Ahmad Mudakir
Prodi Komunikasi Dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

The Meaning of Hawa in the Qur’an: A Semantic Analysis of the Perspective Toshihiko Izutsu Ahmad Mudakir; Dadang Darmawan; Wildan Taufiq
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 2, No 2 (2022): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v2i2.16972

Abstract

Research on hawa is essential to do, because in the Qur’an there is a correlation between hawa and injustice, misguidance, and other negative things related to aqidah, worship, law, and social interaction. In addition, in the Qur’an there is the meaning of hawa which has a positive connotation. It is interesting to study using Toshihiko Izutsu's semantic analysis to get the meaning network and the maudu'i to get the concept. This analytical model is called the combinatorial model. Qualitative research is the approach used. The source of the data comes from the library. The research method used is descriptive analysis research.
Reinterpretasi Konsep Halal: Analisis Semantik Kata Ḥalāl dalam Wawasan al-Qur’an Mudakir, Ahmad; Muttaqin, Ahmad; Muttaqien, Muhammad Fadhli
PAPPASANG Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v6i2.1081

Abstract

This paper departs from the basic assumption that the use of the concept of halal in people's lives today has misconceptions and reductions in meaning and ignores its ethical aspects. The urgency of this research is to try to provide a fundamental and paradigmatic meaning of the word ḥalāl so that it becomes a conceptual basis when used in various aspects of life, such as halal food, halal medicines, halal cosmetics, halal tourism, and halal ecosystems. By using a semantic approach, this research will examine the original meaning, relational meaning, and semantic field generated by the words ḥalāl and words that are similar to the verb ḥ-l-l in the Qur'an. Tulisan ini berangkat dari asumsi dasar bahwa penggunaan konsep halal dalam kehidupan masyarakat saat ini memiliki miskonsepsi dan reduksi makna serta mengabaikan aspek-aspek etisnya. Urgensi penelitian ini adalah berusaha memberikan pemaknaan kata ḥalāl secara fundamental dan paradigmatis agar menjadi dasar konseptual ketika digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti makanan halal, obat-obatan halal, kosmetik halal, wisata halal, dan ekosistem halal. Dengan menggunakan pendekatan semantik, penelitian ini akan mengkaji makna dasar (original meaning), makna relasional (relational meaning), dan medan semantik (semantic field) yang ditimbulkan oleh kata-kata ḥalāl serta kata-kata yang seakar dari verba ḥ-l-l dalam Al-Qur’an.
Metode Dakwah Digital pada Instagram @syiarbudayaislam dalam Mempromosikan Budaya Islam Rahmat Herman Simabur; Asep Ahmad Siddiq; Ahmad Mudakir
Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam (JRKPI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrkpi.v5i2.8281

Abstract

Abstract. This study aims to determine the da'wah method used by the Instagram account @syiarbudayaislam in promoting Islamic culture to the digital community. In the era of social media, da'wah through platforms such as Instagram has become an effective strategy for conveying Islamic messages. This study uses a descriptive qualitative approach with a content analysis method. The theory used refers to the da'wah method according to Samsul Munir Amin, namely bil lisan (verbal), bil qalam (written), and bil hal (behavior/exemplary). The results show that the @syiarbudayaislam account consistently conveys da'wah messages through creative and educational content by utilizing Instagram features such as feeds, reels, and stories. Islamic messages are packaged in the form of stories about culture, traditions, art, and Islamic historical figures in Indonesia. The approach used is persuasive, communicative, and adapted to the characteristics of the younger generation. The use of visual symbols and positive narratives also strengthens the delivery of da'wah. Abstrak. Artikel bertujuan mengetahui metode dakwah yang digunakan oleh akun Instagram @syiarbudayaislam dalam mempromosikan budaya Islam kepada masyarakat digital. Di era media sosial, dakwah melalui platform seperti Instagram menjadi strategi efektif untuk menyampaikan pesan keislaman. Artikel menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi konten. Teori yang digunakan mengacu pada metode dakwah menurut Samsul Munir Amin, yaitu bil lisan (verbal), bil qalam (tertulis), dan bil hal (perilaku/keteladanan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun @syiarbudayaislam secara konsisten menyampaikan pesan dakwah melalui konten kreatif dan edukatif dengan memanfaatkan fitur Instagram seperti feed, reels, dan story. Pesan keislaman dikemas dalam bentuk cerita budaya, tradisi, seni, serta tokoh-tokoh sejarah Islam di Indonesia. Pendekatan yang digunakan bersifat persuasif, komunikatif, dan disesuaikan dengan karakteristik generasi muda. Penggunaan simbol visual dan narasi positif turut memperkuat penyampaian dakwah.
Metode Dakwah pada Akun Instagram @halalcorner tentang Gaya Hidup Halal Sarah Utami; Parihat Kamil; Ahmad Mudakir
Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam (JRKPI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrkpi.v5i2.8303

Abstract

Abstract. The development of digital technology has driven the transformation of Islamic preaching through the use of Instagram social media. This study aims to examine the Instagram account @halalcorner, a non-governmental organization (NGO) with legal status (AHU-0011101.AH.01.04), focusing on da'wah content themed around the halal lifestyle, particularly critical issues related to food and beauty or personal care, reviewed from the perspective of the da'wah methods used. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. Data analysis is carried out through content analysis which includes reduction, presentation, and data verification. The study examined eight posts published between March and June 2025, referring to Moh. Ali Aziz's theory of da'wah methods, namely hikmah, mau'idzah hasanah, and mujadalah. The results showed that in content related to critical issues in food and beauty/personal care, there was variation in the use of da'wah methods, either two or three methods. These findings indicate that the Instagram account @halalcorner is able to convey da'wah in a logical, persuasive, and dialogical manner, making it effective as a means of da'wah. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah mendorong transformasi dakwah Islam melalui pemanfaatan media sosial Instagram. Penelitian ini bertujuan mengkaji akun Instagram @halalcorner, sebuah organisasi nonpemerintah (NGO) yang memiliki legalitas hukum (AHU-0011101.AH.01.04), dengan fokus pada konten dakwah bertema gaya hidup halal, khususnya titik kritis makanan serta kecantikan atau perawatan diri, ditinjau dari metode dakwah yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui analisis isi yang meliputi reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Penelitian mengkaji delapan unggahan yang dipublikasikan pada periode Maret–Juni 2025 dengan merujuk pada teori metode dakwah Moh. Ali Aziz, yaitu hikmah, mau‘idzah hasanah, dan mujadalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konten titik kritis makanan dan kecantikan/perawatan diri terdapat variasi penggunaan metode dakwah, baik dua maupun tiga metode. Temuan ini menunjukkan bahwa akun Instagram @halalcorner mampu menyampaikan dakwah secara logis, persuasif, dan dialogis sehingga efektif sebagai sarana dakwah.
Etika Komunikasi Dakwah Ustadz Felix di YouTube Ghina Aliyah; Bambang Saiful Ma’arif; Ahmad Mudakir
Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam (JRKPI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrkpi.v5i2.8414

Abstract

Abstract. The development of dakwah in the digital era requires a communication approach that not only conveys religious messages but also emphasizes ethical and appropriate delivery. This study aims to examine how Ustadz Felix Siauw applies the principles of qaulan in the Escape program on Raymond Chin’s YouTube channel. The research uses a descriptive qualitative method with data collected through video documentation, literature review, and analysis of viewer comments. The object of this study includes three episodes with varying view counts. Data were analyzed using the SMCR communication model to examine the relationship between the message source, message content, media channel, and audience. The results show that qaulan sadida is the most frequently used principle by Ustadz Felix, while qaulan baligha is the most recognized and appreciated by viewers. His polite, clear, and emotionally resonant communication style has proven effective and well-received, especially by younger audiences. This study concludes that the principles of qaulan in the Qur’an can be practically applied in digital dakwah and may serve as a model for other Islamic preachers on social media platforms. Abstrak. Perkembangan dakwah di era digital membutuhkan cara komunikasi yang tidak hanya menyampaikan pesan agama, tetapi juga memperhatikan etika dan cara penyampaian yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Ustadz Felix Siauw menerapkan prinsip-prinsip qaulan dalam program Escape di kanal YouTube Raymond Chin. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi tayangan video, studi pustaka, dan analisis komentar warganet. Objek penelitian meliputi tiga episode dengan jumlah penayangan yang berbeda. Data dianalisis menggunakan pendekatan model komunikasi SMCR untuk melihat hubungan antara penyampai pesan, isi pesan, media, dan audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa qaulan sadida paling sering digunakan oleh Ustadz Felix, sedangkan qaulan baligha paling banyak dikenali dan diapresiasi oleh audiens. Gaya komunikasi yang santun, jelas, dan menyentuh menjadi kekuatan dakwah yang diterima dengan baik oleh generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prinsip qaulan dalam Al-Qur’an dapat diterapkan secara nyata dalam dakwah digital dan dapat menjadi contoh bagi para pendakwah lain di media sosial.
Memakmurkan Masjid Al-Mubarokah dengan Gaya Milenial: Kontribusi dan Peran Ikatan Remaja Jajang Syamsul Wildan; Malki Ahmad Nasir; Ahmad Mudakir
Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Komunikasi Penyiaran Islam (JRKPI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrkpi.v6i1.9939

Abstract

Abstract. This study aims to examine the contribution of the Al-Mubarokah Mosque Youth Association (IRMA) in enhancing the prosperity of Al-Mubarokah Mosque in Pasirbiru Hamlet through a millennial-based approach to promote the development of religious activities. This research employed a descriptive qualitative method with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that prior to the establishment of IRMA, religious activities at the mosque attracted limited public interest due to the lack of program innovation. After IRMA was formed, religious activities improved through creative programs, the use of social media, and activities tailored to the characteristics of the younger generation. Supporting factors include members’ enthusiasm and community leaders’ support, while obstacles involve limited facilities and uneven community participation. This study concludes that IRMA plays a significant role in developing religious activities through innovative and adaptive da’wah strategies. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontribusi Ikatan Remaja Masjid Al-Mubarokah (IRMA) dalam upaya memakmurkan Masjid Al-Mubarokah Dusun Pasirbiru melalui pendekatan khas generasi milenial guna mendorong peningkatan kegiatan keagamaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum IRMA didirikan, kegiatan keagamaan di masjid kurang mendapatkan minat masyarakat akibat keterbatasan inovasi program. Setelah IRMA terbentuk, kegiatan keagamaan mengalami perkembangan melalui penyelenggaraan program kreatif, pemanfaatan media sosial, serta kegiatan yang disesuaikan dengan karakter generasi muda. Faktor pendukung keberhasilan meliputi antusiasme anggota dan dukungan tokoh masyarakat, sedangkan hambatan yang dihadapi berupa keterbatasan fasilitas serta keterlibatan jamaah yang belum merata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa IRMA berperan penting dalam mengembangkan kegiatan keagamaan melalui strategi dakwah yang inovatif dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Komunikasi Persuasif dalam Animasi YouTube @Tekotok sebagai Media Dakwah Zaid Izzatul Islam; Nia Kurniati; Ahmad Mudakir
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 103-110
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24005

Abstract

Abstract. The transformation of da'wah in the digital age calls for a new communication approach that can reach audiences without triggering resistance. This study aims to analyze persuasive communication in the YouTube animation channel @Tekotok as a medium of da'wah in the digital age, with a specific focus on the miniseries “Cowok Bandel.” The method used is descriptive qualitative research through digital observation and documentation of six episodes and ten purposively sampled viewer comments, grounded in the Elaboration Likelihood Model (ELM) and the principle of Qaulan Baligha. The results show that the da'wah messages conveyed are categorized into messages of faith (aqidah) concerning the priority of tawhid, and messages of morality (akhlak) concerning the dangers of pornography, masturbation, and orgasm (PMO) addiction. Persuasive communication is applied sequentially: the peripheral route, through 2D animation, humor, and casual language, is used first to lower the audience's rational defenses, followed by the central route, through logical and theological argumentation, once emotional engagement has been established. Viewer comments confirm that both routes of processing successfully occurred, resulting in cognitive reflection and behavioral resolve among the audience. In conclusion, the synergy of these two routes makes @Tekotok an effective da'wah instrument that personally touches its audience without provoking resistance. Abstrak. Transformasi dakwah di era digital menuntut pendekatan komunikasi baru yang mampu menjangkau audiens tanpa memicu resistensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis komunikasi persuasif dalam animasi kanal YouTube @Tekotok sebagai media dakwah di era digital, dengan fokus spesifik pada miniseri “Cowok Bandel”. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui observasi digital dan dokumentasi terhadap enam episode serta sepuluh komentar penonton yang dipilih secara purposif, dengan berlandaskan pada teori Elaboration Likelihood Model (ELM) dan prinsip Qaulan Baligha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan dakwah yang disampaikan dikategorikan menjadi pesan aqidah mengenai prioritas ketauhidan, dan pesan akhlak mengenai bahaya kecanduan pornografi, masturbasi, dan orgasme (PMO). Komunikasi persuasif diterapkan secara berurutan: rute periferal berupa animasi 2D, humor, dan bahasa kasual digunakan lebih dahulu untuk meruntuhkan pertahanan rasional penonton, kemudian rute sentral berupa argumen logis dan teologis ditanamkan setelah afeksi penonton terbangun. Komentar penonton mengonfirmasi bahwa kedua rute pemrosesan tersebut berhasil menimbulkan refleksi kognitif dan resolusi perilaku pada audiens. Kesimpulannya, sinergi kedua rute ini menjadikan @Tekotok instrumen dakwah yang efektif menyentuh sanubari penonton secara personal tanpa memicu resistensi.
Strategi Komunikasi Dakwah Inklusif bagi Penyandang Disabilitas Tunanetra di Pesantren Sam'an Darushudur Sulton Aripin; Hendi Suhendi; Ahmad Mudakir
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 121-130
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24199

Abstract

Abstract. Conventional da'wah patterns that rely heavily on visual media leave people with visual impairments prone to spiritual marginalization. Sam'an Darushudur Islamic Boarding School was established as an inclusive da'wah model specifically for visually impaired students. This study analyzes the inclusive da'wah communication strategy at the school along with its supporting and inhibiting factors. A qualitative descriptive case study approach was used, combining in-depth interviews, passive participant observation, and documentation, analyzed through Howard Giles' Communication Accommodation Theory (CAT). Findings show that the communication strategy is realized through methodological convergence (Braille Qur'an and murotal speakers), linguistic-verbal convergence (polite speech), and proportional hierarchical and independence divergence. Supporting factors include peer social support, measured motivational guidance, and adequate facilities; inhibiting factors include limited funding, scarce Braille literature, and physical infrastructure constraints. The study concludes that inclusive da'wah is realized through continuous communication adjustment between preachers and visually impaired recipients. Abstrak. Pola dakwah konvensional yang mengandalkan media visual menyebabkan penyandang disabilitas netra rentan mengalami marjinalisasi spiritual. Pesantren Tahfidz Tunanetra Sam'an Darushudur hadir sebagai model dakwah inklusif khusus bagi santri tunanetra. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi dakwah inklusif di pesantren tersebut beserta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus deskriptif, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif pasif, dan studi dokumentasi, dianalisis menggunakan Teori Akomodasi Komunikasi (Communication Accommodation Theory) dari Howard Giles. Hasil penelitian menunjukkan strategi komunikasi diwujudkan melalui konvergensi metodologis (Al-Qur'an Braille dan speaker murotal), konvergensi linguistik-verbal (kesantunan bertutur), serta divergensi hierarkis dan divergensi kemandirian yang diterapkan secara proporsional. Faktor pendukung meliputi dukungan sosial antarsantri, pembinaan motivasi terukur, dan sarana belajar memadai; faktor penghambat meliputi keterbatasan pendanaan, minimnya literatur Braille, dan infrastruktur fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah inklusif terwujud melalui penyesuaian komunikasi berkesinambungan antara da'i dan mad'u disabilitas netra.
Retorika Dakwah Digital Husain Basyaiban pada Konten TikTok Berbasis Game Roblox Dinda Syakirah Salsabila; Muhammad Fauzi Arif; Ahmad Mudakir
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 199-206
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24703

Abstract

Abstract. Social media platforms increasingly serve as new spaces for Islamic da'wah, particularly among younger audiences who engage more with virtual environments than conventional preaching settings. Ustadz Husain Basyaiban, known by his TikTok alias Kadam Sidik, delivers religious instruction through livestreamed sessions inside the online game Roblox; these livestreams are recorded and re-uploaded by viewers as short clips on TikTok. This raises an important question: how does da'wah remain persuasive when packaged within an entertainment-oriented digital format? This study analyzes three TikTok videos derived from Basyaiban's Roblox sessions using Aristotle's classical rhetorical framework of ethos, pathos, and logos, applying a descriptive-analytical qualitative method with documentation as the primary data-collection technique. The findings show that ethos is constructed not through physical appearance but through fluent recitation of religious texts, prompt spontaneous responses, and self-identification as a fellow player. Pathos operates bidirectionally: the speaker initiates emotional engagement through humor in one video, while audiences themselves initiate emotional disclosure in the other two, reinforced by real-time interactive features. Logos progresses from simple normative arguments toward complex epistemic reasoning that equips audiences with independent frameworks for religious judgment. These three elements interact to form a distinctive style of da'wah, casual in tone yet substantively profound. Abstrak. Media sosial kini menjadi ruang baru bagi praktik dakwah Islam, terutama bagi audiens muda yang lebih akrab dengan ruang virtual dibandingkan majelis konvensional. Ustadz Husain Basyaiban, dikenal dengan nama panggung Kadam Sidik, menyampaikan kajian keislaman melalui siaran langsung di dalam permainan daring Roblox, yang direkam dan diunggah ulang penonton menjadi potongan video pendek di TikTok. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana pesan dakwah tetap persuasif ketika dikemas dalam format yang identik dengan hiburan digital? Penelitian ini menganalisis tiga video TikTok hasil rekaman kajian Roblox tersebut menggunakan kerangka retorika klasik Aristoteles, yaitu ethos, pathos, dan logos, dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis serta teknik dokumentasi sebagai metode pengumpulan data utama. Hasil penelitian menunjukkan ethos dibangun bukan melalui penampilan fisik, melainkan melalui kefasihan melafalkan dalil, ketepatan merespons pertanyaan secara spontan, serta identifikasi diri sebagai sesama pemain. Pathos terbentuk secara timbal balik: pada satu video pembicara membangun suasana emosional melalui humor, sedangkan pada dua video lainnya audiens sendiri yang membuka diri secara emosional lebih dulu, diperkuat fitur interaksi langsung. Logos berkembang dari argumen normatif sederhana menuju penalaran epistemik lebih kompleks, yang membekali audiens dengan kerangka berpikir mandiri dalam menentukan hukum bagi dirinya sendiri. Ketiga unsur retorika saling menopang membentuk gaya dakwah santai namun tetap mendalam.
Strategi Dakwah Digital pada Program Tadabur Ayat Cinta-Nya di Chanel Youtube TV Harmoni Muhammad Ghozi Izzatul Islam; Hendi Suhendi; Ahmad Mudakir
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 249-256
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.25101

Abstract

Abstract. The development of digital technology has transformed the patterns of Islamic propagation (da'wah) communication in Indonesia, notably through the utilization of YouTube as a "virtual mosque" that reaches cross-generational audiences. This study aims to analyze the digital da'wah strategies implemented in the program "Tadabur Ayat Cintanya" on the TV Harmoni YouTube channel, employing the theoretical framework of sentimental (al-manhaj al-atifi), rational (al-manhaj al-aqli), and sensory (al-manhaj al-hissi) strategies. This study utilized a descriptive qualitative method, gathering data through in-depth interviews, content observation, and documentation studies, which were then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings indicate that the sentimental strategy is manifested through humanistic, persuasive, and empathetic narratives tailored to adapt to the communication styles of Millennials and Generation Z. The rational strategy is executed through systematic, clause-by-clause Quranic analysis, research on contemporary social issues, and the reinforcement of the tabayyun (fact-checking) culture to maintain scholarly accountability. Meanwhile, the sensory strategy is managed by optimizing audio-visual production, utilizing green screen studios, inserting relevant supporting footage, and employing interactive devices. These three strategies operate in an integrated and complementary manner. This study concludes that the success of digital da'wah relies not only on the depth of religious messages but also on managerial communication practices that simultaneously engage the emotional, rational, and sensory dimensions of the audience. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi dakwah di Indonesia, salah satunya melalui pemanfaatan YouTube sebagai “masjid virtual” yang menjangkau audiens lintas generasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dakwah digital pada program “Tadabur Ayat Cintanya” di kanal YouTube TV Harmoni menggunakan kerangka strategi dakwah sentimental (al-manhaj al-atifi), rasional (al-manhaj al-aqli), dan indrawi (al-manhaj al-hissi). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi konten, dan studi dokumentasi, yang dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi sentimental diwujudkan melalui narasi yang humanis, persuasif, dan penuh empati, serta dipadukan dengan gaya komunikasi yang adaptif bagi Generasi Milenial dan Generasi Z. Strategi rasional diterapkan melalui pembedahan ayat secara sistematis per-makna, riset isu-isu sosial kontemporer, serta penguatan budaya tabayun untuk menjaga akuntabilitas keilmuan. Sementara itu, strategi indrawi dikelola melalui optimalisasi produksi audio-visual, penggunaan studio green screen, sisipan footage pendukung, hingga pemanfaatan perangkat interaktif. Ketiga strategi ini berjalan secara terintegrasi dan saling melengkapi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan dakwah digital tidak hanya bergantung pada kedalaman pesan keagamaan, melainkan juga pada pengelolaan manajerial komunikasi yang menyentuh dimensi emosional, rasional, dan sensorik audiens secara simultan.