Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat  Dalam Penataan Dan Perencanaan Master Plan Ruang Terbuka Publik Di Sekitar Area Beji Pura Dalem Di Desa Siangan, Gianyar, Bali Hartawan, I Putu; Agustini, Ni Komang Ayu; Subamia, I Nyoman
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 1 No. 10 (2024): Agustus
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/byyvrh44

Abstract

Terdapat beberapa permasalahan pada Ruang Terbuka Hijau di Sekitar Area Beji Pura Dalem Siangan. Ruang terbuka hijau dan landscape pada area pinggir sungai yang tidak tertata, kondisi eksisting saat ini area tersebut dipenuhi oleh pohon eksisting dan semak-semak yang tidak terawat. Kurangnya ruang untuk rekreasi seperti, tempat untuk bersantai, tempat untuk memancing, padahal jika dilihat dari segi potensi sungai dan lingkungan yang masih alami area ini sangat berpotensi dijadikan ruang rekreasi. Ruang terbuka hijau ini sering dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Solusi yang ditawarkan adalah pedampingan dalam penyusunan dokumen master plan penataan dan perencanaan, dilanjutkan dengan pedampingan dalam pembuatan Rencana Anggaran Biaya yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk pembuatan proposal pengajuan dana ke pemerintah atau CSR. Metode pelaksanaan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat  Dalam Penataan dan Perencanaan Master Plan Ruang Terbuka Hijau di Sekitar Area Beji Pura Dalem Di Desa Siangan, Gianyar ini terdiri dari observasi awal, observasi lanjutan, usulan desain master plan penataan dan perencanaan, FGD, pembuatan gambar detail, dan pedampingan pembuatan Rencana Anggaran Biaya dan proposal pengajuan dana. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu, Dokumen Gambar Master Plan Penataan dan Perencanaan dalam wujud gambar 2 dimensi dan gambar 3 dimensi beserta Rencana Anggaran Biaya global. Harapan mitra Ruang Terbuka Hijau ini nantinya dapat sebagai ruang untuk rekreasi, ruang penunjang kegiatan wisata ritual pada Beji Pura Dalem Siangan, dan dapat menjadi salah daya tarik wisata di Desa Siangan.
Analisis Bangunan Pengaman Pantai menggunakan Kubus Beton di Pantai Keraya Kalimantan Tengah S Ardi, Alton; Hartawan, I putu; Setiawan, M Hendro; Mahardika, Rizky Dwiyan; Sudarto
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 4 No. 2 (Desember 2024)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v4i2.107

Abstract

Pantai Keraya yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah memiliki permasalahan yaitu kemunduran garis pantai berkisar 5 – 10 m dalam kurun waktu 14 tahun terakhir akibat erosi. Penanganan erosi dilakukan dengan cara pembangunan pengaman pantai dengan menggunakan desain bangunan tipe pemecah gelombang dan revetment, untuk menghasilkan bangunan yang handal dibutuhkan identifikasi lapangan berupa pengumpulan data primer yang digunakan dalam analisis teknis sebagai dasar desain. Berdasarkan data model ERA-5, kondisi ekstrim kala ulang 100 tahun saat musim barat diperoleh gelombang signifikan (Hs) sebesar 2,717 m dengan periode 6,78 detik serta kecepatan angin 14,12 m/detik. Penjalaran gelombang dari laut dalam ke lokasi kajian dimodelkan dengan menggunakan model numerik dan didapatkan gelombang signifikan (Hs) sebesar 0,40 – 0,51 m dengan periode 3,64 detik untuk masing – masing lokasi rencana bangunan. Untuk meningkatkan nilai keamanan bangunan, digunakan 1,37Hs untuk perhitungan gelombang desain (Hd) sehingga diperoleh nilai untuk alternatif pemecah gelombang sebesar 0,70 m dan revetment sebesar 0,55 m. Dari hasil kajian analisis data di Pantai Keraya didapat 2 alternatif perencanaan desain bangunan pengaman pantai yang dapat digunakan sebagai bentuk penanganan permasalahan erosi yaitu desain revetment dengan elevasi struktur +2,50 m dari MSL 0 serta berat armor kubus lapisan primer 150 kg dan alternatif lainnya yaitu desain bangunan pemecah gelombang pada bagian kepala dengan elevasi struktur + 2,20 m dari MSL 0 dan berat armor kubus lapisan primer 150 kg serta pada bagian badan dengan elevasi struktur + 2,20 m dari MSL 0 dan berat armor kubus lapisan primer 150 kg.
Pengendalian Banjir Sungai Cikeruh Sapan Kabupaten Bandung Hartawan, I Putu; Nur Ahmadito, Ardy; Setyo Qhairaan, Laifhan; Zudan , Ahmad; Herlambang , Agil; Arisandi, Enggar
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Faculty Of Engineering University 17 August 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/yp0wfb81

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi dan membandingkan strategi pengendalian banjir di kawasan Sungai Cikeruh, Sapan, Kabupaten Bandung, yang rawan banjir akibat luapan sungai dan perubahan tata guna lahan. Analisis hidrologi menggunakan data curah hujan maksimum tahunan (2001–2023) menunjukkan bahwa distribusi Gumbel paling sesuai untuk menentukan hujan rencana. Debit puncak banjir periode ulang 20 tahun diperoleh sebesar 150 m³/s menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis (SCS) yang telah dikalibrasi. Simulasi hidraulika dengan HEC-RAS 2D membandingkan kondisi existing dengan dua alternatif: pembangunan tanggul dan normalisasi sungai. Hasil menunjukkan bahwa pembangunan tanggul efektif menghilangkan genangan, sementara normalisasi sungai meningkatkan kapasitas aliran dari 75 m³/s menjadi 136,67 m³/s, meskipun terdapat kebocoran pada drainase kecil. Evaluasi alternatif menggunakan metode Weighted Average berdasarkan tujuh kriteria, termasuk efektivitas, biaya, dan dampak sosial. Hasilnya, pembangunan tanggul dipilih sebagai solusi paling efektif dan efisien. Penelitian ini memberikan rekomendasi teknis dalam perencanaan pengendalian banjir Sapan, dengan penekanan pada pentingnya pemeliharaan sistem secara berkelanjutan.  
Evaluasi Efektivitas Normalisasi dalam Mereduksi Banjir Sungai Sadia Menggunakan HEC-RAS Hartawan, I Putu; Harlan, Dhemi; Mertawiasa, I Nyoman Yogi; Irwansyah, Deddy; Wicaksono, Arief Yudho
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 17, No 1 (2026): Jurnal Teknik Hidraulik
Publisher : Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jth.v17i1.876

Abstract

Bima City is an area with a relatively high risk of flooding and experiences flooding almost every year. One of the main causes of flooding is the limited capacity of the Sadia River to accommodate the flow from the upper reaches of the Sadia Watershed (DAS), especially during periods of high-intensity and long-duration rainfall. As a flood control measure, the BBWS NT I have carried out structural measures in the form of normalizing the Sadia River along a length of ±4.5 km. This study aims to assess the performance of river normalization in reducing the area and depth of flooding around the Sadia River. The novelty of this study lies in the use of long-term satellite rainfall data for flood analysis. The study was conducted on a ±4.5 km segment of the Sadia River. The hydrological analysis began with a study of the watershed characteristics to determine the input flood discharge using HEC-HMS. Rainfall data were obtained from the Global Precipitation Measurement (GPM) satellite for the period 2001–2024, which was calibrated and tested for correlation with rainfall data from the Rainfall Observation Station (PCH Kumbe). The 25-year return period flood discharge (Q25) was determined using the Nakayasu Synthetic Unit Hydrograph method, calibrated using the bankfull discharge (Q2). Hydraulic analysis was performed using HEC-RAS 1D to obtain water surface profiles and HEC-RAS 2D to map flood inundation patterns, calibrated against the 2016 flood event. Simulations were conducted for two conditions: existing conditions, and post-river normalization conditions. The analysis results show that under existing conditions, the Sadia River is unable to accommodate a Q25 flood discharge of 167 m³/sec, with a flood area of 89.87 ha and a depth of 0.1–4.0 m.After normalization, the flood area can be reduced by 40.74%.