Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PREVALENSI KELENGKAPAN PENULISAN DESKRIPSI LUKA PADA KORBAN HIDUP KASUS TRAUMA MEKANIK BERDASARKAN DATA REKAM MEDIK MENURUT KEILMUAN FORENSIK DI INSTALANSI FORENSIK RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2016 Jims Ferdinan Possible; Dwi Robbiardy Eksa; Yandi Pirnata
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 3 (2017): Volume 4 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.671 KB) | DOI: 10.33024/.v4i3.1313

Abstract

Latar belakang : Trauma mekanik dapat terjadi pada peristiwa apapun seperti kecelakaan¸ penganiayaan, bunuh diri, pembunuhan dan lain lain. Dalam menceritakan tentang trauma mekanik yang terjadi di tubuh manusia harus menyebutkan karakteristik trauma tersebut dengan gambaran atau deskripsi luka pada data rekam medik, hal tersebut sesuai menurut keilmuan forensik yang sering di butuhkan dalam proses peradilan.Tujuan Penelitian : Untuk melihat prevalensi kelengkapan penulisan deskripsi luka pada korban hidup kasus trauma mekanik dalam data rekam medik sesuai kaidah tata cara penulisan deskripsi luka menurut keilmuan forensik.Metode penelitian : Desain penelitian deskriftif retrospektif dengan desain penelitian cross sectional, teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Didapatkan lembar rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 327 pasien.Hasil penelitian Karakteristik deskripsi luka berdasarkan kelengkapan penulisan deskripsi luka sebanyak 100 (30.6 %) lembar rekam medis pasien ditulis lengkap, berdasarkan kelengkapan penulisan jenis luka sebanyak 287 (87.8 %) lembar rekam medis pasien ditulis deskripsi jenis luka dengan lengkap, berdasarkan kelengkapan penulisan lokasi luka sebanyak 327 (100 %) lembar rekam medis pasien ditulis lokasi lukanya dengan lengkap, berdasarkan kelengkapan penulisan bentuk luka sebanyak 155 (47.4 %) lembar rekam medis pasien ditulis bentuk perlukaannya, berdasarkan kelengkapan penulisan ukuran luka sebanyak 323 (98.8 %) lembar rekam medis pasien ditulis ukuran luka dengan lengkap, berdasarkan kelengkapan penulisan jumlah luka sebanyak 231 (70.6) lembar rekam medis pasien ditulis jumlah lukanya dengan lengkap.Kesimpulan : Distribusi frekuensi deskripsi luka berdasarkan kelengkapan penulisannya yang paling banyak ditulis oleh tenaga kesehatan yang terkait yaitu lokasi luka sebanyak 327 (100%) dari 327 lembar rekam medis pasien sedangkan yang sering tidak ditulis oleh tenaga kesehatan yang terkait yaitu pada penulisan bentuk luka sebanyak 155 (47,4%) dari 327 lembar rekam medis pasien.
HUBUNGAN KEPATUHAN TERAPI KELASI DENGAN KADAR FERITIN PADA PENDERITA TALASEMIA MAYOR DI RSUD H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG Mala Kurniati; Dwi Robbiardy Eksa; Chintia Risnawati
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Volume 7 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.476 KB) | DOI: 10.33024/jikk.v7i2.2735

Abstract

Thalasemia adalah sindrom kelainan bawaan yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin karena adanya mutasi pada gen globin. Pasien beta thalasemia mayor yang menerima transfusi darah berulang menyebabkan akumulasi besi yang dapat ditentukan dengan pengukuran serum feritin. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kadar feritin adalah kepatuhan terapi kelasi, yang dapat dinilai menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). Tujuan penelitian ini yaitu menentukan tingkat kepatuhan terapi chelation dan kadar feritin pada pasien thalassemia mayor di Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Lampung. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 40 orang yang menerima transfusi darah dan terapi kelasi. Pengumpulan data diambil dari rekam medik dan nilai kepatuhan terapi dinilai oleh MMAS. Analisis bivariat menggunakan uji Spearman. Sebagian besar pasien berjenis kelamin waktu sebanyak 25 orang (62,5%). Rentang usia terbanyak 5-11 tahun (45,0%). Kadar hemoglobin sebelum transfusi berkisar antara 6 hingga 7,9 mg / l (52,5%). Pasien dengan talasemia mayor paling banyak memiliki berat badan kurang (82,5%). Rata-rata skor MMAS 3,3 ± 1,9, kadar rata-rata 4499,0 ± 3308,5 ng / ml. Ada korelasi yang signifikan antara kepatuhan terapi kelasi dengan kadar feritin sebesar 0,768 yang menunjukkan korelasi positif dan kuat pada pasien thalasemia mayor di Rumah Sakit H. Abdul Moeloek Lampung.
LAPORAN KASUS : KANKER PARU KIRI JENIS ADENOKARSINOMA DENGAN HEMOPTISIS NON MASIVE Syazili Mustofa; Anggi Adelia; Achmad Gozali; Sukarti Sukarti; Rizki Putra Sanjaya; Dimas Trend PB; Dwi Robbiardy Eksa; I Made Afryan SL; Fitriyah Fitriyah; Isura Febrihartati
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 5 (2023): Volume 10 Nomor 5
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i5.10085

Abstract

Abstrak : Kanker Paru Kiri Jenis Adenocarcinoma dengan Hemoptisis NonMasive. Angka kejadian kanker paru di Indonesia berada urutan ke delapan di AsiaTenggara dan menempati urutan ke-23 di Benua Asia. Kejadian kanker paru diIndonesia cenderung meningkat setiap tahunnya. Salah satu komplikasi penyakitkanker paru adalah hemoptisis dan sebanyak 25% kasus hemoptisis berhubungandengan keganasan rongga toraks. Telah dilaporkan satu kasus di RSUD dr. H. AbdulMoeloek Lampung dengan keluhan batuk bercak darah pada seorang laki-lakiberusia 53 tahun. Berdasarkan anamnesis diketahui bahwa pasien sudahmerasakan sesak sejak 2 bulan yang lalu disertai dengan nyeri dada kiri. Pasienjuga mengeluhkan berat badannya menurun secara drastis. Pasien memiliki riwayatmerokok yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Pada pemeriksaan fisikditemukan bunyi napas yang menurun pada hemithoraks kiri. Hasil pemeriksaanradiologi memperlihatkan adanya opasitas homogeny pada medial hemithoraks kiri.Pasien didiagnosis dengan kanker paru kiri dengan hemoptisis non massive.Diberikan penanganan dengan anti-fibronolitik dan kemoterapi pada pasien.
The Contribution Hypoalbumin Status on Diagnosing LF-LAM TB Ag Versus Xpert MTB/Rif in Patients Pulmonary Tuberculosis Eksa, Dwi Robbiardy; Hendarto, Gatot Sudiro; Sinaga, Fransisca Tarida Yuniar; Dilangga, Pad; Herdato, M. Junus Didiek; Infianto, Andreas; Ekawati, Diyan; Gozali, Achmad; Ajipurnomo, Adhari
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 10, No 1 (2025): March
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v10i1.3092

Abstract

In 2023, the global prevalence of tuberculosis (TB) reached 8.2 million cases. This represents the highest recorded figure associated with delayed diagnostics and a rising incidence of tuberculosis cases. Tuberculosis prevalence is elevated among individuals with compromised immune systems, including those with HIV and hypoalbuminemia, who exhibit increased vulnerability to infection. The challenge of sputum ejection impedes diagnosis, highlighting the need for a rapid and economical early detection method. The LF-LAM TB-Ag assay provides an alternative method for determining the presence of Lipoarabinomannan in urine, which is a component of the Mycobacterium tuberculosis cell wall. This study evaluated the efficacy of the LF-LAM TB-Ag assay compared to the Xpert MTB/RIF method for diagnosing tuberculosis. A comparative cross-sectional study was conducted at Abdoel Moeloek Hospital in Lampung Province, Indonesia, between January 2023 and June 2024. A total of 52 suspected pulmonary tuberculosis patients, who were HIV-negative and had hypoalbumin status, were evaluated using both the LF-LAM TB-Ag and Xpert MTB/RIF assays. The Wilcoxon and Chi-square tests have been utilised to assess the efficacy of LF-LAM TB-Ag in comparison to Xpert MTB/RIF. A p-value below 0.002 was considered statistically significant. Xpert MTB/RIF demonstrated improved diagnostic accuracy for tuberculosis in individuals with hypoalbuminemia. This study emphasises the necessity for early detection of pulmonary tuberculosis in patients with hypoalbuminemia. The combining of LF-LAM TB-Ag with Xpert MTB/RIF improves detection, especially among high-risk populations, thereby enabling prompt treatment and enhanced disease management.
Comparative Diagnostic Accuracy of LF-LAM TB Antigen and Xpert MTB/RIF in Pulmonary Tuberculosis among Underweight Patients Eksa, Dwi Robbiardy; Hendarto, Gatot Sudiro; Sinaga, Fransisca TY; Dilangga, Pad; Herdato, M. Junus Didiek; Infianto, Andreas; Ekawati, Diyan; Gozali, Achmad; Ajipurnomo, Adhari
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 45 No 4 (2025)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/7brxv447

Abstract

Background: In 2023, the global incidence of tuberculosis (TB) reached 8.2 million cases. It is the highest on record due to delayed diagnoses and a rising number of TB patients. Tuberculosis is more prevalent among patients with compromised immune systems, including those with HIV and malnutrition (BMI <18.5 kg/m2), who exhibit increased vulnerability to infection. The challenge of sputum expulsion impedes diagnosis, requiring a rapid, cost-effective early-detection technique. The lateral flow lipoarabinomannan TB antigen (LF-LAM TB-Ag) assay provides an alternate method for identifying lipoarabinomannan in urine, a constituent of the Mycobacterium tuberculosis cell wall. This study assessed the effectiveness of the LF-LAM TB-Ag assay compared with the Xpert MTB/RIF assay for TB diagnosis. Methods: A comparative cross-sectional study was conducted at Abdul Moeloek Hospital, Lampung Province, from January 2023 to June 2024. A total of 52 suspected pulmonary TB patients with HIV-negative status and underweight BMI were evaluated using both the LF-LAM TB-Ag and Xpert MTB/RIF assays. Results: Chi-square tests were used to compare the performance of LF-LAM TB-Ag with Xpert MTB/RIF. The LF-LAM TB-Ag test had a sensitivity of 79.59% and a specificity of 100% (P=0.002). Conclusion: This study underscores the necessity for early detection of pulmonary TB in underweight individuals. The integration of LF-LAM TB-Ag with Xpert MTB/RIF improves detection, especially in high-risk populations, enabling prompt treatment and enhanced disease management.