Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Integrasi Ilmu Agama Dan Sains Modern Dalam Pendidikan Tinggi Islam: Studi Terhadap Rekonstruksi Kurikulum Akademik Dukhroini Ali; Muhammad Faisal
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i4.8746

Abstract

Artikel ini mengkaji problematika rekonstruksi kurikulum akademik dalam konteks integrasi ilmu agama dan sains modern di pendidikan tinggi Islam. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis hermeneutik dan studi komparatif, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual lima dimensi rekonstruksi kurikulum yang mencakup dimensi filosofis-fondasional, epistemologis-metodologis, struktural-organisasional, pedagogis-praktis, dan evaluatif-asessmentif. Model transformasi kurikulum empat fase yang dirumuskan meliputi dekonstruksi, desain ulang, implementasi, dan institutionalisasi, yang berfungsi sebagai panduan sistematis bagi perguruan tinggi Islam dalam merekonstruksi kurikulum secara integratif. Studi kasus terhadap UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan bahwa rekonstruksi kurikulum memerlukan komitmen institusional berkelanjutan, pengembangan kapasitas dosen transdisipliner, serta sinergi antara kebijakan top-down dan inisiatif bottom-up. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, yaitu fragmentasi kurikuler, dikotomi epistemologis, resistensi institusional, dan dekontekstualisasi kurikulum, yang berpotensi menghambat efektivitas rekonstruksi jika tidak dimitigasi secara tepat. Penelitian ini berkontribusi dalam menawarkan model rekonstruksi kurikulum yang operasional dan kontekstual bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam yang integratif
Moderasi Beragama Dan Pluralitas Penafsiran Islam Mujid; Muhammad Faisal
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i4.8784

Abstract

This article examines the relationship between religious moderation and the plurality of Islamic interpretations through hermeneutical analysis of contemporary Islamic discourse. Religious moderation, promoted as the official paradigm of religiosity in Indonesia, faces fundamental epistemological and hermeneutical challenges when confronted with the reality of pluralistic interpretations of religious texts. Through hermeneutical-critical analysis integrating the thoughts of Fazlur Rahman, Khaled Abou El Fadl, and Nasr Hamid Abu Zayd, this study develops a five-dimensional framework encompassing textual-hermeneutical, contextual-historical, ethical-normative, social-dialogical, and institutional-structural dimensions as the foundation for religious moderation based on interpretive plurality. Furthermore, this research formulates a four-phase transformative model comprising deconstruction of interpretive authoritarianism, hermeneutical reorientation, dialogical-integrative engagement, and institutionalization of wasatiyyah to guide the formation of moderate and inclusive Islamic discourse. The findings identify four critical risks, namely interpretive trivialization, hermeneutical relativism, institutional co-optation, and neo-essentialism, which potentially impede the realization of authentic religious moderation
Integrasi Keilmuan Islam Berbasis Maqāṣid al-Syarī’ah dalam Pengembangan Hukum Ekonomi Syariah di Era Kontemporer Neri Aslina; Muhammad Faisal
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i4.8785

Abstract

Pengembangan hukum ekonomi syariah di era kontemporer menghadapi tantangan fundamental berupa fragmentasi antara prinsip syariah dan praktik ekonomi modern yang sekularistik. Artikel ini menganalisis integrasi keilmuan Islam berbasis maqasid al-syariah dalam pengembangan hukum ekonomi syariah melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis lima dimensi, yakni ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-strategis, dan teleologis-transformatif. Melalui proses empat fase transformasi, yaitu identifikasi fragmentasi hukum ekonomi syariah, rekonstruksi epistemologi hukum ekonomi berbasis maqasid, implementasi integrasi maqasid dalam regulasi ekonomi syariah, dan resiliensi hukum ekonomi syariah berbasis maqasid, penelitian ini memetakan trajektori integrasi keilmuan Islam dalam konteks hukum ekonomi kontemporer. Studi kasus terhadap Bank Syariah Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan Direktorat Syariah, dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia mengungkap model integrasi yang beragam namun saling melengkapi. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, meliputi formalisme maqasid, instrumentaliasi maqasid, fragmentasi interpretatif, dan sekularisasi tersembunyi, yang mengancam keberlangsungan integrasi tersebut. Temuan menunjukkan bahwa integrasi keilmuan Islam berbasis maqasid al-syariah memerlukan pendekatan sistemik yang mempertahankan dimensi transendental maqasid sekaligus responsif terhadap dinamika ekonomi kontemporer, di mana maqasid berfungsi sebagai kerangka filosofis yang memberikan arah dan makna bagi seluruh regulasi dan praktik ekonomi syariah
Integrasi Keilmuan Islam Dalam Perspektif Filsafat Ilmu Kontemporer: Telah Ontologis, Epistemologis Dan Aksiologis Resdin Efendi Pasaribu; Muhammad Faisal
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i4.8788

Abstract

Artikel ini mengkaji integrasi keilmuan Islam dalam perspektif filsafat ilmu kontemporer melalui telaah ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pendekatan integrasi keilmuan Islam telah menjadi diskursus akademik yang signifikan dalam upaya mendamaikan tradisi keilmuan Islam dengan sains modern, namun masih menghadapi tantangan konseptual dan praktis yang mendasar. Melalui analisis filosofis komprehensif, penelitian ini mengembangkan kerangka lima dimensi yang mencakup dimensi ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-integratif, dan teleologis-transformatif sebagai landasan teoretis integrasi keilmuan Islam. Selain itu, penelitian ini merumuskan model transformasi empat fase yang meliputi dekonstruksi, reorientasi, integrasi, dan transformasi transdisipliner untuk memandu proses rekonstruksi epistemik dalam pendidikan tinggi Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis dan analisis hermeneutik-kritis terhadap pemikiran Al-Attas, Al-Faruqi, dan Amin Abdullah, artikel ini menunjukkan bahwa integrasi keilmuan Islam mensyaratkan reorientasi ontologis dari dikotomi sacred-profane menuju kesatuan realitas tawhidi, rekonstruksi epistemologis yang mengintegrasikan sumber revelasi dengan rasionalitas ilmiah, serta reposisi aksiologis yang menempatkan nilai transendental sebagai landasan etika keilmuan. Temuan penelitian juga mengidentifikasi empat risiko kritis, yakni reduksi ontologis, fragmentasi epistemologis, instrumentalisme aksiologis, dan skolastisisme baru, yang berpotensi menghambat proses integrasi secara autentik
Pola Dasar Perkembangan Pemikiran Islam di Kawasan Melayu Syamsuarni Syam; Halimah; M. Fahsul Fuadi; Muhammad Faisal
GHIROH Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : MGMP PAI SMP BINTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61966/ghiroh.v5i1.103

Abstract

Research on Islamic thought in the Malay world has been shaped through a gradual and contextual historical process, involving a dynamic interaction between Islamic teachings, local cultural traditions, and social developments. The moderation, adaptability, and accommodativeness of Malay Islamic thought provide a distinctive intellectual identity compared to Islamic thought traditions in other regions. This article aims to examine the basic patterns of Islamic thought development in the Malay world and analyze its implications for Islamic education management practices. This research uses a qualitative approach with a literature study method through a critical review of primary and secondary sources relevant to the study of Islamic thought and Islamic education in the Malay world. The research findings indicate that Malay Islamic thought developed through an integrative pattern between Islamic values ​​and local culture, strengthening the Ahlussunnah wal Jama'ah tradition, and a moderate attitude in responding to the dynamics of modernization. This pattern has direct implications for Islamic education management, particularly in the development of educational leadership, curriculum design, and institutional governance that emphasizes the principles of moderation, balance, and sustainability.