Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

A Severe Overlap Syndrome Artritis Reumatoid Dan Lupus Eritematosus Sistemik Dengan Kolelitiasis: Laporan Kasus Ika Artini; Surya Darma; Tria Ayu Pratiwi
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 6 (2026): Volume 13 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i6.26622

Abstract

Rhupus syndrome merupakan sindrom tumpang tindih yang jarang terjadi antara artritis reumatoid (AR) dan lupus eritematosus sistemik (LES), dengan manifestasi klinis dan imunologis kedua penyakit secara bersamaan. Kasus ini penting karena menunjukkan kombinasi Rhupus syndrome dengan anemia hemolitik autoimun (AIHA) berat, perdarahan saluran cerna akibat penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), dan kolelitiasis yang jarang dilaporkan sehingga menimbulkan tantangan diagnosis dan tata laksana. Seorang perempuan berusia 58 tahun datang dengan keluhan nyeri sendi kronik disertai deformitas multipel. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan faktor reumatoid reaktif, kadar anti-cyclic citrullinated peptide (anti-CCP) meningkat, ANA positif dengan titer 1:320, direct Coombs test positif, kadar komplemen C3 dan C4 menurun, serta kadar hemoglobin 4,45 g/dL. Pemeriksaan radiologi mendukung diagnosis artritis reumatoid, sedangkan temuan imunologis memenuhi kriteria lupus eritematosus sistemik (LES) aktif dengan komplikasi anemia hemolitik autoimun (AIHA). Ultrasonografi abdomen menunjukkan kolelitiasis, sementara endoskopi saluran cerna memperlihatkan gastritis kronis sebagai penyebab perdarahan saluran cerna yang berkaitan dengan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Pada fase akut, pasien mendapat transfusi darah, kortikosteroid sistemik, hidroksiklorokuin, inhibitor pompa proton, serta terapi suportif. Pemberian metotreksat (MTX) sebagai conventional synthetic disease-modifying antirheumatic drug (csDMARD) ditunda mengingat adanya perdarahan saluran cerna dan kondisi klinis yang belum stabil. Setelah terjadi perbaikan klinis, peningkatan kadar hemoglobin, serta stabilisasi parameter laboratorium, pasien melanjutkan terapi siklosporin sebagai imunosupresan dan metotreksat sebagai terapi csDMARD untuk mengendalikan manifestasi artritis.
Hubungan Asupan Cairan Dan Konsumsi Minuman Berkarbonasi Dengan Progresivitas Gagal Ginjal Kronik Pada Pasien Hemodialisis Di RSUD DR. H. Abdul Moeloek I Nyoman Mahendra; Nia Triswanti; Anggunan Anggunan; Ika Artini
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 8 (2026): Volume 13 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i8.27463

Abstract

Penyakit gagal ginjal kronik (GGK) adalah masalah kesehatan yang bersifat global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi, dipengaruhi oleh elemen gaya hidup seperti kurang cukupnya asupan cairan dan konsumsi minuman berkarbonasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi keterkaitan antara asupan cairan dan konsumsi minuman berkarbonasi terhadap kemajuan gagal ginjal kronik (stadium CKD) pada pasien hemodialisis yang dirawat di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada Mei 2026 dengan melibatkan 88 responden yang diambil melalui metode total sampling. Data mengenai asupan cairan dikumpulkan dengan kuesioner 24-hour fluid recall, sedangkan untuk konsumsi minuman berkarbonasi yang diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), dan stadium CKD diambil dari catatan medis. Proses analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan berusia antara 50 hingga 64 tahun (50,0%), berjenis kelamin pria (59,1%), dan berada pada tahap CKD 5 (80,7%). Mayoritas dari responden menunjukkan asupan cairan yang rendah (76,1%) serta tingkat konsumsi minuman berkarbonasi yang minimal (62,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan cairan dan kemajuan stadium CKD (p = 0,009) serta konsumsi minuman berkarbonasi dan progresivitas stadium CKD (p 0,001). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa asupan cairan dan tingkat konsumsi minuman berkarbonasi memiliki keterkaitan dengan kemajuan gagal ginjal kronik.