Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Paradigma Keilmuan Holistik: Integrasi Islam Dan Sains Dalam Sistem Pendidikan Global Fithri Mehdini Addieningrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8839

Abstract

Articel ini mengkaji paradigma keilmuan holistik sebagai upaya mengintegrasikan Islam dan sains dalam sistem pendidikan global yang menghadapi tantangan fragmentasi epistemologis. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis hermeneutik dan studi komparatif, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual lima dimensi integrasi yang mencakup dimensi epistemologis, kurikular-pedagogis, institusional-struktural, kultural-kontekstual, dan teknologis-digital. Model transformasi empat fase yang dirumuskan meliputi dekonstruksi, reorientasi, integrasi, dan institusionalisasi, yang berfungsi sebagai panduan sistematis bagi lembaga pendidikan Islam dalam menerapkan paradigma integratif-holistik. Studi kasus terhadap UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan bahwa implementasi integrasi Islam dan sains memerlukan komitmen institusional yang berkelanjutan, pembaruan kurikulum yang substansial, serta pengembangan kapasitas dosen yang transdisipliner. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, yaitu reduksi integratif, dualisme epistemologis, eksklusionisme kultural, dan kooptasi institusional, yang berpotensi menghambat efektivitas paradigma holistik jika tidak dimitigasi secara tepat. Penelitian ini berkontribusi dalam menawarkan model transformasi yang operasional dan kontekstual bagi pengembangan pendidikan Islam yang mampu berdialog dengan tradisi keilmuan global tanpa kehilangan identitas epistemiknya
Cyber-Leadership in Education: Dinamika Kepemimpinan Virtual dalam Manajemen Pendidikan Global Neri Aslina; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8840

Abstract

Transformasi digital telah mengubah lanskap kepemimpinan pendidikan secara fundamental, menuntut model kepemimpinan baru yang mampu beroperasi dalam ruang virtual dan konteks global. Artikel ini menganalisis dinamika cyber-leadership dalam manajemen pendidikan global melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis lima dimensi, yakni ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-strategis, dan teleologis-transformatif. Melalui proses empat fase transformasi, yaitu identifikasi kebutuhan transformasi digital kepemimpinan, pengembangan kompetensi cyber-leadership, implementasi kepemimpinan virtual dalam manajemen pendidikan, dan resiliensi serta keberlanjutan cyber-leadership, penelitian ini memetakan trajektori evolusi kepemimpinan pendidikan di era digital. Studi kasus terhadap Universitas Terbuka Indonesia, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA mengungkap model implementasi cyber-leadership yang beragam namun saling melengkapi. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, meliputi digital divide dan ketimpakan akses, erosi otoritas dan koneksi manusia, keamanan siber dan privasi data, serta teknokrasi dan dehumanisasi kepemimpinan, yang mengancam efektivitas cyber-leadership dalam pendidikan. Temuan menunjukkan bahwa cyber-leadership memerlukan keseimbangan dialektis antara pemanfaatan teknologi digital sebagai medium transformasi dan pemertahanan dimensi kemanusiaan sebagai esensi kepemimpinan pendidikan, di mana virtualisasi bukan berarti penghapusan relasi personal melainkan rekonfigurasi yang memperluas jangkauan dan kedalaman interaksi kepemimpinan
Moderasi Beragama dan Kecerdasan Buatan: Analisis terhadap Masa Depan Otoritas Keagamaan di Era AI Sukri; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.10396

Abstract

Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) telah membawa transformasi mendalam terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk bidang keagamaan yang selama ini dianggap sakral dan terlindungi dari intervensi teknologi. Artikel ini menganalisis secara kritis bagaimana AI mempengaruhi masa depan otoritas keagamaan dalam konteks moderasi beragama di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka dan analisis wacana filosofis-etis, penelitian ini mengeksplorasi tiga dimensi utama: (1)-transformasi otoritas keagamaan di tengah mediasi algoritmik pengetahuan keagamaan, (2) peluang dan risiko AI bagi penguatan moderasi beragama, serta (3) kerangka etis Islam berbasis maqasid al-shariah untuk tata kelola AI keagamaan. Temuan menunjukkan bahwa AI menggeser otoritas keagamaan dari ulama tradisional menuju elite pengetahuan algoritmik (algorithmic epistemic elite), menciptakan schisme digital antara otoritas religius berbasis humanistik dan berbasis komputasional. Sementara itu, AI menawarkan peluang besar untuk memperluas akses literasi keagamaan moderat, tetapi juga membawa risiko komodifikasi agama (religious consumerism), polarisasi ekstrem, dan erosi keamanan intelektual umat. Artikel ini menyimpulkan bahwa masa depan otoritas keagamaan di era AI memerlukan rekonstruksi paradigmatik yang mengintegrasikan kerangka maqasid al-shariah, prinsip tata kelola digital, dan nilai-nilai wasathiyyah untuk membangun ekosistem keilmuan Islam yang adaptif, etis, dan berdaulat secara epistemologis
Moderasi Beragama dalam Perspektif Integrasi Keilmuan Islam: Analisis terhadap Rekonstruksi Epistemologi Pendidikan Islam Kontemporer Suroso; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.10397

Abstract

Artikel ini mengkaji moderasi beragama dalam perspektif integrasi keilmuan Islam dengan fokus pada rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam kontemporer. Pendidikan Islam saat ini menghadapi krisis epistemologis yang berakar pada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, dominasi pendekatan bayani yang tekstualis-normatif, serta lemahnya integrasi antara penalaran rasional, eksperimen empiris, dan pengalaman spiritual. Krisis ini berdampak pada munculnya dua kutub ekstrem yang sama-sama merugikan: literalisme tekstual yang cenderung eksklusif pada satu sisi, dan liberalisme sekular yang kehilangan akar tradisi pada sisi lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana filosofis-pedagogis. Kerangka teoretis dibangun dengan menempatkan integrasi keilmuan Islam sebagai paradigma, rekonstruksi epistemologi sebagai fokus analisis, dan moderasi beragama sebagai orientasi teleologis. Temuan utama menunjukkan bahwa rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam harus dilakukan melalui integrasi tiga pendekatan keilmuan klasik yaitu bayani (tekstual-linguistik), burhani (rasional-empirik), dan irfani (intuitif-spiritual) dalam kerangka kesatuan ilmu (unity of science) yang berpusat pada tauhid. Model integratif ini menghasilkan epistemologi moderasi yang bercirikan keseimbangan antara tekstual dan kontekstual, rasional dan spiritual, universal dan partikular, serta transendensi dan immanensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam kontemporer merupakan keniscayaan historis dan teoretis untuk menghasilkan pendidikan Islam yang memoderasi, bukan sekadar mengajarkan tentang moderasi. Implikasi praktisnya mencakup reformasi kurikulum, pengembangan kompetensi dosen, dan transformasi budaya akademik di institusi pendidikan Islam.
Integrasi Moderasi Beragama dan Literasi Teknologi dalam Pendidikan Islam: Analisis Mode Pembelajaran Era Society 5.0 Muhammad Sahwil; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.10398

Abstract

Artikel ini mengkaji integrasi moderasi beragama dan literasi teknologi dalam pendidikan Islam sebagai respons strategis terhadap tantangan era Society 5.0 yang menuntut reorientasi fundamental terhadap mode pembelajaran. Era Society 5.0 yang ditandai oleh fusi ruang fisik, digital, dan biologis telah menciptakan kondisi new normal di mana pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas konvensional, melainkan berlangsung dalam ekosistem digital yang hiper-terhubung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana pendidikan. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori masyarakat jaringan dan revolusi industri keempat (Castells, Schwab, Floridi) sebagai grand theory, teori digital religion dan connectivism (Campbell, Siemens, Downes) sebagai middle theory, serta teori moderasi beragama dan integrasi keilmuan Islam (Shihab, Kemenag RI, Auda, Amin Abdullah, Al-Attas) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi moderasi beragama dan literasi teknologi dalam mode pembelajaran era Society 5.0 memerlukan empat dimensi: (1) reorientasi epistemologis yang mengintegrasikan nilai-nilai wasathiyyah dalam desain pembelajaran digital; (2) pengembangan mode pembelajaran hybrid-collaborative yang berbasis pada literasi teknologi kritis dan etika Islam; (3) penguatan kompetensi pedagogik-digital guru PAI dalam menavigasi disrupsi teknologi; dan (4) konstruksi budaya digital religius yang menyeimbangkan dimensi teologis dan sosiologis Islam. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan pendidikan Islam di era Society 5.0 terletak pada kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dengan literasi teknologi secara dialogis-reflektif, sehingga lahir generasi muslim yang beriman, berilmu, dan melek teknologi. Implikasi praktis adalah perlunya lembaga pendidikan Islam mengembangkan kurikulum integratif, kapasitas guru, dan tata kelola pembelajaran digital yang berbasis nilai wasathiyyah
Moderasi Beragama Perspektif Islam Wasathiyah: Analisis terhadap Tantangan Fundamentalisme dan Liberalisme Keagamaan Irwasyah; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.10399

Abstract

Artikel ini mengkaji moderasi beragama dalam perspektif Islam wasathiyah sebagai pendekatan teologis-epistemologis untuk merespons tantangan fundamentalisme dan liberalisme keagamaan kontemporer di Indonesia. Kontestasi dua kutub ekstrem ini telah memicu polarisasi sosial, disorientasi identitas keagamaan, dan erosion otoritas keilmuan Islam moderat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana teologis-sosiologis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori Islam wasathiyah sebagai paradigma teologis-epistemologis (Shihab, Kamali, al-Qaradawi, Abou El Fadl, Esposito) sebagai grand theory, teori sosiologi fundamentalisme-liberalisme keagamaan dan diskursus Islam Indonesia kontemporer (Kemenag RI, Burhani, Hefner, Kersten, Hilmy, Fathurrahman, Armstrong, Roy, Marty & Appleby) sebagai middle theory, serta teori implementasi moderasi beragama dalam pendidikan dan masyarakat (Arif, Zulqarnain, Thohir et al., Firdaus et al., Harnedi et al., Nurdi et al., Hadi et al., Sugianto et al., Suryati et al.) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa moderasi beragama perspektif wasathiyah menawarkan empat pilar integral: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i'tidal (lurus), dan tasamuh (toleran) yang berakar pada epistemologi bayani-burhani-irfani. Fundamentalisme dan liberalisme sama-sama berfungsi sebagai antitesis yang dapat diredam melalui pendekatan wasathiyah, namun memerlukan strategi implementatif yang sistematis. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan moderasi beragama di Indonesia terletak pada rekonstruksi kesadaran teologis-epistemologis umat melalui pendidikan keagamaan berbasis wasathiyah, penguatan otoritas keilmuan moderat, dan pembangunan ekosistem sosial-keagamaan yang inklusif. Implikasi praktis adalah perlunya lembaga pendidikan Islam, pesantren, dan perguruan tinggi Islam mengembangkan kurikulum wasathiyah, kapasitas pendidik yang moderat, dan kemitraan multi-aktor untuk meredam gelombang fundamentalisme-liberalisme
Moderasi Beragama Berbasis Maqashid Al-Syariah dalam Menghadapi Intoleransi Digital: Analisis terhadap Pendidikan Islam Kontemporer Masrum; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.10400

Abstract

Artikel ini mengkaji moderasi beragama berbasis Maqashid al-Syariah sebagai paradigma teologis-epistemologis untuk menghadapi intoleransi digital dalam pendidikan Islam kontemporer. Intoleransi digital yang muncul di ruang siber berupa ujaran kebencian, radikalisme online, ekstremisme keagamaan, dan polarisasi komunal telah menjadi tantangan baru yang tidak dapat dijawab oleh pendekatan moderasi konvensional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis filosofis-pedagogis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori Maqashid al-Syariah sebagai filosofi hukum Islam dan paradigma moderasi (Auda, al-Raysuni, al-Qaradawi, Kamali, Shihab, Kemenag RI, Abou El Fadl) sebagai grand theory, teori digital religion dan otoritas keagamaan digital serta Islam sipil (Campbell, Hefner, Saeed, Amin Abdullah, Azra) sebagai middle theory, serta teori implementasi moderasi beragama berbasis Maqashid dalam pendidikan Islam dan teknologi digital (Waluyo & Susilowati, Saputra & Wahyuni, Rachmah et al., Yuda et al., Mujahidin & Prasetiya, Farhan et al., Hermanto et al., Wahab & Mahdiya, Utomo et al., Meilina et al., Wahid, Mahmudah et al., Nurdi & Cahyadi, Jannah et al., Syafaq et al., Susanto & Mukri, Nur & Nurrahman, Khoiruddin & Dzulkifli, Jihad, Studia Islamika, Al-Jami'ah, JIIS) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa Maqashid al-Syariah menawarkan empat pilar strategis untuk meredam intoleransi digital: (1) reorientasi teleologis pendidikan Islam berbasis lima tujuan luhur syariah (hifz al-din, al-nafs, al-'aql, al-nasl, al-mal) yang diperluas dengan hifz al-hurriyyah dan hifz al-mustadh'afin; (2) pengembangan epistemologi digital Islam yang mengintegrasikan bayani, burhani, dan irfani dengan literasi digital kritis; (3) penguatan otoritas keagamaan moderat di ruang siber melalui kepemimpinan digital ulama dan pendidik; serta (4) konstruksi ekosistem pendidikan digital yang berorientasi maqashid melalui integrasi nilai-nilai moderasi dalam kurikulum, pedagogi, dan tata kelola. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan pendidikan Islam kontemporer dalam menghadapi intoleransi digital terletak pada rekonstruksi paradigmatik berbasis Maqashid al-Syariah yang melahirkan generasi muslim yang moderat, literat digital, dan berotoritas keagamaan yang kokoh. Implikasi praktis adalah perlunya lembaga pendidikan Islam mengembangkan kurikulum berbasis maqashid, kapasitas pendidik digital moderat, dan kemitraan multi-aktor untuk meredam intoleransi digital
Integrasi Keilmuan Islam dalam Perspektif Kuntowijoyo dan Amin Abdullah: Telaah terhadap Pengembangan Akademik PTKI Reno Pardiansyah; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.10402

Abstract

Artikel ini mengkaji integrasi keilmuan Islam dalam perspektif Kuntowijoyo dan M. Amin Abdullah serta implikasinya bagi pengembangan akademik Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis filosofis-komparatif. Kerangka teoretis dibangun secara berlapis: Pengilmuan Islam Kuntowijoyo sebagai grand theory, paradigma Integrasi-Interkoneksi Amin Abdullah sebagai middle theory, Islamisasi Ilmu al-Attas dan al-Faruqi serta Sacred Science Nasr sebagai supporting theory, dan pendekatan Multidisiplin-Interdisiplin-Transdisiplin Amin Abdullah sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa Kuntowijoyo dan Amin Abdullah memiliki konvergensi dalam menolak dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, namun memiliki perbedaan paradigmatik: Kuntowijoyo menawarkan pengilmuan Islam sebagai proyek profetik-transformatif yang berorientasi pada pembebasan umat, sementara Amin Abdullah menawarkan integrasi-interkoneksi sebagai paradigma dialogis-interkonektif yang berorientasi pada pengembangan studi Islam kontemporer yang lintas-disiplin. PTKI sebagai institusi pendidikan tinggi Islam di Indonesia menghadapi tantangan ganda: di satu sisi harus merekonstruksi epistemologi keilmuan yang integratif, di sisi lain harus menjawab tantangan era digital, kecerdasan buatan, dan globalisasi pendidikan tinggi. Artikel ini mengidentifikasi lima dimensi strategis pengembangan akademik PTKI berbasis integrasi keilmuan: rekonstruksi kurikulum integratif, pengembangan metodologi riset lintas-disiplin, penguatan kapasitas dosen, transformasi tata kelola, dan internasionalisasi pendidikan tinggi Islam. Penelitian menyimpulkan bahwa integrasi keilmuan Islam di PTKI menuntut pergeseran dari paradigma dikotomis-fragmentaris ke paradigma integratif-interkonektif, dari pendekatan monolitis-essentialist ke pendekatan pluralistik-kontekstual, serta dari epistemologi tertutup ke epistemologi terbuka-dialogis. Implikasi praktis adalah perlunya PTKI mengembangkan ekosistem akademik yang mengintegrasikan wahyu, rasio, dan pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi, serta membangun komunitas epistemologis lintas-disiplin yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas
Islamic Worldview in Science: Transformasi Paradigma Ilmu di Era Disrupsi Digital Sudirman Anwar; Said Maskur; Muhammad Faisal
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i4.8742

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi paradigma ilmu dalam perspektif Islamic worldview di tengah era disrupsi digital, dengan fokus pada analisis kritis terhadap dikotomi ilmu agama dan ilmu umum serta rekonstruksi epistemologi integratif yang berbasis pada tauhid. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis hermeneutis terhadap literatur akademis kontemporer mengenai islamisasi ilmu, integrasi sains-agama, dan epistemologi Islam. Kerangka teoretis penelitian mengintegrasikan konsep Islamisasi Ilmu Al-Faruqi, de-westernization of knowledge Al-Attas, dan sacred science Nasr untuk membangun model analisis transformasi paradigma ilmu yang holistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) dikotomi ilmu agama dan ilmu umum merupakan warisan epistemologis kolonial yang terus berlanjut dalam sistem pendidikan Islam kontemporer dan diperparah oleh logika disrupsi digital yang cenderung sekular-materialistis; (2) paradigma sains bebas nilai yang menjadi fondasi ilmu pengetahuan modern mengalami krisis etis yang signifikan, terutama dalam konteks perkembangan teknologi digital yang menimbulkan problem dehumanisasi dan disorientasi pengetahuan; (3) rekonstruksi epistemologi Islam yang integratif, dengan menjadikan tauhid sebagai dasar ontologis dan epistemologis, mampu menawarkan paradigma alternatif yang mengharmoniskan dimensi spiritual dan rasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan di era digital. Artikel ini mengusulkan model transformasi paradigma ilmu berbasis Islamic worldview yang terdiri dari empat dimensi: ontologis, epistemologis, aksiologis, dan teleologis, sebagai kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang bermoral dan bermakna di era Society 5.0
Moderasi Beragama dalam Perspektif Maqasid al-Shariah: Analisis Terhadap Tantangan Radikalisme Digital di Indonesia Fithri Mehdini Addieningrum; Muhammad Faisal
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i4.8744

Abstract

Moderasi beragama telah menjadi agenda strategis nasional Indonesia dalam menghadapi ancaman radikalisme yang kini semakin bermigrasi ke ruang digital. Artikel ini menganalisis moderasi beragama melalui perspektif maqasid al-shariah sebagai kerangka normatif-teleologis yang menyediakan fondasi filosofis bagi praktik moderasi beragama, sekaligus merespons tantangan radikalisme digital yang mengancam kelima daruriyyat (perlindungan fundamental) dalam maqasid. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis literatur sistematis, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja komprehensif lima dimensi yang mencakup dimensi teologis-normatif (hifz al-din), digital-teknologis (hifz al-'aql), sosiologis-komunitas (hifz al-nasl), institusional-struktural (hifz al-mal), dan kultural-identitas (hifz al-nafs). Temuan menunjukkan bahwa radikalisme digital secara sistematis mengancam seluruh daruriyyat melalui mekanisme distorsi teologis, manipulasi algoritmik, fragmentasi sosial, kooptasi institusional, dan erosi identitas moderat. Model transformasi empat fase yang dikembangkan terdiri dari identifikasi, mitigasi, resiliensi, dan transformasi, memberikan peta jalan operasional bagi institusi keagamaan. Studi kasus terhadap Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Kementerian Agama RI mengungkapkan keragaman pendekatan dan tantangan kontekstual. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama: reduksi maqasid menjadi formalisme, disinformasi dan algoritma radikalisasi, eksklusionisme komunitas, dan kooptasi politis. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan model moderasi beragama berbasis maqasid yang responsif terhadap dinamika radikalisme digital