadi Ahmad Julkifli Ahmad Julkifli Ahmad Zainuddin Akhmad Ridhoni Akhmad Syakir Al-Mohades Al-Mohades Amalia Amalia Amalia Amalia Ananda Yasfa Nurhaliza Sugita Ananda Yasyfa Nurhaliza Sugita Anisa Diva Ramadhani Annisa Rahmah Annisa Rahmah Apri Wilianto Ardela, Mirna Aris Purwanto Ayu Indah Lestari Azhari, M. Fahrin Azidin, Yustan Choirunnisa, Sabrina Dewi Setya Paramitha Diah Retno Diah Retno Wulan Dian Yuliazahra Dian Yuliazahra Dian Yuliazahra Elvira Noviyanti Erliana Puteri Farah Yuslena Hamidatul Jannah Hamidatul Jannah Hasbi As-Shiddiq Hiryadi Iswantoro Iswantoro Izma Daud, Izma Juliadi, Ahmad Juliana Sabilla Julkifli, Ahmad Jum’ah Jum’ah Khairunnisa Khairunnisa Khairunnisa Rahmadayanti Khalidah Khalidah Khalidah Khalidah M Fahrin Azhari M. Awaluddin Padjrin M. Irfan Naufal M. Irfan Naufal M. Irfan Naufal M. Shidiq Sanjaya Makki Maryam Maryam Maryam Maryam Mirawati Mirawati Muhammad Ferdy Baihaqi Muhammad Fikri Muhammad Fikri Muhammad Fikri Najwi Hasani Nessa Anggun Permata Sari Nessa Anggun Permata Sari Noor Amaliah Noor Amaliah, Noor Noor Khalilati, Noor Nor Latifah Normalia Amali, Siti Noviyanti, Elvira Okta Nisa Paramitha, Dewi Setya Rahma Alifia Ariana Rahmah, Afiatun Rahmah, Annisa Raudah, Sari Pandan Ra’uf, Muhammad Rida Millati Rohni Taufika Sari Sabrina Choirunnisa Santi Santi Sari Pandan Raudah Sari Pandan Raudah Sari, Nessa Anggun Permata Sukarlan Sukarlan Sukarlan Sukarlan, Sukarlan Tia Juliawati Uswatun Hasanah Wilianto, Apri Yunita Sari Yustan Azidin