Doris Saputra
Universitas Sumatera selatan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Income Analysis of Industrial Plantation Forest (HTI) Laborers as Edible-Nest Swiftlet Farmers in Sungai Batang Village, Air Sugihan District, Ogan Komering Ilir Regency Doris Saputra; Elmeizy Arafah; Yuwinti Nearti; Budi Fachrudin; Nirmala Jayanti; Ismail
KaliAgri Journal Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal KaliAgri
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Edible bird’s nest is a high-value commodity with strong export demand, which encourages the growth of swiftlet farming as an alternative livelihood in rural areas. This study aims to analyze the income level of Industrial Plantation Forest (HTI) laborers who operate edible-nest swiftlet farming in Sungai Batang Village, Air Sugihan District, Ogan Komering Ilir Regency. A case study method was applied from November 2018 to March 2019 involving 10 respondents (census). Income analysis was conducted by calculating production costs, total revenue, net income from swiftlet farming, and total household income (swiftlet income plus HTI wage income). The results show that average annual revenue from swiftlet farming reached IDR 33,220,000 with total production cost of IDR 14,832,067, producing a net income of IDR 18,387,933/year. Meanwhile, HTI labor income was IDR 11,500,000/year. Therefore, total household income amounted to IDR 29,887,933/year. These findings confirm that swiftlet farming contributes dominantly to household income structure and serves as an effective rural income diversification strategy.
Analisis Peran Penyuluh Pertanian pada Usahatani Jagung di Desa Batumarta I Kecamatan Lubuk Raja Kabupaten Ogan Komering Ulu Windi Lestari; Endang Lastinawati; Henny Rosmawati; Doris Saputra; Livia Vinota; Nirmala Jayanti; Alis Marlena
KaliAgri Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal KaliAgri Juni 2026
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan usahatani melalui fungsi sebagai fasilitator, inovator, motivator, dinamisator, dan edukator. Efektivitas pelaksanaan peran tersebut menjadi faktor yang menentukan keberhasilan kegiatan penyuluhan di tingkat petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penyuluh pertanian pada usahatani jagung di Desa Batumarta I, Kecamatan Lubuk Raja, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Penelitian menggunakan metode survei dengan lokasi penelitian yang ditentukan secara purposive. Responden berjumlah 45 petani jagung yang dipilih dari tiga kelompok tani. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif dengan metode skoring menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran penyuluh pertanian secara keseluruhan berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata sebesar 15,72. Peran penyuluh sebagai fasilitator memperoleh skor 17,35 (sangat tinggi), motivator 17,16 (sangat tinggi), dan edukator 17,51 (sangat tinggi). Sementara itu, peran sebagai inovator memperoleh skor 13,25 (sedang) dan dinamisator 13,34 (sedang). Temuan ini menunjukkan bahwa penyuluh telah berperan secara optimal dalam memfasilitasi, memotivasi, dan meningkatkan pengetahuan petani, namun masih diperlukan penguatan peran sebagai inovator dan dinamisator agar adopsi inovasi pertanian serta penguatan dinamika kelompok tani dapat berjalan lebih efektif.
Analisis Strategi Pemasaran Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pada Fase Main Nursery Di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Ami Febiola; Budi Fachrudin; Yuwinti Nearti; Doris Saputra
KaliAgri Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal KaliAgri Juni 2026
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penerapan strategi pemasaran yang efektif dalam meningkatkan daya saing bibit kelapa sawit pada fase main nursery. Meskipun Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin menghasilkan bibit kelapa sawit unggul dan bersertifikat, masih terdapat beberapa kendala dalam kegiatan pemasaran, seperti promosi yang belum optimal, pemanfaatan media digital yang masih terbatas, distribusi yang belum maksimal, serta persaingan dengan perusahaan swasta. Kondisi tersebut menyebabkan potensi pemasaran bibit belum dimanfaatkan secara optimal sehingga diperlukan strategi pemasaran yang tepat berdasarkan bauran pemasaran (marketing mix) dan analisis SWOT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan strategi pemasaran bibit kelapa sawit serta menganalisis strategi pemasaran yang diterapkan di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin. Penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, penyebaran kuesioner, dan dokumentasi. Sampel penelitian menggunakan teknik sampling jenuh (sensus) sebanyak 14 responden yang seluruhnya merupakan tenaga pemasaran. Analisis data dilakukan menggunakan skala Likert, analisis bauran pemasaran (produk, harga, distribusi, dan promosi), serta analisis SWOT melalui matriks IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran bibit kelapa sawit pada Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin telah diterapkan dengan baik melalui penyediaan bibit unggul bersertifikat, penetapan harga yang kompetitif, sistem distribusi kepada petani dan perusahaan perkebunan, serta kegiatan promosi melalui seminar, pameran, sosialisasi, dan media digital. Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala yang perlu diperbaiki, antara lain keterbatasan promosi digital, distribusi yang belum optimal, jumlah tenaga pemasaran yang masih terbatas, serta tingginya persaingan dengan perusahaan swasta. Berdasarkan hasil analisis SWOT, posisi strategi berada pada Kuadran I (Strategi SO) sehingga lembaga memiliki kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk menangkap peluang pasar melalui peningkatan promosi digital, perluasan jaringan distribusi, peningkatan kualitas pelayanan, dan optimalisasi pemanfaatan keunggulan bibit bersertifikat.